ANALISIS DAN PEMBAHASAN
B. Analisis dan Pembahasan
1. Analisis Regresi Linier Berganda
a. Uji T Signifikansi parsial
Tabel 4.9 Uji T
Uji t bertujuan untuk melihat ada atau tidaknya pengaruh variabel independen (Inflasi, Nilai Tukar, Suku Bunga, Harga Minyak dan Harga Emas) secara parsial terhadap variabel dependen (return saham) dengan angka signifikansi (ɑ) sebesar 0.05. Hasil dari penelitian ini dapat dilihat pada tabel Coefficients di atas. Adapun hasil penelitian tersebut adalah sebagai berikut:
1) Inflasi memiliki angka signifikansi sebesar 0,367 dimana 0,367 > 0,05 serta angka t hitung sebesar 0,911 < 2, maka H0 diterima yang berarti bahwa inflasi tidak mempunyai pengaruh terhadap return saham secara parsial dalam penelitian ini. Hasil ini sesuai dengan penelitian Zulfi Skendra tahun 2005 yang menyatakan bahwa inflasi tidak berpengaruh secara nyata terhadap return saham. Serta penelitian Indoyama Nasarudin dan Sepuan Adityawati (2009)
Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. Collinearity Statistics
B Std. Error Beta Tolerance VIF
1 (Constant) -1.757 1.589 -1.106 .275 inf .012 .014 .047 .911 .367 .808 1.238 kurs .197 .153 .091 1.291 .204 .434 2.306 sbi .209 .090 .201 2.321 .025 .285 3.509 oil -.110 .041 -.170 -2.709 .010 .546 1.831 gold .649 .068 .798 9.566 .000 .307 3.255
secara signifikan terhadap Return dan Beta saham. Namun hasil ini tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Suyanto pada tahun 2007 yang menyatakan bahwa inflasi berpengaruh positif terhadap return saham. Hasil uji parsial yang menyatakan bahwa inflasi tidak berpengaruh terhadap return saham dikarenakan tingkat inflasi pada tahun 2007 – 2010 mengalami penurunan dan secara perlahan mulai stabil. Memang terjadi tekanan inflasi yang tinggi hingga bulan September 2008, hal ini dipicu oleh kenaikan harga komoditi dunia terutama minyak dan pangan. Setelah bulan September 2008, tingkat inflasi mulai turun karena turunnya harga komoditi internasional pangan dan energy dunia.
2) Nilai Tukar memiliki angka signifikansi sebesar 0,204 dimana 0,204 > 0,05 serta nilai t hitung sebesar 1,291 < 2, maka H0
diterima yang berarti bahwa nilai tukar tidak mempunyai pengaruh terhadap return saham secara parsial dalam penelitian ini. Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Indoyama Nasarudin dan Sepuan Adityawati (2009) yang menyatakan bahwa nilai tukar tidak berpengaruh terhadap return saham. Namun hasil ini tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Acmad Ath Thobarry (2009) yang menyatakan bahwa secara parsial nilai tukar berpengaruh positif signifikan terhadap indeks harga saham. Hubungan secara teoritis antara nilai tukar rupiah dengan harga saham bersifat negatif yaitu apabila terjadi penurunan nilai tukar
rupiah terhadap dollar maka akan menurunkan tingkat pengembalian investasi saham. Dengan merosotnya nilai tukar rupiah menunjuk kepada merosotnya kemampuan ekonomi nasional Indonesia, maka kemampuan fundamental perusahaan juga cenderung merosot, sehingga menurunkan tingkat pengembalian saham. Sedangkan nilai tukar rupiah dengan harga saham bersifat positif yaitu apabila terjadi sebaliknya. (Ruhendi dan Johan A, 2003). Secara umum, nilai tukar rupiah bergerak relatif stabil sampai pertengahan September 2008. Hal ini terutama disebabkan oleh kinerja transaksi berjalan yang masih mencatat surplus serta kebijakan makroekonomi yang berhati – hati. Namun sejak pertengahan September 2008, krisis global yang semakin dalam telah memberi efek depresiasi terhadap mata uang. Kurs Rupiah melemah menjadi Rp 11.711,- per USD pada bulan November 2008 yang merupakan depresiasi yang cukup tajam, karena pada bulan sebelumnya Rupiah berada di posisi Rp 10.048,-per USD.
