Setelah penulis mengetahui jalannya perkara kasus ini dalam Putusan Nomor 26/Pdt.G/2014/PA.JS, dapat dipahami bahwa masalah yang disengketakan antara pihak Para Penggugat dan Para Tergugat ialah mengenai pembagian harta waris dan hibah wasiat yang diberikan kepada Tergugat II, III dan IV yang menurut Para Penggugat itu sudah melebihi 1/3 dari harta waris pewaris yang menghalangi pembagian waris kepada ahli waris yang seharusnya. Para Penggugat meminta kepada Majelis Hakim untuk menetapkan siapa saja ahli waris dari pewaris dan meminta untuk membatalkan akta hibah wasiat yang telah dibuat untuk Tergugat II,III dan IV. Menurut ketentun Pasal 195 ayat (2) dan Pasal 210 ayat (1) menegaskan bahwa : Wasiat hanya diperbolehkan sebanyak-banyaknya sepertiga dari harta warisan kecuali apabila semua ahli waris meyutujui”.
Dalam pertimbangan hakim tingkat pertama menyatakan akta hibah tidak dibatalkan karena di lihat dari bukti yang di ajukan oleh Penggugat tidak menyebutkan harta apa saja yang disebutkan. Menurut ketentuan pasal 195 ayat (2) dan pasal 210 ayat (1) Kompilasi Hukum Islam ditolak oleh Majelis Hakim karena gugatan Para Penggugat tidak terbukti.
Dalam hal ini Pengadilan Agama Jakarta Selatan telah melaksanakan tugas sebagaimana mestinya. Pada sidang pertama Majelis Hakim telah memerintahkan para pihak untuk menempuh jalur mediasi terlebih dahulu dan telah melaksanakan proses mediasi dengan mediator yang di pilih.
Para Penggugat dan Para Tergugat tidak ada salah satupun yang mengalah
dalam hal ini, para pihak saling memberikan jawaban masing-masing dan tetap dengan sikapnya masing-masing.1
Setelah mempelajari lebih lanjut mengenai putusan diatas, selanjutnya penulis melihat dalam pertimbangan hakim tingkat banding.
Perihal perkara tingkat pertama yaitu mempermasalahkan harta waris dan hibah wasiat, tetapi disini Majelis Hakim tingkat banding tidak lagi mempermaslahkan hal yang dipermasalahkan oleh para pihak yang di sengketakan yaitu mengenai waris. Dalam hal ini Pengadilan Tingkat Banding mempertimbangkan perihal mediasi yang dilakukan oleh Pengadilan Agama Jakarta Selatan. Dalam putusan perkara Pengadilan Agama Jakarta Selatan, Majelis Hakim tingkat pertama saat pemilihan mediator tidak diserahkan langsung kepada para pihak materil, melainkan diserahkan kepada kuasa hukumnya, karena para pihak tidak hadir saat persidangan.
Menurut pertimbangan hakim tingkat banding mediasi yang dilakukan tidak sesuai dengan Pasal 1 ayat (8) Perma Nomor 1 Tahun 2008 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan yang dalam pokoknya yaitu, dalam melaksanakan mediasi dari mulai memilih mediator dan proses keseluruhan mediasi haruslah dilaksanakan oleh para pihak yang materiil dan kewajiban kuasa hukum hanya mendorong dan membantu para pihak untuk berperan langsung dan aktif dalam proses mediasi.2
Selanjutnya setelah pemilihan mediator dilakukan, proses mediasi tidak langsung dilakukan sesuai jadwal melainkan ditunda terlebih dahulu.
