• Tidak ada hasil yang ditemukan

CV Wahyu Makmur Sejahtera selama menjalankan usaha dihadapkan pada berbagai masalah risiko produksi. Salah satunya pada masa perusahaan sedang berkembang, dihadapkan pada kelalaian dari pihak karyawan perusahaan. Oleh karena itu, produksi perusahaan sempat terhambat akibat dari salah satu karyawannya banyak yang mencuri jamur tiram siap panen sehingga perusahaan mengalami kerugian. Kemudian cuaca juga memiliki pengaruh dalam membudidayakan jamur tiram putih, karena cuaca dapat berpengaruh terhadap suhu, tingkat kelembapan dan tingkat keasaman. Akan tetapi, keunggulan dari jamur tiram putih itu dibandingkan dengan komoditi sejenis jamur lainnya, jamur tiram putih ini termasuk salah satu komiditi yang tahan terhadap perubahan cuaca panas dan dingin apabila dibandingkan komoditi jamur merang dan kuping karena adanya perubahan cuaca sekalipun,jamur masih tetap mampu menghasilkan panen. Berbanding terbalik dengan jamur kuping yang rentan dengan cuaca panas, sedangkan jamur merang sangat rentan dengan cuaca dingin. Meskipun cuaca sulit diprediksi, mudah berubah dan tidak dapat dikendalikan. Akan tetapi, untuk membudidayakan jamur tiram ini, perusahaan memegang prinsip bahwa manusialah yang mengikuti dan beradaptasi dengan perubahan siklus alam sehingga perusahaan tidak terlalu mengkhawatirkan adanya perubahan cuaca. Disamping itu, lokasi perusahaan cocok untuk membudidayakan jamur tiram putih karna beriklim sejuk. Adapun pengaruh dari cuaca yang

mendominasi akan tetap menghasilkan panen, hanya saja hasilnya tidak seoptimal

suhu normal, yaitu 28˚- 30˚celcius. Berbagai risiko produksi yang dialami

perusahaan, menurut hasil wawancara yang diperoleh dari pemilik, beberapa risiko yang sudah diuraikan tersebut memiliki presentase kerugian relatif lebih kecil.

Berdasarkan hasil identifikasi terhadap sumber-sumber risiko produksi lain yang terdapat pada usaha budidaya jamur tiram putih ini dilakukan dengan mengikuti beberapa tahapan proses produksi. Proses tersebut meliputi pengadaan bahan baku, pengomposan, pengayakan, pencampuran bahan, pembuatan baglog, sterilisasi, inokulasi, inkubasi, growing, dan panen. Secara umum risiko produksi CV Wahyu Makmur Sejahtera adalah rendahnya hasil produksi. Kondisi ini disebabkan oleh beberapa sumber risiko yang mendominasi dengan frekuensi kejadiannya lebih sering terjadi di perusahaan. Berdasarkan hasil pengamatan secara langsung dan wawancara, analisis terhadap budidaya jamur dilokasi penelitian maka dapat disimpulkan beberapa hal yang teridentifikasi sebagai sumber timbulnya risiko produksi. Beberapa faktor yang menjadi sumber risiko produksi pada budidaya jamur tiram putih diantaranya adalah keterampilan tenaga kerja, adanya hama penyakit, dan komposisi serta kualitas bahan baku. Proses identifikasi harus melihat bagaimana urutan terjadinya beberapa sumber risiko karena sumber risiko yang terjadi saling berhubungan dan tidak bisa dipisah satu sama lain. Berdasarkan urutan sumber risiko yang terjadi pada satu waktu, maka dapat ditentukan sumber risiko yang menyebabkan rendahnya jumlah panen jamur tiram putih. Produktivitas jamur tiram putih yang relatif berfluktuasi mengindikasikan adanya risiko pada proses produksi. Risiko produksi yang dialami perusahaan ini dapat menyebabkan pula kemunduran atau keberhasilan perusahaan sehingga berpengaruh kepada penerimaan perusahaan. Risiko produksi juga dapat berdampak pada kualitas dan kuantitas produksi yang dihasilkan. Berdasarkan hasil pengamatan secara langsung, terhadap proses budidaya jamur tiram putih di lokasi penelitian dan wawancara yang dilakukan dengan pemilik perusahaan, maka dapat diketahui beberapa hal yang teridentifikasi sebagai sumber timbulnya risiko produksi. Beberapa faktor yang menjadi sumber risiko pada usaha budidaya jamur tiram putih di CV Wahyu Makmur Sejahter diantaranya adalah sebagai berikut :

