• Tidak ada hasil yang ditemukan

VII. DAMPAK PERUBAHAN KEBIJAKAN PEMERINTAH DAN

7.1. Analisis Sensitivitas terhadap Perubahan Harga Output

Analisis sensitivitas terhadap perubahan harga output meliputi penurunan harga jambu biji domestik atau internasional. Selain itu juga dilakukan analisis terhadap kenaikan harga jambu biji domestik dengan asumsi faktor lainnya tetap (ceteris paribus). Penurunan harga jambu biji internasional disebabkan oleh fluktuasi harga jambu biji di pasar pelelangan internasional jambu biji. Adapun penurunan harga jambu biji domestik disebabkan prediksi supply jambu biji yang melimpah pada saat musim panen. Tabel 13 memperlihatkan hasil dari analisis penurunan harga jambu biji domestik.

78 Tabel 13. Analisis Sensitivitas Usahatani Jambu Biji dengan Penurunan

Harga Jambu Biji Domestik sebesar 15 persen (Rp/Ha)

Nilai Sebelum Setelah Perubahan (%)

PP (Private Profit) : Keuntungan privat SP (Social Profit) : Keuntungan sosial

PCR (Private Cost Ratio) : Rasio keuntungan privat

DRC (Domestic Resource Cost) : Biaya sumberdaya domestik PC (Profit Coefficient) : Koefisien keuntungan

Sumber: Data Primer, diolah (2010)

Penurunan harga jambu biji domestik menyebabkan penerimaan petani menjadi berkurang dan keuntungan privat menurun sebesar 29,77 persen. Nilai PCR meningkat menjadi 0,576 menunjukkan bahwa keunggulan kompetitif usahatani jambu biji menurun. Supply jambu biji yang melimpah menyebabkan petani harus menerima harga yang lebih rendah dari pedagang dan mengalami penurunan keuntungan. Petani tidak memiliki alternatif lain untuk menjual hasil produksi jambu biji menyebabkan posisi tawar-menawar petani menjadi lemah.

Perbandingan antara keuntungan privat dengan keuntungan sosial (PC) mengalami penurunan 13,43 persen akibat menurunnya keuntungan privat.

Tabel 14. Analisis Sensitivitas Usahatani Jambu Biji dengan Penurunan Harga Jambu Biji Inernasional sebesar 17 persen (Rp/Ha)

Nilai Sebelum Setelah Perubahan (%)

PP (Private Profit) : Keuntungan privat SP (Social Profit) : Keuntungan sosial

PCR (Private Cost Ratio) : Rasio keuntungan privat

DRC (Domestic Resource Cost) : Biaya sumberdaya domestik PC (Profit Coefficient) : Koefisien keuntungan

Sumber: Data Primer, diolah (2010)

79 Penurunan harga jambu biji internasional sebesar 17 persen menyebabkan penurunan keuntungan sosial usahatani jambu biji hingga 44,27 persen. Begitu pula dengan keunggulan komparatif usahatani ini juga menurun. Hal tersebut ditunjukkan dengan peningkatan nilai DRC yang mengindikasikan bahwa kemampuan usahatani jambu biji di lokasi penelitian dalam membiayai faktor domestik pada harga sosial berkurang sebesar 12,53 persen. Penurunan keuntungan sosial menyebabkan rasio antara keuntungan privat dan keuntungan sosial (PC) meningkat sebesar 35,83 persen.

Selain penurunan harga output, perubahan harga output lainnya yang diuji dalam analisis sensitivitas ini adalah kenaikan harga jambu biji domestik sebesar 20persen yang ditampilkan pada Tabel 15. Rancangan Ditjen Hortikultura Kementrian Pertanian yang ingin menerapkan Standar Nasional Indonesia (SNI) pada produk-produk sayur dan buah-buahan termasuk jambu biji akan meningkatkan kualitas jambu biji10. Apabila kualitas jambu biji domestik meningkat, maka hal ini akan mengakibatkan kenaikan harga jambu biji domestik.

