2 TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Pengelolaan Kawasan Perbatasan
mempertimbangkan dan memperhitungkan keuntungan dan kerugian lokasi dari posisi
geografisnya berdasarkan telaah ilmu politik untuk kepentingan politiknya. Dasar
perhitungannya adalah peta bumi politik dan peta bumi sumber daya strategis yang disesuaikan
dengan perkembangan teknologi. Implementasi dalam kebijakan pengelolaan P2K perbatasan
dalam perspektif geopolitik di Kabupaten Kepulauan Sangihe adalah kemampuan
mempertimbangkan dan menghitung manfaat (benefit) dibandingkan dengan kerugian (cost)
yang akan muncul dalam pemanfaatan SDA strategis berdasarkan teknologi dan penggunaan
peta bumi politik dengan memandang faktor geografis sebagai faktor penentu.
2.3 Pengelolaan Kawasan Perbatasan
Perbatasan
adalah sebuah demarkasi antara dua negara (state’s border) yang berdaulat
dan terbentuk dengan lahirnya negara. Sebelumnya penduduk yang tinggal di wilayah tertentu
tidak merasakan perbedaan itu, bahkan tidak jarang mereka berasal dari etnis yang sama. Namun
dengan munculnya negara, mereka terpisahkan dan adanya tuntutan negara itu mereka
mempunyai kewarganegaraan yang berbeda (Susetyo 2008). Perbatasan telah memperoleh
makna yang baru sebagai konstruksi sosial dan kultural yang tidak lagi terikat pada pengertian
yang bersifat teritorial (Tirtosudarmo 2005). Menurut Wadley (2002), batas negara ialah sebuah
garis yang memisahkan sistem sosial yang berbeda dan daerah perbatasan menjadi wilayah yang
bersifat marjinal, yang legitimasinya tergantung hubungan dan partisipasi dalam sistem sosial
yang dtentukan di pusat, sehingga bukan sekedar sistem sosial yang unik.
Perbatasan dapat diartikan sebagai suatu unit legal politis yang mempunyai berbagai
fungsi unik sekaligus startegis bagi suatu negara. Dalam konteks pemahaman tersebut maka
perbatasan memiliki fungsi militer strategis, ekonomi, konstitusi, identitas, kesatuan nasional,
pembangunan negara dan kepentingan domestik (Blanchard 2005). Untuk menganalisis
pasar dan arus perdagangan; (2) kebijakan pemerintah negara-negara yang berbatasan langsung;
(3) pengaruh faktor politis masyarakat di wilayah perbatasan; dan (4) budaya khas masyarakat di
wilayah perbatasan. Dalam konteks borders dipahami sebagai suatu garis imajiner yang
memisahkan wilayah suatu negara yang secara geografis berbatasan langsung dengan wilayah
negara lain. Sesungguhnya pengertian mengenai perbatasan tidaklah sederhana, karena di
dalamnya juga mengandung dimensi lain seperti garis batas (border lines), sempadan (boundary),
dan perhinggaan (frontier), yang merupakan persoalan politik (Anggoro 2004).
Kawasan perbatasan kepulauan Sangihe dimaksud adalah sebutan bentangan laut dengan
beberapa pulau kecil yang terletak di ujung utara sebagai penentuan batas wilayah NKRI. Pulau
terluar dalam kawasan perbatasan dimaksud adalah Pulau Marore, Pulau Kawio, Pulau
Kemboleng, Pulau Matutuang, Pulau Kawaluso, dan Pulau Lipang. Kawasan perbatasan
kepulauan Sangihe mempunyai keterkaitan kedepan (forward linkage) adalah Filipina dengan
wilayah pemasaran produk adalah Filipina (Manila), Hongkong, Kaohsiung, Busan dan Jepang.
Sedangkan keterkaitan kebelakang (backward linkage), adalah: Kepulauan Talaud, Kepulauan
Sitaro, Manado (Sulawesi Utara), dan Gorontalo. Oleh karena itu tidak ada pilihan lain dalam
pengelolaan P2K perbatasan harus menganut sistem outward looking dalam pengelolaannya
bukan inward looking.
