BAB IV ANALISIS TERHADAP PUTUSAN NOMOR
A. Analisis Putusan Menurut Hukum Pidana Islam
Ditinjau dari Hukum Pidana Islam, berdasarkan fakta-fakta di persidangan telah diakui oleh terdakwa dan didukung oleh keterangan saksi-saksi serta korban yang menyatakan melakukan tindak pidana kesusilaan karena menyebarkan konten pornografi dengan alasan sakit hati dan ingin balas dendam. Dalam Hukum Pidana Islam tindakan penyebaran konten pornografi kesusilaan termasuk ke dalam satu jenis jarimah yaitu jarimah qurb al zina atau mendekati zina karena ketika melihat atau menonton konten tersebut orang lain bisa tergiur dan tertarik dengan aktivitas yang ada dalam audio visual yang diviralkan. Jika zina masuk jarimah hudud, maka qurb al zina masuk kategori ta'zir. Pornografi termasuk dalam jarimah ta’zir karena merupakan perbuatan mendekati zina dan dalam perkara tersebut terdakwa melakukan perbuatan zina dengan korban yang tidak ada hubungan sah sebagai suami istri.
Hukum Pidana Islam membagi zina menjadi dua jenis yaitu zina muhshan dan zina ghairu muhshan. Zina muhshan dilakukan oleh seseorang yang sudah menikah baik sedang maupun pernah menikah. Sedangkan zina ghairu muhshan adalah zina yang dilakukan oleh seseorang yang belum pernah menikah. Hukuman bagi pelaku zina muhshan berbeda dengan pelaku zina ghairu muhshan. Sanksi bagi pelaku zina muhshan adalah hukuman rajam. Sedangkan sanski bagi pelaku zina ghairu muhshan dijatuhi hukuman di cambuk 100 kali dan diasingkan selama satu tahun.1
Dilihat dari kasus dalam putusan nomor 1288/Pid.Sus/2017/PN BJM bahwa korban dan pelaku menjalin hubungan pacaran, hubungan yang bukan
1M. Nurul Irfan dan Masyrofah, Fiqh Jinayah, (Jakarta: Amzah : 2018), hlm. 20
muhrim yang sudah jelas dilarang dalam agama islam. Hakikat agama Islam sebagai agama yang komprehensif. Sebagai agama yang syumuli (komprehensif), Islam mengatur tidak hanya persoalan akidah dan ritual ibadah, tapi juga persoalan muamalah. Di antara persoalan muamalah yang penting untuk diperhatikan adalah mengenai interaksi dan atau pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki dan perempuan yang bukan mahram memiliki batasan-batasan dalam interaksi dan pergaulannya. Hal ini semata-mata dalam rangka melindungi martabat satu sama lain, agar tidak terjerumus ke dalam kemaksiatan.2 Sebagaimana firman Allah dalam Q.s. Al-Isra’ (17):
32 tentang larangan mendekati zina.
Kemudian perbuatan pelaku yang membohongi korban mengenai identitasnya dan mengaku sebagai bos. Perbuatan pelaku yang berdusta tersebut dilarang oleh Allah Swt dan diatur dalam Q.s. Al-Hajj (22): 30 :
َٰىَلْتُي اَم َّلاِإ ُمََٰعْنَ ْلْٱ ُمُكَل ْتَّل ِحُأ َو ۗ ۦِهِ ب َر َدنِع ۥُهَّل ٌرْيَخ َوُهَف ِ َّللَّٱ ِت ََٰم ُرُح ْمِ ظَعُي نَم َو َكِلََٰذ ِرو ُّزلٱ َل ْوَق ۟اوُبِنَتْجٱ َو ِنََٰث ْوَ ْلْٱ َنِم َسْج ِ رلٱ ۟اوُبِنَتْجٱَف ۖ ْمُكْيَلَع
Artinya: “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya, maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta.”
Dikarenakan korban dalam keadaan membutuhkan uang maka korban menuruti perintah pelaku yang mengaku sebagai bos untuk mengirimkan foto telanjang korban. Perbuatan korban sangat jelas dilarang dan diatur dalam Q.s.