Tabel 15. Analisis Sensitivitas Usahatani Jambu Biji dengan Kenaikan Harga Jambu Biji Domestik sebesar 20 persen (Rp/Ha)

Nilai Sebelum Setelah Perubahan (%)

PP (Private Profit) : Keuntungan privat SP (Social Profit) : Keuntungan sosial

PCR (Private Cost Ratio) : Rasio keuntungan privat

DRC (Domestic Resource Cost) : Biaya sumberdaya domestik PC (Profit Coefficient) : Koefisien keuntungan

Sumber: Data Primer, diolah (2010)

10 Harian Bisnis Indonesia. 20 Januari 2010. Daya Saing Produk Buah dan Sayuran Harus Digenjot

80 Kenaikan harga jambu biji domestik telah meningkatkan penerimaan privat, sehingga keuntungan privat juga meningkat sebesar 39,7 persen.

Keunggulan kompetitif mengalami peningkatan ditunjukkan dengan nilai PCR yang menurun (16,89 persen). Nilai PC yang meningkat sebesar 17,9 persen menunjukkan bahwa rasio keuntungan yang diterima petani terhadap keuntungan sosialnya meningkat. Namun upaya penerapan SNI jambu biji ini masih terdapat kendala pada kesiapan petani untuk menerima standardisasi tersebut. Oleh karena itu diperlukan pendampingan dan penyuluhan yang lebih efektif serta bantuan fasilitas dari pemerintah, seperti bibit unggul dan penyuluhan pasca panen.

7.2. Dampak Kebijakan Pemerintah terhadap Harga Input

Analisis ini digunakan untuk mengetahui apakah kegiatan usahatani jambu biji di lokasi penelitian masih tetap efisien untuk diusahakan apabila terjadi kenaikan harga input (pupuk anorganik) sebesar 35 persen. Kenaikan harga pupuk tersebut disebabkan oleh kenaikan biaya produksi pupuk anorganik dan pengurangan subsidi pupuk anorganik.

Tabel 16. Analisis Sensitivitas Usahatani Jambu Biji dengan Kenaikan Harga Pupuk Anorganik sebesar 35 persen (Rp/Ha)

Nilai Sebelum Setelah Perubahan (%)

PP (Private Profit) : Keuntungan privat SP (Social Profit) : Keuntungan sosial

PCR (Private Cost Ratio) : Rasio keuntungan privat

DRC (Domestic Resource Cost) : Biaya sumberdaya domestik PC (Profit Coefficient) : Koefisien keuntungan

Sumber: Data Primer, diolah (2010)

Tabel 16 memperlihatkan peningkatan harga pupuk hanya menyebabkan perubahan pada keuntungan privat dan keunggulan kompetitif, sedangkan

81 keuntungan sosial dan keunggulan komparatifnya tetap. Perubahan kebijakan berupa pengurangan subsidi hanya berdampak di lingkungan domestik dan tidak memengaruhi harga CIF pupuk urea dan TSP. Terlihat bahwa keuntungan privat menunjukkan nilai yang positif, artinya petani jambu biji masih memperoleh keuntungan dengan kenaikan harga pupuk tersebut. Meskipun demikian, keuntungan privat menurun sebesar 0,34 persen. Begitu pula dengan nilai PCR mengalami peningkatan yang mengindikasikan teradi penurunan keunggulan kompetitif. Dampak dari kenaikan harga pupuk anorganik ini menyebabkan keuntungan yang diterima petani menurun terhadap keuntungan sosialnya sehingga nilai PC menurun.

Keadaan sebaliknya dapat terjadi apabila pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk meningkatkan anggaran subsidi pupuk dan menyebabkan harga pupuk yang diterima petani menurun sebesar 35 persen seperti yang terlihat pada Tabel 17.

