CPI t = indeks harga konsumen pada peride t
5.7 Analisis Perdagangan Illegal
Menurut Margaretha (2008), adanya ketimpangan ekonomi masyarakat perbatasan yang
relatif pra sejahtera, telah menjadi pemicu praktek penyeludupan barang, senjata dan bahan
peledak dengan motif mendapatkan keuntungan dari kondisi perbedaan harga jual di Indonesia
dan Filipina serta kebutuhan konsumen untuk barang-barang tersebut. Oleh karena itu sudah
saatnya diperlukan perubahan secara mendasar dalam penataan perdagangan di P2K perbatasan
pengawasan, serta perbaikan dan perubahan jumlah nilai barang yang diperdagangkan akan
mampu memperkecil bahkan meniadakan praktik-praktik illegal trade.
Analisis logit digunakan untuk mengetahui peubah-peubah yang mendorong
masyarakat nelayan/pedagang di Kabupaten Kepulauan Sangihe melakukan perdagangan
illegal berupa penyeludupan ke General Santos (Filipina). Formula yang digunakan dalam
analisis tersebut tertera dalam persamaan (3.52) dan pemecahannya menggunakan alat bantu
program EViews. Data hasil analisis disajikan dalam Tabel 44, sedangkan kuesioner
disajikan dalam Lampiran 27, dan data hasil turun lapang disajikan dalam Lampiran 28 serta
hasil perhitungan disajikn dalam Lampiran 29.
Tabel 44 dapat dilihat bahwa peubah bebas yang berpengaruh sangat nyata pada
keputusan responden dalam melakukan perdagangan illegal adalah variabel pendidikan (pdd)
yang digambarkan dengan nilai P = 0.0001, tanggungan keluarga (tangkel) dengan nilai P =
0.0035, disparitas harga ikan tuna (ikan) dengan nilai P = 0.0007, disparitas harga minyak kelapa
(mklp) dengan nilai P = 0.000, pengawasan (awas) dengan nilai P = 0.0003, dan umur dengan
nilai P = 0.0033. Sedangkan peubah bebas yang mempunyai hubungan nyata adalah kerjasama
antara penyelundup dengan petugas penjaga di Filipina (koop) dengan nilai P = 0.0759.
Tabel 44 Ouput analisis logit
Variabel Koefisien p-value
C Pdd Tangkel Ikan mklp Awas Koop Umur R2MCF LR statistic Prob(LR statistic) -96.73307 -1.959644 4.909190 0.921448 0.324633 4.565124 1.848332 0.574390 0.8784 33.3998 0.000022 0.0002** 0.0001** 0.0035** 0.0007** 0.0000** 0.0003** 0.0759* 0.0033**
Selanjutnya untuk menguji hipotesis nul apakah semua variabel penjelas secara bersama-
sama tidak mempengaruhi keputusan melakukan kegiatan perdagangan illegal maka digunakan
uji statistic Likelihood Ratio (LR statistic). Nilai LR statistic hasil analisis adalah 33.3998 dengan
probability dari LR statistic adalah 0.000 (kurang dari α = 1%), oleh karena itu H0 ditolak, artinya
bahwa semua peubah bebas secara bersama-sama mempengaruhi keputusan responden untuk
melakukan kegiatan perdaganan illegal. Untuk melihat kebaikan dari model dengan
menggunakan koefisien determinasi McFadden (R2MCF). Nilai R2MCF adalah sebesar 0.8784
artinya bahwa sebesar 88 % model ini diterangkan oleh peubah bebasnya dan sisanya oleh
peubah lain.
Koefisien peubah bebas pendidikan bertanda negatif artinya bahwa responden dengan
pendidikan rendah (SD) cenderung untuk melakukan kegiatan perdagangan illegal, atau tingkat
pendidikan semakin rendah kemungkinan melakukan perdagangan illegal cukup tinggi.
