• Tidak ada hasil yang ditemukan

REVENGE PORN DALAM PERSPEKTIF HUKUM PIDANA ISLAM DAN HUKUM POSITIF (ANALISIS PUTUSAN NOMOR 1288/Pid.Sus/2017/PN BJM) Skripsi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "REVENGE PORN DALAM PERSPEKTIF HUKUM PIDANA ISLAM DAN HUKUM POSITIF (ANALISIS PUTUSAN NOMOR 1288/Pid.Sus/2017/PN BJM) Skripsi"

Copied!
128
0
0

Teks penuh

(1)

REVENGE PORN DALAM PERSPEKTIF HUKUM PIDANA ISLAM DAN HUKUM POSITIF

(ANALISIS PUTUSAN NOMOR 1288/Pid.Sus/2017/PN BJM)

Skripsi

Diajukan Kepada Fakultas Syariah Dan Hukum Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Hukum (S.H)

Oleh:

WITASYA AURELIA SULAEMAN 11180454000042

PROGRAM STUDI HUKUM PIDANA ISLAM FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA 1442 H/2021 M

(2)

i

REVENGE PORN DALAM PERSPEKTIF HUKUM PIDANA ISLAM DAN HUKUM POSITIF

(ANALISIS PUTUSAN NOMOR 1288/Pid.Sus/2017/PN.BJM)

(3)

ii

PENGESAHAN PANITIA UJIAN SKRIPSI

Skripsi yang berjudul “Revenge Porn Dalam Perspektif Hukum Pidana Islam dan Hukum Positif (Analisis Putusan Nomor 1288/Pid.Sus/2017/PN.BJM)”

telah diajukan dalam sidang munaqasyah Fakultas Syariah dan Hukum Program Studi Hukum Pidana Islam Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 19 Januari 2022. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Program Strata (S-1) pada Program Studi Hukum Pidana Islam.

(4)

iii

LEMBAR PERNYATAAN Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Witasya Aurelia Sulaeman NIM : 11180454000042

Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 15 November 2000

Program Studi / Fakultas : Hukum Pidana Islam / Syari’ah dan Hukum No. Hp : 088296988478

Email : [email protected] Dengan ini menyatakan bahwa:

1. Skripsi ini merupakan hasil karya saya sendiri yang diajukan untuk memenuhu salah satu persyaratan memperoleh gelar Sarjana Hukum (S.H.) di Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Mengenai berbagai sumber yang saya cantumkan dalam skripsi ini sudah disesuaikan dengan ketentuan dan aturan dalam buku pedoman akademik yang berlaku di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Hakarta.

3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya tulis ini merupakan plagiasi dari karya tulis orang lain atau bukan hasil karya tulis saya sendiri maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Tangerang, 29 Desember 2021

Witasya Aurelia Sulaeman

(5)

iv

ABSTRAK

Witasya Aurelia Sulaeman. NIM 11180454000042. REVENGE PORN DALAM PERSPEKTIF HUKUM PIDANA ISLAM DAN HUKUM POSITIF (ANALISIS PUTUSAN NOMOR 1288/Pid.Sus/2017/PN BJM). Program Studi Hukum Pidana Islam, Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 1442 H / 2021 M.

Penelitian ini dibuat untuk mengetahui bagaimana pertimbangan hakim dalam putusan Pengadilan Negeri Banjarmasin nomor 1288/Pid.Sus/2017/PN BJM dalam perspektif hukum pidana islam dan hukum positif terhadap revenge porn sebagai alasan tindak pidana kesusilaan.

Penelitian skripsi ini merupakan penelitian yang berjenis kualitatif. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan yuridis-normatif, yakni peneliti mengkaji masalah ini berdasarkan Undang-undang serta menganalisis data melalui pendekatan perundang-undangan (Statue Approach) dan pengumpulan data dilakukan dengan metode kepustakaan (Library Research).

Hasil dari penelitian skripsi ini adalah pertimbangan dan penerapan hukum hakim dalam putusan Nomor 1288/Pid.Sus/2017/PN BJM bahwa terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan telah melakukan tindak pidana kesusilaan dan dikenakan Pasal 27 ayat (1) Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 Jo. Pasal 45 ayat (1) Undang- undang Nomor 19 Tahun 2016. Revenge Porn dalam perspektif hukum pidana islam termasuk jarimah qurb al zina atau mendekati zina.

Kata kunci : Revenge Porn, Tindak Pidana, UU ITE, Hukum Islam.

Pembimbing : Dr. Hj. Rosdiana, M.A (Pembimbing I) Ali Mansur, M.A. (Pembimbing II) Daftar Pustaka : 1969-2021.

(6)

v

KATA PENGANTAR ميحرلا نمحرلا الله مسب

Segala puji bagi Allah SWT dengan pujian yang melimpah, Tuhan semesta alam, atas segala rahmat dan karunia-Nya yang tak terputus sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

Shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada Baginda Besar Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Salam, Nabi dan Rasul paling mulia yang diutus Allah SWT sebagai rahmat bagi semesta alam.

Skripsi ini berjudul “REVENGE PORN DALAM PERSPEKTIF HUKUM PIDANA ISLAM DAN HUKUM POSITIF (ANALISIS PUTUSAN NOMOR 1288/Pid.Sus/2017/PN BJM)”.

disusun sebagai salah satu syarat akademis untuk menyelesaikan program strata satu di Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terimakasih tiada tara atas bimbingan, masukan, saran, dan dukungannya baik moril maupun materiil kepada :

1. Dr. Ahmad Tholabi Kharlie, S.H., M.A., M.H. Selaku Dekan Fakultas Syariah Dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Ketua Program Studi Hukum Pidana Islam Bapak Qosim Arsadani, M.A dan Sekretaris Program Studi Hukum Pidana Islam bapak Mohamad Mujibur Rohman, M.A.

3. Dosen Pembimbing dalam penulisan skripsi ibu Dr. Hj. Rosdiana, M.A dan bapak Ali Mansur, M.A. yang telah memberikan banyak masukan dan arahan serta meluangkan waktunya dengan penuh keikhlasan.

4. Teruntuk Ayah dan Ibu penulis yang selalu mendoakan, mensisipkan nama dan semua mimpi penulis dalam setiap sujud serta sudah mendampingi penulis selama menyusun skripsi semoga selalu dalam lindungan Allah SWT, memberikan umur yang panjang, diberikan kesehatan dan dilapangkan rizkinya, Aamiin.

(7)

vi

5. Kepada Prof. Asep Saepudin Jahar, M.A., Ph.D., Bapak Mu'min Roup, M.A., Bapak Dr. H. M. Nurul Irfan, M.Ag., Bapak Dr. Alfitra, S.H., M.Hum., Ibu Atu Karomah S.H. M.Si., Bapak Dr. Mudzakkir, S.H., M.H., Bapak Prof. Dr. Saifullah, S.H, M.Hum., yang telah bersedia meluangkan waktu dan memberikan ilmu lebih luas melalui interview pribadi dengan penulis.

6. Kepada Dosen Penasehat Akademik penulis Bapak Ahmad Chairul Hadi, M.A dan Ibu Dr. Hj. Isnawati Rais, M.A. selaku dosen penguji penulis.

7. Kepada adik dan nenek tercinta penulis yang selalu memberikan semangat dan dukungan dalam menyelesaikan skripsi ini.

8. Teruntuk sahabat penulis Evita Zahra Saphira, Anita Widia Lestari, Anisa Ameilia Syahirah, Erica Melita Kartini, Deliana Damayanti, Fitha Ayun Lutvia Nitha, Septia Harzani, Kyla Naya dan Elvira Aulia Winata, Alliza Khovshov terimakasih untuk kebersamaan, bantuan, semangat, doa dan dukungannya selama ini semoga silaturahim kita tidak putus dan senantiasa terjalin. Aamiin.

9. Abang Andika Bachtiar, S.H., Kakak Dany Ryzka Maulidya, S.H., dan Kakak Anisa Mufida S.H. yang selalu memberikan motivasi dan dukungan kepada penulis.

10. Kepada teman-teman jurusan Hukum Pidana Islam angkatan 2018, yang tidak bisa penulis sebutkan satu-persatu, terimakasih atas kebersamaan dan waktu yang telah kita jalani bersama di bangku perkuliahan, semoga kita dapat meraih apa yang kita cita-citakan.

Semoga skripsi ini dapat berguna bagi penulis pribadi serta masyarakat luas. Sekian dan terimakasih.

