• Tidak ada hasil yang ditemukan

163 Gambar 8. Pemeriksaan dan Pengeditan tiap-tiap Model

Bila pada tahap pemeriksaan kerangka model dengan orthophoto ternyata ada beberapa bentuk kerangka atap atau bangunan yang tidak sesuai dengan bentuk pada orthophoto, maka model kerangka bangunan tersebut harus di-edit secara manual satu per satu setiap bangunannya. Seperti terlihat pada Gambar 8

Hasil akhir yang didapat dari pemodelan bangunan tiga dimensi ini adalah model bangunan tiga dimensi yang sudah diperiksa dengan orthophoto dan di-overlay dengan orthophoto untuk memberikan warna pada setiap bangunan sesuai keadaan sesungguhnya seperti terloihat pada Gambar 9.

Gambar 9. Hasil Model Bangunan Tiga Dimensi

5.2 Pembuatan Digital Terrain Model

Digital Terrain Model (DTM) dari area penelitian dibuat dengan cara pembuatan TIN

yang dibentuk dari point cloud pada kelas ground yang sudah dipisahkan dari kelas-kelas yang lain untuk kemudian selanjutnya diolah menjadi DTM TIN, seperti yang akan diperlihatkan pada Gambar 10.

Muhammad Arief Vannessyardi, dkk.

Bunga Rampai Penginderaan Jauh Indonesia, 2011

164

Gambar 10. Proses Pembentukan DTM dari Point Cloud Ground menjadi DTM TIN 5.3 Pembuatan Model Kota Tiga Dimensi

Hasil Akhir dari penelitian ini adalah model kota tiga dimensi yang didapat dari hasil overlay dari 3 komponen utama, yaitu: model bangunan yang di-extract dari area penelitian, DTM TIN dari area penelitian dan orthophoto area penelitian.

Gambar 11. (a)Overlay Model Bangunan dan DTM TIN, (b)Hasil Akhir Model Bangunan Tiga Dimensi Hasil Overlay 3 komponen, (c) dan (d)Model Kota Tiga Dimensi Skala

Diperbesar.

(a) (b)

LIDAR (Light Detection and Ranging) untuk Pemodelan Kota Tiga Dimensi

Bunga Rampai Penginderaan Jauh Indonesia, 2011

165

6.

ANALISIS 6.1 Analisis Data

Data LIDAR berformat LAS yang digunakan memiliki kerapatan (point cloud density) sebesar 2 point cloud per 1 m2. Padahal untuk melakukan pemodelan tiga dimensi sebaiknya menggunakan data LIDAR yang memiliki kerapatan point cloud sebesar 6-9

point cloud per 1 m2. Oleh sebab itu walaupun pemodelan tiga dimensi yang dilakukan sudah cukup menggambarkan keadaan kota Davao, namun sesungguhnya pemodelan kota tiga dimensi yang dilakukan masih dapat lebih dimaksimalkan lagi jika menggunakan data LIDAR dengan kerapatan point cloud yang lebih tinggi.

Pada penelitan ini dikarenakan banyaknya objek yang terdapat pada area pemodelan sehingga diperlukan waktu yang lebih untuk pengolahan data dan analisis objek karena harus dilakukan analisis satu persatu.

Data orthophoto yang digunakan memiliki resolusi pixel 0.5 m x 0.5 m sehingga memiliki ketelitian yang kurang bagus. Pada saat dilakukan pembandingan atau pemeriksaan antara objek model bangunan hasil pengolahan dengan objek yang sama pada orthophoto, objek bangunan pada orthophoto kurang terlihat jelas pada saat dilakukan perbesaran skala sehingga batas-batas atap bangunannya kurang terlihat jelas. Akibatnya hasil pemeriksaan objek bangunan kurang meyakinkan. Pada data orthophoto tersebut juga terdapat pergeseran relief pada beberapa objek bangunan yang tersebar secara acak.

6.2 Analisis Pengolahan

Pada saat melakukan pengolahan data point cloud LIDAR menggunakan metode klasifikasi manual, pengklasifikasian point cloud LIDAR ke dalam kelas-kelasnya dilakukan manual secara perorangan sehingga hasil dari klasifikasinya akan bersifat subjektif bergantung kepada pemahaman dari masing-masing individu terhadap penginterpretasian point cloud LIDAR terhadap objek yang bersangkutan.

Pada saat melakukan pemodelan bangunan tiga dimensi dan pemeriksaan model bangunan tiga dimensi terhadap objek bangunan di orthophoto juga dilakukan secara manual perorangan, sehingga pemahaman masing-masing individu dalam menginterpretasikan objek-objek bangunan juga dapat bersifat subjektif.