3) Suku Bunga memiliki angka signifikansi sebesar 0,025 dimana 0,025 < 0,05 serta nilai t hitung sebesar 2,321 > 2 maka H0 ditolak dan Ha diterima yang berarti bahwa variabel suku bunga mempunyai pengaruh signifikan terhadap return saham secara parsial dalam penelitian ini. Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Suyanto 2007 yang menyatakan bahwa suku bunga
berpengaruh negatif terhadap return saham. Serta sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Stanley S. C. Huang bahwa perubahan suku bunga dapat mempengaruhi harga saham. Menurut Cahyono (2000:117) terdapat dua penjelasan mengapa kenaikan suku bunga dapat mendorong harga saham ke bawah. Pertama, kenaikan suku bunga mengubah peta hasil investasi. Kedua, kenaikan suku bunga akan memotong laba perusahaan. Hal ini terjadi dengan dua cara. Kenaikan suku bunga akan meningkatkan beban bunga emiten, sehingga labanya bisa terpangkas. Selain itu, ketika suku bunga tinggi, biaya produksi akan meningkat dan harga produk akan lebih mahal sehingga konsumen mungkin akan menunda pembeliannya dan menyimpan dananya di bank. Akibatnya penjualan perusahaan menurun. Penurunan penjualan perusahaan dan laba akan menekan harga saham.
4) Harga Minyak memiliki angka signifikansi sebesar 0,010 dimana 0,010 < 0,05 maka H0 ditolak dan Haditerima yang berarti bahwa harga minyak mempunyai pengaruh signifikan terhadap return saham secara parsial dalam penelitian ini. Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Ardian Agung Witjaksono (2010) yang menyatakan bahwa harga minyak dunia berpengaruh positif terhadap IHSG. Harga minyak dunia di pasar Asia relatif stabil bahkan mengalami penurunan. Hal itu disebabkan optimisme akibat perkiraan yang menunjukkan peningkatan cadangan minyak
mentah milik pemerintah Amerika Serikat. Perusahaan minyak dan gas asal Prancis Total Energy & Petrolium memperkirakan dunia akan kekurangan pasokan minyak pada 2015 akibat minimnya investasi pasca krisis ekonomi. Perusahaan minyak raksasa di beberapa negara dunia mulai mengurangi produksi minyak menyusul minimnya permintaan di tengah krisis ekonomi global. Langkah ini juga dilakukan untuk menjaga harga minyak. Banyak negara turut terimbas krisis sehingga sulit meneruskan investasi jangka panjang guna persiapan saat permintaan dan kondisi ekonomi pulih. Padahal langkah investasi yang dilakukan saat ini merupakan bekal produksi gas bumi dan minyak mentah pada 2010 hingga 2015. Karena itu dunia akan menghadapi kurangnya pasokan minyak dalam menghadapi tingginya permintaan. Harga minyak dunia juga diperkirakan melonjak lebih tinggi dari US$ 100 per barel dari harga saat ini sekitar US$ 70.
5) Harga Emas memiliki angka signifikansi sebesar 0,000 dimana 0,000 < 0,05 maka dapat dikatakan harga emas mempunyai pengaruh signifikan terhadap return saham secara parsial dalam penelitian ini. Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Ardian Agung Witjaksono (2010) yang menyatakan bahwa harga emas dunia berpengaruh positif terhadap IHSG. Harga emas kembali mencetak rekor dan mencapai titik tertinggi baru. Dalam kontrak pengiriman April, harga emas naik US$ 10.4 menjadi US$
1.438 per troy ounce dalam penutupan perdagangan bursa komoditas New York, Rabu pekan lalu. Harga emas mencapai harga tertinggi US$ 1.437,7 per troy ounce pada 2 Maret lalu. Naiknya harga emas tak lepas dari aksi para investor yang memburu logam mulia ini. Memanasnya situasi politik di Timur Tengah dan Libya, bencana di Jepang, kebijakan bank sentral Amerika Serikat, dan ancaman inflasi global juga mengerek harga emas. “Dalam kondisi seperti itu, tak ada alasan untuk tidak membeli emas," kata Adam Klopfenstein, ahli strategi pasar Lind Waldock di Chicago. Analis dari Olympus Futures Charles Nedoss memperkirakan harga emas akan kembali merangkak naik setelah harga minyak melonjak di atas US$ 105 per barel akibat serangan koalisi Amerika, Prancis, dan Inggris terhadap Libya.