Kawasan Perbatasan adalah bagian dari Wilayah Negara yang terletak pada sisi dalam
sepanjang batas wilayah Indonesia dengan negara lain. Sedangkan dalam pengelolaan
Wilayah Negara dan Kawasan Perbatasan, Pemerintah berwenang: (1) menetapkan kebijakan
pengelolaan dan pemanfaatan Wilayah Negara dan Kawasan Perbatasan; (2) mengadakan
perundingan dengan negara lain mengenai penetapan Batas Wilayah Negara sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan dan hukum internasional; (3) membangun dan
membuat tanda Batas Wilayah; (4) melakukan pendataan dan pemberian nama pulau dan
kepulauan serta unsur geografis lainnya; (5) memberikan izin kepada penerbangan
peraturan perundang-undangan; (6) memberikan izin lintas damai kepada kapal-kapal asing untuk
melintasi laut teritorial dan perairan kepulauan pada jalur yang telah ditentukan dalam peraturan
perundang-undangan; (7) melaksanakan pengawasan di zona tambahan yang diperlukan untuk
mencegah pelanggaran dan menghukum pelanggar peraturan perundang-undangan di bidang bea
cukai, fiskal, imigrasi, atau saniter di dalam Wilayah Negara atau laut teritorial; (8) menetapkan
wilayah udara yang dilarang dilintasi oleh penerbangan internasional untuk pertahanan
keamanan; (9) membuat dan memperbarui peta Wilayah Negara dan menyampaikannya kepada
DPR sekurang-kurangnya setiap 5 (lima) tahun sekali; dan (10) menjaga keutuhan, kedaulatan,
dan keamanan Wilayah Negara serta Kawasan Perbatasan (Pasal 10 UU No. 43/2008).
Selanjutnya untuk kewenangan pemerintah provinsi telah dimuat dalam Pasal 11 UU No.
43/2008, serta untuk kewenangan pemerintah kabupaten/kota dimuat dalam Pasal 12 UU No.
43/2008. Dengan demikian pengelolaan kawasan perbatasan negara Indonesia dengan negara
Filipina, idealnya mempertimbangkan perwujudan fungsi dan wewenang dalam konteks aturan
perundang-undangan. Pertimbangan pengelolaan kawasan perbatasan harus sesuai dengan fungsi
yaitu: keamanan (security), kesejahteraan (prosperity), dan fungsi lingkungan (environment). Hal
ini merupakan suatu keniscayaan dalam upaya melakukan transformasi kawasan perbatasan dari
“halaman belakang” menjadi “beranda terdepan” wilayah NKRI.
Pengelolaan masalah keamanan di kawasan perbatasan dapat dimaknai sebagai segenap
kebijakan dan upaya terkait yang ditujukan untuk mengurangi potensi ancaman, kondisi
ketidakamanan, dan memaksimalkan keamanan di wilayah perbatasan. Terdapat dua sistem yang
diterapkan oleh negara dalam pengelolaan keamanan di kawasan perbatasan, yaitu: (1) hard
border regime, yakni rejim keamanan perbatasan yang menganut sistem perbatasan sangat ketat
dengan menempatkan pasukan bersenjata lengkap di setiap pos-pos perbatasan; dan (2) soft
border regime, yaitu memperlakukan pengamanan perbatasan tidak terlalu ketat (Wuryandari
Sejalan dengan itu maka pantai dan laut harus dijaga dengan tugasnya, adalah: (1)
melakukan tugas-tugas patroli guna menegakan hukum di laut; (2) melakukan shipping law
enforcement dalam rangka penegakan ketentuan keselamatan pelayaran, (3) melaksanakan
pengawasan di laut terhadap kemungkinan pengrusakan terumbu karang dan habitat laut; (4)
melaksanakan pemeriksaan di laut terhadap kapal-kapal yang melakukan pelanggaran hukum
serta ketentuan keselamatan pelayaran; (5) melaksanakan pencarian dan pertolongan di laut; (6)
melaksanakan penanggulangan dan pertolongan tumpahan minyak dan kebakaran kapal di laut;
dan (7) memasang, mengawasi dan menjaga sarana bantu navigasi dan stasiun radio pantai
(Kamaluddin 2002). 2.4 Daya Dukung dalam Pengelolaan P2K Perbatasan
Fauzi (2000) menyatakan, terdapat beberapa konsep pengukuran daya dukung lingkungan
yang sering digunakan yaitu: (1) potensi maksimum sumber daya; (2) kapasitas penyerapan
(absorptive capacity) atau sering disebut dengan kapasitas asimilasi (assimilative capacity), dan
(3) daya dukung lingkungan (environmental carrying capacity). Konsep potensi maksimum
sumber daya didasarkan pada pemahaman untuk mengetahui potensi sumber daya yang dapat
menghasilkan barang dan jasa dalam jangka waktu tertentu, pengukurannya didasarkan pada
perkiraan-perkiraan ilmiah atau teoritis. Kapasitas penyerapan (absorptive capacity) atau
kapasitas asimilasi (assimilative capacity) adalah kemampuan SDA dapat pulih (misalnya air,
udara) untuk menyerap limbah akibat aktivitas manusia.
Daya dukung lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan untuk mendukung
perikehidupan dan makhluk lain (Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009). Menurut Dahuri
(2003), sumber daya hayati pesisir dan lautan memiliki peluang sangat besar untuk mengalami
kepunahan. Hal ini disebabkan karena sumber daya hayati laut biasanya bersifat milik bersama
(common property) dan open access (siapa saja dan kapan saja boleh memanfaatkan). Untuk
dibuat kebijakan ekonomi yang tidak hanya berorientasi pada tingkat pertumbuhan semata,
melainkan juga tetap berpihak pada lingkungan.
