BAB III DESKRIPSI PERKARA NOMOR 1288/Pid.Sus/2017/PN
C. Pertimbangan Hakim
Adapun pertimbangan hakim dalam memutus perkara Nomor 1288/Pid.Sus /2017/PN BJM antara lain;6
Menimbang, bahwa oleh karena semua unsur dari pasal 45 ayat (1) UU RI No. 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU RI No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, telah terpenuhi, maka Terdakwa haruslah dinyatakan telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana sebagaimana didakwakan dalam dakwaan alternatif kedua.
Menimbang, bahwa dalam perkara ini terhadap Terdakwa telah dikenakan penahanan yang sah, maka masa penahanan tersebut harus dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan.
6 Putusan Nomor 1288/Pid.Sus/2017/PN BJM
Menimbang, bahwa oleh karena Terdakwa ditahan dan penahanan terhadap Terdakwa dilandasi alasan yang cukup, maka perlu ditetapkan agar Terdakwa tetap berada dalam tahanan.
Menimbang, bahwa barang bukti berupa :
a. 1 (satu) lembar hasil cetak Screenshoot akun Instagram @N_W b. 6 (enam) lembar hasil cetak Screenshoot percakapan pesan singkat
c. 1 (satu) lembar hasil cetak Screenshoot percakapan Instagram @N_W dengan @K_B
d. 3 (tiga) lembar hasil cetak Screenshoot antara Sdr. N dengan Sdr. R (terdakwa)
e. 1 (satu) unit HP merk XIAOMI android model HM 2LTE-CMCC warna hitam lengkap dengan Imei, kartu SIM nya dan memori nya
f. 1 (satu) unit HP merk OPPO Tipe R821 warna hitam lengkap dengan Imei, kartu SIM nya dan memori nya
g. 1 (satu) akun Instagram @N_W yang telah diekstrak ke dalam 1 (satu) keping CD berikut 2 (dua) lembar hasil cetaknya yang telah dipergunakan untuk melakukan kejahatan dan dikhawatirkan akan dipergunakan untuk mengulangi kejahatan, maka perlu ditetapkan agar barang bukti tersebut dimusnahkan.
Menimbang, bahwa barang bukti berupa 1 (satu) unit HP merk Samsung model B310E warna Putih lengkap dengan Imei, kartu SIM nya dan memori nya dan 1 (satu) unit HP Android merk Samsung model G530H Galaxy Grand Prime warna putih lengkap dengan Imei, kartu SIM nya dan memori nya, maka dikembalikan kepada dikembalikan kepada saksi korban NW Bin W.
Menimbang, bahwa untuk menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa, maka perlu dipertimbangkan terlebih dahulu keadaan yang memberatkan dan yang meringankan Terdakwa.
Keadaan yang memberatkan:
Perbuatan terdakwa melanggar kesusilaan
Perbuatan terdakwa mencemarkan nama baik korban NW di media sosial.
Keadaan yang meringankan:7
1) Terdakwa bersikap sopan dan tidak mempersulit proses persidangan.
2) Antara keluarga terdakwa dengan keluarga saksi korban telah ada perdamaian dan pihak terdakwa telah memberikan tali asih berupa uang tunai Rp. 5.000.000,- (lima juta rupiah).
Menimbang, bahwa oleh karena Terdakwa dijatuhi pidana maka haruslah dibebani pula untuk membayar biaya perkara.
Menimbang, bahwa terhadap unsur-unsur tersebut Majelis Hakim mempertimbangkan sebagai berikut:8
Ad. 1. Unsur Setiap orang ;
Menimbang, bahwa yang dimaksud dengan “Setiap orang” adalah menunjuk kepadamanusia selaku subyek hukum yang diajukan ke persidangan oleh Penuntut Umum karenatelah didakwa melakukan suatu perbuatan pidana untuk menghindari kesalahan subyek (error in persona).
Menimbang, bahwa Penuntut Umum telah menghadapkan terdakwa M.S als R Bin S dan ternyata setelah diperiksa identitas lengkap Terdakwa telah sama dengan identitas Surat Dakwaan Penuntut Umum No. Reg. Perkara : PDM-872/BJRMS/10/2017, tertanggal 18 Oktober 2017 dan surat-surat lain dalam berkas perkara yang dimaksud adalah diri Terdakwa, dalam perkara ini tidak terjadi kesalahan subjek (error in persona) dan selama persidangan Terdakwa telah nampak mampu berinteraksi dengan baik dan nampak mampu untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya, maka dengan demikian unsur Ad. 1 telah terpenuhi.
Ad. 2. Unsur Dengan sengaja:
Kata “sengaja” atau “disengaja” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah “dimaksudkan (direncanakan), memang diniatkan begitu, tidak secara kebetulan”9 Dalam ilmu hukum arti atau definisi tentang kesengajaan atau dolus intent opzet, dapat ditemukan dalam Memorie van
7 Putusan Nomor 1288/Pid.Sus/2017/PN BJM
8 Putusan Nomor 1288/Pid.Sus/2017/PN BJM
9 Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan Bahasa. Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1998), hlm. 814.
