v ABSTRAK
Dede Siti Nurhasanah. NIM 11150440000084. CACAT FORMIL PADA PROSEDUR MEDIASI (Analisis Putusan Nomor 26/Pdt.G/2014/PA.JS, Putusan Nomor 58/Pdt.G/2015/PTA.JK dan Putusan Nomor 190 K/Ag.2016). Program Studi Hukum Keluarga (Ahwal Syakhsiyyah), Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 1441 H/2019 M. (xvi halaman, 83 halaman).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana perbandingan pertimbangan hakim pada tingkat pertama Putusan Nomor 26/Pdt.G/2014/PA.JS, tingkat banding Putusan Nomor 58/Pdt/G/2015/PTA.JK dan kasasi Putusan Nomor 190 K/Ag/2016 dalam memutuskan sengketa waris dan untuk mengetahui bagaimana prosedur mediasi dalam perkara Nomor 26/Pdt.G/2014/PA.JS.
Penelitian menggunakan jenis penelitian kualitatif sedangkan pendekatan penelitian menggunakan penelitian yuridis normatif dengan sumber data berupa putusan tingkat pertama Nomor 26/Pdt.G/2014/PA.JS, tingkat banding Nomor 58/Pdt.G/2015/PTA.JK dan Kasasi Nomor 190 K/Ag/2016 dengan mempelajari literatur-literatur, peraturan perundang- undangan, buku-buku serta tulisan-tulisan para sarjana yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Analisis data menggunakan Content Analysis.
Hasil penelitian ini dalam perbandingan pertimbangan hakim mengenai penentuan ahli waris dan hibah wasiat putusan Nomor 26/Pdt.G/2014/PA.JS, banding Nomor 58/Pdt.G/2015/PTA.JK dan kasasi Nomor 190 K/Ag/2016, melihat dalam hal putusan cacat formil akibat prosedur mediasi tidak menerapkan asas sederhana, cepat dan biaya ringan.
Dalam 3 teori tujuan hukum, Pengadilan Tingkat Pertama lebih condong kepada asas kemanfaatan, Pengadilan Tingkat Banding lebih condong kepada asas kepastian hukum dan Tingkat Kasasi lebih condong kepada asas keadilan hukum. Selanjutnya dalam prosedur mediasi Pengadilan tingkat pertama tidak sesuai dengan Perma Nomor 1 tahun 2008 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan dalam hal pemilihan mediator yang dilakukan oleh kuasa hukum dan penundaan mediasi yang dilakukan oleh mediator.
Kata Kunci : Mediasi, Putusan, Mediator, Pembimbing : Ali Mansur, M.A.
Daftar Pustaka : 2004 s.d 2019 M
vi
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim, segala puja dan puji syukur kehadirat Allah SWT tuhan semesta alam, yang telah memberikan segala nikmat yakni nikmat iman islam serta karunia Allah kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Cacat Formil Pada Prosedur Mediasi (Analisis Putusan Nomor 26/Pdt.G/2014/PA.JS, Putusan Nomor 58/Pdt.G/2015/PTA.JK dan Putusan Nomor 190 K/Ag/2016)”. tidak lupa Shalawat serta salam semoga selalu tercurah limpahkan kepada baginda Nabi Muhammad SAW, yang telah membawa ummatnya menuju jalan yang lurus dan yang diridhoi oleh Allah SWT.
Dalam penyelesaian skripsi ini banyak rintangan dan hambatan yang datang silih berganti. Namun berkat bantuan dan motivsi dari berbagai pihak maka penulis dapat melewati semuanya tentunya dengan izin yang Maha Kuasa.
Oleh karena itu penulis merasa perlu mengucapkan terima kasih yang sebesar- besarnya kepada :
1. Prof. Dr. Hj. Amany Burhanudin Umar Lubis, Lc, M.A., Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Dr. Ahmad Tholabi Kharlie, M.A., Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta berikut para wakil Dekan I, II, dan III Fakultas Syariah dan Hukum.
3. Dr. Mesraini, M.Ag., dan Ahmad Chairul Hadi, M.A., selaku Ketua Program Studi Hukum Keluarga dan Sekretaris Program Studi Hukum Keluarga Fakultas Syariah dan Hukum yang selalu memberikan dukungan kepada penulis serta memberikan motivasi untuk secepatnya menyelesaikan penyusunan skripsi ini.
4. Dr. Azizah, M.A., selaku Dosen Penasehat Akademik yang selalu membimbing penulis dan mendengarkan keluh kesah penulis dari awal perkuliahan sampai dengan sekarang.
vii
5. Ali Mansur, M.A., selaku Dosen Pembimbing Skripsi penulis, yang selalu membimbing penulis dengan penuh kesabaran, selalu memberikan arahan serta masukan yang sangat penulis butuhkan saat menyusun skripsi ini, sehingga merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi penulis karena telah dibimbing oleh orang hebat seperti beliau.
6.
Dr. Muhammad Ali Hanafiah Selian S.H., M.H dan Sri Hidayati M.Ag selaku dosen Penguji yang telah memberikan banyak masukan untuk penyempurnaan sistematika penulisan skripsi ini.7.
Para Dosen Fakultas Syariah dan Hukum, yang telah mendidik penulis dan memberikan ilmuannya sehingga skripsi ini dapat tuntas.8. Kedua orang tua penulis, teruntuk bapak Sulaeman dan umi Enok Komariyah, terima kasih penulis ucapkan yang sebesar-besarnya atas dukungan yang selalu diberikan baik secara formil maupun materil dan terima kasih untuk doa yang selalu dipanjatkan kepada Allah SWT untuk penulis yang tak henti-hentinya agar penulis selalu bersemangat untuk menyelesaikan skripsi ini, serta didikanmu selama ini yang telah menjadikan penulis seperrti ini.
9. Terima kasih untuk kakakku Mohamad Asep Setiyadi, teteh iparku Dewi, adikku Muhammad Fahza Nazril Setiyadi, Keponakanku Nahda Nurfalah Setiyadi dan nenekku Mak Ami yang selalu memberikan sebagian kebahagiaan dan doa mereka untuk bisa berbagi dengan penulis.
10. Keluarga besar (alm) bapak Aswa dan (alm) bapak Jumyati yang selalu mendoakan yang terbaik untuk penulis.
11. Sahabatku WABF yang selalu memberikan suport tambahan, motivasi, perhatian lebih dan selalu ada untuk penulis meskipun mereka jauh dengan penulis yaitu Dini, Nuni, Hafsah, dan Gita.
12. Sahabat misqueenku dan sahabat KKN Bahtera 51 2018 yang selalu membuat penulis tertawa, menghibur dan tidak merasakan kejenuhan selama menulis skripsi Nadel, Dara, Tasnim, Lae, Pace, Arif, Herman dan sahabat KKN Bahtera 51 2018 lainnya.
viii
13. Sahabat sedari PKL sewaktu SMK yaitu Wikeu dan Marni yang selalu ada mensuport penulis dan mendengarkan keluh kesah yang penulis rasa meskipun dari kejauhan.
14. Senior sekaligus kaka tingkat dari Pondok yang membantu penulis dan mendengarkan keluhan penulis saat penulis menyusun skripsi ini ka Lutfi.
15. Sahabat seperjuangan Vio, Novi, Desi, Iis, Imamah, Lala, Dina, Hana, Devy dan Saadah yang sedari awal penulis berada disini sampai sekarang yang selalu memberikan suport, mendengarkan keluhan penulis, menemani penulis, membantu penulis saat penulis menemukan hambatan dalam penyusunan skripsi ini dan selalu memberikan segala bentuk perhatian dan pengertiannya saat penulis menyelesaikan skripsi ini. Sahabat seperjuangan bolak balik mempersiapkan untuk daftar sidang Aida dan mba Fifi.
16. Sahabat Kampung Pergerakan 2015 Hukum Keluarga yang selalu mensuport penulis dan menghibur penulis.
Akhir kata, penulis berharap semoga Allah SWT membalas jasa-jasa mereka, kebaikan mereka, dan melindungi mereka baik di dunia maupun di akhirat kelak, Amiin! Semoga skripsi ini membawa berkah dan banyak manfaat bagi para pembaca walaupun masih banyak kekurangan ketidak sempurna, karena kesempurnaan hanya milik Allah SWT.
