BAB III KRONOLOGI HUKUM PUTUSAN NOMOR 0064/Pdt.G/2018/PA.Tdo,
B. Analisis Perbandingan Pertimbangan Argumen Hakim dalam Penyelesaian
0064/Pdt.G/2018/PA.Tdo, Nomor 6/Pdt.G/2019/PTA.Mdo, dan Nomor 664K/Ag/2019
Harta gono-gini adalah harta yang dihasilkan oleh pasangan suami istri selama perkawinan mereka. Perkawinan yang dimaksud adalah perkawinan yang sah. Perkawinan yang sah setelah tahun 1974 diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.98 Harta gono-gini menjadi milik bersama suami istri, meskipun hanya istri atau suami yang bekerja. Mengenai waktu pembentukan harta gono-gini
98 Dominikus Rato, Hukum Perkawinan dan Waris Adat di Indonesia (Sistem Kekerabatan, Perkawinan dan Pewarisan Menurut Hukum Adat), (Yogyakarta: Laksbang Pressindo, 2015), h. 85
53
ditentukan berdasarkan rasa keadilan semua pihak, tetapi secara umum ditentukan berdasarkan keadilan bukan waktu.
Pembagian harta gono-gini sebaiknya dilakukan secara adil, agar tidak menimbulkan rasa ketidakadilan antara hak suami dan hak istri.
Menurut Erna Wahyuningsih dan Putu Samawati, cara memperoleh harta bersama adalah sebagai berikut:
a. Pembagian harta bersama dapat diajukan bersamaan dengan saat mengajukan gugat cerai dengan menyebutkan harta bersama dan bukti-bukti bahwa harta tersebut diperoleh selama perkawinan dalam “posita” (alasan mengajukan gugatan, permintaan pembagian harta disebutkan dalam petitum (gugatan).
b. Pembagian harta bersama diajukan setelah adanya putusan perceraian, artinya mengajukan gugatan atas harta bersama. Bagi yang beragama Islam gugatan atas harta bersama diajukan ke Pengadilan Agama di wilayah tempat tinggal istri. Untuk non-Islam gugatan pembagian harta bersama diajukan ke Pengadilan Negeri tempat tinggal termohon.99
Pasal 126 KUH Perdata mengatur bahwa perceraian mengakibatkan bubarnya harta bersama sehingga harta bersama tersebut harus dibagi diantara pasangan suami istri. Selain pengertian harta bersama dalam perkawinan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dan KUH Perdata, Kompilasi Hukum Islam juga mengatur pengertian tentang harta bersama yang sama seperti dianut dalam Undang-Undang No.
1 Tahun 1974 dan KUH Perdata di atas. Harta bersama dalam Kompilasi Hukum Islam diistilahkan dengan istilah “syirkah” yang berarti harta yang diperoleh baik sendiri-sendiri atau bersama suami istri selama dalam ikatan
99 Erna Wahyuningsih dan Putu Samawati, Hukum Perkawinan Indonesia, (Palembang: PT.
Rambang, 2006), h. 127.
perkawinan berlangsung, tanpa mempersoalkan terdaftar atas nama siapapun.100
Hilman Hadikusuma menjelaskan akibat hukum yang menyangkut harta bersama berdasarkan Pasal 37 Undang-Undang Perkawinan diserahkan kepada para pihak yang bercerai tentang hukum mana dan hukum apa yang akan berlaku, dan jika tidak ada kesepakatan antara mantan suami istri, Hakim dapat mempertimbangkan menurut rasa keadilan yang sewajarnya. Dengan demikian, akibat suatu perceraian terhadap harta bersama bagi setiap orang dapat berbeda-beda, tergantung dari hukum apa dan mana yang akan digunakan para pihak untuk mengatur harta bersama.101
1. Putusan Nomor 0064/Pdt.G/2018/PA.Tdo
Dalam kasus ini telah diketahui bahwa bekas istri mengajukan gugatan harta bersama ke Pengadilan Agama. Harta bersama yang didapat selama pernikahan antara penggugat dan tergugat belum dibagi. Pihak berperkara dimediasi oleh Hakim, tetapi upaya mediasi tidak berhasil. Proses sidang berjalan semestinya mulai dari pembacaan gugatan, jawaban tergugat, replik, duplik, hingga pembuktian.