Sedangkan masa pengunduran sidang kepada mediator hanya diberikan waktu 14 hari saja, karena setiap proses mediasi yang dilakukan haruslah sesuai dengan Perma Nomor 1 Tahun 2008. Tidak menempuh prosedur mediasi berdasarkan peraturan ini merupakan pelanggaran terhadap
1Putusan Pengadilan Agama Jakarta Selatan Nomor 26/Pdt.G/2014/PA.JS
2Yayah Yarotul Salamah, Mediasi Dalam Proses Beracara di Pengadilan, (Jakarta : Pusat Studi Hukum dab Ekonomi Fakultas Hukum Univerrsitas Indonesia, Cetakan Pertama 2010), h., 346
56
ketentuan Pasal 130 HIR dan atau Pasal 154 Rbg yang mengakibatkan putusan batal demi hukum.3
Penulis melihat adanya ketidaksesuaian dalam pelaksanaan hukum acara pada putusan ini. Melihat dari pertimbangan hakim tingkat kasasi, menurut Mahkamah Agung, Pengadilan Tinggi Agama Jakarta telah salah menerapkan hukum dengan pertimbangan sebagai berikut :
Pengadilan tingkat banding memerintahkan Pengadilan Agama Jakarta Selatan untuk memeriksa ulang dan membuka kembali sidang perkara a quo tidak tepat, dan tidak sesuainya hukum acara, oleh karena itu putusan dinyatakan batal demi hukum dan tidak dapat diperiksa ulang kecuali ada pengajuan gugatan baru. Karena putusan Pengadilna Tinggi Agama Jakarta harus dibatalkan dan Mahkamah Agung akan mengadili sendiri perkara ini dengan pertimbangan diantaranya, Majelis Hakim Pengadilan Agama Jakarta Selatan telah melanggar ketentuan hukum acara, maka putusan tersebut dinyatakan batal demi hukum;
Menurut Mahkamah Agung bahwa putusan ini batal demi hukum, maka gugatan Para Penggugat harus diberi status hukum agar Para Penggugat dapat mengambil sikap untuk mengajukan gugatan baru dengan materi pokok gugatan yang sama, oleh karena itu gugatan para penggugat dinyatakan tidak dapat diterima.4
Dari pertimbangan-pertimbangan Majelis Hakim diatas, dapat dilihat perbandingan antar pertimbangan hakim pada tingkat pertama, banding dan kasasi, yaitu sebagai berikut :
1. Pada tingkat pertama, perkara tersebut yang menyangkut perihal pembagian waris dan hibah wasiat yang melebihi 1/3 yang telah di putus oleh majelis hakim ini terdapat kekeliruan pada proses mediasi, sebagaimana dalam pertimbangan majelis hakim tingkat banding. Dalam pemilihan mediator dan penundaan mediasi yang dilakukan oleh majelis hakim tingkat pertama tidak sesuai dengan
3 Putusan Pengadilan Tinggi Agama Jakarta Nomor 58/Pdt.G/2015/PTA.JK
4 Putusan Kasasi Nomor 190 K/Ag/2016
Peraturan yang ada di Indonesia yaitu Perma Nomor 1 Tahun 2008 Tentang Prosedur Mediasi. Ada beberapa kekeliruan yang dilakukan oleh majelis hakim pada tingkat pertama, namun yang lebih khusus yaitu mengenai proses mediasi karena hal ini pun yang di permasalahkan pada tingkat banding dan kasasi.
2. Pertimbangan dalam tingkat banding mengenai pembagian harta waris dan hibah wasiat sudah tidak dipermasalahkan lagi, karena menurut Majelis Hakim tingkat banding ada keganjalan atau ketidaksesuaian dalam Hukum Acara yang diterapkan oleh Pengadilan tingkat pertama. Dalam pertimbangannya sesuai dengan Berita Acara Persidangan menyebutkan dalam hal mediasi terdapat ketidaksesuaian dengan Peraturan Perundang-undangan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2008 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan. Dalam pemilihan untuk mediator Majelis Hakim tingkat pertama saat pemilihan mediator para pihak materil menyerahkan sepenuhnya kepada Majelis Hakim, artinya yang memilih mediator adalah kuasa hukum masing-masing pihak dan bukan para pihak materiil dan Terdapat penundaan mediasi yang dilakukan oleh mediator setelah menentukan siapa yang menjadi mediator. Dalam pertimbangannya Majelis Hakim tingkat banding membatalkan putusan Pengadlilan Agama Jakarta Selatan karena batal demi hukum dan memerintahkan Pengadilan Agama membuka kembali persidangan.