(8)

vii

DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING………...i

LEMBAR PENGESAHAN………..ii

LEMBAR PERNYATAAN………...iii

ABSTRAK………iv

KATA PENGANTAR………..v

DAFTAR ISI………...vii

BAB I PENDAHULUAN……….1

A. Latar Belakang Masalah...……….………1

B. Identifikasi, Pembatasan, dan Perumusan Masalah…………...5

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian...………..6

D. Metode Penelitian...……….7

E. Sistematika Penulisan...………9

BAB II KAJIAN PUSTAKA TENTANG REVENGE PORN SEBAGAI ALASAN TINDAK PIDANA KESUSILAAN...11

A. Kajian Teoritis……….11

1. Pengertian Tindak Pidana………..11

2. Jenis-jenis Tindak Pidana………..12

3. Unsur-unsur Tindak Pidana………..15

4. Teori Pemidanaan………..20

5. Pengertian Revenge Porn………...23

6. Revenge Porn Dalam Perspektif Hukum Pidana Islam………….32

7. Upaya Perlindungan Hukum bagi Korban Revenge Porn……….36

B. Review Studi Terdahulu ………. 41

BAB III DESKRIPSI PERKARA NOMOR 1288/Pid.Sus/2017/PN BJM TENTANG TINDAK PIDANA KESUSILAAN...43

(9)

viii

A. Kronologi Kasus………..43

B. Dakwaan dan Tuntutan Jaksa………...46

C. Pertimbangan Hakim………...47

D. Amar Putusan ……….54

BAB IV ANALISIS TERHADAP PUTUSAN NOMOR 1288/Pid.Sus/2017/PN BJM TENTANG TINDAK PIDANA KESUSILAAN………...56

A. Analisis Putusan Menurut Hukum Pidana Islam……….56

B. Analisis Putusan Menurut Hukum Positif………63

BAB V PENUTUP………71

A. KESIMPULAN………71

B. SARAN………...72

DAFTAR PUSTAKA………...73

LAMPIRAN………...79

(10)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Tindak kejahatan berkonten seks seperti pornografi balas dendam (revenge porn) semakin banyak terjadi dalam jaringan online dan berdampak buruk yang merugikan banyak kalangan terutama perempuan. Komnas Perempuan menerima 97 aduan langsung terkait kasus kekerasan terhadap perempuan berbasis siber pada 2018. Angka itu meningkat dari 65 aduan pada 2017. Menurut data tersebut, 97 aduan terkait women cyber violence terjadi melalui 125 tindakan/perilaku. Perilaku tertinggi ialah revenge porn dengan persentase 33% atau sekitar 40 tindakan.1 Pornografi balas dendam adalah tindakan mempublikasikan konten seksual seseorang yang dilakukan mantan kekasih tanpa sepengetahuan orang yang bersangkutan.

Pornografi balas dendam (revenge porn) diatur dalam UU ITE dan UU Pornografi karena pornografi balas dendam adalah perbuatan tercela dengan substansi seksual berbasis online dengan mengancam korban. Ancaman nya berupa konten pornografi yang disebar melalui media online seperti yang dijelaskan dalam UU ITE Pasal 27 ayat (1) : “Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan”2. J. Verkuyl berpendapat bahwa kehidupan seksual boleh ditulis, diputar sebagai film tetapi pornografi berbahaya secara kesusilaan, kesehatan masyarakat, terutama generasi muda.

Bahaya pornografi ialah membuat seksualitas lepas dari peri kemanusiaan.3 Sedangkan menurut Carmen M. Cusack dalam bukunya Pornography and the criminal justice system mendefinisikan bahwa revenge porn is pornography produced or distributed by intimate partners with the intent of

1 Hukum Kekerasan Seksual Berbasis Daring Masih Abu https://mediaindonesia.com, diakses pada 10 Juni 2021

2 Pasal 27 Ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2016

3 J. Verkuyl, Etika Seksual, ed. Doegiarto, (Jakarta : Gunung Mulia, 1974). hlm.159.

(11)

humiliating or harassing victim.4 Dalam terjemahan bahasa Indonesia, pornografi balas dendam adalah produksi atau distribusi pornografi oleh pasangan intim dengan maksud melecehkan atau membuat malu korban.

Dalam hukum islam, Pornografi dilarang secara tegas karena sangat jelas kemudaratannya. Pornografi balas dendam termasuk kedalam jarimah ta’zir dan perbuatan fahisyah karena perbuatan tersebut keji yang mendekati zina dan berkaitan dengan kehormatan dan akhlak. Islam menentukan bahwa kejahatan kesusilaan merupakan kejahatan yang sangat sensitif sehingga apabila memang terbukti, hukumannya sangat tegas dan jelas. Melihat atau menonton adegan tidak senonoh berulang kali bisa berakibat buruk seperti gairah seksual dan melakukan maksiat zina.

Menurut ajaran Islam, tubuh manusia merupakan amanah Allah bagi masing-masing pemilik tubuh yang bersangkutan, yang wajib dipelihara dan dijaga dari segala perbuatan dosa, perbuatan tercela, dan perbuatan merugikan diri sendiri, masyarakat serta bangsa. Pemeliharaan tubuh dari segala aspek perbuatan terlarang dan tercela adalah demi keselamatan dan kemaslahatan hidup dan kehidupan untuk semua pihak, baik ketika ia hidup di dunia maupun di akhirat kelak.5 Dasar hukum islam yang mengatur tentang pornografi balas dendam yaitu MUI-Pusat keputusan fatwa nomor 287 tahun 2001 tentang pornografi dan pornoaksi serta Surah al-Isra ayat 32, Surah an-Nur ayat 30 dan 31, Surah al-Ahzab ayat 59, Surah al-Maidah ayat 2.

Sedangkan dasar hukum positif pornografi balas dendam (revenge porn) yaitu KUHP pasal 282 ayat 1, Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi serta putusan pengadilan nomor 1288/Pid.Sus/2017/PN BJM.

4 Carmen M. Cusack, Pornography and the criminal justice system, (France : CRC Press ,2014). hlm.175

5 Neng Djubaedah, Pornografi Pornoaksi (ditinjau dari Hukum Islam), (Jakarta: Prenada Media, 2004), hlm. 88.

(12)

Sedikit menyinggung pengertian tentang pornografi balas dendam (revenge porn) merupakan bentuk pemaksaan, ancaman terhadap korban umumnya perempuan, untuk menyebarkan konten pornografi berupa foto,video, rekaman suara atau hal lainnya yang mengandung unsur seksual yang pernah dikirimkan oleh korban kepada pelaku (mantan kekasih).

Hasil pertimbangan hakim putusan nomor 1288/Pid.Sus/2017/PN.BJM bahwa terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan telah melakukan tindak pidana kesusilaan oleh karena itu majelis hakim memutuskan hukuman kepada terdakwa berupa pidana penjara 1 (satu) tahun dan denda sebesar Rp.

5.000.000,- (lima juta rupiah). Hakim melalui putusannya telah menjerat pelaku menggunakan UU ITE karena pelaku telah terbukti dengan sengaja menyebarluaskan konten pornografi untuk mempermalukan korban yang melanggar kesusilaan.

Ukuran-ukuran (standard) untuk menentukan sanksi terhadap Revenge Porn dalam perspektif hukum pidana islam harus memenuhi beberapa asas.

Syariat islam telah mengemukakan asas-asas hukum pidana secara eksplisit dan implisit dalam Al-Qur’an dan Sunah Rasulullah SAW yang jauh lebih luas dan lengkap dibandingkan dengan asas-asas hukum pidana umum yang terkandung dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) sebagai jus costitutum maupun Rancangan Undang-undang Kitab Undang-undang Hukum Pidana (RUU-KUHP) sebagai jus costituendum.6

Jika terhadap perbuatan tersebut sudah ada putusan hakim yang menyatakan bersalah dengan menjatuhkan pidana dan sudah mempunyai kekuatan hukum yang tetap, maka pelaku dianggap telah melakukan kejahatan atau tindak pidana. Sanksi yang diancamkan atas orang yang melakukan perbuatan mendekati zina dan perbuatan haram yaitu jarimah ta’zir.

6 Neng Djubaedah, Pornografi Pornoaksi (ditinjau dari Hukum Islam), (Jakarta: Prenada Media, 2004), hlm. 34.

(13)

Menurut hukum Islam, seperti difatwakan Majelis Ulama Indonesia Nomor 287 Tahun 2001 tentang Pornografi dan Pornoaksi tanggal 22 Agustus 2001,7 berdasarkan surat al-Isra ayat 32 kita dilarang mendekati zina, an-Nur ayat 30-31 mengatur tentang cara bergaul, memelihara kehirmatan, dan batas Aurat, al-Ahzab ayat 59 mengatur tentang aurat perempuan mu’min, dan al- Maidah ayat 2 tentang kewajiban saling menolong dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan larangan melakukan tolong menolong dalam melakukan perbuatan dosa dan pelanggaran, maka batasan pornografi maupun pornoaksi menurut hukum Islam telah jelas. Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mewujudkan kepedulian umat islam melalui keputusan fatwa nomor 287 tahun 2001 tentang pornografi dan pornoaksi8.