Jakarta, 20 Januari 2020
Dede Siti Nurhasanah
ix
PEDOMAN TRANSLITERASI
Hal yang dimaksud dengan transliterasi adalah alih aksara dari tulisan asing (terutama Arab) ke dalam tulisan Latin. Pedoman ini diperlukan terutama bagi mereka yang dalam teks karya tulisnya ingin menggunakan beberapa istilah Arab yang belum dapat diakui sebagai kata bahasa Indonesia atau lingkup masih penggunaannya terbatas.
a. Padanan Aksara
Berikut ini adalah daftar akasara Arab dan padanannya dalam aksara Latin:
Huruf Arab Huruf Latin Keterangan
ا Tidak Dilambangkan
ب B Be
ت T Te
ث Ts te dan es
ج J Je
ح h} ha dengan garis bawah
خ Kh ka dan ha
د D De
ذ Dz de dan zet
ر R Er
س Z Zet
x
س S Es
ش Sy es dan ye
ص s} es dengan garis bawah
ض d} de dengan garis bawah
ط t} te dengan garis bawah
ظ z} zet dengan garis bawah
ع „ koma terbalik diatas hadap
kanan
غ Gh ge dan ha
ف F Ef
ق Q Qo
ك K Ka
ل L El
م M Em
ن N En
و W We
ه H Ha
ء „ Apostrop
ي Y Ya
xi b. Vokal Pendek dan Vokal Panjang
Vokal Pendek Vokal Panjang
_____ َ______ = a اَى = a>
_____ ِ______ = i يِى = i>
_____ ُ______ = u وُى = u>
c. Diftong dan Kata Sandang
Diftong Kata Sandang
ي َأ __ = ai )لا( = al
و َأ __ = aw )شلا( = al-sh
)لاو( = wa al-
d. Tasydid (Syaddah)
Dalam alih aksara, syaddah atau tasydid dilambangkan dengan huruf, yaitu dengan menggandakan huruf yang diberi tanda syaddah. Tetapi, hal ini tidak berlaku jika huruf yang menerima tanda syaddah itu terletak setelah kata sandang yang diikuti oleh huruf-huruf syamsiyyah. Misalnya: al-Syuf’ah, tidak ditulis asy-syuf’ah.
e. Ta Marbutah
Jika ta marbutah terdapat pada kata yang berdiri sendiri (lihat contoh 1) atau diikuti oleh kata sifat (na‟t) (lihat contoh 2), maka huruf ta marbûtah tersebut dialihaksarakan menjadi huruf “h” (ha). Jika huruf ta marbûtah tersebut diikuti dengan kata benda (ism), maka huruf tersebut dialihasarakan menjadi huruf “t” (te) (lihat contoh 3).
xii
Kata Arab Alih Aksara
ةعيزش syarî „ah
ةيم لاسلإا ةعيزشلا al- syarî „ah al-islâmiyyah ةه اذملا ةنراقم Muqâranat al-madzâhib
Beberapa ketentuan lain dalam EYD juga dapat diterapkan dalam alih aksara ini, misalnya ketentuan mengenai huruf cetak miring atau cetak tebal.
Berkaitan dengan penulisan nama, untuk nama-nama yang berasal dari dunia Nusantara sendiri, disarankan tidak dialihaksarakan meski akar kara nama tersebut berasal dari Bahasa Arab. Misalnya: Nuruddin al-Raniri, tidak ditulis Nûr al-Dîn al-Rânîrî.
Istilah keislaman (serapan) : istilah keislaman ditulis dengan berpedoman kepada KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), sebagai berikut contoh :
No Transliterasi Asal Dalam KBBI
1 Al-Qur‟an Alquran
2 Al-Hadisth Hadis
3 Sunnah Sunah
4 Nas Nas
5 Tafsir Tafsir
6 Fiqh Fikih
Dan lain-lain (lihat KBBI)
xiii DAFTAR ISI
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
LEMBAR PERNYATAAN ... iii
LEMBAR PENGESAHAN PANITIA UJIAN SKRIPSI ... iv
ABSTRAK ... v
KATA PENGANTAR ... vi
PEDOMAN TRANSLITERASI ... ix
DAFTAR ISI ... xiii
BAB I ... 1
PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi, Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 5
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 6
D. Tinjauan (Review)Studi Terdahulu ... 6
E. Kerangka Teori ... 8
F. Metode Penelitian ... 10
G. Sistematika Penulisan ... 12
BAB II ... 14
KONSEP UMUM MEDIASI DALAM PELAKSANAAN PERSIDANGAN ... 14
A. Konsep Mediasi ... 14
1. Sejarah Berkembangnya Mediasi ... 14
2. Pengertian Mediasi ... 18
3. Tujuan dan Manfaat Mediasi ... 21
4. Proses Mediasi ... 23
5. Mediator ... 27
B. Prosedur Persidangan Hukum Acara ... 30
xiv
BAB III ... 34
GAMBARAN UMUM PUTUSAN NOMOR 0026/Pdt.G/2014/PA.JS, PUTUSAN NOMOR 58/Pdt.G/2015/PTA.JK dan PUTUSAN NOMOR 190 K/Ag/2016 TENTANG WARIS ... 34
A. Putusan No. 0026/Pdt.G/2014/PA.JS ... 34
1. Duduk Perkara ... 34
2. Pertimbangan Hakim ... 39
3. Amar Putusan ... 47
B. Putusan No. 58/Pdt.G/2015/PTA.JK ... 48
1. Duduk Perkara ... 48
2. Pertimbangan Hakim ... 48
3. Amar Putusan ... 50
C. Putusan No. 190 K/Ag/2016 ... 51
1. Duduk Perkara ... 51
2. Pertimbangan Hakim ... 52
3. Amar Putusan ... 53
BAB IV ... 54
ANALISIS PENERAPAN HUKUM ACARA DALAM PUTUSAN NOMOR 26/Pdt.G/2014/PA.JS, PUTUSAN NOMOR 58/Pdt.G/2015/PTA.JK DAN PUTUSAN NOMOR 190/K/Ag/2016 ... 54
A. Perbandingan Pertimbangan Hakim Tingkat Pertama, Banding dan Kasasi ... 54
B. Analisis Prosedur Mediasi Perkara Nomor 190 K/Ag/2016 ... 68
BAB V ... 77
KESIMPULAN ... 77
A. Kesimpulan ... 77
B. Saran-saran ... 78 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Hukum bukanlah hanya semata-mata sebagai pedoman dan harus diketahui saja, melainkan untuk dilaksanakan atau ditaati sesuai peraturan yang ada. Inti hukum terletak pada asas-asasnya yang kemudian diformulasikan menjadi perangkat Peraturan Perundang-undangan. Dalam UU No. 7 Tahun 1989 terdapat asas-asas umum Peradilan Agama dan disebut sebagai asas umum Peradilan Agama dan yang menjadi perbedaan dengan asas khusus yaitu terletak pada suatu masalah tertentu yang sangat melekat. Asas ini menjadi pedoman umum dalam melaksanakan penerapan Undang-undang dan lain-lainnya.1
Konflik tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Meskipun dalam setiap kajian menunjukan bahwa tidak semua konflik itu selalu berakibat fatal untuk yang bersengketa atau berakibat buruk dampak kedepannya. Konflik mengajarkan dan meningkatkan kemampuan setiap orang yang berkonflik untuk beradaptasi dengan lingkungannya, menumbuhkan sikap toleran kepada setiap pendapat yang dipaparkan oleh setiap orang yang berbeda, meningkatkan kualitas hubungan baik, kematangan pikologis seseorang, hingga terciptanya keharmonisan.
Konflik dapat mendorong dinamika dalam isntitusi organisasi. Meskipun begitu, masyarakat Indonesia cenderung menilai konflik sebagai bentuk permusuhan, tindakan yang agresif, penuh kekerasan, rasa dendam dan membuat hubungan antar manusia tidak berjalan dengan sangat baik. 2
1 Zulkarnaen dan Dewi Mayaningsih , Hukum Acara Peradilan Agama di Indonesia, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2017) h.246-247
2 Septi Wulan Sari, “Mediasi dalam Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2016”, Ahkam, Vol 5 No. 1 (Juli, 2017) h.,1-2
2
Konflik diyakini dan dipahami betul ada karena disebabkan oleh kebutuhan, kepentingan, keinginan atau nilai-nilai dari seseorang yang berbeda atau tidak sama sekali dengan orang lain.3
Konflik yang terjadi antar manusia dengan manusia lain sering terjadi dalam wilayah publik maupun privat. Persengketaan dalam wilayah publik berkaitan dengan kepentingan umum dimana negara ikut campur dalam menyelesaikan persengketaan yang terjadi. Dalam dimensi ini, seorang pelaku kejahatan yang bersengketa atau berperkara dengan negara dan ia tidak dapat menyelesaikan persengketaanya dengan cara perdamaian atau kesepakatan bersama kepada Negara. Berbeda dengan halnya dalam hukum privat atau disebut juga hukum perdata, dimana dititk beratkan kepada kepada kepentingan perseorangan (pribadi).
Dimensi privat mencakup dalam hukum keluarga, hukum perjanjian (kontrak), hukum kewarisan, hukum kekayaan, bisnis dan lain-lain.
Dalam dimensi hukum privat atau perdata ini para pihak yang berperkara dapat menyelesaikan perkara mereka melalui jalur hukum dan dibawa kepengadilan atau di luar pengadilan. Negara memberikan fasilitas untuk orang yang ingin menyelesaikan perkara untuk mencari keadilan atau untuk meminta haknya melalui Pengadilan. Hal ini dikarenakan hukum privat atau perdata di titik beratkan kepada para pihak yang berperkara bukan untuk kepentingan umum.