Al-Ahzab (33) : 59 tentang perintah menutup aurat bagi wanita. Sekitar bulan Juli 2017, pelaku memanfaatkan foto korban yang masih ada di ponselnya dan menjadikan ancaman agar korban menuruti permintaan pelaku. Perbuatan pelaku dilarang karena dalam islam menakuti atau mengancam orang lain apalagi perbuatan yang dilarang Allah Swt.
2 Fatwa tentang Hukum Video Call dengan pacar, suaramuhammadiyah.id , diakses pada 24 November 2021.
Dalam putusan di atas dijelaskan bahwa korban melakukan hubungan intim dengan status bukan suami istri. Perbuatan tersebut termasuk dalam perbuatan zina dan dikenakan sanksi hukuman 100x dera seperti yang disebutkan dalam Q.s. An-Nur (24): 2:
ِن يِد ىِف ٌةَفْأ َر اَمِهِب مُكْذُخْأَت َلا َو ۖ ٍةَدْلَج َةَئ۟اِم اَمُهْنِ م ٍد ِح ََٰو َّلُك ۟اوُدِلْجٱَف ىِنا َّزلٱ َو ُةَيِنا َّزلٱ َنيِن ِم ْؤُمْلٱ َنِ م ٌةَفِئٓاَط اَمُهَباَذَع ْدَهْشَيْل َو ۖ ِر ِخاَءْلٱ ِم ْوَيْلٱ َو ِ َّللَّٱِب َنوُنِم ْؤُت ْمُتنُك نِإ ِ َّللَّٱ
Artinya: “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.”
Kemudian pelaku melakukan pemerasan uang dengan ancaman terhadap korban, Perbuatan pemerasan dengan ancaman dilarang dalam agama islam sama saja dengan memakan harta orang dengan cara yang tidak sah (batil). Hal tersebut tercantum dalam Q.s. An-Nisa (4): 161:
َٰب ِ رلا ُمِهِذْخَا َّو ْمُهْنِم َنْي ِرِف َٰكْلِل اَنْدَتْعَا َوۗ ِلِطاَبْلاِب ِساَّنلا َلا َوْمَا ْمِهِلْكَا َو ُهْنَع ا ْوُهُن ْدَق َو او
اًمْيِلَا اًباَذَع
Artinya: “dan karena mereka menjalankan riba, padahal sungguh mereka telah dilarang darinya, dan karena mereka memakan harta orang dengan cara tidak sah (batil). Dan Kami sediakan untuk orang-orang kafir di antara mereka azab yang pedih.”
Pelaku yang tidak terima dengan penolakan korban untuk mengirimkan foto pornografi kepadanya dan pelaku tidak mendapatkan uang hasil pemerasan terhadap korban, langsung menyebarkan foto telanjang korban ke media sosial. Dalam Islam dilarang mencari keburukan orang lain serta menggunjing satu sama lain. Hal tersebut jelas tercantum dalam Q.s. Al-Hujurat (49): 12 :
َلا َو ۟اوُسَّسَجَت َلا َو ۖ ٌمْثِإ ِ نَّظلٱ َضْعَب َّنِإ ِ نَّظلٱ َنِ م ا ًريِثَك ۟اوُبِنَتْجٱ ۟اوُنَماَء َنيِذَّلٱ اَهُّيَأََٰٓي
۟اوُقَّتٱ َو ۚ ُهوُمُتْه ِرَكَف اًتْيَم ِهي ِخَأ َمْحَل َلُكْأَي نَأ ْمُكُدَحَأ ُّب ِحُيَأ ۚ اًضْعَب مُكُضْعَّب بَتْغَي
ٌمي ِح َّر ٌبا َّو َت َ َّللَّٱ َّنِإ ۚ َ َّللَّٱ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain.
Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”
M. Nurul Irfan menegaskan bahwa "...Orang yang menyebarkan sebenarnya mengaku secara tidak langsung, mengaku sama saja dengan berbangga yang masuk dalam perbuatan mujaharah (merasa bangga melakukan maksiat adalah dosa)..."3. Dalil tentang dilarang melakukan perbuatan revenge porn atau pornografi balas dendam sebagai berikut:
الله ىلص الله لوسر تعمس لوقي ةريره ابأ تعمس لاق الله دبع نب ملاس نع لمعي نأ ةرهاجملا نم نإو نيرهاجملا لاإ ىفاعم يتمأ لك لوقي ملسو هيلع ةحرابلا تلمع نلاف اي لوقيف هيلع الله هرتس دقو حبصي مث لامع ليللاب لجرلا
هنع الله رتس فشكي حبصيو هبر هرتسي تاب دقو اذكو اذك
Artinya: “Dari Salim bin Abdullah, dia berkata, Aku mendengar Abu Hurairah radhiyallahu’ anhu bercerita bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Setiap umatku akan mendapat ampunan, kecuali mujahirin (orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa).
Dan yang termasuk terang-terangan berbuat dosa adalah seseorang berbuat (dosa) pada malam hari, kemudian pada pagi hari dia menceritakannya, padahal Allah telah menutupi perbuatannya tersebut, yang mana dia berkata,
‘Hai Fulan, tadi malam aku telah berbuat begini dan begitu.’ Sebenarnya pada malam hari Rabb-nya telah menutupi perbuatannya itu, tetapi pada pagi
3 M.Nurul Irfan, Ahli Hukum Pidana Islam UIN Jakarta, Interview Pribadi, 4 November 2021.
harinya dia menyingkap perbuatannya sendiri yang telah ditutupi oleh Allah tersebut.”4
Mujaharah atau bangga dengan kemaksiatan dilarang keras dala syariat islam. Dalam Q.s An-Nur (24): 19 :
اَيْنُّدلٱ ىِف ٌميِلَأ ٌباَذَع ْمُهَل ۟اوُنَماَء َنيِذَّلٱ ىِف ُةَش ِحََٰفْلٱ َعيِشَت نَأ َنوُّب ِحُي َنيِذَّلٱ َّنِإ َنوُمَلْعَت َلا ْمُتنَأ َو ُمَلْعَي ُ َّللَّٱ َو ۚ ِة َر ِخاَءْلٱ َو
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.”
Berdasar pada ayat diatas bahwa Allah Swt mengancam orang yang suka menyebarluaskan kemungkaran di depan umum karena mujaharah memotivasi para pelaku maksiat untuk melakukan maksiat.
Memperhatikan keadaan yang timbul akibat perbuatan yang dilakukan terdakwa diantaranya adalah rasa malu yang dirasakan keluarga terdakwa, korban serta keluarga korban di lingkungan masyarakat. Perbuatan terdakwa tersebut juga mencemarkan nama baik korban NW di media sosial. Akibat perbuatan terdakwa, korban mendapat stigma negatif di kalangan masyarakat yang tentunya mempengaruhi psikologis korban dalam menjalani kehidupannya. Melihat hal-hal yang memberatkan Terdakwa diantaranya adalah terdakwa melanggar kesusilaan. Walaupun pada proses pemeriksaan di persidangan Terdakwa mengaku dan menyesali perbuatannya, tetapi hakim harus menjatuhkan hukuman yang bersifat represif dan preventif bagi terdakwa agar jera dan tidak akan mengulangi lagi perbuatannya.
Meskipun demikian, putusan hakim tetap harus mencerminkan rasa keadilan masyarakat dan tidak melanggar hak terdakwa artinya putusan hakim harus sesuai dengan jarimah yang dilakukan oleh terdakwa. Putusan hakim Pengadilan Negeri Banjarmasin menjatuhi hukuman pidana penjara 1 tahun
4 (H.r. Bukhari (6069) dalam kitab Fathul Bari dan lafadz ini milik Bukhari, dan riwayat Muslim (2990)).
dan denda sebesar Rp. 5.000.000 sesuai dengan syariat islam karena jarimah ta’zir pada hakikatnya bukan sebagai proses pembalasan ataupun penyiksaan melainkan jarimah ta’zir sebagai proses penyadaran terdakwa. Dengan demikian, dalam perkara revenge porn sebagai alasan tindak pidana kesusilaan ini akibat terdakwa yang dengan sengaja dan dalam keadaan sadar menyebarkan foto porno korban melalui media sosial. Dikarenakan terdapat kerugian kepada pihak lain maka terdapatlah pertanggungjawaban dari perbuatan terdakwa.
