• Tidak ada hasil yang ditemukan

7.1. Identifikasi Risiko Rantai Pasok

Berdasarkan hasil studi literatur (Hallikas et al. 2004; Agiwal & Mohtadi 2008) dan brainstorming serta interview mendalam dengan beberapa pakar (akademisi: seorang profesor manajemen rantai pasok, peneliti: Balai Pasca Panen Bogor, praktisi: kepala devisi pengadaan bahan baku industri pakan PT. Charoen Pokphand Indonesia) maka diperoleh struktur hierarki dari fuzzy AHP identifikasi risiko rantai pasok komoditas jagung. Struktur hierarki yang diperoleh terdiri atas empat level yaitu:

1. Level1. Fokus/Goal: Identifikasi faktor risiko setiap tingkatan rantai pasok komoditas jagung.

2. Level2: Tujuan manajemen risiko rantai pasok komoditas jagung yang menjadi perhatian dalam kajian ini adalah: Untuk meningkatkan kualitas pasokan (T1), Untuk menjamin kontinuitas pasokan yang stabil (T2), Untuk meningkatkan kesejahteraan petani (T3)

3. Level3. Aktor yang merupakan tingkatan rantai pasok komoditas jagung sesuai dengan Vorst (2006) yang terdiri dari: Tingkat Petani (A1), Tingkat Pengepul (A2), Tingkat Agroindustri (A3), Tingkat Distributor (A4), Tingkat Konsumen (A5).

4. Level4. Alternatif faktor risiko yang teridentifikasi dari hasil interview

mendalam dengan pakar dan hasil studi literatur adalah:

a) Risiko lingkungan, yang diakibatkan oleh bencana alam, hama dan penyakit, kebijakan pemerintah, keamanan, kondisi sosial budaya dan politik, serta produk pesaing.

b)Risiko teknologi, yang bersumber dari rendahnya penguasaan teknologi, perkembangan teknologi baru, penggunaan teknologi dan ketersediaan teknologi.

c) Risiko harga, yang diakibatkan oleh adanya inflasi, nilai tukar dan bunga bank, fluktuasi harga dan distorsi informasi harga dan pasokan.

d)Risiko pasokan yang bersumber dari keberagaman mutu pasokan, loyalitas pemasok, ketidakpastian pasokan dan ketersediaan pasokan.

e) Risiko transportasi yang diakibatkan oleh pemilihan moda transportasi, ketidakpastian waktu transportasi, keamanan di jalan, dan kerusakan jalan mengurangi mutu produk.

f) Risiko pasar yang bersumber dari struktur pasar, fluktuasi harga, penolakan konsumen dan standarisasi mutu di pasar.

g)Risiko produksi yang diakibatkan oleh kapasitas produksi, proses produksi, penggunaan teknologi produksi dan mutu bahan baku.

h)Risiko informasi yang bersumber dari penggunaan metode peramalan, ketersediaan informasi, distorsi informasi dan metode transfer informasi. i) Risiko kualitas yang diakibatkan oleh musim dan cuaca, metode

penyimpanan, variasi mutu pasokan, dan mutu pasokan bahan baku.

j) Risiko penyimpanan yang diakibatkan oleh ketidakpastian pasokan, ketidakpastian permintaan, penyusutan dan penurunan mutu serta lokasi geografis.

k)Risiko kemitraan yang bersumber dari pemilihan mitra, putusnya jaringan komunikasi, putusnya jaringan transportasi dan komitmen mitra.

Struktur tersebut dapat diperlihatkan pada Gambar 36.

Gambar 36 Struktur hierarki fuzzy AHP identifikasi risiko rantai pasok

Goal

Tujuan

Identifikasi faktor risiko setiap tingkatan rantai pasok

Peningkatan Kualitas pasokan Menjamin kontinuitas pasokan yang stabil Peningkatan kesejahteraan petani

Alternatif

Aktor Tingkat Petani Tingkat Pengepul Tingkat Agroindustri Tingkat Distributor Tingkat Konsumen

Risiko Kualitas Risiko Penyimpanan Risiko kemitraan Risiko lingkungan Risiko Teknologi Risiko Harga Risiko Pasokan Risiko transportasi Risiko Pasar Risiko produksi Risiko Informasi

