• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Perhitungan PPh Pasal 25 di PT Millenium Pharmacon International, Tbk

Dalam dokumen BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN (Halaman 46-50)

Pajak Penghasilan Pasal 25 adalah angsuran Pajak Penghasilan yang harus dibayar sendiri oleh wajib pajak untuk tahun pajak berjalan.Angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25 tersebut dapat dijadikan sebagai kredit pajak yang terutang atas seluruh penghasilan Wajib Pajak pada akhir tahun pajak yang dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Pajak Penghasilan.

4.5.1 Perhitungan Pajak Penghasilan Pasal 25 Tahun 2010 oleh Penulis

PPh 22 : yaitu kegiatan pembelian barang oleh bendaharawan akan dikenakan tarif sebesar 1,5%. PPh pasal 22 selama tahun 2010 sebesar Rp1.157.866.228. PPh 23 : yaitu atas hadiah dan penghargaan yang dipotong PPh pasal 23. Pajak

penghasilan pada tahun 2010 sebesar Rp57.782.971. PPh 24 : Perusahaan tidak adanya kredit pajak luar negeri

a) Menurut SPT tahunan pajak penghasilan wajib pajak badan dengan atau form 1771 dengan nama wajib pajak adalah PT MPI, Tbk. Besarnya angsuran PPh pasal 25 pada tahun berjalan adalah Rp56.256.916dengan perhitungan sebagai berikut : a) Penghasilan yang menjadi angsuran Rp 7.365.894.000

b) Kompensasi kerugian -

c) Penghasilan kena pajak Rp7.365.894.000 d) PPh terutang : (Rp7.365.894.000x 25%) = Rp 1.841.473.500

e) Kredit pajak Rp 1.166.390.507

f) PPh yang harus dibayar sendiri (d-e) Rp 675.082.993 g) PPh Pasal 25 : (1/12 x f) Rp56.256.916

b) Dan untuk perhitungan sesuai ketentuan perpajakan yang telah dilakukan oleh penulis yaitu sebagai berikut :

a) Penghasilan yang menjadi angsuran Rp 9.664.862.000

b) Kompensasi kerugian -

c) Penghasilan kena pajak Rp9.664.862.000 d) PPh terutang : (Rp9.664.862.000 x 25%) = Rp2.416.215.500

e) Kredit pajak Rp 1.166.390.507

g) PPh Pasal 25 : (1/12 x f) Rp 104.152.082

Didalam perhitungan PPh pasal 25 antara perusahaan dengan penulis terdapat perbedaan perhitungan.Pembayaran yang dilakukan oleh PT MPI, Tbk dan dalam penyetoran Pajak Penghasilan Pasal 25 setiap bulan, PT MPI, Tbk pada tahun 2010 sudah melaksanakan kewajiban perpajakan secara tepat waktu sehingga menurut peneliti pada tahun 2010 tidak dikenakan sanksi. Berdasarkan Pasal 9 ayat (1) Undang-undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan Nomor 28 Tahun 2007 Jo.Peraturan Menteri Keuangan Nomor 184/PMK.03/2007 yang mengatur tentang tanggal jatuh tempo pembayaran atau penyetoran pajak, bahwa pasal 25 dibayar atau disetor paling lambat tanggal 15 bulan berikutnya. Dan berdasarkan Pasal 9 ayat (2) Undang-undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan Nomor 28 Tahun 2007 bahwa pembayaran dan penyetoran pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang dilakukan setelah tanggal jatuh tempo pembayaran atau penyetoran pajak, dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% per bulan. Maka, untuk tahun 2011 PT MPI, Tbk tidak melewati batas jatuh tempo penyetoran atau pelaporan, maka tidak ada sanksi yang harus dibayar oleh PT MPI, Tbk.

Berdasarkan Pasal 7 Undang-undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP) Nomor 28 Tahun 2007, apabila Surat Pemberitahuan tidak disampaikan dalam jangka waktunya maka akan dikenakan sanksi Rp100.000 untuk Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan. Dan berdasarkan Pasal 3 ayat (3) Undang-undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP) Nomor 28 Tahun 2007 batas waktu penyampaian Surat Pemberitahuan Masa, paling lama 20 hari setelah akhir Masa Pajak. Maka, untuk tahun 2010, PT MPI, Tbk telah melakukan pelaporan Pajak Penghasilan Pasal 25 sebelum jatuh tempo, sehingga menurut peneliti bahwa PT MPI, Tbk tidak mendapatkan sanksi apapun.