Toelichting (Memori Penjelasan) yang mengartikan kesengajaan sebagai menghendaki dan mengetahui (willen en weten). Kesengajaan dipersyaratkan terjadi pada ketiga unsur dari tindak pidana, yaitu :
a. Perbuatan yang dilarang
b. Akibat yang menjadi pokok alasan diadakan larangan itu c. Bahwa perbuatan itu melanggar hukum
Kesengajaan sifatnya alternatif yang dapat ditujukan kepada tiga elemen perbuatan pidana sehingga terwujud kesengajaan terhadap perbuatan, kesengajaan terhadap akibat dan kesengajaan terhadap hal ikhwal yang menyertai perbuatan pidana. Menurut pakar hukum, pada umumnya menyebutkan adanya tiga macam bentuk kesengajaan (opzet), yang menunjukkan tingkatan dari kesengajaan, yaitu:10
a. Kesengajaan sebagai maksud (opzet als oogmerk)
Kesengajaan sebagai maksud (opzet als oogmerk) untuk mencapai suatu tujuan (dolus directus). Dalam bentuk kesengajaan ini pelaku bertujuan untuk menimbulkan akibat yang dilarang. Kesengajaan sebagai maksud adalah perbuatan yang dilakukan oleh si pelaku atau terjadinya suatu akibat dari dari perbuatan si pelaku adalah memang menjadi tujuannya. Tujuan tersebut dapat di pertanggungjawabkan dan tidak ada yang menyangkal bahwa si pelaku pantas dikenai hukuman pidana. Dengan kata lain, si pelaku benar-benar menghendaki mencapai akibat yang menjadi pokok alasan diadakan ancaman hukuman pidana. Menurut teori kehendak, sengaja sebagai maksud karena apa yang dimaksud telah dikehendakinya.
b. Kesengajaan dengan sadar kepastian (opzet alszekerheidsbewustzjin)
Kesengajaan dengan sadar kepastian (opzet als zekerheidsbewustzijn) atau noodzakkelijkheidbewustzijn). Kesengajaan dengan sadar kepastian adalah apabila si pelaku dengan perbuatannya tidak bertujuan untuk mencapai akibat yang menjadi dasar dari perbuatan pidana, tetapi ia tahu benar bahwa akibat itu pasti akan mengikuti perbuatannya tersebut. Oleh karena itu, sebelum sungguh-sungguh terjadi akibat perbuatannya, si pelaku hanya dapat
10 Putusan Nomor 1288/Pid.Sus/2017/PN BJM
mengerti atau dapat menduga bagaimana akibat perbuatannya nanti atau apa-apa yang akan turut mempengaruhi terjadinya akibat perbuatan itu.
Dalam bentuk kesengajaan ini, perbuatan pelaku mempunyai dua akibat, yaitu pertama, akibat yang memang dituju si pelaku yang merupakan delikter sendiri atau bukan. Kedua, akibat yang tidak diinginkan tapi merupakan suatu keharusan untuk mencapai tujuan dalam akibat pertama.11 z kehendak merumuskan bahwa apabila pelaku juga menghendaki akibat atau hal-hal yang turut mempengaruhi terjadinya akibat yang terlebih dahulu telah dapat digambarkan dan tidak dapat di elakkan maka boleh dikatakan bahwa pelaku melakukan perbuatannya itu dengan sengaja dilakukan dalam keadaan sangat perlu atau sengaja dilakukan dengan kepastian dan kesadaran.
Teori membayangkan dan merumuskan bahwa apabila bayangan tentang akibat atau hal-hal yang turut mempengaruhi terjadinya akibat yang sebetulnya tidak langsung dikehendaki tetapi juga tidak dapat dielakkan maka boleh dikatakan bahwa perbuatan itu dengan sengaja dilakukan dalam keadaan sangat perlu atau sengaja dilakukan dengan kepastian dan kesadaran.
c. Kesengajaan dengan sadar kemungkinan (dolus eventualis)
Kesengajaan dengan sadar kemungkinan (dolus eventualis atau voowaardelijk-opzet). Dalam hal ini keadaan tertentu yang semula hanya mungkin terjadi kemudian benar-benar terjadi, kesengajaan dengan kemungkinan berarti apabila dengan dilakukannya perbuatan atau terjadinya suatu akibat yang dituju itu maka disadari bahwa adanya kemungkinan akan timbulnya akibat lain, atau dengan kata lain ada keadaan tertentu yang semula mungkin terjadi kemudian ternyata benar-benar terjadi. Menurut teori ini untuk adanya kesengajaan diperlukan dua syarat :
1) Pelaku mengetahui kemungkinan adanya akibat/keadaanya yang merupakan delik.
