• Tidak ada hasil yang ditemukan

Harga Bayangan Output

IV. METODE PENELITIAN

4.7. Penentuan Harga Bayangan Input dan Output

4.7.1. Harga Bayangan Output

Lada putih merupakan output yang sebagian besar diekspor, sehingga penentuan harga bayangan output yang digunakan adalah fob. Rumus dari harga bayangan output tersebut adalah:

Nilai fob lada putih pada penelitian ini sebesar US$ 4,395/kg. Nilai tersebut dikalikan dengan nilai tukar bayangan uang (Shadow Exchange Rate/SER) sebesar Rp 9.120,32, kemudian dikurangi dengan biaya tataniaga sebesar Rp 926,92/kg. Hasil perhitungan diperoleh harga bayangan lada putih di lokasi penelitian sebesar Rp 39.157/kg.

4.7.2. Harga Bayangan Input a). Harga Bayangan Bibit Lada

Bibit lada diperbanyak dengan cara stek batang yang dihasilkan melalui perbanyakan secara vegetatif. Produksi bibit lada dilakukan di sekitar daerah petani dengan harga Rp 3000/bibit. Bibit lada termasuk dalam komponen input non tradable, sehingga harga bayangannya sama dengan harga finansialnya.

b). Harga Bayangan Pupuk dan Obat-Obatan

Penggunaan pupuk pada pengusahaan tanaman lada memiliki harga bayangan yang berbeda-beda. Pupuk yang digunakan dalam budidaya tanaman tersebut adalah Pupuk Urea, TSP dan KCL. Harga bayangan untuk Pupuk Urea dapat ditentukan berdasarkan harga fob (free on board), karena telah diproduksi di

dalam negeri dan terkandung berbagai macam subsidi dari pemerintah. Rumus perhitungan harga bayangan input tersebut sebagai berikut:

Nilai fob untuk Pupuk Urea adalah US$ 0,269/kg, kemudian dikalikan dengan nilai SER (Shadow Exchange Rate) sebesar Rp 9.120,32 dan dikurangi dengan biaya tataniaga (pengangkutan pupuk) sebesar Rp 200/kg, sehingga diperoleh harga bayangannya sebesar Rp 2.253,36/kg.

Penentuan harga bayangan untuk Pupuk TSP dan KCL didasarkan pada harga cost insurance and freight (cif), karena sebagian besar dari bahan dasar dalam negeri masih diimpor. Rumus perhitungannya adalah sebagai berikut:

Nilai cif Pupuk TSP sebesar US$ 0,318/kg lalu dikalikan dengan nilai SER sebesar Rp 9.120,32 dan ditambah dengan biaya tataniaga, sehingga didapatkan harga bayangan sebesar Rp 3.100,26/kg. Untuk perhitungan harga bayangan Pupuk KCL sama dengan Pupuk TSP, namun nilai cif Pupuk KCL sebesar US$ 0,205/kg dan diperoleh harga bayangannya Rp 2.069,66/kg.

Penggunaan obat-obatan yang dipakai oleh sebagaian besar petani di lokasi penelitian dalam mengendalikan gulma yang terdapat di areal perkebunan lada adalah herbisida jenis Gramoxone. Untuk penentuan harga bayangan obat-obatan (herbisida jenis Gramoxone) tersebut didasarkan pada harga yang ada dipasaran. Karena pasar obat-obatan yang ada di Indonesia sudah mendekati

Harga Bayangan Input = (fob x SER) – Biaya Tataniaga

kondisi pasar persaingan sempurna, sehingga harga privat input obat-obatan sudah dapat mencerminkan harga bayangannya.

c). Harga Bayangan Tenaga Kerja

Menentukan harga bayangan tenaga kerja perlu dibedakan antara tenaga kerja terdidik dengan tenaga kerja tidak terdidik. Menurut Gittinger (1986), dalam pasar persaingan sempurna tingkat upah pasar mencerminkan nilai produktivitas marjinalnya Untuk tenaga terdidik, upah tenaga kerja bayangan sama dengan harga upah pasar (finansial), sedangkan tenaga kerja tidak terdidik dengan anggapan belum bekerja sesuai dengan tingkat produktivitasnya, maka harga bayangan upahnya disesuaikan terhadap harga upah finansialnya.