Berdasarkan Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 287 Tahun 2001 memutuskan5:
Pertama, Hukum:
1. Menggambarkan, secara langsung atau tidak langsung, tingkah laku secara erotis, baik dengan lukisan, gambar, tulisan, suara, reklame, iklan, maupun ucapan, baik melalui media cetak maupun elektronik yang dapat membangkitkan nafsu birahi adalah haram.
1. Membiarkan aurat terbuka dan atau berpakaian ketat atau tembus pandang dengan maksud untuk diambil gambarnya, baik untuk dicetak maupun divisualisasikan adalah haram.
2. Melakukan pengambilan gambar sebagaimana dimaksud angka 2 adalah haram.
3. Melakukan hubungan seksual atau adegan seksual di hadapan orang, melakukan pengambilan gambar hubungan seksual atau adegan seksual, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain, dan melihat hubungan seksual atau adegan seksual adalah haram.
4. Memperbanyak, mengedarkan, menjual, membeli dan melihat atau meperlihatkan gambar orang, baik cetak atau visual, yang terbuka auratnya atau berpakaian ketat atau tembus pandang yang dapat membangkitkan nafsu birahi, atau gambar hubungan seksual atau adegan seksual adalah haram.
5 Majelis Ulama Indonesia, Keputusan Fatwa Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 287 Tahun 2001 tentang Pornografi dan Pornoaksi, 22 Agustus 2001.
5. Berbuat intim atau berdua-duaan (khalwat) antara laki-laki dengan perempuan yang bukan mahramnya, dan perbuatan sejenis lainnya yang mendekati dan atau mendorong melakukan hubungan seksual di luar penikahan adalah haram.
6. Memperlihatkan aurat, yakni bagian tubuh antara pusar dan lutut bagi laki-laki dan bagian tubuh selain muka, telapak tangan, dan telapak kaki bagi perempuan, adalah haram, kecuali dalam hal-hal yang dibenarkan secara syar’i.
7. Memakai pakaian tembus pandang atau ketat yang dapat memperlihatkan lekuk tubuh adalah haram.
8. Melakukan suatu perbuatan dan/atau suatu ucapan yang dapat mendorong terjadinya hubungan seksual di luar penikahan atau perbuatan sebagimana dimaksud angka 6 adalah haram.
9. Membantu dengan segala bentuknya dan atau membiarkan tanpa pengingkaran perbuatan-perbuatan yang diharamkan di atas adalah haram.
10. Memperoleh uang, manfaat, dan atau fasilitas dari perbuatan- perbuatan yang diharamkan di atas adalah haram.
Kedua, Rekomendasi :
1. Mendesak kepada semua pihak, terutama produser, penerbit, dan pimpinan media, baik cetak maupun elektronika, agar segera menghentikan segala bentuk aktivitas yang diharamkan sebagaimana dimaksud oleh fatwa ini.
2. Mendesak kepada semua penyelenggara negara, agar segera:
a. menetapkan peraturan perundang-undangan yang memperha-tikan dengan sungguh-sungguh isi fatwa ini disertai dengan sanksi yang dapat berfungsi sebagai zawajir dan mawani’ (membuat pelaku menjadi jera dan orang yang belum melakukan menjadi takut melakukannya);
b. melarang dan menghentikan segala bentuk perbuatan haram dimaksud fatwa ini serta tidak memberikan izin terhadap penyelengaraan dan penyebarannya;
c. tidak menjadikan segala bentuk perbuatan haram dimaksud fatwa ini sebagai sumber pendapatan.
3. Mendesak kepada seluruh lapisan masyarakat agar turut serta secara aktif dan arif menghentikan segala bentuk perbuatan haram dimaksud fatwa ini.
4. Mendesak kepada penegak hukum, sebelum rekomendasi nomor 1, 2 dan 3 dalam fatwa ini terlaksana, agar menindak dengan tegas semua pelaku perbuatan haram dimaksud fatwa ini sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.
Ketiga, Ketentuan Penutup :
1. Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan, akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya.
2. Agar semua lapisan masyarakat dan setiap pihak yang terkait mengetahui fatwa ini, mengharap kepada semua pihak untuk menyebarluaskannya.
