• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Putusan Nomor 144/Pdt.G/2012/PN.Pdg tentang Adanya Perbuatan Melawan Hukum Yang Dilakukan Oleh Perusahaan Leasing

BAB III : PERBUATAN MELAWAN HUKUM YANG DILAKUKAN PERUSAHAAN LEASING

PERBUATAN MELAWAN HUKUM OLEH PERUSAHAAN LEASING DALAM PUTUSAN

D. Analisis Putusan Nomor 144/Pdt.G/2012/PN.Pdg tentang Adanya Perbuatan Melawan Hukum Yang Dilakukan Oleh Perusahaan Leasing

Dalam Proses Penarikan Kendaraan

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, bahwa perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh leasing dalam hal ini PT. Adira Dinamika Multi Finance Tbk Padang yang melakukan penarikan secara sepihak dan secara paksa tanpa adanya pemberitahuan serta tidak adanya serfitikat jaminan fidusia. Sehingga terhadap perbuatan melawan hukum yang dilakukan ini dijatuhkan sanksi berupa pengembalian mobil yang ditarik serta pengenaan uang paksa kepada Tergugat sebesar Rp 200.000,00 (dua ratus ribu rupiah) per hari sejak putusan ini mempunyai kekuatan hukum tetap.

Dalam praktik pengadilan perdata yang mana sengketa dalam hal ini adalah bagian dari perdata, dikenal sumber hukum berupa Burgerlijk Wetboek (BW) yang terdiri dari 1993 Pasal . BW tersebut berdasarkan Pasal 1 Aturan Peralihan UUD 19945 (amandemen) masih berlaku hingga saat ini. Pada masa

dulu sebelum dicabutnya keberlakukan pembagian golongan penduduk, diberlakukan aturan berlakunya BW yaitu: 96

a) Mereka yang termasuk golongan Eropa; ‘

b) Mereka yang termasuk golongan Tiong Hoa dengan beberapa kekecualian dan tambahan seperti termuat dalam Lembaran Negara tahun 1917- 129 (lampiran II);

c) Mereka yang termasuk golongan Timur Asing selain daripada Tiong Hoa dengan kekecualian dan penjelasan seperti termuat dalam Lembaran Negara tahun 1924- 556 (lampiran I)

Sementara itu untuk golongan bangsa Indonesia Asli berlaku hukum adat yang sejak dahulu telah berlaku di kalangan rakyat, yang sebagian besar masih belum tertulis, tetapi telah hidup dalam tindakan- tindakan rakyat, mengenai segala soal dalam kehidupan masyarakat. 97

Pembahasan mengenai cacat tidaknya suatu putusan hakim harus ditinjau dari asas- asas putusan yang harus diterapkan dalam putusan. Pada hakikatnya asas- asas tersebut terdapat dalam Pasal 178 HIR/ 189 RBG dan Pasal 50 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, yaitu:

a. Memuat Dasar Alasan yang Jelas dan Rinci

Putusan yang dijatuhkan oleh hakim harus berdasarkan pertimbangan yang jelas dan cukup. Putusan yang tidak memenuhi ketentuan tersebut dikategorikan putusan yang tidak cukup pertimbangan atau onvoldoende gemotiveerd. Alasan yang dijadkan pertimbangan

96 R. Subekti, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Jakarta: PT. Pradnya Paramitha, 2004 hal. 6

97 R. Subekti, Pokok- pokok Hukum Perdata, Jakarta: PT. Intermasa, 1996 hal. 10

dapat berupa Pasal -Pasal tertentu peraturan perundang-undangan, hukum kebiasaan, yurisprudensi atau doktrin hukum.

