Dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara acapkali timbul persengketaan atau permasalahan yang dihadapi. Upaya untuk mendamaikan para pihak merupakan hal yang sangat penting untuk diwujudkan. Perdamaian selain bergantung kepada kehendak atau kesepakatan para pihak, juga dapat dilakukan atas inisiatif pihak ketiga dan bentuk perdamaian seperti ini belum masuk ke dalam ruang lingkup Peradilan atau belum masuk keranah hukum. Penyelesaian sengketa secara damai sangat dianjurkan, bahkan ketika gugatan sudah didaftarkan di
29 Nur Iftitah Isnantiana, “Legal Reasoning Hakim dalam Pengambilan Putusan Perkara di Pengadilan”, Islamadina Jurnal Pemikiran Islam, XVIII, 2, (Juni, 2017), h., 44
30 Elisabeth Nurhini Butarbutar, “Konsep Keadilan Dalam Sistem Peradilan Perdata”, Mimbar Hukum, 21, 2, (Juni 2009), h., 365
Pengadilan, hakim pun harus terus berusaha terlebih dahulu mendamaikan para pihak. 31
Perdamaian ditawarkan bukan hanya pada sidang permulaan saja, tetapi juga pada setiap kali sidang. Menurut ketentuan Pasal 14 ayat (2) UU No. 14 Tahun 1970 yang telah diubah oleh ketentuan Pasal 10 ayat (2) UU No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman Pengadilan tidak menutup kemungkinan untuk usaha penyelesaian perkara perdata secara perdamaian.32 Penyelesaian perkara melalui mediasi sebenarnya telah diatur dalam Pasal 130 HIR/Pasal 154 Rbg yang menetapkan adanya lembaga damai (dading). Pemanfaatanya dikonstruksikan sebagai mediasi oleh Pengadilan yang menjadi court connected mediation.
Upaya Mahkamah Agung untuk mengintegrasikan mediasi ke dalam sistem Peradilan menuju arah yang lebih bersifat memaksa dimulai dengan diterbitkannya Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberdayaan Pengadilan tingkat pertama menerapkan lembaga damai. Namun, keberadaan SEMA ini tidak jauh berbeda dengan ketentuan dalam Pasal 130 HIR, sehingga Mahkamah Agung kemudian melakukan penyempurnaan dengan mengeluarkan Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2008 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan.33
Merujuk pada buku ke-3 Kitab Undang-undang Hukum Perdata, dimana mediasi merupakan salah satu bentuk perikatan dan disebut sebagai perdamaian.34 Pengertian mediasi dalam Perma Nomor 1 Tahun 2008 disebutkan dalam Pasal 1 ayat 7 yaitu mediasi adalah cara penyelesaian sengketa melalui proses perundingan untuk memperoleh kesepakatan para pihak dengan dibantu oleh mediator.
31 Abdurrahman Konoras, Aspek Hukum Penyelesaian Sengketa Secara Mediasi di Pengadilan, (Depok: PT Rajagrafindo Persada, Cet. Pertama, 2017), h., 44-45
32 Bambang Sugeng, Sujayadi, Pengantar Hukum Acara Perdata, (Jakarta : Prenamedia Group, Cet. Pertama, 2012), h., 44
33 M. Hatta Ali, Peradilan Sederhana Cepat dan Biaya Ringan Menuju Keadilan Restoratif, (Bandung : PT. Alumni, Cet. Pertama, 2012 ), h., 360
34 Israr Hirdayadi, Heri Dianyah, “Efektivitas Mediasi Berdasarkan Perma No. 1 Tahun 2008 (Studi Kasus Mahkamah Sayri‟ah Banda Aceh)”, Samarah, 1, 1, (Januari-Juni, 2017) h., 209.
