Penelitian ini dilakukan di perusahaan CV Wahyu Makmur Sejahtera yang berlokasi di Gadog, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pengumpulan data ini dilakukan mulai dari bulan Maret sampai dengan April 2012. Penelitian ini dilakukan dengan mempertimbangkan bahwa lokasi usaha ini berada di salah satu sentra produksi di Kabupaten Bogor. Disamping itu, lokasi usaha budidaya jamur tiram putih pada CV Wahyu Makmur Sejahtera didukung oleh wilayah dan iklim yang sesuai untuk kegiatan budidaya jamur tiram putih, input yang dibutuhkan serta letak geografis perusahaan.
Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakaan adalah data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif merupakan data-data non-angka (non-numerik) berupa keterangan-keterangan mengenai perkembangan usahajamur tiram putih, kondisi usaha, peralatan yang digunakan, teknis pelaksanaan kegiatan usaha, alternatif strategi yang diambil untuk menangani risiko dan sebagainya yang berhubungan dengan
Produktivitas budidaya jamur tiram putih yang berfluktuasi di CV Wahyu Makmur Sejahtera
Identifikasi yang menjadi sumber-sumber risiko di CV Wahyu Makmur Sejahtera
Strategi penanganan risiko Pemetaan risiko dari hasil perhitungan probabilitas dan dampak
Analisis kuantitatif
Identifikasi probabilitas dan dampak dari sumber risiko produksi menggunakan metode nilai standar: Analisis kualitatif
Identifikasi dampak dari sumber-sumber risiko produksi pada aspek
penelitian. Data kuantitatif merupakan data angka atau numerik, seperti omzet usaha, jumlah produksi per periode, jumlah bahan baku, harga jual dan harga input, dan semua keterangan yang berupa angka.
Sumber data dan informasi yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer didapatkan dari hasil wawancara, pengamatan langsung sekitar perusahaan dan penyebaran kuesioner. Sedangkan data sekunder diperoleh melalui artikel, skripsi, jurnal, majalah, internet, laporan perusahaan, serta data-data instansi terkait yang mendukung penelitian seperti Badan Pusat Statsitika, Dirjen Hortikultura, Departemen Pertanian, dan literature yang relevan.
Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara observasi, wawancara, diskusi, pengamatan langsung sekitar perusahaan dan penyebaran kuesioner. Wawancara dilakukan dengan menggunakan beberapa pertanyaan untuk mengetahui kondisi dan situasi di lapangan dengan pihak perusahaan. Observasi dilakukan dengan cara melakukan pencatatan langsung dilokasi penelitian untuk mengamati aktifitas produksi dan risiko yang dihadapi dalam memproduksi jamur tiram putih ini.
Untuk mendukung pengumpulan data ini maka pengambilan dan penentuan responden dilakukan dengan metode Judgement/ Purposive Sampling.
Responden yang dipilih dari pihak internal dan ekternal perusahaan. Pihak internal yang dipilih berdasarkan pertimbangan responden berhubungan dan mengetahui dengan jelas produksi dan risiko yang dihadapi jamur tiram putih serta berkompeten dalam memberikan informasi yang dibutuhkan penelitian ini. Pihak internal yang dipilih adalah pihak yang berkepentingan dari perusahaan yaitu pemilik, kepala produksi, karyawan yang konsisten menanam jamur tiram putih dari tahun ke tahun di CV Wahyu Makmur Sejahtera. Data yang diperoleh dari yaitu meliputi proses produksi jamur tiram putih dan identifikasi risiko-risiko dalam usahatani jamur tiram putih. Kemudian untuk pihak ekternal diperoleh dari perusahaan jamur sejenis yakni CV Karya Mega yang digunakan penulis sebagai acuan untuk memperoleh data untuk strategi penanganan.
Metode Pengolahan Data
Data yang telah didapatkan, kemudian diolah dan dianalisis. Analisis data dilakukan melalui analisis kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif berupa analisis deskriptif mengenai produksi dan sumber-sumber risiko dalam memproduksi jamur tiram putih serta alternatif strategi yang akan dilakukan. Analisis kuantitatif dianalisis melalui metode analisis yang digunakan berupa laporan keuangan dan produksi perusahaan kemudian disajikan dibantu dengan menggunakan Software Microsoft Excel. Setiap analisis yang akan dilakukan, hal tersebut bertujuan untuk menjawab tujuan penelitian.
