VI MANAJEMEN MUTU TERPADU
6.6.2. Analisis R/C Rasio
PT Giga belum memiliki lahan sendiri untuk memproduksi sayuran organik. Saat ini, PT Giga masih bergantung pada Petani Mitra dalam hal pasokan sayuran. Oleh karena itu, aktivitas PT Giga tidak terlepas dengan keberadaan Petani Mitra. Analisis imbangan penerimaan dan biaya (R/C Rasio) ditujukan untuk mengetahui tingkat pengembalian petani yang merupakan perbandingan antara total penerimaan dengan total pengeluaran. Analisis R/C rasio masing- masing Petani Mitra dapat dihitung atas biaya total dan atas biaya tunai.
Nilai R/C rasio ini dihitung terhadap komoditi-komoditi yang dijual kepada PT Giga yang juga dijual kepada pihak selain PT Giga. Untuk itu, komoditi yang digunakan berbeda untuk masing- masing Petani Mitra. Analisis R/C rasio untuk Petani Mitra I menggunakan komoditi caisim dan kangkung. Komoditi Petani Mitra II yang dianalisis R/C rasionya adalah horenzo dan selada keriting. Sementara, untuk Petani Mitra III adalah caisim, kangkung dan bayam yang juga sedang diusahakan. Penghitungan terhadap komoditi-komoditi tersebut 90
dilakukan berdasarkan luasan sama untuk masing- masing petani yaitu untuk satu bedeng seluas 10 m2.
Petani Mitra I merupakan pemasok PT Giga yang berbentuk koperasi. Penghitungan R/C rasio terhadap Petani Mitra I dilakukan terhadap tiga petani yang merupakan anggota koperasi. Sementara, Petani Mitra II dan Petani Mitra III merupakan petani perorangan. Sehingga, jumlah petani yang digunakan dalam analisis R/C rasio ini berjumlah lima orang.
Biaya-biaya yang dihitung terdiri dari biaya-biaya seperti benih, pupuk kandang, tenaga kerja, sewa lahan, penyusutan peralatan, pestisida organik, serta bahan-bahan lain yang digunakan dalam usahatani. Masing- masing petani memiliki alokasi yang berbeda dalam penggunaan sumber daya ini. Perbedaan inilah yang menyebabkan perbedaan nilai R/C rasio petani satu dengan yang lainnya. Selain itu, terdapat perbedaan harga jual Petani Mitra apabila memasok kepada PT Giga dan pihak selain PT Giga.
Analisis perbandingan R/C rasio petani dilakukan terhadap hasil produksi yang dijual kepada PT Giga dan pihak lain di luar PT Giga. Dalam hal ini, diperhitungkan juga biaya kemasan, transportasi, dan tenaga kerja packing sehingga perbandingan dapat dilakukan karena kedua elemen yang diperbandingkan sudah setara.
Tabel 13. Perbandingan R/C rasio Petani Mitra kepada PT Giga dan Non-PT Giga
Pemasok R/C atas Biaya Total R/C atas Biaya Tunai
PT Giga Non-PT Giga PT Giga Non-PT Giga
Petani Mitra I 1,21 1,58 2,55 2,97
Petani Mitra II 2,77 3,50 3,33 4,13
Petani Mitra III 2,38 1,32 3,16 2,16
Penghitungan rata-rata R/C rasio atas biaya total untuk Petani Mitra I jika memasok kepada PT Giga menghasilkan nilai sebesar 1,21. Nilai ini menunjukkan bahwa usaha yang dijalankan oleh petani masih menguntungkan karena memiliki nilai lebih dari satu. Angka 1,21 menunjukkan bahwa setiap Rp 1 biaya total yang dikeluarkan, maka petani menghasilkan penerimaan sebesar Rp 1,21 dalam satu kali periode produksi. Rata-rata R/C rasio atas biaya total untuk petani yang memasok kepada pihak lain menghasilkan nilai 1,58. Hal ini berarti dari setiap Rp 91
1 biaya total yang dikeluarkan petani menghasilkan penerimaan sebesar Rp 1,58 dalam satu kali periode produksi. Dalam hal ini, usaha yang dijalankan menguntungkan. Apabila dibandingkan, maka R/C atas biaya total Petani Mitra I tertinggi dihasilkan oleh petani yang memasok kepada pihak lain dengan nilai 1,58. Penghitungan terhadap rata-rata R/C rasio atas biaya tunai apabila Petani Mitra I memasok kepada PT Giga menghasilkan nilai sebesar 2,55. Nilai ini lebih rendah dibandingkan apabila Petani Mitra memasok sayurannya kepada Non-PT Giga yang menghasilkan R/C rasio atas biaya tunai sebesar 2,97. Angka R/C rasio sebesar 2,97 menunjukkan bahwa dari Rp 1 biaya tunai yang dikeluarkan petani, maka akan diperoleh penerimaan sebesar Rp 2,97.
