CPI t = indeks harga konsumen pada peride t
5.2 Analisis Sektor/Subsektor/Komoditas Unggulan Kabupaten Sangihe
5.6.4 Perdagangan lintas batas ( border trade ) Indonesia – Filipina
Sejak lama kawasan Nusa Utara menjadi lintasan perdagangan. Artinya orang-orang di
Nusa Utara sudah lama terlibat sebagai pelaku perdagangan, namun saat ini sulit diperoleh data
yang dapat memberikan jawaban, mengapa perdagangan itu hilang dari realitas kehidupan sehari-
hari orang Nusa Utara. Diperkirakan hampir 80 persen masyarakat Nusa Utara sebagai petani
dan nelayan, sedangkan sisanya sekitar 11 persen dalam sektor perdagangan. Perdagangan di
Kabupaten Sangihe saat ini dikuasai oleh pedagang dari komunitas Cina dan Arab, dan kalangan
usaha dagang mikro banyak diperan oleh orang Sangihe (Salindeho dan Sombowadile 2008).
Hasil pengamatan dan wawancara dapat disimpulkan bahwa realitas sebagai pelaku
perdagangan hilang dari kehidupan masyarakat Nusa Utara, salah satu sebabnya adalah tidak
banyaknya alternatif pasar yang menampung produk-produk yang diperdagangkan. Akibatnya
peluang ekonomi di Kepulauan Sangihe semakin terbatas, maka terjadilah migrasi ke daerah lain.
Migrasi tersebut dapat bersifat sementara juga dapat bersifat permanen, serta pada umumnya
adalah bersekolah, mencari nafkah sebagai pekerja, dan lain-lain. Pekerjaan yang dilakoni adalah
buruh pabrik, buruh bangunan, tenaga pramuniaga, pembantu rumah tangga dan sebagai pelaut.
Kaunang (2003), menyebutkan terdapat beberapa catatan sejarah yang mengakibatkan
perdagangan di Nusa Utara berkembang dengan baik pada abad tersebut di atas, antara lain:
(1) Hubungan perdagangan antara wilayah-wilayah bagian utara Indonesia seperti Sangihe,
Talaud, Ternate, dan Maluku sudah berlangsung sejak lama;
(2) Kawasan Nusa Utara terletak dalam beberapa lintasan pelayaran rempah-rempah;
(3) Kawasan Nusa Utara memiliki produk-produk andalan saat itu seperti: minyak kelapa,
kopra, cengkeh, pala dan fuli, dan persediaan makanan bagi pelayar;
(4) Kawasan Nusa Utara merupakan titik pertemuan yang menghubungkan antara Ternate
jalur pelayaran dan perdagangan dari daratan Cina Selatan ke Kepulauan Maluku melalui
Laut Cina Selatan, Laut Sulu, Laut Sulawesi, dan Laut Maluku.
Menurut Brilman (1938) jauh sebelum bangsa Eropa berkunjung ke Nusantara, penduduk
kawasan Nusa Utara telah mengenal perdagangan. Hal ini disebabkan daerah Nusa Utara sering
dikunjungi pedagang dari Cina, Makasar, Jawa, Maluku dan lain-lain, terutama sejak jatuhnya
Malaka (tahun 1511) dan berpindahnya perdagangan rempah-rempah ke Maluku.
Menurut Salindeho dan Sombowadile (2008) serta hasil pengamatan dan wawancara dan
analisis dokumen lintas batas Indonesia dan Filipina tahun 1956 sampai dengan tahun 1975,
terlihat bahwa sejak tahun 1966 sampai dengan tahun 1971 pemerintah mengambil langkah-
langkah dalam usaha perdagangan, sebagai berikut:
(1) Bupati/KDH Sangihe dan Talaud memberikan nota dinas kepada O.D.T Gaghana tanggal
4 Oktober 1965, yang intinya adalah penugasan untuk menjajaki kemungkinan hubungan
perdagangan dengan pengusaha Filipina;
(2) Tanggal 28 Oktober 1965, di Davao (Filipina), Gaghana mengadakan perundingan
dengan Direktur The Joyge Enterprise, Mr. Willian Joyce, disaksikan oleh Jan Kekenusa
(Konsulat Indonesia di Davao);
(3) Perundingan tersebut ditindaklanjuti dengan kunjungan langsung Mr. William Joyce ke
Tahuna sekaligus melakukan transaksi dagang pertama dengan sistem barter; dan
(4) Berdasarkan Surat Keputusan Bupati/KDH Kabupaten Kepulauan Sangihe Talaud No.
