• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PENUTUP

B. SARAN

Perlindungan hukum yang represif bertujuan untuk menyelesaikan sengketa. Penanganan perlindungan hukum oleh Pengadilan Umum dan Pengadilan Administrasi di Indonesia termasuk kategori perlindungan hukum ini. Prinsip perlindungan hukum terhadap tindakan pemerintah bertumpu dan bersumber dari konsep tentang pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia karena menurut sejarah dari barat, lahirnya konsep-konsep tentang pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia diarahkan kepada pembatasan-pembatasan dan peletakan kewajiban masyarakat dan pemerintah. Prinsip kedua yang mendasari perlindungan hukum terhadap tindak pemerintahan adalah prinsip negara hukum. Dikaitkan dengan pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia, pengakuan dan perlindungan terhadap

63 Philipus M. Hadjon. Perlindungan Hukum Bagi Rakyat Indonesia. Surabaya : Bina Ilmu , 1987), Hlm. 25.

hak-hak asasi manusia mendapat tempat utama dan dapat dikaitkan dengan tujuan dari negara hukum.64

Sedangkan dasar perlindungan hukum dapat dilihat dari 3 teori, yaitu:65

a. Teori Utilitas

Teori ini menitikberatkan pada kemanfaatan yang terbesar bagi jumlah yang terbesar. Konsep pemberian perlindungan dapat diterapkan sepanjang memberikan kemanfaatan yang lebih besar dibandingkan dengan tidak diterapkannya konsep tersebut, tidak saja bagi korban, tetapi juga bagi system penegakan hukum secara keseluruhan.

b. Teori Tanggung Jawab

Pada hakekatnya subjek hukum bertanggung jawab terhadap segala perbuatan hukum yang dilakukannya sehingga apabila seseorang mengakibatkan orang lain menderita kerugian, orang tersebut harus bertanggung jawab atas kerugian yang ditimbulkannya, kecuali ada alasan yang dapat membebaskannya.

c. Teori Ganti Kerugian

Sebagai perwujudan tanggung jawab karena kesalahannya terhadap orang lain, dibebani kewajiban untuk memberikan ganti kerugian pada korban atau ahli warisnya.

Selain diatur dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban, Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) juga mengatur tentang perlindungan hukum yang lebih menekankan pada hak-hak tersangka atau terdakwa. Namun demikian, terdapat beberapa asas dalam KUHAP yang dapat dijadikan landasan perlindungan korban, misalnya:66

a. Perlakuan yang sama di depan hukum b. Asas cepat, sederhana, dan biaya ringan

64 Ibid.

65 Muladi, Kapita Selekta System Peradilan Pidana, (Semarang : B.P Undip, 1995), hlm 66.

66 Bambang Waluyo, 2014, Viktimologi Perlindungan Korban dan Saksi, (Jakarta: Sinar Grafika), hlm. 3.

c. Peradilan yang bebas

d. Peradilan terbuka untuk umum e. Ganti kerugian

f. Keadilan dan kepastian hukum.

Upaya perlindungan hukum secara preventif yaitu dengan menyebarkan informasi dampak buruk dari revenge porn dan hukuman bagi pelaku revenge porn, serta perlunya kesadaran diri sendiri untuk menjaga privasi dengan tidak mengirim foto atau video konten seksualitas kepada siapapun walaupun status berpacaran namun bila sudah terlanjur dikirim harus membuat kesepakatan ketika hubungan sudah putus maka wajib menghapus foto atau video konten seksualitas tersebut. Sedangkan upaya perlindungan hukum represif yaitu dengan pemberian kompensasi dan restitusi yang sesuai dan disepakati bersama dengan pelaku untuk mengganti kerugian dan mengurangi penderitaan yang dialami.