70
Kehadiran Perma Nomor 1 Tahun 2008 dimaksudkan untuk memberikan kepastian, ketertiban dan kelancaran dalam proses perdamaian para pihak untuk menyelesaikan suatu sengketa. Mediasi mendapatkan kedudukan yang penting dalam Perma Nomor 1 Tahun 2008, karena proses mediasi merupakan bagian yang tidak dapat di pisahkan dari proses berperkara di Pengadilan. Hakim yang menangani perkara wajib memerintahkan para pihak untuk menempuh jalur mediasi. Apabila hakim melanggar atau enggan untuk menerapkan proses medaisi maka putusan tersebut dinyatakan batal demi hukum (Pasal 2 ayat (3) Perma). Oleh karena itu hakim dalam pertimbangannya wajib menyebutkan bahwa perkara tersebut telah diupayakan proses perdamaian dengan jalur mediasi dan menyebutkan nama mediator untuk perkara yang bersangkutan.35
Dalam hal putusan Nomor 26/Pdt.G/2014/PA.JS, penulis melihat dalam pertimbangan hukum hakim tingkat Banding mediasi yang dilakukan oleh Pengadilan Agama Jakarta Selatan terdapat ketidaksesuaian dengan Perma Nomor 1 Tahun 2008. Pemilihan mediator yang dilakukan bukan di pilih oleh para pihak yang materil tetapi pemilihan mediator dilakukan oleh kuasa hukumya. Dalam Pasal 7 mengenai Kewajiban Hakim Pemeriksa Perkara dan Kuasa Hukum telah disebutkan bahwa hakim pemeriksa perkara dan kuasa hukum berkewajiban untuk mendorong para pihak untuk berperan langsung atau aktif dalam proses mediasi, dimulai dari pemilihan mediator sampai dengan pelaksanaan mediasi dilakukan. Artinya yang berperan langsung adalah para pihak itu sendiri, sedangkan kuasa hukum hanya membantu para pihak untuk berperan aktif dalam mediasi ini.36 Para pihak memliki hak untuk memilih mediator yang mereka kehendaki bersama, sedangkan kuasa hukum para pihak berkewajiban untuk mendorong para pihak sendiri berperan langsung dan aktif dalam proses pelaksaan mediasi, karena sebenarnya
35 Syahrizal Abbas, Mediasi Dalam Prespektif Hukum Syariah, Hukum Adat dan Hukum Nasilonal, (Jakarta : Prenadamedia Group, Cet. Pertama, 2009), h., 311
36 Perma Nomor 1 Tahun 2008 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan
yang paham betul akan masalah yang para pihak permasalahkan adalah para pihak itu sendiri.37
Selain itu penundaan untuk mediasi yang di lakukan oleh Pengadilan Agama Jakarta Selatan telah melanggar ketentuan Perma Nomor 1 Tahun 2008. Pada hari sidang pertama hakim pemeriksa perkara mewajibkan para pihak untuk menempuh jalur mediasi dan hakim pemeriksa perkara wajib menunda proses persidangan untuk memberikan kesempatan kepada para pihak menempuh mediasi.38 Pemilihan untuk mediator dilakukan pada hari itu juga atau paling lama dua hari kerja. Setelah kesepakatan pemilihan mediator segera para pihak untuk menyampaikan pilihan mediator yang akan menjadi mediator.
Dalam Pasal 11 Perma Nomor 1 Tahun 2008 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan disebutkan bahwa para pihak diwajibkan oleh hakim pada hari sidang pertama untuk memilih mediator atau paling lama 2 (dua) hari kerja sejak hari pertama sidang. Cara pemilihan mediator menurut Perma Nomor 1 Tahun 2008 dilakukan dengan cara “berunding”
diantara para pihak, termasuk juga merundingkan masalah biaya yang mungkin timbul akibat dari pilihan penggunaan mediator bukan hakim.
Sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 11 ayat (2) Perma Nomor 1 Tahun 2008, jika telah terpilih mediatornya, maka segera mungkin sesuai dengan batas waktu yang telah ditentukan para pihak menyampaikan laporan kesepakatan mediator pilihannya secara tertulis, termasuk beban biaya mediasi, kepada Ketua Majelis Hakim pemeriksa perkaranya. Selanjutnya Majelis hakim pemeriksa perkara memberitahukan mediator untuk melaksanakan tugasnya dengan dituangkan dalam suatu penetapan penunjukan mediator.39 Jika tidak terjadi kesepakatan untuk pemilihan mediator, para pihak segera menyampaikan kepada Majelis Hakim agar
37 Zainal Asikin, Hukum Acara Perdata di Indonesia, (Jakarta : Prenamedia Group, Cet.
Kedua, 2016), h., 182-184
38 M. Hatta Ali, Peradilan Sederhana Cepat dan Biaya Ringan Menuju Keadilan Restoratif, h., 364
39 Rachmadi Usman, Mediasi di Pengadilan Dalam Teori dan Praktik, (Jakarta : Sinar Grafika, Cet. Pertama, 2012), h., 144-146
72
Majelis Hakim segera menunjuk hakim bukan pemeriksa perkara untuk menjadi mediator.
