IV. METODE PENELITIAN
4.8. Analisis Sensitivitas
+ + + = Keterangan:
MT : Nilai impor Tahun ke-T (Rp) XT : Nilai ekspor Tahun ke-T (Rp)
TMT :Penerimaan pemerintah melalui pajak impor Tahun ke-T (Rp) TXT : Penerimaan pemerintah melalui pajak ekspor Tahun ke-T (Rp)
Perhitungan nilai tukar resmi dalam penelitian ini menggunakan nilai tukar rata-rata pada tahun 2006 yaitu sebesar Rp 9.020 per dollar Amerika Serikat. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistika (laporan realisasi APBN 2006) menunjukkan bahwa nilai ekspor Indonesia pada periode waktu tersebut sebesar Rp 539.400 miliar, sedangkan untuk nilai impornya sebesar Rp 539.300 miliar. Sementara penerimaan pemerintah dari pajak ekspor adalah sebesar Rp 377,7 miliar dan penerimaan dari pajak impor sebesar Rp 12.141,7 miliar. Dari nilai-nilai tersebut diperoleh hasil perhitungan untuk nilai-nilai faktor konversi (SCF) sebesar 0,989, kemudian nilai tukar bayangan (SER) dapat ditentukan yakni sebesar Rp 9.120,32 dan untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Lampiran 4.
4.8. Analisis Sensitivitas
Analisis sensitivitas dilakukan untuk melihat bagaimana hasil analisis suatu aktivitas ekonomi bila terjadi perubahan terhadap input dan output. Perubahan yang dimasukkan pada penelitian ini yaitu perubahan harga output dan input. Analisis sensitivitas yang dilakukan pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Penurunan harga lada putih sebesar 35 persen
Perubahan harga lada putih yang signifikan disebabkan karena produsen/petani lada selama ini hanya menjadi penerima harga (price taker) dari setiap perubahan harga yang terjadi di pasar internasional. Fluktuatifnya harga lada putih menyebabkan petani kesulitan dalam memperkirakan besarnya penerimaan yang akan diperoleh. Dengan pertimbangan tersebut, maka penurunan harga terendah yang terjadi selama tahun 2007 adalah sebesar 35 persen.
2. Peningkatan harga pupuk di Kecamatan Airgegas sebesar 15 persen
Perubahan harga pupuk diakibatkan karena situasi yang terduga yaitu terjadinya kelangkaan saat musim tanam tiba. Rata-rata peningkatan harga jual pupuk di Kecamatan Airgegas sebesar 15 persen.
3. Peningkatan harga sewa areal di Kecamatan Airgegas sebesar 75 persen Peningkatan harga sewa ini dikarenakan oleh tingginya pengalihan fungsi areal (konversi) dari areal perkebunan di ke areal pertambangan. Adanya kompetisi dalam penggunaan areal tersebut menyebabkan harga sewa areal menjadi faktor yang penting pada pengusahaan komoditi lada putih, sehingga berdampak terhadap peningkatan nilai sewa areal yakni sebesar 75 persen. Oleh karena itu, sangat penting untuk melihat dampak dari kenaikan harga tersebut terhadap daya saing pengusahaan komoditi lada putih.
5.1. Letak dan Kondisi Geografis Kecamatan Airgegas
Kecamatan Airgegas merupakan bagian dari sub wilayah administrasi Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Kabupaten Bangka Selatan mempunyai luas wilayah sebesar 360.708 Ha yang terdiri dari lima kecamatan yaitu Kecamatan Airgegas, Payung, Simpang Rimba, Lepar Pongok dan Toboali (Lampiran 5). Adapun batasan wilayah dari Kabupaten Bangka Selatan adalah:
a. Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Sungai Selan dan Kecamatan Koba Kabupaten Bangka Tengah.
b. Sebelah timur berbatasan dengan Selat Gaspar.
c. Sebelah selatan berbatasan dengan Laut Jawa dan Selat Bangka. d. Sebelah barat berbatasan dengan Selat Bangka.
Kecamatan Airgegas memiliki luas daerah sebesar 85.363,5 ha dengan tingkat kepadatan penduduk sekitar 42 km2. Jarak antara Kecamatan Airgegas dengan pusat Kota Kabupaten Bangka Selatan kurang lebih 41 km, sedangkan jarak dari Ibu Kota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sekitar 89 km. Kecamatan Airgegas mempunyai batasan wilayah sebagai berikut :
a. Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Koba b. Sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Toboali c. Sebelah timur berbatasan dengan Koba
d. Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Payung.
Pusat pemerintahan Kecamatan Airgegas yaitu di Desa Airgegas. Jumlah desa/kelurahan yang masuk ke wilayah Kecamatan ini yaitu sebanyak sepuluh
desa seperti yang ditunjukkan pada Tabel 6. Jumlah penduduk yang terdata pada tahun 2006 sebesar 36.147 jiwa dengan rincian laki-laki 18.291 jiwa dan perempuan 17.856 jiwa. Sekitar 57,3 persen penduduk yang ada di Kecamatan Airgegas berkerja sebagai petani, sedangkan yang lainnya bermata pencaharian di sektor pertambangan (31,5%), pedagang (2,2%), industri (0,45%), PNS (0,4%) dan sektor lainnya (8,15%).
