HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Objek Penelitian
2. Struktur Ekonomi
4.2 Analisis Potensi Ekonomi
Secara agregat kegiatan perekonomian di Kabupaten Simalungun sebagian besar berada pada sektor pertanian, hal ini dapat dilihat dari kontribusi sektor tersebut dalam lima tahun terakhir memiliki sumbangan terbesar terhadap pembentukan pendapatan daerahnya. Pada tahun 2009 pendapatan sektor pertanian adalah 3.064,00 M dan memberikan sumbangan sekitar 57,81 % terhadap pendapatan daerahnya. Mengalami peningkatan sekitar 19,75 % pada tahun 2013 menjadi 3.669,27 M dan menyumbang sekitar 56,63% terhadap pendapatan daerahnya.
Dari data-data diatas dan dengan menggunakan alat analisis yang telah disebutkan sebelumnya yakni analisis LQ dan analisis Shift-Share maka dapat
ditentukan potensi ekonomi di Kabupaten Simalungun untuk pemekaran Simalungun Hataran. Berikut ini adalah hasil analisis dan pembahasannya :
4.2.1 Analisis LQ
Location Quotient (LQ) adalah teknik untuk menaksir spesialisasi daerah di satu industri. Komposisi industri satu ekonomi lokal bisa dipahami lebih baik dengan membandingkan struktur industri lokal dengan kota-kota lain atau dengan daerah yang lebih luas atau secara keseluruhan dibanding dengan membandingkannya dengan ekonomi lokal. Melalui analisis LQ dapat diketahui sektor yang menjadi unggulan (sektor basis) di Kabupaten Simalungun. Secara lengkap berikut ini dapat dijelaskan hasil analisis LQ untuk masing-masing sektor selama lima tahun sejak tahun 2009 sampai tahun 2013.
Tabel 4.6
Nilai Location Quotient Kabupaten Simalungun Menurut Sektor dan Subsektor Ekonomi Tahun 2009-2013
Lapangan Usaha Tahun
2009 2010 2011 2012 2013 1. Pertanian 2,431 2,445 2,484 2,500 2,521
a. Tanaman Bahan Makanan 3,223 3,25 3,37 3,44 3,516
b. Tanaman Perkebunan 2,907 2,915 2,910 2,911 2,93
c. Peternakan dan Hasil-hasilnya 1,191 1,206 1,203 1,178 1,177
d. Kehutanan 0,524 0,561 0,574 0,580 0,582
e. Perikanan 0,298 0,283 0,287 0,289 0,289
2. Pertambangan dan Penggalian 0,309 0,309 0,060 0,323 0,334
3. Industri Pengolahan 0,675 0,676 0,695 0,716 0,727 a. Industri Tanpa Migas 0,675 0,676 0,695 0,716 0,727
4. Listrik, Gas & Air Bersih 0,676 0,683 0,689 0,729 0,768
a. Listrik 0,920 0,936 0,955 0,989 1,02
b. Air Bersih 0,207 0,207 0,213 0,215 0,218
5. Konstruksi 0.249 0,249 0.254 0,260 0,268
6. Perdagangan, Hotel &Restoran 0,439 0,444 0,440 0,441 0,440 a. Perdagangan besar dan eceran 0,460 0,464 0,461 0,461 0,461
b. Hotel 1,693 1,68 1,621 1,576 1,575
c. Restoran 0,042 0,046 0,046 0,046 0,047
7. Pengangkutan dan Komunikasi 0,264 0.258 0,252 0,249 0,250
a. Pengangkutan 0,191 0,186 0,181 0,180 0,18
b. Komunikasi 0,57 0,562 0,552 0,583 0,53
8. Keuangan, Persewaan dan Jasa Persewaan
0,271 0,269 0,121 0,285 0,288
b. Lembaga Keuangan Bukan Bank 0,67 0,681 0,66 0,688 0,708 c. Sewa Bangunan 0,209 0,211 0,205 0,206 0,205 d. Jasa Perusahaan 0,065 0,063 0,061 0,06 0,060 9. Jasa-Jasa 1,208 1,204 1,183 1,174 1.189 a. Pemerintahan Umum 1,62 1,619 1,59 1,58 1,603 b. Swasta 0,378 0,37 0,37 0,370 0,374
Sumber : PDRB Kab. Simalungun 2013 diolah
Berdasarkan tabel 4.6 hasil analisis LQ di atas, yang menjadi sektor unggulan di Kabupaten Simalungun adalah Sektor Pertanian dan Sektor Jasa-Jasa. Dalam kurun waktu lima tahun berturut-turut Sektor Pertanian memiliki nilai LQ > 1. Hal ini menunjukkan bahwa sektor Pertanian masih menjadi sektor yang diunggulkan di Kabupaten Simalungun dan selama periode analisis sektor tersebut memberikan kontribusi besar terhadap PDRB Kabupaten Simalungun. Sektor Jasa-Jasa juga memiliki nilai LQ > 1 berturut-turut selama periode analisis yang berarti produksinya mampu memenuhi kebutuhan daerah itu sendiri dan bahkan mampu mengekspor ke daerah lain. Dengan kata lain Sektor Pertanian dan Sektor Jasa-Jasa memiliki