Hal tersebut ditegaskan dalam Pasal 50 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman yang menegaskan bahwasanya Putusan pengadilan selain harus memuat alasan dan dasar putusan, juga memuat Pasal tertentu dari peraturan perundang-undangan yang bersangkutan atau sumber hukum tak tertulis yang dijadikan dasar untuk mengadili. Bahkan menurut Pasal 178 ayat (1) HIR, hakim karena jabatannya wajib mencukupkan segala alasan hukum yang tidak dikemukakan para pihak yang berperkara. Untuk memenuhi kewajiban itulah Pasal 5 Undang-Undang Kekuasan Kehakiman memerintahkan hakim untuk menggali nilai-nilai, mengikuti, dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat.98

Bertitik tolak dari Pasal -Pasal yang dikemukakan di atas, putusan yang tidak cukup pertimbangan adalah masalah yuridis, Akibatnya putusan dapat dibatalkan pada tingkat banding atau kasasi. Begitu pula pertimbangan yang mengandung kontradiksi, putusan demikian tidak memenuhi syarat sebagai putusan yang jelas dan rinci, sehingga cukup alasan menyatakan putusan yang dijatuhkan melanggar asas yang digariskan Pasal 178 ayat (1) HIR/189 ayat (1) RBG dan Pasal 50

98 M. Yahya Harahap, Hukum Acara Perdata, Jakarta: Sinar Grafika, 2005 hal. 798

Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman.

b. Wajib Mengadili Seluruh Bagian Gugatan

Asas kedua yang digariskan oleh Pasal 178 ayat (2) HIR/Pasal 189 ayat (2) RBG dan Pasal 50 RV adalah putusan harus secara total dan menyeluruh memeriksa dan mengadili setiap segi gugatan yang diajukan. Tidak boleh hanya memeriksa dan memutus sebagian saja dan mengabaikan gugatan selebihnya. Cara mengadili yang demikian bertentangan dengan asas yang digariskan oleh undang-undang.

c. Tidak Boleh Mengabulkan Melebihi Tuntutan

Berdasarkan Pasal 178 ayat (3) HIR/Pasal 189 ayat (3) RBG dan Pasal 50 RV, putusan tidak boleh mengabulkan melebihi tuntutan yang dikemukakan dalam gugatan. Larangan itu disebut ultra petitum partium. Hakim yang mengabulkan posita maupun petitum gugatan, dianggap telah melampaui batas wewenang atau ultar vires yakni bertindak melampaui wewenangnya. Apabila putusan mengandung ultra petitum, harus dinyatakan cacat (invalid) meskipun hal itu dilakukan hakim dengan itikad baik (good faith) maupun sesuai dengan kepentingan umum (public interest). Mengadili dengan cara mengabulkan melebihi dari apa yang di gugat dapat dipersamakan dengan tindakan yang tidak sah (illegal)meskipun dilakukan dengan itikad baik. 99

99 Ibid.

d. Diucapkan di Depan Umum

Persidangan dan putusan diucapkan dalam siding pengadilan yang terbuka untuk umum atau di muka umum merupakan salah satu bagian yang tidak terpisahkan dari asas fair trial. Melalui asas fair trial, pemeriksaan persidangan harus berdasarkan proses yang jujur sejak awal sampai akhir. Prinsip peradilan terbuka untuk umum mulai dari awal pemeriksaan sampai putusan dijatuhkan. Hal itu tentunya dikecualikan untuk perkara tertentu, misalnya perkara perceraian. Akan tetapi walaupun dilakukan dalam persidangan tertutup untuk umum, putusan wajib diucapkan dalam sidang yang terbuka untuk umum.

Pelanggaran terhadap hal di atas ditegaskan dalam Pasal 13 ayat (2) Undang-Undang Kekuasaan Kehakiman yang berbunyi :

“Putusan pengadilan hanya sah dan mempunyai kekuatan hukum apabila diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum.”

Berdasarkan ketentuan tersebut, maka putusan yang tidak diucapkan di muka umum berakibat putusan batal demi hukum.

Hukum positif dituangkan dalam undang-undang adalah kristalisasi kehendak masyarakat. Penguasaan atas bahasa undang-undang sangat diperlukan untuk memahami kehendak masyarakat tersebut agar tidak menimbulkan penafsiran yang bertentangan dengan kehendak masyarakat. Itulah latar belakang pentingnya penguasaan Bahasa Belanda untuk dapat memahami maksud dari segala Pasal -Pasal dalam BW.

Faktanya adalah minimnya penguasaan Bahasa Belanda oleh para yurist saat ini. Sepengetahuan penulis tidak lebih dari seperlima dari jumlah keseluruhan hakim agung yang menguasai Bahasa Belanda. Konsekuensinya adalah penggunaan BW terjemahan oleh para hakim/praktisi hukum untuk menjadi problem solving atas berbagai permasalahan hukum yang ada. BW adalah undang-undang sehingga harus diterapkan sebagai legal reasoning hakim dalam putusannya.

