• Tidak ada hasil yang ditemukan

Replik-Duplik dan Pembuktian Para Pihak

Dalam dokumen T1 312010038 BAB III (Halaman 34-43)

Atas jawaban Kepala Dinas tersebut, Umat Beragama di Rumah Ibadat A

Quo mengajukan Replik pada tanggal 3 Juli 2008. Dan atas Replik, Kepala Dinas

mengajukan Duplik, 10 Juli 2008 yang selengkapnya termuat dalam Berita Acara

Persidangan. Dalam pembuktian, Umat Beragama di Rumah Ibadat A Quo

53

menguatkan dalil gugatan dengan bukti-bukti tertulis54 berupa foto copy yang telah ditempeli materai cukup. Tiga orang saksi yang memberikan kesaksian mereka pada tanggal 17 Juli 2008 dan tanggal 24 Juli 2008, dibawah sumpah antara lain menerangkan bahwa mereka adalah anggota Umat Beragama di

Rumah Ibadat A Quo yang diberi tugas untuk mencari solusi karena penuhnya

Rumah Ibadat A Quo sehingga perlu didirikan Rumah Ibadat A Quo untuk

menampung sekitar 200 KK umat yang ada di Rumah Ibadat A Quo sehingga

perlu didirikan Rumah Ibadat A Quo. Inisiatif datangnya dari kedua belah pihak,

baik dari umat maupun pengurus Umat Beragama di Rumah Ibadat A Quo ada

kesepakatan, karena adanya kebutuhan, dimana apabila umat sedang melakukan

ibadat di Rumah Ibadat A Quo, Rumah Ibadat A Quo sangat padat sehingga

meluber, mengganggu lalu lintas. Disaksikan juga, bahwa saksi sendiri mencari

lokasi untuk mendirikan Rumah Ibadat A Quo, kemudian ada lokasi yang dapat

digunakan untuk tempat ibadat. Kapling di lokasi milik developer dibeli pada

tahun 2001 oleh pihak Umat Beragama di Rumah Ibadat A Quo. Setelah dibeli

maka ada sosialisasi pembangunan Rumah Ibadat A Quo dengan pemerintah dan

masyarakat. Sosialisasi dilakukan sejak tahun 2002 sampai dengan juli 2006 yaitu

keluarnya IMB. IMB keluar setelah 5 bulan. Pembangunan Rumah Ibadat A Quo

dilakukan setelah keluar Ijin, baru dibangun yaitu dengan melakukan peletakan

batu pertama pendirian Rumah Ibadat A Quo yang dihadiri oleh Pemerintah Kota

Bogor termasuk Walikota dan tokoh masyarakat. Tanggal 7 Januari 2007 dilakukan peletakan batu pertama, dan pemancangan tiang yang diborongkan kepada Pemborong. Menurut saksi, ada tiga kali penghentian sementara

54

Diberi tanda P-1 sampai P-25. P adalah singkatan dari kata Penggugat (Umat Beragama di Rumah Ibadat A Quo).

pembangunan. Pemborong hanya mengerjakan pondasi (sistem jet file). Yang memborong pengerjaan pembangunan dilakukan oleh pihak Umat Beragama di

Rumah Ibadat A Quo sendiri dengan tidak melakukan tender, walaupun

sebelumya diadakan tender, karena ada anggota umat yang mampu melakukan pekerjaan pembangunan. Setelah ada pembekuan IMB, maka pengerjaan

pembangunan Rumah Ibadat A Quo berhenti. Yang menerima surat pembekuan

IMB adalah Umat Beragama di Rumah Ibadat A Quo. Ada pertemuan sehari

sebelum peletakan batu pertama atas undangan pihak Umat Beragama di Rumah

Ibadat A Quo. Yang hadir dalam pertemuan adalah unsur-unsur pemerintah

setempat, Kepala Keamanan Desa, ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), tokoh masyarakat di lingkungan lain dari lingkungan di luar lingkungan di

