IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.8. Pengaruh Penerapan GKM dan Budaya Kerja terhadap Produktivitas
Analisis regresi linear berganda digunakan untuk menguji hubungan pengaruh antara satu variabel terhadap variabel lain. Data pada analisis regresi linear berganda merupakan data parametrik (Nugroho, 2005). GKM merupakan kegiatan untuk mendayagunakan seluruh asset yang dimiliki perusahaan/instansi terutama sumber daya manusianya secara lebih baik, guna meningkatkan mutu dan produktivitas, nilai tambah serta meningkatkan keuntungan semua pihak termasuk produsen, karyawan, konsumen maupun pemerintah.
Melaksanakan budaya kerja mempunyai arti yang sangat dalam, karena akan merubah sikap dan perilaku SDM untuk mencapai produktivitas kerja yang lebih tinggi dalam menghadapi tantangan masa depan (Triguno, 1996). Maka ingin diidentifikasi bagaimana pengaruh penerapan GKM dan Budaya Kerja terhadap Produktivitas Kerja Karyawan dimana produktivitas merupakan suatu aspek yang penting bagi perusahaan karena apabila tenaga kerja dalam perusahaan mempunyai semangat kerja yang tinggi, maka perusahaan akan memperoleh keuntungan dan hidup perusahaan akan terjamin.
Hasil pengaruh penerapan GKM dan Budaya Kerja terhadap Produktivitas Kerja Karyawan pada Departemen Produksi, Rumah Potong Ayam PT Sierad Produce, Tbk Bogor dapat dilihat pada Tabel 24.
Tabel 24. Hasil Analisis Regresi Linear Berganda
Variabel Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta (Constant) 0,506 0,223 2,266 0,027 GKM 0,461 0,100 0,457 4,611 0,000 Budaya Kerja 0,331 0,080 0,410 4,135 0,000
Berdasarkan hasil analisis regresi linear berganda dengan menggunakan program SPSS pada tabel 24 diperoleh koefisien variabel GKM (X1) adalah 0,461 dan koefisien variabel budaya kerja (X2) adalah
persamaan regresi sebagai berikut Y = 0,506 + 0,461 X1 + 0,331 X2.
Konstanta sebesar 0,506 artinya jika GKM dan Budaya Kerja nilainya adalah 0, maka produktivitas kerja nilainya adalah 0,506.
Koefisien regresi variabel GKM sebesar 0,461 artinya jika GKM mengalami kenaikan 1% dan variabel indipenden lain nilainya tetap, maka produktivitas kerja akan mengalami kenaikan sebesar 0,461. Koefisien bernilai positif artinya terjadi hubungan positif antara penerapan GKM dengan produktivitas kerja karyawan, semakin GKM dilaksanakan dengan baik maka produktivitas kerja karyawan semakin meningkat.
Kegiatan GKM merupakan kegiatan perusahaan yang baru dilakukan selama tiga tahun. Kegiatan ini belum membudaya pada perusahaan karena kegiatan ini belum dilakukan diseluruh grup Sierad, namun GKM ingin dibudayakan sehingga dapat menjadi budaya perusahaan. Kegiatan ini dirasa dapat meningkatkan produktivitas perusahaan, dengan adanya peningkatan produktivitas kerja karyawan. Sesuai dengan tujuan dilaksanakannya GKM pada perusahaan yaitu untuk pengembangan sumber daya manusia. Kegiatan GKM dilihat pada tiap bagian, telah menciptakan kedekatan antara karyawan yang satu dengan yang lain sehingga karyawan dapat bekerja lebih baik, dan hal ini berdampak pada peningkatan kualitas kerja karyawan serta menumbuhkan komitmen karyawan untuk selalu memperbaiki kualitas sehingga dapat meningkatkan produktivitas kerja.
Koefisien regresi variabel Budaya Kerja sebesar 0,331 artinya jika Budaya Kerja mengalami kenaikan 1% dan variabel indipenden lain nilainya tetap, maka produktivitas kerja akan mengalami kenaikan sebesar 0,331. Koefisien bernilai positif artinya terjadi hubungan positif antara penerapan Budaya Kerja dengan produktivitas kerja karyawan, semakin budaya kerja dilaksanakan dengan baik maka produktivitas kerja karyawan semakin meningkat. Budaya kerja yang diterapkan pada perusahaan sudah dilakukan dengan baik, namun budaya kerja ini belum ditetapkan secara tertulis. Maka budaya kerja belum sepenuhnya efektif dalam pencapaian produktivitas kerja. Akan lebih baik apabila budaya kerja ditetapkan secara tertulis oleh
83
perusahaan sehingga karyawan memiliki kode etik perilaku dalam bekerja yang tidak menyimpang dari budaya kerja yang ditetapkan.