Analisis Kualitatif
Dalam penelitian ini, data dan informasi yang diperoleh dari lokasi usaha budidaya jamur tiram putih CV WMS serta data yang lainnya diolah secara kuantitatif dan dianalisis secara kualitatif. Analisis Kualitatif dilakukan melalui pendekatan deskriptif. Analisis ini untuk mengetahui gambaran mengenai keadaan umum perusahaan dan manajemen risiko yang diterapkan perusahaan. Analisis deskriptif merupakan suatu metode dalam meneliti status kelompok manusia, suatu kondisi, suatu sistem, suatu pemikiran maupun peristiwa di masa sekarang. Analisis ini dilakukan untuk membuat deskripsi, gambaran, lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat serta hubungan antara fenomena yang diselidiki. Analisis deskriptif digunakan untuk menganalisis risiko produksi dari CV WMS. Analisis ini digunakan untuk mengetahui penyebab terjadinya risiko yang terkait dengan kondisi yang ada di CV WMS. Analisis deskriptif ini juga digunakan untuk menjawab tujuan penelitian yaitu mengidentifikasi sumber-sumber risiko dan strategi yang dapat dilakukan untuk mengatasi risiko.
Analisis Kuantitatif
Analisis kuantitatif ini merupakan sebagian dari kegiatan proses strategi pengelolaan risiko yang bertujuan untuk membantu perusahaan untuk mengukur seberapa besar risiko yang dihadapi beserta kemungkinannya,yakni sebagai berikut;
1. Identifikasi Risiko
Identifikasi risiko merupakan tahap awal yang dilakukan dalam penerapan manajemen risiko. Kegiatan ini dilakukan untuk mengidentifikasi seluruh risiko pada seluruh aktivitas fungsional yang berpotensi merugikan dan menguntungkan bagi petani. Seluruh aktivitas yang fatal bagi petani harus dimasukan dalam identifikasi. Kegiatan produksi yang menimbulkan kerugian dan pernah terjadi diperusahaan dikumpulkan dalam pencatatan. Sehingga data-data yang diperoleh perusahaan pada masa lalu akan dijadikan modal perkiraan untuk masa sekarang dan selanjutnya. Identifikasi risiko dapat dilakukan dengan analisis data historis, pengamatan, pengacuan dan melakukan wawancara terhadap petani. Kegiatan ini dilakukan untuk mencari faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan produksinya. 2. Pengukuran Risiko
Pengukuran risiko dilakukan setelah tahapan identifikasi dilakukan. Risiko dapat diketahui dengan menentukan probabilitas terjadinya risiko dan mengetahui dampak risiko tersebut terhadap kinerja petani. Pengukukuran risiko selalu mengacu pada dua ukuran. Ukuran pertama adalah probabilitas dan juga digunakan istilah kemungkinan (likehood). Hal tersebut mengacu pada seberapa besar probabilitas risiko terserbut terjadi atau yang tidak terjadi. Ukuran kedua adalah dampak atau akibat dan juga disebut dengan ukuran kuantitas risiko. Dampak adalah ukuran sebarapa besar akibat yang ditimbulkan bila risiko tersebut benar-benar terjadi.
