Dalam Bab Tinjauan Kepustakaan, analisis atau break down atas unsur-
unsur yang ada di dalam satuan amatan sebagaimana telah secara rinci dikemukakan di atas dilakukan menurut struktur kontrak. Hal itu dilakukan demikian mengingat, seperti telah terlebih dahulu dikemukakan di dalam Bab Studi Pustaka, pada hakikatnya, asas perlakuan yang sama di hadapan hukum itu adalah suatu kontrak. Oleh sebab itu, sebagaimana analisis kontraktual pada umumnya, maka berikut ini analisis dimulai dengan pertanyaan pihak-pihak
dalam kontrak (the parties to contract), atau pihak-pihak (subyek hukum) yang mengemban hak-hak dan kewajiban sebagaimana memanifestasi dalam PBM, maupun Putusan-putusan di atas.
Pihak yang pertama88, pengemban kewajiban kontraktual untuk memastikan
adanya perlakuan yang sama di depan hukum adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berpuncak kepada Presiden sebagai Kepala Negara. Hal ini dapat
dilihat dalam uraian atas PBM89, dalam halaman 37, di sana dikatakan bahwa:
“tanggung jawab dan tugas (contractual), karena dirumuskan di dalam peraturan perundang-udangan, sebagaimana dikemukakan di atas adalah merupakan tanggung jawab Negara Republik Indonesia yang dikepalai Presiden”. Sedangkan kedua, pihak-pihak lainnya yang juga mengemban tugas kontraktual untuk memastikan ada persamaan perlakuan di depan hukum dalam PBM, secara tidak
langsung telah diuraikan cukup detail di atas90.
Disebutkannya subyek hukum Kepala Negara di atas memiliki arti penting, terutama apabila analisis diperluas terhadap pihak yang harus melaksanakan
Putusan Mahkamah Agung dalam kasus Umat Beragama di Rumah Ibadat A Quo.
Maksudnya, dalam judicial review di Indonesia, yaitu upaya hukum melalui
PTUN, apabila Kepala Dinas di Bogor menolak untuk melaksanakan putusan
PTUN, sebab pada dasarnya dalam sistem hukum acara judicial review Indonesia
melalui PTUN, Pejabat TUN lah yang mempunyai kewenangan untuk
88
Adapun pihak-pihak lainnya dalam PBM yaitu Kepala Daerah yang meliputi Gubenur, Bupati atau Walikota, OK, PA, FKUB dan Dewan Penasehat FKUB, Panitia Pembangunan Rumah Ibadat, Lembaga pengadilan. Sementara pihak-pihak di dalam putusan-putusan tersebut di atas yaitu Walikota Bogor, Kepala Dinas, Panitia Pembangunan Rumah Ibadat A Quo, Masyarakat sekitar Rumah Ibadat A Quo, PTUN Bandung, PTTUN Jakarta, dan Mahkamah Agung.
89 Lihat hlm., 37, Bab ini, supra. 90
melaksanakan Putusan PTUN tanpa upaya paksa. Upaya Paksa bergantung kepada Pejabat TUN yang bersangkutan dan atasannya, dalam hal ini di Indonesia berpuncak di Presiden sebagai Kepala Pemerintahan Eksekutif.
Pihak-pihak lainnya yang dimaksud di atas perlu Penulis uraikan kembali di sini untuk mengetahui bagaimana peran mereka dalam memastikan ada persamaan perlakuan di depan hukum. Pihak tersebut yaitu Gubenur yang mempunyai tugas
dan kewajiban memelihara kerukunan umat beragama di Provinsi.91 Menanggapi
Kasus Umat Beragama di Rumah Ibadat A Quo Gubenur seharusnya dapat
membina Walikota dan Kepala Dinas untuk tidak bertindak sewenang-wenang. Dan dalam hal kasus tersebut sudah mendapat Putusan yang berkekuatan hukum tetap maka Gubenur dapat memersuasi Kepala Dinas dan Walikota Bogor untuk melaksanakan Putusan tersebut. Itulah makna persamaan perlakuan di depan
hukum, equality before the law.