Selanjutnya peubah tanggungan keluarga bertanda positif artinya bahwa responden yang
mempunyai tanggungan keluarga yang lebih dari 3 orang cenderung untuk melakukan kegiatan
perdaganan illegal. Demikian semakin besar disparitas harga ikan tuna dan harga minyak kelapa
(crude coconut oil) antara Tahuna dan Bitung dengan General Santos, memberikan
kecenderungan melakukan perdagangan illegal. Sedangkan peubah bebas pengawasan
menunjukan semakin lemah pengawasan dilakukan atau tidak dilakukannya pengawasan
perdagangan illegal akan semakin marak, dan semakin umur bertambah sampai batas tertentu
semakin giat melakukan perdagangan illegal.
Data tersebut di atas memberikan arah yang jelas bahwa masyarakat P2K perbatasan
sebagian besar pernah melakukan kegiatan penyelundupan ke Filipina. Hal ini didukung oleh
pernyataan responden bahwa sebagian besar menyatakan bahwa luas wilayah yang sempit dan
hasil produksi memerlukan pasar serta kebutuhan akan hidup serta kunjungan keluarga di wilayah
perbatasan Filipina mendorong masyarakat melakukan tindakan illegal walaupun risiko
seluruh penduduk yang laki-laki dan kepala keluarga melakukan kegiatan perdagangan illegal
sejak pernyataan BCA diberlakukan. Sejalan dengan hasil tersebut di atas, maka diperlukan
revitalisasi perdagangan lintas batas, karena perdagangan lintas batas terus berkembang seiring
dengan peningkatan kebutuhan masyarakat. Sebaliknya kalau dibiarkan tanpa arah yang jelas
akan menjadi sumber kerawanan, sekaligus dapat melemahkan sendi kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara di kawasan perbatasan.
Peubah-peubah tersebut di atas memberikan gambaran yang jelas, bahwa tanggungan
keluarga yang banyak akan memberikan beban kehidupan yang besar pula terhadap keluarga,
sedangkan di P2K perbatasan memiliki keterbatasan aksesiblitas dan peluang kerja. Selanjutnya
bahwa umur yang lebih dari 40 tahun cenderung melakukan perdagangan illegal hal itu
dimungkinkan bahwa pada masa produktif mereka mencari peluang dan pengembangan
pekerjaan di wilayah lain karena sebagian besar anak-anak dari mereka telah bersekolah di luar
Pulau Tinakareng (misalnya), tetapi pada saat kembali ke tempat semula dihadapkan
keterbatasan peluang kerja.
Pemerintah Indonesia harus terus memperkokoh kedaulatannya atas pulau-pulau terluar
dengan mengembangkan pembangunan yang terpadu di bidang ekonomi, pertahanan keamanan
dan lingkungan. Strategi pembangunan pulau-pulau terluar yang berbatasan dengan negara
tetangga seperti Filipina adalah membuka beberapa simpul akses wilayah perbatasan laut sebagai
pintu gerbang internasional, serta menyatupadukan program ekonomi, lingkungan dan hankam di
pulau-pulau perbatasan. Kamaludin (2005), menyatakan secara faktual, pulau perbatasan
merupakan pagar NKRI yang dapat mengontrol dan menguasai batas-batas wilayah kedaulatan
negara. Modernisasi pulau perbatasan tidak melulu diterjemahkan dalam pengertian fiskal.
Modernisasi pulau perbatasan dapat dilakukan dengan pendekatan resources karena tidak sedikit
pulau-pulau perbatasan memiliki potensi wilayah yang dapat dikembangkan secara ekonomi
terkonsentrasi dalam suatu kelembagaan yang akan menjadi task force bekerja tidak hanya pada
saat sengketa perbatasan.
Peubah lain yang berpengaruh nyata adalah disparitas harga ikan dengan tanda koefisien
positif artinya semakin besar disparitas harga ikan tuna dan harga minyak kelapa (crude coconut
oil), semakin tinggi atau semakin banyak orang melakukan kegiatan perdagangan illegal.
