• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Konsep Mediasi

1. Sejarah Berkembangnya Mediasi

Mediasi adalah sebagai salah satu alternatif di luar Pengadilan yang digunakan untuk menyelesaiakan suatu persengketaan dengan perdamaian. Praktik penyelesaian sengketa dengan perdamaian sebenarnya sudah dilakukan oleh masyarakat Indonesia berabad-abad tahun lamanya. Mediasi dengan landasan musyawarah ternyata memang sudah dilakukan dan lama berkembang di Indonesia.1 Indonesia sebagai suatu negara yang mempunyai kebaragaman suku, budaya, agama dan ras yang berbeda-beda sejak diproklamasikannya kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 agustus 1945 yang memiliki cita-cita mewujudkan tujuan nasional, seperti disebutkan dalam alenia ke empat Pembukaan Undang-undang Dasar 1945, yaitu untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.2

Sila ke empat ini, menghendaki bahwa upaya penyelesaian sengketa atau konflik dilakukan melalui musyawarah untuk mencapai mufakat yang diliputi oleh semangat kekeluargaan yang kuat. Artinya, bahwa setiap sengketa atau konflik selayaknya diselesaikan dengan cara perdamaian atau perundingan diatara kedua belah pihak yang bersengketa untuk memperoleh kesepakatan bersama. 3 Mediasi mendapat pengaturan tersendiri dalam sejumlah produk hukum Hindia

1Dwi Rezki Sri Astarini, Mediasi Pengadilan: Salah Satu Bentuk Penyelesaian Sengketa Berdasarkan Asas Peradilan Cepat, Sederhana, Biaya Ringan, (Bandung: PT. Alumni, 2013 Cetakan Pertama), h., 81-82

2Edi As‟Adi, Hukum Acara Perdata dalam Prespektif Mediasi (ADR) di Indonesia, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2012, Cetakan Pertama), h.,1

3 Rachmadi Usman, Mediasi di Pengadilan dalam Teori dan Praktik, (Jakarta : Sinar Grafika, 2012 Cetakan Pertama), h., 26

Belanda maupun setelah Indonesia merdeka sampai hari ini. Pengaturan alternatif sangat penting mengingat bahwa Indonesia adalah negara hukum karena mediasi dapat dilakukan oleh hakim di Pengadilan maupun lembaga lain di luar Pengadilan, sehingga keberadaannya memerlukan aturan hukum.

a. Mediasi Masa Kolonial Belanda

Pada masa kolonial Belanda, pengaturan penyelesaian sengketa melalui jalur damai lebih banyak ditujukan pada proses perdamaian dilingkungan Peradilan, sedangkan dalam penyelesaian perdamaian di luar pengadilan kolonial Belanda lebih cenderung memberikan kesempatan kepada hukum adat. Ketentuan dalam Pasal 130 HIR /154 R.Bg/31 Rv menggambarkan bahwa penyelesaian sengketa melalui jalur perdamaian merupakan bagian dari proses penyelesaian sengketa di Pengadilan. Upaya perdamaian merupakan kewajiban hakim dan hakim tidak boleh memutus perkara sebelum perkara tersebut menempuh jalur perdamaian terlebih dahulu. Jika kedua belah pihak setuju, maka hakim harus segera melakukan mediasi kepada kedua belah pihak, sehingga kedua belah pihak dapat menyelesaikan permasalahan dengan mencari kesepakatan yang dapat menyelesaikan sengketa tersebut.

Peraturan-peraturan pada masa kolonial Belanda diatur dalam Pasal 615-651 Rv (Reglement of de Rechtsvording, Staatsblad 1874:52) atau Pasal 377 HIR (Het Herziene Indonesich Reglement, Staatsblad 1941:44) yang juga mengatur penyelesaian sengketa melalui upaya perdamaian di luar Pengadilan. Namun upaya tersebut baru mengenal istilah arbitrase saja.

b. Mediasi Masa Kemerdekaan Indonesia Sampai Sekarang

Dalam Pasal 24 UUD 1945 ditegaskan bahwa kekuasaan kehakiman dilakukan oleh Mahkamah Agung dan badan Peradilan yang berada dibawahnya dalam Peradilan Umum, Peradilan Agama, Peradilan Militer dan Peradilan Tata Usaha dan oleh Mahkamah

