• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep Kemitraan dan Pendapatan Usahatani 1. Konsep Kemitraan

III KERANGKA PEMIKIRAN

3.1.3. Konsep Kemitraan dan Pendapatan Usahatani 1. Konsep Kemitraan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti kata mitra adalah teman, kawan kerja, pasangan kerja, rekan. Sementara kemitraan mempunyai arti perihal hubungan atau jalinan kerjasama sebagai mitra. Arti kata mitra ini menurut Hafsah (1999) yang diacu dalam Firwiyanto (2008) adalah suatu strategi bisnis yang dilakukan oleh dua belah pihak atau lebih dalam jangka waktu tertentu untuk meraih keuntungan bersama dengan prinsip saling membutuhkan dan saling membesarkan.

Pola kemitraan yang tercantum dalam Keputusan Menteri Pertanian No. 940/kpts/OT.210/10/97 tentang Pedoman Kemitraan Usaha Pertanian yang

merupakan penjabaran dari undang- undang No. 9 tahun 1995 dan PP No. 44 tahun 1997, terbagi menjadi enam pola kemitraan yaitu :

1) Pola Inti Plasma, yaitu hubungan kemitraan antara perusahaan mitra dengan kelompok mitra. Perusahaan mitra bertindak sebagi inti yang menampung, membeli hasil produksi, memberikan pembinaan teknologi, bimbingan teknis dan manajemen, penyediaan sarana dan prasarana produksi pertanian, memberikan modal, serta pemasaran hasil. Petani bertindak sebagai plasma yang menjual seluruh hasil produksinya kepada inti dan mematuhi aturan atau petunj uk yang diberikan oleh inti.

2) Pola Subkontrak, yaitu hubungan antara kelompok mitra dengan perusahaan inti yang di dalamnya kelompok mitra memproduksi komponen yang diperlukan perusahaan mitra sebagai bagian dari produksinya. Pola kemitraan ini biasanya ditandai dengan kesepakatan mengenai kontrak bersama yang mencakup volume, harga, mutu, dan waktu. Pola ini menunjukkan di dalamnya bahwa kelompok mitra memproduksi komponen produksi yang diperlukan oleh perusahaan mitra. Hasil produksi sangat berguna bagi perusahaan mitra, maka pembinaan dilakukan dengan intensif.

3) Pola Dagang Umum, yaitu hubungan kemitraan antara usaha kecil dengan usaha menengah atau usaha besar yang memasarkan hasil produksi usaha kecil. Dapat juga usaha kecil memasok kebutuhan yang diperlukan usaha menengah atau usaha besar mitranya. Pola kemitraan ini memerlukan struktur pendanaan yang kuat dari pihak yang bermitra, baik mitra usaha besar maupun mitra usaha kecil, membiayai sendiri-sendiri dari kegiatan usahanya karena sifat dari kemitraan ini pada dasarnya adalah hubungan membeli dan menjual terhadap produk yang dimitrakan. Lembaga penunjang dalam mendukung pembiayaan kegiatan ini sangat mendukung proses pelaksanaan sistem kemitraan pola dagang ini. Pola ini merupakan hubungan usaha dalam pemasaran hasil produksi. Dalam pola ini, pihak yang terlibat adalah pihak pemasaran dengan kelompok usaha pemasok komoditas tertentu. Penerapan pola banyak dijumpai pada kegiatan agribisnis hortikultura, dimana kelompok tani hortikultura bergabung

dalam bentuk koperasi kemudian bermitra dengan swalayan atau kelompok supermarket. Pihak kelompok tani berkewajiban memasok barang-barang dengan persyaratan dan kualitas produk yang telah disepakati bersama.

Keuntungan dari pola kemitraan ini adalah adanya jaminan harga atas produk yang dihasilkan dan kualitas sesuai dengan yang telah ditentukan atau disepakati. Kemitraan pola dagang umum memiliki kelemahan yakni memerlukan permodalan yang kuat sebagai modal kerja dalam menjalankan usahanyabaik oleh kelompok mitra usaha maupun mitra usaha.