Mediasi disebut sebagai salah satu alternatif bentuk penyelesaian sengketa ruang lingkup dalam wilayah hukum privat atau perdata. Mediasi bisa ditempuh para pihak didalam pengadilan maupun di luar pengadilan.4 Penyelesian yang dilakukan melalui mediasi yaitu dengan bantuan pihak ketiga (mediator) yang netral yang bertugas membantu para pihak yang berperkara untuk menyelesaikan masalah atau mencarikan solusi bersama.5
3 BP4 Pusat (Badan Penasihat Pembinaan Pelestarian Perkawinan ) Jakarta Pusat, h., 23
4 Syahrizal Abbas, mediasi: Dalam Prespektif Hukum Syariah, Hukum Adat, dan Hukum Nasional. (Jakarta:Kencana Prenada Media Grup. 2009, Cet. Pertama), h., 21-23
5 BP4 Pusat (Badan Penasihat Pembinaan Pelestarian Perkawinan ) Jakarta Pusat, h., 27
Mediasi merujuk pada buku ke-3 Kitab Undang-undang Hukum Perdata yaitu disebut salah satu bentuk perikatan, mediasi juga disebut dengan perdamaian dan pengertian dari perdamaian terumus dalam Pasal 1851 KUH Perdata, yang berbunyi :
“Perdamaian adalah suatu persetujuan yang berisi bahwa dengan menyerahkan, menjanjikan atau menahan suatu barang, kedua belah pihak mengakhiri suatu perkara yang sedang diperiksa pengadilan atau pun mencegah timbulnya suatu perkara, persetujuan ini hanya mempunyai kekuatan hukum, bila dibuat secara tertulis.” 6
Mediasi yang dilakukan disetiap berperkara harus sesuai dengan Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) RI No. 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan adalah penyempurnaan terhadap Perma Nomor 1 Tahun 2008 dan Peraturan Mahkamah Agung RI No. 2 Tahun 2003 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan, mengingat belum optimalnya mediasi di Pengadilan yang masih dilakukan sebagai formalitas saja.7 Mediasi merupakan proses penyelesaian non litigasi, terdapat dua jenis mediasi yaitu: didalam pengadilan dan di luar pengadilan. Mediasi yang dilakukan didalam Pengadilan diatur dalam Perma No. 1 Tahun 2008 dan Mediasi di luar Pengadilan diatur oleh Undang-undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. 8
Berkaitan dengan uraian diatas, penulis menemukan permasalahan dalam putusan Pengadilan Agama Jakarta Selatan dengan nomor perkara 0026/Pdt.G/2014/PA.JS. Kronologis dari permasalahan dalam peranan Pengadilan Agama tingkat pertama, tingkat banding dan tingkat kasasi dalam menerapkan Hukum Acara Peradilan Agama dan dalam mewujudkan proses Mediasi dalam perkara Waris.
6 Edi As‟Adi, Hukum Acara Perdata Dalam Prespektif Mediasi (ADR) di Indonesia, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2012, Cetakan Pertama) h.,3
7 Rahmadi Usman, Mediasidi Pengadilan Dalam Teori dan Praktik, (Jakarta: Sinar Grafika, 2012, Cet. Pertama), h.,54
8 Septi Wulan Sari, “Mediasi dalam Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2016”, Ahkam, Vol 5 No. 1 (Juli, 2017) h., 2
4
Semasa hidupnya Pewaris telah menikah sebanyak 2 kali. Pada tahun 1978 telah terjadi perceraian pewaris dengan mantan istrinya terdahulu dan mempunyai 4 orang anak. Telah dilakukan pemisahan dan pembagian harta yang kemudian diberikan/dihibahkan kepada para Penggugat untuk biaya hidup dan pendidikan para Penggungat pada saat pewaris dan istri terdahulu masih hidup, karena Pewaris tidak mau anak- anaknya (para penggugat) dibiayai oleh suami baru mantan istrinya nanti.
Lalu Pewaris menikah lagi dengan Tergugat. Tergugat seorang janda dan mempunyai anak pada pernikahan sebelumnya. Pewaris meninggal tertanggal 17 April 2013. Para Penggugat dan Tergugat merebutkan perihal waris yang belum dibagikan setelah Pewaris meninggal dan mempermasalahkan Hibah Wasiat Nomor 13 tertanggal 28 Maret 2009 dan dibuat dihadapan Turut Tergugat yang diberikan Pewaris kepada anak tirinya yang melebihi 1/3 dan merugikan para Penggugat.
Para Penggugat melanjutkan ke tingkat banding karena merasa belum puas atas putusan tingkat pertama. Dalam pertimbangannya Pengadilan tingkat banding melihat dalam berita acara sidang mediasi dan pengadilan yang tidak terbuka untuk umum yang mengakibatkan Pengadilan tingkat banding membatalkan putusan tingkat pertama dan memerintahkan membuka kembali persidangan. Para Tergugat merasa kurang puas dalam putusan tingkat banding dan melanjutkan ke tingkat kasasi. Dalam tingkat kasasi Mahkamah Agung membatalkan putusan tingkat banding karena Mahkamah Agung menganggap Pengadilan tingkat banding memutuskan untuk memeriksa ulang perkara dalam tingkat pertama tidak tepat dan membatalkan putusan tingkat banding. Mengadili sendiri yaitu membatalkan putusan tingkat pertama dan menyatakan gugatan Para Penggugat tidak diterima (Niet Ontvankelijk Verklaard).
Berdasarkan uraian tentang permasalahan diatas, ada hal yang menarik untuk dikaji lebih lanjut tentang Cacat Formil Pada Prosedur Mediasi (Analisis Putusan Pengadilan Agama Jakarta Selatan Nomor 26/Pdt.G/2014/PA.JS, putusan Nomor 58/Pdt.G/2015/PTA.JK dan putusan
Nomor 190 K/Ag/2016). Dalam hal ini akan dijelaskan bagaimana majelis hakim tingat pertama maupun tingkat banding dalam menerapkan Hukum Acara Peradilan Agama tersebut.
Beranjak dari latar belakang diatas, penulis merasa tertarik untuk mengangkat sebuah judul “CACAT FORMIL PADA PROSEDUR MEDIASI (Analisis Putusan Nomor 26/Pdt.G/2014/PA.JS, Putusan Nomor 58/Pdt.G/2015/PTA.JK dan Putusan Nomor 190 K/Ag/2016)”.
B. Identifikasi, Pembatasan dan Perumusan Masalah 1. Identifikasi Masalah
a. Bagaimana prosedur mediasi yang sesuai dengan peraturan yang berlaku ?
b. Bagaimana prosedur mediasi yang sesuai dengan PERMA 01 Tahun 2008 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan ?
c. Bagaimana pertimbangan hakim dalam menerapkan hukum acara perdata yang berlaku pada putusan tingkat pertama sampai dengan tingkat kasasi ?
d. Apakah putusan No. 0026/Pdt.G/2014/PA.JS telah sesuai dengan hukum yang berlaku ?
e. Apakah putusan No. 58/Pdt.G/2015/PTA.JK telah sesuai dengan hukum yang berlaku ?
f. Apakah putusan No. 190 K/Ag/2016 telah sesuai dengan hukum yang berlaku ?
2. Batasan Masalah
Mengingat luasnya pembahasan yang berkenaan dengan putusan pengadilan agama Tingkat Pertama, Banding dan Kasasi yang ada pada peradilan di Indonesia, maka penulis disini membatasi dan berfokus pada putusan No. 26/Pdt.G/2014/PA JS, No. 58/Pdt.G/2015/PTA.JK dan No. 190 K/Ag/2016.
6
3. Perumusan masalah
a. Bagaimana perbandingan pertimbangan hakim Tingkat Pertama sampai dengan Kasasi?
b. Bagaimana analisis prosedur mediasi perkara Nomor 190 K/Ag/2016?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan penelitian
a. Untuk mengetahui perbandingan pertimbangan hakim dari tingkat pertama sampai dengan tingkat kasasi.
b. Untuk mengetahui bagaimana prosedur mediasi dalam perkara Nomor 190 K/Ag/2016.
2. Manfaat penelitian
a. Memberikan sumbangan pemikiran dan ilmu pengetahuan dalam perkembangan ilmu Hukum Acara Perdata.
b. Menjadi rujukan bagi akademisi tentang bagaimana analisis secara mendalam mengenai penerapan hukum acara peradilan agama yang diterapkan oleh para hakim dan tidak merugikan khalayak umum.
c. Selanjutnya menjadi bahan tambahan terhadap mahasiswa yang akan melakukan penelitian berkaitan dengan pembatalan putusan tehadap mediasi dan cacat formil.
D. Tinjauan (Review)Studi Terdahulu
Dari hasil pencarian pada karya tulis ilmiah yang berhubugan dengan cacat formil pada prosedur mediasi yang tidak sesuai dengan undang- undang yang berlaku, ternyata memiliki sejumlah bahasan yang berbeda.