Ketika di tahap jawaban tergugat, tergugat memberi eksepsi, menyatakan bahwa gugatan penggugat kurang pihak (subyek hukum) yang mesti ditarik oleh penggugat dalam gugatan karna objek sengketa telah dijual. Tergugat juga telah menyangka bahwa harta bersama yang sudah dijual itu diketahui oleh penggugat.
Selanjutnya, penggugat mengajukan replik, menyatakan bahwa penggugat sama sekali tidak pernah mengakui bahwa harta tersebut telah
100 Mochamad Djais, Hukum Harta Kekayaan dalam Perkawinan, (Semarang: Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, 2003), h. 34.
101 Hilman Hadikusuma, Hukum Perkawinan Indonesia Menurut: Perundangan Hukum Adat dan Hukum Agama, (Bandung: Rafika Aditama, 2000), hal.189.
55
dijual oleh tergugat, yang ada hanyalah tergugat sendiri yang secara tegas mengakui bahwa ia telah menjual harta bersama ini tanpa seiizin dan sepengetahuan penggugat (secara sepihak) setelah bercerai, karena memang penggugat tidak pernah tahu dan terlibat dalam proses jual beli harta tersebut. Dan juga penggugat tidak tahu bagaimana bisa menarik pihak ketiga lain dalam perkara ini karena setelah terjadi perceraian harta tersebut dikuasai oleh tergugat, dan mengenai tergugat telah mengalihkan harta bersama tersebut kepada pihak lainnya sama sekali tidak diketahui oleh penggugat.
Tergugat mengajukan duplik yang menyatakan bahwa tergugat berhak sepenuhnya atas harta berupa kapal pajeko dan mobil Honda Freed. Karena tergugatlah yang membeli semua itu dengan gaji hasil sendiri yang bekerja sebelum menikah. Selama dalam perkawinan juga penggugat hidupnya berfoya-foya dari penghasilan tergugat, penggugat juga peminum dan perokok keras, dan juga telah berselingkuh dengan lelaki lain. Penggugat juga telah menggunakan mobil tersebut untuk bersenang-senang bersama teman-temannya bahkan dengan lelaki selingkuhannya. Karena semua alasan itulah tergugat menceraikan pengugat.
Kapal pajeko telah dijual oleh tergugat sebelum bercerai dengan penggugat, dan mobil dijual pasca perceraian. Berdasarkan hal tersebut tergugat menyatakan hak milik sepenuhnya atas kedua harta tersebut dan menjualnya kepada pihak lain tanpa harus diketahui apalagi meminta persetujuan penggugat.
Setelah itu dilakukan pembuktian antara penggugat dan tergugat untuk menguatkan dalil-dalilnya. Dan juga pihak penggugat dan tergugat mengajukan kesimpulan.
Setelah semua tahap persidangan dilakukan, majelis Hakim dalam pertimbangannya menyatakan objek sengketa dalam perkara ini adalah harta bersama suami istri, yang mana penggugat sebagai bekas istri
mempunyai kepentingan hukum atas harta bersama yang diperoleh sewaktu menjadi istri.
Majelis Hakim mengesampingkan bantahan/pengakuan tergugat yang sudah diuraikan diatas, karena majelis Hakim melihat bahwa dalam pokok perkara ini adalah pembagian harta bersama antara penggugat dan tergugat, sehingga yang menjadi pokok masalahnya apakah penggugat dan tergugat pernah terikat dalam perkawinan yang sama?, apakah penggugat dan tergugat telah bercerai secara hukum?, dan apakah dalam perkawinan antara penggugat dan tergugat diperoleh harta bersama?.
