• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV Hasil Penelitian dan Pembahasan

B. Posisi Kasus

Pada tanggal 15 Februari 2009 ND dibawa ke Instalasi Gawat Darurat RSCM dengan keluhan tidak bisa buang air kecil dan buang air besar. ND diperiksa oleh 3 (tiga) dokter yaitu, dr. S, dr.N, dan dr. D sebagai pemeriksaan awal dan langsung dilakukan pemeriksaan Laboratorium dan Rontgen pada ND. Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut ND didiagnossa menderita infeksi berat akibat sumbatan (Sepsis illius abstruktif). dan dokter yang memeriksa ND lalu meminta ijin Pengugat untuk memberi tindakan medis berupa obat berbentuk jel yang dimasukkan kelubang dubur ND dengan alasan untuk merangsang agar kotoran keluar. Pemberian obat jel kedalam dubur ND dilakukan sebanyak 4 (empat) kali oleh dokter yang memeriksa.

Namun tindakan tersebut tidak membawakan hasil dan keadaannya semakin parah karena ND terus merintih kesakitan. Selanjutnya dr. R meminta izin kepada ayah Nina untuk memasang kateter dan sonde (selang untuk

memasukan makanan kepada Pasien) kerongga mulut Pasien. Namun, setelah alat tersebut dipasang, dari sonde keluar cairan warna kecoklat-coklatan berubah menjadi biru dan lama-lama menjadi warna bening.

Pada tanggal 16 Februari 2009 diadakan diagnosa oleh dr. R yang telah berkonsultasi kepada dr. F (Konsulen/Ahli Bedah). Hasil dari diagnosa tersebut dikatakan bahwa ND menderita usus buntu (Appendix Perforasi) dan hal tersebut ditegaskan secara berulang-ulang oleh dr. F. Sekitar pukul 09.30 WIB Penggugat mendapat kabar bahwa ND harus menjalani pemeriksaan Ultrasonografi (USG), dan hasil dari USG tersebut menyatakan bahwa Ginjal dan buli-buli dalam batas normal.

Namun pada pukul 15.45 wib, Pengugat dikabarkan bahwa ND akan menjalani pembedahan. Padahal menurut ibu ND, ND terlihat sudah lebih baik. Pihak rumah sakit tidak pernah memberikan penjelasan dan meminta persetujuan kepada Penggugat ataupun ibu ND sebagai orang tuanya untuk melakukan bedah terhadap Pasien. hal tersebut secara jelas dan nyata telah menyalahi aturan yang terdapat pada pasal 45 Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran60 jo Pasal 3 Ayat 1 Permenkes No. 290/menkes/per/III/2008 Tentang Persetujuan Tindakan Medik.

Sesampainya di ruang pembedahan Penggugat dan istrinya hanya dapat melihat pasien dari jarak 15 meter, karena pasien sudah berada di dalam ruangan

60

Desriza Ratman, Aspek Hukum Penyelenggaraan Praktek Kedokteran dan Malpraktek Medik (Dalam bentuk Tanya-Jawab), h.39.

steril (hanya Dokter dan Pasien yang akan dibedah yang boleh masuk), dan pasien sudah disejajarkan dengan beberapa pasien lain yang siap akan dibedah. Setelah selesai pembedahan dan terdapat diagnosa baru dinyatakan pada pembedahan berupa ruptur bllur barulah pihak rumah sakit meminta persetujuan Penggugat selaku pihak penanggungjawab ND.

Namun, ayah ND tidak mau menandatangani surat persetujuan pembedahan tersebut karena terdapat cacat permanen yang menyebabkan alat kencing ND tidak dapat kembali normal seperti sedia kala dan harus menggunakan keteter sebagai alat untuk buang air.