Baik itu dalam objek kajian yang diteliti, adapun kajian terdahulu yang penulis temukan diantaranya,
1. Penulis juga menemukan studi terdahulu skripsi mengenai Studi Perbandingan Tentang penyelesaian sengketa kewarisan dengan cara mediasi oleh hakim di Pengadilan Agama kelas 1 A Padang. Yang ditulis oleh Arya Komandu. Menyimpulan bahwa dalam skripsi ini
Segala langkah tentang proses dalam pelaksanaan penyelesaian sengketa kewarisan secara mediasi oleh hakim di Pengadilan Agama Kelas IA Padang, bersumber pada pedoman mediasi Peraturan Pemerintah(PERMA) Nomor 1 Tahun 2008, dilakukan tanpa ada langkah yang ditambah dan dikurangi. Sehingga mediasi dapat dijalankan sesuai dengan yang diharapkan dan lancar. Namun dalam prakteknya ditemukan beberapa kendala, baik kendala yang ditimbulkan oleh para pihak, maupun kendala yang terdapat pada ruang lingkup di Pengadilan Agama Kelas IA Padang yang membuat pelaksanaan mediasi kurang berjalan lancar.9
2. Penulis juga menemukan studi terdahulu mengenai Studi Perbandingan tentang Mediasi Dalam Penyelesaian Sengketa Waris Prespektif Hukum Islam (studi Putusan No. 181/Pdt.G/2013/PA.Yk). Yang ditulis oleh Rini Fahriyani Ilham. Hasil penelitian dalam skripsi ini menyebutkan bahwa praktik mediasi pada sengketa waris dalam Putusan No. 181/Pdt. G/2013/PA.Yk secara garis besar telah sesuai dengan aturan dalam PERMA No. 1 Tahun 2008 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan dan telah mencapai perdamaian. Hanya saja perpanjangan waktu yang melebihi batas 14 (empat belas) hari untuk dapat menempuh mediasi lagi tidak diatur dalam PERMA No. 1 Tahun 2008.10
3. Studi terdahulu mengenai Efektifitas Mediasi di Pengadilan Agama (Studi Implementasi PERMA No. 1 Tahun 2008 Tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan Agama Bekasi), yang ditulis oleh Nur Hidayat.
Menyimpulkan bahwa dalam skripsi ini yaitu mengenai efektivitas mediasi di pengadilan agama bekasi dan implementasi perma nomor 1 tahun 2008 tentang prosedur mediasi yang menyebutkan bahwa mediasi
9 Arya Komandanu, “ Penyelesaian Sengketa Kewarisan dengan Cara Medaisi oleh Hakim di Pengadilan Kelas 1 A Padang” ( Universitas Andalas: 2015)
10 Rini Fahriyani Ilham, “Mediasi Dalam Penyelesaian Sengketa Waris Prespektif Hukum Islam (studi Putusan No. 181/Pdt.G/2013/PA.Yk)” (Universitas Sunan Kalijaga Yogyakarta: 2016)
8
yang dilakukan di PA Bekasi sudah sesuai dengan peraturan perma nomor 1 tahun 2008 tentang prosedur mediasi. Dilihat dari hasil target penerapan belum berhasil karena prosentase dari perkara yang di cabut (berhasil di mediasi) tidak sampai 15%, dan ada beberapa faktor yang mendukung dan faktor yang menjadi penghambat dari perma nomor 1 tahun 2008 tentang prosedur mediasi dipengadilan lainnya.11
Dari ketiga karya tulis diatas, ada beberapa perbedaan dengan skripsi penulis, yaitu penelitian penulis lebih menganalisis terhadap Cacat Formil Pada Prosedur Mediasi (Analisis Putusan Pengadilan Agama Jakarta Selatan No. 0026/Pdt.G/2014/PA.JS, No. 58/Pdt.G/2015/PTA.JK dan No.
190 K/190/Ag/2016).
E. Kerangka Teori
Kerangka teoritis lazimnya dipergunakan dalam penelitian ilmu-ilmu sosial dan juga dapat dipergunakan dalam penelitian hukum yaitu pada penelitian hukum sosiologis dan empiris. Kemudian membangun kerangka teoritis dan melakukan telaah pustaka merupakan satu tahap dalam proses penelitian dan menjadi elemen penting dalam format rencana penelitian yang dibuat.12
Pengintegrasian mediasi ke dalam proses beracara di Pengadilan dapat menjadi salah satu instrumen efektif mengatasi kemungkinan penumpukan perkara di Pengadilan. Dalam konteks Indonesia, praktik penyelesaian sengketa melalui mediasi ada dua cara, yaitu: melalui lembaga Peradilan (Judikasi) dan lembaga non Peradilan. Dalam lembaga Peradilan, peyelesaian sengketa melalui mediasi wajib dilakukan sebelum memasuki perkara, baik itu Peradilan Agama maupun Peadilan Umum.
11 Nur Hidayat, “Efektifitas Mediasi di Pengadilan Agama (Studi Implementasi PERMA No. 1 Tahun 2008 Tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan Agama Bekasi)” (Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatulla Jakarta: 2011)
12 Dwi Rezki Sri Astarini, Mediasi Pengadilan: Salah Satu Bentuk Penyelesaian Sengketa Berdasarkan Asas Peradilan Cepat, Sederhana, Biaya Ringan, (Bandung: PT. Alumni, 2013 Cetakan Pertama), h., 86
Di Indonesia, pengaturan mediasi di Pengadilan terdapat dalam Perma Nomor 2 Tahun 2003 yang disempurnakan dengan Perma Nomor 1 Tahun 2008 dan sekarang telah disempurnakan lagi ke dalam Perma Nomor 1 Tahun 2016. Mediasi di Pengadilan memiliki karakteristik tersendiri yang berbeda dalm mengatur mediasi, seperti prosedur melakukan mediasi Pengadilan. Dalam Perma Nomor 1 Tahun 2008 medasi di Pengadilan menjadi wajib untuk di lakukan sebelum ke tahap sidang selanjutnya. Pasal 4 Perma Nomro 1 Tahun 2008 menegaskan jika tidak melalui mediasi terlebih dahulu maka hakim mewajibkan untuk terlebih dahulu melakukan mediasi. Jika mediasi yang dilakukan tidak sesuai Perma Nomor 1 Tahun 2008 maka putusan itu batal demi hukum.13
Sebagai subyek hukum, manusia memiliki peran yang esensial dalam mencapai keadilan, kepastian dan kemanfaatan hukum. Manusia dapat mengendalikan sebagaimana yang diinginkan, namun tetap dalam aturan norma hukum, sehingga tidak keluar dari jalur yang seharusnya dilakukan.14 Menurut Gustav Radbruch, sebagaimana dikutip oleh Sudikno Mertokusumo, bahwa menegakan hukum harus memenuhi 3 (tiga) unsur, yaitu kepastian, kemanfaatan dan keadilan hukum, dimana diantara ketiganya harus ada kompromi yang dalam prakteknya tidak mudah untuk mencapai ketiga unsur tersebut. Bagi Radbruch, ketiga ide dasar hukum itu merupakan tujuan hukum secara bersama-sama. Dalam implementasinya terkadang sulit untuk mensinergikan antara ketiga unsur tersebut, terutama antara keadilan dan kepastian yang bisa saja saling bertentangan.
Keadilan adalah nilai penting dalam hukum berbeda dengan kepastian hukum yang untuk menyamaratakan, sedangkan keadilan bersifat individul. Dalam pelaksanaan dan penegakan hukum haruslah dilaksanakan secara adil, meskipun hukum tidak identik dengan keadilan, karena hukum bersifat umum, sedangkan keadilan bersifat individual.
13 Rachmadi Usaman, Mediasi di Pengadilan Dalam Teori dan Praktek, (Jakarta : Sinar Grafika, 2012, Cet. Pertama), h., 61-68
14 Suwardi Sagama, “Analisis Konsep Keadilan, Kepastian Hukum dan Kemanfaatan dalam Pengelolaan Lingkungan”, Mazahib, XV, 1, (Juni 2016), h., 22
10
Aristoteles melihat masalah keadilan dari segi kesamaan yang menghendaki agar sumber daya di dunia ini diberikan asas-asas persamaan kepada anggota-anggota masyarakat atau negara.
Unsur kepastian hukum berkaitan erat dengan keteraturan dalam masyarakat, karena kepastian merupakan inti dari keteraturan itu sendiri.
Untuk terciptanya kepastian hukum tersebut perlu ada aturan hukum yang bersifat umum atau menyamaratakan. Kepastian hukum itu sendiri dapat diartikan berlakunya hukum secara tegas ditengah-tengah masyarakat. Hal ini sesuai dengan pendapat Sudikno Mertokusumo yang mengatakan bahwa kepastian hukum merupakan perlindungan yustitabeln terhadap tindakan sewenang-wenang yang berarti bahwa seseorang akan dapat memperoleh sesuatu yang diharapkan dalam keadaan tertentu.
Hukum yang baik adalah hukum yang memberikan kemanfaatan bagi manusia.15Artikulasi hukum akan menciptakan hukum yang sesuai cita-cita masyarakat. Karenanya muara hukum tidak hanya keadilan dan kepastian hukum, akan tetapi aspek kemanfaatan juga harus terpenuhi.
