• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Perhitungan Volume Kanopi

149 3.2 Rasterisasi data point clouds

5.4 Analisis Perhitungan Volume Kanopi

Perhitungan volume kanopi pohon menunjukkan hasil yang cukup masuk akal untuk area studi. Di tambah dengan kerapatan antar pohon yang cukup tinggi membuat volume kanopi lebih representatif karena pemodelan ketinggiannya secara umum kontinyu. Namun, tingkat akurasi perhitungan tentunya akan cukup berkurang karena penggunaan nilai rata-rata setiap kelas sebagai representasi elevasi kelas yang memiliki interval cukup tinggi yaitu 10 meter.

6. KESIMPULAN

Berdsarkan studi ini juga dapat disimpulkan bahwa parameter struktural perkebunan kelapa sawit, Sumatera Selatan, memiliki parameter distribusi ketinggian pohon:

Lissa Fajri Yayusman, dkk.

Bunga Rampai Penginderaan Jauh Indonesia, 2011

154

Tabel 5. Tabel hasil perhitungan ketinggian pohon

Kelas H minimum H maximum p,fei

- 0 0.3 0.080779

1 0.301 10.3 0.427486

2 10.301 20.3 0.491449

3 20.301 30.3 0.000287

Selain itu juga diperoleh hasil perhitungan volume kanopi pohon pada area studi sebesar 8684,242 m3.

Dari seluruh tahapan studi yang dilakukan juga dapat disimpulkan bahwa terdapat banyak metode untuk melakukan pengukuran parameter struktural hutan dan perkebunan. Metode rasterisasi yang digunakan pada studi ini cukup efektif untuk melakukan pengukuran parameter struktural perkebunan kelapa sawit. Metode ini disesuaikan dengan kondisi data dan area studi yang dipakai. Namun, secara keseluruhan hasil dari metode ini kurang representatif atau akurat karena pengukuran dilakukan secara global berdasarkan area, dan bukanlah berdasarkan perhitungan pada masing-masing individual pohon.

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis mengucapkan terima kasih kepada staff dari Center for Remote Sensing ITB atas segala bantuan dan masukan dalam kelancaran penelitian ini dan juga kepada PT. McElhanney Indonesia yang telah membantu dalam penyediaan data lapangan.

DAFTAR REFERENSI

Aldred, A., & Bonner, M. 1985. Application of Airborne Lasers to Forest Surveys.

Diedershagen, O., Koch, B., & Weinacker, H. 2003. Automatic Estimation of Forest Inventory

Parameters Based on LiDAR, Multispectral and FOGIS Data. Technical Session.

Esri. 2010. Lidar Analysis in ArcGIS 9.3.1 for Forestry Applications. Esri White Paper.

Gong, P., Sheng, Y., & Biging, G. 2002. 3D Model-Based Tree Measurement from High

Resolution Aerial Imagery.

Huang, H., Gong, P., Cheng, X., Clinton, N., & Li, Z. 2009. Improving Measurement of Forest

Structural Parameters by Co-Registering of High Resolution Aerial Imagery and Low Density LiDAR Data. Sensors 2009, 9, 1541-1558.

Hugelschaffer, D. 2004. Use of LiDAR in Forestry Applications.

Meng, X., Currit, N., & Zhao, K. 2010. Ground Filtering Algorithms for Airborne LiDAR Data:

Perhitungan Parameter Struktural Hutan Menggunakan Data Light Detection and Ranging

Bunga Rampai Penginderaan Jauh Indonesia, 2011

155

Popescu, S. C., Wyne, R. H., & Nelson, R. F. 2003. Measuring Individual Tree Crown Diameter

with Lidar and Assessing Its Influence on Estimating Forest Volume and Biomass.

Canadian Journal of Remote Sensing, Vol 29, No. 5, pp. 564-577. Reksohadiprodjo, S., & Brodjonegoro. 2000. Ekonomi Lingkungan.

Sithole, G. 2005. Segmentation and Classification of Airborne Laser Scanner Data. Delft, The Netherlands: NCG.

BIOGRAFI PENULIS

Lissa Fajri Yayusman

Lissa lahir di Bekasi, Jawa Barat pada 18 November 1990. Anak

kedua dari tiga bersaudara ini menempuh pendidikan SD, SMP,

dan SMA di Kota Bekasi. Kemudian melanjutkan pendidikan

tinggi di Institut Teknologi Bandung dan memperoleh gelar

Sarjana Teknik dalam bidang Teknik Geodesi dan Geomatika

pada tahun 2011. Saat ini Lissa masih aktif berkarya dalam

bidang penginderaan jauh di Pusat Penginderaan Jauh ITB.

156

LIDAR (Light Detection and Ranging) untuk Pemodelan Kota

Tiga Dimensi (Studi Kasus : Kota Davao, Filipina)

Muhammad Arief Vannessyardi1, Daniel Adi Nugroho2, Ketut Wikantika1

1Program Studi Teknik Geodesi dan Geomatika, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, Institut Teknologi Bandung.