B. Review Studi Terdahulu

Penelitian atau pembuatan skripsi, terkadang terdapat tema yang berkaitan dengan penelitian yang penulis teliti sekalipun arah dan tujuan yang diteliti berbeda. Dari penelitian ini, penulis menemukan beberapa sumber kajian lain yang telah terlebih dahulu membahas terkait dengan pornografi balas dendam (revenge porn) sebagai alasan tindak pidana kesusilaan, yaitu:

Pertama, Penelitian yang penulis temukan memiliki kemiripan dengan tema yang penulis kaji yaitu berjudul PERLINDUNGAN DATA PRIBADI TERHADAP TINDAKAN REVENGE PORN MENURUT HUKUM POSITIF DI INDONESIA Skripsi Hiro Ardi Widyanto, Fakultas Hukum, Universitas Padjadjaran pada tahun 2016. Kemiripan yang ada ialah tentang tindakan revenge porn menurut hukum positif dan dalam skripsi tersebut lebih spesifik membahas tentang perlindungan data pribadi terhadap tindakan revenge porn dan dampak negatif penyalahgunaan ITE.

Kedua, Penelitian yang penulis temukan memiliki kemiripan dengan tema yang penulis kaji yaitu berjudul PERLINDUNGAN HUKUM BAGI KORBAN PORNOGRAFI BALAS DENDAM (REVENGE PORN) Skripsi karya Tiara Robiatul Adawiyah, Fakultas Hukum, Universitas Islam Indonesia pada tahun 2018. Kemiripan yang ada ialah tentang perlindungan hukum bagi korban pornografi balas dendam. Dalam skripsi tersebut membahas lebih fokus kepada urgensi perlindungan hukum bagi korban pornografi balas dendam.

Ketiga, Penelitian yang penulis temukan memiliki kemiripan dengan tema yang penulis teliti yaitu berjudul PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA TERHADAP PELAKU PENYEBAR PORNOGRAFI BALAS DENDAM (REVENGE PORN) DI MEDIA SOSIAL Skripsi karya Aliya Marsha Aziza, Program Studi Hukum Pidana, Universitas Sriwijaya pada tahun 2020. Kemiripan yang ada ialah tentang pertanggung jawaban pidana pelaku penyebar pornografi balas dendam dan dalam skripsi tersebut membahas lebih kepada pertanggungjawaban pidana pelaku penyebar pornografi balas dendam di media sosial yang dikaji melalui studi putusan hakim dalam hukum pidana.

Penelitian penulis yang berjudul REVENGE PORN DALAM PERSPEKTIF HUKUM PIDANA ISLAM DAN HUKUM POSITIF (ANALISIS PUTUSAN NOMOR 1288/Pid.Sus/2017/PN BJM).

Penelitian yang dilakukan oleh penulis berbeda dari penelitian sebelumnya dan penelitian penulis lebih spesifik membahas akan suatu kasus kejahatan yang terjadi pada wilayah hukum Pengadilan Negeri Banjarmasin serta membahas tentang pornografi balas dendam (revenge porn) sebagai alasan tindak pidana kesusilaan menurut hukum pidana islam dan hukum positif yang diatur dalam KUHP pasal 281 dan 282 ayat 1, Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi.

Dalam proses peradilan tindak pidana ini majelis hakim memutus hukuman perkara sesuai dengan ketentuan yang tertera dalam

Undang-undang. Hal tersebut berdasarkan atas pertimbangan hakim dalam memutus suatu perkara melihat dari pemeriksaan fakta yang akan terungkap dalam persidangan baik dari keterangan saksi, keterangan terdakwa, alat bukti dan sebagainya. Dengan demikian, masalah yang diteliti adalah mengenai sebuah kasus dalam wilayah hukum Pengadilan Negeri Banjarmasin dan perbandingan hukum mengenai pornografi balas dendam (revenge porn).

