BAB III : PERBUATAN MELAWAN HUKUM YANG DILAKUKAN PERUSAHAAN LEASING
PERBUATAN MELAWAN HUKUM OLEH PERUSAHAAN LEASING DALAM PUTUSAN
A. Faktor- faktor Penyebab Terjadinya Perbuatan Melawan Hukum Oleh Perusahaan Leasing
Kementerian Keuangan telah menerbitkan peraturan yang melarang perusahaan leasing untuk menarik secara paksa kendaraan dari nasabah yang menunggak pembayaran kredit kendaraan. Maka dengan adanya peraturan ini, pemilik kendaraan baik motor maupun mobil yang sifatnya masih kredit melalui lembaga pembiayaan (leasing) tidak perlu lagi merasa resah, gelisah, dan khawatir akan berhadapan dengan tukang tagih hutang dari leasing (debt collector) yang akan menarik atau merampas kendaraan dari tangan Anda hanya karena Anda telat atau lalai-gagal dalam memenuhi kewajiban pembayaran cicilan kredit bulanan. secara resmi telah mengeluarkan peraturan yang melarang leasing atau perusahaan pembiayaan menarik secara paksa kendaraan dari nasabah yang menunggak kredit kendaraan.
Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 130/PMK.010/2012 tersebut tentu saja tidak serta merta membebaskan nasabah dari tanggung jawab cicilannya. Dengan adanya peraturan menteri tersebut, nasabah masih diharuskan untuk membayar cicilan dan angsuran setiap bulannya. Ketentuan ini kemudian dipertegas oleh beberapa perusahaan leasing kendaraan roda empat dan dua.
Peraturan yang dikeluarkan tersebut, tetap membebankan nasabah terhadap tanggung jawabnya dalam cicilan kredit kendaraan yang diambil. Keterangan ini
pada akhirnya membantah spekulasi kabar bahwa nasabah akan lepas dari tanggung jawab. Pada saat pertama kali muncul kabar ini, nasabah pembeli kendaraan secara kredit ini memang dibuat bingung dengan kebijakan dari Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 130/PMK.010/2012 tersebut. Mereka mengira bahwa mereka bisa terbebas dari kewajiban membayar angsuran kepada pihak leasing. Lebih lanjutnya, sesuai peraturan yang ada pada Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 130/PMK.010/2012 tersebut, nasabah atau debitur yang melakukan pembelian motor melalui sistem kredit ini nantinya akan didaftarkan secara fidusia. Peraturan fidusia ini sendiri berlaku sangat kuat karena debitur dan kreditur akan didaftarkan ke Kemenkum HAM. Dengan demikian secara resmi perusahaan leasing dan konsumen bersangkutan saling terikat dan memiliki perjanjian yang harus dijalani. Misalkan untuk debitur, mereka nantinya akan mendapatkan sertifikat fidusia, di mana dalam perjanjian motor yang telah dipegang atas nama mereka tidak boleh dialihkan sepihak.
Lebih jauh terkait peraturan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 130/PMK.010/2012 ini, diharapkan dengan adanya peraturan ini tingkat tunggakan pun terus berkurang dari tahun ke tahun. Ditambah lagi dengan aturan Bank Indonesia (BI) yang menyebutkan DP minimal kredit kendaraan harus 20 persen dari harga kendaraan maka hal ini akan membuat pemberian kredit pun semakin potensial kepada nasabah yang mampu. Dengan adanya peraturan tambahan dari BI ini maka kemungkinan terjadinya pembelian kredit kendaraan akan berada pada konsumen yang tepat yang bisa melunasinya hingga akhir angsuran. Debitur diminta untuk memenuhi kewajiban pembayaran angsuran
secara tepat waktu sesuai besaran dan waktu yang telah disepakati kedua belah pihak. Pasal nya, jika debitur tidak memenuhi kewajibannya, maka risikonya, perusahaan pembiayaan akan melakukan penarikan kendaraan.
Berikut beberapa hal yang harus dipahami masyarakat mengenai prosedur penarikan kendaraan bermotor dari debitur oleh perusahaan pembiayaan:86
5. Debitur perlu memastikan bahwa proses eksekusi benda jaminan fidusia telah sesuai dengan prosedur yang diatur dalam perjanjian pembiayaan, termasuk mengenai tahapan pemberian surat peringatan kepada debitur/konsumen
6. Petugas yang melakukan eksekusi benda jaminan fidusia merupakan pegawai perusahaan pembiayaan atau pegawai alih daya perusahaan pembiayaan yang memiliki surat tugas untuk melakukan eksekusi benda jaminan fidusia
7. Petugas yang melakukan eksekusi benda jaminan fidusia membawa sertifikat jaminan fidusia
8. Proses penjualan barang hasil eksekusi benda jaminan fidusia harus dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan mengenai jaminan fidusia.
Eksekusi sebagai tindakan hukum yang dilakukan oleh Pengadilan kepada pihak yang kalah dalam suatu perkara merupakan aturan dan tatacara lanjutan dari proses pemeriksaaan perkara. Oleh kerena itu, eksekusi tiada lain daripada tindakan yang berkesinambungan dari keseluruhan proses hukum acara perdata.