Penghitungan rata-rata R/C rasio atas biaya total untuk Petani Mitra II jika memasok kepada PT Giga menghasilkan nilai sebesar 2,77. Nilai ini menunjukkan bahwa usaha yang dijalankan oleh petani masih menguntungkan karena memiliki nilai lebih dari satu. Angka 2,77 menunjukkan bahwa setiap Rp 1 biaya total yang dikeluarkan, maka petani menghasilkan penerimaan sebesar Rp 2,77 dalam satu kali periode produksi. Rata-rata R/C rasio atas biaya total untuk petani yang memasok kepada pihak lain menghasilkan nilai 3,50. Hal ini berarti dari setiap Rp 1 biaya total yang dikeluarkan petani, menghasilkan penerimaan sebesar Rp 3,50 dalam satu kali periode produksi. Dalam hal ini, usaha yang dijalankan menguntungkan. Apabila dibandingkan, maka R/C atas biaya total Petani Mitra II tertinggi dihasilkan oleh petani yang memasok kepada pihak lain dengan nilai 3,50. Penghitungan terhadap rata-rata R/C rasio atas biaya tunai apabila Petani Mitra II memasok kepada PT Giga menghasilkan nilai sebesar 3,33. Nilai ini lebih rendah dibandingkan apabila Petani Mitra memasok sayurannya kepada Non-PT Giga yang menghasilkan R/C rasio atas biaya tunai sebesar 4,13. Angka R/C rasio sebesar 4,13 menunjukkan bahwa dari Rp 1 biaya tunai yang dikeluarkan petani, maka akan diperoleh penerimaan sebesar Rp 4,13.
Penghitungan rata-rata R/C rasio atas biaya total untuk Petani Mitra III jika memasok kepada PT Giga menghasilkan nilai sebesar 2,38. Nilai ini menunjukkan bahwa usaha yang dijalankan oleh petani masih menguntungkan karena memiliki nilai lebih dari satu. Angka 2,38 menunjukkan bahwa setiap Rp 1 biaya total yang dikeluarkan, maka petani menghasilkan penerimaan sebesar Rp 92
2,38 dalam satu kali periode produksi. Rata-rata R/C rasio atas biaya total untuk petani yang memasok kepada pihak lain menghasilkan nilai 1,32. Hal ini berarti dari setiap Rp 1 biaya total yang dikeluarkan petani, menghasilkan penerimaan sebesar Rp 1,32 dalam satu kali periode produksi. Dalam hal ini, usaha yang dijalankan menguntungkan. Apabila dibandingkan, maka R/C atas biaya total Petani Mitra III tertinggi dihasilkan oleh petani yang memasok kepada PT Giga dengan nilai 1,32. Penghitungan terhadap rata-rata R/C rasio atas biaya tunai apabila Petani Mitra III memasok kepada PT Giga menghasilkan nilai sebesar 3,16. Nilai ini lebih tinggi dibandingkan apabila Petani Mitra memasok sayurannya kepada Non-PT Giga yang menghasilkan R/C rasio atas biaya tunai sebesar 2,16. Angka R/C rasio sebesar 2,16 menunjukkan bahwa dari Rp 1 biaya tunai yang dikeluarkan petani, maka akan diperoleh penerimaan sebesar Rp 2,16. Terdapat beberapa hal yang berkaitan dengan rendahnya nilai R/C petani yang memasok kepada PT Giga dibandingkan apabila memasok kepada pihak lain. Hal ini sesuai dengan kondisi masing- masing Petani Mitra. Petani Mitra I merupakan Petani Mitra yang berbentuk koperasi petani. Koperasi ini juga memasok sayuran organik kepada pihak lain yaitu kepada supermarket di daerah Bogor. Supermarket tersebut diantaranya dua store Yogya serta satu Toko Sesawi Jaya. Volume penjualan kepada ketiga toko tersebut menyerap 50 persen penjualan koperasi, sedangkan sisanya merupakan volume penjualan yang diserap PT Giga. Supermarket tersebut memesan sayuran organik yang akan dijual langsung kepada konsumen akhir sehingga jumlah sayur dipesan kepada koperasi lebih sedikit dibandingkan PT Giga yang berbentuk pedagang besar yang menjual sayurannya kembali pada beberapa supermarket, sehingga volume yang diminta PT Giga kepada koperasipun lebih banyak.
Petani Mitra I mengirimkan sayur kepada PT Giga sebanyak 3-5 kali dalam seminggu dengan volume 20 kg-30 kg/kirim. Sementara untuk pelanggan lainnya, Petani Mitra I hanya mengirim sayuran dua kali dalam seminggu dengan volume 15-20 kg/kirim. Komoditi utama yang dipasok kapada PT Giga yaitu sayuran daun seperti bayam, kangkung, caisim, serta komoditi lain yang tidak terlalu banyak dipasok yaitu terung dan buncis. Dari ketiga Petani Mitra, Petani Mitra I menghasilkan nilai R/C rasio terendah dibandingkan lainnya. Hal ini 93
karena Petani Mitra merupakan satu-satunya Petani Mitra yang mengantarkan sayurannya kepada PT Giga, sehingga biaya yang dikeluarkanpun lebih besar untuk biaya transportasi. Hal ini berpengaruh terhadap nilai R/C rasio yang dihasilkan.