Tenaga kerja yang digunakan dalam melakukan aktivitas pengusahaan tanaman lada sebagian besar adalah tenaga kerja tidak tetap dan berasal dari daerah di sekitar Kabupaten Bangka Selatan. Atas dasar pertimbangan tersebut, maka penentuan harga bayangan tenaga kerja pada penelitian ini menggunakan perhitungan Rusatra dan Yusdja (1982) dan Suryana (1980) dalam Novianti (2003) yaitu sebesar 80 persen dari tingkat upah yang berlaku di lokasi penelitian. Selain itu, untuk penentuan harga bayangan terhadap tenaga kerja juga dapat dilakukan dengan menggunakan perbandingan antara rasio jumlah penduduk yang bekerja dengan jumlah angkatan kerja yang dikalikan dengan upah yang berlaku di lokasi penelitian.

d). Harga Bayangan Lahan

Lahan merupakan faktor produksi utama dan termasuk input non tradable dalam usahatani. Pada penelitian ini harga bayangan lahan ditentukan berdasarkan

nilai sewa lahan yang berlaku. Hal ini diasumsikan pasar bekerja pada saat bersaing sempurna mengingat pasar penyewaan lahan sudah berjalan cukup baik. e). Harga Bayangan Bunga Modal

Sumber modal yang digunakan oleh para petani untuk melakukan usahatani tanaman lada berasal dari modal petani sendiri. Harga bayangan bunga modal dapat di peroleh dari tingkat bunga riil, yang dihitung dengan menambahkan suku bunga nominal dengan tingkat inflasi yang terjadi. Pada penelitian ini digunakan suku bunga nominal aktual rata-rata tahun 2007 yang belaku di bank umum yakni sebesar 14 persen dengan tingkat inflasi pada tahun tersebut sebesar 6 persen, sehingga diperoleh harga bayangan modal sebesar 20 persen/tahun.

f). Harga Bayangan Nilai Tukar

Penetapan nilai tukar rupiah didasarkan atas perkembangan nilai tukar dollar. Penentuan harga bayangan nilai tukar digunakan formula yang telah dirumuskan oleh Squire dan Van Der Tak dalam Gittinger (1986) yaitu:

T T T SCF OER SER = Keterangan:

SERT : Shadow exchange rate (nilai tukar bayangan) Tahun ke-T OERT : Official exchange rate (nilai tukar resmi) Tahun ke-T

SCFT : Standart conversion factor (faktor konversi standar) Tahun ke-T

Nilai faktor konversi standar yang merupakan rasio dari nilai impor dan ekspor ditambah pajaknya dapat ditentukan sebagai berikut:

(

M TM

) (

X TXT

)

X M SCF T T T T T T − + + + = Keterangan:

MT : Nilai impor Tahun ke-T (Rp) XT : Nilai ekspor Tahun ke-T (Rp)

TMT :Penerimaan pemerintah melalui pajak impor Tahun ke-T (Rp) TXT : Penerimaan pemerintah melalui pajak ekspor Tahun ke-T (Rp)

Perhitungan nilai tukar resmi dalam penelitian ini menggunakan nilai tukar rata-rata pada tahun 2006 yaitu sebesar Rp 9.020 per dollar Amerika Serikat. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistika (laporan realisasi APBN 2006) menunjukkan bahwa nilai ekspor Indonesia pada periode waktu tersebut sebesar Rp 539.400 miliar, sedangkan untuk nilai impornya sebesar Rp 539.300 miliar. Sementara penerimaan pemerintah dari pajak ekspor adalah sebesar Rp 377,7 miliar dan penerimaan dari pajak impor sebesar Rp 12.141,7 miliar. Dari nilai-nilai tersebut diperoleh hasil perhitungan untuk nilai-nilai faktor konversi (SCF) sebesar 0,989, kemudian nilai tukar bayangan (SER) dapat ditentukan yakni sebesar Rp 9.120,32 dan untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Lampiran 4.

Dokumen terkait