16

Konstitusi. Ketentuan Pasal 24 UUD 1945 menyebutkan bahwa penyelesaian yang dilakukan oleh masyarakat melalui jalur Pengadilan (litigasi), namun demikian juga sistem hukum membuka peluang untuk menyelesaikan sengketa di luar jalur Pengadilan (non litigasi). Dalam Undang-undang Kekuasaan Kehakiman dalam Pasal 4 ayat (2) dan Pasal 5 ayat (2) Undang-undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman disebutkan bahwa Peradilan dilakukan dengan secara sederhana, cepat dan biaya ringan. Tetapi dalam praktiknya, penerapan secara sederhana, cepat dan biaya ringan memiliki kendala, banyaknya perkara yang masuk, terbatasnya tenaga hakim dan minimnya fasilitas bagi lembaga hukum Peradilan tingkat pertama wilayah hukumnya meliputi Kabupaten/Kota.

Penumpukan perkara tidak hanya ada ditingkat pertama, melainkan pada tingkat banding, kasasi maupun peninjauan kembali.

Dengan melihat kondisi seperti ini, pencari keadilan mencari cara bagaimana agar pemasalahan yang dihadapi dapat terselesaikan.

Mengenai hal itu, sistem hukum Indonesia sebenarnya memiliki aturan yang dapat dipergunakan baik dilingkungan Peradilan maupun di luar Peradilan. Dalam lingkungan Peradilan dapat ditempuh melalui jalur mediasi dan di luar Peradilan dapat ditempuh jalur arbitrase, mediasi sebagai bentuk alternatif penyelesaian sengketa.4

Seperti diketahui bahwa adanya pelembagaan mediasi di Pengadilan merupakan hasil pengembangan dan pemberdayaan lembaga pedamaian yang diatur dalam ketentuan Pasal 130 HIR/145 RBg. Sebagai tindak lanjutnya, pada tanggal 30 Januari 2002 Mahkamah Agung mengeluarkan Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) Nomor 1 tahun 2002 tentang Pemberdayaan Pengadilan

4 Dwi Rezki Sri Astarini, Mediasi Pengadilan: Salah Satu Bentuk Penyelesaian Sengketa Berdasarkan Asas Peradilan Cepat, Sederhana, Biaya Ringan, h., 82-84

Tingkat Pertama menerapkan lembaga damai (Eks Pasal 130 HIR/154 RBg). Sema Nomor 1 tahun 2002 ini didasarkan pada hasil Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Mahkamah Agung yang diselenggarakan di Yogyakarta pada tanggal 24 sampai dengan tanggal 27 Desember 2001, yang menghendaki pemberdayaan Pengadilan Tingkat Pertama dalam menerapkan upaya perdamaian sebagaimana ditentukan dalam ketentuan Pasal 130 HIR/154 RBg dan Pasal-pasal lainnya dalam Hukum Acara yang berlaku di Indonesia, khususnya dalam Pasal 132 HIR/156 RBg.

Tidak lama keberlakuannya, Sema Nomor 1 tahun 2002 ini kemudian disempurnakan oleh Mahkamah Agung. Pada tanggal 11 September 2003, Mahkamah Agung mengganti Sema Nomor 1 tahun 2002 dengan mengeluarkan Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) Nomor 2 Tahun 2003 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan.

Melihat dari kelemahan yang ada dalam Perma nomor 2 tahun 2003, ahkirnya dengan bantuan suatu kelompok kerja, Mahkamah Agung mengeluarkan perubahan dan penyempurnaan terhadap Perma Nomor 2 tahun 2003 menjadi Perma Nomor 1 tahun 2008 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan. Perma Nomor 1 tahun 2008 adalah sebagai penyempurna untuk mengisi kekosongan hukum pengaturan pelembagaan dan pendayagunaan mediasi yang terintegrasi dengan proses berperkara di Pengadilan, berhubung hal tersebut belum diatur dalam Hukum Acara Peradilan oleh Peraturan Perundang-undangan yang berlaku.

Setelah berlakunya Perma Nomor 1 tahun 2008 ternyata masih ada kekurangan yang terdapat dalam Perma ini untuk menyelesaikan perdamaian. Mahkamah Agung selanjutnya mengeluarkan lagi Perma untuk menyempurnakan Perma Nomor 1 tahun 2008 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan dengan Perma terbaru yaitu Perma Nomor 1 tahun 2016 Tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan.

Disinyalir Perma Nomor 1 tahun 2008 tentang Prosedur Mediasi di

18

Pengadilan belum optimal dalam melakukan perdamaian dan memenuhi kebutuhan mediasi yang lebih berdayaguna dan mampu meningkatkan keberhasilan mediasi di Pengadilan.5