mana Rumah Ibadat A Quo didirikan. Tidak ada penolakan dari yang hadir dalam

pertemuan. Dengan adanya pembangunan Rumah Ibadat A Quo situasi

masyarakat biasa-biasa saja. Ada pemberitaan di media setempat selama tiga hari

berturut-turut tentang pendirian Rumah Ibadat A Quo yang tidak punya Ijin. Berita

tersebut tidak ditanggapi oleh pihak Umat Beragama di Rumah Ibadat A Quo

karena tidak ada konfirmasi. Tidak ada surat keberatan dari masyarakat mengenai

pembangunan Rumah Ibadat A Quo. Pembangunan Rumah Ibadat A Quo tidak

mengganggu lalu lintas dan menimbulkan kebisingan. Dengan adanya surat pembekuan IMB menimbulkan kerugian materiil dan immaterial. Target awal

penyelesaian pembangunan Rumah Ibadat A Quo adalah akhir tahun 2007,

kemudian rencana selanjutnya adalah september 2009. Sudah 15 % penyelesaian

pembangunan Rumah Ibadat A Quo . Sosialisasi resminya telah dilakukan 3 kali,

yang hadir pada bulan Maret 2013 sebanyak 170 orang. Ada juga Pemuda Curug Mekar. Pengajuan pembuatan IMB sejak bulan Maret 2006. IMB keluar bulan Juli

2006. Sebelum keluarnya IMB ada pertemuan di kantor Kesbang yang dihadiri oleh pemerintah yang menyepakati keluarnya IMB. Ada 70 orang yang hadir dalam sosialisasi kedua dengan 1 orang yang menyatakan keberatan. Tidak ada hambatan selama proses pembuatan IMB. Setelah keluar IMB tidak ada penolakan atau demonstrasi. Disaksikan bahwa saksi tidak tahu dalam Perda Pemkot punya wewenang untuk membekukan IMB. Di lokasi pembangunan dipasang papan plang IMB. Pada saat sosialisasi ada pernyataan tidak keberatan

dari warga. Lokasi pembangunan Rumah Ibadat A Quo di Perumahan Taman

Yasmin di RW.08 Kelurahan Curug Mekar. Lokasi tanah bukan diperuntukkan untuk perumahan tetapi masih wilayah perumahan. Lokasi tanah pembangunan

Rumah Ibadat A Quo kemudian diterangkan batas-batasnya oleh saksi. Tidak ada

keberatan dari Pihak yang berbatasan. Sesuai satu bukti di atas, warga tidak

keberatan pembangunan Rumah Ibadat A Quo. Keterangan saksi selanjutnya,

yang isi selengkapnya sebagaimana tercantum dalam Berita Acara Persidangan tanggal 17 Juli 2008 dan guna menyingkat uraian Putusan tersebut, dianggap telah termasuk dalam Putusan.

Sementara itu, disaksikan pula keterangan Ketua LPM Kelurahan setempat bahwa saat sosialisasi hadir 70 orang warga. Dari 70 orang tersebut 69 orang tidak

keberatan dan 1 orang keberatan terhadap pendirian Rumah Ibadat A Quo yaitu

Ketua DKM. Ketua DKM menyatakan keberatan atas pendirian Rumah Ibadat A

Quo, akan tetapi apabila pendiriannya telah sesuai dengan prosedur maka tidak

keberatan. Lokasi pembangunan Rumah Ibadat A Quo juga disaksikan dan

katanya di tempat sosialisasi di aula Kelurahan Curug Mekar, diundang Lurah Curug Mekar. Disaksikan pertemuan di Kesbang Kota yang bersangkutan sebelum peletakan batu pertama, dihadiri aparat dan Walikota diwakili. Ada

komitmen dari pihak Umat Beragama di Rumah Ibadat A Quo bahwa setelah berdiri maka Rumah Ibadat yang sama harus ditutup. Ada dari Forum PA yang mendemo dimana pesertanya di luar masyarakat Curug Mekar dan sebagian warga Curug Mekar. Dua bulan jarak waktu antara demo, keluar pembekuan IMB. Pada tanggal 19 Agustus 2006 dilakukan peletakan batu pertama. Tanggal 18 Agustus