Berkaitan dengan tugas Bupati/Walikota untuk menerbitkan IMB-RI. Bupati/Walikota harus mempertimbangkan berbagai hal seperti peraturan perundang-undangan dan kepentingan pihak-pihak yang terkait Sebelum menerbitkan IMB-RI. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari dirugikannya pihak lain oleh karena penerbitan IMB-RI, mengingat juga fungsi perijinan yaitu untuk pengendalian maka, dalam membuat keputusan diberikan atau tidaknya ijin itu Bupati/Walikota harus bertindak hati-hati. Pedoman yang digunakan Bupati/Walikota dalam menerbitkan IMB-RI bagi Umat Beragama yang
mengajukan permohonan IMB-RI haruslah sama. Dengan demikian
Bupati/Walikota dapat menuruti asas persamaan perlakuan di depan hukum.
Dalam kasus Umat Beragama di Rumah Ibadat A Quo Walikota Bogor telah
91
menerbitkan IMB-RI. IMB-RI dapat diterbitkan karena Rumah Ibadat A Quo telah memenuhi persyaratan yang ditetapkan dan tentunya dengan pertimbangan- pertimbangan Walikota Bogor. Dengan adanya Pembekuan Ijin maka terlihat bahwa Walikota Bogor tidak dapat secara konsisten mempertanggungjawabkan keputusannya yang telah memberikan ijin.
Sementara itu ada Kepala Dinas yang melaksanakan tugas dibawah Walikota dan bertanggung jawab kepada Walikota. Seharusnya Kepala Dinas tidak berwenang membekukan ijin yang di keluarkan Walikota. Sebagai Pejabat TUN Kepala Dinas harus pula menaati peraturan perundang-undangan dan tidak bertindak sewenang-wenang dengan mengeluarkan Pembekuan Ijin. Karena hal
tersebut merugikan Umat Beragama di Rumah Ibadat A Quo, yang seharusnya
dilindungi kepentingannya. Selain itu Kepala Dinas harus tunduk pada Putusan PTUN, sebab kedudukannya yang sama di depan hukum dengan rakyat biasa.
Pihak lainnya yang juga berperan dalam menjamin persamaan perlakuan di depan hukum selain Kepala Negara dan Kepala Daerah yaitu OK, dalam PBM dijelaskan bahwa OK bervisi kebangsaan yang dibentuk berdasarkan kesamaan
agama oleh warga negara republik Indonesia.92 Walaupun OK Tidak seperti
Kepala Negara dan Kepala Daerah yang memiliki tugas dan kewajiban sebagaimana diamanatkan dalam PBM, OK tetap saja juga memiliki kewajiban memelihara kerukunan umat beragama, dengan cara bahwa OK harus menyadari bahwa masing-masing umat beragama juga memiliki hak yang sama dengan mereka. Umat Beragama dapat menjalankan ibadat secara berdampingan tanpa merugikan hak yang lain. Apabila ada OK yang merasa keberatan dengan
diterbitkannya IMB-RI A Quo mereka harus menyampaikan hal tersebut pada
pihak yang bertugas untuk itu dalam hal ini yaitu FKUB Kabupaten/Kota. Dan harus pula disertai dengan alasan yang sebenarnya.
Demikian pula PA sebagai panutan yang dihormati masyarakat sudah selayaknya memberikan contoh yang baik, memberikan arahan-arahan serta pengertian kepada masyarakat, untuk memelihara kerukunan hidup beragama. Dengan sikap saling merhargai dan menghormati hak-hak umat beragama. Dan
apabila merasa dirugikan oleh karena diterbitkannya IMB-RI A Quo harus pula
menempuh jalur yang telah ditetapkan dalam PBM.