Penggunaan BW terjemahan tersebut telah menjadi kebiasaan bagi para hakim baik hakim tingkat pertama, banding maupun kasasi. Tidak pernah tercatat dalam sejarah peradilan Indonesia putusan hakim menjadi batal atau batal demi hukum dikarenakan penggunaan BW terjemahan. Substansi dari putusan yang pada hakikatnya menggunakan BW terjemahan juga telah dapat diterima oleh masyarakat mengingat kebutuhan menghendakinya.

Dari berbagai putusan perdata yang menggunakan BW sebagai problem solving atas sengketa yang ada, tidak pernah hakim dalam pertimbangannya mengatakan bahwasanya Pasal BW yang dikutip adalah terjemahan dari orang lain. Terlihat seolah hakim tersebutlah yang menterjemahkannya dalam Bahasa Indonesia. Berdasarkanhal tersebut, tidak menjadi persoalan asalkan diambil dari terjemahan penterjemah yang diakui dan teruji kapasitasnya.

Secara yuridis, tidak terdapat suatu pengaturan yang mengancam kebatalan bagi suatu putusan yang menggunakan BW terjemahan sebagai dasar pertimbangan. Pasal 50 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman hanya menegaskan bahwasanya Putusan pengadilan selain

harus memuat alasan dan dasar putusan, juga memuat Pasal tertentu dari peraturan perundang-undangan yang bersangkutan atau sumber hukum tak tertulis yang dijadikan dasar untuk mengadili. Pelanggaran terhadap Pasal tersebut mengakibatkan putusan dibatalkan oleh pengadilan yang lebih tinggi dikarenakan alasan tidak cukup pertimbangan atau onvoldoende gemotiverd.

Bila mengacu pada ketentuan di atas, maka dapat dianalisa terhadap keabsahan putusan ini, dapat dilihat dari asas- asas yang diatur seperti telah dijelaskan di atas, dalam Pasal 50 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, yaitu:

a. Memuat Dasar Alasan yang Jelas dan Rinci

Dalam putusan tersebut telah diuraikan mengenai alasan- alasan pengambilan keputusan yang diuraikan dalam pertimbangan- pertimbangan keputusan. Hal- hal yang menjadi pertimbangan putusan ini yaitu pada pokoknya bukti- bukti yang dihadirkan dalam persidangan dan fakta- fakta dalam persidangan. Alasan utama adalah bahwa Tergugat telah melakukan penarikan tanpa adanya sertifikat jaminan fidusia.

b. Wajib Mengadili Seluruh Bagian Gugatan

Dalam perkara perdata ini, gugatan yang diajukan Penggugat adalah mengenai penarikan secara sepihak yang dilakukan oleh Tergugat yang merupakan perbuatan melawan hukum. Kemudian oleh Tergugat mengajukan Eksepsi terhadap gugatan Penggugat yang kemudian oleh Majelis Hakim menolak Eksepsi Tergugat untuk seluruhnya dan

mengabulkan Gugatan Penggugat untuk seluruhnya. Hal ini membuktikan terpenuhinya asas wajib mengadili selurh bagian gugatan.

c. Tidak Boleh Mengabulkan Melebihi Tuntutan

Putusan yang dijatuhkan dalam perkara ini tidak melebihi tuntutan. Hal ini dapat dilihat dari putusan yang menyatakan mengabulkan gugatan Penggugat untuk sebagian.

d. Diucapkan di Depan Umum

Adapun putusan ini dibacakan tanggal 17 Mei 2013 dalam persidangan yang dinyatakan terbuka untuk umum oleh Ketua Majelis Hakim tersebut dengan didampingi Hakim Anggota dan dibantu oleh Panitera Pengganti Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dan dihadiri Kuasa Hukum Penggugat dan Kuasa Hukum Tergugat.

Dengan begitu, jelas bahwa putusan ini telah sesuai dan diucapkan di muka umum telah memenuhi ketentuan yang berlaku.