Fauzi (2004), salah satu masalah penting yang dihadapi dalam pembangunan ekonomi
adalah bagaimana menghadapi trade off antara pemenuhan kebutuhan pembangunan dan upaya
mempertahankan kelestarian lingkungan. Pembangunan ekonomi yang berbasis SDA yang tidak
memperhatikan aspek lingkungan pada akhirnya akan berdampak negatif pada lingkungan,
karena SDA dan lingkungan memiliki kapasitas yang terbatas. Menurut Fauzi (2005), kerusakan
lingkungan secara umum dipicu oleh dua faktor utama yang dominan yaitu kebutuhan ekonomi
(economic driven) dan kegagalan kebijakan (policy failure driven).
Daya dukung dalam pengelolaan P2K dapat dilihat dari beberapa tingkatan, yaitu daya
dukung ekologis, daya dukung fisik, daya dukung sosial, dan daya dukung ekonomi. Daya
dukung ekologis adalah tingkat maksimum (jumlah dan volume) pemanfaatan suatu sumber daya
atau ekosistem yang dapat diakomodasi oleh suatu kawasan atau zona sebelum terjadinya
penurunan kualitas ekologis. Secara fisik, daya dukung adalah jumlah maksimum pemanfaatan
suatu sumber daya atau ekosistem yang dapat diabsorpsi oleh suatu kawasan atau zona tanpa
menyebabkan kerusakan atau penurunan kualitas fisik. Daya dukung sosial adalah tingkat
kenyamanan apresiasi pengguna suatu sumber daya atau ekosistem terhadap suatu kawasan atau
zona akibat adanya pengguna lain dalam waktu bersamaan. Daya dukung ekonomi adalah tingkat
skala usaha dalam pemanfaatan suatu sumber daya yang memberikan keuntungan maksimum
secara bersinambungan (Dahuri 2003a).
Daya dukung suatu ekosistem alam seperti wilayah pesisir dan lautan dapat dilihat dari
empat fungsinya, yaitu: (1) penyedia SDA; (2) penyedia jasa-jasa pendukung kehidupan (life
supporting systems); (3) penyedia jasa-jasa kenyamanan (amenity services); dan (4) penyerap
limbah (waste receplace) (Ortolano 1984). Menurut Dahuri, et al (1996) secara ekologis terdapat
empat syarat agar pembangunan di wilayah pesisir dan lautan dapat berlangsung secara
ekologis sesuai (suitable) dengan kegiatan pembangunan tersebut; (2) pemanfaatan SDA tidak
melebihi potensi lestari (renewable capacity); (3) pembuangan limbah tidak melebihi kapasitas
asimilasi ekosistem pesisir dan lautan; dan (4) kegiatan rancang bangun konstruksi dan
modifikasi bentang alam (landscape) harus sesuai dengan karakteristik dan dinamika alamiah
pesisir dan lautan.
2.5 Penilaian Depresiasi Sumber Daya Ikan
Menurut Fauzi dan Anna (2005), degradasi mengacu pada penurunan kualitas/ kuantitas
SDA yang dapat diperbaharukan (renewable resources), dalam hal ini, kemampuan SDA untuk
regenerasi sesuai kapasitas produksinya yang berkurang. Kondisi ini dapat terjadi baik karena
kondisi alamiah maupun karena pengaruh aktivitas manusia. Untuk SDI, kebanyakan degradasi
terjadi akibat kegiatan manusia (anthropogenic), baik berupa aktivitas produksi (penangkapan
atau eksplorasi) maupun aktvitas non produksi (pencemaran).
Fauzi dan Anna (2002) menyatakan, dalam kondisi aktual, jarang sekali terjadi eksploitasi
perikanan pada tingkat penangkapan maupun upaya yang optimal, padahal dengan melakukan
eksploitasi pada tingkat optimal maka perikanan tangkap akan lestari. Hartwick (1990),
menyatakan bahwa perbedaan antara upaya aktual dengan upaya optimal sangat diperlukan bagi
penentu kebijakan, guna meminimalkan opportunity cost dalam bentuk keuntungan ekonomi
optimal lestari yang hilang karena mengeksploitasi sumber daya perikanan pada tingkat sekarang.
Pengukuran depresiasi menggunakan metode present value, di mana seluruh rente yang
akan datang (future value of rent) yang diharapkan dihasilkan dari SDI dihitung dalam nilai di
masa sekarang (present value) (Fauzi dan Anna 2002), dengan anggapan bahwa kurva permintaan
bersifat elastis, maka rente SDI dihitung berdasarkan persamaan: