BAB IV Hasil Penelitian dan Pembahasan
D. Analisis Putusan Hakim
Dalam Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Nomor 287/PDT.G/2011 dengan Penggugat Tuan Gunawan., yang diketuai oleh Hakim Pengadilan Negeri yaitu Bagus Irawan, SH. MH. yang memutuskan bahwa dalam eksepsi hakim menyatakan menolak eksepsi Tergugat seluruhnya, dalam provisi hakim menyatakan menolak tuntutan profisi Pengugat seluruhnya, dan dalam Pokok Perkara hakim menyatakan menolak gugatan Pengugat seluruhnya, dan menghukum pihak Penggugat untuk membayar biaya dalam perkara ini yang hingga putusan ini berjumlah Rp. 341.000,- (tiga ratus empat puluh satu ribu rupiah).
Dalam hal penanganan perkara hakim Pengadilan Negeri tentunya berpedoman pada teori-teori atau dasar hukum yaitu antara lain:
1. Dalam memutus suatu perkara hakim harus berpedoman pada pasal 5 ayat (1) Undang-Undang No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman disebutkan bahwa: “Hakim dan hakim konstitusi wajib menggali, mengikuti,
dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam
masyarakat”.
2. Berdasarkan ketentuan Pasal 4 ayat (1), (2), dan (3) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 290/MENKES/Kes/III/2008 Tentang Persetujuan Tindakan Kedokteran bahwa dalam keadaan darurat, untuk menyelamatkan jiwa pasien dan/atau mencegah kecacatan tidak diperlukan persetujuan tindakan kedokteran. Keputusan tersebut diputuskan oleh dokter dan dicatat dalam rekam medis. Dalam hal keadaan darurat tersebut dokter atau dokter sisil wajib memberikan penjelasan sesegera mungkin kepada pasien setelah pasien sadar atau kepada keluarga dekat.
Pada sejatinya hakim merupakan instrument untuk mencari keadilan, sehingga sang pemutus nantinya bisa menciptakan putusan berdasarkan keadilan dan bukan berdasarkan hukum semata. Dalam menganalisis putusan ini penulis akan menganalisis melalui 3 sudut pandang yaitu secara filosofis, yuridis dan sosiologis.
Secara filosofis, dalam memutus perkara perihal kasus dugaan malpraktek ini adalah bahwa hakim Pengadilan Negeri melihat bahwa dalam hal
dugaan malpraktek yang dilakukan oleh Tim Dokter semata-mata dikarenakan keadaan mendesak dan gawat darurat yang berguna demi keselamatan pasien. karena didalam rekam medis yang dibuat oleh dokter pengadilan memperoleh bukti bahwa pembedaan tersebut dilakukan dalam keadaan emergensi. Oleh karena itu, tim dokter tidak harus meminta ijin kepada Penggugat untuk melakukan pembedahan tersebut.
Hal tersebut juga dipaparkan oleh Dr. Mahesa Paranadipa yang menyatakan bahwa dalam teori persetujuan medik untuk keadaan darurat, menurut Undang-Undang Praktik Kedokteran seorang dokter dapat melakukan pembedahan tanpa ada persetujuan pasien atau keluarga pasien terlebih dahulu. Tetapi, persetujuan atas tindakan pembedahan terhadap pasien dapat diminta ketika pasien dalam keadaan seimbang61.
Jika ditinjau dari hukum kedokteran yang dikaitkan dengan doktrin informed consent, maka yang dimaksudkan dengan kegawatdaruratan adalah suatu keadaan dimana : Tidak ada kesempatan lagi untuk memintakan informed consent, baik dari pasien atau anggota keluarga terdekat (next of kin), Tidak ada waktu lagi untuk menunda-nunda., Suatu tindakan harus segera diambil untuk menyelamatkan jiwa pasien atau anggota
Menurutnya, dalam tindakan Dokter berdasarkan teori Samaritan Law
yaitu, orang yang menyelamatkan orang terlebih dahulu. Maksudnya, Bahwa dokter dalam hal ini lebih mengedepankan keselamatan dari si pasien.
61
Keselamatan tersebut berdasarkan sumpah yang diucapkan sebelum menjadi dokter. Salah satu sumpah yang diucapkan oleh dokter menurut Dr. Mahesa Paranadipa adalah memberikan pertolongan kepada pasiennya.
Islam mewajibkan untuk menolong pasien dalam keadaan darurat Sebagaimana terdapat dalam Surat Al-Maidah ayat 2 yang menyatakan :
“… Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa,
dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah SWT, sungguh Allah sangat berat siksa-Nya.”
Secara yuridis, hakim Pengadilan Negeri dalam memutus perkara tersebut melihat beberapa pasal yaitu Berdasarkan Ketentuan Pasal 45 Undang- Undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktek Kedokteran juncto Pasal 3 ayat (1) Pasal 4 ayat (1),(2), dan (3) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 290/MENKES/Kes/III/2008 Tentang Persetujuan Tindakan Kedokteran mewajibkan setiap tindakan kedokteran yang mengandung resiko tinggi (termasuk operasi pembedahan) harus memperoleh persetujuan tertulis, yang ditandatangani oleh yang berhak memberikan persetujuan (Penggugat) selaku orang tua pasien. Selain itu, Pasal 1365, 1366, 1377 KUHPerdata mengenai unsur kesalahan yang dilakukan oleh Tim Dokter dalam pasal tesebut menyebutkan bahwa dalam hal ini Tergugat tidak melakukan perbuatan melawan hukum tetapi hanya kesalahan administratif. Untuk membuktikan seorang dokter melakukan perbuatan melawan hukum atau tidak, tidak hanya dilihat berdasarakan KUH
Perdata atau KUH Pidana saja. Namun, harus didasarkan pada Peraturan Perundang-Undangan yang lebih khusus yaitu Undang-Undang Kesehatan, Undang-Undang Praktik Kedokteran, dan peraturan Perundang-Undangan lain yang berkaitan dengan itu.
Oleh karena itu, hakim dalam memutus perkara perbuatan melawan hukum ini bahwa Tenggugat tidak memenuhi unsur-unsur perbuatan melawan hukum. Dalam hal memutus perkara ini menurut penulis, bahwa hakim telah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam putusan tersebut tidak ditemukan unsur-unsur perbuatan melawan hukum. selain itu, dalam kasus usus buntu mengenai diagnosis yang berubah-ubah yang menyebabkan kematian juga tidak dapat dikatakan sebagai kelalaian yang dilakukan dokter.
Secara sosiologis, jika melihat mengenai putusan hakim mengenai malpraktek yang menolak gugatan Penggugat tersebut jelas merugikan bagi pasien dan keluarga pasien yang menjadi korban akibat kelalaian yang dilakukan oleh tim dokter baik secara moril maupun materil. Karena dengan adanya kelalaian tersebut pasien menjadi cacat dan harus menggunakan kateter seumur hidup. Namun, Putusan Pengadilan Negeri perihal Kasus Dugaan Malpraktek yang dilakukan oleh Tim Dokter Tergugat merupakan suatu keuntungan bagi tim dokter karena dalam putusan ini tim dokter masih tetap mengerjakan profesinya.
BAB V