1.Keterampilan Tenaga Kerja

Dalam kegiatan budidaya jamur ini keterampilan tenaga kerja menentukan keberhasilan perusahaan. Para tenaga kerja dibagian produksi tidak harus memiliki kualifikasi khusus untuk bekerja, hanya dengan mendapatkan bimbingan dan pelatihan pada waktu bekerja. Keterampilan tenaga kerja dapat dilihat dari moral dan kompetensi atau kinerja tenaga kerja pada saat masa budidaya jamur tiram putih.

Apabila tenaga kerja tidak memiliki keterampilan dalam membudidayakan jamur ini dapat dilihat dari moral dan kompetensi individu. Moral yang melekat pada individu tenaga kerjanya yang tidak bertanggung jawab, kurangnya kesabaran maupun keuletan dalam pembudidayaan sehingga tingkat loyalitas tenaga kerja terhadap perusahaan rendah. Kemudian rendahnya kemampuan atau kompetensi yang dimiliki karyawan dapat menimbulkan kesalahan teknis pada masa budidaya, sehingga menyebabkan rendahnya jumlah hasil produksi yang dihasilkan bahkan bisa sampai menyebabkan gagal panen. Penurunan hasil

produksi jamur yang disebabkan oleh pengaruh keterampilan tenaga kerja dapat dilihat pada Tabel 12.

Tabel 12. Jumlah kegagalan panen akibat keterampilan tenaga kerja Siklus Waktu Panen Standar

(Kg) Panen Aktual (Kg) Kegagalan Panen (Kg) 1 Jan-April 2010 180.000 72.799 1.872 2 3 Mei-Agustus 2010 Sept-Des 2010 180.000 180.000 177.086 83.234 5.760 11.520 4 Jan-April 2011 180.000 114.218 582 5 Mei-Agustus 2011 180.000 118.522 9.864 6 Sept-Des 2011 180.000 102.834 12.024

Berdasarkan Tabel 12 dapat dilihat data kegagalan panen jamur tiram putih dari mulai dari Januari 2010 sampai dengan Desember 2011. Perhitungan besaran kegagalan panen jamur tiram putih diperoleh dari hasil wawancara bahwa sumber risiko akibat keterampilan tenaga kerja dapat menurunkan produksi sebesar 40 persen dari hasil produksi potensial yang didapat oleh perusahaan. Kemampuan tenaga kerja yang kurang dapat menimbulkan berbagai kesalahan-kesalahan teknis dan hal ini tentunya berpengaruh pada kondisi perusahaan. Adapun kegiatan budidaya yang menyebabkan kegagalan dalam memproduksi berupa kelalain tenaga kerja pada saat pengukusan dan inokulasi.

a. Pengukusan

Proses sterilisasi merupakan proses yang paling penting dalam melakukan budidaya jamur tiram putih. Hal ini bertujuan untuk menghasilkan proses pelapukan pada bahan baku subtrat jamur. Dengan dilakukannya proses sterilisasi ini maka tumbuhnya jamur liar yang tidak diharapkan dapat diminimalisir sehingga tidak menghambat pertumbuhan jamur. Proses sterilisasi ini awalnya menggunakan bahan bakar kayu bakar, dengan menggunakan bejana yang terbuat dari drum sehingga proses sterilsasi bisa memakan waktu kurang lebih dua belas jam untuk mencapai 100o celcius serta selama pengukusan harus diawasi terus menerus oleh karayawan.

