IV. METODE PENELITIAN
4.3. Metode Pengolahan dan Analisis Data
4.3.3. Penentuan Harga Bayangan
4.3.3.2. Harga Bayangan Input
internasional (the International Monetary Fund, the World Bank, the Asian Development Bank, atau lembaga-lembaga di bawah PBB).
4.3.3.1. Harga Bayangan Output
Harga bayangan output tradable yang digunakan adalah border price, yaitu harga yang berlaku pada perbatasan negara, baik ketika barang tersebut tiba dari luar negeri (impor), maupun saat produk akan dikirim ke luar negeri (ekspor).
Harga bayangan jambu biji menggunakan harga ekspor, karena tidak ada bursa berjangka di Indonesia yang menangani komoditi jambu biji. Setelah itu harga ekspor dikonversikan dengan nilai tukar bayangan (SER = Shadow Exchange Rate) dan ditambahkan biaya tataniaga. Melalui perhitungan tersebut, diperoleh harga bayangan jambu biji di tingkat petani, yaitu RP 6.355 per kilogram.
4.3.3.2. Harga Bayangan Input
Sama halnya dengan output, harga bayangan input juga ditentukan berdasarkan input tradable dan nontradable. Input tradable misalnya pupuk sintetis dan pestisida, sedangkan input non tradable seperti pupuk kandang, lahan, tenaga kerja, peralatan, dan modal. Harga FOB digunakan untuk menentukan harga bayangan input yang diekspor, sedangkan harga CIF untuk input yang diimpor. Input nontradable diestimasi dengan cara mendekomposisikannya, yaitu membagi biaya produksi barang atau jasa nontradable kedalam biaya input tradable dan biaya faktor domestik (tenaga kerja, modal, dan lahan).
a) Pupuk
Terdapat dua jenis pupuk yang digunakan, yaitu pupuk organik (pupuk kandang) dan pupuk sintetis (urea dan TSP). Pupuk kandang yang digunakan berasal dari dalam negeri dan termasuk input non tradable, sehingga harga
44 bayangan pupuk kandang sama dengan harga finansialnya, yaitu Rp 135 per kilogram. Pupuk urea dan TSP yang digunakan bahan dasarnya masih impor, sehingga untuk mendekati harga bayangan berdasarkan harga CIF (cost, insurance and freight) yang kemudian ditambah dengan biaya tataniaga. Harga CIF diperoleh dari harga FOB ditambah dengan biaya asuransi dan pengapalan kemudian dikalikan dengan nilai SER tahun 2009 Rp 10.440,32 ditambah biaya transportasi dan penanganan, sehingga didapat harga bayangan urea per kilogram yaitu Rp 3.116, sedangkan harga bayangan TSP per kilogram yaitu Rp 3.209.
b) Pestisida
Pestisida yang secara mayoritas digunakan dalam usahatani jambu biji di daerah penelitian adalah decis dan dusbran, sedangkan herbisida yang digunakan adalah round up. Berdasarkan pada penelitian terdahulu, harga bayangan pestisida didekati dengan harga rata-rata finansial dikurangi dengan ppn 10 persen. Harga bayangan decis sebesar Rp 170.100/liter, dusbran Rp 69.300/liter, dan round up Rp 57.600/liter.
c) Peralatan
Peralatan yang digunakan dalam usahatani jambu biji antara lain, cangkul, garpu tani, golok, handsprayer, gunting pangkas, dan arit. Harga bayangan peralatan dihitung berdasarkan nilai penyusutan per tahun yang nilainya sama dengan harga aktualnya, karena tidak ada subsidi atau pajak yang dikenakan pada peralatan pertanian.
45 4.3.3.3. Harga Bayangan Faktor Domestik
a) Lahan
Harga sosial lahan ditentukan menurut social opportunity cost lahan, yaitu pendapatan yang diperoleh apabila lahan ditanam oleh komoditi alternatif terbaiknya. Namun cara ini sulit dilakukan dan akan memakan waktu karena peneliti juga harus menganalisis pendapatan usahatani komoditi alternatifnya.