4.5.2 Perhitungan Pajak Penghasilan Pasal 25 Tahun 2011

PPh 22 : yaitu kegiatan pembelian barang oleh bendaharawan akan dikenakan tarif sebesar 1,5%. PPh pasal 22 selama tahun 2010 sebesar Rp1.643.193.899. PPh 23 : yaitu atas imbalan/jasa lainnya yang dipotong PPh pasal 23. Pajak penghasilan

pada tahun 2011 sebesar Rp3.041.707.

a) Menurut SPT tahunan pajak penghasilan wajib pajak badan dengan atau form 1771 dengan nama wajib pajak adalah PT MPI, Tbk. Besarnya angsuran PPh pasal 25 pada tahun berjalan adalah Rp 61.686.449 dengan perhitungan sebagai berikut : a) Penghasilan yang menjadi angsuran Rp9.545.892.000

b) Kompensasi kerugian -

c) Penghasilan kena pajak Rp9.545.892.000 d) PPh terutang : (Rp9.545.892.000 x 25%) = Rp 2.386.473.000

e) Kredit pajak Rp 1.646.235.606

f) PPh yang harus dibayar sendiri (d-e) Rp740.237.394 g) PPh Pasal 25 : (1/12 x f) Rp61.686.449

b) Dan untuk perhitungan sesuai ketentuan perpajakan yang telah dilakukan oleh penulis yaitu sebagai berikut :

a) Penghasilan yang menjadi angsuran Rp11.823.576.000

b) Kompensasi kerugian -

c) Penghasilan kena pajak Rp11.823.576.000 d) PPh terutang : (Rp11.823.576.000x 25%) = Rp2.955.894.000

e) Kredit pajak Rp1.646.235.606

f) PPh yang harus dibayar sendiri (d-e) Rp 1.309.658.394 g) PPh Pasal 25 : (1/12 x f) Rp109.138.199

Didalam perhitungan PPh pasal 25 antara perusahaan dengan penulis terdapat perbedaan perhitungan.Pembayaran yang dilakukan oleh PT MPI, Tbk dan penyetoran Pajak Penghasilan Pasal 25 setiap bulan, PT MPI, Tbk pada tahun 2011 sudah melaksanakan kewajiban perpajakan secara tepat waktu sehingga menurut peneliti pada tahun 2011 tidak dikenakan sanksi. Berdasarkan Pasal 9 ayat (1) Undang-undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan Nomor 28 Tahun 2007 Jo.Peraturan Menteri Keuangan Nomor 184/PMK.03/2007 yang mengatur tentang tanggal jatuh tempo pembayaran atau penyetoran pajak, bahwa pasal 25 dibayar atau disetor paling lambat tanggal 15 bulan berikutnya. Dan berdasarkan Pasal 9 ayat (2) Undang-undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan Nomor 28 Tahun 2007 bahwa pembayaran dan penyetoran pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang dilakukan setelah tanggal jatuh tempo pembayaran atau penyetoran pajak, dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% per bulan. Maka, untuk tahun 2011 PT MPI, Tbk tidak melewati batas jatuh tempo penyetoran atau pelaporan, maka tidak ada sanksi yang harus dibayar oleh PT MPI, Tbk.

Berdasarkan Pasal 7 Undang-undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP) Nomor 28 Tahun 2007, apabila Surat Pemberitahuan tidak disampaikan dalam jangka waktunya maka akan dikenakan sanksi Rp 100.000 untuk Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan. Dan berdasarkan Pasal 3 ayat (3) Undang-undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP) Nomor 28 Tahun 2007 batas waktu penyampaian Surat Pemberitahuan Masa, paling lama 20 hari setelah akhir Masa Pajak. Maka, untuk tahun 2011, PT MPI, Tbk telah melakukan pelaporan Pajak Penghasilan Pasal 25 sebelum jatuh tempo, sehingga menurut peneliti bahwa PT MPI, Tbk tidak mendapatkan sanksi apapun.