kemampuan terhadap peningkatan perekonomian di kabupaten maupun di tingkat provinsi. Sektor yang menjadi unggulan di Kabupaten Simalungun tidak terlepas dari kontribusi subsektor yang juga menjadi keunggulan antara lain subsektor Tanaman Bahan Makanan, Tanaman Perkebunan, Peternakan dan hasil-hasilnya, subsektor Hotel dan Pemerintahan Umum. Pada tahun 2013 subsektor Listrik menjadi sektor basis, hal ini menunjukkan bahwa Kabupaten Listrik mampu memproduksi listrik untuk memenuhi daerah maupun ekspor ke daerah lain. Hal ini menunjukkan terjadinya peningkatan kinerja subsektor ekonomi di Kabupaten Simalungun.
LQ ketenagakerjaan adalah rasio persentase dari ketenagakerjaan regional dalam suatu area. LQ sangat bermanfaat untuk mengetahui industri yang menjadi penggerak perekonomian di suatu daerah.
Dimana :
Si = Jumlah buruh sektor kegiatan ekonomi i di daerah yang diselidiki S = Jumlah buruh seluruh sektor kegiatan ekonomi di daerah yang
diselidiki
Ni = Jumlah buruh sektor kegiatan ekonomi i di daerah acuan yang lebih luas, di mana daerah yang di selidiki menjadi bagiannya
N = Jumlah seluruh buruh di daerah acuan yang lebih luas Hasil analisis Location Quotient dapat disimpulkan sebagai berikut :
• LQ > 1, merupakan sektor basis, artinya tingkat spesialisasi Kabupaten / kota lebih tinggi dari tingkat propinsi
• Jika LQ = 1 , berarti tingkat spesialisasi kabupaten / kota sama dengan di tingkat propinsi
• Jika LQ <1, adalah merupakan sektor non basis, yaitu sektor yang tingkat Spesialisasi kabupaten/kota lebih rendah dari tingkat propinsi. LQ > 1 menunjukkan bahwa peranan sektor i cukup menonjol di daerah tersebut dan sering kali sebagai petunjuk bahwa daerah tersebut surplus akan produk sektor i dan mengekspornya ke daerah lain. Daerah itu hanya mungkin mengekspor produk ke daerah lain atau luar negeri karena mampu menghasilkan produk tersebut secara lebih murah atau lebih efisien. Untuk mengetahui sektor basis di Simalungun Hataran, berikut hasil analisis LQ berdasarkan jumlah tenaga kerja menurut lapangan usaha :
Tabel 4.7
Hasil Analisis LQ Ketenagakerjaan Menurut Lapangan Usaha di Simalungun Hataran Tahun 2006
No Lapangan Usaha Hasil Analisis LQ
1 Pertambangan & Penggalian 1,0114
2 Industri Pengolahan 1,2064
3 Listrik, Gas & Air 1,0861
4 Konstruksi 1,1353
5 Perdagangan Besar & Eceran 0,9834
6 Akomodasi & Makan Minum 0,8701
7 Transportasi, Penggudangan & Komunikasi 0,8805
8 Perantara Keuangan 0,8309
9 Real Estate, Usaha Persewaan 0,9652
10 Jasa Pendidikan 0,9158
11 Jasa Kesehatan & Kegiatan Sosial 0,9708
12 Jasa Kemasyarakatan Sosbud, Hiburan & Perorangan Lainnya
1,1035
13 Jasa Perorangan yang Melayani Rumah Tangga 1,2626 Sumber: BPS Kabupaten Simalungun (sensus ekonomi 2006) diolah
Berdasarkan tabel 4.7, terdapat beberapa sektor yang memiliki nilai LQ > 1 yaitu Sektor Pertambangan dan Penggalian, Industri Pengolahan, Listrik, Gas dan Air, dan Konstruksi. Hal ini menunjukkan bahwa Simalungun Hataran memiliki jumlah pekerja individu yang lebih dalam sektor tersebut. Industri yang terdapat pada sektor Pertambangan dan Penggalian; Industri Pengolahan; Listrik, Gas dan Air; dan Konstruksi memproduksi produk-produk yang dijual di luar Simalungun Hataran sebagai aktivitas ekspor. LQ > 1 artinya bahwa beberapa bagian dari pekerja pada industri di masing-masing sektor tersebut memproduksi untuk tujuan ekspor. Terdapat dua subsektor di daerah Simalungun Hataran yang juga memiliki
nilai LQ > 1 yakni subsektor Jasa Kemasyarakatan Sosbud, Hiburan & Perorangan Lainnya dan subsektor Jasa Perorangan yang Melayani Rumah Tangga. Kedua sub sektor ini merupakan unggulan di daerah Simalungun Hataran sesuai dengan hasil analsisis LQ terhadap PDRB Kabupaten Simalungun dimana Sektor Jasa menjadi sektor unggulan dalam perekonomian Kabupaten Simalungun.