Pada kemanfaatan, Jeremy Bentham mengatakan untuk mencapai sebuah kebahagiaan dalam hukum tidak hanya membahas keadilan dan kepastian, namun juga kemanfaatan. Dikatakan juga bahwa sebuah norma dikatakan baik apabila berisikan kebahagian yang dirasakan masyarakat dominan (subyek hukum).16
F. Metode Penelitian
Dalam membahas penelitian ini, diperlukan suatu penelitian untuk memperoleh data yang berhubungan dengan masalah-masalah yang dibahas dan gambaran dari masalah tersebut secara jelas dan akurat. Ada beberapa metode yang akan penulis gunakan, antara lain:
1. Pendekatan Penelitian
15 Margono, Asas Keadilan, Kemanfaatan dan Kepastian Hukum dalam Putusan Hakim, h., 105-120
16 Suwardi Sagama, “Analisis Konsep Keadilan, Kepastian Hukum dan Kemanfaatan dalam Pengelolaan Lingkungan”, Mazahib, XV, 1, (Juni 2016), h., 24-34
Di dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan yuridis normatif yaitu pendekatan yang lebih menekankan kepada penerapan norma-norma atau kaidah hukum yang dilakukan dalam praktik hukum.
Terutama dalam melihat kasus yang telah diputus.
2. Jenis penelitian
Penelitian ini termasuk penelitian yang menggunakan jenis penelitian kualitatif yaitu jenis penelitian yang bertujuan untuk menemukan konsep dan teori, dan kepustakaan (library research) yaitu dengan mempelajari literatur-literatur, peraturan perundang-undangan, serta tulisan-tulisan para sarjana yang erat kaitannya dengan masalah yang diteliti.
3. Sumber Data
a. Data primer, yang didapat untuk penulisan ini berasal dari studi dokumentasi yaitu penelitian yang dilakukan di perpustakaan, dan lain-lain. Penulis menjadikan putusan Pengadilan Agama Jakarata Selatan No. 0026/Pdt.G/2014/PA.JS, Pengadilan Tinggi Agama No.
58/Pdt.G/2015/PTA.JK dan Kasasi No. 190 K/Ag/2016 sebagai data primer, untuk kemudian penulis melakukan analisis hukum terhadap pertimbangan tentang peranan pengadilan agama dalam menerapkan hukum acara dan prosedur mediasi dalam perkara waris.
b. Data Sekunder, untuk melengkapi data primer diperoleh dari studi kepustakaan dengan mengkaji dan menelusuri literature yang relevan baik berasal dari buku-buku, kitab fiqh, majalah, jurnal-jurnal, dan lain-lain yang berkaitan dengan pembahasan yang dikaji17
4. Teknik Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan studi kepustakaan penelusuran informasi dan data yang diperlukan dalam beberapa sumber.
Penyusunan dengan menggunakan studi kepustakaan dilakukan dengan cara membaca, mempelajari serta menganalisis literature atau buku-
17 Soekanto Soerjono, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta, Universitas
Indonesia, 1986), h., 11.
12
buku dan sumber lainnya yang berkaitan dengan tema penelitian.
Kepustakaan dilakukan dengan menggunakan buku-buku, kitab-kitab fiqh, perundang-undangan, dan yurisprudensi yang berhubungan dengan skripsi ini.
5. Pengolahan Data
Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode content analysis yaitu penelitian yang bersifat pembahasan mendalam terhadap isi suatu informasi tertulis digunakan untuk menganalisis dan memahami teks dalam hal ini adalah isi salinan Putusan Nomor 26/Pdt.G/2014/PA.JS, Putusan Nomor 58/Pdt.G/2015/PTA.JK dan Putusan Nomor 190 K/Ag/2016.
6. Teknik penulisan
Teknik penulisan penelitian ini merujuk pada pedoman penulisan skripsi Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang di terbitkan oleh Pusat Peningkatan Jaminan Mutu (PPJM) Fakultas Syariah dan Hukum tahun 2017.
G. Sistematika Penulisan
Untuk memudahkan pembahasan dalam penulisan, skripsi ini dibagi atas lima bab yang saling berkaitan satu sama lain.
Bab I, berisi pendahuluan yang meliputi latar belakang yang menjadi dasar mengapa penulisan ini diperlukan, identifikasi masalah, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, tinjauan studi terdahulu, kerangka teori, metode penelitian dan sistematika penulisan.
Bab II, berisi Konsep mediasi, meliputi konsep yang terdiri dari sejarah mediasi, pengertian mediasi, tujuan dan manfaat mediasi, proses mediasi dan mediator. Dalam konsep pelaksanaan persidangan dan asas- asas dalam penjatuhan putusan.
Bab III, berisi hasil penelitian dan pembahasan, pada bab ini terdiri dari deskripsi duduk perkara, memaparkan pertimbangan hakim tingkat
pertama No. 0026/Pdt.G/2014/PA.JS, hakim tinggat banding No.
58/Pdt.G/2015/PTA.JK dan tingkat kasasi No.190/K/Ag/2016.
Bab IV, merupakan bab inti yaitu bahasan utama dalam skripsi ini.
Yaitu analisis ketentuan cacat formil pada prosdur mediasi tingkat pertama Putusan Nomor 0026/Pdt.G/2014/PA.JS, Putusan Nomor 58/Pdt.G/2015/PTA.JK dan Putusan Nomor No.190/K/Ag/2016.
Bab V, merupakan bab akhir dalam penelitian ini. Terdiri dari penutup yang berisi kesimpulan dan saran-saran yang bersifat membangun, bagi penyempurnaan penelitian ini.
14 BAB II
KONSEP UMUM MEDIASI DALAM PELAKSANAAN PERSIDANGAN
A. Konsep Mediasi
1. Sejarah Berkembangnya Mediasi
Mediasi adalah sebagai salah satu alternatif di luar Pengadilan yang digunakan untuk menyelesaiakan suatu persengketaan dengan perdamaian. Praktik penyelesaian sengketa dengan perdamaian sebenarnya sudah dilakukan oleh masyarakat Indonesia berabad-abad tahun lamanya. Mediasi dengan landasan musyawarah ternyata memang sudah dilakukan dan lama berkembang di Indonesia.1 Indonesia sebagai suatu negara yang mempunyai kebaragaman suku, budaya, agama dan ras yang berbeda-beda sejak diproklamasikannya kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 agustus 1945 yang memiliki cita-cita mewujudkan tujuan nasional, seperti disebutkan dalam alenia ke empat Pembukaan Undang-undang Dasar 1945, yaitu untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.2
Sila ke empat ini, menghendaki bahwa upaya penyelesaian sengketa atau konflik dilakukan melalui musyawarah untuk mencapai mufakat yang diliputi oleh semangat kekeluargaan yang kuat. Artinya, bahwa setiap sengketa atau konflik selayaknya diselesaikan dengan cara perdamaian atau perundingan diatara kedua belah pihak yang bersengketa untuk memperoleh kesepakatan bersama. 3 Mediasi mendapat pengaturan tersendiri dalam sejumlah produk hukum Hindia
1Dwi Rezki Sri Astarini, Mediasi Pengadilan: Salah Satu Bentuk Penyelesaian Sengketa Berdasarkan Asas Peradilan Cepat, Sederhana, Biaya Ringan, (Bandung: PT. Alumni, 2013 Cetakan Pertama), h., 81-82
2Edi As‟Adi, Hukum Acara Perdata dalam Prespektif Mediasi (ADR) di Indonesia, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2012, Cetakan Pertama), h.,1
3 Rachmadi Usman, Mediasi di Pengadilan dalam Teori dan Praktik, (Jakarta : Sinar Grafika, 2012 Cetakan Pertama), h., 26
Belanda maupun setelah Indonesia merdeka sampai hari ini. Pengaturan alternatif sangat penting mengingat bahwa Indonesia adalah negara hukum karena mediasi dapat dilakukan oleh hakim di Pengadilan maupun lembaga lain di luar Pengadilan, sehingga keberadaannya memerlukan aturan hukum.
a. Mediasi Masa Kolonial Belanda
Pada masa kolonial Belanda, pengaturan penyelesaian sengketa melalui jalur damai lebih banyak ditujukan pada proses perdamaian dilingkungan Peradilan, sedangkan dalam penyelesaian perdamaian di luar pengadilan kolonial Belanda lebih cenderung memberikan kesempatan kepada hukum adat. Ketentuan dalam Pasal 130 HIR /154 R.Bg/31 Rv menggambarkan bahwa penyelesaian sengketa melalui jalur perdamaian merupakan bagian dari proses penyelesaian sengketa di Pengadilan. Upaya perdamaian merupakan kewajiban hakim dan hakim tidak boleh memutus perkara sebelum perkara tersebut menempuh jalur perdamaian terlebih dahulu. Jika kedua belah pihak setuju, maka hakim harus segera melakukan mediasi kepada kedua belah pihak, sehingga kedua belah pihak dapat menyelesaikan permasalahan dengan mencari kesepakatan yang dapat menyelesaikan sengketa tersebut.