86 Sigit Triandaru, Totok Budisantoso, Bank dan Lembaga Keuangan Lain Edisi 2, Jakarta : Salemba Empat, 2008, hal. 196
Eksekusi merupakan suatu kesatuan yang tidak terpisahkan dari pelaksanaan tata tertib beracara yang terkandung dalam HIR atau RBG. Setiap orang yang ingin mengetahui pedoman aturan eksekusi harus merujuk ke dalam aturan perUndang-Undangan dalam HIR atau RBG. 87
Pengertian eksekusi secara umum adalah pelaksanaan putusan hakim atau menjalankan putusan hakim.Adapun ketentuan mengenai pelaksanaan putusan atau eksekusi ini diatur dalam ketentuan Pasal 195 sampai dengan Pasal 200 HIR/RBG. Pengertian Eksekusi menurut R.Subekti dikatakan bahwa “Eksekusi atau pelaksanaan putusan mengandung arti bahwa pihak yang dikalahkan tidak mau mentaati putusan itu secara sukarela sehingga putusan itu harus dipaksakan kepadanya dengan bantuan kekuatan umum.88
Pendapat yang sama dikemukakan oleh Retno Wulan Sutantio dan Iskandar Oeripkartawinata yang menyatakan bahwa “Eksekusi adalah tindakan paksaan oleh pengadilan terhadap pihak yang kalah dan tidak mau melaksanakan putusan secara sukarela”.89
M.Yahya Harahap, yang menyatakan bahwa “Eksekusi sebagai tindakan hukum yang dilakukan oleh pengadilan kepada pihak yang kalah dalam suatu perkara, merupakan aturan dan tata cara lanjutan dari proses pemeriksaan perkara.
Oleh karena itu eksekusi tiada lain daripada tindakan yang berkesinambungan dari keseluruhan proses Hukum Acara Perdata. Eksekusi merupakan suatu kesatuan
87 Ibid.
88 Mochammad Djais, Pikiran Dasar Hukum Eksekusi, Semarang: Fakultas Hukum Universitas Diponegor, 2000 hal. 12
89 Retnowulan Sutantio, Hukum Acara Perdata Dalam Teori dan Praktik, Bandung:
Mundur Maju, 1989 hal 130
yang tidak terpisahkan dari pelaksanaan tata tertib beracara yang terkandung dalam HIR/RBG”.90
Menurut Sri Soedewi Sofwan adalah hukum yang mengatur tentang pelaksanaan hak-hak kreditur dalam perutangan yang terhadap harta kekayaan debitur, manakala perutangan itu tidak dipenuhi secara sukarela oleh debitur.91
Hukum eksekusi ini sebenarnya tidak diperlukan apabila pihak yang dikalahkan dengan sukarela mentaati bunyi putusan. Akan tetapi dalam kenyataannya tidak semua pihak mentaati bunyi putusan dengan sepenuhnya.
Oleh karena itu diperlukan suatu aturan bilamana putusan tidak ditaati dan bagaimana cara pelaksanaannya. Lebih lanjut dapat dilihat pendapat Bachtiar Sibarani. yang menyatakan bahwa eksekusi adalah pelaksanaan secara paksa putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap/pelaksanaan secara paksa dokumen perjanjian yang dipersamakan dengan putusan Pengadilan yang berkekuatan hukum tetap.
Pengertian eksekusi dalam arti yang lebih luas dikemukakan oleh Mochammad Dja’is yang menyatakan bahwa “ Eksekusi adalah upaya kreditur merealisasikan hak secara paksa karena debitur tidak mau secara sukarela memenuhi kewajibannya. 92Dengan demikian eksekusi merupakan bagian dari proses penyelesaian sengketa hukum. Eksekusi jaminan fidusia diatur dalam Pasal 29 sampai dengan Pasal 34 UUJF. Yang dimaksud dengan eksekusi jaminan fidusia adalah penyitaan dan penjualan benda yang menjadi objek jaminan fidusia.
90 M.Yahya Harahap,Op.cit, hal. 1
91 Sri Soedewi Sofwan, Hukum Perdata: Hukum Benda, Yogyakarta, Liberty, 1982 hal.
53
92 Mochammad Dja’is, Membaca dan Mengerti HIR, Semarang: Badan Penerbit Undip, 2002 hal. 83
Penyebab timbulnya eksekusi jaminan fidusia ini adalah karena debitur atau pemberi fidusia cedera janji atau tidak memenuhi prestasinya walaupun sudah diberikan somasi.
Dari pengertian diatas dapat diketahui bahwa eksekusi tidak hanya diartikan dalam arti sempit tetapi juga dalam arti luas. Eksekusi tidak hanya pelaksanaan terhadap suatu putusan yang telah berkekuatan hukum kepada pihak yang kalah, yang tidak mau menjalankan isi putusan secara sukarela, tetapi eksekusi dapat dilaksanakan terhadap grosse surat hutang notaril dan benda jaminan eksekusi serta eksekusi terhadap perjanjian. Eksekusi dalam arti luas merupakan suatu upaya realisasi hak,bukan hanya merupakan pelaksanaan putusan pengadilan saja.
Berdasarkan hal di atas, dapat disimpulkan bahwa eksekusi penarikan terhadap unit jaminan fidusia seharusnya dilakukan setelah adanya putusan pengadilan. Namun pada kenyataannya, banyak terjadi penarikan atau eksekusi secara sepihak yang dilakukan oleh pihak leasing. Adapun alasan- alasan pihak leasing melakukan penarikan paksa adalah sebagai berikut:
a. Pihak konsumen melakukan wanprestasi;
b. Pihak konsumen tidak kooperatif dan tidak beritikad baik dalam melakukan pembayaran kerdit;
c. Eksekusi secara sepihak dianggap lebih efisien karena tidak membutuhkan waktu yang lama, sebab dilakukan tanpa adanya putusan pengadilan.
B. Penggunaan Debt-collector Oleh Perusahaan Leasing dalam Penarikan