4.2.2 Analisis Shift-Share
Analisis Shift – Share merupakan teknik yang menggambarkan performance (kinerja) sektor di suatu wilayah dibandingkan kinerja sektor-sektor perekonomian nasional. Dengan demikian dapat ditemukan adanya shift (pergeseran) hasil pembangunan perekonomian daerah, bila daerah itu memperoleh kemajuan lebih lambat atau lebih cepat dari kemajuan nasional. (Bendavid - Val (1983), Hoover (1984) Lihat Prasetyo, 1993: 44) dalam Nudiatulhuda Mangun (2007).
Teknik ini membandingkan laju pertumbuhan sektor-sektor di suatu wilayah dengan laju pertumbuhan perekonomian nasional serta sektor-sektornya, dan mengamati penyimpangan-penyimpangan dari perbandingan-perbandingan itu. Bila penyimpangan itu positif, hal itu disebut keunggulan kompetitif dari suatu sektor dalam wilayah tersebut.Untuk menentukan sektor yang mempunyai keunggulan kompetitif dan spesialisasi menggunakan analisis Shift-Share. Tingkat spesialisasi terjadi apabila variabel wilayah nyata (Eij) lebih besar dari variabel yang diharapkan (E’ij)
Keunggulan kompetitif terjadi bila laju pertumbuhan sektor di kabupaten/kota lebih besar dari pada laju pertumbuhan sektor di provinsi.
Kompetitif : (rij – rin)
Berikut hasil perhitungan Shift-Share dengan menggunakan PDRB 2009 sebagai tahun awal analisis sampai tahun 2013.
Tabel 4.8
Hasil Analisis Shift-Share Tentang Keunggulan Kompetitif dan Spesialisasi Menurut Sektor di Kabupaten Simalungun
Tahun 2009 dan 2013
No Sektor Kompetitif Spesialisasi
1 Pertanian 0 1.803.823,625
2 Pertambangan dan Penggalian 0,05 (43.388,125)
3 Industri Pengolahan 0,058 (395.828,915)
4 Listrik, Gas dan Air Bersih 0,12 (12.575,153)
5 Konstruksi 0,05 (269.416,187)
6 Perdagangan, Hotel dan Restoran -0,047 (547.400,382)
7 Pengangkutan dan Komunikasi -0,12 (371.547,431)
8 Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan
0,035 (274.715,638)
9 Jasa-Jasa -0,067 111.048,206
Sumber: PDRB Kabupaten Simalungun tahun 2009 dan 2013 (diolah)
Berdasarkan hasil analisis shift-share (S-S) tentang keunggulan kompetitif dan spesialisasi menurut sektor di Kabupaten Simalungun terlihat bahwa sektor yang memiliki keunggulan kompetitif antara lain Sektor Pertambangan dan Penggalian; Industri Pengolahan; Listrik, Gas dan Air Bersih; dan sektor Konstruksi. Sektor yang menjadi spesialisasi di Kabupaten Simalungun ditandai dengan nilai S-S positif. Berdasarkan tabel 4.8, sektor yang memiliki nilai S-S positif adalah Sektor Pertanian dan Sektor Jasa-Jasa. Hal ini menunjukkan bahwa sektor ini mampu
memberikan peranan yang lebih besar di kabupaten dibandingkan tingkat nasional.
4.3 Analisis Deskriptif Potensi Simalungun Hataran