Persoalan kebutuhan ikan tuna di General Santos merupakan kebutuhan mendasar sebab di
wilayah tersebut terdapat pabrik industri ikan yang terbesar di Asia Tenggara yang sangat
membutuhkan ikan segar dari berbagai sumber, dan perairan P2K perbatasan menjadi salah satu
alternatif pembelian ikan segar. Hal ini juga didukung oleh: (a) masyarajat nelayan di P2K
perbatasan sangat terbatas aksesibilitas terhadap pasar; dan (b) produk hasil tangkapan tidak
dapat bertahan lama karena kesulitan memperoleh es untuk pengawet. Kedua faktor tersebut
mendorong maraknya penjualan ikan tuna ke Filipina dan tidak tercatat sebagai ekspor
Kabupaten Kepulauan Sangihe. Selanjutnya disparitas harga minyak kelapa (crude coconut oil)
dapat terjadi sebab pohon kelapa di Filipina telah menjadi “pohon kehidupan” dan produk hasil
kelapa sebagian besar diekspor dan dilakukan pabrikasi dengan nilai tambah (value added) yang
tinggi. Di pihak lain masyarakat pada level bawah, kesulitan mencari minyak kelapa untuk bahan
pangan. Peluang yang terbesar adalah melakukan “impor” dari Kepulauan Sangihe.
Strategi pembangunan pulau-pulau terpencil di daerah perbatasan dilakukan dengan
mengembangkan ekonomi pulau-pulau tersebut menjadi kota-kota mandiri yang maju atau kota-
kota pertahanan dan keamanan dengan memanfaatkan kerjasama ekonomi atau kerjasama
pertahanan/keamanan dengan negara tetangga. Menciptakan keunggulan pulau perbatasan harus
memenuhi persyaratan ekonomi wilayah (Kamaluddin 2003). Kemanfaatan daya dukung
ekonomi dapat dikembangkan dan dimanifestasikan apabila terjadi transaksi ekonomi melalui
sistem perdagangan yang dikembangkan di Kepulauan Sangihe.
Peubah pendidikan akan dapat mendorong terjadinya penurunan kegiatan perdagangan
pendidikan di Petta (Enemawira), Tahuna, dan Manado mulai dari tingkat Sekolah Menengah
Atas sampai dengan Perguruan Tinggi. Pembukaan Politeknik Negeri di Tahuna akan
mendorong terjadinya pengertian bahwa perdagangan illegal bukan satu-satunya pilihan, dengan
semakin tinggi tingkat pendidikan. Masalahnya adalah kemampuan pemerintah daerah
mendorong dan menyiapkan aksesibilitas ke lapangan kerja sangat rendah karena PAD
Kabupaten Kepulauan Sangihe berkisar Rp. 24 miliar/tahun, oleh karena itu upaya mendorong
perlakuan khusus untuk perdagangan di Kepulauan Sangihe adalah jalan yang terbaik.
Penangkapan-penangkapan penyelundup oleh petugas maupun “oknum untuk kepentingan
pribadi” adalah hal yang senantiasa dihadapi oleh penyelundup terutama pada waku menghampiri
bulan Desember untuk perayaan Natal dan Tahun Baru. Namun bukannya jumlah penyelundup
berkurang malahan bertambah seiring dengan kesulitan memperoleh kesempatan kerja dan
kesempatan berusaha.
Indonesia memang perlu membangun suatu sistem pengawalan dan pengamatan pantai
dan P2K perbatasan yang moderen yang sangat efektif bagi pengawasan terhadap segala infiltrasi
dan pelanggaran kedaulatan dan hukum yang berlaku, terutama penduduk wilayah perbatasan.