A. Analisis Kemungkinan Terjadinya Risiko
Risiko dapat diukur jika diketahui kemungkinan terjadinya risiko dan besarnya dampak risiko terhadap perusahaan. Ada beberapa cara yang digunakan untuk mengukur kemungkinan dan akibat dari suatu kejadian atau cara mengukur risiko yaitu metode poisson, binomial, z-score, weighted-average approximation, VaR dan group approximation. Metode poisson , binomial, dan weighted average approximation digunakan untuk mengukur kemungkinan kejadian berupa peristiwa sedangkan metode z-score untuk mengukur kemungkinan kejadian berupa penyimpangan. Sedangkan metode VaR dan metode group approximation
digunakan untuk mengukur akibat dari suatu kejadian.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini untuk mengetahui kemungkinan terjadinya risiko adalah dengan menggunakan metode nilai standar atau z-score. Metode ini digunakan apabila ada historis yang ada pada masa sebelumnya dan berbentuk kontinus. Z-Score adalah suatu angka yang menunjukkan seberapa jauh suatu nilai menyimpang dari rata-ratanya pada distribusi normal. Dengan mengetahui z-score kita bisa mengetahui besarnya kemungkinan suatu ukuran atau nilai yang berbeda lebih besar atau lebih kecil dari rata-ratanya. Pada penelitian ini yang akan dihitung adalah kemungkinan terjadinya risiko pada kegiatan produksi adalah data produksi budidaya jamur tiram pada CV WMS. Menurut Kountur (2006) langkah yang diperlukan dalam perhitungan kemungkianan terjadinya risiko dengan metode ini adalah :
i) Menghitung rata-rata kejadian berisiko
Rumus yang digunakan untuk menghitung rata-rata kejadian berisiko pada saat memproduksi jamur adalah :
Dimana :
X = Nilai rata-rata dari kejadian berisiko pada saat produksi jamur Xi = Nilai per siklus dari kejadian berisiko pada saat produksi jamur n = Jumlah data keselurahan
Nilai rata-rata yang dimaksud pada rumus ini adalah jumlah kejadian risiko yang dianggap merugikan perusahaan. Data ini diperoleh dari penentuan yang dilakukan oleh pihak expert untuk memberikan data produksi dari enam siklus masa tanam.
ii)Menghitung nilai standar deviasi dari kejadian berisiko
Dimana :
S = Standar deviasi dari risiko produksi
Xi = Nilai per siklus dari data produksi jamur tiram putih dari 2010-2011 X = Nilai rata-rata dari kejdaian berisiko pada saat produksi jamur n = Jumlah data keseluruhan
iii) Menghitung Z-Score
Dimana :
Z = Nilai z-score pada saat kejadian berisiko
Xi= Batas risiko yang dianggap masih menguntungkan dan ditentukan oleh pemilik perusahaan X = Nilai rata-rata kejadian berisiko
S = Standar deviasi dari risiko produksi jamur tiram putih
Jika hasil z-score yang diperoleh bernilai negatif, maka nilai tersebut berada di sebelah kiri nilai rata-rata pada kurva distribusi normal dan sebaliknya jika nilai z-score positif, maka nilai tersebut berada di sebelah kanan kurva distribusi normal Z.
iv) Mencari Probabilitas terjadinya risiko produksi
Setelah nilai z-score didapat dari produksi jamur tiram putih, selanjutnya dapat dicari probabilitas terjadinya risiko produksi yang diperoleh dari tabel distribusi Z (normal) sehingga diketahui persen kemungkinan terjadinya keadaan dimana produksi jamur tiram putih yang mendatangkan kerugian.
B. Analisis Dampak Risiko
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengetahui besarnya akibat atau dampak yang ditimbulkan risiko. Metode-metode tersebut diantaranya adalah metode value at risk (VaR). Metode yang paling efektif digunakan dalam mengukur dampak risiko adalah VaR. VaR adalah kerugian terbesar yang mungkin terjadi dalam rentang waktu tertentu yang diprediksikan dengan tingkat kepercayaan tertentu. Penggunaan VaR dalam mengukur dampak risiko hanya dapat dilakukan apabila terdapat data historis sebelumnya. Tahapan penghitungan VaR antara lain :
i. Menentukan kejadian yang akan diamati
ii. Pengumpulan data historis tentang besarnya kerugian yang dialami dalam bentuk rupiah selama jangka waktu tertentu dari kejadian tersebut.
iii. Mengitung rata-rata kerugian dan standar deviasi kerugian dari rangkaian kejadian tersebut.
iv. Menentukan tingkat keyakinan yang diinginkan
v. Mencari nilai Z sesuai dengan tingkat keyakinan yang telah ditetapkan. Dan kemudian menghitung VaR.