Dengan melihat isi ketentuan fatwa Majelis Ulama Indonesia dengan jelas menunjukkan kesungguhan MUI dalam menanggulangi masalah pornografi.6
B. Analisis Menurut Hukum Positif
Berdasarkan unsur-unsur yang telah dinyatakan dan terpenuhi dalam Undang-undang, bahwa terdakwa terbukti telah dinyatakan melakukan kejahatan sebagaimana yang di maksud dalam pasal 45 ayat (1) UU RI No. 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU RI No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.
Berdasarkan fakta pesidangan, baik itu berupa saksi, maupun keterangan terdakwa serta barang bukti yang diajukan di persidangan, berupa: 1 (satu) unit HP merek Samsung model B310E warna putih lengkap dengan Imei, kartu SIM dan memorinya, 1 (satu) unit HP Android merek Samsung model G530H Galaxy Grand Prime warna putih lengkap dengan Imei, kartu SIM nya
6 Neng Djubaedah, Pornografi Pornoaksi (ditinjau dari Hukum Islam), (Jakarta: Prenada Media, 2004), Hlm. 14.
dan memorinya, 1 (satu) lembar has cetak Screenshoot akun Instagram akun
@N_W. akun Instagram @N_W, 6 (enam) lembar hasil cetak Screenshot percakapan pesan singkat, 1 (satu) lembar hasil cetak Screenshot percakapan Instagram @N_W dengan @K_B, 3 (tiga) lembar hasil cetak Screenshoot antara Sdr. NW dengan Sdr. R, 1 (satu) unit HP merk XIAOMI android model HM 2LTECMCC warna hitam lengkap dengan Imei, kartu SIM dan memorinya, 1 (satu) unit HP merk OPPO Tipe R821 warna hitam lengkap dengan Imei, kartu SIM nya dan memorinya, 1 (satu) akun Instagram @N_W yang telah diekstrak ke dalam 1 (satu) keping CD berikut 2 (dua) lembar hasil cetaknya yang keseluruhan bukti tersebut dipergunakan dalam perkara tindak pidana kesusilaan M.S Als R.
Berdasarkan hal-hal yang memberatkan dan memperingan terdakwa di pengadilan. Dalam putusan pengadilan nomor 1288/Pid.Sus/2017/PN BJM ada beberapa hal yang memberatkan dan meringankan hukuman terhadap terdakwa, yaitu:
Hal-hal yang memberatkan terdakwa : 1. Perbuatan terdakwa melanggar kesusilaan.
2. Perbuatan terdakwa mencemarkan nama baik korban NW di media sosial.
Hal-hal yang meringankan terdakwa :
1. Terdakwa bersikap sopan dan tidak mempersulit proses persidangan.
2. Antara keluarga terdakwa dengan keluarga saksi korban telah ada perdamaian dan pihak terdakwa telah memberikan tali asih berupa uang tunai Rp. 5.000.000,- (lima juta rupiah).
3. Terdakwa mengakui perbuatannya.
Berdasarkan Putusan Pengadilan Negeri Banjarmasin M. S Als R bin S didakwa oleh Jaksa Penuntut Umum dengan dakwaan karena terbukti melanggar pasal 45 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Proses awal dalam menyelesaikan perkara yakni dimulai dengan penyelidikan,
penyidikan, tuntutan Jaksa Penuntut Umum, pemeriksaan dipersidangan dan pembuktian.7
Putusan Majelis Hakim Pengadilan Negeri ini berpijak pada hukum formal sekaligus materil. Dalam artian, aturan berupa Undang-Undang tersebut merupakan produk dari badan legislatif bersama eksekutif, dan isi dari Undang-Undang tersebut mengikat bagi pelaku tindak pidana apabila unsur-unsurnya terpenuhi. Pijakan Mejelis Hakim dalam putusan Nomor 1288/Pid.Sus/2017/PN BJM adalah Pasal 45 ayat (1) UU RI No. 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.