Peraturan-peraturan pada masa kolonial Belanda diatur dalam Pasal 615-651 Rv (Reglement of de Rechtsvording, Staatsblad 1874:52) atau Pasal 377 HIR (Het Herziene Indonesich Reglement, Staatsblad 1941:44) yang juga mengatur penyelesaian sengketa melalui upaya perdamaian di luar Pengadilan. Namun upaya tersebut baru mengenal istilah arbitrase saja.
b. Mediasi Masa Kemerdekaan Indonesia Sampai Sekarang
Dalam Pasal 24 UUD 1945 ditegaskan bahwa kekuasaan kehakiman dilakukan oleh Mahkamah Agung dan badan Peradilan yang berada dibawahnya dalam Peradilan Umum, Peradilan Agama, Peradilan Militer dan Peradilan Tata Usaha dan oleh Mahkamah
16
Konstitusi. Ketentuan Pasal 24 UUD 1945 menyebutkan bahwa penyelesaian yang dilakukan oleh masyarakat melalui jalur Pengadilan (litigasi), namun demikian juga sistem hukum membuka peluang untuk menyelesaikan sengketa di luar jalur Pengadilan (non litigasi). Dalam Undang-undang Kekuasaan Kehakiman dalam Pasal 4 ayat (2) dan Pasal 5 ayat (2) Undang-undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman disebutkan bahwa Peradilan dilakukan dengan secara sederhana, cepat dan biaya ringan. Tetapi dalam praktiknya, penerapan secara sederhana, cepat dan biaya ringan memiliki kendala, banyaknya perkara yang masuk, terbatasnya tenaga hakim dan minimnya fasilitas bagi lembaga hukum Peradilan tingkat pertama wilayah hukumnya meliputi Kabupaten/Kota.
Penumpukan perkara tidak hanya ada ditingkat pertama, melainkan pada tingkat banding, kasasi maupun peninjauan kembali.
Dengan melihat kondisi seperti ini, pencari keadilan mencari cara bagaimana agar pemasalahan yang dihadapi dapat terselesaikan.
Mengenai hal itu, sistem hukum Indonesia sebenarnya memiliki aturan yang dapat dipergunakan baik dilingkungan Peradilan maupun di luar Peradilan. Dalam lingkungan Peradilan dapat ditempuh melalui jalur mediasi dan di luar Peradilan dapat ditempuh jalur arbitrase, mediasi sebagai bentuk alternatif penyelesaian sengketa.4
Seperti diketahui bahwa adanya pelembagaan mediasi di Pengadilan merupakan hasil pengembangan dan pemberdayaan lembaga pedamaian yang diatur dalam ketentuan Pasal 130 HIR/145 RBg. Sebagai tindak lanjutnya, pada tanggal 30 Januari 2002 Mahkamah Agung mengeluarkan Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) Nomor 1 tahun 2002 tentang Pemberdayaan Pengadilan
4 Dwi Rezki Sri Astarini, Mediasi Pengadilan: Salah Satu Bentuk Penyelesaian Sengketa Berdasarkan Asas Peradilan Cepat, Sederhana, Biaya Ringan, h., 82-84
Tingkat Pertama menerapkan lembaga damai (Eks Pasal 130 HIR/154 RBg). Sema Nomor 1 tahun 2002 ini didasarkan pada hasil Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Mahkamah Agung yang diselenggarakan di Yogyakarta pada tanggal 24 sampai dengan tanggal 27 Desember 2001, yang menghendaki pemberdayaan Pengadilan Tingkat Pertama dalam menerapkan upaya perdamaian sebagaimana ditentukan dalam ketentuan Pasal 130 HIR/154 RBg dan Pasal-pasal lainnya dalam Hukum Acara yang berlaku di Indonesia, khususnya dalam Pasal 132 HIR/156 RBg.
Tidak lama keberlakuannya, Sema Nomor 1 tahun 2002 ini kemudian disempurnakan oleh Mahkamah Agung. Pada tanggal 11 September 2003, Mahkamah Agung mengganti Sema Nomor 1 tahun 2002 dengan mengeluarkan Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) Nomor 2 Tahun 2003 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan.
Melihat dari kelemahan yang ada dalam Perma nomor 2 tahun 2003, ahkirnya dengan bantuan suatu kelompok kerja, Mahkamah Agung mengeluarkan perubahan dan penyempurnaan terhadap Perma Nomor 2 tahun 2003 menjadi Perma Nomor 1 tahun 2008 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan. Perma Nomor 1 tahun 2008 adalah sebagai penyempurna untuk mengisi kekosongan hukum pengaturan pelembagaan dan pendayagunaan mediasi yang terintegrasi dengan proses berperkara di Pengadilan, berhubung hal tersebut belum diatur dalam Hukum Acara Peradilan oleh Peraturan Perundang- undangan yang berlaku.
Setelah berlakunya Perma Nomor 1 tahun 2008 ternyata masih ada kekurangan yang terdapat dalam Perma ini untuk menyelesaikan perdamaian. Mahkamah Agung selanjutnya mengeluarkan lagi Perma untuk menyempurnakan Perma Nomor 1 tahun 2008 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan dengan Perma terbaru yaitu Perma Nomor 1 tahun 2016 Tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan.
Disinyalir Perma Nomor 1 tahun 2008 tentang Prosedur Mediasi di
18
Pengadilan belum optimal dalam melakukan perdamaian dan memenuhi kebutuhan mediasi yang lebih berdayaguna dan mampu meningkatkan keberhasilan mediasi di Pengadilan.5
2. Pengertian Mediasi
Istilah mediasi pertama kali muncul di Amerika Serikat pada tahun 1970-an,6 berawal dari perkara-perkara perburuhan. Semakin lama dan semakin berkembang mediasi tidak hanya dipergunakan untuk menyelesaikan perkara buruh saja, melainkan juga menyelesaikan sengketa-sengketa lain diantaranya perkara komunitas, keluarga dan pribadi. Seiring berjalannya waktu dan semakin pesatnya zaman penyelesaian sengketa melalui mediasi semakin meluas dan mendunia.7
Merujuk pada buku ke-3 Kitab Undang-undang Hukum Perdata adalah salah satu bentuk perikatan, mediasi juga disebut dengan perdamaian dan pengertian ini terumus dalam Pasal 1851 KUH Perdata, yang berbunyi :
“Perdamaian adalah suatu persetujuan yang berisi bahwa dengan menyerahkan, menjanjikan atau menahan suatu barang, kedua belah pihak mengakhiri suatu perkara yang sedang diperiksa Pengadilan ataupun mencegah timbulnya suatu perkara, persetujuan ini hanya mempunyai kekuatan hukum, bila dibuat secara tertulis.” 8
Istilah mediasi berasal dari bahasa latin yaitu medius dan medium yang artinya berada ditengah. Mediasi merupakan salah satu bentuk negoisasi antara dua pihak (dyadic model) atau lebih dengan melibatkan pihak ketiga (triadic model) dengan tujuan membantu tercapainya suatu penyelesaian yang bersifat kompromis. Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) disebutkan bahwa mediasi adalah proses pengikut
5 Rachmadi Usman, Mediasi di Pengadilan dalam Teori dan Praktik, h., 28-36
6 Syahrizal Abbas, mediasi: dalam Prespektif Hukum Syariah, Hukum Adat, dan Hukum Nasional. (Jakarta:Kencana Prenada Media Grup. 2009, Cet. Pertama), h., 24-54
7 Dwi Rezki Sri Astarini, Mediasi Pengadilan: Salah Satu Bentuk Penyelesaian Sengketa Berdasarkan Asas Peradilan Cepat, Sederhana, Biaya Ringan, h., 91.
8 Edi As‟Adi, Hukum Acara Perdata dalam Prespektif Mediasi (ADR) di Indonesia, h.,3
sertaan pihak ketiga dalam penyelesaian suatu perselisihan sebagai penasihat. Undang-undang tidak memberikan rumusan definisi atau pengertian yang jelas dari mediasi maupun mediator, tetapi ditemukan pengaturan mediasi di Indonesia ada dalam ketentuan Pasal 6 ayat (3), (4) dan (5) UU Arbitrase dan APS. 9
Dalam Perma Nomor 1 Tahun 2008 yang telah diubah menjadi Perma Nomor 1 tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi, pengertian mediasi disebutkan dalam Pasal 1 butir 1, yaitu mediasi adalah cara penyelesaian sengketa melalui proses perundingan untuk memperoleh kesepakatan Para Pihak dengan dibantu oleh mediator. Merujuk pada buku ke-3 Kitab Undang-undang Hukum Perdata, mediasi merupakan salah satu bentuk perikatan dan disebut sebagai perdamaian dan pengertiannya terumus di dalam Pasal 1851 KUH Perdata.10
Mahkamah Agung Republik Indonesia melalui peraturannya Mahkamah Agung (PERMA) Nomor 2 Tahun 2003 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan yang sebagaimana ditegaskan dalam Perma nomor 1 Tahun 2008 mewajibkan pihak penggugat dan tergugat dalam perkara perdata untuk terlebih dahulu menempuh proses mediasi sebelum pokok perkara diputus oleh hakim di Pengadilan tingkat pertama. Kebijakan Mahkamah Agung memberlakukan mediasi dalam setiap sengketa perdata kedalam Pengadilan tingkat pertama dipengaruhi oleh perkembangan di negara-negara lain yang menggunakan sistem court-connected mediation atau disebut juga dengan court-annexed mediation, seperti di Amerika Serikat, Singapura, Jepang, dan Australia. 11
9 Dwi Rezki Sri Astarini, Mediasi Pengadilan: Salah Satu Bentuk Penyelesaian Sengketa Berdasarkan Asas Peradilan Cepat, Sederhana, Biaya Ringan, h., 91.