Pihak yang tidak kalah penting yaitu FKUB yang dibentuk di Provinsi dan Kabupaten/Kota. Pada dasarnya FKUB Provinsi dan FKUB Kabupaten/Kota
memiliki tugas 93 yang sama hanya saja FKUB Kabupaten/Kota juga mempunyai
tugas untuk memberikan rekomendasi tertulis atas permohonan pendirian rumah
ibadat. Apabila dikaitkan dengan kasus Umat Beragama di Rumah Ibadat A Quo
seharusnya FKUB Kabupaten/Kota yang menampung aspirasi OK, PA dan
masyarakat yang merasa keberatan dengan diterbitkannya IMB-RI A Quo. Dan
baru kemudian FKUB Kabupaten/Kota menyalurkan aspirasi tersebut kepada Walikota. FKUB juga seharusnya dapat berinisiatif memfasilitasi mereka untuk melakukan musyawarah.
Pihak selanjutnya adalah pihak yang bertugas untuk mengajukan permohonan pendirian rumah ibadat yaitu panitia pembangunan rumah ibadat.
Dalam putusan satuan amatan Penulis Panitia Pembangunan Rumah Ibadat A
Quo, telah memenuhi syarat-syarat permohonan pendirian rumah ibadat
sebagaimana diatur dalam PBM, sehingga IMB-RI A Quo diterbitkan oleh
Walikota. Hal ini berarti bahwa Panitia Pembangunan Rumah Ibadat A Quo telah
93
memenuhi kewajibannya. Dengan demikian pembangunan Rumah Ibadat A Quo dapat dilaksanakan, tanpa adanya gangguan dari pihak lain. Selain itu Panitia
Pembangunan Rumah Ibadat A Quo dan Umat Beragama di Rumah Ibadat A Quo
juga harus memastikan bahwa pembangunan tersebut tidak menimbulkan gangguan bagi pihak lain.
Lembaga Pengadilan adalah pihak yang berperan dalam hal penyelesaian
perselisihan (at the last resort) yang terjadi akibat pendirian rumah ibadat apabila
penyelesaian perselisihan secara musyawarah dan musyawarah dengan didampingi Bupati/Walikota dibantu KKDA Kabupaten/Kota tidak tercapai. Pihak-Pihak di atas yang merasa dirugikan dapat menuntut haknya di Pengadilan. Pengadilan berperan penting dalam memperjuangkan asas persamaan perlakuan di depan hukum. PTUN Bandung telah menyelesaikan Kasus Umat Beragama di
Rumah Ibadat A Quo, memperhatikan dengan seksama bahwa tindakan Kepala
Dinas bertentangan dengan peraturan perundang-undangan, demikian pula dalam Upaya Banding dan Permohonan PK oleh Kepala Dinas di Mahkamah Agung dinyatakan ditolak. Demikian analisis mengenai pihak-pihak yang mengemban kewajiban untuk memastikan ada persamaan perlakuan di depan hukum.
Analisis Penulis lanjutkan dengan unsur kontrak lainnya sesuai pengertian
kontrak yang telah Penulis kemukakan pada Bab II94, unsur selanjutnya yaitu
adanya Prestasi atau kewajiban para pihak. Bahwa Pihak-Pihak tersebut dalam PBM akan memberikan, berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang dalam hal ini adalah diberikannya tugas kepada pihak-pihak tersebut di atas oleh pembuat PBM untuk memelihara kerukunan umat beragama. Pihak-Pihak di dalam PBM harus
94
melaksanakan kewajibannya sebagaimana diatur dalam PBM95 menuruti asas persamaan perlakuan di depan hukum. Walaupun pada prinsipnya tugas dan kewajiban yang diemban Pihak-Pihak dalam PBM adalah sama, namun tidak dapat tercapai tujuannya apabila salah satu pihak tidak melakukan tugasnya, lalai atau bahkan mengingkarinya.
Baik pemerintah maupun rakyat sama-sama melaksanakan perintah dalam PBM. Disini antara pemerintah dan rakyat mempunyai kedudukan yang sama, hanya saja yang berbeda adalah fungsinya bahwa pemerintah mengatur dan rakyat
diatur.96 PBM memberikan tugas kepada Pemerintah untuk mengatur umat
beragama di Negara Republik Indonesia dengan taat kepada perlakuan yang sama di depan hukum. Sedangkan rakyat diminta untuk menaati aturan dalam PBM atau pemerintah yang menjalankan tugas menurut PBM demi terpeliharanya kerukunan
umat beragama, dan menuntut hak tersebut ke PTUN melalui judicial review
apabila mereka dirugikan oleh perbuatan TUN.