Pada penelitian ini VaR diguna
kan untuk mengukur besarnya kerugian yang ditimbulkan jika risiko terjadi. Analisis ini dilakukan untuk mengukur dampak dari risiko pada kegiatan produksi budidaya jamur tiram putih di desa Gadog, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor selama tahun 2010-2011. Kejadian yang dianggap merugikan berupa penurunan produksi sebagai akibat dari terjadinya sumber-sumber risiko. Menurut Kountur (2008), value at risk (VaR), dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:
Dimana :
VaR =Dampak kerugian yang ditimbulkan oleh kejadian berisiko X = Nilai rata-rata dari kejadian berisiko
S = Standar deviasi dari kejadian berisiko
Z =Nilai Z yang diambil dari tabel distribusi normal dengan alfa 5 persen N = Banyaknya kejadian berisiko
3. Pemetaan Risiko
Pengukuran risiko selanjutnya adalah pemetaan risiko. Manajemen akan mampu menilai suatu risiko dengan pengelompokan terhadap risiko. Prinsip pemetaan merupakan penyusunan risiko berdasarkan kelompok-kelompok tertentu sehingga manajemen dapat mengidentifikasi karakter dari masing-masing risiko hingga menetapkan tindakan yang sesuai terhadap masing-masing risiko.
Pemetaan risiko dapat dilakukan dengan menggunakan matrik frekuensi atau kemungkinan dan signifikansi (dampak) risiko. Teknik pengukuran dengan matriks frekuensi dan signifikan merupakan teknik yang sederhana yang tidak melibatkan kuantifikasi yang rumit. Biasanya teknik ini digunakan dalam pemetaan untuk melihat penanganan risiko yang tepat. Menurut Kountur (2006) peta risiko adalah gambaran tentang posisi atau kedudukan risiko pada suatu kejadian diantara dua sumbu yaitu vertikal yang menggambarkan dampak dan sumbu horizontal yang menggambarkan kemungkinan. Matriks frekuensi dan signifikan dapat tergambar setelah posisi dari risiko yang dievaluasi diketahui. Kemudian tindakan yang tepat untuk menghadapi risiko tersebut dapat dirancang. Berikut ini merupakan gambar dari matriks frekuensi dan signifikan.
Probabilitas (%) Besar
Kecil Dampak (Rp)
Kecil Besar
Sumber : Kountur, (2006)
Gambar 5 Matriks frekuensi dan signifikan
Probabilitas yang merupakan dimensi yang pertama menyatakan tingkat kemungkinan suatu risiko terjadi. Semakin tinggi kemungkinan terjadinya risiko terjadi, maka semakin perlu mendapat perhatian. Sebaliknya semakin rendah kemungkinan terjadi, maka semakin rendah pula kepentingan manajemen untuk memberi perhatian kepada risiko yang bersangkutan. Umumnya probabilitas dibagi ke dalam tiga kategori yaitu tinggi, sedang dan rendah.
Dimensi kedua berupa dampak, yaitu tingkat kewaspadaan atau biaya yang terjadi kalau risiko yang bersangkutan benar-benar menjadi kenyataan. Semakin tinggi dampak risiko, semakin perlu mendapat perhatian khusus. Sebaliknya, semakin rendah dampak yang terjadi dari suatu risiko, maka semakin rendah pula kepentingan manajemen untuk mengalokasikan sumber daya untuk menangani risiko yang bersangkutan. Pada umunya, dimensi dampak dibagi dalam tiga tingkat yaitu tinggi, sedang dan rendah.
Matriks antara kedua dimensi menghasilkan empat kuadran utama. Kuadran I merupakan area dengan tingkat probabilitas sedang sampai tinggi dan tingkat dampak sedang sampai tinggi. Kuadran I terdiri dari risiko-risiko yang masuk ke dalam prioritas I atau prioritas utama. Kuadran II dihuni oleh risiko-risiko dengan skala prioritas ke tiga. Risiko dalam kelas ini memiliki tingkat probabilitas kejadian yang tinggi, namun dampaknya rendah. Kuadran III
Kuadran II Kuadran I
merupakan area bagi risiko-risiko dalam prioritas ke dua. Ini artinya, risiko-risiko dalam kuadran III cukup jarang terjadi. Ciri dari risiko dalam kuadran III adalah mereka yang memiliki tingkat probabilitas kejadian antara rendah sampai sedang, untuk dampaknya dari sedang sampai tinggi. Kuadran IV dihuni oleh berbagai risiko dengan skala prioritas ke empat. Risiko dalam kelas ini memiliki tingkat probabilitas yang rendah sampai sedang dan untuk dampaknya dimulai dari rendah sampai sedang.