Seperti yang sudah dijelaskan bahwa perbuatan fahisyah harus disembunyikan karena merupakan suatu aib antara pelaku dan korban yang dilakukan dengan rasa suka sama suka, namun pelaku menyebarkan ke media sosial tanpa persetujuan dari pihak yang bersangkutan. Hal seperti ini jika ditinjau dalam hukum pidana Islam sangatlah tidak pantas dan berdosa karena selain menggunjing dan mencari kesalahan orang lain namun juga membuat orang lain yang melihat atau menonton konten tersebut dapat tergiur dan tertarik dengan aktivitas yang ada dalam audio visual yang disebarkan.

Sedangkan ditinjau dalam hukum positif terkait revenge porn ialah suatu gambar itu disebut menyinggung kesusilaan, apabila gambar atau tulisan itu mempunyai tujuan semata-mata untuk menimbulkan atau merangsang nafsu orang lain. Untuk dapat dikatakan menyinggung kesusilaan, tulisan itu haruslah seluruh isinya menyinggung kesusilaan, tidak cukup jika yang menyinggung kesusilaan itu adalah hanya babnya saja ataupun hanya satu halaman saja.9

7 Neng Djubaedah, Pornografi Pornoaksi (ditinjau dari Hukum Islam), (Jakarta: Prenada Media, 2004), hlm. 139.

8 Majelis Ulama Indonesia, Keputusan Fatwa Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 287 Tahun 2001 tentang Pornografi dan Pornoaksi.

9 Lamintang, Hukum Pidana Indonesia, (Bandung : Citra Aditya, 1979). hlm 173.

(14)

Berangkat dari luasnya permasalahan yang ada agar tidak melebar dan keluar dari topik pokok pembahasan maka penulis membatasi ruang lingkup tentang pornografi balas dendam (revenge porn) dan putusan hakim Pengadilan Negeri Banjarmasin dalam perspektif hukum pidana islam dan hukum positif. Konten pribadi tersebut disebarkan lantaran mantan kekasih yang masih sakit hati dan menimbulkan perasaan untuk balas dendam terhadap korban. Tindakan ini dilakukan dengan tujuan mengancam dan mengintimidasi korban.

Berdasarkan permasalahan di atas, maka diperlukan untuk melakukan analisis lebih lanjut tentang pemidanaan terhadap pelaku revenge porn yang dengan sengaja menyebar foto atau video ke media sosial tanpa persetujuan dari korban, karena perbuatan pelaku tersebut merupakan pelanggaran privasi yang menyebabkan korban menjadi tontonan publik untuk diangkat menjadi sebuah skripsi dengan judul REVENGE PORN DALAM PERSPEKTIF HUKUM PIDANA ISLAM DAN HUKUM POSITIF (ANALISIS PUTUSAN NOMOR 1288/Pid.Sus/2017/PN BJM).

B. Identifikasi, Pembatasan, dan Perumusan Masalah 1. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan diatas, maka identifikasi beberapa permasalahan yang timbul dalam penelitian ini, yaitu:

a. Penyebab pelaku melakukan perbuatan revenge porn.

b. Putusan hakim nomor 1288/Pid.Sus/2017/PN.BJM

c. Dasar hukum pidana islam dan hukum positif di Indonesia terhadap revenge porn sebagai alasan tindak pidana kesusilaan.

2. Pembatasan Masalah

Penulis membatasi masalah yang akan dibahas sehingga pembahasanya lebih jelas dan terarah sesuai dengan yang diharapkan

(15)

penulis. Di sini penulis hanya akan membahas bagaimana revenge porn sebagai alasan tindak pidana kesusilaan yang terdapat dalam Putusan Nomor 1288/Pid.Sus/2017/PN BJM.

3. Rumusan Masalah

Dari masalah pokok diatas dapat diuraikan menjadi 2 (dua) sub masalah, sebagai berikut.

a. Bagaimana pertimbangan hakim dalam putusan nomor 1288/Pid.Sus/2017/PN.BJM terhadap revenge porn dalam perspektif hukum pidana islam dan hukum positif ?

b. Bagaimana tinjauan hukum pidana islam dan hukum positif terhadap revenge porn sebagai alasan tindak pidana kesusilaan ?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian

a. Tujuan Objektif

1) Untuk mengetahui pertimbangan hakim dalam putusan nomor 1288/Pid.Sus/2017/PN.BJM terhadap revenge porn dalam perspektif hukum pidana islam dan hukum positif.

2) Untuk mengetahui tinjauan hukum pidana islam dan hukum positif terhadap revenge porn sebagai alasan tindak pidana kesusilaan.

b. Tujuan Subjektif

1. Memberikan pengetahuan yang mendalam kepada penulis tentang hukum pidana islam dan hukum positif terhadap revenge porn sebagai alasan tindak pidana kesusilaan.

2. Sebagai syarat untuk memeproleh gelar Sarjana Hukum di Program Studi Hukum Pidana Islam (Jinayah) di Fakultas Syariah dan Hukum di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

(16)

2. Manfaat Penelitian

a. Manfaat teoritis agar dapat menambah khazanah keilmuan dalam mengetahui pandangan hukum pidana islam dan hukum positif mengenai revenge porn sebagai alasan tindak pidana kesusilaan, hasil penelitian ini diharapkan berguna bagi kalangan mahasiswa, pelajar dan akademisi lainnya.

b. Manfaat praktis hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi semua kalangan mahasiswa, pelajar, dan akademisi lainnya. Manfaat kebijakan hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat kepada penegak hukum dalam penerapan hukum tentang pemidanaan terhadap pelaku pornografi dan penyalahgunaan ITE yang melanggar kesusilaan dan menyebabkan mempermalukan serta merugikan pihak lain yang bersangkutan.

D. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penyusunan skripsi ini adalah menelaah putusan kasus yang bersifat kualitatif. Dalam penelitian ini peneliti membahas masalah ini melalui Undang-undang. Pembahasan masalah kejahatan siber melalui media sosial dilatar belakangi dendam dan motif untuk merendahkan atau mencemarkan nama baik korban dengan mengkaji lebih dalam melalui buku, artikel, jurnal hukum, e-book, putusan hakim, maupun dari hasil penelitian terdahulu.

2. Pendekatan Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan yuridis-normatif, yakni peneliti mengkaji masalah ini berdasarkan Undang-undang, dimana penulis akan membahas permasalahan tentang revenge porn. Oleh karena itu, penulis akan mengkaji aturan-aturan yang terdapat pada KUHP pasal 282 ayat 1, Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Informasi

(17)

dan Transaksi Elektronik dan Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi.

3. Data Penelitian

Dalam penelitian ini penulis menggunakan data skunder, data sekunder adalah data yang diperoleh dari gagasan seseorang baik buku, jurnal, atau pustaka internet. Dengan kata lain data yang diperoleh dalam skripsi ini berupa hasil tulisan para ahli yang menerangkan tentang objek yang diteliti oleh penulis bukan berdasarkan wawancara langsung kepada para ahli.

4. Sumber Data a. Sumber Primer

Sumber primer yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat yakni, KUHP pasal 282 ayat 1, Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi, putusan pengadilan nomor 1288/Pid.Sus/2017/PN BJM dan dasar hukum islam MUI-Pusat keputusan fatwa nomor 287 tahun 2001 tentang pornografi dan pornoaksi serta Surah al-Isra ayat 32, Surah an-Nur ayat 30 dan 31, Surah al-Ahzab ayat 59, Surah al-Maidah ayat 2.

b. Sumber Sekunder

Sumber sekunder yakni pengumpulan data dapat diperoleh dari dokumen-dokumen yang berupa catatan formal dengan mengumpulkan serta menelaah beberapa literatur baik berupa buku-buku, catatan, dan dokumen-dokumen. Dalam penelitian ini adalah hasil-hasil penelitian, jurnal ilmiah, artikel, dan lain sebagainya.

5. Metode dan Teknik Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini, yaitu kepustakaan (Library Research). Data kepustakaan diperoleh melalui penelitian kepustakaan yang bersumber dari peraturan perundangan-

(18)

undangan, buku-buku serta dokumen yang memuat informasi yang berkaitan dengan tema, objek, dan masalah dalam penelitian.10

6. Analisa Data

Data-data yang telah dikumpulkan kemudian akan dilakukan pengolahan, dan hasil pengolahan data tersebut akan dianalisis dengan teori yang didapatkan. Teknik analisis data yang digunakan di dalam penelitian ini adalah penelitian hukum yang bersifat kualitatif. Dalam menganalisis data dalam penelitian ini, kemudian penulis menggunakan pendekatan yaitu pendekatan perundang-undangan (Statute Approach).