10 Israr Hirdayadi, Heri Dianyah, “Efektivitas Mediasi Berdasarkan Perma No. 1 Tahun 2008 (Studi Kasus Mahkamah Syari‟ah Banda Aceh)”, Samarah, Vol 1 No. 1 (Januari-Juni, 2017) h., 209.
11 Takdir Rahmadi, Mediasi: Penyelesaian Sengketa Melalui Pendekatan Mufakat (Depok: PT Rajarafindo Persada, 2011, Cet. Kedua), h.,67-68.
20
Sejak Perma Nomor 2 Tahun 2003, mediasi ditegaskan sebagai kewajiban sebelum melanjutkan ke tahap litigasi dalam hukum acara perdata. Dalam Perma Nomor 1 Tahun 2008 bahkan diatur akibat serius jika tidak menempuh mediasi terlebih dahulu berupa putusan batal demi hukum. Di Perma terbaru, putusan yang diajukan banding atau kasasi tanpa melewati mediasi akan dikembalikan ke Pengadilan tingkat pertama untuk melakukan proses mediasi. Artinya, mediasi sejak lama telah terintegrasi sebagai bagian dari hukum acara perdata nasional.12
Upaya untuk mencapai win-win solution ditentukan oleh beberapa faktor, menurut Bevan seperti dikutip Maria S.W. Sumardjono menyampaikan beberapa faktor tersebut, yaitu :
a. Pendekatan yang objektif terhadap sumber sengketa lebih dapat diterima oleh Para Pihak dan memberikan hasil yang saling menguntungkan dengan catatan pendekatan itu harus menitikberatkan kepada kepentingan kedua belah pihak bukan untuk posisi atau kedudukan Para Pihak. Jika kepentingan menjadi fokus untuk menyelesaikan konflik yang terjadi pada kedua belah pihak, maka Para Pihak akan lebih terbuka atas keresahan atau konflik yang mereka hadapi, sebaliknya jika yang menjadi fokus adalah kedudukan Para Pihak, maka Para Pihak akan lebih menutup diri karena hal itu menyangkut harga diri Para Pihak sendiri.
b. Kemampuan yang seimbang atau tidak berat sebelah dalam proses negoisasi atau musyawarah. Perbedaan dalam kemampuan tawar- menawar akan menyebabkan adanya penekanan oleh pihak yang satu terhadap yang lainnya.13
Mediasi telah dipraktikan sejak awal Islam masuk ketika Nabi Muhammad SAW telah menerima putusan Sa‟ad Ibnu Mu‟adz
12 https://www.hukumonline.com/berita/baca/lt5b74e94b8ebc2/mediasi-di-persidangan-- pilihan-solusi-yang-belum-menjadi-solusi/
13 Edi As‟Adi, Hukum Acara Perdata Dalam Prespektif Mediasi (ADR) di Indonesia, h.,5
mengenai Bani Quraidhah.14 Landasan Al-Quran yang menjelaskan tentang anjuran menyelesaikan konflik dengan cara mediasi juga terdapat dalam Q.s. Al-Hujurat (49): 9 :
نِإَو اَمُهَ نْ يَ ب اوُحِلْصَأَف اوُلَ تَتْ قا َينِنِمْؤُمْلا َنِم ِناَتَفِئاَط ٰىَرْخُْلْا ىَلَع اَُهُاَدْحِإ ْتَغَ ب نِإَف ۖ
ِهَّللا ِرْمَأ َٰلَِإ َءيِفَت َّٰتََّح يِغْبَ ت ِتَِّلا اوُلِتاَقَ ف ِلْدَعْلاِب اَمُهَ نْ يَ ب اوُحِلْصَأَف ْتَءاَف نِإَف ۖ
ۖ
اوُطِسْقَأَو لا َّنِإ ۖ
َينِطِسْقُمْلا ُّبُِيُ َهَّل
Artinya : “Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.”
Ayat diatas menganjurkan adanya pihak ketiga atau mediator sebagai penengah dalam penyelesaian sengketa. Adanya pihak ketiga ini sangat penting dalam menengahi atau menjembatani kedua belah pihak dalam penyelesaian sengketa.15
3. Tujuan dan Manfaat Mediasi
Mediasi merupakan salah satu bentuk alternatif yang digunakan masyarakat untuk menyelesaikan sengketa di luar Pengadilan. Tujuan dilakukan mediasi yaitu menyelesaikan sengketa antara dua pihak atau lebih dengan melibatkan orang ketiga yang netral, imparsial dan tidak berpihak kepada salah satu pihak tersebut. Mediasi dapat membantu Para Pihak sampai ketahap perdamaian yang permanen dan lestari, karena penyelesaian sengketa melalui mediasi menempatkan kedua belah pihak diposisi sama, tidak ada pihak yang dimenangkan atau dikalahkan (win-win solution). Dalam mediasi ini kedua belah pihak yang bersengketa pro aktif dan memiliki kewenangan penuh dalam pengambilan keputusan. Mediator atau pihak ketiga tidak berhak atau
14 Siti Musawamah, “Mediasi Integratif di Pengadilan Agama Pamekasan”, Nuansa, Vol 12 No. 1 (Juli-Desember, 2014) h., 348-349
15 Rini Fahriyani Ilham, Erni Suhasti, “Mediasi Dalam Penyelesaian Sengketa Waris:
Studi Putusan No. 181/Pdt.G/2013/PA.YK”, Al-Ahwal, Vol 9 No. 1 (Juni 2019) h., 70
22
tidak memiliki kewenangan dalam pengambilan keputusan. Mediator hanya menengahi saja antara pihak yang berperkara tersebut dan menjaga proses berjalannya mediasi untuk mencapai kesepakatan bersama dan mewujudkan perdamaian anatara pihak yang berperkara.
Penyelesaian sengketa memang sulit dan tidak mudah untuk mendamaikan kedua belah pihak yang konflik. Keuntungan dari proses mediasi ini digambarkan sebagai proses yang hati-hati, teliti, tidak mahal dan prosedurnya sederhana.16 Namun mediasi juga memberikan sejumlah keuntungan bagi pihak yang berperkara antara lain :
a. Mediasi diharapkan dapat menyelesaikan perkara dengan cepat mudah dan relatif murah dibanding perkara tersebut dibawa ke Pengadilan atau lembaga arbitrase yang notabene membutuhkan waktu tidak sebentar.
b. Mediasi akan memfokuskan perhatian Para Pihak pada kepentingan mereka secara nyata dan pada kebutuhan emosi dan psikologis mereka, sehingga mediasi tidak hanya tertuju pada hak-hak hukumnya saja.
c. Mediasi memberikan kesempatan Para Pihak untuk berpartisipasi dalam menyelesaikan permasalahan mereka secara langsung dan secara informal dalam menyelesaikan perselisihan.
d. Mediasi memberikan Para Pihak kemampuan untuk melakukan kontrol terhadap proses dan hasilnya.
e. Mediasi dapat mengubah hasil, yang dalam litigasi dan arbitrase sulit diprediksi, dengan suatu kepastian melalui suatu konsensus.
f. Mediasi memberikan hasil yang tahan uji dan akan mampu menciptakan rasa saling mengerti yang lebih baik dari sebelumnya diantara Para Pihak yang bersengketa karena mereka sendiri yang mengambil keputusan.
16 Dwi Rezki Sri Astarini, Mediasi Pengadilan: Salah Satu Bentuk Penyelesaian Sengketa Berdasarkan Asas Peradilan Cepat, Sederhana, Biaya Ringan. h., 91
g. Para Pihak mampu menghilangkan konflik atau permusuhan yang hampir selalu mengiringi setiap keputusan yang bersifat memaksa yang dijatuhkan oleh hakim di Pengadilan atau arbiter pada lembaga arbitrase.
Menurut Maria S.W. Sumardjono Cs ada beberapa kelebihan dari mediasi, yaitu sebagai berikut:
a. Hemat waktu, biaya, tenaga dan pikiran.
b. Mediasi ini memberikan perasaan kebersamaan kedudukan dan upaya penentuan hasil akhir perundingan yang akan dicapai nantinya oleh Para Pihak dan menurut kesepakatan bersama tanpa ada tekanan ataupun paksaan.
c. Solusi yang dihasilkan bermuara pada win-win solution.17 4. Proses Mediasi
Mengenai sistem atau tata cara perundingan (negoisasi) proses mediasi diatur dalam Pasal 1 butir 11 dan Pasal 14 Perma Nomor 1 Tahun 2008. Bertitik tolak dari ketentuan pasal-pasal tersebut, terdapat 3 sistem pertemuan:
a. Tertutup untuk umum
b. Terbuka untuk umum atas persetujuan Para Pihak c. Sengketa publik mutlak terbuka untuk umum
Proses mediasi dibagi kedalam tiga tahapan, yaitu tahap pramediasi, tahap pelaksanaan mediasi dan tahap akhir implementasi hasil mediasi. Ketiga tahap ini merupakan jalan yang akan ditempuh oleh para mediator dan Para Pihak dalam menyelesaikan sengketa.
a. Tahap Pramediasi
Pada saat hari sidang pertama yang ditentukan Para Pihak harus hadir atau diwakilkan kepada kuasa hukumnya. Hakim mewajibkan Para Pihak sebelum melanjutkan ke tahap selanjutnya harus menempuh tahap mediasi (Pasal 7 ayat (1)). Setiap keputusan
17 Edi As‟Adi, Hukum Acara Perdata Dalam Prespektif Mediasi (ADR) di Indonesia, h.,4
24
yang diambil oleh kuasa hukum harus dengan memperoleh persetujuan tertulis dari Para Pihak. Agar keputusan yang diambil kuasa hukum benar-benar merupakan kehendak Para Pihak. Pada hari itu juga atau dua hari kerja berikutnya Para Pihak dan kuasa hukum harus berunding untuk menentukan mediator yang akan dipilih dengan alternatif pilihan sebagaimana Pasal 8 Perma Nomor 1 Tahun 2008 lalu menyampaikannya kepada majelis hakim. Jika tidak dapat bersepakat, maka Para Pihak memilih dari daftar mediator yang disediakan di Pengadilan. Jika tidak ada kesepakatan juga maka majelis hakim langsung menunjuk mediator dari daftar mediator dengan suatu penetapan.18
Tahap pramediasi adalah tahap awal dimana mediator menyusun sejumlah langkah dan persiapan sebelum mediasi dimulai.
