IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.4. Analisis Persepsi Karyawan
4.4.3. Analisis Persepsi Karyawan terhadap Produktivitas Kerja
Produktivitas kerja adalah perbandingan antara hasil yang dicapai (keluaran) dengan keseluruhan sumber daya (masukan) yang dipergunakan per satuan waktu (Simanjuntak, 1985). Menurut
Manuaba (1992) peningkatan produktivitas dapat dicapai dengan menekan sekecil-kecilnya segala macam biaya termasuk dalam memanfaatkan sumber daya manusia dan meningkatkan keluaran sebesar-besarnya. Dengan kata lain bahwa produktivitas merupakan pencerminan dari tingkat efisiensi dan efektivitas kerja secara total (Tarwaka, Bakri, dan Sudiajeng, 2004).
Ukuran produktivitas berkaitan dengan tenaga kerja yang dapat dihitung dengan membagi pengeluaran oleh jumlah yang digunakan atau jam-jam kerja yang harus dipergunakan untuk bekerja dan usaha yang konkrit untuk mendorong peningkatan produktivitas tenaga manusia adalah peningkatan keterampilan agar mampu mengemban tugas dan pekerjaan dengan sebaik mungkin (Sinungan, 2008). Maka produktivitas berkaitan dengan kuantitas kerja dan kualitas kerja. Pengukuran produktivitas kerja karyawan pada PT Sierad Produce, Tbk yaitu kualitas kerja, kuantitas kerja, efektivitas kerja dan efisiensi kerja.
1. Kualitas Kerja
Untuk meningkatkan produktivitas kerja perlu adanya tenaga kerja yang memiliki keterampilan dan keahlian bekerja, karena apabila tenaga kerja tidak memiliki keahlian dan keterampilan akan berakibat menurunnya produktivitas dan merugikan perusahaan.
Berdasarkan hasil kuesioner pada variabel Produktivitas Kerja Karyawan dalam indikator kualitas kerja, total dari rata-rata nilai jawaban sebesar 3,03. Nilai tersebut dapat dikategorikan baik dan dapat diinterpretasikan bahwa kualitas kerja karyawan sudah dikategorikan baik karena karyawan sudah mulai memahami bagaimana cara kerja yang baik.
Sinungan (2008) berpendapat bahwa kerja produktif memerlukan keterampilan kerja yang sesuai dengan isi kerja sehingga bisa menimbulkan penemuan-penemuan baru untuk memperbaiki cara kerja atau minimal mempertahankan cara kerja yang sudah baik. Keterampilan kerja dapat mengukur kualitas kerja
69
karyawan. Selaras dengan pernyataan Heidrahman dan Suad Husnan (1990:126) menyatakan kualitas kerja adalah mutu hasil kerja yang didasarkan pada standar yang ditetapkan, biasanya diukur melalui ketepatan, ketelitian, keterampilan, kebersihan hasil kerja.
PT Sierad Produce, Tbk Departemen Produksi sangat memperhatikan kualitas kerja karyawannya. Departemen ini merupakan bagian perusahaan yang sangat diperhatikan karena berhubungan dengan produk yang dihasilkan. Kualitas kerja yang ditekankan kepada karyawan PT Sierad Produce, Tbk dapat dilihat pada Tabel 15.
Tabel 15. Penilaian Rataan Skor Indikator Kualitas Kerja
INDIKATOR STS TS S SS Rataan Skor Kategori (1) (2) (3) (4) Pengenalan terhadap produk 0 5 44 17 3.18 Baik Keterampilan kerja yang sesuai dengan isi kerja 0 19 37 10 2.86 Baik Kecekatan dalam melakukan pekerjaan 0 0 51 15 3.23 Baik Memahami cara kerja pada area produksi di perusahaan
0 18 40 8 2.85 Baik
Indikator
kualitas kerja 0 42 172 50 3.03 Baik
Keterangan : 1,00 – 1,75 = sangat tidak baik; 1,76 – 2,5 = tidak baik; 2,51 – 3,25 = baik; 3,26 – 4,00 = sangat baik
Karyawan tidak hanya sekedar mengerjakan kewajiban pekerjaannya namun harus mengenal bagaimana produk yang baik untuk diproduksi. Jika karyawan tidak dapat mengenal produk dengan baik, hal ini dapat menimbulkan kesalahan dalam berproduksi dan dapat membuang-buang waktu dalam bekerja.