3. Pertimbangan dalam tingkat kasasi menyebutkan Pengadilan Agama tingkat banding dalam memerintahkan Pemeriksaan ulang kepada Pengadilan Agama tingkat pertama tidak tepat dan tidak sesuainya hukum acara, oleh karena itu putusan dinyatakan batal demi hukum dan tidak dapat diperiksa ulang kecuali ada pengajuan gugatan baru. Majelis Hakim tingkat kasasi membatalkan putusan Pengadilan tingkat banding dan mengadili sendiri dan membatalkan putusan Pengadilan tingkat pertama dan
58
memberikan status hukum agar Para Penggugat dapat mengajukan gugatan baru dan menyatakan gugatagn Para Penggugat tidak dapat diterima.
Setelah membandingkan pertimbangan hakim mulai dari Pengadilan tingkat pertama sampai dengan tingkat kasasi, selanjutnya penulis akan menganalisis perbedaan pandangan hakim tersebut berdasarkan hukum positif yang berlaku di Indonesia.
Selain melaksanakan fungsinya, kekuasaan kehakiman juga menggunakan asas biaya ringan, cepat dan sederhana. Maksud dari sederhana ini yaitu penyelesaian perkara dilakukan dengan efektif dan dengan cara atau prosedur yang jelas, mudah dimengerti, dipahami dan tidak berbelit-belit yang dapat merugikan para pihak. Sudikno Mertokusumo menjelaskan maksud dari sederhana disini adalah acara yang jelas, mudah dipahami dan tidak berbelit-belit serta tidak terjebak pada formalitas yang tidak penting dalam persidangan. Makin sederhana yang diperlukan dalam beracara di Pengadilan maka semakin baik. Proses beracara dan pemeriksaan di Pengadilan harus berjalan secara sederhana, cepat dan biaya ringan tetapi tidak mengurangi ketetapan pemeriksaan dan penilaian terhadap hukum dan keadilan.5
Dalam perkara perdata, hakim harus membantu para pihak pencari keadilan untuk menemukan keadilan dan hak-hak para pihak dan berusaha sekuat-kuatnya untuk mengatasi segala hal yang dihadapi, baik berupa hambatan atau pun rintangan agar tercapainya Peradilan yang sederhana, cepat dan biaya ringan6 sesuai dengan Pasal 2 ayat (4) Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman.7
Dari ketiga putusan diatas, penulis melihat putusan ketiga tingkatan tersebut tidak menggunakan asas sederhana, cepat dan biaya ringan,
5 Dwi Rezki Sri Astarini, Mediasi Pengadilan: Salah Satu Bentuk Penyelesaian Sengketa Berdasarkan Asas Peradilan Cepat, Sederhana, Biaya Ringan, (Bandung: PT. Alumni, 2013
6 Nur Iftitah Isnantiana, “Legal Reasoning Hakim dalam Pengambilan Putusan Perkara di Pengadilan”, Islamadina Jurnal Pemikiran Islam, XVIII, 2, (Juni, 2017), h., 44
7 Dwi Rezki Sri Astarini, Mediasi Pengadilan: Salah Satu Bentuk Penyelesaian Sengketa Berdasarkan Asas Peradilan Cepat, Sederhana, Biaya Ringan, h., 55
karena sampai tingkat kasasi pun masih mempermasalahkan mengenai Hukum Acara Perdatanya terutama dalam hal mediasi. Mediasi di Pengadilan layaknya bersifat sukarela. Hal ini tentu saja bukan untuk mengkerdilkan peran mediasi Pengadilan, justru hal ini selaras dengan spirit awal dibuatnya mediasi di Pengadilan agar perkara yang masuk ke Pengadilan bisa menjadi cepat penyelesaiannya. Dalam hal ini mediasi di Pengadilan menggunakan asas sederhana, cepat dan biaya ringan. Seperti dalam buku Jacqueline M. Nolan Haley tentang Alternatif Dispute Resolution yang mengatakan dalam terjemahan :
“Saat program mediasi Pengadilan telah dijadikan alasan utama sebagai jalan untuk menyingkat waktu dan mengurangi biaya, beragam penelitian telah dilakukan untuk menguji validitas hal ini. Penelitian emepirik menunjukan, bagaimanapun juga waktu merupakan faktor yang relevan dalam menentukan apakah mediasi mengurangi biaya”.