Harga bayangan lahan didekati dengan harga sewa lahan karena sistem sewa-menywa lahan telah berkembang, artinya banyak petani yang mau menyewa atau menyewakan lahannya pada pihak lain untuk usahatani lainnya, sehingga pasar lahan diasumsikan berkerja dalam kondisi bersaing sempurna (Pearson et. al, 2005).
b) Tenaga Kerja
Harga tenaga kerja diklasifikasikan menjadi tenaga kerja terampil dan tidak terampil. Dalam penelitian ini upah tenaga kerja finansial sama dengan upah tenaga kerja bayangan, karena seluruh tenaga kerja yang digunakan adalah tenaga kerja tidak terampil dan para peneliti berpendapat tidak ada divergensi di pasar tenaga kerja pertanian tidak terampil di pedesaan. Tingkat upah ditentukan sama dengan upah tenaga kerja luar keluarga (Pearson et. al, 2005). Upah tenaga kerja pertanian dihitung berdasarkan satuan hari kerja pria (HKP), dimana dalam satu HKP adalah delapan jam dan seharga Rp 35.000/HKP.
c) Bunga Modal
Tingkat bunga modal diperlukan dalam menghitung biaya tunai yang dikeluarkan dalam proses produksi. Modal yang digunakan oleh petani pada penelitian ini seluruhnya menggunakan modal sendiri. Menurut Pearson et.al
46 (2005), untuk menghitung harga bayangan bunga modal digunakan pendekatan suku bunga di negara berkembang lainnya (Malaysia) dan ditambahkan tingkat inflasi dalam negeri yaitu 2,09 persen.
4.3.3.4. Harga Bayangan Nilai Tukar Uang
Penentuan harga sosial nilai tukar uang digunakan rumus menurut Squire dan van der Tak (1975) dalam Gittinger (1986), yaitu:
SERt = OERSCFt
t Dimana:
SERt = Shadow Exchange Rate tahun ke-t (Nilai Tukar Bayangan, Rp/US$) OERt = Official Exchange Rate tahun ke-t (Nilai Tukar Resmi, Rp/US$) SCFt = Standard Convertion Factor tahun ke-t (Faktor Konversi Standar) Nilai SCF ditentukan berdasarkan formulasi sebagai berikut (Rosegrant, 1987 dalam Gittinger, 1986):
SCFt = X Xt+ M t
t− Txt + Mt− Tmt
Dimana:
SCFt = Faktor Konversi Standar tahun ke-t Mt = Nilai Impor tahun ke-t (Rp)
Tmt = Pajak Impor tahun ke-t (Rp) Xt = Nilai Ekspor tahun ke-t (Rp) Txt = Pajak Ekspor tahun ke-t (Rp)
4.4. Matriks Analisis Kebijakan (Policy Analysis Matrix)
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan analisis matriks kebijakan (Policy Analysis Matrix). PAM terdiri dari matriks yang disusun berdasarkan hasil analisis finansial (privat) dan analisis ekonomi (sosial). Penerimaan dan biaya produksi pada harga finansial dan harga sosial dibagi menjadi komponen tradable (asing) dan nontradable (domestik). Input yang digunakan seperti pupuk, pestisida, peralatan pertanian, dan lain-lain dipisahkan menjadi input yang dapat
47 diperdagangkan (tradable) dan faktor domestik (nontradable). Matriks PAM terdiri dari tiga baris dan empat kolom (Tabel 7). Baris pertama mengestimasi keuntungan privat yaitu perhitungan penerimaan dan biaya berdasarkan harga yang berlaku, yang mencerminkan nilai-nilai yang dipengaruhi kebijakan pemerintah. Baris kedua mengestimasi keunggulan ekonomi dan daya saing (komparatif), yaitu perhitungan penerimaan dan biaya berdasarkan harga sosial (shadow price) atau nilai ekonomi yang sesungguhnya terjadi di pasar tanpa adanya kebijakan pemerintah. Baris ketiga merupakan selisih antara baris pertama dan kedua yang menggambarkan divergensi.