Proses mediasi dapat berlangsung selama 40 (empat puluh) hari sejak mediator dipilih (Pasal 13 ayat (3)).40 Dalam Pasal 13 ayat (4) menyebutkan”Atas dasar kesepakatan para pihak, jangka waktu mediasi dapat diperpanjang paling lama 14 (empat belas) hari kerja sejak berakhir masa 40 (empat puluh) hari sebagaimana dimasud dalam ayat (3).41
Artinya dalam penundaan mediasi tidak sembarangan, karena telah diatur dalam Perma Nomor 1 Tahun 2008. Proses mediasi dapat diperpanjang atas dasar kesepakatan para pihak dan di perpanjang selama 14 (empat belas) hari sejak berakhirnya masa 40 (empat puluh) hari.42
Setelah mediator terpilih dan di beritahu oleh hakim pemeriksa perkara, selanjutnya tugas mediator diuraikan lebih lanjut dan terperinci penetapan atau mekanisme proses mediasi, sebagai berikut :
1. Mediator menjalin hubungan awal dengan pihak-pihak yang bersengketa
2. Memilih strategi untuk membimbing proses mediasi
3. Mengumpulkan dan menganalisis informasi latar belakang sengketa 4. Menyusun rencana mediasi
5. Membangun kepercayaan dan kerja sama di antara para pihak 6. Memulai mediasi
7. Merumuskan masalah dan menyusun agenda
8. Mengungkapkan kepentingan tersembunyi para pihak 9. Membangkitkan pilihan penyelesaian sengketa
10. Menganalisis pilhan penyelesaian sengketa 11. Proses tawar menawar, dan
12. Mencapai penyelesaian formal
40 Syahrizal Abbas, Mediasi Dalam Prespektif Hukum Syariah, Hukum Adat dan Hukum Nasional, h., 313
41 Perma Nomor 1 Tahun 2008 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan
42 Syahrizal Abbas, Mediasi Dalam Prespektif Hukum Syariah, Hukum Adat dan Hukum Nasional, h., 313
Selanjutnya proses mediasi mulai dari Pra mediasi sampai dengan tahap mencapai kesepakatan dilaksanakan sesuai dengan Perma Nomor 1 Tahun 2008 tentang Prsedur Mediasi di Pengadilan.43
Mengenai tugas seorang mediator yang telah dipilih, menurut Perma Nomor 1 Tahun 2008 Tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan tugas mediator yaitu sebagaimana dalam Pasal 15 Perma Nomor 1 Tahun 2008 Tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan menyebutkan :
1. Mediator wajib mempersiapkan usulan jadwal pertemuan mediasi kepada para pihak untuk di bahas dan disepakati.
2. Mediator wajib mendorong para pihak untuk secara langsung berperan dalam proses mediasi.
3. Apabila dianggap perlu, mediator dapat melakukan kaukus.
4. Mediator wahib mendorong para pihak untuk menelusuri dan menggali kepentingan mereka dan mencari berbagai pilihan penyelesaian yang terbaik bagi para pihak.44
Proses mediasi selalu mengedepankan pendekatan komunikasi yang baik antara mediator dan para pihak yang bersengketa. Dalam hal ini peran mediator dalam mencairkan kebekuan komunikasi antara para pihak sangat berperan sekali. Untuk itulah untuk menjadi mediator dalam suatu berperkara diperlukan keahlian khusus terutama dalam menyambung komunikasi yang terputus antara para pihak yang memang sedang bermasalah. Komunikasi yang dapat ditempuh dengan cara perkenalan, mediator juga harus dapat menciptakan suasana yang tidak kaku, mencair antara para pihak dengan cara menciptakan obrolan-obrolan sederhana diluar pokok perkara, dengan demikian suasana dingin penuh ketegangan berubah menjadi hangat penuh keakraban.
Dalam situasi yang demikian mediator akan dapat menangkap celah-celah yang memungkinkan adanya respon dan partisipasi para pihak
43 Dwi Reski Sri Astarini, Mediasi Pengadilan Salah Satu Bentuk Penyelesaian Sengketa Berdasarkan Asas Pradilan Cepat, Sederhana dan Biaya Ringan, h.,103-109
44 Perma Nomor 1 Tahun 2008 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan Pasal 13 dan Pasal 15
74
untuk perdamaian tersebut. Mediator harus mampu mengendalikan komunikasi agar tidak memberikan ruang perseteruan yang konfrontatif.
mediator mengumpulkan sebanyak-banyaknya informasi dari kedua pihak, dimana hak kedua pihak sama dalam memberikan dan menerima informasi. 45
Melihat dari permasalahan di atas, penulis berkesimpulan bahwa mediasi yang di lakukan pada perkara Nomor 26/Pdt.G/2014/PA.JS tidak sesuai dengan Perma yang berlaku. Melihat hal diatas, pengintegrasian medisi ke dalam proses beracara di Pengadilan menjadikan mediasi sebagai salah satu instrumen efektif untuk mengatasi masalah penumpukan perkara di Pengadilan serta memperkuat dan memaksimalkan fungsi lembaga Pengadilan dalam penyelesaian sengketa dan bersifat memutus.
Putusan perkara Pengadilan yang tidak dilaksakan sesuai dengan Perma Nomor 1 Tahun 2008 Tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan dan aturan yang berlaku maka dalam pasal 2 ayat (3) menyebutkan putusan tersebut menjadi batal demi hukum.46
Kewajiban para pihak mengikuti proses mediasi dalam Pengadilan ini sudah bukan formalitas belaka saja, namun sudah menjadi kewajiban setiap yang berperkara di Pengadilan wajib terlebih dahulu menepuh mediasi meskipun sebelum perkara di bawa ke ranah Pengadilan dan sudah mencoba mendamaikan tetapi mediasi ini sudah menjadi wajib untuk di lakukan.