Hal diatas juga menjadikan asas sederhana, cepat dan biaya ringan selaras dengan jalannya mediasi di Pengadilan, sehingga menjadikan perkara yang memang dari awal rumit tidak kehilangan banyak waktu dan biaya serta tidak berbelit-belit.8
Mengambil dan menjatuhkan putusan bukan hanya sekedar menerapkan hukum saja, akan tetapi majelis hakim juga sebagai penengah antara para pihak yang berperkara harus benar-benar merenungkan, mempertimbangkan banyak hal yang berkaitan dengan setiap permasalahan dengan tepat dan cermat, memiliki pengalaman yang cukup dan kemampuan penguasaan materi tentang hukum. Undang-undang tentang Kekuasaan Kehakiman memberikan ruang kepada hakim untuk merefleksikan bunyi Undang-undang sesuai dengan rasa keadilan untuk masyarakat. Melihat dari perkara putusan Pengadilan Agama Nomor 26/Pdt.G/2014/PA.JS, Pengadilan Tinggi Agama Nomor 58/Pdt.G/2015/PTA.JK dan Mahkamah Agung Nomor 190 K/Ag/2016 penulis mencoba menganalisis dari beberapa tujuan hukum yang harus
8 Dwi Rezki Sri Astarini, Mediasi Pengadilan: Salah Satu Bentuk Penyelesaian Sengketa Berdasarkan Asas Peradilan Cepat, Sederhana, Biaya Ringan, h., 220-221
60
diwujudkan secara integratif di dalam pertimbangan hukum putusan hakim yaitu : kepastian hukum, keadilan hukum dan kemanfaatan hukum.
Melihat dari pertimbangan-pertimbangan putusan diatas penulis meganalisis dengan menggunakan tiga teori hukum, yaitu :
1. Kepastian Hukum
Perkara dalam putusan tingkat banding Nomor 58/Pdt.G/2015/PTA.JK dalam pertimbangannya dapat di pahami bahwa Pengadilan Agama tingkat pertama sudah melanggar ketentuan Hukum Acara Peradilan Agama terutama dalam hal mediasi. Hal ini menjadi pertimbangan hakim tingkat banding memutuskan untuk membatalkan putusan Pengadilan Agama Jakarta Selatan, karena melihat Perma Nomor 1 tahun 2008 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan bahwa mediasi yang dilakukan dalam perkara Nomor 26/Pdt.G/2014/PA.JS yang tidak sesuai dengan Perma, maka putusan tersebut dinyatakan batal demi hukum (Pasal 2 ayat (3)).9
Dari putusan tersebut penulis merasa Pengadilan tingkat banding telah menggunakan teori kepastian hukum. Salah satu aspek dari asas kepastian hukum adalah penegakan hukum. Perlu adanya sinergi dalam meramu hukum saat diimplementasikan sehingga tidak adanya ketimpangan-ketimpangan saat mempraktikkan hukum di dalam pengadilan maupun di luar pengadilan. Implementasi hukum berdasarkan kaidahnya secara langsung akan mempengaruhi tatanan hukum baik vertikal maupun horizontal. Artinya tugas dan wewenang yang dimiliki para penegak hukum dapat memberikan jaminan kepastian hukum terhadap pelanggar atau korban secara proporsional (vertikal). Sedangkan pada sisi lain, cerminan hukum yang baik dapat dilihat saat seperangkat hukum secara bersama-sama melakukan kompromi hukum tentunya berdasarkan tufoksinya menyelenggarakan norma dengan baik (horizontal). Hal ini untuk menghindari adanya
9 Perma Nomor 1 tahun 2008 Tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan
tumpang tindih dan jurang pemisah antara aparat penegak hukum dalam menyelenggarkan hukum tertulis dengan masyarakat sebagai target dari norma tersebut.10
Unsur kepastian hukum berkaitan erat dengan keteraturan dalam masyarakat, karena kepastian merupakan inti dari keteraturan itu sendiri. Kepastian hukum berkaitan erat dengan efektivitas hukum.