Kemudian proses sterilisasi diganti dengan teknologi yang lebih baik yaitu dengan menggunakan autoclave ( bejana yang terbuat dari baja dengan bahan bakar gas). Waktu proses sterilisasi lebih efisien sehingga dapat dilakukan selama kurang lebih empat sampai enam jam hingga suhu mencapai 100o celcius. Proses teknologi menggunakan bahan bakar gas ini memang lebih unggul, karena suhu yang dihasilkan lebih stabil dibandingkan dengan bahan bakar kayu. Kematangan baglog dilihat dari kondisi dedak yang sudah terurai didalam baglog dan warna baglog. Dalam proses sterilisasi dapat juga terjadi kematangan baglog yang tidak merata, hal ini disebabkan oleh kondisi api pada kompor tidak stabil dan air rebusan yang tidak sesuai dengan takaran bejana sterilisasi.

Kegagalan pada sterilisasi ini disebabkan oleh keteledoran dan kurangnya pengawasan dari tenaga kerja sehingga proses sterilisasi kurang atau melebihi batas waktu dan suhu pengukusan sehingga tidak mencapai suhu standar yaitu 100o celcius. Dalam proses sterilisasi, baglog harus direbus 100o celcius selama empat jam, dengan suhu yang stabil (suhu tidak naik turun). Oleh karena itu, apabila api kompor tidak diawasi secara terus menerus, ketika gas habis, apinya mengecil karena tidak langsung diganti gasnya maka suhu yang ditimbulkan akan naik turun. Proses kegagalan ini ditandai dengan warna baglog setelah dikukus

menjadi warna hijau. Apabila baglog yang gagal ini dibuka bungkusnya akan membawa dampak tumbuhnya jamur lain yang berwarna hitam.

a.Indikasi kegagalan baglog menghijau b. Baglog hijau apabila dibiarkan tumbuh menghasilkan jamur lain

Gambar 21 Penampakan baglog yang gagal akibat sterilisasi pada CV Wahyu Makmur Sejahtera

a. Inokulasi

Pada masa inokulasi dimana proses penyuntikan bibit ke media tanam sangat berpengaruh karena jamur sebagai makhluk hidup memiliki kemampuan memberi respon terhadap rangsangan dari makhluk lainnya. Oleh karena itu didalam penyuntikan bibit ini tidak hanya dibutuhkan kebersihan tetapi juga ketenangan didalam pengerjaannya. Apabila kebersihan kurang terjaga hal ini memungkinan kurang sterilnya saat pembibitan dapat mengakibatkan miselium tidak tumbuh sehingga baglog yang dihasilkan berwarna hitam pekat.

Gambar 22 Penampakan baglog yang gagal akibat inokulasi pada CV Wahyu Makmur Sejahtera

Kegagalan panen akibat keterampilan tenaga kerja dapat teridentifikasi pada tahap-tahap awal baglog dibudidayakan yaitu pada saat setelah sterilisasi dan inokulasi kegagalan akan nampak pada tahap inkubasi.

2. Hama dan Penyakit

Hama dan penyakit merupakan salah satu penyebab munculnya risiko dalam memproduksi jamur tiram putih. Hal ini dikarenakan jamur tiram putih rentan terhadap munculnya hama dan penyakit. Hama yang sering muncul pada usaha budidaya jamur tiram putih diperusahan ini adalah ulat. Adapun penyebab adanya hama ulat, dipengaruhi oleh kelembaban yang berlebih terutama pada saat musim hujan dengan intensitas cukup tinggi hingga bisa mencapai suhu dibawah 20o celcius. Sedangkan pada musim kemarau, hampir tidak terdapat hama ulat. Selain itu, kebersihan juga harus selalu dijaga karena dapat memicu datangnya hama alat. Gejala yang ditimbulkan dari adanya hama tersebut adalah berkembang

biaknya hama ulat pada tubuh jamur tiram putih. Ulat ini akan memakan jamur tiram putih secara perlahan sampai habis.