Oleh sebab itu, Penggugat melakukan gugatan terhadap Tergugat atas Dasar Perbuatan Melawan Hukum, yaitu Pasal 1365 KUH Perdata. Dengan memenuhi unsur-unsur sebagai berikut :

1. Tergugat telah melakukan kelalaian dan kekurang hati–hatian dalam menangani tindakan medis terhadap anak Pengugat yaitu Tim Dokter memberikan diagnosis yang berubah-ubah dimulai dari infeksi berat akibat sumbatan usus (Sepsis Illius Abstruktif), usus buntu (Appendix Perforasi), kebocoran kandung kemih (Ruptur bull). Serta Tim Dokter tidak meminta persetujuan tertulis (informed consent) kepada Pengugat dalam melaksanakan pembedahan;

2. Akibat dari kelalaian dan kekurang hati-hatian tersebut anak Pengugat mengalami sakit/cacat permanen dan harus memakai alat bantu kateter. hal tersebut diperparah dengan keadaan pasien yang mengalami gangguan

kesehatan baik fisik maupun mental sebagaimana telah dinyatakan dalam surat periksa psikologi yang dilakukan oleh Psikolog FMH, yang mana dalam pemeriksaan tersebut juga dinyatakan bahwa pasien tidak dapat berbicara ataupun menulis. Dalam hal ini, Tergugat juga tidak menjalankan seluruh peraturan yang ada mengenai standar profesi medis, dimana sudah menjadi kewajiban bagi seorang dokter atau penyelenggara kesehatan untuk memberikan informasi penyakit pasien secara pasti, memberikan isi rekam medis pasien dan meminta persetujuan kepada Pengugat untuk melakukan pembedahan.

3. Tergugat juga telah melanggar PATITAH, yakni ketelitian, dan kehati-hatian dalam melakukan tindakan medis yang seharusnya dilakukan Tergugat agar Pengugat mendapatkan kenyamanan dan kejelasan atas informasi.

Dalam Pasal 1367 KUH Perdata yang mengatur tentang pertanggung jawaban majikan atas perbuatan merugikan yang dilakukan oleh karyawannya. Majikan turut bertanggung jawab atas perbuatan yang dilakukan karyawannya. Maka doktrin Vicarious Liability Let The Men Answer, in Casu dapat diterapkan dalam hubungan antara Tergugat dengan Tim Dokter. Dalam hal ini terlihat pada bentuk hukum antara Tergugat dengan Tim Dokter dapat dipandang sebagai suatu hubungan hukum antara majikan dengan karyawannya. Gugatan penggugat antara lain adalah (Primair):

1. Menerima dan mengabulkan gugatan Penggugat;

3. Menyatakan Tergugat bertanggung jawab atas semua tindakan praktik kedokteran berupa pembedahan terhadap pasien yang dilakukan oleh Tim Dokter Tergugat;

4. Menyatakan Tergugat telah bersalah karena terbukti selalu salah dalm memeriksa, mendiagnosa penyakit Pasien sebanyak 4 (empat) kali berturut – turut bahkan setelah pembedahan masih juga berubah-ubah (tidak jelas sakit apa), dan melakukan pembedahan tanpa ijin bahkan membuat Pasien menjadi cacat selama hidupnya;

5. Memerintahkan tergugat mencabut izin praktik kedokteran semua Tim Dokter Tergugat;

6. Membayar ganti rugi untuk menganti semua biaya perawatan dan biaya pengobatan medis pasien. Adapun ganti rugi yang harus dibayarkan oleh Tergugat sebesar Rp. 1.776.010.00,- (satu miliyar tujuh ratus tujuh puluh enam juta sepuluh ribu rupiah) dengan perincian sebagai berikut :

a. Kerugian Materil : Rp. 776.010.00,- (tujuh ratus tujuh puluh enam juta sepuluh ribu rupiah;

b. Kerugian immaterill : Rp. 1.000.000.000,- (satu miliyar rupiah).

7. Menghukum tergugat untuk meminta maaf kepada Penggugat melalui 5 (lima) Media Cetak;

8. Membayar uang paksa (dwangsom) sebesar Rp. 5.000.000,- (lima juta rupiah) setiap harinya atas keterlambatan memenuhi putusan terhitung sejak putusan ini dibacakan.

9. Putusan dapat dilaksanakan walaupun ada verzet, banding, dan kasasi.

Gugatan penggugat Subsidair: mohon keadilan seadil – adilnya (Ex Aequo Et Bono).

Dokumen terkait