Melalui perhitungan baris satu dan dua tersebut masing-masing dihitung keuntungan. Keuntungan merupakan perbedaan antara penerimaan dan biaya.
Perbedaan perhitungan antara harga privat dengan harga sosial disebabkan terjadinya kegagalan pasar atau masuknya kebijakan pemerintah yang terletak pada baris ketiga. Jika kegagalan pasar dianggap faktor yang tidak begitu berpengaruh, maka perbedaan tersebut lebih banyak disebabkan adanya insentif kebijakan yang dapat dianalisis dalam penelitian ini. Penggunaan harga privat dan sosial dalam matriks PAM menggambarkan bahwa matriks ini mengandung analisis privat dan sosial. Dalam analisis sosial, kita meninjau aktivitas dilihat dari sudut masyarakat secara keseluruhan, sedangkan pada analisis privat kita meninjau aktivitas pelaku ekonomi (individu atau perusahaan) yang berkepentingan langsung dalam kegiatan ekonomi. Matriks PAM yang menunjukkan tingkat efisiensi pemakaian sumberdaya dijelaskan pada Tabel 7.
48 Tabel 7. Matriks Analisis Kebijakan
Keterangan Penerimaan Rasio Biaya Sumberdaya Domestik = G/ (E – F) Koefisien Proteksi Nominal = output tradable = A/ E
= Input tradable = B/ F Koefisien Proteksi Efektif = (A – B) / (E – F)
Koefisien Keuntungan = (A – B –C) / (E – F – G) atau D/H Subsidy Rasio untuk Produsen = (D – H) atau L/E
Sumber: Monke dan Pearson (1989)
Dari matriks PAM dapat dilakukan beberapa analisis, yaitu:
1) Analisis Keungulan Komparatif dan Kompetitif a) Keunggulan Komparatif
i) Keuntungan Sosial atau Social Profitability
Keuntungan sosial (SP) merupakan indikator daya saing atau efisiensi dari sistem usahatani pada kondisi tidak ada efek divergensi baik aibat kebijakan pemerintah maupun distorsi pasar. Keuntungan sosial dirumuskan sebagai berikut:
49 SP (H) = E – F – G
Keterangan:
E = Penerimaan sosial
F = Biaya input tradable sosial G = Biaya input nontradable sosial
Jika keuntungan sosial lebih dari nol (SP(H)>0) dan nilainya makin besar, maka sistem komoditi jambu biji makin efisien dan mempunyai keunggulan komparatif yang tinggi. Sebaliknya, jika keuntungan sosial kurang dari nol (SP(H)<0), maka sistem komoditi tidak mampu berjalan dengan baik tanpa bantuan atau intervensi pemerintah.
ii) Rasio Biaya Sumberdaya Domestik atau Domestic Cost Ratio
Rasio biaya sumberdaya domestik merupakan indikator keunggulan komparatif yang menunjukkan kemampuan suatu usahatani dalam membiayai biaya faktor domestik pada harga sosial. DRC menggambarkan efisiensi ekonomi suatu usahatani. DRC dirumuskan sebagai berikut:
DRC =
E−FG=
Biaya input non 𝑡𝑟𝑎𝑑𝑎𝑏𝑙𝑒 sosialPenerimaan sosial −Biaya input 𝑡𝑟𝑎𝑑𝑎𝑏𝑙𝑒 sosial
Jika rasio biaya sumberdaya domestik kurang dari satu (DRC<1) artinya memproduksi di dalam negeri lebih menguntungkan dibanding mengimpor. Jika nilainya semakin kecil berarti sistem komoditi makin efisien secara ekonomi, maka usahatani tersebut mempunyai daya saing yang makin tinggi dan mampu berjalan tanpa bantuan atau intervensi pemerintah. Sebaliknya jika DRC>1 berarti untuk memenuhi kebutuhan produksi dalam negeri lebih menguntungkan dengan mengimpor dibandingkan memproduksi sendiri. Atau dengan kata lain usahatani
50 tidak mampu berjalan tanpa bantuan pemerintah. Kegiatan ini akan memboroskan sumberdaya domestik yang langka karena memproduksi komoditi dengan biaya sosial yang lebih besar daripada biaya impornya. Jika tidak ada pertimbangan lain, maka melakukan impor akan lebih efisien dibandingkan dengan memproduksi sendiri.