Dari hasil uji persepsi dapat diketahui bahwa karyawan sudah baik dalam mengenal produk dengan nilai rata-rata 3,18.
Keterampilan kerja yang baik juga diperlukan oleh karyawan. Keterampilan kerja harus beriringan dengan kecekatan dalam bekerja. Bekerja dengan terampil namun tidak cekatan dapat membuang-buang waktu. Bekerja dengan cekatan namun tidak terampil juga akan menghasilkan produk yang tidak sempurna sesuai standar perusahaan. Karyawan sudah baik dalam melakukan kedua hal ini dengan nilai rata-rata sebesar 2,86 dan 3,23.
Karyawan dituntut pula oleh perusahaan untuk memahami cara kerja pada seluruh area produksi perusahaan. Hal ini merupakan wujud kesungguhan karyawan bekerja di departemen produksi. Selain itu dapat menumbuhkan jiwa kebersamaan antara karyawan di beda area. Karyawan sudah dengan baik memahami cara kerja di seluruh area produksi dengan nilai rata-rata menurut persepsi sebesar 2,85. Hal ini sejalan dengan pernyataan Hasibuan (2008) yang menyatakan jika produktivitas naik ini hanya dimungkinkan oleh adanya peningkatan keterampilan dari tenaga kerjanya.
Dari hasil uji persepsi dapat dilihat bahwa keterampilan kerja serta pemahaman terhadap seluruh area produksi memiliki nilai rata-rata yang terendah walaupun masih dikategorikan baik. Hal ini dapat diinterpretasikan bahwa keterampilan kerja serta pemahaman karyawan terhadap cara kerja area produksi sudah baik, namun masih kurang. Untuk menyempurnakan kekurangan ini perusahaan dapat melakukan tindakan perbaikan seperti mengadakan pendidikan, pelatihan atau instruksi sehingga dapat memberikan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman untuk mewujudkan kemampuan dalam mencapai kualitas kerja yang baik dan mewujudkan hasil kerja yang baik.
71
2. Kuantitas Kerja
Konsep siklus produktivitas menunjukkan peningkatan atau penurunan, hal ini dapat dianalisa dengan melakukan pengukuran- pengukuran. Mengingat sumber daya manusia atau tenaga kerja merupakan faktor penggerak dari faktor-faktor lainnya, maka suatu organisasi atau perusahaan sangat penting untuk melakukan pengukuran-pengukuran produktivitas kerja karyawannya. Pencerminan tercapainya kuantitas kerja pada perusahaan dapat dilihat pada Tabel 16.
Tabel 16. Penilaian Rataan Skor Indikator Kuantitas Kerja
INDIKATOR STS TS S SS Rataan Skor Kategori (1) (2) (3) (4) Tepat waktu dalam penyelesaian proses produksi 0 2 53 11 3.14 Baik Memenuhi jumlah target produk yang dihasilkan 0 7 49 10 3.05 Baik Keterlambatan kedatangan ayam tidak menghambat target produksi 23 43 0 0 1.65 Sangat Tidak Baik Mementingkan target jumlah produksi yang disesuaikan dengan standar kualitas pada perusahaan 0 3 48 15 3.18 Baik Indikator kuantitas kerja 23 55 150 36 2.75 Baik
Keterangan : 1,00 – 1,75 = sangat tidak baik; 1,76 – 2,5 = tidak baik; 2,51 – 3,25 = baik; 3,26 – 4,00 = sangat baik
Berdasarkan hasil kuesioner pada variabel Produktivitas Kerja Karyawan dalam indikator kuantitas kerja, total dari rata-rata
nilai jawaban sebesar 2,75. Nilai tersebut dapat dikategorikan baik dan dapat diinterpretasikan bahwa kuantitas kerja karyawan terutama dalam menghasilkan jumlah hasil produk ayam sudah dilakukan dengan baik. Kuantitas merupakan unit yang diperlukan untuk mengukur produktivitas tenaga kerja (Sinungan, 2008). Penyelesaian proses produksi dengan tepat waktu dan memenuhi jumlah target produksi yang ditetapkan. Hal ini sudah dilakukan dengan baik oleh karyawan dengan rata-rata nilai sebesar 3,14 dan 3,05. Selaras dengan pernyataan Heidrahman dan Suad Husnan (1990:126) menyatakan kuantitas kerja adalah banyaknya hasil kerja sesuai dengan waktu kerja yang ada.