Sistem pengawasan dan pengamatan yang didukung oleh sarana yang berteknologi tinggi akan
lebih efektif apabila didukung oleh penduduk di sepanjang pantai dan P2K perbatasan memiliki
kesadaran belanegara yang tinggi dan ditunjang oleh kemampuan usaha yang ulet dalam bidang
kehidupannya. 5.8 Apresiasi Masyarakat Perbatasan
Untuk mengetahui apresiasi masyarakat perbatasan terhadap permasalahan perbatasan,
diambil 28 responden dari tiga pulau yaitu 10 responden dari P. Matutuang, 10 responden dari P.
Tinakareng, dan delapan responden dari P. Marore yang diharapkan mewakili masyarakat
perbatasan dalam menjawab pertanyaan dan/atau pernyataan dalam kuesioner. Pertanyaan
perbatasan yang meliputi pandangan geopolitik dan pertahanan keamanan, daya dukung ekonomi,
daya dukung lingkungan, dan aturan hukum yang telah diberlakukan.
5.8.1 Geopolitik
Pengelolaan P2K perbatasan berbasis geopolitik, adalah gambaran kebijakan dengan
mempertimbangkan posisi geografis dalam rangka pembangunan di wilayah perbatasan guna
meningkatkan kesejahteraan masyarakat P2K perbatasan serta mampu mempertimbangkan fungsi
national security dan national interest, serta dapat menekan illegal activity di wilayah
perbatasan. Dalam kaitan itu, maka pengelolaan P2K perbatasan berbasis geopolitik akan
bertumpu pada: (1) tapal batas, (2) kedaulatan; (3) kesadaran nasionalisme; (4) pemahaman
terhadap Indonesia sebagai negara kepulauan; dan (5) kebijakan yang memperhatikan aspek
geografis. Sejalan dengan itu maka persoalan geopolitik tidak terlepas dari persoalan keamanan.
Kuesioner tentang persepsi geopolitik dan pertahanan keamanan disajikan dalam Lampiran 30
sedangkan jawaban responden disajikan dalam Tabel 45.
Dari Tabel 45 terlihat bahwa persepsi masyarakat terhadap “tapal batas” Indonesia-
Filipina perlu diselesaikan dengan cepat dan menguntungkan Indonesia, yang dikemukakan oleh
sebanyak 22 responden (78.57%) dan hanya 6 responden (21.43%) yang ragu-ragu terhadap
persoalan tapal batas. Hal ini dapat dipahami karena selama ± 60 tahun kemerdekaan tapal batas
antara Indonesia dan Filipina belum juga tuntas. Banyak faktor yang memicu kekisruhan batas
negara, yang dimulai dari alasan keamanan, sumber daya ekonomi, sampai pada kepemilikan
kedaulatan. Alasan-alasan tersebut menyebabkan sejumlah negara terlibat dalam “kekisruhan”
bilateral maupun regional. Kawasan perbatasan Kepulauan Sangihe termasuk kawasan Sangihe,
Talaud dan Sitaro, sampai saat ini masih menyimpan rawan konflik perbatasan dan kepemilikan
Tabel 45 Persepsi responden terhadap geopolitik dan hankam dalam pengelolaan P2K perbatasan Kepulauan Sangihe
Keterangan: angka-angka dalam kurung adalah persentase responden yang menjawab (n=28).
Sumber konflik yang mungkin akan terjadi, yaitu: (a) sampai saat ini batas laut Indonesia
dan Filipina terutama di ZEE dan Landas Kontinen belum tuntas. Batas negara di laut saat ini
yang dianut adalah peninggalan Belanda dan Spanyol; (b) Filipina tidak “tertarik” membicarakan
mengenai batas negara, mereka lebih tertarik membahas kerjasama pengelolaan perikanan; (c)
masalah pulau Miangas yang walaupun telah diterima tetapi masih merupakan gangguan karena
persetujuan batas Negara yang telah diundangkan harus didepositokan ke Perserikatan Bangsa
Bangsa (PBB); (d) adanya alur terorisme yang mengganggu keamanan di suatu negara baik
Indonesia maupun Filipina; dan (e) pengaruh “pemberontakan” masyarakat Filipina Selatan untuk
tuntutan kemerdekaan. Menurut informasi penduduk WNI yang kembali dari Filipina Selatan
dan menetap di Pulau Matutuang dan para penyelundup, diperkirakan sampai dengan 15 orang
WNI keturunan Sangihe Talaud telah bergabung dengan pasukan Moro di Filipina Selatan.