E. Sistematika Penulisan

Untuk mempermudah memahami isi skripsi dan mencapai sasaran seperti yang diharapkan, maka penulis membagi isi skripsi ini ke dalam lima bab yang masing-masing bab terdiri dari sub bab. Secara teknis penulisan skripsi ini berpedoman pada buku “Pedoman Penulisan Skripsi Fakultas Syariah Dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2017”.

Adapun sistematika pembahasannya sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN

Pada BAB I penulis menguraikan latar belakang masalah, identifikasi, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metode penelitian, dan sistematika penulisan.

BAB II KAJIAN PUSTAKA TENTANG REVENGE PORN SEBAGAI ALASAN TINDAK PIDANA KESUSILAAN

Pada BAB II penulis menguraikan tentang dasar teori terkait dengan permasalahan serta menjelaskan studi terdahulu yang terkait. Sub bab ini terdiri atas pengertian tindak pidana, jenis-jenis tindak pidana, teori pemidanaan, pengertian revenge porn, revenge

10 Fahmi Muhammad Ahmadi dan Jaenal Aripin, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta:

Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakrta, 2010). Cet. 1, hlm. 17-18.

(19)

porn dalam perpektif hukum pidana islam, unsur-unsur revenge porn sebagai alasan tindak pidana kesusilaan, dan menjelaskan tentang review studi terdahulu.

BAB III DESKRIPSI PERKARA NOMOR 1288/Pid.Sus/2017/PN BJM TENTANG TINDAK PIDANA KESUSILAAN

Pada BAB III penulis menguraikan tentang duduk perkara kasus Revenge Porn berdasarkan putusan nomor 1288/Pid.Sus/2017/PN BJM perihal pemidanaan terhadap pelaku revenge porn sebagai alasan tindak pidana kesusilaan.

BAB IV ANALISIS PUTUSAN PENGADILAN NOMOR 1288/Pid.Sus/

2017/PN BJM

Pada BAB IV penulis akan memuat tentang analisis pornografi balas dendam (revenge porn) sebagai alasan tindak pidana kesusilaan menurut Hukum Pidana Islam dan Hukum Positif.

BAB V PENUTUP

Pada BAB V penulis menguraikan penutup yang memuat hasil akhir meliputi kesimpulan berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dan dimuat pula saran atas penelitian tersebut.

(20)

11 BAB II

KAJIAN PUSTAKA TENTANG REVENGE PORN SEBAGAI ALASAN TINDAK PIDANA KESUSILAAN

A. Kajian Teoritis

1. Pengertian Tindak Pidana

Tindak pidana merupakan terjemahan dari strafbaar feit, Strafbaar feit merupakan istilah Belanda yang berasal dari kata strafbaar artinya dapat dihukum. Dalam kaitannya dengan istilah strafbaar feit secara utuh, ternyata straf diterjemahkan juga dengan kata hukum dan kata “baar”, ada dua istilah yang digunakan yakni boleh dan dapat. Sedangkan kata “feit” digunakan empat istilah yakni, tindak, peristiwa, pelanggaran, dan perbuatan.1 Terdapat perbedaan dalam mendefinisikan kata tindak pidana dikarenakan definisi atau pengertian tentang tindak pidana berdasarkan sudut pandang yang berbeda- beda.

Menurut Indiyanto Seno Adji tindak pidana adalah perbuatan seseorang yang diancam pidana, perbuatannya bersifat melawan hukum, terdapat suatu kesalahan yang bagi pelakunya dapat dipertanggung jawabkan atas perbuatannya.2 Sedangkan menurut S.R Sianturi tindak pidana adalah sebagai suatu tindakan pada, tempat, waktu, dan keadaan tertentu yang dilarang (atau diharuskan) dan diancam dengan pidana oleh undang-undang, bersifat melawan hukum, serta dengan kesalahan dilakukan oleh seseorang (yang bertanggung jawab).3

Sedangkan, Pompe mengatakan strafbaar feit secara teoritis dapat merumuskan sebagai suatu pelanggaran norma (gangguan terhadap tertib hukum) yang dengan sengaja ataupun dengan tidak disengaja telah dilakukan

1 Adami Chazawi, Pelajaran Hukum Pidana Bagian I, (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), hlm.67-69

2 Indriyanto Seno Adji, Korupsi dan Hukum Pidana, (Jakarta: Kantor Pengacara dan Konsultasi Hukum “Prof. Oemar Seno Adji & Rekan, 2002), hlm.155.

3 S.R. Sianturi, Asas-Asas Hukum Pidana dan Penerapan, (Jakarta : Alumni, 1986) hlm.

207.

(21)

oleh seorang pelaku, di mana penjatuhan terhadap pelaku tersebut adalah perlu demi terpeliharanya tertib hukum dan terjaminnya kepentingan hukum.4 Pompe juga membedakan mengenai pengertian tindak pidana (strafbaar feit) menjadi dua, yaitu :5

a. Definisi menurut teori memberikan pengertian “stafbaar feit” adalah suatu pelanggaran terhadap norma, yaitu dilakukan karena kesalahan si pelanggar dan diancam dengan pidana untuk mempertahankan tata hukum dan menyelamatkan kesejahteraan umum;

b. Definisi menurut hukum positif, “stafbaar feit” adalah suatu kejadian yang oleh peraturan undang-undang dirumuskan sebagai perbuatan yang dapat dihukum.

Dengan demikian pengertian "strafbaar feit” menurut Moeljatno adalah perbuatan yang dilarang dan diancam pidana bagi barangsiapa yang melanggar larangan tersebut.6 Memperhatikan definisi di atas, maka ada beberapa syarat untuk menentukan perbuatan itu sebagai tindak pidana, sebagai berikut:

a. Harus ada perbuatan manusia

b. Perbuatan manusia itu betentangan dengan hukum

c. Perbuatan itu dilarang oleh Undang-undang dan diancam dengan pidana

d. Perbuatan itu dilakukan oleh orang yang dapat dipertanggung jawabkan

e. Perbuatan itu harus dapat dipertanggung jawabkan kepada si pembuat.7

4 Erdianto Effendi, Hukum Pidana Indonesia Suatu Pengantar, (Bandung: PT. Refika Aditama, 2014), hlm.97.

5 Bambang Purnomo, Asas-asas Hukum Pidana, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1982), hlm.91.

6 Moeljatno, Azas-azas Hukum Pidana, (Jakarta: Rineka Cipta, 1993), hlm.56.

7 Rasyid Ariman dan Fahmi Raghib, Hukum Pidana, (Malang: Setara Press, 2016), hlm.60.

(22)

2. Jenis-Jenis Tindak Pidana

Jenis-jenis tindak pidana menurut Andi Hamzah adalah sebagai berikut:8 a. Menurut Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) dibedakan antara

lain kejahatan yang dimuat dalam buku II dan pelanggaran yang dimuat dalam buku III. Pembagian tindak pidana “kejahatan dan pelanggaran” itu bukan hanya merupakan dasar bagi pembagian KUHP kita (Sic!) menjadi buku ke II dan buku ke III, melainkan juga merupakan dasar bagi seluruh sistem hukum pidana di dalam perundang-undangan secara keseluruhan.

b. Menurut cara merumuskannya, dibedakan menjadi dua, yakni tindak pidana formil (formeel delicten) dan tindak pidana materil (materiil delicten). Tindak pidana formil adalah tindak pidana yang dirumuskan bahwa larangan yang dirumuskan itu melakukan perbuatan tertentu.

Misalnya pasal 338 KUHP yaitu tentang pembunuhan berencana.

Sedangkan tindak pidana materil inti larangannya adalah pada yang menimbulkan dilarang. Karena itu siapa yang menimbulkan akibat yang dilarang itulah yang dipertanggungjawabkan dan dipidana.

c. Menurut bentuk kesalahan, tindak pidana dibedakan menjadi tindak pidana sengaja (dolus delicten) dan tindak pidana tidak sengaja (culpose delicten).

Contoh tindak pidana sengaja (dolus) yang diatur dalam KUHP antara lain sebagai berikut: pasal 354 KUHP yang dengan sengaja melukai orang lain, pasal 338 KUHP yaitu dengan sengaja menyebabkan hilangnya nyawa orang lain. Pada delik tidak sengaja atau lalai (culpa) seseorang juga dapat dipidana jika ada kesalahan, misal pasal 360 yang menyebabkan orang luka berat, pasal 188, dan pasal 359.

d. Menurut macam perbuatannya, tindak pidana aktif (positif), perbuatan aktif juga disebut perbuatan materil adalah perbuatan untuk mewujudkannya diisyaratkan dengan adanya gerakan tubuh orang yang

8 Andi Hamzah, Bunga Rampai Hukum Pidana dan Acara Pidana, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2001), hlm.25-27.