44 BAB III

DESKRIPSI PERKARA NOMOR 1288/Pid.Sus/2017/PN BJM TENTANG TINDAK PIDANA KESUSILAAN

A. Kronologi Kasus

Dalam kasus putusan nomor 1288/Pid.Sus/2017/PN BJM tentang tindak pidana kesusilaan, penulis mengambil data putusan perkara melalui website direktori putusan Mahkamah Agung.1 Berawal pada bulan Februari 2017 terdakwa berkenalan dan menjalin hubungan pacaran dengan korban NW saat berada diwarung / kedai milik korban yang ber alamat di Jalan Landasan Ulin Banjarbaru. Terdakwa mengaku bekerja di Perusahaan Consumer Good dan mendengar hal tersebut korban NW meminta tolong kepada terdakwa agar dicarikan pekerjaan baru kemudian terdakwa menyuruh NW agar menghubungi atasan atau bos terdakwa yang bernama S dan memberikan nomor hpnya kepada NW, padahal orang yang bernama S adalah terdakwa sendiri untuk mengelabui korban. Setelah NW menghubungi S atau terdakwa dengan maksud untuk mencari pekerjaan lalu terdapat syarat yang diberikan terdakwa kepada korban agar dapat diterima bekerja yaitu mengirimkan foto telanjang dirinya kepada S.

Dikarenakan korban ingin mendapatkan pekerjaan sehingga pada bulan Maret 2017 korban mengirimkan foto telanjang dirinya sebanyak 3 (tiga) buah foto kepada S. Namun setelah itu, NW kembali menghubungi S dengan maksud membatalkan lamaran masuk bekerja dengan alasan tidak bisa meninggalkan anaknya di Landasan Ulin dan terdakwa menyetujuinya, kemudian korban langsung menghapus kontak BBM terdakwa dari kontak BBMnya karena korban tidak ingin lagi berhubungan dengan terdakwa.

Sekitar akhir Bulan Juli Tahun 2017, S (bos terdakwa) menghubungi NW melalui SMS yang mengatakan bahwa foto-foto telanjang korban masih ada di

1 Putusan Nomor 1288/Pid.Sus/2017/PN BJM

Handphonenya dan menyuruh korban untuk menepati janjinya yaitu foto telanjang berdua dengan terdakwa.

Namun korban menolaknya akan tetapi bos terdakwa mengancam NW akan menyebarkan foto telanjang NW ke Media Sosial dan diberi tenggang waktu sampai tanggal 2 Agustus 2017. Sekitar tanggal 31 Juli 2017 sekira jam 17.00 Wita korban mengajak terdakwa untuk bertemu di Hotel Melayu di Kampung Melayu Banjarmasin. NW melakukan hubungan badan dengan terdakwa dan menceritakan tentang permintaan Bos terdakwa kepada terdakwa. Pada tanggal 17 Agustus 2017 sekitar jam 12.00 Wita NW kembali bertemu dengan terdakwa di Hotel Melayu di Kampung Melayu Banjarmasin dan berhubungan badan. Kemudian, korban dan terdakwa berfoto dengan pose telanjang yang ditutupi selimut hingga dada sambil duduk di ranjang menggunakan Handphone milik terdakwa dengan alasan nanti terdakwa akan memperlihatkan foto tersebut kepada Bos terdakwa pada saat terdakwa kembali ke kantor.

Sekitar jam 14.00 Wita, korban di SMS oleh bos terdakwa yang protes mengapa foto yang dilakukan tidak sesuai dengan keinginan bos terdakwa, namun korban menjawab bahwa foto tersebut dilakukan dengan pose yang di inginkan terdakwa. Kemudian terdakwa mengirimkan pesan via WhatsApp dan mengatakan jika bos terdakwa tidak terima kalau foto nya hanya dengan pose seperti itu saja dan terdakwa mengajak korban untuk foto kembali, namun korban tidak bisa karena sudah dijalan menuju ke Landasan Ulin untuk pulang Pada tanggal 19 agustus 2017 sekitar jam 16.00 Wita, bos terdakwa mengirimkan SMS yang mengatakan bahwa foto telanjang korban ada yang mau membeli dengan harga Rp 1.500.000 (satu juta lima ratus ribu rupiah).2

Namun korban mencegahnya dan korban mengatakan bahwa korban yang akan membeli nya dengan harga tersebut, namun oleh Bos terdakwa dinaikkan menjadi Rp 2.000.000 (dua juta rupiah). Korban keberatan karena tidak punya uang. Kemudian, korban diberi waktu sampai jam 7 malam bila tidak akan disebarkan foto telanjang korban tersebut ke Media Sosial namun

2 Putusan Nomor 1288/Pid.Sus/2017/PN BJM

korban meminta kelonggaran waktu untuk mencarikan uang terlebih dahulu tetapi bos alias terdakwa tetap menolak.