Pernyataan dan pertanyaan
Skala jawaban dan jumlah responden Sangat
setuju
Setuju Ragu-ragu Tidak setuju
Sangat tidak setuju Persoalan “tapal batas” Indonesia 12(42.86) 10(35.71) 6(21.43) 0(0.00) 0(0.00) Deposit UU tapal batas ke PBB 14(50.00) 10(35.71) 4(14.29) 0(0.00) 0(0.00) Kaji kembali tapal batas secara geografis 13(46.43) 12(42.86) 3(10.71) 0(0.00) 0(0.00) Kedaulatan adalah inti dari kemerdekaan 18(64.29) 10(35.71) 0(0.00) 0(0.00) 0(0.00) Peningkatan rasa nasionalisme 15(53.57) 10(35.71) 3(10.71) 0(0.00) 0(0.00) Perubahan paradigma pengelolaan 16(57.14) 9(32.14) 3(10.72) 0(0.00) 0(0.00) Kebijakan pembangunan memperhatikan
kendala geografi
12(42.86) 9(32.41) 7(25.00) 0(0.00) 0(0.00) Kondisi keamanan laut cukup
memprihatinkan
12(42.86) 10(35.71) 4(14.28) 2(7.15) 0(0.00) Pertahanan dan keamanan laut merupakan
tugas pokok TNI-AL dan POLRI
15(53.57) 10(35.71) 3(10.72) 0(0.00) 0(0.00) Partisipasi masyarakat dalam pertahanan
dan keamanan
16(57.14) 10(35.71) 2(7.15) 0(0.00) 0(0.00) Hubungan kekerabatan 16(57.14) 10(35.71) 2(7.15) 0(0.00) 0(0.00)
Selanjutnya sekitar 85.71% responden menyatakan bahwa garis perbatasan yang telah
dibuat peraturan perundang-undangan oleh bangsa Indonesia diharapkan dapat didepositokan ke
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) agar dapat memperoleh pengakuan internasional yang kuat.
Permasalahan batas negara atau tapal batas pada prinsipnya mengandung makna batas luasan
suatu negara/wilayah. Apabila ditelusuri secara mendalam batas wilayah Kabupaten Kepulauan
Sangihe dan Kabupaten Kepulauan Talaud dari titik astronomi yang menentukan sejumlah posisi
geografis perlu dikaji kembali.
Hal ini mengandung berbagai kejanggalan dan tanda tanya
tentang posisi geografis dimaksud. Sejalan dengan itu sebanyak 25 responden (89.29%)
menyatakan persetujuannya apabila posisi geografis Kepulauan Nusa Utara dikaji kembali
dengan menggunakan berbagai bukti sejarah. Pengkajian ini sangat diperlukan karena
kepemilikan suatu kedaulatan memberikan implikasi kepada kemerdekaan (100%). Oleh karena
itu persoalan perbatasan harus segera dilakukan dengan peningkatan rasa nasionalisme dengan
melakukan berbagai kegiatan termasuk peningkatan pendidikan.