Dari struktur pada Gambar 36 kemudian dilakukan perbandingan tingkat kepentingan dengan melibatkan beberapa pakar dalam bidang rantai pasok dan pasca panen komoditas jagung sebagaimana disebutkan di atas. Hasil penilaian pakar kemudian dilakukan agregasi untuk mendapatkan suatu nilai tunggal evaluasi risiko rantai pasok komoditas jagung. Hasil evaluasi risiko rantai pasok dengan menggunakan fuzzy AHP dapat dijelaskan dengan menggunakan Tabel 13, sedangkan hasil rinci dari pembobotan risiko setiap tingkatan rantai pasok dapat diperlihatkan pada Lampiran 11. Kemudian hasil pembobotan struktur hierarki analisa risiko rantai pasok dapat diperlihatkan pada Lampiran 9.

Tabel 13 Hasil pembobotan risiko tingkatan rantai pasok dengan fuzzy AHP Aktor kualitas pasokan kontinuitas pasokan kesejahteraan petani bobot tingkatan Tingkat petani 0,571 0,563 0,476 0,538 Tingkat pengepul 0,145 0,140 0,187 0,157 Tingkat Agroindustri 0,145 0,136 0,103 0,129 Tingkat distributor 0,090 0,096 0,110 0,098 Tingkat konsumen 0,049 0,065 0,124 0,078 bobot 0,406 0,265 0,328

Dari Tabel 13 terlihat bahwa tujuan peningkatan kualitas pasokan mempunyai bobot tertinggi disusul dengan tujuan peningkatan kesejahteraan petani dan tujuan menjamin kontinuitas pasokan bahan baku komoditas jagung berturut turut dengan bobot nilai 0,406; 0,328 dan 0,265. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam manajemen risiko rantai pasok komoditas jagung mempunyai tujuan utama untuk meningkatkan kualitas pasokan pada agroindustri, karena dengan peningkatan kualitas tersebut dapat mengurangi terjadinya kerusakan produk dalam tahap penyimpanan dan peningkatan harga sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani. Kemudian dengan peningkatan pendapatan petani akan diperoleh tujuan selanjutnya yaitu peningkatan kesejahteraan petani. Dalam rantai pasok yang dapat meningkatkan kesejahteraan petani akan mendorong lebih banyak petani bertanam jagung sehingga akan meningkatkan pasokan dan akan menjamin kontinuitas pasokan bahan baku. Dari Tabel 13 juga diperoleh nilai bobot risiko setiap tingkatan dalam rantai pasok komoditas jagung, sebagaimana dapat diperlihatkan pada Gambar 37.

Gambar 37 Histogram perbandingan bobot risiko tingkatan rantai pasok komoditas jagung

Dari Gambar 37 terlihat bahwa risiko di tingkat petani mempunyai bobot nilai yang tertinggi dibandingkan dengan risiko di tingkat lain dalam jaringan rantai pasok. Hal ini dapat disimpulkan bahwa dalam rantai pasok komoditas jagung petani mempunyai kecenderungan menanggung risiko yang lebih tinggi dibandingkan dengan tingkatan yang lain dalam jaringan rantai pasok komoditas jagung sesuai dengan hasil penelitian Sarasutha et al. (2007). Oleh karena itu perlu dikaji lebih mendalam risiko apa saja yang harus dihadapi oleh petani sebagai penanggung risiko tertinggi sehingga dapat dilakukan tindakan yang tepat guna mengantisipasi risiko tersebut baik secara individu maupun secara bersama dalam jaringan rantai pasok.

7.1.1. Identifikasi Risiko Tingkat Petani

Analisis risiko pada tingkat petani dilakukan untuk dapat mengetahui faktor dan variabel risiko yang perlu ditangani oleh petani dalam manajemen rantai pasok guna meningkatkan kualitas produk jagung. Hasil pembobotan faktor risiko dengan menggunakan fuzzy AHP diperoleh bahwa bobot faktor risiko tertinggi di tingkat petani adalah risiko kualitas, disusul oleh risiko harga, risiko lingkungan, risiko pasokan dan risiko pasar. Distribusi hasil pembobotan faktor risiko pada tingkat petani tersebut dapat diperlihatkan pada Gambar 38. Dari hasil

0.538 0.157 0.129 0.098 0.078 0.000 0.100 0.200 0.300 0.400 0.500 0.600 Tingkat petani Tingkat pengepul Tingkat Agroindustri Tingkat distributor Tingkat konsumen B o b o t R is ik o