b) Keunggulan Kompetitif
i) Keuntungan Privat atau Private Profitability
Keuntungan privat (PP) merupakan indikator daya saing dari sistem komoditi berdasarkan teknologi, nilai output, biaya input dan transfer kebijakan yang ada. Jika nilai keuntungan lebih dari nol (PP(D)>0), maka sistem komoditi memperoleh profit di atas normal yang mempunnyai implikasi bahwa komoditi itu mampu berekspansi, kecuali apabila sumberdaya terbatas atau ada komoditi alternatif yang lebih menguntungkan. Suatu sistem komoditi tidak akan menguntungkan jika nilai PP(D)<0. Keuntungan privat didapat dengan rumus berikut:
PP (D) = A − B – C Keterangan: A = Penerimaan privat
B = Biaya input tradable privat C = Biaya input nontradable privat ii) Rasio Biaya Privat atau Private Cost Ratio (PCR)
Rasio biaya privat adalah rasio biaya domestik terhadap nilai tambah terhadap harga privat. Nilai PCR mencerminkan berapa banyak sistem komoditi tersebut dapat menghasilkan untuk membayar faktor domestik dan tetap dalam kondisi kompetitif yakni break event setelah membayar keuntungan normal (D=0). Jelas bahwa perusahaan lebih menyukai D>0 dan ini dapat diraih jika C<
51 (A-B). Maka usaha penanganan biaya faktor domestik dan biaya input tradable bertujuan memaksimumkan profit. Maka PCR menunjukkan kemampuan sistem komoditi membiayai faktor domestik pada harga privat. Apabila nilai rasio biaya privat kurang dari satu (PCR<1), maka sistem komoditi tersebut mampu membiayai faktor domestiknya pada harga privat. Semakin kecil nilai PCR, maka komoditi tersebut semakin memiliki daya saing (keunggulan kompetitif). Monke dan Pearson (2004) merumuskan nilai Rasio Biaya Privat sebagai berikut:
PCR = C
A − B= Biaya faktor domestik privat
Penerimaan privat − Biaya input 𝑡𝑟𝑎𝑑𝑎𝑏𝑙𝑒 privat 2) Dampak Kebijakan Pemerintah
a) Kebijakan Input
Dampak kebijakan pemerintah terhadap input dapat dilihat dari:
i) Transfer Input
Transfer Input adalah selisih antara biaya input tradable pada harga privat dengan biaya input tradable pada harga sosial. Nilai TI menunjukkan adanya kebijakan kebijakan pemerintah yang diterapkan pada input tradable. Jika nilai TI positif (TI>0) menunjukkan harga sosial input asing yang lebih rendah. Akibatnya produsen harus membayar input lebih mahal. Sebaliknya, jika TI bernilai negatif (TI<0) hal ini menunjukkan adanya subsidi pemerintah terhadap input asing, sehingga petani tidak membayar penuh korbanan sosial (social opportunity) yang seharusnya dibayarkan. Transfer input dirumuskan sebagai berikut:
TI (J) = B – F Keterangan: B = Biaya input tradable privat
F = Biaya input tradable sosial
52 ii) Nominal Protection Coefficient in Tradable Input (NPCI)