4.8.1. Analisis Determinasi (R2)
Analisis determinasi dalam regresi linear berganda digunakan untuk mengetahui persentase sumbangan pengaruh variabel indipenden secara serentak terhadap variabel dependen (Priyatno, 2008). Koefisien ini menunjukkan seberapa besar persentase variasi variabel indipenden yang digunakan dalam model mampu menjelaskan variasi variabel dependen. Besarnya koefisien korelasi dapat dilihat pada Tabel 25.
Tabel 25. Hasil Analisis Determinasi
Model R R Square Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
1 0,774 0,599 0,586 0,28951
Besarnya kontribusi sumbangan yang diberikan oleh variabel GKM dan budaya kerja terhadap produktivitas kerja karyawan Departemen Produksi, Rumah Potong Ayam PT Sierad Produce, Tbk - Bogor secara simultan dapat diketahui dari harga koefisien determinasi atau R2. Besarnya R2berdasarkan hasil analisis (tabel 25) yaitu sebesar 0,599. Dapat di interpretasikan bahwa variabel indipenden (GKM dan Budaya Kerja) mampu menjelaskan sebesar 59,9% variasi variabel dependen (Produktivitas Kerja) sedangkan sisanya 40,1% dijelaskan oleh variabel lain diluar penelitian ini. 4.8.2. Uji Koefisien Regresi secara Bersama-Sama (Uji F)
Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah variabel indipenden secara bersama-sama berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen (Priyatno, 2008). Hasil uji koefesien regresi secara bersama-sama dapat dilihat pada Tabel 26.
Tabel 26. Hasil Uji F
Model F Sig.
Regresion Residual Total
Dirumuskan hipotesis pada penelitian ini, yaitu:
H0 : tidak ada pengaruh secara signifikan antara GKM dan Budaya
Kerja secara bersama-sama terhadap produktivitas kerja karyawan.
H1 : ada pengaruh secara signifikan antara GKM dan Budaya Kerja
secara bersama-sama terhadap produktivitas kerja karyawan. Tingkat signifikansi yang digunakan yaitu 5%, Fhitung yang
diperoleh sebesar 46,964 lebih besar dari Ftabel yaitu 3,143. Sesuai
dengan Tabel 26, karena nilai Fhitung > Ftabel (46,964>3,143), maka H0
ditolak, artinya terdapat pengaruh signifikan antara penerapan GKM dan Budaya Kerja secara bersama-sama terhadap produktivitas kerja karyawan.
4.8.3. Uji Koefisien Regresi secara Parsial (Uji t)
Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah dalam model regresi variabel indipenden secara parsial berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen (Priyatno, 2008). Hasil uji koefisien regresi secara parsial dapat dilihat pada Tabel 24.
Pada pengujian koefisien regresi variabel GKM terhadap produktivitas kerja karyawan dirumuskan hipotesis, yaitu :
H0 : secara parsial tidak ada pengaruh secara signifikan antara
penerapan GKM dengan produktivitas kerja karyawan.
H1 : secara parsial ada pengaruh secara signifikan antara penerapan
GKM dengan produktivitas kerja karyawan.
Berdasarkan hasil perhitungan analisis regesi linear berganda dengan pengujian secara parsial diketahui bahwa variabel GKM (X1)
diperoleh thitung sebesar 4,611 lebih besar dari ttabel sebesar 1,998
dengan taraf signifikansi 5%. Karena nilai thitung > ttabel
(4,611>1,998), maka H0 ditolak, artinya secara parsial ada pengaruh
signifikan antara penerapan GKM terhadap produktivitas kerja karyawan.
Pada pengujian koefisien regresi variabel budaya kerja terhadap produktivitas kerja karyawan dirumuskan hipotesis, yaitu :
85
H0 : secara parsial tidak ada pengaruh secara signifikan antara
penerapan budaya kerja dengan produktivitas kerja karyawan. H1 : secara parsial ada pengaruh secara signifikan antara penerapan
budaya Kerja dengan produktivitas kerja karyawan.
Perhitungan parsial pada analisis regresi berganda diperoleh hasil bahwa variabel budaya kerja (X2) diperoleh thitung sebesar 4,135
lebih besar dari ttabel sebesar 1,998 dengan taraf signifikansi 5 %.
Karena nilai thitung > ttabel (4,135>1,998), maka H0 ditolak, artinya
secara parsial ada pengaruh signifikan antara penerapan Budaya Kerja terhadap produktivitas kerja karyawan.