(23)

yang berbuat, misal penipuan pasal 378 dan pencurian pasal 362, tindak pidana pasif dibedakan menjadi tindak pidana murni dan tidak murni.

Sedangkan menurut M.v.T. dalam bukunya Smidt.L sebagaimana dikutip oleh Moeljatno, pembagian atas dua jenis tadi didasarkan atas perbedaan prinsipil. Dikatakan, bahwa kejahatan adalah rechtsdelicten, yaitu:

“perbuatan-perbuatan yang meskipun tidak ditentukan dalam Undang-Undang sebagai perbuatan pidana, telah dirasakan sebagai onrecht, sebagai perbuatan yang bertentangan dengan tata hukum. Pelanggaran sebaliknya adalah wetsdelicten, yaitu perbuatan-perbuatan yang sifat melawan hukumnya baru dapat diketahui setelah ada perbuatan yang menentukan demikian.9

Dalam hukum pidana diadakan pembagian mengenai tindak pidana itu.

Pembagian itu ada yang memang dipergunakan KUHP dan ada pula yang diadakan oleh doktrin. KUHP mengadakan pembagian ke dalam dua jenis tindak pidana yaitu sebagai berikut:10

a. Kejahatan (misdrijven) b. Pelanggaran (overtredingen).

Hukum pidana juga mengenal jenis-jenis delik atau tindak pidana yang dapat dibedakan menurut pembagian delik tertentu, sebagaimna tersebut di bawah ini:11

a. Delik formil adalah suatu perbuatan pidana yang sudah dilakukan dan perbuatan itu benar-benar melanggar ketentuan yang dirumuskan dalam pasal Undang-Undang yang bersangkutan. Misalnya : Pencurian adalah perbuatan yang sesuai dengan rumusan pasal 362 KUHP.

b. Delik materil adalah suatu perbuatan pidana yang dilarang, yaitu akibat yang timbul dari perbuatan itu. Misalnya : Pembunuhan. Dalam kasus pembunuhan yang dianggap sebagai delik adalah matinya seseorang yang

9 Moeljatno, Asas-Asas Hukum Pidana, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), hlm. 78.

10 Rasyid Ariman dan Fahmi Raghib, Hukum Pidana, hlm. 72.

11 Tongat, Hukum Pidana Meteriil, (Malang: UMM Press, 2003), hlm.43.

(24)

merupakan akibat dari perbuatan seseorang. Perbuatannya sendiri dapat dilakukan dengan bermacam-macam cara.

c. Delik dolus adalah suatu perbuatan pidana yang dilakukan dengan sengaja.

Misalnya: Pembunuhan (Pasal 338 KUHP).

d. Delik culpa adalah perbuatan pidana yang tidak sengaja, karena kealpaannya mengakibatkan matinya seseorang. Misalnya : (Pasal 359 KUHP).

e. Delik aduan adalah suatu perbuatan pidana yang memerlukan pengaduan orang lain. Jadi, sebelum ada pengaduan belum merupakan delik.

f. Delik politik adalah delik atau perbuatan pidana yang ditujukan kepada keamanan Negara, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Misalnya: Pemberontakan akan menggulingkan pemerintahan yang sah.

3. Unsur-Unsur Tindak Pidana

Suatu perbuatan harus memenuhi unsur-unsur tindak pidana apabila perbuatan tersebut ingin digolongkan ke dalam tindak pidana. Seseorang baru dapat dipidana kalau pada orang tersebut terdapat kesalahan. Beberapa ahli berpendapat pula mengenai apa yang dimaksud dengan tindak pidana atau perbuatan pidana. Pengertian tindak pidana selalu berkaitan dengan dipidananya pembuat banyak diikuti oleh ahli-ahli hukum pidana yang menganut teori monistis, dalam hal tindak pidana yang demikian subyek dari tindak pidana hanya ditekankan pada manusia sebagai subyek hukum.12

Moeljatno mendefinisikan perbuatan pidana sebagai perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum yang mana larangan tersebut disertai sanksi berupa pidana tertentu, bagi barang siapa yang melanggar larangan yang telah ditentukan. Berkaitan dengan unsur-unsur tindak pidana (strafbaarfeit), Menurut Moeljatno, unsur-unsur tindak pidana adalah13 :

a. Perbuatan;

b. Yang dilarang (oleh aturan hukum);

12 Wirjono Prodjodikoro, Asas-asas Hukum Pidana di Indonesia, ed III, cet III, (Bandung:

Reflika Aditama, 2003). hlm. 59., selanjutnya disebut dengan Wirjono Prodjodikoro I.

13 Adami Chazawi. Pelajaran Hukum Pidana. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 2002), hlm.79-81.

(25)

c. Ancaman pidana (bagi yang melanggar larangan).

Berdasarkan teori mengenai unsur-unsur tindak pidana diatas, maka untuk menganalisis apakah revenge porn termasuk dalam suatu perbuatan pidana atau tindak pidana, Berikut merupakan unsur-unsur objektif tindak pidana kesusilaan :

a. Adanya perbuatan atau tingkah laku

Perbuatan merupakan unsur mutlak tindak pidana. Dalam hal revenge porn, berdasarkan pendapat Citron & Frank, revenge porn dijelaskan sebagai

“the distribution of sexually graphic images of individuals without their consent.”14 Selain itu, pendapat lain juga dikemukakan oleh Kirchengast, yang menyatakan revenge porn sebagai “the sharing of intimate images without the consent of the person depicted.”15 Kedua pendapat ini pada intinya menyatakan revenge porn sebagai pornografi nonkonsensual atau pornografi yang dilakukan tanpa izin atau persetujuan dari pihak-pihak yang bersangkutan. Pendapat ini juga dapat dipahami apabila perbuatan pornografi tersebut dilakukan dengan persetujuan kedua belah pihak maka perbuatan tersebut tidak dapat dikatakan sebagai revenge porn, melainkan cyberporn pada umumnya karena tidak terdapat unsur balas dendam yang mengakibatkan adanya kerugian yang dialami oleh seseorang atas tiadanya persetujuan untuk menyebarkan konten pornografi.16

b. Adanya objek tindak pidana

Objek tindak pidana berkaitan erat dengan suatu kepentingan hukum yang hendak dilindungi oleh dibentuknya tindak pidana yang bersangkutan.

Penempatan objek yakni dibelakang unsur tingkah laku karena tingkah laku

14 Danielle Keats Citron and Mary Anne Franks. Criminalizing revenge porn. Wake Forest Law Review. 2014.

15 Tyrone Kirchengast, "The Limits of Criminal Law and Justice‘revengeporn’

Criminalisation, Hybrid Responses and The Ideal Victim”, UniSA Student Law Review, Vol. 2, hlm.96..

16 Ni Putu Winny Arisanti, F. Pertanggungjawaban Pidana Pelaku Revenge Porn (Pornografi Balas Dendam Menurut Hukum Positif Indonesia). Jurnal Kertha Desa, Vol.9 No. 2, hlm. 57-68.

(26)

selalu berkaitan dengan objek dari tindak pidana.17 Dalam hal revenge porn, objek tindak pidana nya yaitu mendistribusikan, mentransmisikan dan membuat dapat diaksesnya konten eksplisit berupa video atau gambar intim yang mengandung unsur pornografi, yang mana apabila didistribusikan atau disebarkan dapat menimbulkan kerugian bagi pihak yang bersangkutan

c. Adanya kesalahan

Unsur kesalahan merupakan unsur yang menghubungkan bantin si pembuat dengan wujud perbuatan, dan segala sesuatu mengenai dan sekitar perbuatan seperti objek perbuatan, cara dilakukannya perbuatan, sifat tercelanya perbuatan, akibat perbuatan, dan lainnya. Adanya hubungan tersebut dapat membentuk dan membebani pertanggungjawaban pidana bagi si pembuat sehingga pembuat dapat dijatuhi pidana.

Dalam revenge porn, perbuatan tersebut dilakukan secara sengaja dengan maksud untuk membalas dendam kepada pihak yang ditampilkan dalam konten. Kesalahan adalah keseluruhan syarat yang memberi dasar untuk adanya pencelaan pribadi terhadap si pembuat pidana. Kesalahan sangat menentukan akibat dari perbuatan seseorang yaitu penjatuhan pidana.

Kesalahan merupakan keadaan jiwa dari si pelaku dengan perbuatannya.