Koefisien proteksi input nominal merupakan indikator ang menunjukkan tingkat proteksi pemerintah terhadap harga input domestik. NPCI adalah rasio antara biaya input tradable yang dihitung berdasarkan harga privat dengan biaya input tradable yang dihitung berdasarkan harga bayangan dan merupakan indikasi adanya transfer input. Apabila nilai NPCI kurang dari satu (NPCI<1) maka kebijakan pemerintah bersifat protektif terhadap input dan produsen menerima subsidi atas input asing yang tradable sehingga produsen dapat membeli dengan harga yang lebih rendah. Apabila nilai NPCI lebih dari satu (NPCI>1) maka terdapat proteksi terhadap produsen input asing tradable, yang menyebabkan sektor yang menggunakan input tersebut akan merasa dirugikan dengan tingginya biaya produksi. NPCI dirumuskan sebagai berikut:
NPCI =
BF
=
Biaya input 𝑡𝑟𝑎𝑑𝑎𝑏𝑙𝑒 privat Biaya input 𝑡𝑟𝑎𝑑𝑎𝑏𝑙𝑒 sosialiii) Transfer Faktor
Transfer faktor menunjukkan besarnya subsidi terhadap input non tradable. Jika nilai transfer faktor positif (TF>0) menunjukkan bahwa terjadi subsidi negatif pada input non tradable. Sedangkan jika nilai transfer faktor negatif (TF<0), berarti terdapat subsidi positif pada input nontradable. Pada matriks PAM transfer faktor dirumuskan sebagai berikut:
TF (K) = C – G Keterangan: C = Biaya input nont tradable privat
G = Biaya input non tradable sosial
53 b) Kebijakan Output
i) Transfer Output (TO)
Transfer output (TO) merupakan selisih antara penerimaan yang dihitung atas harga privat (finansial) dengan penerimaan yang dihitung atas harga sosial (bayangan). Nilai TO menunjukkan terdapat kebijakan pemerintah pada output sehingga ada perbedaan antara harga output privat dan sosial. Nilai TO yang positif (TO>0) menunjukkan bahwa ada insentif masyarakat terhadap produsen, artinya harga yang dibayarkan oleh konsumen pada produsen lebih tinggi dari seharusnya, atau ada kebijakan pemerintah berupa subsidi output yang menyebabkan harga privat output yang diterima oleh produsen lebih tinggi dari harga sosialnya. Sebaliknya jika nilai TO negatif, maka harga privat lebih rendah dari harga sosialnya. Formula Transfer Output:
TO (I) = A – E Keterangan: A = Penerimaan privat
E = Penerimaan sosial
ii) Nominal Protection Coefficient on Tradable Output (NPCO)
Koefisien Proteksi Output atau Nominal Protection on Tradable Output adalah rasio penerimaan yang dihitung berdasarkan harga privat dengan penerimaan yang dihitung berdasarkan harga sosial yang merupakan indikator dari tingkat proteksi pemerintah terhadap output. Jika nilai NPCO lebih dari satu (NPCO>1) berarti telah terjadi penambahan penerimaan akibat adanya kebijakan yang memengaruhi harga output (efek divergensi), begitu pula sebaliknya. NPCO dirumuskan sebagai berikut:
NPCO = A
E = Penerimaan privat Penerimaan Sosial
54 c) Kebijakan Input-Output
i) Koefisien Proteksi Efektif atau Effective Protection Coefficient (EPC)
Koefisien Proteksi Efektif (EPC) merupakan indikator dari dampak keseluruhan kebijakan input dan output terhadap sistem produksi komoditi dalam negeri. Nilai EPC menggambarkan seberapa besar kebijakan pemerintah bersifat melindungi atau menghambat produksi domestik secara efektif. Apabila nilai EPC>1 berarti pemerintah melindungi produsen secara efektif dengan menaikkan harga output atau input yang diperdagangkan di atas harga efisiensinya.