Probabilitas atau kemungkinan terjadinya risiko dapat dibagi ke dalam dua bagian besar, yaitu kemungkinan besar dan kemungkinan kecil. Demikian juga dampak risiko yaitu dampak besar dan kecil. Batas antara probabilitas atau kemungkinan besar dan kecilnya terjadinya risiko ditentukan oleh manajemen, namun pada umumnya risiko-risiko yang probabilitas terjadinya 20 persen atau lebih besar dianggap sebagai kemungkinan besar, sedangkan di bawah 20 persen dianggap sebagai kemungkinan kecil (Kountur, 2008). Untuk batas antara kemungkinan besar dan kemungkinan kecil ditentukan berdasarkan kebijakan pengelola CV Wahyu Makmur Sejahtera. Risiko-risiko yang probabilitas terjadinya di atas batas atau dianggap sebagai kemungkinan besar. Sedangkan yang dibawah batas sebagai kemungkinan kecil. Demikian halnya dengan batas dampak besar dan dampak kecil suatu risiko yang juga tergantung pengelola CV Wahyu Makmur Sejahtera.
Penempatan risiko pada peta risiko didasarkan atas perkiraan proporsinya berada di mana dari hasil perhitungan probabilitas dan dampak. Posisi suatu risiko dalam peta risiko disebut status risiko, dimana status risiko di dapat dari perhitungan sebagai berikut :
Status risiko = Probabilitas x Dampak
Berdasarkan perhitungan status risiko ini, maka akan diketahui risiko-risiko mana yang paling besar dan seterusnya sampai yang paling kecil. Status risiko hanya menggambarkan urutan risiko dari yang paling berisiko sampai dengan yang paling tidak berisiko.
4. Strategi Penanganan Risiko
Penanganan risiko dilakukan karena adanya dampak yang akan terjadi pada aktivitas petani. Proses ini disebut juga dengan manajemen risiko yang berupa strategi perusahaan dalam pengambilan kebijakan usaha. Berdasarkan peta risiko dapat diketahui strategi penanganan risiko yang paling tepat untuk dilaksanakan. Menurut Kountur (2006) ada dua strategi penanganan risiko, yaitu :
i) Preventif (Penghindaran risiko)
Strategi yang dapat dilakukan pada sat pertama kali berhadapan dengan risiko adalah strategi menghindar. Strategi preventif dapat dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya :
a. membuat atau memperbaiki sistem,
b. mengembangkan sumberdaya manusia, dan c. memasang atau memperbaiki fasilitas fisik.
Menurut Kountur (2006), penghindaran risiko dilakukan apabila risiko yang dihadapi terlalu besar yaitu kemungkinan terjadinya besar dan dampak yang ditimbulkan juga besar. Risiko-risiko ini berada pada kuadran I dan II
sebagaimana yang dapat dilihat pada Gambar 6, walaupun tidak semua risiko yang tinggi atau yang berada pada kuadran ini harus dihindari.
Probabilitas (%) Besar
Kecil Dampak (Rp)
Kecil Besar
Sumber : Kountur, (2006)
Gambar 6 Strategi preventif
Kemudian penghindaran risiko juga dilakukan apabila risiko yang dihadapi tidak dikendalikan manajemen dan tidak dapat ditangani dengan strategi-strategi penangan risiko yang lain. Oleh karena itu, strategi-strategi untuk menangani risiko-risiko yang berada pada kuadran I dan II adalah strategi preventif. Penanganan risiko dengan strategi preventif ini akan membuat risiko- risiko yang berada pada kuadran I bergeser ke kuadran III, dan risiko-risiko yang berada pada kuadran II bergeser ke kuadran IV.
ii) Mitigasi
Kountur (2006) mengemukakan bahwa mitigasi risiko strategi penanganan risiko yang dimaksudkan untuk memperkecil dampak risiko yang ditimbulkan. Jika risiko terjadi, diusahakan sedemikian rupa sehingga dampak yang ditimbulkan seminimal mungkin. Strategi mitigasi dilakukan untuk menangani risiko yang memiliki dampak yang sangat besar. Risiko yang berada pada kuadran I dan III yang memberikan dampak besar ditangani dengan cara mitigasi. Hal ini dimaksudkan agar risiko yang berada pada kuadran I dapat bergeser ke kuadran II, dan risiko yang berada pada kuadran III dapat bergeser kekuadran IV. Dengan demikian, strategi mitigasi risiko adalah strategi penanganan risiko yang dilakukan kepada risiko yang memberikan dampak besar. Strategi mitigasi risiko dapat dilihat pada Gambar 7.