Tabel 17. Analisis Sensitivitas Usahatani Jambu Biji dengan Penurunan Harga Pupuk Anorganik sebesar 35 persen (Rp/Ha)

Nilai Sebelum Setelah Perubahan (%)

PP (Private Profit) : Keuntungan privat SP (Social Profit) : Keuntungan sosial

PCR (Private Cost Ratio) : Rasio keuntungan privat

DRC (Domestic Resource Cost) : Biaya sumberdaya domestik PC (Profit Coefficient) : Koefisien keuntungan

Sumber: Data Primer, diolah (2010)

Penurunan harga pupuk juga tidak menyebabkan perubahan pada analisis sosial, karena kebijakan penambahan anggaran subsidi pupuk hanya berpengaruh pada harga privat. Hal ini mengakibatkan keuntungan privat meningkat dan terjadi

82 kenaikan keunggulan kompetitif. Perbandingan antara keuntungan privat dengan keuntungan sosialnya juga mengalami peningkatan sebesar 0,14 persen.

Perubahan persentase pada keuntungan privat, keunggulan kompetitif dan koefisien keuntungan yang tidak begitu besar disebabkan oleh proporsi penggunaan input pupuk anorganik yang relatif sedikit.

Tabel 18. Analisis Sensitivitas Usahatani Jambu Biji Apabila PPN Dihapuskan (Rp/Ha)

PP (Private Profit) : Keuntungan privat SP (Social Profit) : Keuntungan sosial

PCR (Private Cost Ratio) : Rasio keuntungan privat

DRC (Domestic Resource Cost) : Biaya sumberdaya domestik PC (Profit Coefficient) : Koefisien keuntungan

Sumber: Data Primer, diolah (2010)

Tabel 18 memperlihatkan kebijakan pemerintah lainnya yang berpengaruh terhadap usahatani jambu biji, yaitu PPN pada pestisida, obat-obatan tanaman jambu biji, dan plastik pembungkus. Pajak Pertambahan Nilai (PPN) pada pestisida dan input nontradable merupakan salah satu kebijakan pemerintah yang bertujuan untuk melindungi produsen input. Dalam analisis ekonomi, PPN merupakan transfer pembayaran dari produsen input kepada konsumen input (petani). Penghapusan PPN sebesar 10 persen pada produk pendukung sektor pertanian diusulkan oleh Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia11. Apabila penghapusan PPN 10persen diterima, maka dampak yang terjadi pada usahatani jambu biji adalah peningkatan keuntungan privat dan keunggulan kompetitif.

Kebijakan ini tidak berdampak pada analisis sosial, karena PPN hanya terjadi

11 Harian Seputar Indonesia. 23 September 2008. Tarif BKP Pertanian

83 pada analisis privat. Dilihat dari nilai PC, penghapusan PPN 10 persen ternyata menyebabkan keuntungan yang diterima petani meningkat 67 persen dari keuntungan sosialnya.

7.3. Dampak Perubahan Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat Sebesar 6persen

Faktor lain yang memengaruhi keunggulan komparatif dari usahatani jambu biji ini adalah dampak perubahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat baik melemah maupun menguat sebesar 6 persen (ceteris paribus). Perubahan nilai tukar ini hanya berdampak pada keuntungan sosial dan keunggulan komparatif, sedangkan pada keuntungan privat dan keunggulan kompetitif tidak terjadi perubahan. Hal ini disebabkan perubahan nilai tukar hanya memengaruhi harga sosial input tradable dan output pada usahatani jambu biji.

Tabel 19 memperlihatkan dampak menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pada usahatani jambu biji di Kecamatan Tanah Sareal.

Tabel 19. Analisis Sensitivitas Usahatani Jambu Biji Bila Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat Menguat Sebesar 6 persen (Rp/Ha)

PP (Private Profit) : Keuntungan privat SP (Social Profit) : Keuntungan sosial

PCR (Private Cost Ratio) : Rasio keuntungan privat

DRC (Domestic Resource Cost) : Biaya sumberdaya domestik PC (Profit Coefficient) : Koefisien keuntungan

Sumber: Data Primer, diolah (2010)

Berdasarkan Tabel 19, terlihat bahwa keuntungan sosial menurun sekitar 15,58 persen dan nilai DRC meningkat sebesar 13,07 persen. Nilai tukar rupiah yang menguat terhadap dolar Amerika Serikat menurunkan harga sosial input