Jum’at, 18 Agustus 2017 sekitar pukul 18.45 Wita terdakwa mengunggah foto telanjang korban dengan menggunakan profil akun Instagram @N_W. Sekitar jam 19.00 Wita korban dihubungi oleh saksi KBI yang bertanya apakah korban mempunyai akun Instagram baru dengan nama

@N_W, namun korban menjawab tidak ada kemudian saksi KBI screenshoot berupa profil akun Instagram @N_W melalui BBM korban. Kemudian pada tanggal 19 Agustus 2017 sekitar jam 19.15 Wita, Saksi W bertanya kepada korban melalui pesan di Instagram mengenai akun Instagram baru korban atas nama @N_W. Korban menjawab tidak ada. Kemudian saksi W mengirimkan screenshoot/unggahan dari Instagram @N_W yang mengirimkan foto telanjang korban. Lalu korban menghubungi terdakwa untuk mengkonfirmasi mengenai akun Instagram @N_W dan Foto yang diunggah diakun tersebut.

Terdakwa menjelaskan itu hanya peringatan untuk korban NW agar tidak macam-macam dengan terdakwa dan setelah kejadian tersebut korban disarankan oleh saudara sepupunya yaitu D untuk melaporkan hal tersebut ke kantor polisi. Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 45 ayat (1) UU RI No. 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU RI No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.3 Terdakwa telah didakwa oleh Penuntut Umum dengan dakwaan yang berbentuk alternatif, Sebagaimana diatur dalam pasal 45 ayat (1) UU RI No.

19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU RI No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, yang unsur-unsurnya sebagai berikut :4 a. Setiap orang

b. Dengan sengaja

c. Tanpa hak mendistribusikan san/atau mentransmisikan dan/atau membuat sapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan.

3 Putusan Nomor 1288/Pid.Sus/2017/PN BJM

4 Putusan Nomor 1288/Pid.Sus/2017/PN BJM

B. Dakwaan dan Tuntutan Jaksa

Terdakwa telah didakwa oleh Penuntut Umum dengan dakwaan yang berbentuk alternatif, Sebagaimana diatur dalam pasal 45 ayat (1) UU RI No.

19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU RI No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, yang unsur-unsurnya sebagai berikut :5 a. Setiap orang

b. Dengan sengaja

c. Tanpa hak mendistribusikan san/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan.

Adapun tuntutan dari Jaksa Penuntut Umum adalah sebagai berikut:

1. Menyatakan terdakwa M. S Als. R Bin S bersalah melakukan tindak pidana “dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan”, sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 45 ayat (1) UU RI Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU RI Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dalam Surat Dakwaan kedua.

2. Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa M. S Als. R Bin S dengan pidana penjara selama 1 (Satu) tahun dan 6 (enam) bulan dikurangkan dengan masa penahanan yang telah dijalani dengan perintah terdakwa tetap ditahan, dan denda sebesar Rp. 5.000.000,- (lima juta rupiah) subsidiair 3 (tiga) bulan kurungan.

3. Menyatakan barang bukti berupa :

a. 1 (satu) unit HP merk Samsung model B310E warna putih lengkap dengan Imei, kartu SIM nya dan memori nya.

b. 1 (satu) unit HP Android merk Samsung model G530H Galaxy Grand Prime warna putih lengkap dengan Imei, kartu SIM dan memorinya.