Selain itu hal yang dapat mempengaruhi kuantitas kerja yang dihasilkan oleh karyawan yaitu adanya masalah yang dapat menghambat kerja karyawan dalam menghasilkan produk, seperti adanya keterlambatan kedatangan bahan baku atau ayam sebagai bahan utama. Dari hasil uji persepsi diketahui bahwa keterlambatan kedatangan ayam menyebabkan karyawan tidak dapat memenuhi target hasil produksi sesuai yang ditetapkan. Maka dari itu perusahaan perlu mengadakan evaluasi bagaimana untuk meminimalisasi hal tersebut sehingga proses produksi yang telah ditetapkan tidak mengalami masalah. Hal ini dibuktikan dengan nilai rata-rata sebesar 1,65 dan dapat dikategorikan sangat tidak baik.
Kuantitas yang diterapkan pada perusahaan yaitu jumlah produk yang dapat dihasilkan. Terdapat target jumlah produk ayam yang harus dihasilkan pada bagian-bagian di Departemen Produksi. Jika memenuhi target jumlah yang ditentukan maka dapat dikatakan bahwa produktivitas kerja karyawan sudah baik. Namun hal ini juga harus disesuaikan dengan standar kualitas produk yang ditetapkan oleh perusahaan. Jika karyawan hanya mementingkan jumlah hasil kerja namun produk yang dihasilkan ternyata tidak layak, maka hanya akan membuang-buang waktu, tenaga dan biaya
73
produksi. Hal ini sudah dilakukan dengan baik oleh karyawan dengan rata-rata nilai sebesar 3,18.
3. Efektivitas Kerja
Efektivitas berasal dari kata efektif, yaitu suatu pekerjaan dikatakan efektif jika suatu pekerjaan dapat menghasilkan satu unit keluaran (output). Suatu pekerjaan dikatakan efektif jika suatu pekerjaan dapat diselesaikan tepat pada waktunya sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan (Richard M. Steers, 1980). Hal-hal yang mencerminkan efektivitas kerja pada perusahaan dapat dilihat pada Tabel 17.
Tabel 17. Penilaian Rataan Skor Indikator Efektivitas Kerja INDIKATOR STS TS S SS Rataan Skor Kategori (1) (2) (3) (4) Menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan rencana yang ditetapkan 0 0 49 17 3.26 Sangat Baik Hasil kerja sesuai dengan yang dikehendaki 0 7 45 14 3.11 Baik Hasil kerja mencapai tujuan unit kerja 0 4 52 10 3.09 Baik Output pekerjaan dapat mewujudkan tujuan perusahaan 0 4 49 13 3.14 Baik Indikator efektivitas kerja 0 15 195 54 3.15 Baik
Keterangan : 1,00 – 1,75 = sangat tidak baik; 1,76 – 2,5 = tidak baik; 2,51 – 3,25 = baik; 3,26 – 4,00 = sangat baik
Berdasarkan hasil kuesioner pada variabel Produktivitas Kerja Karyawan dalam indikator efektivitas kerja, total dari rata- rata nilai jawaban sebesar 3,15. Nilai tersebut dapat dikategorikan
baik dan dapat diinterpretasikan bahwa karyawan sudah dapat melakukan pekerjaan dengan efektif. Konsep utama efektivitas yaitu menganggap efektivitas sebagai perbandingan atau tingkatannya dimana sasaran yang dikemukakan dapat dianggap tercapai (Sinungan, 2008). Hasibuan (2007) menyatakan bahwa peningkatan produktivitas hanya dapat ditingkatkan dengan cara partisipasi positif, kedisiplinan, dan efektivitas kerja karyawan.