2006, di Kecamatan ada acara sosialisasi pembangunan Rumah Ibadat A Quo

yang dihadiri Ketua dan Sekretaris Umat Beragama yang serumpun dengan Umat

Beragama di Rumah Ibadat A Quo Kota setempat, PA dan warga masyarakat

Curug Mekar. Tidak ada yang keberatan dalam sosialisasi tersebut dan ada 13 poin kesepakatan. Diantaranya, kesepakatan untuk membina kerukunan umat beragama di lingkungan masyarakat Curug Mekar, tidak mempengaruhi

keyakinan orang lain, apabila Rumah Ibadat A Quo sudah berdiri maka Rumah

Ibadat yang sama atau tempat-tempat yang dijadikan tempat ibadat harus ditutup.

Selain Rumah Ibadat A Quo yang didemo adalah Pihak di batas-batas Rumah

Ibadat A Quo, tetapi yang dibekukan ijinnya hanya Rumah Ibadat A Quo. Saksi

heran dengan tidak adanya pembicaraan sebelum keluarnya pembekuan IMB. Yang diundang saat sosialisasi adalah para ketua lingkungan dan tokoh masyarakat Curug Mekar. Ada 3 sampai 4 kali demo. Yang menegur untuk menghentikan pekerjaan pembangunan adalah pihak kelurahan. Hadir dalam pertemuan Kesbang, Pemerintah Kota yang diwakili Asisten Daerah I Kanwil Depag. Benar sesuai bukti adalah tanda tangan peserta sosialisasi. Setelah

peletakan batu pertama pembangunan Rumah Ibadat A Quo baru 6 bulan

kemudian ada demo. Yang melakukan demo dari kader-kader partai politik

tertentu. Sesuai bukti, ada warga yang menolak pendirian Rumah Ibadat A Quo.

Kesbang yang dihadiri Lurah, Kesbang. Warga tanda tangan untuk mengetahui

adanya sosialisasi bukan menyetujui pendirian Rumah Ibadat A Quo. LPM tidak,

bereaksi dengan adanya surat Pembekuan Ijin. Saksi ikut tanda tangan saat sosialisasi. Ada kader Parol tertentu yang demo. Keberatan warga tidak diajukan kepada LPM. Keberatan warga disampaikan kepada Lurah. Saksi belum pernah menerima tembusan surat keberatan warga. Saksi tinggal di lingkungan setempat

sejak tahun 1991. Jarak antara rumah Saksi dengan Rumah Ibadat A Quo adalah

800 meter, berbatasan langsung dengan Rumah Ibadat A Quo di Jalan yang

diberikan pemerintah. Jalan tersebut adalah jalan raya propinsi. Saksi melarang

kepada warga untuk menjadi koordinator pembangunan Rumah Ibadat A Quo

tetapi untuk menjadi pekerja (kuli) dipersilahkan, warga yang bekerja lingkungan Kampung Cijahe. Ada Ketua Keamanan, dulunya Ketua lingkungan. Barangkali ada keterkaitan dengan pemilihan Walikota Bogor. Warga yang demo adalah kader dari partai politik. Keterangan Saksi selanjutnya, yang isi selengkapnya sebagaimana tercantum dalam berita Acara Persidangan tanggal 24 Juli 2008 dan guna menyingkat uraian putusan tersebut, dianggap telah termasuk dalam putusan. Disaksikan juga adanya sosialisasi pembangunan Rumah Ibadat di lingkungan, yang mengundang para ketua lingkungan. Khusus RT tersangkut diundang seluruh warga untuk mengikuti sosialisasi. Saksi tahu ada peletakan