4.5.3 Perhitungan Pajak Penghasilan Pasal 25 Tahun 2012

PPh 22 : yaitu kegiatan pembelian barang oleh bendaharawan akan dikenakan tarif sebesar 1,5%. PPh pasal 22 selama tahun 2012 sebesar Rp1.923.507.796. PPh 23 : tidak ditemukannya pajak yang harus dipotong.

PPh 24 : Perusahaan tidak adanya kredit pajak luar negeri

a) Menurut SPT tahunan pajak penghasilan wajib pajak badan dengan atau form 1771 dengan nama wajib pajak adalah PT MPI, Tbk. Besarnya angsuran PPh pasal 25 pada tahun berjalan adalah Rp 210.103.454 dengan perhitungan sebagai berikut : a) Penghasilan yang menjadi angsuran Rp17.778.997.000

b) Kompensasi kerugian -

c) Penghasilan kena pajak Rp17.778.997.000 d) PPh terutang : (Rp17.778.997.000x 25%) = Rp 4.444.749.250

e) Kredit pajak Rp 1.923.507.796

f) PPh yang harus dibayar sendiri (d-e) Rp 2.521.241.454 g) PPh Pasal 25 : (1/12 x f) Rp210.103.454

b) Dan untuk perhitungan sesuai ketentuan perpajakan yang telah dilakukan oleh penulis yaitu sebagai berikut :

a) Penghasilan yang menjadi angsuran Rp 18.854.896.000

b) Kompensasi kerugian -

c) Penghasilan kena pajak Rp18.854.896.000 d) PPh terutang : (Rp18.854.896.000x25%) = Rp 4.713.724.000

e) Kredit pajak Rp 1.923.507.796

f) PPh yang harus dibayar sendiri (d-e) Rp 2.790.216.204 g) PPh Pasal 25 : (1/12 x f) Rp232.518.017

Didalam perhitungan PPh pasal 25 antara perusahaan dengan penulis terdapat perbedaan perhitungan.Pembayaran yang dilakukan oleh PT MPI, Tbk dan penyetoran Pajak Penghasilan Pasal 25 setiap bulan, PT MPI, Tbk pada tahun 2012 sudah melaksanakan kewajiban perpajakan secara tepat waktu sehingga menurut peneliti pada tahun 2012 tidak dikenakan sanksi. Berdasarkan Pasal 9 ayat (1) Undang-undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan Nomor 28 Tahun 2007 Jo.Peraturan Menteri Keuangan Nomor 184/PMK.03/2007 yang mengatur tentang tanggal jatuh tempo pembayaran atau penyetoran pajak, bahwa pasal 25 dibayar atau disetor paling lambat tanggal 15 bulan berikutnya. Dan berdasarkan Pasal 9 ayat (2) Undang-undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan Nomor 28 Tahun 2007 bahwa pembayaran dan penyetoran pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang dilakukan setelah tanggal jatuh tempo pembayaran atau penyetoran pajak, dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% per bulan. Maka, untuk tahun 2011 PT MPI, Tbk tidak melewati batas jatuh tempo penyetoran atau pelaporan, maka tidak ada sanksi yang harus dibayar oleh PT MPI, Tbk.

Berdasarkan Pasal 7 Undang-undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP) Nomor 28 Tahun 2007, apabila Surat Pemberitahuan tidak disampaikan dalam jangka waktunya maka akan dikenakan sanksi Rp 100.000 untuk Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan. Dan berdasarkan Pasal 3 ayat (3) Undang-undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP) Nomor 28 Tahun 2007 batas waktu penyampaian Surat Pemberitahuan Masa, paling lama 20 hari setelah akhir Masa Pajak. Maka, untuk tahun 2012, PT MPI, Tbk telah melakukan pelaporan Pajak Penghasilan Pasal 25 sebelum jatuh tempo, sehingga menurut peneliti bahwa PT MPI, Tbk tidak mendapatkan sanksi apapun.

Dalam dokumen BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN (Halaman 46-50)

Dokumen terkait