Gambar 23 Penampakan jamur yang terserang hama ulat pada CV Wahyu Makmur Sejahtera

Pada umumnya penyakit disebabkan adanya bakteri atau virus pada jamur. Penyakit yang ditimbulkan pada jamur tiram putih adalah timbulnya jamur lain seperti jamur Neurospora sitophila. Jamur lain dapat menyebabkan penyakit dan merusak substrat tanam. Adapun gejalanya ditandai dengan tumbuhnya miselia jamur yang berwarna merah atau putih seperti oncom atau Neurospora sitophila.

Adapun bentuk dari jamur oncom atau Neurospora ini terbagi menjadi dua macam, yaitu oncom pada bagian luar dan oncom pada bagian dalam. Untuk ciri yang tampak dari adanya oncom bagian dalam ini adalah terdapat oncom merah pada bagian dalam baglog. Pertumbuhan jamur neurospora di bagian dalam ini disebabkan formulasi yang tidak tepat yaitu akibat kandungan nutrisi kapur yang tinggi pada media baglog jamur. Ciri-ciri yang tampak dari penyakit oncom bagian luar ini adalah munculnya serbuk berwarna orange pada permukaan kapas penyumbat baglog. Pada perusahaan CV Wahyu Makmur Sejahtera, jamur yang sering menyerang adalah jamur oncom merah pada bagian luar. Karakter jamur

neurospora akan menghentikan pertumbuhan miselium atau membuat miselium jamur tiram mati. Jamur oncom luar ini, dipengaruhi karena kondisi kapas yang digunakan belum layak pakai saat inokulasi. Pada CV Wahyu Makmur Sejahtera, penggunaan kapas setelah kapas disterilisasi hanya berselang sehari. Pada kondisi ini, baglog mudah terjangkit penyakit.

Gambar 24 Penampakan baglog yang terserang penyakit pada CV Wahyu Makmur Sejahtera

Neurospora apabila ditiupkan bentuknya seperti kotoran debu sehingga dapat menyebar melalui udara atau terbawa oleh angin, sehingga baglog yang telah mengalami kontaminasi harus segera dipisahkan atau dibuang agar tidak menyebar dan menyerang baglog lain yang berada dalam satu kumbung. Jumlah

kegagalan panen jamur tiram karena hama dan penyakit dapat dilihat pada Tabel 13.

Tabel 13. Jumlah kegagalan panen akibat hama dan penyakit Siklus Waktu Panen Standar

(Kg) Panen Aktual (Kg) Kegagalan Panen (Kg) 1 Jan-April 2010 180.000 72.799 9.144 2 Mei-Agustus 2010 180.000 177.086 4.032 3 Sept-Des 2010 180.000 83.093 836 4 Jan-April 2011 180.000 114.218 10.800 5 Mei-Agustus 2011 180.000 118.522 504 6 Sept-Des 2011 180.000 102.834 9.360

Pada Tabel 13 dapat dilihat total kegagalan tjamur tiram akibat hama dan penyakit terbanyak terjadi pada periode Januari-April 2011. Kondisi ini disebabkan karena jamur tiram putih yang sudah terserang hama dan penyakit maka dapat dengan mudah menyebar ke jamur lainnya. Pada pross perhitungan besaran jamur tiram putih yang terkontaminasi karena hama dan penyakit diperoleh dari hasil wawancara dengan pemilik perusahaan bahwa sumber risiko akibat hama dan penyakit dapat menurunkan produksi sebesar 30 persen dari hasil produksi potensial yang didapat oleh perusahaan. Kegagalan panen akibat penyakit dapat teridentifikasi pada tahap-tahap awal baglog dibudidayakan yaitu pada tahap inkubasi. Sementara itu, kegagalan akibat hama ini sewaktu-waktu dapat timbul pada saat tahap akan dipanen terutama pada saat musim hujan dengan intensitas cukup tinggi.