Jaminan hukum akan muncul apabila negara memiliki sarana yang memadai dan efektivitas untuk melaksanakan peraturan-peraturan yang ada. Untuk terciptanya kepastian hukum tersebut perlu ada aturan hukum yang bersifat umum atau menyamaratakan. Kepastian hukum itu sendiri dapat diartikan berlakunya hukum secara tegas ditengah-tengah masyarakat. Hal ini sesuai dengan pendapat Sudikno Mertokusumo yang mengatakan bahwa kepastian hukum merupakan perlindungan yustitabeln terhadap tindakan sewenang-wenang yang berarti bahwa seseorang akan dapat memperoleh sesuatu yang diharapkan dalam keadaan tertentu.11
Putsan hakim merupakan bagian dari proses penegakan hukum yang bertujuan untuk mencapai salah satunya kebenaran hukum atau demi terwujudnya kepastian hukum.12 Kepastian hukum biasanya dapat diwujudkan dalam praktik kebiasaan-kebiasaan atau kebiasaan yang sudah diterima sebagai hukum dan peraturan Perundang-undangan. Jika dilihat dari dari putusan hakim dalam proses peradilan, kepastian hukum tidak lain apa yang dapat atau boleh diperbuat oleh seseorang dan sejauh mana seseorang itu dapat bertindak tanpa mendapat hukuman atau akibat dari perbuatan yang di kehendaki. Penciptaan kepastian hukum terutama dalam peraturan berupa
10 Suwardi Sagama, “Analisis Konsep Keadilan, Kepastian Hukum dan Kemanfaatan dalam Pengelolaan Lingkungan”, Mazahib, XV, 1, (Juni 2016), h., 24-34
11 Margono, Asas Keadilan, Kemanfaatan dan Kepastian Hukum dalam Putusan Hakim, h., 110-115
12 Fence M. Wantu, “Mewujudkan Kepastian Hukum, Keadilan dan Kemanfaatan dalam Putusan Hakim di Peradilan Perdata” Jurnal Dinamika Hukum, 12, 3, (September 2012), h., 483
62
undangan sebagaimana dikatakan oleh Nur Hasan Ismail, memerlukan persyaratan yang berkenaan dengan struktur interbal dari norma hukum itu sendiri. Persyaratan internal tersebut yaitu sebagai berikut :
a. Kejelasan konsep yang digunakan, norma hukum berisi diskripsi mengenai perilaku tertentu yang kemudian disatukan kedalam konsep tertentu pula.
b. Kejelasan kewenangan dari lembaga pembentuk peraturan Perundang-undangan. Kejelasan hierarki ini penting karena menyangkut sah tidaknya, mengikat tidaknya Peraturan Perundang-undangan yang dibuatnya.
c. Adanya konsistensi norma hukum Perundang-undangan, artinya bahwa ketentuan-ketentuan dari sejumlah Peraturan Perundang-undangan yang terkait dengan satu subjek tertentu tidak saling bertentangan antara satu dengan yang lainnya.13
Dalam hal ini pengadilan tingkat banding telah sesuai dengan asas kepastin hukum Karena Pengadilan tingkat banding telah sesuai menerapkan norma yang berlaku dan majelis hakim tingkat banding melihat dari fakta yang dilihatnya.
2. Keadilan Hukum
Melihat dari kasus ini dalam tingkat kasasi perkara Nomor 190 K/Ag/2016 mengenai perkara mediasi yang dilakukan oleh Pengadilan tingkat pertama, dalam petimbangannya kasasi menyebutkan Pengadilan tingkat banding yang memerintahkan Pengadilan Agama Jakarta Selatan untuk memeriksa kembali perkara tersebut tidak tepat.
Menurut kasasi, perkara yang sudah diperiksa tidak dapat di periksa ulang karena perkara sudah diperiksa secara lengkap, kecuali dengan adanya gugatan baru. Karena melihat Pengadilan tingkat pertama telah
13 Margono, Asas Keadilan, Kemanfaatan dan Kepastian Hukum dalam Putusan Hakim, h., 116-117
melanggar ketentuan hukum acara perdata, maka Makhamah Agung mengadili sendiri dengan membatalkan putusan Pengadilan Agama Jakarta Selatan dan membatalkan putusan Pengadilan Tinggi Agama.14 Menurut penulis pertimbangan hakim tingkat kasasi lebih condong melihat kepada Para Pihak.