84 tradable (pupuk urea dan TSP) dan harga sosial jambu biji. Hal tersebut menyebabkan penerimaan (output) sosial dan input tradable sosial juga mengalami penurunan. Penurunan penerimaan sosial berdampak pada penurunan keuntungan sosial. Meskipun biaya input tradable sosial juga menurun, namun penurunan penerimaan sosial lebih besar dibanding penurunan input (biaya) sosial. Akibatnya nilai DRC meningkat yang mengindikasikan bahwa keunggulan komparatif pada usahatani jambu biji ini menurun. Dilihat dampaknya pada perubahan nilai PC menjadi 0,534, perubahan ini menyebabkan keuntungan yang diterima petani adalah 53,4 persen dari keuntungan sosialnya. Hal ini disebabkan penerimaan sosial menurun, sehingga keuntungan privat relatif lebih besar terhadap keuntungan sosialnya.

Tabel 20. Analisis Sensitivitas Usahatani Jambu Biji Bila Nilai Tukar Rupiah Melemah terhadap Dolar Amerika Serikat Sebesar 6 persen (Rp/Ha)

PP (Private Profit) : Keuntungan privat SP (Social Profit) : Keuntungan sosial

PCR (Private Cost Ratio) : Rasio keuntungan privat

DRC (Domestic Resource Cost) : Biaya sumberdaya domestik PC (Profit Coefficient) : Koefisien keuntungan

Sumber: Data Primer, diolah (2010)

Selain perubahan nilai tukar rupiah yang menguat terhadap dolar Amerika Serikat, perlu juga dilakukan analisis apabila nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar Amerika Serikat sebesar 6 persen. Tabel 20 memperlihatkan nilai SP yang meningkat hingga 15,58 persen dan nilai DRC menurun sebesar 10,34 persen. Nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar Amerika Serikat

85 menyebabkan harga sosial untuk output jambu biji dan input tradable (pupuk urea dan TSP) meningkat. Peningkatan harga sosial output menyebabkan penerimaan sosial meningkat. Hal ini berimplikasi pada peningkatan keuntungan sosial, karena biaya input tradable sosial meningkat tidak begitu besar dibandingkan dengan peningkatan penerimaan sosial. Peningkatan penerimaan sosial akan berdampak pada peningkatan keunggulan komparatif. Dilihat dari nilai PC (PC=0,39), nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar Amerika Serikat mengakibatkan keuntungan yang diterima petani lebih rendah 60,98 persen dari keuntungan sosialnya. Hal ini disebabkan oleh penerimaan sosial yang meningkat, sehingga keuntungan privat relatif lebih rendah dari keuntungan sosial.

7.4. Analisis Sensitivitas Gabungan

Analisis sensitivitas gabungan merupakan penggabungan beberapa analisis sensitivitas di atas antara faktor-faktor yang berdampak negatif terhadap keunggulan kompetitif dan komparatif dari usahatani jambu biji dengan kebijakan pemerintah atau faktor lainnya yang mampu meredam dampak negatif tersebut.

Sensitivitas yang digabungkan adalah penurunan harga jambu biji domestik, penghapusan PPN 10 persen, penambahan anggaran subsidi pupuk dan peningkatan standar kualitas jambu biji melalui penerapan SNI jambu biji. Hasil analisis sensitivitas gabungan dapat dilihat pada Tabel 21.

86 Tabel 21. Analisis Sensitivitas Gabungan – Pengaruhnya pada Harga Privat

(Rp/Ha)

PP (Private Profit) : Keuntungan privat SP (Social Profit) : Keuntungan sosial

PCR (Private Cost Ratio) : Rasio keuntungan privat

DRC (Domestic Resource Cost) : Biaya sumberdaya domestik PC (Profit Coefficient) : Koefisien keuntungan

Sumber: Data Primer, diolah (2010)

Analisis sensitivitas gabungan ini hanya terjadi pada analisis privat karena keadaan tersebut sering terjadi di lingkungan domestik. Selain itu pemerintah dapat langsung berperan dalam mengatasi permasalahan di lingkungan domestik.