3.Komposisi dan kualitas Bahan Baku

Untuk menghasilkan jamur yang berkualitas maka diperlukan media tanam dengan mutu yang sesuai. Akan tetapi tidak hanya untuk menghasilkan jamur berkualitas, tetapi dapat pula menghasilkan jamur dengan kuantitas yang diharapkan perusahaan. Untuk membuat media tanam yang berkualitas dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satu faktor yang berpengaruh adalah bahan baku seperti dedak, serbuk gergaji, tepung jagung dan air. Pada saat ini pemasok sering menjual dedak dan serbuk gergaji campuran. Oleh karena itu, media serbuk gergaji harus diperhatikan sebaiknya menggunakan serbuk gergaji yang tekstur warnanya coklat muda dan halus, karna lebih menghasilkan jamur yang lebih maksimal dibanding yang tekstur warnanya coklat kemerahan dan kasar. Kemudian dari pemilihan tepung jagung yang kurang tepat bisa mempengaruhi hasil jamur. Perusahaan masih menerima penggunaan tepung jagung manis sebagai pengganti tepung jagung hibrida saat stok pemasok sedang kosong. Sementara itu dari komposisi air, apabila jamur terlalu mengandung banyak air dan kondisi tidak teraduk dengan rata, bisa sampai menyebabkan kegagalan dalam memproduksi jamur. Sementara itu, komposisi serbuk yang basah dapat pula mempengaruhi kegagalan dalam memproduksi jamur, misalnya jumlah takaran komposisi air pada serbuk yang basah tidak sama dengan yang betul-betul kering.

a. Baglog gagal b. Kondisi serbuk kering dan basah

Gambar 25 Penampakan baglog yang gagal akibat komposisi dan kualitas bahan baku pada CV Wahyu Makmur Sejahtera

Gejala yang ditimbulkan dari adanya risiko komposisi dan bahan baku media tanam ini diantaranya pertumbuhan miselium yang statis tidak menyebar. Jika tumbuh sekalipun hasil jamur tidak mecapai tonase yang diharapkan. Jumlah jamur yang gagal karena komposisi dan kualitas bahan baku dapat dilihat pada Tabel 14.

Tabel 14. Jumlah Kegagalan Panen Akibat Komposisi dan Kualitas Bahan Baku Siklus Waktu Panen Standar

(Kg) Panen Aktual (Kg) Kegagalan Panen (Kg) 1 Jan-April 2010 180.000 72.799 3.600 2 Mei-Agustus 2010 180.000 177.086 12.960 3 Sept-Des 2010 180.000 83.093 13.536 4 Jan-April 2011 180.000 114.218 7.200 5 Mei-Agustus 2011 180.000 118.522 144 6 Sept-Des 2011 180.000 102.834 72

Dari Tabel 14 dapat dilihat data kegagalan panen dari produksi jamur tiram putih paling tinggi pada saat bulan Mei sampai dengan Agustus dan September sampai dengan Desember 2010. Ketika itu, perusahaan pernah melakukan kesalahan komposisi akibat kekurangan air pada steamer, sehingga pada saat disteam baglog yang dihasilkan hangus. Perhitungan besaran kehilangan jamur diperoleh dari hasil wawancara bahwa sumber risiko akibat komposisi dan kualitas bahan baku dapat menurunkan produksi sebesar 10 persen dari hasil produksi potensial yang didapat oleh perusahaan. Kegagalan panen akibat komposisi dan kualitas bahan baku dapat teridentifikasi pada tahap-tahap awal baglog dibudidayakan yaitu pada tahap inkubasi.