5 Putusan Nomor 1288/Pid.Sus/2017/PN BJM

Dikembalikan kepada saksi korban NW Bin W.

a. 1 (satu) lembar hasil cetak Screenshot akun Instagram @N_W b. 6 (enam) lembar hasil cetak Screenhot percakapan pesan singkat.

c. 1 (satu) lembar hasil cetak screenshot percakapan Instagram @N_W dengan @K_B.

d. 3 (tiga) lembar hasil cetak Screenshot anatara Sdr. NW dengan Sdr. R.

e. 1 (satu) unit HP merk XIAMOI android model HM 2LTE-CMCC warna hitam lengkap dengan Imei, kartu SIM dan memorinya.

f. 1 (satu) unit HP merk OPPO Tipe R821 warna hitam lengkap dengan Imei, kartu SIM nya dan memori nya.

g. 1 (satu) akun Instagram @N_W yang telah diekstrak ke dalam 1 (satu) keping CD berikut 2 (dua) lembar hasil cetaknya.

Dirampas untuk dimusnahkan.

4. Membebankan biaya perkara kepada terdakwa sebesar Rp.5.000,- (lima ribu rupiah).

C. Pertimbangan Hakim

Adapun pertimbangan hakim dalam memutus perkara Nomor 1288/Pid.Sus /2017/PN BJM antara lain;6

Menimbang, bahwa oleh karena semua unsur dari pasal 45 ayat (1) UU RI No. 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU RI No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, telah terpenuhi, maka Terdakwa haruslah dinyatakan telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana sebagaimana didakwakan dalam dakwaan alternatif kedua.

Menimbang, bahwa dalam perkara ini terhadap Terdakwa telah dikenakan penahanan yang sah, maka masa penahanan tersebut harus dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan.

6 Putusan Nomor 1288/Pid.Sus/2017/PN BJM

Menimbang, bahwa oleh karena Terdakwa ditahan dan penahanan terhadap Terdakwa dilandasi alasan yang cukup, maka perlu ditetapkan agar Terdakwa tetap berada dalam tahanan.

Menimbang, bahwa barang bukti berupa :

a. 1 (satu) lembar hasil cetak Screenshoot akun Instagram @N_W b. 6 (enam) lembar hasil cetak Screenshoot percakapan pesan singkat

c. 1 (satu) lembar hasil cetak Screenshoot percakapan Instagram @N_W dengan @K_B

d. 3 (tiga) lembar hasil cetak Screenshoot antara Sdr. N dengan Sdr. R (terdakwa)

e. 1 (satu) unit HP merk XIAOMI android model HM 2LTE-CMCC warna hitam lengkap dengan Imei, kartu SIM nya dan memori nya

f. 1 (satu) unit HP merk OPPO Tipe R821 warna hitam lengkap dengan Imei, kartu SIM nya dan memori nya

g. 1 (satu) akun Instagram @N_W yang telah diekstrak ke dalam 1 (satu) keping CD berikut 2 (dua) lembar hasil cetaknya yang telah dipergunakan untuk melakukan kejahatan dan dikhawatirkan akan dipergunakan untuk mengulangi kejahatan, maka perlu ditetapkan agar barang bukti tersebut dimusnahkan.

Menimbang, bahwa barang bukti berupa 1 (satu) unit HP merk Samsung model B310E warna Putih lengkap dengan Imei, kartu SIM nya dan memori nya dan 1 (satu) unit HP Android merk Samsung model G530H Galaxy Grand Prime warna putih lengkap dengan Imei, kartu SIM nya dan memori nya, maka dikembalikan kepada dikembalikan kepada saksi korban NW Bin W.

Menimbang, bahwa untuk menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa, maka perlu dipertimbangkan terlebih dahulu keadaan yang memberatkan dan yang meringankan Terdakwa.

Keadaan yang memberatkan:

Perbuatan terdakwa melanggar kesusilaan

Perbuatan terdakwa mencemarkan nama baik korban NW di media sosial.

Keadaan yang meringankan:7

1) Terdakwa bersikap sopan dan tidak mempersulit proses persidangan.

2) Antara keluarga terdakwa dengan keluarga saksi korban telah ada perdamaian dan pihak terdakwa telah memberikan tali asih berupa uang tunai Rp. 5.000.000,- (lima juta rupiah).