Sebanyak 21 responden (75%) menyatakan bahwa kebijakan pembangunan di Kabupaten
Kepulauan Sangihe harus memperhatikan kendala geografis. Dalam berbagai paparan, Anggoro
(2005) menyatakan, betapa geopolitik Indonesia lebih dulu harus meretas belenggu geografis
sebelum pada akhirnya dapat menjadi pijakan kewilayahan yang dapat menampilkan dirinya
dalam rumusan geostrategis yang koheren. Oleh karena untuk membangun kawasan perbatasan di
Kepulauan Sangihe orientasi lokasional perlu dipertimbangkan, karena pilihannya hanyalah
berorientasi kepada minimalisasi biaya transpor. Namun Sarundajang (2010) dalam disertasinya
menetapkan posisi geopolitik dari Sulawesi Utara, memposisikan Kepulauan Sangihe untuk
melirik pasar secara inwardlooking atau menetapkan Kepulauan Nusa Utara dalam pusat
perdagangan lokal dalam membangun dan mengembangkan Sulawesi Utara menjadi titik
Gambar 22 Sulawesi Utara sebagai hubungan Kawasan Timur Indonesia (Sarundajang 2010).
Arah pasar komoditas yang dialirkan ke Manado/Bitung sebagai pusat distribusi ke
pasaran regional atau internasional diduga akan menyebabkan biaya transportasi yang tinggi
terutama produk dari P2K perbatasan. Dalam kaitan dengan pasar non-tradisional dan aliran
komoditas berasal dari Kepulauan Nusa Utara yang bukan berbatasan langsung dengan Filipina,
naskah ini dapat diterima sebagai bahan masukan, namun apabila produk dari P2K perbatasan
harus melalui pusat pasar Manado/Bitung, maka jelas akan terjadi cost of transportation yang
sangat tinggi, terlebih lagi pada saat harga BBM relatif tinggi sehingga daya saing komoditas
akan menurun. Oleh karena seyogyanya dalam konteks geopolitik hubungan kekerabatan, dan
P2K perbatasan di Kepulauan Sangihe memiliki nilai strategis ditinjau dari: (1) posisi
geografis yang menentukan batas wilayah Indonesia dengan Filipina; (2) batas pernyataan
kedaulatan negara; dan (3) bagian terdepan dari pertahanan dan keamanan negara dengan negara
tetangga. Oleh karena itu, lebih dari 85% responden sependapat bahwa peranan TNI-AL dan
POLRI masih sangat diharapkan untuk pertahanan dan keamanan. Namun sangatlah “ironis”
menurut responden bahwa jumlah TNI-AL dan POLRI relatif sangat “minim” sehingga
pengamanan di beberapa pulau seperti Pulau Tinakareng masalah keamanan dibantu oleh TNI-
AD. 5.8.2 Daya dukung ekonomi
Sekitar 26 responden atau 92.86% dari responden menyatakan daya dukung ekonomi
P2K perbatasan secara ekonomis tidak dapat dikembangkan tanpa keterkaitan wilayah (region
linkage). Daya dukung ekonomi (economic carrying capacity) harus bersandarkan pada potensi
yang dapat dikembangkan, meliputi: perikanan, pariwisata bahari, dan perkebunan, yang disetujui
oleh sekitar 85.72%. Kemanfaatan daya dukung ekonomi dapat dikembangkan dan
dimanifestasikan apabila terjadi transaksi ekonomi melalui sistem perdagangan yang
dikembangkan di Kepulauan Sangihe, dan pernyataan ini disetujui oleh sebanyak 18 responden
(64.29%). Kuesioner pada Lampiran 30 dan jawaban responden dalam Tabel 46.
Perairan Indonesia ditinjau dari segi geopolitik, geostrategi, dan geoekonomi memiliki
peran yang sangat strategis dan penting bukan saja bagi Indonesia namun juga bagi negara-negara
di kawasan Asia Pasifik bahkan global. Oleh karena itu untuk mengembangkan sistem
perdagangan dibutuhkan peningkatan sistem transportasi laut. Sejalan dengan itu, sekitar 17
responden (60,99%) setuju bahwa pengembangan transportasi laut merupakan salah satu jalan
(Filipina)7 yang dikutip oleh Berita Sulut (2007), bahwa masalah transportasi antar kedua negara
Indonesia dan Filipina perlu di-legal-kan dalam suatu aturan khusus.
