• Tidak ada hasil yang ditemukan

87 Gambar 4. Kejadian ENSO dan IOD 1998 – 2009

Wilayah Jawa yang memiliki tipe curah hujan Moonsunal cenderung mengalami kekurangan curah hujan pada bulan Juni-Juli-Agustus. Namun pada JJA 1998 dan 2005 (Gambar 5) Jawa dan Bali terlihat cukup basah, dimana pada 1998 terjadi La Nina dan DMI negatif. Sedangkan 2005 dimana terjadi El Nino lemah dan DMI negatif dominan sehingga peta rawan kekeringan di JJA 2005 cenderung mendekati normal. Hanya di beberapa daerah memperlihatkan kondisi basah.

Peta rawan kekeringan Jawa pada bulan Juni-Juli-Agustus banyak yang menunjukkan kondisi mendekati normal basah, yaitu 1999, 2000, 2001, dan 2007. Pada JJA 1999 – 2001 ENSO dan IOD pada kondisi normal, sedangkan JJA 2007 terjadi La Nina kuat namun dapat dilemahkan oleh IOD positif yang cukup kuat juga. Sedangkan klasifikasi normal - sedikit kering di wilayah Jawa bagian timur dan Bali terjadi pada 2004 dan 2009, dimana pada tahun-tahun tersebut terjadi ENSO yang diperkuat dengan DMI positif.

Selebihnya pada Gambar 5, peta rawan kekeringan JJA 2002, 2003, 2006, dan 2008 memperlihatkan banyak klasifikasi kering. Fenomena ENSO dan IOD saling menguatkan dengan index positif, kecuali 2008.

-4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 MEI DMI

Nur Febrianti

Bunga Rampai Penginderaan Jauh Indonesia, 2011

88

Aplikasi Inderaja untuk Mendeteksi Kekeringan di Jawa Terkait Aktivitas ENSO dan IOD

Bunga Rampai Penginderaan Jauh Indonesia, 2011

89

Untuk melihat apakah kondisi rawan kekeringan ini dapat mempengaruhi jumlah produksi yang dihasilkan, maka diambil studi kasus kekeringan Juni – Agustus 2003 di wilayah Jawa Barat. Di mana pada saat itu wilayah Jawa Barat terutama bagian utara terlihat berpotensi mengalami kondisi kekeringan hingga kriteria sangat kering.

Dari Gambar 6 terlihat bahwa sekitar 56% wilayah Jawa Barat mengalami penurunan produksi padi pada saat berpotensi mengalami kekeringan. Penurunan produksi terbesar terjadi di Kabupaten Ciamis, Cirebon, Sukabumi, dan Tasikmalaya yaitu mencapai 33 ribu Ton dari rata-rata produksi padi pada periode waktu yang sama (yaitu rata-rata produksi padi pada bulan Mei sampai Agustus 2000 hingga 2005).

Selain itu dari Gambar 6 juga terlihat bahwa Kabupaten Ciami, Cirebon, dan Tasikmalaya sangat sensitif terhadap menurunan curah hujan yang mengakibatkan penurunan produksi padi di wilayah tersebut. Kecuali wilayah Kabupaten Bandung, Bekasi, Bogor, Garut, Karawang, Purwakarta dan Subang yang tetap mengalami peningkatan produksi padi dari rata-rata produksi padi diperiode yang sama walau berpotensi mengalami kekeringan. hal ini dapat terjadi karena wilayah tersebut mungkin memiliki jaringan irigasi yang baik. Dimana sumber air irigasi berasal dari danau, waduk atau lain sebagainya.

Gambar 6. Kondisi SPI dan peubahan produksi Padi bulan Mei – Agustus 2003 di Jawa Barat

4. KESIMPULAN

Pemanfaatan data satelit TRMM sebagai salah satu data hasil penginderaan jauh dapat diaplikasikan dalam pemantauan kekeringan. Hasil pengamatan kekeringan di Jawa dan Bali sejak 1998 – 2009 dengan menggunakan data TRMM, MEI, DMI, dan Peta Rawan kekeringan dari model SPI diketahui bahwa pada umumnya setiap kejadian MEI dan DMI positif maka akan menyebabkan curah hujan rendah yang cukup panjang,

Nur Febrianti

Bunga Rampai Penginderaan Jauh Indonesia, 2011

90

sehingga berindikasi terjadinya kondisi sangat kering. Namun hal ini tidak berlaku pada 1998 dimana curah hujan masih cukup tinggi sehingga peta rawan kekeringan memperlihatkan kondisi sangat basah. Sedangkan di tahun 2008 dimana DMI positif dan MEI negatif tetap menyebabkan curah hujan cukup kecil di Jawa dengan tipe kerawanan agak kering hingga sangat kering di sebagain Jawa Barat dan Jawa Timur. Pada studi kasus kondisi kedua indeks ini saling menguatkan (2003) ternyata produksi padi di Jawa Barat ikut mengalami penurunan.