Dalam melakukan pekerjaan disamping terdapat target kerja yang ditetapkan pastinya terdapat hasil kerja yang ingin dicapai karyawan yang sesuai dengan standar hasil yang ditetapkan perusahaan. Maka jika karyawan sudah melakukan pekerjaan sesuai yang dikehendaki dan sesuai dengan tujuan unit kerjanya maka dapat dikatakan karyawan telah bekerja dengan efektif. Karyawan dapat menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan rencana yang ditetapkan. Hal ini dilakukan dengan sangat baik oleh karyawan dengan nilai rata-rata persepsi sebesar 3,26.
Hasil kerja yang dicapai sesuai pula dengan hasil kerja yang diharapkan oleh karyawan. hal ini dibuktikan dengan nilai rata-rata sebesar 3,11. Selaras dengan pendapat Sutarto (1978:95) Efektivitas kerja adalah suatu keadaan dimana aktifitas jasmaniah dan rohaniah yang dilakukan oleh manusia dapat mencapai hasil akibat sesuai yang dikehendaki.
Tujuan dari karyawan bekerja adalah untuk memenuhi tujuan unit kerja dan tujuan perusahaan. Nilai rata-rata persepsi karyawan menunjukkan bahwa karyawan sudah baik dalam bekerja karena hasil kerja sesuai dengan tujuan unit kerja dengan rata-rata nilai 3,09 dan output pekerjaan yang dilakukan dapat mewujudkan tujuan perusahaan dengan nilai rata-rata 3,14.
4. Efisiensi Kerja
Efisiensi adalah penggunaan sumber daya secara minimum untuk pencapaian hasil yang optimum. Efisiensi menganggap bahwa tujuan-tujuan telah ditentukan dan berusaha untuk mencari
75
cara-cara yang paling baik untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Produktivitas dapat diartikan sebagai tingkatan efisiensi dalam memproduksi barang-barang atau jasa-jasa. Produktivitas mengutarakan cara pemanfaatan secara baik terhadap sumber- sumber dalam memproduksi barang-barang (Sinungan, 2008).
Berdasarkan hasil kuesioner pada variabel Produktivitas Kerja Karyawan dalam indikator efisiensi kerja, total dari rata-rata nilai jawaban sebesar 3,16. Nilai tersebut dapat dikategorikan baik dan dapat diinterpretasikan bahwa karyawan melakukan pekerjaan sudah dengan efisien. Hal-hal yang mencerminkan keedisienan kerja karyawan pada perusahaan dapat dilihat pada Tabel 18. Tabel 18. Penilaian Rataan Skor Indikator Efisiensi Kerja
INDIKATOR STS TS S SS Rataan Skor Kategori (1) (2) (3) (4) Dapat menghemat biaya produksi dalam bekerja 0 4 44 18 3.21 Baik Menggunakan sumber daya secara optimal dalam bekerja 0 3 52 11 3.12 Baik Dapat melakukan penghematan waktu dalam bekerja 0 11 47 8 2.95 Baik Mencari cara yang terbaik dalam bekerja 0 1 41 24 3.35 Sangat Baik Indikator efisiensi kerja 0 19 184 61 3.16 Baik
Keterangan : 1,00 – 1,75 = sangat tidak baik; 1,76 – 2,5 = tidak baik; 2,51 – 3,25 = baik; 3,26 – 4,00 = sangat baik
Pengukuran tingkat efisiensi dapat dilihat melalui ciri-ciri, antara lain termudah cara mengerjakan, tersingkat waktu
mengerjakan, termurah biaya mengerjakannya, teringan beban mengerjakan, terpendek langkah atau jarak mengerjakan (Triguno, 1996). Maka beberapa hal yang mengukur efisiensi kerja karyawan pada PT Sierad Produce, Tbk yaitu karyawan dapat menghemat biaya produksi dalam bekerja. Hal ini sudah dilakukan dengan baik oleh karyawan dengan nilai rata-rata 3,21.