Analisis Probabilitas Risiko Produksi Jamur Tiram Putih Sumber-sumber risiko pada usaha budida jamur tiram putih bapak wahyu ini telah diidentikasikan. Hasil identifikasi yang telah dilakukan menunjukkan bahwa terdapat tiga faktor yang menjadi sumber risiko produksi. Tahap selanjutnya yang akan dilakukan adalah melakukan analisis probabilitas terhadap masing-masing sumber risiko tersebut untuk mengetahui seberapa besar probabilitas atau kemungkinan terjadinya risiko dari masing-masing sumber risiko yang terdapat pada usaha budidaya jamur tiram putih di perusahaan CV Wahyu Makmur Sejahtera.

Probabilitas dari masing-masing sumber risiko produksi perlu dilakukan untuk mengetahui kemungkinan terbesar terjadinya suatu sumber risiko produksi dan kemungkinan terkecil terjadinya suatu sumber risiko produksi, sehingga dapat ditentukan prioritas dari masing-masing sumber risiko produksi serta strategi penanganan yang tepat. Data-data yang digunakan untuk melakukan analisis probabilitas ini adalah hasil wawancara dengan pemilik perusahaan didukung dengan pencatatan data perusahaan dari tahun Januari 2010 sampai dengan Desember 2011. Perhitungan analisis probabilitas terjadinya risiko untuk masing-masing sumber risiko produksi diolah dengan menggunakan nilai standar atau z-score, sedangkan untuk hasil perhitungan dapat dilihat dari Tabel 15.

Tabel 15. Probabilitas risiko dari sumber risiko produksi

Sumber Risiko Produksi Probabilitas (persen)

Keterampilan Tenaga Kerja 42,5

Hama dan Penyakit 36,3

komposisi dan Kualitas Bahan Baku 17,4

Pada Tabel 15 dapat dilihat perbandingan probabilitas terjadinya risiko produksi dari masing-masing sumber risiko produksi. Proses penghitungan probabilitas dari sumber risiko ini adalah dengam mengidentifikasi berapa jumlah kegagalan jamur tiram yang disebabkan oleh salah satu sumber risiko. Kemudian jumlah kegagalan tersebut ditotalkan dan dihitung rata-ratanya. Bagian terpenting dari perhitungan probabilitas adalah penetapan batas normal yang diperbolehkan oleh perusahaan. Angka batas normal ini menjadi sangat penting karena probabilitas tersebut adalah perhitungan seberapa menyimpang jamur yang tidak bisa panen yang disebabkan oleh salah satu sumber risiko dari batas normal yang telah ditentukan misal pada probabilitas terbesar urutan pertama adalah keterampilan tenaga kerja sebesar 42,5 persen berarti kemungkinan jamur yang gagal panen akibat keterampilan melebihi batas normal yang telah ditetapkan yaitu 6.000 kg adalah sebesar 42,5 persen. Nilai Z yang diperoleh untuk sumber risiko keterampilan tenaga kerja dengan menggunakan nilai standar adalah -0.19. Nilai tersebut apabila dipetakan pada Tabel distribusi Z akan menunjukkan nilai 0,425. Nilai 0,425 artinya kemungkinan kegagalan jamur tiram putih yang disebabkan keterampilan tenaga kerja melebihi batas yang ditentukan 42,5 persen adalah 6.000 kg.

Sumber risiko hama dan penyakit memiliki tingkat probabilitas risiko terbesar kedua setelah keterampilan tenaga kerja. Hal ini dikarenakan pada siklus produksi hampir selalu ada jamur yang gagal akibat hama dan penyakit. Jumlah jamur tiram putih yang gagal panen yang disebabkan oleh iklim ini pun cukup banyak dengan rata-rata siklusnya sebesar 5.779 kg. Batas normal jamur tiram putih yang gagal panen akibat hama dan penyakit yang ditentukan oleh perusahaan adalah 4.200 kg. Batas normal jamur yang gagal akibat hama dan penyakit yang ditentukan oleh adalah 4.200 kg setiap siklusnya berdasarkan pengalaman pada siklus produksi terdahulu. Proses penghitungan probabilitas dari sumber risiko ini adalah dengan mengidentifikasi berapa panen jamur yang gagal yang disebabkan oleh salah satu sumber risiko. Kemudian jumlah jamur yang gagal tersebut di totalkan, dihitung rata-rata dan besar standar deviasi. Nilai Z yang diperoleh untuk sumber risiko hama dan penyakit pada jamur dengan menggunakan nilai standar adalah -0.35. Nilai tersebut apabila dipetakan pada tabel distribusi Z akan menunjukkan nilai 0,363 yang artinya probabilitas atau