Jika terjadi penurunan harga jambu biji domestik sebesar 15 persen, maka pemerintah dapat mengantisipasi penurunan harga tersebut dengan penghapusan PPN, penambahan subsidi, dan penerapan SNI pada jambu biji. Penerapan SNI jambu biji akan meningkatkan kualitas jambu biji sehingga harga jambu biji dapat meningkat dan mengimbangi penurunan harga yang terjadi serta memperkecil kerugian yang dialami petani. Apabila keadaan tersebut terjadi, maka petani akan memperoleh keuntungan sebesar Rp 15.177.884. Hal ini juga berdampak pada peningkatan keunggulan kompetitif. Namun keuntungan yang diperoleh petani masih lebih kecil dari keuntungan sosialnya, terlihat dari nilai PC sebesar 0,513.

Hal ini disebabkan oleh penerimaan sosial yang tinggi, sehingga keuntungan sosial juga sangat besar.

Analisis sensitivitas gabungan lainnya yang berpengaruh terhadap analisis sosial adalah gabungan antara penurunan harga jambu biji internasional dengan nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Tidak ada

87 kebijakan pemerintah yang berpengaruh terhadap harga internasional sehingga perubahan hanya terjadi pada keuntungan sosial dan keunggulan komparatif. Hasil dari sensitivitas gabungan kedua kondisi tersebut dapat dilihat pada Tabel 22.

Tabel 22. Analisis Sensitivitas Gabungan – Pengaruhnya pada Harga Sosial (Rp/Ha)

Nilai Sebelum Setelah Perubahan (%)

PP 13.333.154 13.333.154 -

SP 29.566.434 20.298.341 -31,35

PCR 0,488 0,488 -

DRC 0,254 0,332 30,6

PC 0,451 0,657 45,66

Keterangan:

PP (Private Profit) : Keuntungan privat SP (Social Profit) : Keuntungan sosial

PCR (Private Cost Ratio) : Rasio keuntungan privat

DRC (Domestic Resource Cost) : Biaya sumberdaya domestik PC (Profit Coefficient) : Koefisien keuntungan

Sumber: Data Primer, diolah (2010)

Berdasarkan pada Tabel 22, terlihat bahwa keuntungan sosial mengalami penurunan. Hal ini disebabkan oleh penurunan penerimaan sosial akibat penurunan harga jambu biji internasional yang lebih besar dari dampak peningkatan penerimaan sosial akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar. Nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar juga menyebabkan harga pupuk anorganik meningkat, sehingga juga ikut memengaruhi keuntungan sosial.

Penurunan penerimaan sosial menyebabkan keunggulan komparatif menurun.

Perbandingan antara keuntungan privat dan keuntungan sosial (PC) meningkat disebabkan oleh penurunan keuntungan sosial, sehingga keuntungan yang diterima petani relatif lebih besar dari keuntungan sosial.

88 VIII. KESIMPULAN DAN SARAN

8.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil perhitungan dan analisis yang telah dilakukan, maka penelitian yang bertujuan untuk menganalisis daya saing dan dampak kebijakan pemerintah terhadap komoditi jambu biji di Kecamatan Tanah Sareal dapat disimpulkan bahwa:

1. Usahatani jambu biji di Kecamatan Tanah Sareal di Kota Bogor pada tahun 2009 menguntungkan baik secara ekonomi dan finansial. Tingkat efisiensi dalam penggunaan sumberdaya yang dinilai dari indikator PCR dan DRC menunjukkan usahatani ini memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif.

Terbukti dari nilai PCR yang lebih kecil dari satu, yaitu 0,488 dan nilai DRC sebesar 0,254. Kebijakan pemerintah terhadap output maupun input dapat dikatakan masih belum efektif dalam memberikan insentif kepada petani untuk mengembangkan usahatani jambu biji. Begitu pula dengan kebijakan pemerintah terhadap input belum memberikan insentif kepada petani. Secara keseluruhan kebijakan pemerintah yang memengaruhi usahatani jambu biji di lokasi penelitian masih belum memberikan insentif kepada petani dan menyebabkan keuntungan yang diterima petani lebih rendah dari keuntungan yang seharusnya dapat diterima petani.