Melihat dari pertimbangan tersebut, penulis melihat terdapat teori keadilan hukum yang digunakan oleh Mahkamah Agung. Mengadili dengan menurut hukum haruslah selalu berorientasi kepada tiga tujuan hukum tersebut yaitu dengan kepastian hukum, kemanfaatan dan keadilan, karena telah menjadi amanat UUD 1945 dan UU Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman. 15 Putusan hakim diharapkan sedapat mungkin harus memenuhi rasa keadilan, yaitu rasa kedilan yang dapat dirasakan oleh para pihak dalam setiap berperkara.
Keadilan yang dimaksud disini yaitu keadilan yang diterima dan dapat dirasakan oleh para pihak.16
Menurut Aristoteles yang menggemukakan bahwa keadilan ialah tindakan yang terletak diantara memberikan terlalu banyak dan juga sedikit yang dapat diartikan ialah memberikan sesuatu kepada setiap orang sesuai dengan memberi apa yang menjadi haknya. Aristoteles berpendapat bahwa keadilan akan terlaksana bilamana hal-hal yang sama diperlakukan secara sama dan hal-hal yang tidak sama secara tidak sama.17
Keadilan adalah nilai penting dalam hukum berbeda dengan kepastian hukum yang untuk menyamaratakan, sedangkan keadilan bersifat individul. Dalam pelaksanaan dan penegakan hukum haruslah
14 Putusan Mahkamah Agung Nomor 190/K/Ag/2016
15 Syarif Mappiasse, Logika hukum Pertimbangan Putusan Haki, (Jakarta : Prenadamedia Group, 2015, Cetakan Pertama), h., 3-4
16 Margono, Asas Keadilan, Kemanfaatan dan Kepastian Hukum dalam Putusan Hakim,, h., 110
17 Adriana Pakendek, “Cerminan Keadilan Bermartabat dalam Putusan Pengadilan Berdasarkan Pancasila”, Jurnal Yustitia, 18, 01 (Mei 2017), h.,27
64
dilaksanakan secara adil, meskipun hukum tidak identik dengan keadilan, karena hukum bersifat umum, sedangkan keadilan bersifat individual. Keadilan bersifat subjektif dan dapat dilihat dari 2 (dua) pengertian pokok, yaitu pengertian formal yang berarti menuntut berlakunya secara umum, dan pengertian materiil berarti setiap hukum harus sesuai dengan cita-cita keadilan masyarakat.18 Mahfud MD menyebutkan Negara hukum Indonesia dikonsepkan dengan tegas bahwa Negara Indonesia adalah Negara Hukum yang primistis menggabungkan segi-segi positif antara rechstaat dengan kepastian hukumnya dan the rule of law dengan rasa keadilannya secara integratif. Menurut Satjipto Rahardjo, hakim dalam memberikan rasa keadilan tidak semata-mata menggunakan kacamata perspektif, yakni melihat hukum hanya sebagai sistem kaidah. Padahal hukum itu bukan ilmu eksakta atau matrik. Di sinilah pengalaman hakim dapat diasah agar hakim tidak sekedar sebagai cerobong undang-undang.
Dalam bukunya Nichomacen Ethics, Aristoteles sebagaimana dikutip Shidarta telah menulis secara panjang lebar tentang keadilan. Ia menyatakan, keadilan adalah kebajikan yang berkaitan dengan hubungan antar manusia. Kata adil mengandung lebih dari satu arti.
Adil dapat berarti menurut hukum, dan apa yang sebanding, yaitu yang semestinya.19 Aristoteles melihat masalah keadilan dari segi kesamaan yang menghendaki agar sumber daya di dunia ini diberikan asas-asas persamaan kepada anggota-anggota masyarakat atau negara.20
Konsep keadilan dimaksud dalam sistem Peradilan Perdata adalah keadilan yang diberikan oleh hakim selama berjalannya Persidangan sampai jatuhnya putusan sesuai dengan tugasnya untuk memeriksa, mengadili dan memutuskan perkara yang ditanganinya.
