• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.2.2. Analisis Sensitivitas pada Saat Tarif Impor Ditetapkan 15 Persen

peternak. Menurut ketua GKSI, tarif impor yang sesuai untuk melindungi para peternak lokal adalah 15 persen. Dengan adanya penetapan tarif impor sebesar 15 persen maka akan meningkatkan daya saing para peternak lokal sehingga mereka memiliki posisi tawar menawar yang kuat sehingga akan memberikan insentif yang lebih bagi para peternak untuk mengembangkan usahanya.

Penetapan tarif impor sebesar 15 persen meningkatkan harga jual susu para peternak di ketiga skala usaha. Pada usahaternak skala kecil dan skala besar harga jual susu meningkat dari Rp. 3.000 pada kondisi tarif impor lima persen menjadi Rp. 3.300, sedangkan untuk usahaternak skala menengah harga jual susu meningkat dari Rp 3.005 pada kondisi tarif impor lima persen menjadi Rp. 3.305,50. Peningkatan harga jual susu para peternak di tingkat privat memberikan insentif lebih bagi para peternak, hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya nilai keuntungan privat pada usahaternak skala kecil dan besar sebesar Rp. 300 per liter susu dan pada usahaternak skala menengah meningkat sebesar Rp. 300,50 per liter susu. Keuntungan privat untuk usahaternak skala kecil meningkat dari Rp. 435,62 menjadi Rp. 735,62 , pada usahaternak skala menengah meningkat dari Rp. 674,29 menjadi Rp. 974,79 , dan pada usahaternak skala besar meningkat dari Rp. 52,49 menjadi Rp. 352,49.

Peningkatan keuntungan privat diikuti dengan semakin rendahnya nilai PCR pada ketiga skala usaha. Pada usahaternak skala kecil nilai PCR mengalami penurunan dari 0,85 pada saat tarif impor lima persen menjadi 0,76 pada kondisi tarif impor 15 persen, pada usahaternak skala menengah nilai PCR juga mengalami penurunan dari 0,77 pada kondisi tarif impor lima persen menjadi 0,69 pada kondisi tarif impor 15 persen, dan pada usahaternak skala besar nilai PCR menurun dari 0,98 menjadi 0,88 pada kondisi tarif impor 15 persen. Adanya peningkatan nilai keuntungan privat dan penurunan nilai PCR mengindikasikan bahwa terjadi peningkatan keunggulan kompetitif dari komoditi susu sapi yang dihasilkan oleh para peternak yang berada di KUNAK, KPS Bogor pada kondisi penetapan tarif impor sebesar 15 persen.

Selain terjadi peningkatan keunggulan kompetitif, peningkatan tarif impor susu menjadi 15 persen juga meningkatkan keunggulan komparatif komoditi susu yang dihasilkan oleh para peternak sapi perah di KUNAK, KPS Bogor. Hal ini dapat dilihat dari adanya peningkatan nilai keuntungan sosial dan menurunnya nilai DRC di ketiga skala usahaternak. Keuntungan sosial para peternak pada ketiga skala usaha meningkat dari Rp. 1.685,76 per liter susu menjadi Rp. 2.080,46 per liter susu pada usahaternak skala kecil, Rp. 1.790,72 menjadi Rp. 2.185,41 pada usahaternak skala menengah, dan Rp. 1.607,90 menjadi Rp. 2.002,59 pada usahaternak skala besar. Keuntungan sosial pada ketiga skala usaha meningkat sebesar Rp. 394,70 per liter susu. Selain terjadi peningkatan nilai keuntungan sosial, peningkatan keunggulan komparatif juga ditandai dengan semakin kecilnya nilai DRC. Nilai DRC pada ketiga skala usaha

mengalami penurunan, yaitu pada usahaternak skala kecil menurun dari 0,56 pada kondisi tarif impor lima persen menjadi 0,50 pada kondisi tarif impor 15 persen, pada usahaternak skala menengah nilai DRC turun dari 0,53 menjadi 0,48 pada kondisi tarif impor 15 persen, dan pada usahaternak skala besar nilai DRC menurun dari 0,57 menjadi 0,52 pada kondisi tarif impor 15 persen.