2. Dampak dari perubahan kebijakan pemerintah yang dapat meningkatkan keunggulan kompetitif usahatani jambu biji ini adalah penerapan SNI jambu biji, peningkatan anggaran subsidi pupuk, dan penghapusan PPN sebesar 10 persen. Faktor lainnya yang dapat meningkatkan keunggulan komparatif adalah nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Dampak dari

89 perubahan kebijakan pemerintah yang dapat menurunkan keunggulan kompetitif usahatani jambu biji ini adalah pengurangan anggaran subsidi pupuk. Faktor lain yang dapat menurunkan keunggulan kompetitif usahatani jambu biji adalah supply jambu biji yang meningkat, sementara permintaannya relatif tetap (harga jambu biji menurun). Adapun hal-hal yang dapat menurunakan keunggulan komparatif jambu biji adalah penurunan harga jambu biji di pasar lelang internasional dan nilai tukar rupiah yang menguat terhadap dolar Amerika Serikat.

Penurunan keunggulan kompetitif akibat penurunan harga jambu biji domestik dapat ditanggulangi dengan kebijakan pemerintah berupa penghapusan PPN, penambahan anggaran subsidi pupuk serta peningkatan kualitas jambu biji melalui penerapan SNI jambu biji. Selain itu penurunan keunggulan komparatif akibat penurunan harga jambu biji internasional dapat diimbangi apabila nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada waktu yang sama.

8.2. Saran

Usahatani jambu biji di Kecamatan Tanah Sareal sangat potensial untuk dikembangkan. Beberapa saran yang dapat diajukan untuk meningkatkan pengembangan usahatani jambu biji di Kecamatan Tanah Sareal adalah:

1. Penerapan SNI jambu biji untuk meningkatkan kualitas jambu biji agar buah jambu biji memiliki standar yang dapat diterima di pasar internasional, sehingga diharapkan dapat meningkatkan daya saing dan ekspor jambu biji.

2. Mengefektifkan penyuluhan dan pendampingan budidaya jambu biji dan pasca panen (grading dan packaging) dalam usaha penerapan SNI jambu biji agar

90 dapat menghasilkan jambu biji yang lebih berkualitas dan meningkatkan nilai tambah dari hasil pertanian.

3. Memberikan bantuan fasilitas yang dapat mendukung teknologi bibit unggul dan pasca panen jambu biji untuk mengurangi kerusakan pada saat pendistribusian agar kualitas jambu biji dapat terjaga.

4. Mendorong gapoktan di Kecamatan Tanah Sareal untuk menjalin kerja sama dengan pihak lain, misalnya eksportir buah atau distributor buah yang mau membeli jambu biji dengan harga yang lebih tinggi.

5. Penghapusan PPN pada produk pendukung pertanian, karena dengan adanya PPN menyebabkan biaya produksi menjadi lebih tinggi, sehingga mengurangi keunggulan kompetitif.

6. Pemerintah Kota Bogor harus mendorong pembentukan koperasi usahatani sekaligus mendampingi masyarakat untuk mengefektifkan peran koperasi di Kecamatan Tanah Sareal. Hal ini penting untuk dilakukan sesuai dengan rencana pemerintah mengurangi subsidi pupuk sebesar 15persen, namun diduga dalam implementasinya nanti, kenaikan harga pupuk di tingkat petani bisa menjadi lebih tinggi 20 persen akibat biaya tataniaga. Diharapkan pembentukan koperasi ini dapat mempermudah akses petani dalam memperoleh input dengan harga yang lebih murah.

7. Promosi hasil produksi jambu biji dengan menggelar festiival buah jambu biji untuk meningkatkan konsumsi dan permintaan jambu biji.

91 DAFTAR PUSTAKA

Aulinuriman, E. 1998. Keunggulan Komparatif dan Kompetitif Iles-iles Lahan Hutan. Skripsi. Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Faperta IPB, Bogor.

BPS. 2009. Data Produksi Buah-buahan Menurut Provinsi (ton) Tahun 2009, Jakarta.