Sebaliknya jika nilai EPC<1 artinya kebijakan pemerintah tersebut tidak berjalan secara efektif. EPC dirumuskan sebagai berikut:
EPC = A − B
E − F= Penerimaan privat − Biaya input 𝑡𝑟𝑎𝑑𝑎𝑏𝑙𝑒 privat Penerimaan sosial − Biaya input 𝑡𝑟𝑎𝑑𝑎𝑏𝑙𝑒 sosial ii) Transfer Bersih atau Net Transfer (NT)
Transfer Bersih (NT) merupakan selisih antara keuntungan bersih yang benar-benar diterima produsen dengan keuntungan bersih sosialnya. NT menggambarkan dampak kebijakan pemerintah secara keseluruhan terhadap penerimaan petani, apakah merugikan atau menguntungkan petani. Nilai NT yang positif (NT>0) menunjukkan tambahan surplus produsen yang disebabkan oleh kebijakan pemerintah terhadap input dan output. Rumus transfer bersih:
NT (L) = D – H Keterangan: D = Keuntungan privat
H = Keuntungan sosial
iii) Koefisien Keuntungan atau Profitability Coefficient (PC)
Koefisien keuntungan adalah perbandingan antara keuntungan bersih yang benar-benar diterima produsen dengan keuntungan bersih sosial. PC
55 menunjukkan pengaruh keseluruhan dari kebijakan yang menyebabkan perbedaan antara keuntungan privat dan sosial. Jika nilai PC>0, maka yang terjadi adalah kebijakan pemerintah membuat keuntungan yang diterima oleh produsen lebih kecil bila dibandingkan tidak ada kebijakan, dan sebaliknya apabila PC bernilai negatif. Koefisien keuntungan dapat dirumuskan:
PC = D
H = Keuntungan privat Keuntungan sosial
iv) Nilai Rasio Subsidi bagi Produsen atau Subsidy Ratio to Producer (SRP) Rasio subsidi produsen menunjukkan tingkat penambahan dan pengurangan penerimaan total karena adanya kebijakan pemerintah. SRP memungkinkan untuk membuat perbandingan antara besarnya subsidi perekonomian bagi sistem komoditi pertanian. SRP yang bernilai negatif (SRP<0) artinya kebijakan pemerintah menyebabkan produsen mengeluarkan biaya produksi lebih besar dari biaya sosial (opportunity cost) untuk berproduksi.
Rumus SRP adalah sebagai berikut:
SRP =
Transfer bersih Penerimaan sosial4.5. Analisis Sensitivitas
Analisis sensitivitas bertujuan menguji hasil analisis suatu aktivitas ekonomi bila terjadi perubahan dalam dasar-dasar perhitungan biaya, baik input maupun output. Dasar-dasar perhitungan tersebut berdasarkan kebijakan-kebijakan pemerintah atau perubahan harga yang diperkirakan akan memengaruhi proses produksi. Analisis sensitivitas yang dilakukan adalah:
56 1. Perubahan terhadap Harga Output
Analisis kepekaan yang pertama adalah perubahan penurunan harga output domestik sebesar 15 persen. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan harga jambu biji terendah di tingkat petani pada saat panen raya. Produktivitas tanaman jambu biji meningkat dan produksi melimpah, sehingga harga jambu biji domestik menurun. Begitu pula dengan harga jambu biji internasional juga mengalami penurunan sebesar 17 persen akibat fluktuasi harga di pasar pelelangan internasional. Perubahan harga output lainnya adalah kenaikan harga jambu biji domestik sebesar 20 persen karena peningkatan kualitas jambu biji melalui penerapan SNI jambu biji.
2. Perubahan terhadap Harga Input
Diasumsikan bila terjadi kenaikan harga eceran tertinggi (HET) pupuk sebesar 10 hingga 15 persen di tahun 2011 (ceteris paribus). Kenaikan HET pupuk bersubsidi ini disebabkan oleh pemerintah mengurangi anggaran subsidi pupuk. Namun harga yang diterima petani biasanya akan lebih tinggi 20 persen dari kenaikan HET tersebut (Kompas, 20 Agustus 2010). Maka sensitivitas yang digunakan sebesar 35 persen.
3. Analisis Sensitivitas Gabungan
Sensitivitas gabungan yang dilakukan adalah apabila terjadi kenaikan harga jambu biji domestik kemudian digabung dengan kebijakan pemerintah berupa penghapusan PPN 10 persen, penambahan anggaran subsidi pupuk, dan peningkatan kualitas jambu biji domestik melalui penerapan SNI jambu biji.