2

PT McElhanney Indonesia e-mail : [email protected]

Abstrak

Fenomena meningkatnya pertumbuhan urbanisasi dan industrialisasi berpengaruh terhadap kebutuhan sistem perencanaan kota yang baik. Banyak teknik yang dapat digunakan untuk membangun sistem perencanaan kota, salah satu teknik yang akurat dan memiliki kepadatan data yang tinggi adalah teknik dengan menggunakan LIDAR(Light Detection and Ranging). Model kota 3D dapat dihasilkan dari data LIDAR. Hasil utama dari teknik LIDAR adalah Digital Surface Model (DSM) dan

Digital Elevation Model (DEM) yang nantinya dapat digunakan untuk membangun

model kota 3 dimensi. Model kota 3D dari daerah pusat kota dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam aplikasi, contohnya adalah operasi militer, manajemen bencana alam, pemetaan gedung dan ketinggian gedung, simulasi gedung baru, pembaharuan dan pelestarian data kadaster, rekonstruksi bangunan, dll. Pada penelitian ini penulis menggunakan data LIDAR dan orthophoto dari kota Davao di Filipina. Metode yang penulis gunakan dalam pembuatan model kota tiga dimensi ini adalah building

extraction menggunakan data LIDAR dan orthophoto. DEM area penelitian dihasilkan

dengan cara pembuatan TIN dari point cloud yang berada pada kelas ground area penelitian. Hasil akhir yang diharapkan adalah model bangunan 3D diatas DEM area penelitian.

Kata kunci: model kota 3D, LIDAR, orthophoto, DEM, DSM, building extraction.

Abstract

The phenomenon of the increasing growth of urbanization and industrialization affect the need for good city planning system. Many techniques can be used to build the city planning system, one technique that is accurate and has a high density of data is a technique using a LIDAR (Light Detection and ranging). 3D city models can be generated from LIDAR data. The main results of the lidar technique is a Digital Surface Model (DSM) and Digital Elevation Model (DEM) that can later be used to construct three-dimensional models of cities. 3D city models from the downtown area can be utilized for various applications, for example, are military operations disaster management, mapping of buildings and building heights, simulating the new building, renewal and preservation of cadastral data, reconstruction of buildings, etc.. In this

LIDAR (Light Detection and Ranging) untuk Pemodelan Kota Tiga Dimensi

Bunga Rampai Penginderaan Jauh Indonesia, 2011

157

study the authors used data from the LIDAR and orthophoto of Davao city in the Philippines. The method used in the manufacture of three-dimensional model of the city is building extraction using LIDAR and orthophoto data. DEM of research area generated by the manufacture of TIN from point cloud that is on ground class of research area. The end result, as expected, is a 3D building model over the study area DEM.

Keywords: 3D city model, LIDAR, orthophoto, DEM, DSM, building extraction.

1. PENDAHULUAN

Kebutuhan akan adanya Digital Terrain Model (DTM) yang berketelitian tinggi semakin meningkat. Salah satu teknik baru untuk pengadaan DTM berketelitian tinggi adalah dengan menggunakan LIDAR. LIDAR merupakan suatu teknologi baru yang menggunakan sinar laser, yang dibawa pada pesawat udara, untuk melakukan pengukuran jarak.

Diluncurkannya satelit Global Positioning System memungkinkan ditentukannya posisi suatu wahana yang bergerak dengan ketelitian yang tinggi, dengan mengacu pada suatu sistem koordinat tertentu. Jika posisi sensor dapat ditentukan dengan ketelitian yang cukup tinggi, dan juga jarak dan sudut antara sensor dengan titik obyek di permukaan bumi, maka posisi obyek tersebut dapat juga ditentukan.

Saat ini berbagai perusahaan pembuat alat ini mengklaim bahwa ketelitian yang didapatkan dari LIDAR sekitar 6 inchi (± 15 cm). Tingkat ketelitian seperti ini memungkinkan dibuatnya Digital Terrain Model (DTM) yang sangat teliti. Karakteristik menarik dari LIDAR adalah dapat diaturnya frekuensi pancaran sinyal, yang memungkinkan diaturnya densiti titik tiap satuan luas tertentu.

LIDAR telah menjadi teknik yang diciptakan untuk menurunkan informasi geometris dalam tiga dimensi dengan akurasi desimeter (+ 1,5 dm atau +15 cm)(Lohr, 1998, Wehr dan Lohr, 1999). Menggunakan teknik LIDAR ini, DSM yang akurat dalam menggambarkan dasar dan fitur di atas permukaan tanah dapat dibangun dalam waktu yang relatif singkat. Dataset LIDAR dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam aplikasi (Gruen et al. 1995, 1997). Salah satu aplikasi dari LIDAR adalah pembuatan model 3D dari bangunan dan benda-benda buatan manusia lainnya serta pembangunan DEM dengan cara ‘melucuti’ fitur-fitur yang ada di atas permukaan tanah (Hug, 1996, Jaafar et al, 1999a).