Tabel 6. Jumlah dan Luas Desa/Kelurahan di Kecamatan Airgegas, Tahun 2006
No. Desa / Kelurahan Luas (Ha)
1. Pergam 3.750 2. Bencah 8.000 3. Tepus 6.000 4. Airgegas 14.500 5. Delas 12.013,5 6. Sidoharjo 900 7. Nyelanding 11.140 8. Nangka 15.010 9. Ranggas 7.000 10. Air Bara 7.050 Total 85.363,5
Sumber : BPS Kabupaten Bangka, 2006
Sebagian besar lahan yang ada di Kecamatan Airgegas dimanfaatkan untuk areal perkebunan terutama tanaman lada dan karet. Didukung dengan kondisi agroklimat dan topografi tanah yang baik, telah menjadikan kedua komoditi perkebunan tersebut sebagai sumber utama mata pencaharian bagi masyarakat setempat.
Kecamatan Airgegas memiliki iklim tropis tipe A yakni setiap tahunnya mengalami bulan basah sebanyak tujuh bulan dan bulan kering selama empat bulan atau periode bulan basahnya relatif lebih panjang dari bulan kering, dengan suhu rata-rata antara 23,7°C sampai 31,18°C dan tingkat curah hujan 107,6 hingga 343,7 mm/bulan. Secara umum struktur topografi tanah di Kecamatan Airgegas
relatif datar hingga berombak dan bergelombang dengan ketinggian tempat kurang lebih 200 m di atas permukaan laut. Jenis tanah yang terdapat di kecamatan ini umumnya berpasir dengan pH tanah rata-rata di bawah 5. Kondisi alam tersebut sangat mempengaruhi proses budidaya tanaman perkebunan yang ada di daerah ini.
Kondisi sarana dan prasarana yang terdapat di Kecamatan Airgegas terbilang cukup baik dengan prasarana transfortasi/jalan beraspal mulus dan didukung oleh sarana yang memadai. Kondisi tersebut sangat mempengaruhi kelacaran aktivitas agribisnis yang ada di daerah ini seperti biaya dan waktu transportasi pengangkutan hasil panen lada putih antar daerah menjadi lebih rendah dan singkat. Hal ini akan berdampak pada pendapatan petani karena harga di tingkat petani memiliki selisih yang rendah terhadap harga yang diterima para eksportir.
5.2. Mekanisme Pemasaran Komoditi Lada Putih di Kecamatan Airgegas Pada umumnya sistem pemasaran lada putih yang terjadi di Kecamatan Airgegas lebih mengarah kepada transaksi dengan alur baku pemasaran yang tetap. Sejak dari zaman dahulu sampai sekarang proses/rantai pemasaran lada putih di kecamatan ini tetap sama yakni hanya satu alur pemasaran yang sederhana dengan melibatkan banyak pihak untuk mendukung kelancaran proses tersebut. Sebagai gambaran rantai pemasaran lada putih dapat dilihat pada Gambar 6.
Pola rantai pemasaran yang terjadi di Kecamatan Airgegas seperti yang ditunjukkan pada Gambar 6 memperlihatkan bahwa sebagian besar (85%) petani
menjual hasil usahanya kepada pedagang tingkat desa dan pedagang jalanan (15%), kemudian pedagang jalanan (toke) membeli lada putih (95%) dari pedagang tingkat desa. Pedagang jalanan (toke) menjual seluruh hasil pembeliannya ke pedagang besar/eksportir yang berlokasi di Kota Pangkalpinang. Sebagian besar (90%) lada putih ini dihasilkan untuk ekspor dan sisanya (10%) diserap oleh pasar dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan domestik.
85% 15% 95%
5% 100% 90% 10%
Gambar 6. Alur Pemasaran Lada Putih di Kecamatan Airgegas
Pedagang besar/eksportir memiliki peran yang cukup sentral dalam meningkatkan daya saing komoditi lada putih, karena setiap lada putih yang masuk ke gudang pengolahan diberikan perlakuan lanjutan seperti pengklasifikasian terhadap mutu, kadar air dan lain-lainnya. Dengan demikian, lada putih yang akan di ekspor dapat dibagi menjadi tiga kelompok yaitu:
1. Lada Putih FAQ
Lada putih dengan kualitas standar 2. Lada Putih Asta
Lada putih dengan kualitas Amerika 3. Lada Putih Campuran
Lada putih dengan kualitas asalan
Petani
Pedagang Desa Pedagang Jalanan
Pedagang Besar/Eksportir
Lada putih FAQ secara umum mendominasi ekspor lada putih yakni sebesar 62 persen, disusul dengan lada putih campuran sebesar 24,5 persen dan kemudian lada putih Asta sebesar 13,5 persen.