Berdasarkan hal- hal di atas, maka putusan tersebut telah memenuhi asas- asas yang terdapat dalam Undang-undang. Putusan ini tidak bertentangan dengan ketentuan yang berlaku karena dalam Peraturan Kementerian Keuangan telah mengeluarkan peraturan yang melarang perusahaan pembiayaan untuk menarik secara paksa kendaraan dari nasabah yang menunggak kredit kendaraan.Hal itu tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No.130/PMK.010/2012, tentang pendaftaran Jaminan Fidusia Bagi Perusahaan Pembiayaan Yang

Melakukan Pembiayaan Konsumen Untuk Kendaraan Bermotor Dengan Membebanan Jaminan Fidusia.

Berdasarkan uraian di atas, ditarik kesimpulan- kesimpulan sebagai berikut:

1. Perbuatan melawan hukum diatur dalam Buku III Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Pasal 1365-1380 KUHPerdata, termasuk ke dalam perikatan yang timbul dari undang-undang. Menurut Pasal 1365 KUH Perdata, yang dimaksud dengan perbuatan melawan hukum adalah Perbuatan yang melawan hukum yang dilakukan oleh seseorang yang karena salahnya telah menimbulkan kerugian bagi orang lain.

Pengertian perbuatan melawan hukum dalam Pasal 1365 KUHPerdata tidaklah dirumuskan secara eksplisit. Pasal 1365 KUHPerdata hanya mengatur apabila seseorang mengalami kerugian karena perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh orang lain terhadap dirinya, maka ia dapat mengajukan tuntutan ganti rugi kepada Pengadilan Negeri.

2. Saat ini leasing telah menjadi alternatif pembiayaan barang modal yang sangat dibutuhkan oleh pengusaha di Indonesia. Pada dasarnya leasing hampir sama dengan Bank, yaitu sebagai sumber pembiayaan bagi kebutuhan akan barang-barang modal. Lembaga pembiayaan didefenisikan sebagai badan usaha yang melakukan kegiataan pembiayaan dalam bentuk penyediaan dana atau barang modal dengan

cara tidak menarik dana secara langsung dari masyarakat. Kegiataan usaha lembaga pembiayaan antara lain meliputi bidang usaha sewa guna usaha, modal ventura, perdagangan surat berharga, anjak piutang, usaha kartu kredit, dan pembiayaan kartu kredit konsumen. Sedangkan lembaga keungan bukan Bank (LKBB) adalah yang secara langsung atau tidak langsung menghimpun dana dengan jalan mengeluarkan surat berharga dan menyalurkan kedalam masyarakat guna membiayai perusahaan-perusahaan.

3. Berdasarkan analisis yang dilakukan, maka disimpulkan bahwa putusan tersebut telah memenuhi asas- asas yang terdapat dalam Undang-undang. Putusan ini tidak bertentangan dengan ketentuan yang berlaku karena dalam Peraturan Kementerian Keuangan telah mengeluarkan peraturan yang melarang perusahaan pembiayaan untuk menarik secara paksa kendaraan dari nasabah yang menunggak kredit kendaraan.Hal itu tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No.130/PMK.010/2012, tentang pendaftaran Jaminan Fidusia Bagi Perusahaan Pembiayaan Yang Melakukan Pembiayaan Konsumen Untuk Kendaraan Bermotor Dengan Membebanan Jaminan Fidusia.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas, diberikan saran- saran sebagai berikut:

1. Hendaknya diperketat pengawasan terhadap kegiatan para debt collector baik yang dilakukan oleh leasing ataupun lembaga

pembiayaan lainnya, karena pada umumnya kegiatan para debt collector ini sangat meresahkan bagi masyarakat.

2. Perlindungan kepada para konsumen harusnya diselenggarakan secara bersama- sama antara pihak leasing dengan lembaga negara. Hal ini guna memberikan jaminan keamaman bagi para pihak yang hendak menggunakan jasa leasing.

3. Hendaaknya dalam penyelesaian sengketa leasing dengan nasabah, lebih mengutamakan mediasi agar tidak menjadi perkara yang berpepanjangan.