Karyawan dapat menggunakan sumber daya yang ada secara optimal dalam bekerja dan dengan penggunaan sumber daya yang optimal ini karyawan dapat melakukan penghematan waktu dalam bekerja. Hal ini sudah dilakukan dengan baik oleh karyawan dengan nilai rata-rata sebesar 3,12 dan 2,95. Penggunaan sumber daya secara optimal juga disesuaikan dengan cara-cara yang paling baik dalam bekerja. Hal ini dilakukan untuk mendukung penghematan biaya produksi dan penghematan waktu pula. Karyawan sudah melakukan hal ini dengan sangat baik dan dibuktikan dengan nilai rata-rata persepsi sebesar 3,35.
Produktivitas adalah suatu konsep yang bersifat universal yang bertujuan untuk menyediakan lebih banyak barang dan jasa untuk lebih banyak manusia, dengan menggunakan sumber-sumber riil yang makin sedikit. Hasibuan (2008) menyatakan bahwa produktivitas naik hanya dimungkinkan oleh adanya peningkatan efisiensi yang mencakup waktu, bahan, dan tenaga. Efisiensi kerja dilakukan agar dalam melakukan pekerjaan dalam hal ini adalah hasil produksi mendapatkan hasil yang optimal.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dibuat rekapitulasi persepsi responden mengenai Produktivitas Kerja Karyawan (Tabel 19). Tabel 19 menunjukkan bahwa karyawan sudah produktif dalam melakukan pekerjaan mereka sehingga produktivitas kerja yang dicapai sudah baik. Hal ini dinyatakan dengan nilai bobot sebesar 3,02. Karyawan dapat dikatakan produktif jika pekerjaan yang dilakukan memberikan hasil bagi perusahaan sesuai dengan ketetapan perusahaan.
77
Tabel 19. Rekapitulasi Persepsi Responden Mengenai Produktivitas Kerja Karyawan
No Indikator Rataan Penilaian
1 Efisiensi Kerja 3,16 Baik
2 Efektivitas Kerja 3,15 Baik
3 Kualitas Kerja 3,03 Baik
4 Kuantitas Kerja 2,75 Baik
Kesimpulan 3,02 Baik
Keterangan : 1,00 – 1,75 = sangat tidak baik; 1,76 – 2,5 = tidak baik; 2,51 – 3,25 = baik; 3,26 – 4,00 = sangat baik
Penilaian produktivitas pada departemen produksi terutama dapat dilihat dengan kualitas kerja, kuantitas kerja, efektivitas kerja dan efisiensi kerja. Berdasarkan nilai bobot dapat dilihat bahwa efisiensi kerja memiliki nilai bobot tertinggi. Hal ini menyatakan bahwa karyawan selalu ingin melakukan pekerjaan dengan cara- cara yang paling baik yang mereka pahami dalam menangani pekerjaan sehingga pekerjaan yang dilakukan dapat efisien baik dari segi jumlah ataupun waktu. Sedangkan nilai bobot yang terendah menurut persepsi karyawan adalah kuantitas kerja. hal ini mengindikasikan bahwa kuantitas kerja yang dilakukan karyawan sudah baik, namun terdapat beberapa faktor yang menghambat tercapainya jumlah hasil produksi sesuai dengan target. Beberapa faktor penghambat salah satunya adalah keterlambatan kedatangan ayam atau bahan baku.