Menurut penulis, terkait amar putusan yang diberikan oleh majelis hakim mengenai putusan Majelis Hakim Hakim Pengadilan Negeri Banjarmasin No. 1288/Pid.Sus/2017/PN BJM terkait penerapan pasal pada kasus kesusilaan tidak berkesesuaian dengan teori retribusi/absolut atas perbuatan terdakwa yang harus dijatuhi pidana sesuai dengan perbuatannya, karena terdakwa tidak dikenakan sanksi pidana yang diatur dalam pasal 4 ayat (1) jo pasal 29 Undang-undang nomor 44 tahun 2008 yang berbunyi :
“Melarang setiap orang memproduksi, membuat, memperbanyak, menggandakan, menyebarluaskan, menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan, memperjualbelikan, menyewakan, atau menyediakan pornografi yang secara eksplisit memuat:
1. persenggamaan, termasuk persenggamaan yang menyimpang;
2. kekerasan seksual 3. masturbasi atau onani
4. ketelanjangan atau tampilan yang mengesankan ketelanjangan 5. alat kelamin; atau
6. pornografi anak."8
Sedangkan pasal 29 Undang-undang nomor 44 tahun 2008 berbunyi:
“Ancaman hukumannya dipidana penjara paling singkat 6 bulan dan paling
7 Bambang Waluyo, Pidana dan Pemidanaan, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2004), hlm. 41-43.
8 Pasal 4 ayat (1) Undang-undang Nomor 44 Tahun 2008
lama 12 tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp250 juta dan paling banyak Rp 6 miliar.”9
Namun, penulis berkaca pada ancaman yang tertera dalam pasal 45 ayat (1) UU ITE terdapat ancaman hukuman paling lama 6 (enam) tahun penjara dan denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
Namun karena telah terjadi itikad baik dari keluarga terdakwa dan sudah memberikan tali asih sebesar 5.000.000,- (lima juta rupiah), maka pidana penjara yang dapat dijatuhkan kepada terdakwa hanya 1 (satu) tahun dan denda sebesar Rp. 5.000.000,- (lima juta rupiah) dengan ketentuan bila tidak dibayar diganti dengan pidana kurungan selama 2 (dua) bulan serta dikurangkan seluruhnya dari masa penangkapan dan penahanan yang telah dijalani Terdakwa.
Maka, amar putusan yang diberikan oleh majelis hakim mengenai putusan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Banjarmasin No.
1288/Pid.Sus/2017/PN BJM pada kasus kesusilaan sesuai dengan teori relatif karena putusan Majelis Hakim dalam pemberian sanksi tentunya tidak lepas dari berbagai pertimbangan serta hal-hal yang memberatkan dan meringankan terdakwa. Pertimbangan majelis hakim dalam putusan nomor 1288/Pid.Sus/2017/PN BJM cenderung menggunakan teori tujuan/relatif dalam pemidanaan.
Aspek yang memberatkan bagi pelaku adalah melakukan perbuatan yang dengan unsur kesengajaan telah melakukan publikasi terhadap sesuatu yang secara norma dan kaidah budaya timur sangat dihormati dan dilindungi karena masuk dalam ranah privacy. Perlindungan terhadap kehormatan seseorang merupakan sesuatu yang sangat sensitif keberadaan dan publik mengakui akan hal itu. Maka dengan menjaga, memelihara dan melindungi kehormatan diri atau orang lain adalah sesuatu yang asasi dalam prinsip dasar kemanusiaan.