BPS Jawa Barat. 2009. Data Produksi Jambu Biji di Jawa Barat Menurut Kabupaten/ Kota Tahun 2008, Jawa Barat.

Dhikawara, F. 2009. Analisis Kelayakan Finansial Usahatani Jambu Biji Melalui Penerapan Irigasi Tetes di Desa Ragajaya Kecamatan Bojong Gede Kabupaten Bogor. Skripsi. Faperta IPB, Bogor.

Dinas Pertanian Kota Bogor. 2009. Road Map Komoditi Unggulan Kota Bogor 2008, Bogor.

_______________________. 2007. Data Luas Tanam, Produksi dan Produktivitas Jambu Biji di Kota Bogor Tahun 2006, Bogor.

Direktorat Pemasaran Internasional. 2010. Nilai Ekspor-Impor Jambu Biji Tahun 2007-2010. Departemen Pertanian, Jakarta.

Emilya. 2001. Analisis Keunggulan Komparatif dan Kompetitif Serta Dampak Kebijakan Pemerintah pada Pengusahaan Komoditi Tanaman Pangan Propinsi Riau. Tesis. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Gittinger, J. 1986. Analisa Ekonomi Proyek-proyek Pertanian. Edisi kedua.

Diterjemahkan oleh Sutomo dan Mangiri. Universitas Indonesia Press, Jakarta.

Gray, C., P. Simanjuntak, L.K. Sabur, P.F.L. Maspaitella, R.C.G. Varley. 1993.

Pengantar Evaluasi Proyek. Edisi kedua. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Hadi, H. 2004. Ekonomi Internasional: Teori dan Kebijakan Perdagangan Internasional. Ghalia Indonesia, Jakarta.

Hidayat, B. 2010. Analisis Pendapatan Usahatani Jambu Biji Getas Merah di Kelurahan Sukaresmi. Skripsi. Departemen Agribisnis. FEM IPB, Bogor.

Hidayat, M. 2009. Daya Saing dan Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Susu Kambing di Kabupaten Bogor. Skripsi. Program Sarjana Ekstensi Manajemen Agribisnis, IPB, Bogor

Kompas. 20 Agustus 2010. Hal.17. „HET Pupuk Akan Naik„.

92 Lindert dan Kindleberger. 1995. Ekonomi Internasional. Edisi kedelapan.

Abdullah, penerjemah. Erlangga, Jakarta.

Monke dan Pearson. 1989. The Policy Analysis Matrix for Agricultural Development. Cornel University Press, New York.

Nurmalina, R., T. Sarianti., A. Karyadi. Studi Kelayakan Bisnis. Bogor: Penerbit Departemen Agribisnis Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB, Bogor.

Pearson, S., C. Goscth., S. Bahri. 2005. Aplikasi Policy Analysis Matrix Pada Pertanian. Indonesia. Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.

Porter, M. 1991. Strategi Bersaing. Agus Maulana, penerjemah.Erlangga, Jakarta.

Salvatore. 1997. Ekonomi Internasional. Erlangga, Jakarta.

Simanjuntak, S. B. 1992. Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Pemerintah terhadap Daya Saing Perusahaan Kelapa Sawit Indonesia. Pasca Sarjana IPB, Bogor.

Siregar, T. H. 2010. 2010. Daya Saing Buah-buahan Tropis Indonesia di Pasar Dunia. Skripsi. Departemen Ilmu Ekonomi. FEM IPB, Bogor.

Soedarya, A.P. 2010. Budidaya – Usaha – Pengolahan Agribisnis Guava (Jambu Batu). Pustaka Grafika, Bandung.