2) Sikapnya terhadap kemungkinan itu apabila benar terjadi, resiko tetap diterima untukmencapai apa yang dimaksud.
11 Putusan Nomor 1288/Pid.Sus/2017/PN BJM
Teori kesengajaan dengan kemungkinan adalah apabila dalam gagasan si pelaku hanya ada bayangan kemungkinan akan terjadi akibat yang bersangkutan tanpa dituju. Maka harus ditinjau seandainya ada bayangan kepastian, tidak hanya kemungkinan apakah perbuatan tetap akan dilakukan oleh si pelaku. Kalau hal ini terjadi, dapat dikatakan bahwa akibat yang terang dapat tidak dikehendaki dan yang mungkin akan terjadi itu tetap dipikul pertanggungjawaban nya oleh pelaku.
Menimbang, bahwa berdasarkan fakta-fakta yang terungkap dipersidangan:12
Bahwa benar terdakwa menawarkan pekerjaan pada perusahaan Consumer Good kepada korban NW.
Bahwa benar terdakwa menyebutkan syarat agar korban NW menghubungi bos terdakwa S.
Bahwa benar orang yang bernama S yang dimaksud oleh terdakwa sebagai bos itu adalah rekaan dari terdakwa dengan maksud untuk mengelabui korban NW.
Bahwa benar saat saksi NW menghubungi S dimaksud, maka diminta agar korban NW mengirimkan foto-foto korban NW dalam keadaan telanjang.
Bahwa benar korban NW mengirimkan foto-foto telanjang dirinya kepada S yang tidak lain adalah terdakwa sendiri.
Bahwa benar setelah mendapatkan foto-foto telanjang korban NW, kemudian terdakwa mengamcam korban NW bila tidak memenuhi permintaan terdakwa akan disebarluaskan foto-foto tersebut melalui media sosial.
Bahwa benar terdakwa secara sadar dan penuh keinsyapan memyebarkan foto-foto telanjang saksi NW melalui media social.
Bahwa pada hari Jum’at tanggal 18 Agustus 2017 sekitar pukul 18.45 Wita terdakwa membuat akun Instragram (IG) atas nama @N_W kemudian mengunggah foto-foto telanjang korban NW di akun Instragram (IG) tersebut dan terdakwa menggunakan foto-foto telanjang korban NW tersebut sebagai
12 Putusan Nomor 1288/Pid.Sus/2017/PN BJM
profil yang mana foto-foto telanjang korban NW ersebut telah dilihat oleh orang yang mengikuti akun Instragram(IG) atas nama @N_W tersebut yaitu saksi DIP, saksi S Binti J dan saksi KBA Binti SW serta Sdr. WF Bin M.
Menimbang, bahwa berdasarkan fakta-fakta hukum tersebut di atas maka Majelis Hakim berpendapat bahwa perbuatan terdakwa telah memenuhi unsur pada Ad. 2 oleh karena itu harus dinyatakan terbukti menurut hukum ; Ad.3. Unsur Tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan;
Pasal 1 angka 1 UU RI No. 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU RI No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, yang dimaksud dengan Informasi Elektronik adalah satu atau sekumpulan data elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara gambar, peta, rancangan, foto, electronic data interchange (EDI), surat elektronik (electronic mail), telegram, telecopy atau sejenisnya. Huruf, tanda, angka, kode akses, simbol, atau perforasi yang telah diolah yang memiliki arti atau dapat dipahami oleh orang yang mampu memahaminya;
Pasal 1 angka 2 UU RI No. 19 Tahun 201613 tentang Perubahan atas UU RI No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, yang dimaksud dengan Transaksi Elektronik adalah perbuatan hukum yang dilakukan dengan menggunakan komputer, jaringan komputer, da/atau media elektronik lainya;
Pasal 1 angka 15 UU RI No. 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU RI No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, yang dimaksud dengan Akses adalah kegiatan melakukan interaksi dengan Sistem Elektronik yang berdiri sendiri atau dalam jaringan;
Pasal 26 ayat (1) UU RI No. 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU RI No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, bahwa penggunaaan setiap informasi melalui media elektronik yang
13 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik
menyangkut data pribadi seseorang harus dilakukan atas persetujuan orang yang bersangkutan.
Menurut R. Soesilo dalam KUHP pada Bab XIV tentang Kejahatan Terhadap Kesopanan pada Pasal 281 halaman 204 menjelaskan bahwa
”Kesopanan” disini dalam arti kata ”Kesusilaan” (zeden, eerbaarheid), perasaan malu yang berhubungan dengan nafsu kelamin misalnya ; bersetubuh, meraba buah dada orang perempuan, meraba tempat kemaluan wanita, memperlihatkan anggauta kemaluan wanita atau pria, mencium dsb.