batu pertama pendirian Rumah Ibadat A Quo tidak menyaksikan langsung. Saksi

tahu adanya surat pembekuan Ijin. Bukti memerlihatkan tanda tangan Saksi. Saat sosialisasi tanggal 16 Januari 2006 ada tanda tangan warga yang menyatakan

tidak keberatan pembangunan Rumah Ibadat A Quo. Maksud tanda tangan Saksi

dalam surat keberatan adalah untuk membenarkan tanda tangan dan foto copy KTP warga setempat. Saksi tahu adanya pengumpulan tanda tangan warga yang

keberatan atas pendirian Rumah Ibadat A Quo. Yang mengumpulkan tanda tangan berganti-ganti mengunjungi rumah warga satu persatu sehingga menimbulkan keresahan. Ada tanda tangan surat tanggal 14 Pebruari 2006 setelah ada yang datang kerumah Saksi jam 9 malam untuk minta tanda tangan, tidak membaca surat yang ditandatangani, surat berisi tanda tangan keesokan harinya tanpa konfirmasi lagi terhadap tanda tangan tersebut. Diketahui ada surat pembekuan

Ijin pendirian Rumah Ibadat A Quo esok hari setelah mengetahui isi surat

keberatan warga. Saksi tinggal di lingkungan itu Kelurahan Curug Mekar, Rumah

dibelakang Rumah Ibadat A Quo tidak ada suara bising dan komplain dari warga

yang ditimbulkan dari pembangunan. Saksi tinggal di Curug Mekar sejak tahun 1995. Banyak warga baru yang menetap di daerah Saksi. Keterangan Saksi selanjutnya, yang isi selengkapnya sebagaimana tercantum dalam Berita Persidangan tanggal 24 Juli 2008 dan guna menyingkat uraian Putusan tersebut, dianggap telah termasuk dalam Putusan.

Di pihak yang lain, Kepala Dinas menguatkan dalil sangkalannya

mengajukan alat bukti tertulis berupa foto copy surat-surat55 yang telah ditempeli

materai cukup. Tajuk suatu koran.

Untuk menguatkan dalil-dalil Jawabannya, selain bukti surat, Kepala Dinas juga telah mengajukan 2 (dua) orang Saksi pada tanggal 31 Juli 2008. Memberikan keterangan dibawah sumpah antara lain bahwa ada anggota Dewan melakukan sidak 1 bulan setelah Saksi mengadukan penolakan warga ke DPRD

Bogor. Setelah pernyataan lisan Anggota Dewan yang menetapkan status quo

maka kegiatan pembangunan Rumah Ibadat A Quo berhenti, tetapi kemudian

bulan April ada kegiatan pembangunan lagi. Setelah ada kegiatan pembangunan

lagi maka Saksi menulis surat ke Umat Beragama di Rumah Ibadat A Quo untuk menghentikan kegiatan. Setelah ada surat dari Saksi kegiatan pembangunan berhenti, tetapi kemudian dilanjutkan lagi kegiatan pembangunan. Sebelum ada

pendirian Rumah Ibadat A Quo, tidak ada rumah ibadat disekitar rumah warga.

Ada tempat peribadatan di suatu Ruko kerena sudah ada persetujuan dari warga sekitar. Jarak dari rumah Saksi ke Ruko tempat peribadatan sekitar 1 kilometer.

RT.08 tidak ada Rumah Ibadat A Quo. Saksi membuat surat penolakan dan

mengadukan ke DPRD Bogor karena IMB tersebut tidak fair, maka Saksi datang

ke DPRD untuk mempertanyakan mengapa IMB bisa keluar sedangkan ada warga yang keberatan. Saksi tidak menandatangani surat-surat yang disodorkan panitia pembangunan rumah ibadat. Atas saran Anggota Dewan saksi mengajukan surat penolakan warga ke Dinas Tata Kota Bogor, dan pegawai Dinas Tata Kota bogor mengatakan bahwa surat penolakan warga harus dilegalisasi oleh RT., RW., Kelurahan dan Kecamatan setempat. Kemudian Saksi melegalisasinya diserahkan ke Dinas Tata Kota Bogor. Yang menandatangani surat pengantar penolakan warga adalah perwakilan warga Curug Mekar. Saksi tidak diberitahu mengenai upaya pembatalan IMB melalui pengadilan. Saksi tidak datang ke rumah-rumah warga meminta tanda tangan. Saksi menjelaskan bahwa tanda tangan dan foto copy KTP warga untuk diserahkan ke Dinas Tata Kota dan DPRD Bogor. Lokasi