Anwari, Achmad. 1987. Leasing di Indonesia, Jakarta: Ghalia Indonesia

Darmawi, Herman. 2006. Pasar Finansial Dan Lembaga-Lembaga Finansial, Jakarta, PT. Bumi Aksara

Djais, Mochammad. 2000. Pikiran Dasar Hukum Eksekusi, Semarang, Fakultas Hukum Universitas Diponegoro

Djais, Mochammad. 2002. Membaca dan Mengerti HIR, Semarang, Badan Penerbit Undip

Djumhana, Mohammad. 2000. Hukum Perbankan di Indonesia, Bandung, Citra Aditya Bakti

Fuady, Munir. 1995. Hukum Tentang Pembiayaan dalam Teori dan Praktek, Bandung, PT. Citra Aditya Bakti

Fuady, Munir. 2008. Pengantar Hukum Bisnis, Bandun, PT. Citra Aditya Bakti Fuady, Munir. 1996. Hukum Perkreditan Kontemporer, Bandung, Citra Aditya

Bakti

Harahap, M. Yahya. 2005. Hukum Acara Perdata, Jakarta: Sinar Grafika

Ibrahim, Johny. 2007. Teori dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif (Edisi Revisi). Malang, Bayu Media Publishing

Ichsan, Achmad. 1969. Hukum Perdata, Jakarta, PT. Pembimbing Masa

Ismijati, Siti. 1994. Tinjauan Umum mengenai Leasing dan Peranannya dalam Usaha Memenuhi Kebutuhan akan Alat-alat Produksi, Diktat Penataran Dosen Hukum Perdata Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, UGM Press

Judisseno, Rimsky K. 2005. Sistem Moneter dan Perbankan di Indonesia, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama

Lexy. J, Moeleong. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung, PT.Remaja Rosdakarya

Lubis, Suhrawardi K. 2000. Hukum Ekonomi Islam, Jakarta: Sinar Grafika

Machmud, Syahrul. 2008. Penegakan Hukum dan Perlindungan Hukum, Bandung, Mandar Maju

Muhammad, Abdulkadir. 2014. Hukum Perdata Indonesia, Bandung, PT. Citra Aditya Bakti

Naja, H. R. Daeng. 2006. Seri Keterampilan Merancang Kontrak Bisnis, Contract Drafting, Bandung, Citra Aditya Bakti

Prakoso, Djoko Bambang Ri Lady Yani. 1987. Dasar Hukum Persetujuan Tertentu diIndonesia, Jakarta: PT.Bina Aksana

Prodjodikoro, Wirjono. 2000. Perbuatan Melawan Hukum, Bandung, Mandar Maju

___________________. 1983. Perbuatan Melanggar Hukum dipandang dari Sudut Hukum Perdata, Bandung, Sumur

Sofian. 1994. Hukum Jaminan di Indonesia, Yogyakarta, Liberty

Sofwan, Sri Soedewi. 1982. Hukum Perdata: Hukum Benda, Yogyakarta, Liberty Soekanto, Soerjono. 2008. Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta, UI-Press

Soimin, Soedharyo. 1999. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Jakarta: Sinar Grafika

Soeroso, R. 2006. Praktek Hukum Acara Perdata, Jakarta: Sinar Grafika

Subekti, R. 2004. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Jakarta: PT. Pradnya Paramitha

_________. 1996. Pokok- pokok Hukum Perdata, Jakarta: PT. Intermasa _________. 1979. Pokok-Pokok Perdata, Jakarta, PT. Intermasa

_________. 1990. Hukum Perjanjian Cetakan XII, Jakarta, PT. Intermasa Sunaryo. 2008. Hukum Lembaga Pembiayaan, Jakarta: Sinar Grafika Sutedi, Adrian. 2010. Hukum Hak Tanggungan, Jakarta, Sinar Grafika

Sutantio, Retnowulan. 1989. Hukum Acara Perdata Dalam Teori dan Praktik, Bandung, Mundur Maju

Triandaru, Sigit Totok Budisantoso. 2008. Bank dan Lembaga Keuangan Lain Edisi 2, Jakarta, Salemba Empat

Widaningsih. 2016. “Tinjauan Yuridis Pendaftaran Fidusia Bagi Perusahaan Pembiayaan (Peraturan Menteri Keuangan No. 130/PMK.010/2012)”, Jurnal Politeknik Negeri Malang

Widiyono, Tri. 2009. Agunan Kredit dalam Financial Engineering, Bogor, Ghalia Indonesia

Yuzrizal. 2015. Aspek Pidana dalam Undang-undang No. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia, Malang, MNC Publishing