kemungkinan kegagalan yang disebabkan karena hama dan penyakit pada budidaya jamur melebihi batas yang ditentukan adalah sebesar 36,3 persen adalah 4.200 kg.

Besarnya probabilitas risiko yang diakibatkan oleh komposisi dan kualitas bahan baku dikarenakan pada siklus produksi hampir selalu ada kegagalan yang menghambat budidaya jamur tiram putih. Jumlah jamur yang gagal yang disebabkan oleh komposisi dan kualitas bahan baku memperoleh rata-rata per siklusnya sebesar 6.252 kg. Batas normal jamur yang gagal akibat komposisi dan kualitas yang ditentukan oleh perusahaan adalah 600 kg setiap siklusnya berdasarkan pengalaman pada periode produksi terdahulu. Proses penghitungan probabilitas dari sumber risiko ini adalah dengan mengidentifikasi berapa jamur yang gagal yang disebabkan oleh salah satu sumber risiko. Kemudian jumlah jamur yang gagal tersebut di totalkan, dihitung rata-rata dan besar standar deviasi.

Nilai Z yang diperoleh untuk sumber risiko komposisi dan kualitas bahan baku dengan menggunakan nilai standar adalah sebesar -0,94. Nilai Z tersebut akan menunjukkan nilai 0,174 yang artinya kemungkinan kegagalan produksi jamur tiram putih akibat komposisi dan kualitas bahan baku melebihi batas yang ditentukan adalah sebesar 17,4 persen adalah 600 kg.

Analisis Dampak Risiko Produksi Jamur Tiram Putih

Sumber-sumber risiko produksi yang sudah teridentifikasi dalam kegiatan budidaya jamur tiram putih pada perusahaan CV Wahyu Makmur Sejahtera ini akan memberikan dampak kerugian apabila terjadi pada saat pelaksanaan produksi. Dampak kerugian yang disebabkan oleh sumber-sumber risiko tersebut dapat dihitung dengan satuan mata uang rupiah, sehingga jika terjadi risiko produksi kerugian dapat diketahui dan diperkirakan. Besaran nilai kerugian yang diperkirakan tentu tidak tepat sama dengan kondisi sebenarnya, jika risiko produksi tersbut terjadi maka dilakukan penetapan besarnya kerugian dengan suatu tingkat keyakinan.

Perhitungan dampak risiko produksi pada usaha budidaya jamur tiram pada perusahaan CV Wahyu Makmur Sejahtera dilakukan dengan menggunakan metode value at risk (VaR). Pengukuran dilakukan untuk mengukur berapa besar kerugian dalam rupiah pada kegiatan produksi jamur tiram putih. Pada perhitungan dampak risiko pada usaha budidaya jamur ini ditentukan dengan keyakinan 95 persen dan sisanya eror sebesar 5 persen. Perhitungan terhadap dampak risiko dilakukan terhadap masing-masing sumber risiko produksi yang ada pada usaha budidaya jamur tiram putih untuk mengetahui perkiraan kerugian yang diderita dalam satuan rupiah. Pada CV Wahyu Makmur Sejahtera produktivitas jamur rata – rata yang diperoleh adalah sebesar 0,4 kg/baglog dengan harga jual rata–rata yaitu Rp 8.000 per kg. Nilai dari hasil perhitungan dampak risiko yang dilakukan pada masing-masing sumber risiko produksi dapat dilihat pada Tabel 16.

Tabel 16. Perbandingan dampak risiko dari sumber risiko produksi

Dokumen terkait