Seseorang dapat dikatakan mempunyai kesalahan, jika ia pada waktu melakukan perbuatan pidana.18

Dalam kasus pornografi balas dendam atau revenge porn, terdapat unsur kesalahan bentuk sengaja yang dilihat dari wujud perbuatannya berupa menyebarkan objek yang mengandung unsur pornografi yang mana bertentangan dengan kesusilaan dalam masyarakat. Selain itu, unsur kesalahan juga dapat dilihat dari adanya kesengajaan. Kesengajaan merupakan kehendak untuk mewujudkan perbuatan maupun menimbulkan akibat dari perbuatan.

17 Adami Chazawi. Tindak Pidana Pornografi, (Jakarta, Sinar Grafika, 2016), Hlm. 25.

18 Barda Nawawi Arif, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana, (Bandung : Citra Aditya Bakti, 2002), Hlm. 85.

(27)

d. Adanya sifat melawan hukum

Perbuatan dapat mengandung sifat celaan, yang berasal dari 2 sumber.19 Formelle wederrechtelijk atau melawan hukum formil apabila perbuatan tersebut dicela oleh Undang-undang, serta materiele wederrechtelijk atau melawan hukum materiil apabila perbuatan tersebut dicela oleh kesadaran hukum masyarakat. Berdasarkan sudut normatif, menurut Putusan Mahkamah Agung No. 30 K/Kr./1969 tanggal 6 Juni 1970,20 setiap perbuatan yang dilarang oleh Undang-undang telah mengandung sifat melawan hukum, meskipun dalam rumusan delik tidak selalu dicantumkan.

Hal tersebut dikarenakan unsur melawan hukum dapat melekat pada unsur perbuatan atau akibat-akibat tertentu yang dilarang. Berdasarkan hal tersebut, pada kasus revenge porn jelas terdapat unsur melawan hukum yang dilihat dari unsur perbuatan dan objek dari perbuatan yang dilakukan, maka harus kita ketahui terlebih dahulu apakah perbuatan tersebut melanggar hukum atau tidak. Jika memang perbuatan tersebut telah melanggar hukum, maka orang tersebut dapat dikenakan hukuman dalam dalam UU Pornografi dan UU ITE.

Sesuai dengan larangan dan pembatasan pada ketentuan Pasal 4 UU Pornografi dan yang menyatakan larangan bagi setiap orang untuk memproduksi konten pornografi, menyebarluaskan, menyiarkan, serta mengimpor konten tersebut yang secara eksplisit memuat ketelanjangan, alat kelamin, persenggamaan, dan lainnya. Perbuatan mendistribusikan, mentransmisikan dan membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan Dokumen Elektronik baru dapat dipidana atau timbul sifat melawan hukum, apabila isi informasi dan Dokumen Elektronik tersebut mengandung muatan yang melanggar kesusilaan. Kepentingan hukum yang hendak dilindungi oleh

19 Syahputra, Edy Arianto. “Analisis Yuridis Tindak Pidana Pornografi Yang Disebarluaskan Melalui Media Sosial (Twitter)”, Repository Universitas HKBN Nommensen, 2019, Hlm. 12.

20 Putusan Mahkamah Agung No. 30 K/Kr./1969

(28)

Pasal 27 Ayat (1), adalah kepentingan hukum mengenai tegak dan terjaganya nilai-nilai kesusilaan masyarakat baik konvensional maupun elektronik.21 e. Keadaan yang menyertai

Unsur ini merupakan setiap keadaan ketika perbuatan dilakukan yang dicantumkan dalam rumusan tindak pidana. Keadaan yang menyertai dapat mengenai beberapa hal, salah satunya yaitu mengenai cara melakukan perbuatan. Dengan adanya unsur cara melakukan maka unsur perbuatan yang awalnya abstrak dapat terlihat lebih konkret karena dibatasi oleh cara melakukan perbuatan tersebut.22 Di dalam kasus revenge porn, unsur perbuatannya yaitu menyebarluaskan atau mendistribusikan konten pornografi yang mana dilakukan dengan cara menyiarkan konten tersebut di internet atau media sosial.

Sedangkan dalam Pasal 27 ayat (1) UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik yang mana memiliki muatan bahwa “semua orang yang secara sengaja tanpa memiliki hak membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang mempunyai muatan melanggar kesusilaan.23” Dari pasal 27 ayat (1) UU Nomor 19 Tahun 2016 dapat diketahui unsur subjektif dalam pornografi balas dendam (revenge porn) sebagai alasan tindak pidana kesusilaan, yaitu :

1) Setiap orang

Yang dimaksud setiap orang adalah perseorangan, baik warga negara Indonesia, warga negara asing, maupun badan hukum.

2) Dengan sengaja dan tanpa hak

Dengan sengaja mengandung makna mengetahui dan menghendaki dilakukannya suatu perbuatan yang dilarang oleh UU ITE, atau mengetahui dan menghendaki terjadinya suatu akibat dilarang UU ITE. Menurut Satochid

21 Adami Chazawi Dan Ardi Ferdian,Tindak Pidana Informasi & Transaksi Elektronik, Edisi Revisi, (Malang : Media Nusa Creative, 2015, Cet. Pertama), Hlm. 11.

22 Adami Chazawi. Tindak Pidana Pornografi, (Jakarta, Sinar Grafika, 2016), Hlm. 57.

23 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016

(29)

Kartanegara, yang dimaksud kesengajaan (opzet) adalah melaksanakan sesuatu perbuatan yang didorong oleh suatu keinginan untuk berbuat. Itu sebabnya kesengajaan ditujukan terhadap sesuatu perbuatan dan perbuatan itu dilakukan oleh seseorang, dengan sengaja itu dinyatakan sebagai perwujudan kehendak orang itu.24

3) Mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan.

Menurut R. Soesilo dalam KUHP pada Bab XIV tentang Kejahatan Terhadap Kesopanan pada Pasal 281 halaman 204 menjelaskan bahwa

”Kesopanan” disini dalam arti kata25 ”Kesusilaan” (zeden, eerbaarheid), perasaan malu yang berhubungan dengan nafsu kelamin misalnya: bersetubuh, meraba buah dada orang perempuan, meraba tempat kemaluan perempuan, memperlihatkan anggauta kemaluan perempuan atau lelaki, mencium, dsb.

4. Teori Pemidanaan

a. Teori Absolut atau Teori Pembalasan (Vergeldings Theorien)

Menurut teori ini pidana dijatuhkan semata-mata karena orang telah melakukan kejahatan atau tindak pidana. Teori ini diperkenalkan oleh Kent dan Hegel. Teori Absolut didasarkan pada pemikiran bahwa pidana tidak bertujuan untuk praktis, seperti memperbaiki penjahat tetapi pidana merupakan tuntutan mutlak, bukan hanya sesuatu yang perlu dijatuhkan tetapi menjadi keharusan, dengan kata lain hakikat pidana adalah pembalasan (revenge). Sebagaimana yang dinyatakan Muladi bahwa:26

“Teori absolut memandang bahwa pemidanaan merupakan pembalasan atas kesalahan yang telah dilakukan sehingga berorientasi pada perbuatan dan terletak pada terjadinya kejahatan itu sendiri. Teori ini mengedepankan bahwa sanksi dalam hukum pidana dijatuhkan semata-

24 Sathocid Kartanegara, Hukum Pidana, Balai Lektur Mahasiswa, 1997, hlm. 220

25 R.Soesilo, Kitab Undang –Undang Hukum Pidana, (Bogor : Politea, 1995), hlm. 204

26 Zainal Abidin Farid, Hukum Pidana 1, (Jakarta : Sinar Grafika, 2007), hlm. 11.

(30)

mata karena orang telah melakukan sesuatu kejahatan yang merupakan akibat mutlak yang harus ada sebagai suatu pembalasan kepada orang yang melakukan kejahatan sehingga sanksi bertujuan untuk memuaskan tuntutan keadilan.”

Dikemukakan oleh Johanes Andenaes bahwa tujuan primer dari pidana menurut teori absolut ialah untuk memuaskan tuntutan keadilan.

Tuntutan keadilan yang sifatnya absolut ini terlihat dari pendapat Imanuel Kant dalam bukunya Philosophy of Law27 bahwa pidana tidak pernah dilaksanakan semata-mata sebagai sarana untuk mempromosikan tujuan/kebaikan lain, baik bagi si pelaku itu sendiri maupun bagi masyarakat. Tapi dalam semua hal harus dikenakan hanya karena orang yang bersangkutan telah melakukan suatu kejahatan. Setiap orang seharusnya menerima ganjaran seperti perbuatannya dan perasaan balas dendam tidak boleh tetap ada pada anggota masyarkat.