Rumah Ibadat A Quo di luar komplek Perumahan tetapi masih di wilayah RT.

Saksi. Keresahan warga karena tidak nyaman merasa terganggu karena suara dan mayoritas warga beragama tidak sama dengan umat yang mendirikan rumah ibadat yang pendiriannya ditentang, serta resah berdasarkan akidah Saksi. Keresahan akidah menurut Saksi adalah sesuai kitab suci agama Saksi yaitu bahwa Saksi tidak boleh ikut menyetujui melecehkan ayat-ayat suci kitab sucinya

Saksi. Pengumpulan tanda tangan dan foto copy KTP warga atas inisiatif Saksi

sendiri. Warga membuat tanda tangan penolakan pendirian Rumah Ibadat A Quo

sebelum acara sosialisasi tanggal 15 Januari 2006. Tidak ada pertemuan untuk mengumpulkan tanda tangan warga. Saksi tidak tahu jumlah seluruh warga Curug Mekar. Situasi cukup kondusif di RT. 08 setelah keluar IMB. Saksi tidak diberitahu oleh developer mengenai lokasi yang diperuntukan tempat ibadat. Saksi pernah dihubungi Keluarga Umat beragama tertentu yaitu (KMB). Tembok

pembatasan 2,5 meter di belakang Rumah Ibadat A Quo sudah ada sebelum

pendirian Rumah Ibadat A Quo. Sesuai tata Wilayah Kelurahan maka lokasi

Rumah Ibadat A Quo berada di RT Saksi. Keterangan Saksi selanjutnya, yang isi

selengkapnya sebagaimana tercantum dalam Berita Acara Persidangan tanggal 31 Juli 2008 dan guna menyingkat uraian Putusan tersebut, dianggap telah terrnasuk dalam Putusan.

Saksi kedua memberikan keterangan di bawah sumpah antara lain bahwa

tidak setuju pendirian Rumah Ibadat A Quo sekitar 50%. Dalam silaturahmi warga

yang menyampaikan kepada Saksi tentang penolakan terhadap pembangunan

Rumah Ibadat A Quo. Adanya surat pernyataan penolakan puas dengan

penghentian pembangunan Rumah Ibadat A Quo. Saksi merasa terganggu

kenyamanan beraktifitas karena adanya Rumah Ibadat A Quo di dalam komunitas

agama yang berbeda dengan umat yang beribadat di Rumah Ibadat A Quo. Tidak

tahu dan tidak diundang mengenai sosialisasi pembangunan Rumah Ibadat A Quo.

Saksi menyerahkan tanda tangan warga yang tidak setuju pendirian Rumah Ibadat A Quo kepada yang merupakan sesepuh yang dipercaya oleh Saksi, rumah saksi dengan rumah yang bersangkutan sekitar 150 meter. Saksi sering bertemu, tidak ikut ke DPRD dan Dinas Tata Kota Bogor. Saksi tidak tahu peraturan perundang-

undangan pembekuan IMB. Tidak ada paksaan untuk menyerahkan tanda tangan

warga yang menolak pendirian Rumah Ibadat A Quo. Keterangan Saksi

selanjutnya, yang isi selengkapnya sebagaimana tercantum dalam Berita Acara Persidangan tanggal 31 Juli 2008 dan guna menyingkat uraian Putusan tersebut, dianggap telah termasuk dalam Putusan.

Dalam dokumen T1 312010038 BAB III (Halaman 34-43)

Dokumen terkait