• Tidak ada hasil yang ditemukan

Strategi Pengembangan Potensi Ekonomi Daerah

TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Strategi Pengembangan Potensi Ekonomi Daerah

Untuk menuju kemandirian, sudah saatnya daerah otonom harus menggali semua potensi yang dimilikinya. Pada tahap awal, pemerintah kabupaten/kota harus mampu mengidentifikasi tiga pilar pengembangan wilayah yang dimilikinya, yaitu potensi sumberdaya alam, sumberdaya manusia, dan sumberdaya teknologi ( Zen, 1999:5 dalam Alkadri dan Hasan Mustafa , 2002). Ketiga pilar ini harus diramu sedemikian rupa sehingga sumberdaya manusia dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya alam dengan teknologi yang dimilikinya. Pada fase berikutnya, daerah dapat mengembangkan potensi-potensi tersebut menjadi berbagai kegiatan ekonomi yang menghasilkan nilai tambah dan berdaya saing tinggi.

Daerah harus lebih mampu menetapkan skala prioritas yang tepat untuk memanfaatkan potensi daerahnya masing-masing dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan hidup agar pertumbuhan bisa berkesinambungan. Pada saat yang bersamaan, daerah harus lebih mampu menggali pendapatan asli daerah yang lebih besar, karena penerimaan daerah yang dilimpahkan dari pusat sudah terbatas dan sudah memiliki aturan pendistribusiannya (Robinson Tarigan: 2005).

Telah diketahui bersama bahwa tujuan pembangunan ekonomi pada umumnya adalah peningkatan pendapatan riil perkapita serta adanya unsur keadilan atau

pemerataan dalam penghasilan dan kesempatan berusaha. Dengan mengetahui tujuan dan sasaran pembangunan, serta kekuatan dan kelemahan yang dimiliki suatu daerah, maka strategi pengembangan potensi yang ada akan lebih terarah dan strategi tersebut akan menjadi pedoman bagi pemerintah daerah atau siapa saja yang akan melaksanakan usaha di daerah tersebut. Oleh karena itu langkah-langkah berikut dapat dijadikan acuan dalam mempersiapkan strategi pengembangan potensi yang ada didaerah, sebagai berikut :

1. Mengidentifikasi sektor-sektor kegiatan mana yang mempunyai potensi untuk dikembangkan dengan memperhatikan kekuatan dan kelemahan masing-masing sektor.

2. Mengidentifikasi sektor-sektor yang potensinya rendah untuk dikembangkan serta mencari faktor-faktor penyebab rendahnya potensi sektor tersebut untuk dikembangkan.

3. Mengidentifikasi sumberdaya (faktor-faktor produksi) yang ada termasuk sumberdaya manusianya yang siap digunakan untuk mendukung perkembangan setiap sektor yang bersangkutan.

4. Dengan model pembobotan terhadap variabel - variabel kekuatan dan kelemahan untuk setiap sektor dan sub-sektor, maka akan ditemukan sektor-sektor andalan yang selanjutnya dianggap sebagai potensi ekonomi yang patut dikembangkan di daerah yang bersangkutan.

5. Menentukan strategi yang akan ditempuh untuk pengembangan sektor-sektor andalan yang diharapkan dapat menarik sektor-sektor-sektor-sektor lain untuk tumbuh sehingga perekonomian akan dapat berkembang dengan

sendirinya (self propelling) secara berkelanjutan (sustainable development) (Nudiatulhuda Mangun : 2007).

Ada beberapa alat analisis yang dapat digunakan untuk menentukan potensi relative perekonomian suatu wilayah. Alat analisis itu antara lain keunggulan komparatif, Location Quotient, dan analisis Shift-Share.

2.2.1. Keunggulan Komparatif

Keunggulan komparatif suatu komoditi bagi suatu negara atau daerah adalah bahwa komoditi itu lebih unggul secara relative dengan komoditi lain di daerahnya. Pengertian unggul dalam hal ini adalah dalam bentuk perbandingan dan bukan dalam bentuk nilai tambah riil. Apabila keunggulan itu adalah dalam bentuk nilai tambah riil maka dinamakan keunggulan absolut. Komoditi yang memiliki keunggulan walaupun hanya dalam bentuk perbandingan, lebih menguntungkan untuk dikembangkan dibanding dengan komoditi lain yang sama-sama diproduksi oleh kedua negara atau daerah (Tarigan : 2005).