5. REKOMENDASI

Penggunaan SPI dalam upaya penentuan daerah yang berpotensi mengalami kekeringan dapat diterapkan di Indonesia. Dengan mengetahui wilayah yang sangat sensitif terhadap perubahan curah hujan apalagi yang dipengaruhi kejadian ekstrim seperti ENSO dan IOD maka dapat diterapkan pemberian air irigasi agar dapat mengatasi kondisi kekeringan tersebut. Sebaiknya pengolahan menggunakan metode SPI menggunakan data curah hujan yang panjang.

DAFTAR REFERENSI

Aldrian, E, and R. Dwi Susanto. 2003. Identification of Three Dominant Rainfall Regions within

Indonesia And Their Relationship To Sea Surface Temperature. International Journal of Climatology, Int. J. Climatol. 23: 1435–1452 (2003).

Edwards, D.C., and T.B. McKee. 1997. Characteristics of 20th century drought in the United

States at multiple time scales. Climatology Report Number 97–2, Colorado State University, Fort Collins, Colorado.

Everett, and Simonett. 1976. Principles, Concepts, and Philosophical Problems in Remote

Sensing, In: Remote Sensing of Environment, Lintz, and Simonett: Addison-Wesley

Publishing Company, London.

Hounam, C.E., J.J. Burgos, M.S. Kalik, W.C. Palmer, and J. Rodda. 1975. Drought and Agriculture. Report of the CAgM Working Group on Assessment of Drought. Technical Note No. 138. WMO Publication No. 392, 127 pp.

http://drought.unl.edu/. Diakses Februari 2010.

http://trmm.gsfc.nasa.gov/overview_dir/background.html. Diakses Agustus 2010. http://www.esrl.noaa.gov/psd/people/klaus.wolter/MEI/table.html. Diakses Agustus 2010. http://www.jamstec.go.jp/frsgc/research/d1/iod/. Diakses Agustus 2010.

Lillesand, T.M., R.W. Kiefer, and J.W. Chipman. 2003. Remote sensing and image

interpretation (5th ed.). Wiley. ISBN 0-471-15227-7.

Lindgren, D.T. 1985. Land use Planning and Remote Sensing, Doldrecht: Martinus Nijhoff

Aplikasi Inderaja untuk Mendeteksi Kekeringan di Jawa Terkait Aktivitas ENSO dan IOD

Bunga Rampai Penginderaan Jauh Indonesia, 2011

91

McKee, T.B., N.J. Doesken, and J. Kleist. 1993. The relationship of drought frequency and

duration to time scales. Preprints, 8th Conference on Applied Climatology, pp. 179–184. January 17–22, Anaheim, California.

Saji, N.H., Goswami B.N., Vinayachandran P.N., and Yamagata T. 1999. A dipole mode in the

tropical Indian Ocean, Nature, 401, 360-363.

Wolter, K., and M.S. Timlin. 1998. Measuring the strength of ENSO events - how does 1997/98

rank? Weather, 53, 315-324.

Wolter, K., and M.S. Timlin. 1993. Monitoring ENSO in COADS with a seasonally adjusted

principal component index. Proc. of the 17th Climate Diagnostics Workshop, Norman, OK, NOAA/NMC/CAC, NSSL, Oklahoma Clim. Survey, CIMMS and the School of Meteor., Univ. of Oklahoma, 52-57.

BIOGRAFI PENULIS

Nur Febrianti, S.Si.

Lahir di Jambi 04 Februari 1981. Menamatkan Sekolah Dasar di Jambi, SMPN 12 dan SMUN 3 di Padang 1999, serta memperoleh gelar sarjana di IPB Jurusan Geofisika dan Meteorologi 2004. Setelah lulus kuliah bekerja di LAPAN, dan diterima menjadi Pegawai Negri Sipil 2008 sampai sekarang di lembaga yang sama.

Pelatihan tingkat international yang pernah diikuti yaitu antara lain Elucidation of ground based atmosphere observation

network in equatorial asia kerjasama LAPAN dan JSPS-Jepang,

2008. dan Spring School on Fluid Mechanics and Geophysics of Environmental

Hazards - Institute for Mathematical Sciences, National University of Singapore, 2009.

Pengalaman penelitian di bidang iklim dan aplikasinya 2004 – sekarang. Semenjak 2005 hingga 2010 telah mempublikasikan delapan makalah penelitian yang terkait.

92

Pola Spasial Hubungan Curah Hujan dengan ENSO dan IOD di