Menimbang, bahwa oleh karena Terdakwa dijatuhi pidana maka haruslah dibebani pula untuk membayar biaya perkara.

Menimbang, bahwa terhadap unsur-unsur tersebut Majelis Hakim mempertimbangkan sebagai berikut:8

Ad. 1. Unsur Setiap orang ;

Menimbang, bahwa yang dimaksud dengan “Setiap orang” adalah menunjuk kepadamanusia selaku subyek hukum yang diajukan ke persidangan oleh Penuntut Umum karenatelah didakwa melakukan suatu perbuatan pidana untuk menghindari kesalahan subyek (error in persona).

Menimbang, bahwa Penuntut Umum telah menghadapkan terdakwa M.S als R Bin S dan ternyata setelah diperiksa identitas lengkap Terdakwa telah sama dengan identitas Surat Dakwaan Penuntut Umum No. Reg. Perkara : PDM-872/BJRMS/10/2017, tertanggal 18 Oktober 2017 dan surat-surat lain dalam berkas perkara yang dimaksud adalah diri Terdakwa, dalam perkara ini tidak terjadi kesalahan subjek (error in persona) dan selama persidangan Terdakwa telah nampak mampu berinteraksi dengan baik dan nampak mampu untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya, maka dengan demikian unsur Ad. 1 telah terpenuhi.

Ad. 2. Unsur Dengan sengaja:

Kata “sengaja” atau “disengaja” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah “dimaksudkan (direncanakan), memang diniatkan begitu, tidak secara kebetulan”9 Dalam ilmu hukum arti atau definisi tentang kesengajaan atau dolus intent opzet, dapat ditemukan dalam Memorie van

7 Putusan Nomor 1288/Pid.Sus/2017/PN BJM

8 Putusan Nomor 1288/Pid.Sus/2017/PN BJM

9 Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan Bahasa. Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1998), hlm. 814.

Toelichting (Memori Penjelasan) yang mengartikan kesengajaan sebagai menghendaki dan mengetahui (willen en weten). Kesengajaan dipersyaratkan terjadi pada ketiga unsur dari tindak pidana, yaitu :

a. Perbuatan yang dilarang

b. Akibat yang menjadi pokok alasan diadakan larangan itu c. Bahwa perbuatan itu melanggar hukum

Kesengajaan sifatnya alternatif yang dapat ditujukan kepada tiga elemen perbuatan pidana sehingga terwujud kesengajaan terhadap perbuatan, kesengajaan terhadap akibat dan kesengajaan terhadap hal ikhwal yang menyertai perbuatan pidana. Menurut pakar hukum, pada umumnya menyebutkan adanya tiga macam bentuk kesengajaan (opzet), yang menunjukkan tingkatan dari kesengajaan, yaitu:10

a. Kesengajaan sebagai maksud (opzet als oogmerk)

Kesengajaan sebagai maksud (opzet als oogmerk) untuk mencapai suatu tujuan (dolus directus). Dalam bentuk kesengajaan ini pelaku bertujuan untuk menimbulkan akibat yang dilarang. Kesengajaan sebagai maksud adalah perbuatan yang dilakukan oleh si pelaku atau terjadinya suatu akibat dari dari perbuatan si pelaku adalah memang menjadi tujuannya. Tujuan tersebut dapat di pertanggungjawabkan dan tidak ada yang menyangkal bahwa si pelaku pantas dikenai hukuman pidana. Dengan kata lain, si pelaku benar-benar menghendaki mencapai akibat yang menjadi pokok alasan diadakan ancaman hukuman pidana. Menurut teori kehendak, sengaja sebagai maksud karena apa yang dimaksud telah dikehendakinya.

b. Kesengajaan dengan sadar kepastian (opzet alszekerheidsbewustzjin)

Kesengajaan dengan sadar kepastian (opzet als zekerheidsbewustzijn) atau noodzakkelijkheidbewustzijn). Kesengajaan dengan sadar kepastian adalah apabila si pelaku dengan perbuatannya tidak bertujuan untuk mencapai akibat yang menjadi dasar dari perbuatan pidana, tetapi ia tahu benar bahwa akibat itu pasti akan mengikuti perbuatannya tersebut. Oleh karena itu, sebelum sungguh-sungguh terjadi akibat perbuatannya, si pelaku hanya dapat

10 Putusan Nomor 1288/Pid.Sus/2017/PN BJM

mengerti atau dapat menduga bagaimana akibat perbuatannya nanti atau apa-apa yang akan turut mempengaruhi terjadinya akibat perbuatan itu.