Petani Mitra II merupakan petani perorangan. Selain memasok sayuran organik kepada PT Giga, Petani Mitra ini juga memasok sayuran organik ke supermarket yang ada di Jakarta. Namun, kegiatan ini belum lama dilaksanakan, sehingga volume penjualannya pun masih sedikit dibandingkan kepada PT Giga. Aktivitas bisnis utama Petani Mitra II merupakan sebagai pemasok sayuran non-organik dengan perbandingan sayuran non-non-organik dan non-organik yang dijual yaitu 70 persen : 30 persen. PT Giga merupakan pelanggan utama untuk komoditi sayuran organik yang diusahakan oleh Petani Mitra II.
Volume penjualan Petani Mitra II kepada PT Giga sebanyak 30 kg/kirim. Pengiriman sayuran Petani Mitra II bergantung pada ketersediaan sayuran. Apabila tersedia, Petani Mitra II dapat menjual sayuran setiap hari. Komoditi utama yang dipasok oleh Petani Mitra II saat ini masih sebatas zukini, horenzo, selada keriting dan kyuri.
Berbeda dengan Petani Mitra I dan Petani Mitra II, R/C rasio Petani Mitra III memiliki nilai yang lebih tinggi apabila memasok kepada PT Giga. Hal ini juga sebanding dengan volume penjualan Petani Mitra III kepada PT Giga. Petani Mitra III merupakan pemasok utama PT Giga. Petani Mitra III mampu memasok sayuran kepada PT Giga setiap hari dengan volume pengiriman sayuran melebihi 50 kg per harinya. Selain memasok sayurannya kepada PT Giga, Petani Mitra III memasok sayurannya kepada tiga pelanggan yang berada di daerah Depok dan Jakarta. Volume penjualannya relatif sedikit dibandingkan jika memasok kepada PT Giga, yaitu hanya menyerap sekitar tiga puluh persen dari total volume penjualan Petani Mitra III.
Nilai R/C rasio Petani Mitra I dan Petani Mitra II baik atas biaya total maupun biaya tunai menunjukkan bahwa para Petani Mitra lebih efisien apabila menjual sayurannya kepada pihak lain. Walaupun lebih efisien, namun volume yang dapat dijual kepada pihak lain tersebut relatif lebih sedikit dibandingkan volume sayuran yang dipasok kepada PT Giga. Oleh karena itu, saat ini hubungan 94
kerjasama jual-beli sayuran yang dilaksanakan masih menguntungkan para Petani Mitra karena berdasarkan analisis R/C rasio dihasilkan nilai lebih dari satu. Meskipun demikian, PT Giga harus lebih memperhatikan hubungan kerjasama dalam jangka panjang dengan para Petani Mitra. Hal ini karena apabila volume penjualan para Petani Mitra kepada pihak lain meningkat dan diiringi dengan tingginya harga jual, maka kedudukan PT Giga akan tergeser. Petani Mitra akan lebih mengutamakan memasok sayuran organik kepada pihak lain yang memberikan keuntungan lebih dibandingkan PT Giga.
PT Giga memiliki kelebihan khusus bagi para Petani Mitranya. Kelebihan tersebut yaitu bahwa waktu pembayaran kepada Petani Mitra lebih cepat dibandingkan bila Petani Mitra memasok kepada pihak lain. Apabila Petani Mitra langsung menjual hasil sayurannya kepada supermarket, maka jangka waktu pembayaran yang berlaku adalah empat belas hingga tiga puluh hari. Sedangkan, apabila memasok kepada PT Giga, maksimal pembayaran dilakukan dalam jangka waktu maksimal empat belas hari, bahkan yang sering terjadi adalah PT Giga melakukan pembayaran kepada Petani Mitra lebih cepat dari jangka waktu yang ditentukan.
Menurut Petani Mitra, PT Giga masih lemah dalam hal prediksi order sehingga petani merasa lebih sulit untuk menyiapkan jenis dan volume sayur yang dipesan PT Giga setiap harinya. Pada umumnya, para petani melakukan panen pada pagi hari, sementara order dari PT Giga dilaksanakan dari mulai siang hingga sore hari. Seringkali Petani Mitra harus melakukan panen kembali ketika ada tambahan order pada hari yang sama. Jika belum ada kepastian mengenai hal ini, Petani Mitra masih ragu dalam menentukan pola tanam. Petani Mitra khawatir jika sudah menanam jenis sayuran tertentu, ketika panen PT Giga tidak sanggup menampungnya. Sementara, apabila dijual ke pasar tradisional, harga jualnya akan lebih rendah. Belum adanya kepastian mengenai jenis dan volume sayuran yang diorder PT Giga setiap harinya merupakan kelemahan PT Giga di mata petani mitra. Hal ini karena PT Giga juga menggantungkan pesanan hariannya kepada retail. Setiap harinya, PT Giga menerima pesanan dari retail yang berbeda dengan jenis dan volume yang dipesan beragam pula. Hal ini sangat bergantung pada persediaan retail.