VI. KESIMPULAN

6.1. Kesimpulan

Kesimpulan yang diperoleh berdasarkan hasil analisis dan tujuan penelitian adalah sebagai berikut:

1. Usahaternak sapi perah di KUNAK, KPS Bogor mendapatkan nilai keuntungan yang nilainya lebih besar dari nol pada ketiga skala usaha. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa pengusahaan sapi perah pada ketiga skala usaha tersebut efisien dan menguntungkan baik secara finansial maupun ekonomi. Hal ini menunjukkkan bahwa pengusahaan sapi perah di KUNAK, KPS Bogor layak dan baik untuk dikembangkan. Besarnya nilai keuntungan yang diperoleh pada masing-masing skala usaha berbeda-beda, tergantung dari harga jual susu yang diterima oleh para peternak dan jumlah input yang digunakan oleh para peternak di masing-masing skala usaha. 2. Usahaternak sapi perah pada ketiga skala usaha di KUNAK, KPS Bogor

memiliki daya saing baik dan memiliki keunggulan kompetitif pada kondsi tarif impor sebesar lima persen dari segi finansial dalam menghasilkan susu segar. Hal ini ditandai dengan nilai keuntungan privat yang lebih besar dari nol, yaitu Rp. 669,92 per liter susu pada usahaternak skala kecil, Rp. 674,29 per liter susu pada usahaternak skala menengah, dan Rp. 52,49 per liter susu pada usahaternak skala besar. Selain itu nilai PCR yang kurang dari satu pada ketiga skala usaha, yaitu 0,76 untuk usahaternak skala kecil, 0,77 untuk usahaternak skala menengah dan 0,98 untuk usahaternak skala besar.

Dari nilai PCR tersebut dapat dilihat bahwa usahaternak yang memiliki nilai efisiensi lebih besar secara finansial dan memiliki keunggulan kompetitif lebih besar adalah usahaternak skala kecil dengan kepemilikan sapi laktasi satu hingga tiga ekor.

3. Usahaternak sapi perah pada ketiga skala usaha di KUNAK, KPS Bogor memiliki daya saing baik dan memiliki keunggulan komparatif pada kondsi tarif impor sebesar lima persen dari segi ekonomi dalam menghasilkan susu segar. Usahaternak sapi perah memiliki nilai keuntungan sosial yang nilainya lebih dari nol, yaitu Rp. 1.873,20 pada usahaternak skala besar, Rp. 1.790,72 pada usahaternak skala menengah, dan Rp. 1.607,90 pada usahaternak skala kecil. Selain itu, untuk ketiga skala usahaternak sapi perah memiliki nilai DRC yang kurang dari satu, yaitu 0,51pada usahaternak skala kecil, 0,53 pada usahaternak skala menengah, dan 0,57 pada usahaternak skala besar.

4. Nilai keuntungan privat pada pengusahaan sapi perah lebih kecil dibandingkan dengan nilai keuntungan di tingkat sosial. Hal ini disebabkan karena harga bayangan susu yang didekati dengan susu impor lebih tinggi dai harga finansialnya. Selain itu dari hasil analisis didapatkan nilai DRC yang lebih kecil dibandingkan nilai PCR (PCR>DRC). Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada kebijakan dari pemerintah yang dapat meningkatkan efisiensi peternak dalam memproduksi susu sapi segar. Kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah seperti adanya tarif impor susu sebesar lima

persen tidak dapat mendorong daya saing susu sapi lokal dan kebijakan tersebut tidak memberikan insentif bagi peternak.

5. Adanya penghapusan tarif impor menyebabkan menurunnya daya saing yang ditandai dengan meningkatnya nilai PCR dan DRC, dan menurunnya tingkat keuntungan yang diperoleh para peternak. Hal ini tetap terjadi walaupun pemerintah telah menetapkan kondisi tarif impor lima persen. Hal ini terjadi karena kurangnya informasi kepada para peternak mengenai peningkatan kembali tarif impor tersebut. Penetapan tarif impor sebesar 15 pesen meningkatkan daya saing dan nilai keuntungan bagi para peternak dengan nilai PCR dan DRC yang semakin kecil. Semakin besar penetapan tarif impor, maka akan meningkatkan daya saing peternak lokal dan meningkatkan nilai keuntungan yang diterima oleh peternak.

Dokumen terkait