18 Margono, Asas Keadilan, Kemanfaatan dan Kepastian Hukum dalam Putusan Hakim, h., 105
19 Syarif Mappiasse, Logika hukum Pertimbangan Putusan Hakim, h., 3-4
20 Margono, Asas Keadilan, Kemanfaatan dan Kepastian Hukum dalam Putusan Hakim, h., 106
Mengenai isi keadilan sukar untuk diberi batasan, Aristoteles membedakan keadilan menjadi dua yaitu keadilan komutatif dan keadilan distributif. Maksud dari keadilan komutatif bersifat mutlak dan dikatakan adil apabila setiap orang mendapatkan perlakuan yang sama tanpa memandang kedudukan dan sebagainya. Keadilan distributif bersifat proposional karena menuntut agar setiap orang mendapatkan apa yang menjadi hak atau bagiannya. Jatah yang diberikan ini tidak sama, melainkan tergantung dengan kekayaan, kelahiran, pendidikan dan sebagainya.21
Dalam hal ini menurut penulis tingkat kasasi lebih condong kepada asas keadilan karena putusan dalam perkara ini batal demi hukum dan harus diberi status hukum agar Para Pihak bisa mendaftarkan ulang dan meminta keadilan untuk setiap Para Pihak itu sendiri. Kekuasaan kehakiman yang dijelaskan dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman harus mampu memberikan rasa keadilan kepada masyarakat dan para pencari keadilan. Proses peradilan yang dilakukan diharapkan mampu memberikan keadilan bukan hanya kepastian hukum semata.
Kekeliruan atau kesalahan hakim dalam memutus perkara yang salah, sangat merugikan para pencari keadilan dan akan melahirkan konflik-konflik sosial yang tidak inginkan. Maka dari itu, putusan pengadilan dalam hal ini adalah putusan hakim harus mampu memberi rasa keadilan pada masyarakat. Untuk memberikan putusan pengadilan yang benar-benar menciptakan kepastian hukum dan mencerminkan keadilan, Hakim yang melaksanakan peradilan harus benar-benar mengetahui duduk perkara yang sebenarnya dan peraturan hukum yang mengaturnya untuk diterapkan, baik peraturan hukum yang tertulis
21 Elisabeth Nurhini Butarbutar, “Konsep Keadilan Dalam Sistem Peradilan Perdata”, Mimbar Hukum, 21, 2, (Juni 2009), h., 365
66
dalam peraturan perundang-undangan maupun hukum yang tidak tertulis dalam hukum adat.22
3. Kemanfaatan Hukum
Artikulasi hukum akan menciptakan hukum yang sesuai dengan cita-cita masyarakat. Karenanya muara hukum tidak hanya dalam keadilan dan kepastian hukum saja, akan tetapi aspek kemanfaatan juga harus terpenuhi. Jeremy Bentham mengatakan untuk mencapai sebuah kebahagiaan dalam hukum tidak hanya membahas keadilan dan kepastian, namun juga kemanfaatan.23 Untuk mengetahui putusan hakim ini mencerminkan kemanfaatan atau tidak, majelis hakim Pengadilan Agama Jakarta Selatan mempertimbangan sebagaimana yang telah di paparkan dalam pertimbangannya yaitu, dalam Putusan Nomor 26/Pdt.G/2014/PA.JS, masalah yang disengketakan antara pihak Para Penggugat dan Para Tergugat ialah mengenai pembagian harta
Artikulasi hukum akan menciptakan hukum yang sesuai dengan cita-cita masyarakat. Karenanya muara hukum tidak hanya dalam keadilan dan kepastian hukum saja, akan tetapi aspek kemanfaatan juga harus terpenuhi. Jeremy Bentham mengatakan untuk mencapai sebuah kebahagiaan dalam hukum tidak hanya membahas keadilan dan kepastian, namun juga kemanfaatan.23 Untuk mengetahui putusan hakim ini mencerminkan kemanfaatan atau tidak, majelis hakim Pengadilan Agama Jakarta Selatan mempertimbangan sebagaimana yang telah di paparkan dalam pertimbangannya yaitu, dalam Putusan Nomor 26/Pdt.G/2014/PA.JS, masalah yang disengketakan antara pihak Para Penggugat dan Para Tergugat ialah mengenai pembagian harta