Dari teori di atas, nampak jelas bahwa pidana merupakan suatu tuntutan etika, dimana seseorang yang melakukan kejahatan akan dihukum dan hukuman itu merupakan suatu keharusan yang sifatnya untuk membentuk sifat dan merubah etika dari yang jahat menjadi lebih baik.

Dalam konteks sistem hukum pidana Indonesia, karakteristik teori pembalasan jelas tidak sesuai (bertentangan) dengan filosofi pemidanaan berdasarkan sistem pemasyarakatan yang dianut di Indonesia. Begitu juga dengan konsep yang dibangun dalam RUU KUHP, yang secara tegas dalam hal tujuan pemidanaan disebutkan, bahwa “Pemidanaan tidak dimaksudkan untuk menderitakan dan merendahkan martabat manusia”.28

Teori pembalasan atau absolut ini terbagi atas pembalasan subjektif dan pembalasan objektif. Pembalasan subjektif ialah pembalasan terhadap

27 Dalam Muladi dan Barda Nawawi, Teori dan Kebijakan Pidana. (Bandung : Alumni, 1992), hlm. 11.

28 Pasal 54 ayat (2) RUU KUHP

(31)

kesalahan pelaku. Pembalasan objektif ialah pembalasan terhadap apa yang telah diciptakan pelaku di dunia luar.29

b. Teori Relatif atau Teori Tujuan (Doel Theorien)

Teori relatif atau teori tujuan juga disebut teori utilitarian, lahir sebagai reaksi terhadap teori absolut. Secara garis besar, tujuan pidana menurut teori relatif bukanlah sekedar pembalasan, akan tetapi untuk mewujudkan ketertiban di dalam masyarakat. Teori relatif atau teori tujuan, berpokok pada dasar bahwa pidana adalah alat untuk menegakkan tata tertib (hukum) dalam masyarakat.30 Teori ini berbeda dengan teori absolut, dasar pemikirannya adalah penjatuhan pidana mempunyai tujuan untuk memperbaiki sikap mental atau membuat pelaku pidana tidak berbahaya lagi, dibutuhkan proses pembinaan sikap mental.

Menurut Zevenbergen “terdapat tiga macam cara memperbaiki si penjahat, yaitu perbaikan yuridis, perbaikan intelektual, dan perbaikan moral.” Perbaikan yuridis mengenai sikap si penjahat dalam hal menaati Undang-undang. Perbaikan intelektual mengenai cara berfikir si penjahat agar ia insyaf akan berbuat kejahatan. Sedangkan perbaikan moral mengenai rasa kesusilaan si penjahat agar ia menjadi orang yang bermoral tinggi.31

Sebagaimana dikemukakan Koeswadji bahwa tujuan pokok dari pemidanaan32 yaitu :

1) Untuk mempertahankan ketertiban masyarakat (dehandhaving van de maatschappelijke orde)

29 Andi Hamzah, Asas-Asas Hukum Pidana, (Jakarta: Rinneka Cipta, 1994), hlm. 31.

30 Usman, “Analisis Perkembangan Teori Hukum Pidana”, Jurnal Ilmu Hukum, hlm. 70.

Diakses pada 9 October 2021.

31 Wirjono Projdodikoro, Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia, (Bandung : Refika Aditama, 2003). hlm.26

32 Koeswadji, Perkembangan Macam-Macam Pidana Dalam Rangka Pembangunan Hukum Pidana, Cetakan I, (Bandung: Citra Aditya Bhakti, 1995). hlm. 12.

(32)

2) Untuk memperbaiki kerugian yang diderita oleh masyarakat sebagai akibat dari terjadinya kejahatan. (het herstel an het doer de-misdaad onstane maatschappelijke nadeel)

3) Untuk memperbaiki si penjahat (verbetering vande dader)

4) Untuk membinasakan si penjahat (onschadelijk maken van de misdadiger)

5) Untuk mencegah kejahatan (tervoorkonning van de misdaad).

Sedangkan menurut Muladi tentang teori ini bahwa:33

“Pemidanaan bukan sebagai pembalasan atas kesalahan pelaku tetapi sarana mencapai tujuan yang bermanfaat untuk melindungi masyarakat menuju kesejahteraan masyarakat. Sanksi ditekankan pada tujuannya, yakni untuk mencegah agar orang tidak melakukan kejahatan, maka bukan bertujuan untuk pemuasan absolut atas keadilan.” Teori ini menunjukkan tujuan pemidanaan sebagai sarana pencegahan, baik pencegahan khusus (speciale preventie) yang ditujukan kepada pelaku maupun pencegahan umum (general preventie) yang ditujukan ke masyarakat. Dengan demikian, harus ada tujuan lebih jauh daripada hanya menjatuhkan pidana saja. Tujuan ini pertama-tama harus diarahkan kepada upaya agar dikemudian hari kejahatan yang dilakukan itu tidak terulang lagi (prevence). Teori relatif ini melihat bahwa penjatuhan pidana bertujuan untuk memperbaiki si penjahat agar menjadi orang yang baik dan tidak akan melakukan kejahatan lagi.

5. Pengertian Revenge Porn

Pornografi balas dendam atau revenge porn sering disebut dengan istilah ‘Non consensual pornography’ atau ‘involuntary pornography’.34 Pornografi balas dendam atau revenge porn adalah bentuk pelecehan online dimana foto atau video vulgar milik pribadi dipublikasikan secara online menjadi konsumsi publik tanpa persetujuan dari korban. Pelaku

33 Zainal Abidin Farid, Hukum Pidana 1, (Jakarta : Sinar Grafika, 2007). hlm. 11.

34 Danielle Keats Citron & Mary Anne Franks, Criminalizing Revenge Porn, hlm. 102.

(33)

menyebarkan konten vulgar tersebut dengan tujuan untuk mempermalukan dan membalas dendam karena sakit hati kepada korban. Revenge porn atau penyebaran gambar intim tanpa persetujuan dari pihak yang dirugikan dan 80 - 90% korban dari pornografi balas dendam adalah perempuan. Hal ini merupakan kejahatan gender.35 Pornografi balas dendam merupakan penyebaran konten seksual milik pribadi yang bersifat rahasia dan hanya dikirim kepada seseorang misalnya, gambar yang diberikan secara suka sama suka kepada pasangan dan kemudian pelaku menyebarluaskan gambar atau video tersebut kepada publik tanpa persetujuan salah satu pihak.

Pemahaman terhadap istilah ‘Pornografi’ menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (yang selanjutnya disebut KBBI)36 diartikan sebagai

“bahan bacaan yang dengan sengaja dan semata-mata dirancang untuk membangkitkan nafsu birahi dalam seks”, selanjutnya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) istilah balas dendam diartikan sebagai perbuatan membalas perbuatan orang lain karena sakit hati atau dengki. Tujuan dari pelaku tidak hanya menyebarkan foto konten pornografi melainkan membalaskan sakit hati yang dialaminya.

Menurut P.J. Larkin “Revenge porn includes images or movies taken of the victim as well as images or movies taken by the victim, (commonly referred to as a “selfie”), uploaded without their consent.”37 Dalam terjemahan bahasa Indonesia diartikan sebagai berikut : “Pornografi balas dendam termasuk gambar atau film yang diambil dari korban serta gambar atau film yang diambil oleh korban, (biasa disebut sebagai “selfie”), yang diunggah tanpa persetujuan mereka.” Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa saat ini berbagai tindak pidana dilakukan secara online. Selain melakukan pelanggaran tindak pidana umum, seperti penipuan,

35 Mudasir Kamal and William J.Newman, “Revenge Pornography : Mental Health Implications and Related Legislation”, Journal of the American Academy of Psychiatry and the Law Online September 2016, p. 359-367.

36 Kamus Besar Bahasa Indonesia

37 P.J Larkin, “Revenge porn, state law, and free speach”. Loyola of Los Angeles Law Review, 2014. p. 48.

(34)

penguntitan, dan kekerasan dalam rumah tangga, muncul fenomena baru yang perlu mendapat perhatian dari media, pemerintah, dan masyarakat yang disebut dengan pornografi balas dendam.