Dalam pembuktian penggugat, Hakim menilai telah memenuhi syarat formil dan materil suatu akta otentik sehingga telah bersifat sempurna dan memiliki kekuatan pembuktian yang mengikat. Tetapi dalam pembuktian tergugat, Hakim mengesampingkan pembuktiannya, karena kwitansi pembelian kayu kapal dan penjualan kapal hanya ditanda tangani sepihak saja.
Setelah penulis uraikan semua deskripsi selama persidangan dan juga pertimbangan Hakim yang telah diuraikan di bagian A bab ini, penulis sependapat dengan majelis Hakim tingkat pertama, bahwa harta tersebut merupakan harta yang diperoleh penggugat dan tergugat selama masa perkawinan, dan tidak ada perjanjian pernikahan yang dibuat oleh tergugat dan penggugat mengenai pemisahan harta, juga tidak terbukti adanya harta bawaan tergugat, maka objek sengketa dinilai terbukti sebagai harta bersama.
Dijelaskan dalam Pasal 156 Kompilasi Hukum Islam putusnya perkawinan karena perceraian terhadap harta bersama adalah harta bersama tersebut dibagi menurut ketentuan sebagaimana tersebut dalam Pasal 97 yang memuat ketentuan bahwa janda atau duda cerai hidup masing-masing mendapat seperdua bagian dari harta bersama. Maka dari itu harus ditetapkan bahwa penggugat dan tergugat masing-masing berhak
57
mendapatkan ½ dari harta bersama. Walaupun harta bersama sudah dijual kepada pihak lain oleh tergugat, tergugat berhak menyerahkan seperdua dari hasil penjualan harta tersebut kepada penggugat.
Penulis menilai disini majelis Hakim memutuskan perkara dengan merujuk kepada ketentuan hukum yang sudah dibuat, yaitu dengan menggunakan ketentuan yang termuat dalam KHI yang mengatur kasus harta bersama diselesaikan dengan pembagian 50:50 digunakan secara mutlak oleh Hakim.
Penulis juga menilai bahwa majelis Hakim telah berupaya melakukan pembagian harta bersama secara adil bagi mantan suami dan mantan istri dengan pembagian dua sama banyak, terlepas dari siapa yang mengusahakan harta bersama tersebut dan juga tidak menghiraukan kepemilikan harta bersama tersebut terdaftar atas nama siapa. Apabila hubungan pekawinan antara suami dan istri sudah berakhir karena perceraian ataupun kematian, maka harta tersebut harus dibagi.
2. Putusan Nomor 6/Pdt.G/2019/PTA.Mdo
Berdasarkan pertimbangan Hakim yang sudah penulis uraikan diatas bahwa majelis Hakim Pengadilan Tinggi menilai petimbangan hukum Pengadilan Tingkat Pertama yang mengabulkan sebagian gugatan dianggap tidak tepat. Karena harta bersama yang digugat oleh terbanding sudah tidak lagi dalam penguasaan pembanding.
Menurut penulis, majelis Hakim tingkat banding menilai bahwa harta tersebut berhak diperjual belikan seperti biasa, padahal harta tersebut merupakan harta bersama yang mana jika diperjual belikan harus diketahui dan harus mendapat persetujuan dari pihak lain (istri).
Majlis Hakim tingkat banding juga menilai bahwa gugatan yang diajukan penggugat ke Pengadilan Agama Tondano dinyatakan kurang pihak, dan harus menarik pihak ketiga sebagai tergugat atau setidaknya menjadi turut tergugat. Tetapi menurut penulis, bagaimana bisa penggugat
menarik pihak ketiga, sedangkan penggugat tidak mengetahui bahwa harta tersebut sudah dijual.
Dengan alasan-alasan tersebut Pengadilan Tinggi Manado membatalkan putusan Pengadilan Agama Tondano dan menyatakan gugatan penggugat tidak dapat diterima.