Probabilitas (%) Besar
Kecil Dampak(Rp)
Kecil Besar
Sumber : Kountur , (2006)
Gambar 7 Strategi mitigasi
Penanganan lain digunakan dalam menganalisi strategi untuk menghadapi risiko adalah beberapa alternatif strategi yang dinilai mampu memberikan solusi bagi masalah risiko. Alternatif strategi untuk menghadapi risiko selain penanganan dengan cara preventif dan mitigasi. Dengan mengelompokan risiko pada masing-masing kuadran yang tersedia, maka akan diperoleh kemungkinan risiko yang dihadapi dan dampaknya bagi perusahaan. Proses analisis strategi ini digolongkan Hanafi (2009) menjadi empat yaitu:
Kuadran II Kuadran I
Kuadran IV Kuadran III
Kuadran II Kuadran I Kuadran IV Kuadran III
a) Probabilitas besar dan dampak besar
Kejadian ini menyebabkan perusahaan tidak dapat lagi mengendalikan risiko yang dapat menimbulkan kerugian pada perusahaan. Bila risiko-risiko pada kuadran I terjadi akan menyebabkan terancamnya pencapaian tujuan perusahaan. Kondisi seperti ini dideskripsikan sebagi preventif at source. Alternatif strategi untuk mengatasi risiko-risiko yang dikelompokan kuadran I ini hanya dapat dilakukan dengan penghindaran.
b) Probabilitas besar dan dampak kecil
Posisi risiko yang berada kuadran ini dinamakan dengan monitor. Risiko yang dapat menimbulkan kerugian pada kuadran ini mewajibkan perusahaan untuk melakukan pengamatan terhadap kejadian-kejadian yang menimbulkan risiko. Risiko-risiko yang berada pada daerah ini diharapkan tetap dalam kondisi normal. Dimana tidak mempengaruhi pada aktivitas produksi perusahaan. Risiko yang secara rutin ini tidak terlalu mengganggu pencapaian tujuan target perusahaan. Hal ini,akan mengganggu bila risiko yang bersangkutan muncul menjadi kenyataan. Namun, biasanya perusahaan mampu cepat mengatasi dampak muncul.
c) Probabilitas kecil dan dampak besar
Probabilitas besar dengan dampak kecil terdapat pada kuadran III dengan deskripsi detect and monitor. Deskripsi dari risiko ini yaitu apabila kondisi kuadran III terjadi maka tujuan dan target perusahaan bisa tidak tercapai. Dalam kondisi terburuk, perusahaan dapat mengalami kerugian yang sangat besar dan bila dibiarkan akan menyebabkan perusahaan bisa tutup atau dinyatakan bangkrut. d) Probailitas kecil dan dampak kecil
Kelompok strategi ini berada pada kuadran IV dengan alternatif stretegi yang diusulkan adalah low control. Apabila terjadi, dampaknya kecil bagi pencapaian tujuan dan target perusahaan. Risiko yang masuk kedalam kuadran IV cenderung dapat diabaikan sehingga perusahaan tidak perlu mengalokasikan sumber dayanya untuk menangani risiko. Namun, manajemen tetap perlu mengawasi risiko kuadran IV. Risiko yang saat ini masuk ke dalam kuadran IV bisa pindah ke kuadran lain bila ada perubahan kondisi eksternal maupun internal.
Seluruh proses pendeskripsian risiko-risiko hingga dapat diketahuii alternatif strategi bagi pihak manajemen dapat dilihat pada Gambar 8.
Probabilitas(%) Besar
Kecil Dampak (Rp)
Kecil Besar
Sumber : Hanafi, (2009)
Gambar 8 Alternatif strategi menghadapi risiko
Kuadran II Kuadran I
Monitor Prevent at Source
Kuadran IV Kuadran III