63/Eek/1966, menetapkan Tahuna sebagai sentra tempat pertukaran barang.
Salindeho dan Sombowadile (2008), menyatakan bahwa dari setiap transaksi pada saat
itu, pemerintah daerah mengambil retribusi berupa dana pembangunan melalui Kecamatan
Tahuna. Kegiatan ini hanya berlangsung sampai dengan tahun 1971, karena pemerintah kedua
negara (Indonesia dan Filipina) menyetujui kesepakatan yaitu: “agreement on border trade
between the Government of the Republic of the Indonesia and the Government of the Philippines
Republik Filipina)” tanggal 8 Agustus 1974 yang dituangkan dalam Keppres No. 6/1975 tanggal
17 Maret 1975, LN No. 11. Keputusan Presiden ini justru menaruh pembatasan-pembatasan
yaitu dengan memperkecil wilayah perbatasan sebagaimana yang diatur dalam kesepakatan tahun
1956 yang diratifikasi oleh pemerintah Indonesia menjadi UU No. 77/1957.
Pembatasan-pembatasan yang dilakukan sesuai Keppres No.6/1975 tanggal 17 Maret
1975 tentang perdagangan lintas batas, sebagai berikut:
(1) Pelintas batas dibatasi hanya boleh membawa barang-barang keperluan pribadi saja
dengan nilainya setara 500 pesos atau jika menggunakan perahu tidak melebihi 5000
pesos dengan kapasitas muatan dibatasi pada 200 metrik kubik;
(2) Perdagangan dibatasi pada tempat-tempat yang ada pos lintas batas seperti P. Marore, P.
Miangas, dan P. Balut. Aliran barang ke wilayah lainnya dijaga ketat.
Meskipun demikian, kegiatan perdagangan lintas batas (border trade) tidak dapat
dihentikan hanya dengan aturan yang ada, bahkan semakin marak baik legal apalagi yang illegal.
Menurut ketentuan-ketentuan tersebut di atas secara umum dapat dikatakan bahwa perdagangan
di P2K Perbatasan lebih banyak dilakukan secara illegal dan dikategorikan sebagai
penyelundupan. Kegiatan ini semakin meningkat baik dari segi jenis barang, volume dan nilai
transaksinya, walaupun tidak tercatat dengan baik dalam statistik perdagangan.
Pemasaran
barang-barang perdagangan rakyat di pulau perbatasan sudah merambah jauh dari wilayah-
wilayah perbatasan seperti Tahuna, Bitung, Manado, dan Gorontalo. Bahkan sudah terbuka
tidaklah dengan cara “sembunyi-sembunyi” seperti penjualan di Petta (Enemawira) dan di
Tahuna (Toko Pionier).
Menurut para pedagang yang pernah dan masih melakukan kegiatan penyelundupan,
harga pembelian Cocacola ditempat “penampung” hasil barang selundupan di Naha (Tabukan
Utara) senilai Rp. 110 000 per krat (jumlah 12 botol) dan dijual kembali sekitar Rp. 125 000 per
krat atau Rp. 12 500 per botol. Menurut informasi setiap minggu rata-rata sebanyak 150 krat
Artinya dalam setiap bulan terdapat 600 krat Cocacola, dengan asumsi dilakukan selama 10 bulan
maka setiap tahun terdapat 6000 krat dengan keuntungan Rp. 15 000 per krat atau Rp. 80 000 000
per tahun, yang apabila dilakukan secara legal dan dipungut retribusi sebesar 10 persen dari
keuntungan maka setiap tahun dari Kampung Tinakareng menyumbang Rp. 8 juta hanya dari
Cocacola.
Pulau Tinakareng sangat terkenal di kalangan masyarakat Sangihe dan Manado karena di
pulau ini terdapat barang-barang identik dengan barang-barang asal Filipina. P. Tinakareng
berada dalam Kecamatan Nusa Tabukan yang merupakan salah satu pulau yang ditentukan dalam
BCA antara Indonesia dan Filipina selain Pulau Miangas, Pulau Marore, dan Kepulauan Bukide.
Kondisi kehidupan masyarakatnya tergolong makmur jika dibandingkan dengan desa lainnya di
Kepulauan Sangihe, meskipun mata pencaharian mereka bercocok tanam dan nelayan tradisional.