Jadi dalam penelitian ini variabel Suku Bunga, Harga Minyak dan Harga Emas terbukti mempunyai pengaruh secara parsial terhadap return saham perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Sedangkan variabel Inflasi dan Nilai Tukar tidak mempunyai pengaruh secara parsial terhadap return saham karena memiliki angka signifikansi diatas 0,05.
ANOVAb
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 2.828 5 .566 197.350 .000a
Residual .155 54 .003
Total 2.983 59
a. Predictors: (Constant), GOLD, INF, RES_2KURS, SBI, OIL
b. Dependent Variable: RETURN b. Uji F Signifikansi Simultan
Tabel 4.10 Uji F
Berdasarkan hasil SPSS diatas dapat diketahui bahwa signifikansi atau probabilitas adalah sebesar 0,000. Oleh karena nilai signifikan atau F hitung sebesar 0,000 lebih kecil dari alpha 0,05 atau 5% maka Ho ditolak yang artinya variabel independen inflasi, nilai tukar, suku bunga, harga minyak dan harga emas secara simultan atau bersama – sama mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap return saham perusahaan manufaktur. Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Acmad Ath Thobarry (2009) yang menyatakan bahwa nilai tukar, suku bunga, inflasi dan pertumbuhan GDP secara bersama – sama berpengaruh terhadap indeks harga saham. Serta penelitian yang dilakukan oleh Ratna Prihantini (2009) yang menyatakan bahwa Inflasi, kurs, dan DER berpengaruh negatif signifikn terhadap return saham.
c. Persamaan Regresi
Berikut adalah persamaan regresi dalam penelitian ini:
Y = -1,75 + 0,20 X3 – 0,11 X4 + 0,65 X5 Keterangan: Y = Return Saham X3 = SBI X4 = Harga Minyak X5 = Harga Emas
Berdasarkan persamaan tersebut diketahui nilai konstanta sebesar -1,75 menunjukan bahwa jika variabel kurs, suku bunga, dan harga emas bernilai 0 maka nilai return saham adalah -1,75 dengan asumsi variabel lain dianggap tetap.
Nilai koefisien regresi variabel suku bunga bertanda positif artinya jika variabel SBI mengalami kenaikan sebesar 1% maka akan meningkatkan return saham sebesar 0,20 kali dengan asumsi variabel lainnya dianggap tetap.
Nilai koefisien regresi variabel harga minyak bertanda negatif artinya jika variabel harga minyak mengalami kenaikan sebesar 1% maka akan menurunkan return saham sebesar 0,11 kali dengan asumsi variabel lainnya dianggap tetap.
Nilai koefisien regresi variabel harga emas bertanda positif artinya jika variabel harga emas mengalami kenaikan sebesar 1% maka akan meningkatkan return saham sebesar 0,65 kali dengan asumsi variabel lainnya dianggap tetap.
Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 1 .954a .910 .899 .05664 .487
a. Predictors: (Constant), gold, kurs, inf, oil, sbi
b. Dependent Variable: return2
d. Koefisien Determinasi (Adj RSquare)
Melalui pengujian serentak dapat diketahui besar koefisien determinasi (Adj R2). Dari koefisien determinasi (Adj R2) dapat diketahui derajat ketepatan dari analisis regresi linear berganda menunjukkan besar variasi sumbangan seluruh variabel bebas terhadap variabel terikatnya.
Tabel 4.11 Koefisien Determinasi
Pada tabel di atas dapat dilihat nilai Adjusted R Square sebesar 0,899 atau 89,9% yang artinya variabel Y (Return Saham) dapat dijelaskan oleh variabel X1 (Inflasi), X2 (Nilai Tukar), X3 (Suku Bunga), X4 (Harga Minyak), X5 (Harga Emas) sebesar 89,9% sedangkan sisanya sebesar 10,1% dijelaskan oleh faktor – faktor lain seperti kondisi politik, kebijakan pemerintah, peraturan perpajakan, peredaran uang dan sebagainya.
BAB V