Dalam proses mediasi ini para pihak lah yang berperan aktif dari setiap proses mediasi yang dilakukan. Kewajiban setiap pihak yang dilibatkan dalam mediasi ini telah diatur sedemikian rupa oleh Perma Nomor 1 Tahun 2008 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan. Majelis Hakim dalam hal ini wajib untuk mendorong para pihak berperan langsung atau aktif dalam setiap proses mediasi dan kewajiban kuasa hukum sama halnya dengan Majelis Hakim. Kewajiban menempuh mediasi terlebih dahulu dalam penyelesaian sengketa di Pengadilan bersifat imperatif, yang
45 Ainal Mardhiah, “Penyelesaian Sengketa Melalui Mediasi Berdasarkan Perma Nomor 1 Tahun 2008”, Kanun Jurnal Ilmu Hukum, XIII, 53 (April, 2011), h. 165-166
46 Perma Nomor 1 Tahun 2008 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan
dengan sendirinya para pihak yang bersengketa wajib menaatinya.47 Proses dari awal pemilihan mediator sampai dengan perpanjangan waktu mediasi dilakukan para pihak yang bersangkutan. Waktu pelaksanaan mediasi pun dalam Perma ini maksimal 40 (empat puluh) hari kerja untuk sampai para pihak menghasilkan kesepakatan.48 Perpanjangan waktu dilakukan atas dasar kesepakatan para pihak dan waktu yang diberikan paling lama 14 (empat belas) hari kerja sejak berakhirnya masa 40 (empat puluh) hari sebagaimana dimaksud dalam ayat 3 Pasal 13 Perma Nomor 1 Tahun 2008 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan.mediator tidak ada hak untuk menunda proses mediasi kecuali ada persetujuan dari para pihak.
Berdasarkan Perma Nomor 1 Tahun 2008 Tentang Ptosedur Mediasi di Pengadilan, jika prosedur mediasi wajib dilakukan tidak di tempuh atau ada kesalahan mediasi yang tidak sesuai dengan Perma, maka mengakibatkan putusan majelis hakim pemerika perkara tingkat pertama batal demi hukum sehingga putusan tersebut secara hukum dianggap tidak ada karena sumber hukum mediasi adalah ketentuan HIR dan Rbg yang merupakan hukum acara yang mengikat dan tentu tidak boleh di kesampingkan.49
Mediasi merupakan salah satu bagian penting dari hukum acara perdata yang mana jika hukum acara perdata tidak sesuai dengan peraturan yang ada maka mengakibatkan putusan cacat formil dan harus di beri kekuatan hukum, sesuai dengan amar putusan yang di keluarkan oleh kasasi. Amar putusan kasasi pun yang menyebutkan putusan ini batal demi hukum dan menyebutkan putusan Pengadilan Agama adalah cacat formil.
Menurut penulis apa yang di putuskan oleh kasasi sudah sesuai, karena meskipun ini perkara tahun 2014 sampai dengan 2016 yang mana Perma sudah di ubah menjadi Nomor 1 Tahun 2016 Tentang Prosedur Mediasi di
47 Rachmadi Usman, Mediasi di Pengadilan Dalam Teori dan Praktik, h., 131-132
48 Yayah Yarotul Salamah, Mediasi Dalam Proses Beracara di Pengadilan, (Jakarta : Pusat Studi Hukum dan Ekonomi, Cet.Pertama, 2010), h., 395
49 Takdir Rahmadi, Mediasi Penyelesaian Sengketa Melalui Pendekatan Mufakat, (Depok: PT Rajagrafindo Persada, 2019) Cet. Keempat, h., 164
76
Pengadilan. Tetapi disini penulis masih menggunakan Perma Nomor 1 Tahun 2008 yang menyebutkan Perkara yang tidak sesuai dengan Perma Nomro 1 tahun 2008 menjadi batal demi hukum, karena perkara Pengadilan Agama putus pada tahun 2014 dan Perma Nomor 1 Tahun 2016 Tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan belum ada.
Berdasarkan hal tersebut menurut penulis mediasi yang dilakukan oleh majelis hakim tingkat pertama tidak sesuai dengan Perma Nomor 1 Tahun 2008 Tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan. Dalam Perma Nomor 1 Tahun 2008 mediasi yang dilakukan tidak sesuai dengan Perma maka putusan tersebut menjadi batal demi hukum, karena mediasi yang dilaksanakan Pengadilan Agama merupakan perwujudan kekuasaan kehakiman dalam proses penyelesaian sengketa secara damai.
77 BAB V KESIMPULAN