4) Pola Keagenan, yaitu hubungan kemitraan yang di dalamnya usaha kecil diberi hak khusus untuk memasarkan barang dan jasa usaha menengah atau usaha besar mitranya.

5) Pola Waralaba, ikatan dimana salah satu pihak diberikan hal unt uk memanfaatkan dan manggunakan hak atas kekayaan intelektual atau penemuan atau ciri khas yang dimiliki pihak lain, dengan suatu imbalan berdasarkan persyaratan yang ditetapkan pihak lain tersebut dalam rangka penyediaan dan atau penjualan barang atau jasa.

6) Pola Kerjasama Operasional Agribisnis, yaitu hubungan kemitraan antara petani kelompok mitra dengan perusahaan mitra, yang di dalamnya petani/ kelompok mitra menyediakan lahan, sarana, dan tenaga kerja, sedangkan perusahaan mitra menyediakan biaya modal serta sarana untuk mengusahakan dan membudidayakan suatu komoditi pertanian.

3.1.3.2. Konsep Pendapatan Usahatani

Pendapatan usahatani adalah selisih penerimaan dengan biaya yang dikeluarkan pada suatu periode produksi usahatani. Tujuan utama dari analisis pendapatan adalah menggambarkan keadaan sekarang dari suatu kegiatan usaha dan menggambarkan keadaan yang akan datang dari perencanaan atau tindakan (Soeharjo dan Patong 1973).

Dalam melakukan analisis pendapatan usahatani diperlukan dua data, yaitu keadaan penerimaan dan keadaan pengeluaran selama jangka waktu tertentu. Penerimaan usahatani adalah penerimaan dari sumber usahatani yang meliputi

jumlah penambahan inventaris, nilai jual hasil, dan nilai penggunaan untuk konsumsi keluarga (Hernanto 1989).

Biaya usahatani terdiri dari biaya tunai dan biaya tidak tunai atau biaya yang diperhitungkan. Biaya tunai adalah pengeluaran yang dibayar dengan tunai, seperti biaya pembelian sarana produksi dan sewa ternaga kerja. Biaya tunai merupakan suatu cara untuk melihat seberapa besar likuiditas tunai yang dibutuhkan petani untuk menjalankan kegiatan usahataninya. Sedangkan, biaya tidak tunai atau biaya diperhitungkan digunakan untuk menghitung berapa sebenarnya pendapatan kerja petani jika bunga modal dan nilai kerja keluarga diperhitungkan. Penyusutan alat juga dikategorikan sebagai biaya yang diperhitungkan.

Pendapatan usahatani merupakan ukuran keuntungan yang digunakan sebagai pembanding dalam beberapa usahatani. Pendapatan usahatani dapat dibedakan menjadi pendapatan tunai dan pendapatan total. Pendapatan total adalah selisih antara total penerimaan dengan semua biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi (biaya tunai dan biaya tidak tunai). Sehingga keuntungan yang didapatkan petani ditentukan dari besar atau kecilnya biaya yang dikeluarkan dan penerimaan yang diperoleh petani.

Selain diukur dengan nilai mutlak, pendapatan dapat pula diukur nilai efisiensinya. Salah satu alat untuk mengukur efisiensi pendapatan tersebut adalah penerimaan untuk setiap biaya yang dikeluarkan atau imbangan penerimaan dengan biaya (R/C rasio). Perbandingan ini menunjukkan besarnya penerimaan yang diperoleh untuk setiap satuan biaya yang dikeluarkan. Apabila R/C > 1, maka penerimaan yang diperoleh lebih besar dari setiap unit biaya yang dikeluarkan, hal ini berarti usahatani yang dilaksanakan menguntungkan. Apabila R/C < 1, maka penerimaan yang diperoleh lebih kecil dari tiap unit biaya yang dikeluarkan yang berarti usahatani yang dilaksanakan tidak menguntungkan. Jika R/C rasio = 1 berarti kegiatan usahatani berada pada keuntungan normal atau tidak untung dan tidak rugi.