Dalam hal pendirian rumah ibadat yang diatur dalam PBM pihak yang hendak mendirikan rumah ibadat (umat beragama) harus memenuhi syarat-syarat
dalam PBM97 di sana dikatakan bahwa selain memenuhi persyaratan administratif
dan persyaratan teknis bangunan gedung pendirian rumah ibadat harus memenuhi
persyaratan khusus98. Syarat khusus tersebut adalah bahwa pengguna rumah
ibadat paling sedikit sembilan puluh orang, adanya dukungan masyarakat setempat paling sedikit enam puluh orang, rekomendasi tertulis KKDA
95
Periksa Kembali, hlm., 35-40, Bab ini, Supra.
96
Lihat hlm., 24, Bab II, Supra.
97
Lihat hlm., 42-43, Bab ini, Supra.
98
Kabupaten/Kota dan rekomendasi tertulis FKUB Kabupaten/Kota. Menurut Penulis hal ini justru akan meniadakan prinsip persamaan perlakuan di depan hukum. Apabila ada kelompok minoritas agama hendak mendirikan rumah ibadat yang mayoritas masyarakatnya beragama lain, mereka akan mengalami kesulitan
seperti halnya terjadi pada kasus Umat Beragama di Rumah Ibadat A Quo dalam
Putusan satuan amatan Penelitian ini yang telah Penulis kemukakan di atas.
Bahwa Umat Beragama di Rumah Ibadat A Quo harus meminta persetujuan dari
masyarakat sekitar Rumah Ibadat A Quo, bahkan setelah mendapat persetujuan
masih ada saja masyarakat yang menyakatan tidak memberikan persetujuan dan menjadi alasan diterbitkannya Pembekuan Ijin oleh Kepala Dinas. Padahal disitu ada pula rekomendasi tertulis dari KKDA dan FKUB Kabupaten/Kota yang sudah jelas kewenangan. Ini berarti hahwa boleh tidaknya mendirikan rumah ibadat ditentukan oleh pendapat masyarakat mayoritas. Hal ini menunjukkan bahwa kurang dihormatinya persamaan perlakuan di depan hukum. Maka menurut Penulis sebaiknya tidak perlu ada ketentuan mengenai syarat khusus tersebut, yang justru akan berdampak pada pelanggaran hak asasi manusia yaitu terjadi diskriminasi terhadap kelompok minoritas agama. Di samping itu keputusan yang dibuat oleh Kepala Dinas adalah tidak benar. Penulis sependapat dengan
pertimbangan hakim dalam Putusan 4199 yang diantaranya menyatakan bahwa
penerbitan objek sengketa A Quo bertentangan dengan ketentuan Pasal 15 Ayat
(2) Perda No.7 tahun 2006 dan bahwa Kepala Dinas seharusnya memperhatikan Pasal 21 PBM, mengenai penyelesaian perselisihan pendirian rumah ibadat. Menurut Penulis hakim dalam Putusan 41 maupun dalam Putusan 127 Mahkamah
agung dalam sengketa TUN antara Umat Beragama di Rumah Ibadat A Quo
99
dengan Kepala Dinas telah memanifestasi prinsip persamaan perlakuan di depan
hukum dengan memperhatikan kepentingan Umat Beragama di Rumah Ibadat A
Quo yang dirugikan oleh Pejabat TUN dalam hal ini Kepala Dinas, bahwa
seharusnya Kepala Dinas tidak hanya mendengar keterangan dari pihak yang berkeberatan dengan diterbitkannya IMB-RI tetapi juga mendengar keterangan
dari Umat Beragama di Rumah Ibadat A Quo dan memberi kesempatan kepada
mereka untuk memberikan penjelasan sebelum diterbitkannya objek sengketa A
Quo.
Selanjutnya, bagi pihak yang tidak melaksanakan kewajibannya seperti dikemukakan di atas, ada suatu mekanisme bagi pihak yang dirugikan untuk menuntut haknya yaitu melalui pengadilan yang berdasarkan hukum.