Penulis menilai bahwa alasan-alasan yang diuraikan tidak bisa dibuktikan dengan ketentuan hukum yang ada. Karena sudah jelas bahwa permasalahan ini adalah pembagian harta bersama, dan juga pihak penggugat tidak bisa menarik pihak ketiga selaku pembeli yang menguasi objek sengketa tersebut untuk menjadi tergugat, karena penggugat tidak mengetahui sama sekali keberadaan harta tersebut.
3. Putusan Nomor 664K/Ag/2019
Berdasarkan pertimbangan Hakim tingkat kasasi yang sudah diuraikan penulis diatas, bahwa Pengadilan Tinggi Manado telah salah dalam menerapkan hukum dan mempertimbangkan hukum dengan menyatakan gugatan penggugat kurang pihak, dan adanya objek sengketa yang sudah dijual kepada pihak ketiga tidak menjadikan gugatan cacat.
Menurut majelis Hakim tingkat kasasi kedua objek sengketa harta bersama terbukti diperoleh pada saat penggugat dan tergugat masih dalam ikatan perkawinan. Penulis sependapat dengan majelis Hakim tingkat kasasi yang mana berdasarkan Pasal 35 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, kedua objek harta tersebut menjadi milik bersama, begitu juga berdasarkan ketentuan Pasal 36 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, tergugat tidak boleh menjual harta bersama kepada pihak lain tanpa sepengetahuan dan sepersetujuan penggugat selaku istri.
Majelis Hakim tingkat kasasi juga menilai bahwa oleh karena dua objek harta bersama telah dijual oleh tergugat tanpa persetujuan penggugat,
59
maka tergugat berhak menyerahkan seperdua dari uang hasil penjualan harta tersebut.
Penulis menilai bahwa pertimbangan yang sudah diuraikan oleh majelis Hakim tingkat kasasi sudah sesuai dengan ketentuan hukum yang ada, yaitu pada Pasal 35 ayat (1) dan Pasal 36 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Dan dalam pembagian harta bersama sudah dilakukan secara adil dengan merujuk Pasal 97 Kompilasi Hukum Islam dengan membagi hasil penjualan harta tersebut sebanyak 50:50, karena sudah menjadi hak penggugat untuk meminta harta bersama.
Jadi, berdasarkan hasil analisis penulis dari ketiga putusan tersebut baik dari tingkat pertama, banding dan kasasi. Terkait persoalan harta bersama ini penulis lebih membenarkan putusan pada tingkat pertama dan kasasi. Karena, dari kedua putusan tersebut Hakim melihat berdasarkan ketentuan yang berlaku di Indonesia yaitu sesuai dengan Pasal 36 ayat (1) UU Nomor 1 tahun 1974 dimana yang intinya salah satu pihak tidak dapat memperjualbelikan objek harta bersama tanpa adanya persetujuan dari salah satu pihak. Selain itu pada pesoalan harta bersama ini Hakim lebih melihat keadilan yang dapat dicapai atau diterima oleh kedua belah pihak karena selama harta ini diperoleh pada saat ikatan perkawinan maka harta ini tetap merupakan harta bersama dan masing-masing pihak berhak memperoleh ½ bagian dari harta tersebut.
Selain itu, pada putusan perkara tingkat banding Hakim menilai bahwasanya harta bersama tersebut boleh diperjual belikan sehingga pendapat tersebut keliru dan tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku karena pada akad jual beli harta bersama ini dilakukan tanpa sepengetahuan istri sebagai pihak yang memiliki hak dalam harta bersama. Dan adapun pihak ketiga yang tidak dapat dihadirkan oleh para pihak baik penggugat maupun tergugat karena pada tingkat pertama Hakim mengesampingkan alasan tergugat yang meminta pada penggugat untuk menghadirkan pihak ketiga menjadi tegugat atau turut tergugat.