LAMPIRAN

94

Sumber : Badan Pusat Statistik 2010

SCFt = X Xt+ M t

Lampiran 2. Perhitungan Harga Bayangan Input Pupuk Urea dan TSP

No. Keterangan Urea TSP

6 Nilai Tukar Equilibrium (Rp/$) 10.440,32 10.440,32 7 FOB Indonesia dalam mata uang domestik

(Rp/ton)

2.996.788,71 3.090.438,35

8 Faktor konversi berat (kg/ton) 0,001 0,001

9 FOB Indonesia dalam mata uang domestik (Rp/kg)

2.996,79 3.090,44 10 Biaya transportasi dan penanganan (Rp/kg) 70,00 70,00 11 Harga paritas impor tingkat pedagang

besar (Rp/kg)

3.066,79 3.160,44 12 Biaya distribusi ke tingkat petani (Rp/kg)

Cikampek – Bogor 17 17

Bogor – pengecer 32,00 32,00

13 Harga di tingkat petani 3.116 3.209

Sumber: Data Primer, diolah

95 Lampiran 3. Perhitungan Harga Bayangan Output Jambu Biji Tahun 2009

No. Keterangan Nilai

1 FOB ($/kg) 2,81

2 Nilai tukar 10.394,38

3 Premium nilai tukar (%) 99,56%

4 Nilai tukar bayangan (Rp/$) 10.440,32

5 Harga FOB (Rp/kg) 29.337,29

Biaya transportasi dan penanganan:

6 Premi asuransi (Rp/kg) 147

7 Penanganan/ bongkar muat (Rp/kg) 2.000

8 Keuntungan eksportir (Rp/kg) 11.735

9 Harga di tingkat eksportir (Rp/kg) 15.456

10 Biaya penyimpanan (Rp/kg) 200

11 Biaya retribusi (Rp/kg) 100

12 Biaya pengemasan (Rp/kg) 174

Biaya transportasi (Rp/kg) 200

Biaya Sortasi (Rp/kg) 350

Keuntungan pedagang besar (Rp/kg) 4.637

13 Harga di tingkat pedagang besar (Rp/kg) 9.795

Biaya distribusi ke tingkat petani:

14 Biaya pemanenan (Rp/kg) 300

15 Biaya sortasi dan penanganan (Rp/kg) 240

Biaya penyusutan (Rp/kg) 200

16 Biaya transportasi (Rp/kg) 1500

17 Keuntungan pedagang (Rp/kg) 1200

18 Harga di tingkat petani 6.355

Sumber: Data Primer, diolah

Lampiran 4. Perhitungan Penyusutan Peralatan Usahatani Jambu Biji Tahun 2009

96 Lampiran 5. Rincian Penerimaan, Biaya Finansial dan Ekonomi dalam Komponen Domestik dan Asing pada Usahatani Jambu Biji Tahun 2009 (Rp/Ha)

No. Input/Output Ekonomi Finansial

Domestik Asing Total Domestik Asing Pajak Total

Total 10.074.093 405.340 10.479.433 12.688.676 422.896 21.538 13.133.111 Sumber: Data Primer, diolah

97 Lampiran 6. Tabel PAM Usahatani Jambu Biji di Kecamatan Tanah Sareal

Tahun 2009 (Rp/Ha)

Uraian Penerimaan Biaya Input Keuntungan

Tradable Non Tradable

Privat 26.466.265 422.896 12.710.215 13.333.154

Sosial 40.045.866 405.340 10.074.093 29.566.434

Dampak Kebijakan

-13.579.602 17.556 2.636.122 -16.233.280

Sumber: Data Primer, diolah

Analisis Daya Saing

1. Keunggulan Kompetitif

Keuntungan Privat (PP) = 13.333.154

Rasio Biaya Privat (PCR) = 0,488

2. Keunggulan Komparatif

Keuntungan Sosial (SP) = 29.566.434

Biaya Sumberdaya Domestik (DRC) = 0,254 Dampak Kebijakan Pemerintah

1. Kebijakan Output

Transfer Output (TO) = -13.579.602

Koefisien Proteksi Output Nominal (NPCO) = 0,661 2. Kebijakan Input

Transfer Input (TI) = 17.556

Koefisien Proteksi Sumber: Data Primer, diolah

Input Nominal (NPCI) = 1,043

Transfer Faktor = 2.636.122

3. Kebijakan Input-Output

Koefisien Proteksi Efektif (EPC) = 0,657

Koefisien Proteksi Efektif (EPC) = 0,657