Sedangkan menurut Atu Karomah, "Revenge porn atau pornografi balas dendam adalah perbuatan yang dilakukan oleh salah satu pasangan biasanya laki-laki yang melakukannya karena dia tidak ingin kehilangan pacarnya maka dia menyebarkan konten asusila melalui dunia maya sebagai balas dendam agar pasangannya malu. Konten asusila bisa berupa rekaman, suara, foto, video vulgar yang dibuat oleh pasangan tersebut dan ketika melakukan perbuatan tersebut dengan adanya persetujuan karena bujuk rayu atau tanpa sepengetahuan korban. Dalam hal ini biasanya korban tidak berani untuk melapor polisi karena merasa aib, malu akan diasingkan oleh masyarakat bahayanya jika konten tersebut diperjual belikan atau didistribusikan.”38

Fenomena penyebaran konten pornografi tanpa persetujuan dari salah satu pihak atau revenge porn di Indonesia marak terjadi namun masih banyak korban yang memilih untuk diam. Karena stigma negatif yang melekat erat dalam masyarakat terhadap orang yang berhubungan seks di luar nikah masih melekat erat. Mereka khawatir keluarga atau orang-orang terdekat ikut menekan dan menyalahkan mereka. Dampak dari fenomena tersebut ialah menyebabkan korban depresi karena menyerang emosional, psikis, dan fisik korban. Bahkan, dampak paling buruk yaitu bunuh diri.

Nadya Karima Melati, peneliti dari Support Group and Resource Center on Sexuality Studies (SGRC) mendefinisikan Revenge porn atau pornografi balas dendam adalah bentuk pemaksaan, ancaman terhadap seseorang, umumnya perempuan, untuk menyebarkan konten porno berupa foto atau video yang pernah dikirimkan kepada pelaku. Perilaku ini bertujuan untuk mempermalukan, mengucilkan dan menghancurkan hidup

38 Atu Karomah, Dosen Fakultas Hukum UIN Banten, Interview Pribadi, Tangerang, 6 November 2021.

(35)

korban. Pelaku bisa pacarnya, mantan pacar yang ingin kembali, atau orang yang tidak bisa diidentifikasi.39

Menurut Saifullah, Revenge porn adalah perbuatan yang melanggar norma atau kaidah agama, kesusilaan dan kesopanan. Norma hukum (positif) yaitu KUHP pasal 282 ayat 1, Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, Undang- Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi serta putusan pengadilan nomor 1288/Pid.Sus/2017/PN BJM dan hukum islam yang mengatur tentang pornografi balas dendam yaitu MUI-Pusat keputusan fatwa nomor 287 tahun 2001 tentang pornografi dan pornoaksi serta Surah al-Isra ayat 32, Surah an-Nur ayat 30 dan 31, Surah al-Ahzab ayat 59, Surah al-Maidah ayat 2.

Saifullah menegaskan “...Tentu saja kita akan mengkaji sejauh mana

“penegakan hukum” (law enforcement) terhadap revenge porn ini dijadikan prioritas dalam penyelesaian perkara. Saya melihat revenge porn selama ini masuk dalam delik kesusilaan yang secara sistem peradilan pidana masih memerlukan perhatian serius dari seluruh elemen masyarakat dan tidak hanya mengandalkan aparat penegak hukum untuk melakukan penyelesaian proses perkaranya tetapi juga keseriusan lembaga-lembaga masyarakat yang punya kepedulian tinggi dan serius misalnya LSM pemerhati perempuan dan lain -lain. Oleh karena hal ini masuk kategori sebagai delik kesusilaan maka perlu dilakukan perenungan mendalam bahwa revenge porn ini terjadi pada saat hubungan antara satu dan lainnya (kedua belah pihak) tidak mengindahkan norma-norma yang sudah diatur dalam Agamanya (Islam), norma kesopanan dan norma kesusilaan, sehingga salah satu pihak merekam peristiwa tersebut. Negara kita masih mengagungkan budaya timur, maka sebaiknya persoalan ini diselesaikan secara kekeluargaan. Perlu juga dalam penyelesaian perkara revenge porn ini dengan menggunakan pendekatan restorative justice, termasuk dalam

39 Nadya Karima Melati, Bagaimana Mencari Bantuan Dalam Kasus Revenge Porn dalam https://magdalene.co/story/bagaimana-mencari-bantuan-dalam-kasus-revenge-porn, diakses pada 12 September 2021.

(36)

perkara-perkara pencemaran nama baik, fitnah atau penghinaan (termasuk perkara-perkara yang berkenaan dengan UU ITE)...”40

Budde. R merumuskan pemgertian pornografi balas dendam secara rinci yakni “Revenge pornography, also sometimes referred to as

“nonconsensual pornography,” “cyber rape,” or “involuntary porn,” is the practice of distributing nude or sexually graphic images of an adult individual without the consent of the person or persons present in the photograph or video.”41 Dalam terjemahan bahasa Indonesia diartikan sebagai berikut : “Pornografi balas dendam biasa disebut sebagai

“pornografi nonkonsensual”, “pemerkosaan dunia maya”, atau “pornografi tidak disengaja”, adalah praktik mendistribusikan gambar telanjang atau vulgar secara seksual dari individu dewasa tanpa persetujuan dari korban atau orang-orang yang hadir dalam foto. atau video teesebut.”

Bila melihat sudut pandang dari Mary Anne Franks yang berpendapat bahwa42 “The disclosure of sexually explicit images without consent and for no legitimate purpose – popularly but misleadingly referred to as “revenge porn” – causes immediate, devastating, and in many cases irreversible harm. A vengeful ex-partner, opportunistic hacker, or rapist can upload an explicit image of a victim to a website where thousands of people can view it and hundreds of other websites can share it. In a matter of days, that image can dominate the first several pages of search engine results for the victim’s name, as well as being emailed or otherwise exhibited to the victim’s family, employers, co- workers.” Dalam terjemahan bahasa Indonesia diartikan sebagai berikut :

“Penyebaran gambar seksual eksplisit tanpa persetujuan dan tujuan yang

40 Saifullah, Guru Besar bidang Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum UIN Maliki Malang, Interview Pribadi, 6 November 2021.

41 Budde R. “Taking the sting out of revenge porn: Using criminal statutes safeguard sexual autonomy in the digital age”. Georgetown Journal of Gender and the Law, Forthcoming, 2014.

42 Mary Anne Franks, Drafting an Effective ‘Revenge Porn’ Law: A Guide for Legislators, 2014.

(37)

sah yang tersebar ke ranah publik tetapi mempermalukan orang lain karena sakit hati disebut sebagai pornografi balas dendam yang menyebabkan kerusakan, kehancuran, dan kasus kerugian yang tidak terduga kepada korban. Mantan pasangan yang pendendam dan mengambil keuntungan untuk diri sendiri serta kesempatan yang ada dengan mengunggah gambar eksplisit korban ke situs web yang ribuan orang dapat melihatnya. Dalam hitungan hari, gambar tersebut dapat mendominasi papan pencarian di sosial media, atau bahkan diperlihatkan kepada keluarga korban.”

Sedangkan, Definisi berbeda dikemukakan Marsuri yang mendeskripsikan revenge porn sebagai “The practice of posting and distributing sexually explicit images of an ex-partner on the Internet after a breakup.”43 Dalam terjemahan bahasa Indonesia diartikan sebagai berikut : “Perbuatan memposting dan mendistribusikan konten seksual khususnya gambar, sang mantan pacar setelah hubungan berakhir”.

Menurut Citron & Franks revenge porn sebagai “the distribution of sexually graphic images of individuals without their consent.”44 Dalam terjemahan bahasa Indonesia diartikan sebagai berikut: “Mendistribusikan gambar grafis seksual dari individu tanpa persetujuannya”. Walaupun konten tersebut diproduksi dengan persetujuan setiap pihak ataupun diambil secara diam-diam oleh salah satu pihak dan dicuri, penyebaran konten privat tetap merupakan suatu hal yang tidak dapat diterima dan melanggar dasar hukum pornografi.

Zak Franklin mengatakan bahwa, “Revenge porn can take many different forms. The distribution of sexually explicit photos or videos through text messages, e-mails, and in hard copy qualifies as revengeporn.

However, cyber distribution is cheap and accessible making it most

43 Shigenori Marsuri, “The Criminalization of Revenge Porn in Japan”, Washington International Law Journal Association, Vol. 24 No. 2 2015, p. 289

44 Danielle Keats Citron and Mary Anne Franks, Criminalizing revenge porn. Wake Forest Law Review, 2014, p. 101-140.

Referensi

Dokumen terkait

Barang siapa melakukan perbuatan cabul dengan anaknya yang belum dewasa, anak tiri atau anak pungutnya, anak peliharaannya, atau dengan seseorang yang belum dewasa yang

8 Denpasar atau setidak-tidaknya pada suatu tempat tertentu yang masih termasuk dalam daerah hukum Pengadilan Negeri Denpasar, telah melakukan perbuatan kekerasan fisik

Melakukan sesuatu perbuatan dengan sengaja itu orang tidak perlu hanya menghendaki, mempunyai maksud atau mengetahui saja melainkan juga jika 29. 1) Orang menyadari