Tabel 46 Persepsi responden terhadap daya dukung ekonomi dalam rangka pengelolaan P2K Perbatasan Kepulauan Sangihe
Keterangan: angka-angka dalam kurung adalah persentase dari jumlah responden (n=28).
Sekitar 22 responden atau 78.57% sepakat bahwa orientasi perdagangan P2K perbatasan
Kepulauan Sangihe cenderung berkiblat ke Filipina Selatan, karena selain telah terbentuk ikatan
kekerabatan, juga perdagangan tradisional (traditional trade) dalam sistem barter telah dilakukan
7
)Virgilio adalah utusan pemerintah Filipina Selatan dalam pertemuan dengan pemerintah Provinsi Sulawesi
Utara dalam pembahasan tentang penertiban pelintas batas illegal antara Filipina Selatan dengan Sulawesi Utara, tanggal 22 November 2007 di Lapangan Udara Juda Tindas Naha Tabukan Utara Kabupaten Kepulauan Sangihe.
Pertanyaan dan pernyataan Sangat Skala jawaban dan jumlah responden setuju Setuju Ragu- ragu Tidak setuju Sangat tidak setuju P2K perbatasan memiliki daya dukung
ekonomi jika dilihat secara keseluruhan dengan potensi Nusa Utara
22 (78,57) 4 (14,29) 2 (7,15) 0 (0,00) 0 (0,00) Daya dukung ekonomi: perikanan, pariwisata
bahari, dan perkebunan
18 (64,29) 6 (21,43) 4 (14,28) 2 (7,15) 0 (0,00) Daya dukung ekonomi akan memperoleh
kemanfaatan apabila ada transaksi ekonomi melalui sistem perdagangan
8 (28,58) 10 (35,71) 6 (21,43) 4 (14,28) 0 (0,00) Sistem perdagangan harus didukung oleh
pengembangan transportasi laut
9 (32,41) 8 (28,58) 6 (21,43) 5 (17,58) 0 (0,00) Orientasi perdagangan hendaknya dilakukan
ke Filipina Selatan 12 (42,86) 10 (35,71) 4 (14,28) 2 (7,15) 0 (0,00) Diperlukan upaya perluasan dan
pengembangan BCA 9 (32,41) 8 (28,58) 5 (17,58) 4 (14,28) 2 (7,15) Dibutuhkan pengembangan Border Trade
Agreement (BTA) 11 (34,28) 8 (28,58) 4 (14,28) 3 (10,71) 2 (7,15) Perubahan paradigma ini diharapkan akan
mendorong terjadinya pengawasan yang intensif 10 (35,71) 9 (32,41) 5 (17,58) 4 (14,28) 0 (0,00) Dalam pengembangan BCA dan BTA
diperlukan suatu perubahan yang mendasar
9 (32,41) 8 (28,58) 5 (17,58) 4 (14,28) 2 (7,15) P2K perbatasan dapat dikembangkan sebagai
kawasan industri perikanan dan perdagangan
10 (35,71) 8 (28,58) 5 (17,58) 4 (14,28) 1 (3,35) P2K perbatasan dapat dikembangkan sebagai
kota pantai berbasis industri perikanan
11 (39,28) 9 (32,41) 4 (14,28) 2 (7,15) 2 (7,15) BCA selama 35 tahun tidak memberikan
manfaat bagi masyarakat P2K perbatasan
9 (32,41) 9 (32,41) 5 (17,58) 4 (24,28) 1 (3,35) Pengembangan ekonomi perdagangan,
diperlukan perubahan nilai jumlah barang
10 (35,71) 8 (28,58) 8 (28,58) 2 (7,15) 0 (0,00) Perubahan jumlah nilai barang yang dapat
dibawa akan memperkecil illegal trade.
10 (35,71) 9 (32,41) 5 (17,58) 2 (7,15) 2 (7,15)