Berkenaan dengan hal di atas Saifullah berpendapat, bahwa akibat hukum perbuatan tersebut adalah sesuatu aib yang luar biasa dirasakan bagi
9 Pasal 29 Undang-undang Nomor 44 Tahun 2008
korban jika hal-hal yang disampaikan di atas dijadikan alat yang di publish secara luas di masyarakat. Tentu saja dampak utama yang dirasakan oleh korban rasa malu dan trauma tidak saja bagi korban juga dengan keluarga korban yang mau tidak mau, suka atau tidak suka ikut tercemar atas kejadian tersebut. Tentu saja sanksi sosial yang diterima atas pencemaran nama baik korban menjadikan stigma yang sulit untuk dihapus tidak saja bagi korban dan keluarga korban mungkin juga keturunan dari korban jika pesoalan ini tidak diangkat ke ranah perkara hukum agar ada unsur keadilan bagi korban dan kepastian hukum berupa vonis bagi pelaku.10
Satochid Kartanegara dalam karyanya yang berjudul Hukum Pidana Kumpulan Kuliah menjelaskan bahwa teori tujuan/relatif dalam pemidanaan membenarkan pemidanaan berdasarkan atau tergantung kepada tujuan pemidanaan, yaitu untuk perlindungan masyarakat atau pencegahan terjadinya kejahatan. Oleh karena itu, diancamkannya suatu pidana dan dijatuhkannya sebuah sanksi bertujuan untuk memperbaiki perilaku terdakwa di waktu yang akan datang.11
Menurut penulis, penggunaan teori tujuan/relatif dalam pemidanaan oleh majelis hakim dari pertimbangan putusannya haruslah dipandang dari sisi represif, yaitu pidana yang dijatuhkan kepada terdakwa bukan merupakan suatu pembalasan terhadap perbuatan terdakwa melainkan sebagai suatu pembinaan agar terdakwa menyadari akan kesalahannya, dapat memperbaiki diri dan tidak mengulangi lagi perbuatannya, sehingga kelak di kemudian hari setelah selesai menjalani pidana Terdakwa dapat diterima kembali oleh lingkungan masyarakat, dapat hidup secara wajar sebagai warga yang baik dan bertanggung jawab.
Selain itu, harus pula dipandang dari sisi preventif, yaitu pidana yang dijatuhkan kepada terdakwa merupakan salah satu bentuk pencegahan agar
10 Saifullah, Guru Besar bidang Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum UIN Maliki Malang, Interview Pribadi, 6 November 2021.
11 Satochid Kartanegara, Hukum Pidana Kumpulan Kuliah, (Jakarta: Balai Lektur Mahasiswa, 2001), hlm. 57.
tidak terjadi tindak pidana serupa. Pengaruh perbuatan pelaku bagi korban adalah perasaan ketidaknyamanan diri karena perasaan dan harga diri yang dilecehkan oleh pelaku. Secara psikolgis perlu ada pendampingan dari Psikolog atau Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). Oleh sebab itu, perlu dilakukan tindakan yang serius bagi pelaku sampai ada vonis pidana yang berat yang dijatuhkan hakim dalam rangka ada efek jera bagi pelaku atau calon pelaku yang baru.
Berdasarkan pemaparan di atas, penulis berkesimpulan Majelis Hakim tidak berkesusaian dengan teori absolut dalam penerapan pasal terhadap terdakwa namun sudah melakukan pertimbangan yang sesuai dengan teori relatif atas penjatuhan sanksi pidana terhadap terdakwa. Menurut penulis sanksi yang dijatuhkan oleh Majelis Hakim tergolong cukup karena sudah ada pemberian tali asih di luar pengadilan antara keluarga terdakwa dan keluarga korban yang merupakan salah satu jalan damai dan memperingan hukuman terhadap Terdakwa. Dengan adanya jalur perdamaian di luar pengadilan, penulis mengambil kesimpulan seperti yang di jelaskan dalam restorative justice bahwa restorative justice merupakan suatu proses penyelesaian tindakan pelanggaran hukum yang terjadi, dilakukan dengan membawa korban dan pelaku (tersangka) bersama-sama duduk dalam satu pertemuan untuk dapat berbicara.
Tujuan utama restorative justice adalah terciptanya peradilan yang adil12. Korban diharapkan memperoleh kompensasi yang sesuai dan disepakati bersama dengan pelaku untuk mengganti kerugian dan mengurangi penderitaan yang dialami. Dalam restorative justice, pelaku harus bertanggung jawab penuh sehingga diharapkan pelaku dapat menyadari kesalahannya.
Prinsip keadilan restoratif (restorative justice) tidak bisa dimaknai sebagai metode penghentian perkara secara damai, tetapi lebih luas pada pemenuhan rasa keadilan semua pihak yang terlibat dalam perkara pidana melalui upaya yang melibatkan korban, pelaku dan masyarakat setempat serta
12 Marlina, Peradilan Pidana Anak di Indonesia, Pengembangan Konsep Diversi dan Restorative Justice, Cet I, (Bandung: Refika Aditama, 2009), hlm. 180.