Dalam bentuk kesengajaan ini, perbuatan pelaku mempunyai dua akibat, yaitu pertama, akibat yang memang dituju si pelaku yang merupakan delikter sendiri atau bukan. Kedua, akibat yang tidak diinginkan tapi merupakan suatu keharusan untuk mencapai tujuan dalam akibat pertama.11 z kehendak merumuskan bahwa apabila pelaku juga menghendaki akibat atau hal-hal yang turut mempengaruhi terjadinya akibat yang terlebih dahulu telah dapat digambarkan dan tidak dapat di elakkan maka boleh dikatakan bahwa pelaku melakukan perbuatannya itu dengan sengaja dilakukan dalam keadaan sangat perlu atau sengaja dilakukan dengan kepastian dan kesadaran.

Teori membayangkan dan merumuskan bahwa apabila bayangan tentang akibat atau hal-hal yang turut mempengaruhi terjadinya akibat yang sebetulnya tidak langsung dikehendaki tetapi juga tidak dapat dielakkan maka boleh dikatakan bahwa perbuatan itu dengan sengaja dilakukan dalam keadaan sangat perlu atau sengaja dilakukan dengan kepastian dan kesadaran.

c. Kesengajaan dengan sadar kemungkinan (dolus eventualis)

Kesengajaan dengan sadar kemungkinan (dolus eventualis atau voowaardelijk-opzet). Dalam hal ini keadaan tertentu yang semula hanya mungkin terjadi kemudian benar-benar terjadi, kesengajaan dengan kemungkinan berarti apabila dengan dilakukannya perbuatan atau terjadinya suatu akibat yang dituju itu maka disadari bahwa adanya kemungkinan akan timbulnya akibat lain, atau dengan kata lain ada keadaan tertentu yang semula mungkin terjadi kemudian ternyata benar-benar terjadi. Menurut teori ini untuk adanya kesengajaan diperlukan dua syarat :

1) Pelaku mengetahui kemungkinan adanya akibat/keadaanya yang merupakan delik.

2) Sikapnya terhadap kemungkinan itu apabila benar terjadi, resiko tetap diterima untukmencapai apa yang dimaksud.

11 Putusan Nomor 1288/Pid.Sus/2017/PN BJM

Teori kesengajaan dengan kemungkinan adalah apabila dalam gagasan si pelaku hanya ada bayangan kemungkinan akan terjadi akibat yang bersangkutan tanpa dituju. Maka harus ditinjau seandainya ada bayangan kepastian, tidak hanya kemungkinan apakah perbuatan tetap akan dilakukan oleh si pelaku. Kalau hal ini terjadi, dapat dikatakan bahwa akibat yang terang dapat tidak dikehendaki dan yang mungkin akan terjadi itu tetap dipikul pertanggungjawaban nya oleh pelaku.

Menimbang, bahwa berdasarkan fakta-fakta yang terungkap dipersidangan:12

Bahwa benar terdakwa menawarkan pekerjaan pada perusahaan Consumer Good kepada korban NW.

Bahwa benar terdakwa menyebutkan syarat agar korban NW menghubungi bos terdakwa S.

Bahwa benar orang yang bernama S yang dimaksud oleh terdakwa sebagai bos itu adalah rekaan dari terdakwa dengan maksud untuk mengelabui

Bahwa benar orang yang bernama S yang dimaksud oleh terdakwa sebagai bos itu adalah rekaan dari terdakwa dengan maksud untuk mengelabui

Dokumen terkait