Sebagai pihak ketiga yang netral, independen, tidak memihak dan ditunjuk oleh para pihak, mediator berkewajiban untuk melaksanakan tugas dan fungsinya berdasarkan kehendak dan keamauan para pihak. Mediator berkewajiban untuk bertemu atau mempertemukan para pihak yang bersengketa guna mencari masukan mengenai pokok persoalan yang dipersengketakan.
Berdasarkan informasi yang diperoleh, kemudian mediator dapat menentukan duduk perkara, kekurangan dan kelebihan masing- masing pihak, selanjutnya mencoba menyusun proposal penyelesaian yang kemudian dikomunikasikan kepada para piahk secara langsung.
Mediator harus mampu menciptakan suasana yang kondusif bagi terciptanya kompromi di antara kedua belah pihak untuk memperoleh hasil yang saling menguntungkan (win-win) . Setelah diperoleh persetujuan dari para pihak atas proposal yang diajukan (dengan segala perubahan) dalam menyelesaikan masalah tersebut, mediator menyusun kesepakatan tertulis untuk ditandatangai para
18 Nurnaningsih Amriani, Mediasi: Alternatif Penyelesaian Sengketa Perdata di Pengadilan (Jakarta: PT Rajarafindo Persada, 2011, Cet. Pertama), h.,72-73
pihak. Tidak hanya sampai di situ, mediator diharapkan membantu pelaksanaan dari kesepakatan tertulis tersebut sebagai putusan dari proses mediasi yang telah dilakukan.19
Dalam tahap pramediasi, mediator juga harus membuat kesepakatan-kesepakatan dengan Para Pihak yang bersengketa tentang tujuan pertemuan dan siapa saja yang akan hadir dalam pertemuaan saat mediasi. Tujuan pertemuan harus diketahui dengan jelas oleh kedua belah pihak, apakah pertemuan tersebut hanyalah untuk saling mengenal antar kedua belah pihak, atau sudah mulai membahas persyaratan untuk perundingan mediasi selanjutnya atau bahkan sudah mulai memasuki tahap analisis berbagai persoalaan dalam sengketa mereka, sehingga sudah dapat memasuki kegiatan mediasi. Mediator juga harus memberitahukan masing-masing pihak tentang siapa-siapa saja yang akan hadir dalam pertemuan tersebut.
Kemudian, mediator juga harus membuat kesepakatan antara dua belah pihak mengenai waktu dan tempat pertemuan. Mediator juga harus mengupayakan tempat pertemuan yang netral dan mudah dijangkau oleh Para Pihak.
Dalam tahap terakhir pramediasi, mediator harus mampu menciptakan rasa aman bagi kedua belah pihak sebelum proses mediasi akan dimulai. Ronald S. Kraybill mengemukakan empat langkah yang dapat ditempuh oleh mediator untuk menciptakan rasa aman dan nyaman, yaitu; (1) Berusahalah tiba ditempat yang sudah disepakati sebelum kedatangan pihak-pihak yang bertikai; (2) Aturlah tempat agar terasa aman dan nyaman dan mendukung interaksi; (3) Buatlah rencana pengaturan ruang dan; (4) Ciptakan rasa aman melalui pengendalian situasi dalam memimpin pertemuan sehingga tidak menimbulkan keraguan Para Pihak siapa saja yang bertanggung jawab pada pertemuan tersebut.
19 Rika Lestari, “Perbandingan Hukum Penyelesaian Sengketa Secara Mediasi di Pengadilan dan di Luar Pengadilan di Indonesia”, Jurnal Ilmu Hukum, 3, 4 h., 225
26
b. Tahap Pelaksanaan Mediasi
Dalam waktu paling lama 5 hari kerja setelah Para Pihak memilih mediator yang disepakati, Para Pihak dapat menyerahkan resume perkara kepada mediator (Pasal 13 ayat (1)). Setelah itu mediator menentukan jadwal pertemuan pertama dimana Para Pihak didampingi oleh kuasa hukum masing-masing. Pada dasarnya proses mediasi itu bersifat rahasia dan berlangsung selama 40 hari kerja sejak pemilihan penunjukan mediator (Pasal 13 ayat (3)) dan dapat diperpanjang paling lama 14 hari kerja sejak berakhir masa 40 hari dengan syarat bahwa kesepakatan akan tercapai. 20
Tahap pelaksanaan mediasi ini yaitu tahap dimana Para Pihak saling berhadapan untuk menyelesaikan sengketa dengan cara mediasi. Dalam tahap ini terdapat beberapa langkah penting antara lain; sambutan pendahuluan mediator, presentasi dan pemaparan kisah Para Pihak, mengurutkan dan menjernihkan permasalahan Para Pihak berdiskusi dan negoisasi masalah yang telah disepakati, menciptakan opsi-opsi, menemukan butir kesepakatan dan merumuskan keputusan, mencatat dan menuturkan kembali keputusan dan penutup mediasi.
c. Tahap Akhir Implementasi Hasil Mediasi
Tahap terakhir ini merupakan tahap yang dimana Para Pihak hanyalah menjalankan hasil-hasil kesepakatan, yang telah mereka tuangkan bersama dalam suatu perjanjian tertulis. Para Pihak menjalankan hasil kesepakatan berdasarkan komitmen yang telah mereka tunjukan selama dalam proses mediasi berlangsung.
Umumnya, pelaksanaan hasil mediasi dilakukan oleh Para Pihak sendiri, tetapi tidak menutup kemungkinan juga ada bantuan dari pihak lain untuk mewujudkan kesepakatan atau perjanjian tertulis.
20 Nurnaningsih Amriani, Mediasi: Alternatif Penyelesaian Sengketa Perdata di Pengadilan, h.,72-73
Keberadaan pihak lain hanyalah sekedar membantu menjalankan perjanjian tertulis tersebut. 21
5. Mediator
Mediator yaitu salah satu pihak penting dalam penyelesaian sengketa dengan proses mediasi. Biasanya, mediator adalah orang yang ahli dalam bidang yang disengketakan atau ahli dalam bidang hukum atau orang yang mempunyai sertifikat mediasi karena pendekatan yang difokuskan adalah pada hak setiap pihak yang berperkara.22 Mediator adalah pihak ketiga yang membantu penyelesaian masalah sengketa antara dua belah pihak yang dibantunya, yang mana telah melakukan intervensi terhadap pengambilan keputusan. Mediator menjembatani pertemuan para pihak, melakukan negoisasi, menjaga dan mengontrol setiap emosi maupun psikologisnya para pihak selama berlangsungnya negoisasi, menawarkan alternatif solusi dan secara bersama-sama para pihak yang berperkara merumuskan kesepakatan penyelesaian sengketa.
Mediator tidak ada hak untuk menentukan hasil kesepakatan, karena keputusan finalnya tetap ada pada pihak yang bersengketa. Mediator hanya mencarikan solusi atau jalan keluar yang terbaik dan tidak merugikan kedua belah pihak agar para pihak bersedia duduk bersama dan menyelesaikan permasalahannya dengan bersama-sama.
Mediator berkewajiban menyatakan mediasi telah gagal jika salah satu pihak atau kuasa hukumnya telah dua kali berturut-turut tidak menghadiri pertemuan mediasi sesuai yang telah disepakati dan dengan tanpa alasan yang jelas setelah dipanggil secara patut.
Jika mediasi menghasilkan kesepakatan perdamaian, para pihak dengan bantuan mediator wajib merumuskan secara tertulis hasil dari mediasi atau kesepakatan yang dicapai dan harus ditanda tangani oleh para pihak dan mediator. Atau jika para pihak diwakilkan kepada kuasa
21 Syahrizal Abbas, mediasi: Dalam Prespektif Hukum Syariah, Hukum Adat, dan Hukum Nasional, h., 24-54
22 Dwi Rezki Sri Astarini, Mediasi Pengadilan: Salah Satu Bentuk Penyelesaian Sengketa Berdasarkan Asas Peradilan Cepat, Sederhana, Biaya Ringan. h., 92