6.3 Analisis Hasil

Seperti terlihat pada Gambar 12, pada daerah bangunan yang rapat dan kecil atau kumuh sepertinya model tiga dimensi dari bangunan hasil pemodelan masih belum dapat dengan maksimal merepresentasikan objek yang sebenarnya dikarenakan kurang maksimalnya data LIDAR dan orthophoto yang digunakan. Akibatnya terjadi perbedaan bentuk antara kerangka atap model yang terbentuk dari point cloud LIDAR dengan kerangka atap objek yang bersangkutan pada orthophoto.

Muhammad Arief Vannessyardi, dkk.

Bunga Rampai Penginderaan Jauh Indonesia, 2011

166

Gambar 12. Daerah kumuh atau bangunan rapat

7.

KESIMPULAN

Pada Gambar 10 dapat dilihat adalah DTM hasil dari pengolahan data point cloud yang terdapat pada kelas ground. Dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan metode building extraction dengan menggunakan data LIDAR dan orthophoto dapat dilakukan pemodelan bangunan tiga dimensi yang cukup merepresentasikan area penelitian seperti terlihat pada Gambar 11(b), (c), (d) walaupun data yang digunakan masih kurang maksimal.

Diharapkan dengan adanya pemodelan kota tiga dimensi ini dapat diaplikasikan di kota-kota di Indonesia untuk memperbaiki sistem tata kota-kota, pemodelan manajemen bencana, rekonstruksi dan perencanaan bangunan, operasi militer, dll.

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh staff Center for Remote Sensing dan PT McElhanney atas segala bantuannya dalam menunjang kelancaran penelitian ini.

DAFTAR REFERENSI

Jadhav, A., Gambhir D. Use of LIDAR in Extraction of 3D City Models in Urban Planning. Masaomi Okagawa M. 2002. Algorithm of Multiple Filter to Extract DSM from LiDAR Data. Huber, M., Schickler, W., Hinz, S., Albert Baumgartner, A. 2002. Fusion of LIDAR Data and

Aerial Imagery for Automatic Reconstruction of Building Surfaces.

You, S., Hu, J., Neumann, U., Fox, P. Urban Site Modeling From LiDAR. Charaniya, A.P. 3D Urban Reconstruction from Aerial LiDAR data.

Ackermann, F., 1999. Airborne Laser Scanning Present Status and Future Expectations. ISPRS

Journal of Photogrammetry and Remote Sensing 54

Baltsavias, EP., 1999b, Airborne Laser Scanning : Basic Relations and Formulas, ISPRS

LIDAR (Light Detection and Ranging) untuk Pemodelan Kota Tiga Dimensi

Bunga Rampai Penginderaan Jauh Indonesia, 2011

167

Hug, C., 1996. Combined use of laser scanner geometry and reflectance data to identify surface objects. OEEPE-Workshop ‘3D city models’, Bonn, Germany, 9 – 11 October 1996. Jaafar, J., Priestnall, G., Mather, P.M. and Vieira, C.A., 1999a. Construction of DEM from

LIDAR DSM using morphological filtering, conventional statistical approaches and Artificial Neural Networks. RSS’99 - Earth Observation, From data to information, Proceedings of the 25th Annual Conference and Exhibition of the Remote Sensing Society, Cardiff, 8-10 September 1999, pp. 299-306. Remote Sensing Society, Nottingham.

Lohr, U., 1998. Laserscanning for DEM generation, In: GIS technologies and their environmental applications, Brebbia C. A. and Pascolo P. (eds). Computational Mechanics Publications, Southampton, pp. 243-249.

Wehr, A. and Lohr, U., 1999. Airborne laser scanning – an introduction and overview. ISPRS Journal of Photogrammetry and Remote Sensing, 54, pp. 68-82.

Gruen, A., Kubler, O., and Agouris, P., (eds), 1995. Automatic extraction of man-made objects from aerial and space images, Birkhauser Verlag, Basel.

Gruen, A., Baltsavias, E. P., and Henricsson, O., (eds), 1997. Automatic extraction of man-made objects from aerial and space images (II), Birkhauser Verlag, Basel.

BIOGRAFI PENULIS

Muhammad Arief Vannessyardi

Penulis bernama lengkap Muhammad Arief Vannessyardi dan biasa dipanggil Arief atau Ivan. Penulis lahir di Washington DC pada tanggal 25 September 1989 dan merupakan anak pertama dari lima bersaudara. Pendidikan terakhir penulis adalah Sarjana Teknik Geodesi dan Geomatika lulusan Institut Teknologi Bandung.

168

BIOGRAFI