Pada saat ini istilah yang lebih sering dipakai adalah competitive advantage (keunggulan kompetitif). Keunggulan kompetitif menganalisis kemampuan suatu daerah untuk memasarkan produknya di luar daerah/luar negeri/pasar global. Sebaliknya, analisis keunggulan komparatif tetap dapat digunakan untuk melihat apakah komoditi itu memiliki prospek untuk dikembangkan walaupun saat ini belum mampu memasuki pasar global (Tarigan : 2005). 2.2.2. Location Quotient (Kuosien Lokasi)

Location Quotient (Kuosien Lokasi) atau disingkat LQ adalah suatu perbandingan tentang besarnya peranan suatu sektor/industri di suatu daerah terhadap besarnya peranan sektor/ndustri tersebut secara nasional. Ada banyak

variabel yang bisa diperbandingkan, tetapi yang umum adalah nilai tambah ( tingkat pendapatan) dan jumlah lapangan kerja (Tarigan:2005).

Location Quotient adalah teknik untuk menaksir spesialisasi daerah di satu industri. Komposisi industri satu ekonomi lokal bisa dipahami lebih baik dengan membandingkan struktur industri lokal dengan kota-kota lain atau dengan daerah yang lebih luas atau secara keseluruhan dibanding dengan membandingkannya dengan ekonomi lokal (Sirojuzilam dan Kasyful Mahalli, 2010).

Location Quotient (LQ), yaitu usaha mengukur konsentrasi dari suatu kegiatan (industri) dalam suatu daerah dengan cara membandingkan peranannya dalam perekonomian daerah itu dengan peranan kegiatan atau industri sejenis dalam perekonomian regional atau nasional (Arsyad, 2002:141).

2.2.3. Analisis Shift-Share

Pertumbuhan dan pergeseran sektor-sektor ekonomi di daerah dapat dianalisis dengan mempergunakan analisa shift share, yang menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi di daerah berhubungan erat dengan tiga komponen yaitu komponen karena pertumbuhan nasional, komponen interaksi sektor industri (industrial mix) dan pangsa relatip sektor-sektor daerah (regional share) terhadap sektor-sektor nasional (Sirojuzilam dan Kasyful Mahalli, 2010). Analisis shift share merupakan teknik yang sangat berguna dalam menganalisis perubahan struktur ekonomi daerah dibandingkan perekonomian nasional. Tujuan analisis ini adalah untuk menentukan kinerja atau produktivitas kerja

perekonomian daerah dengan membandingkannya dengan daerah yang lebih besar (regional atau nasional) (Arsyad, 2002:139).

Analisis shift share dapat disajikan sebagai berikut: Perubahan employment pada industri daerah =

pertumbuhan ekonomi + pergeseran proporsi + pergeseran diferensial 2.3 Teori Pemekaran Daerah

Dalam banyak hal, desentralisasi dan otonomi adalah kata yang saling bisa dipertukarkan. Otonomi berasal dari kata Yunani autos dan nomos. Otonomi

bermakna “memerintah sendiri”. Otonomi daerah sendiri dapat diartikan sebagai

hak wewenang dan kewajiban daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku ( Sarundajang:1999 dalam Riant Nugroho (2000).

Tidak ada daerah yang mampu mengelola dirinya sendiri, meski memiliki dukungan politik, organisasi, dan manusia, jika tidak memiliki kemampuan ekonomi. Kawasan otonom tanpa kemampuan ekonomi, sia-sia belaka (Riant Nugroho :2000). Menurut Kastorius Sinaga (dalam Etnis Pakpak Dalam Fenomena Pemekaran Wilayah) , ide pemekaran wilayah setidaknya harus menjawab 3 issue pokok, di antaranya :

1. Urgensi dan Relevansi ; apakah urgensi pemekaran wilayah berkaitan dengan penuntasan masalah kemiskinan dan marginalistik etnik. Jika tidak, pemekaran wilayah akan berdampak negatif dan proses pemiskinan rakyat akan semakin cepat. Pertimbangan umum pemekaran wilayah biasanya didasari oleh adanya potensi sumberdaya alam yang siap untuk dieksploitasi

sementara kemampuan daerah, terutama menyangkut finansial dan sumberdaya manusia amat terbatas.

2. Prosedur ; apakah prosedur pemekaran wilayah sudah ditempuh dengan benar sesuai ketentuan dan peraturan yang ditetapkan. Jika tidak maka proses pemekaran wilayah ini akan berbelit-belit karena rantai birokrasi yang mengurus persoalan seperti ini juga cukup panjang

3. Implikasi ; yakni sejauh mana pemekaran wilayah memberi dampak yang signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat dan secara politis berimplikasi terhadap terpeliharanya identitas etnik dan agama

Berlakunya otonomi daerah yang paling penting bagi pembangunan ekonomi daerah dewasa ini adalah meningkatnya motivasi antardaerah, mengaktualisasikan diri sebagai daerah yang memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi melalui pemberdayaan potensi ekonomi lokal dengan mengembangkan kegiatan-kegiatan ekonomi yang bersandarkan kepada kekuatan-kekuatan daerah dan memanfaatkan peluang-peluang yang ada untuk meningkatkan kesejahteraan sosial yaitu kemamuran dan keadilan.

Dokumen terkait