Luas pulau ini sekitar 750 ha dan kondisi tanah yang tandus, maka hasil pertaniannya hampir
tidak ada (Sinar Harapan 2003). Pengakuan warga Tinakareng sebagai berikut:
Menurut Bewok (48) warga P. Tinakareng pandai mencari penghasilan lain supaya perekonomiannya meningkat, yaitu berdagang dengan orang dari negara tetangga, Filipina. Ada yang berbisnis secara legal, itu tidak dapat dipungkiri tetapi tidak sedikit pula yang melakukan secara illegal dengan segala resiko yang ditanggungnya. Penyelundupan barang-barang dari P. Tinakareng ke daerah-daerah Filipina dan sebaliknya, sudah jamak, bahkan seolah “halal”, meskipun pelakunya harus menghadapi resiko ditangkap oleh kapal patroli baik dari Indonesia mapun Filipina. Penyelundupan ini sudah menjadi pilihan dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat. Jika tertangkap karena keluar masuk secara illegal itu sudah menjadi resiko. Perdagangan lintas batas Filipina – Indonesia di kawasan Kepulauan Sangihe Talaud sudah diawali sejak berabad-abad yang lalu. Apalagi setelah kedua negara melakukan perjanjian perbatasan yang terkenal dengan BCA pada tahun 1970-an. Dalam perjanjian itu disepakati batas maksimal nilai barang yang dapat diperdagangkan secara bebas sebesar 250 dolar AS.
Nusa Onthony (50) penyelundupan yang dilakukan oleh masyarakat hanyalah untuk masalah perut saja. Dari P. Tinakareng rakyat setempat membawa barang-barang seperti sabun cuci dengan menggunakan pump boat bermesin Fuso, lalu sekembalinya dari Filipina membawa barang-barang seperti sandal jepit, minuman keras berkadar alkohol tinggi seperti tanduay, london jin, serta lampu-lampu hias. Dengan menggunakan pump boat itu, waktu ditempuh dari P. Tinakareng ke daerah-daerah selatan Filipina seperti Davao, Saranggani, Lajangas dan Cotabato sekitar maksimum sebelas jam.
Edison Bawelle (52), mantan Opo Lao (Kepala Kampung) Tinakareng, uang peso Filipina bisa laku bila dibelanjakan di pasar atau warung-warung. Belanja dengan peso bisa dikembalikan dengan rupiah. Jika dirupiahkan, 100 peso menjadi Rp. 17.000,- Masyarakat hanya menginginkan agar perdagangan antar negara itu dapat lebih terkontrol dengan baik.
5.6.5 Jalur perdagangan dan pertukaran komoditas
Pada saat ini sulit membedakan pergerakan orang dan barang sebagai pelintas illegal dan
legal, karena “pintu resmi” dapat juga digunakan oleh para “pelintas batas yang illegal”. Namun
untuk dapat memberikan gambaran yang lebih utuh, maka disampaikan beberapa hasil
pengamatan dan wawancara dengan kesimpulan disampaikan bahwa pergerakan secara legal
dapat dilakukan dalam rute sebagai berikut:
(1) Rute tradisional lewat wilayah Sangihe. Rute ini biasa dilewati dari Manado melalui
perjalanan laut ke pelabuhan Petta (Kecamatan Tabukan Utara). Dari Petta ke
Tinakareng melalui perjalanan laut, terus ke Marore sebagai Pos Imigrasi untuk
mengurus surat dan dari pulau perbatasan ini berlayar ke pelabuhan Batuganding di P.
Balut dan dari pelabuhan Batuganding melalui perjalanan laut ke pelabuhan General
Santos Minandao.
Perjalanan dari Tahuna saat ini juga sudah ada kapal laut yang
berlayar menuju Filipina (General Santos) dengan biaya yang murah.
(2) Rute tradisional lewat wilayah Talaud. Dari Manado ke Lirung, Batunuris, Bowongbaru,
Salibabu, Moronge, dan singgah di Karatung, terus ke Miangas (Pos Imigrasi untuk
mengurus surat-surat). Dari Miangas menyeberang ke wilayah Filipina dengan tujuan
Pos Tibanban, dan dari sana bisa langsung berlayar ke pelabuhan laut Santa Ana.
(3) Rute pelayaran resmi dari Bitung. Jalur Bitung – Davao – Bitung yang dilayari kapal
barang, juga dapat menggunakan rute lain Bitung – General Santos – Bitung yang
diusahakan pengusaha Indonesia di Bitung maupun pengusaha Filipina. Jalur ini pernah
semarak oleh pergerakan perdagangan barang pada saat krisis yaitu nilai kurs mencapai
Rp. 10 000 sampai dengan Rp. 15 000 per dolar. Saat itu banyak pedagang Filipina
berbelanja di Manado dengan barang dagangan yang dibeli adalah: sabun deterjen (rinso),