Analisis sensitivitas gabungan lainnya adalah apabila terjadi penurunan harga
57 jambu biji internasional dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
58 V. GAMBARAN UMUM
5.1. Letak Geografis dan Administratif Kota Bogor
Kota Bogor adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Kota ini terletak 54 km sebelah selatan Jakarta, dan wilayahnya berada di tengah-tengah wilayah Kabupaten Bogor. Luasnya 118,5 km², dan jumlah penduduknya 834.000 jiwa (2003). Letak astronomis Kota Bogor yaitu antara antara 106°43‟30”BT - 106°51‟00”BT dan 30‟30”LS – 6°41‟00”LS serta mempunyai ketinggian rata-rata antara 190 hingga 330 meter di atas permukaan laut. Kota Bogor berbatasan dengan kecamatan-kecamatan dari Kabupaten Bogor. Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Sukaraja, Bojonggede, dan Kemang. Bagian Barat berbatasan dengan Kemang dan Dramaga, bagian timur berbatasan dengan Sukaraja dan Ciawi, sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Cijeruk dan Caringin.
Kedudukan geografi Kota Bogor di tengah-tengah wilayah Kabupaten Bogor serta lokasinya yang dekat dengan ibukota negara, Jakarta, membuatnya strategis dalam perkembangan dan pertumbuhan kegiatan ekonomi. Kebun Raya dan Istana Bogor merupakan tujuan wisata yang menarik. Kedudukan Bogor di antara jalur tujuan Puncak/Cianjur juga merupakan potensi strategis bagi pertumbuhan ekonomi.
Kota Bogor terdiri atas 6 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah 68 kelurahan. Kecamatan-kecamatan tersebut adalah Kecamatan Tanah Sareal, Bogor Barat, Bogor Utara, Bogor Timur, Bogor Selatan, dan Bogor Tengah. Bogor dikenal dengan julukan kota hujan, karena terletak pada kaki Gunung Salak dan Gunung Gede sehingga sangat kaya akan hujan orografi. Udaranya relatif sejuk dengan suhu udara rata-rata setiap bulannya adalah 26 °C dan kelembapan udaranya kurang lebih 70 persen. Suhu rata-rata terendah di Bogor adalah
59 21,8 °C, paling sering terjadi pada Bulan Desember dan Januari. Arah mata angin dipengaruhi oleh angin muson. Bulan Mei sampai Maret dipengaruhi angin muson barat. Keunikan iklim lokal ini dimanfaatkan oleh para perencana kolonial Belanda dengan menjadikan Bogor sebagai pusat penelitian botani dan pertanian, yang diteruskan hingga sekarang. Kemiringan Kota Bogor berkisar antara 0–15 persen dan sebagian kecil daerahnya mempunyai kemiringan antara 15–30 persen. Jenis tanah hampir di seluruh wilayah adalah latosol coklat kemerahan dengan kedalaman efektif tanah lebih dari 90 cm dan tekstur tanah yang halus serta bersifat agak peka terhadap erosi.
5.2. Kondisi Wilayah Kecamatan Tanah Sareal
Kecamatan Tanah Sareal terdiri dari 11 desa dengan keterangan luas pada Tabel 8. Diantara 11 desa tersebut, terdapat 4 desa penghasil jambu biji, yaitu Desa Sukaresmi, Desa Kencana, Desa Sukadamai, Desa Mekarwangi, dan Desa Kayumanis. Desa Sukaresmi dan Kencana merupakan penghasil jambu biji terbesar di Kecamatan Tanah Sareal.
Tabel 8. Luas Kelurahan di Kecamatan Tanah Sareal Tahun 2009
No. Kelurahan Luas (km2)
Sumber : Data Monografi Kecamatan Tanah Sareal, 2009
Keadaan tanah di Kecamatan Tanah Sareal bertekstur halus sekitar 1844,37 ha dan bertekstur kasar seluas 39,63 ha. Jenis tanah yang tersebar di
60 Kecamatan Tanah Sareal didominasi oleh tanah latosol cokelat kemerahan (1683,45 ha) dan alluvial kelabu (62,26 ha). Bentuk lahan bervariasi dengan kemiringan datar (lereng 0-2 persen) sekitar 530,85 ha, landai (lereng 2-15 persen) sekitar 1179,91 ha, curam (lereng 25-40 persen) sekitar 31,24 ha. Ketinggian dari permukaan laut antara 0-200 hingga 201-250 mdpl. Tingkat kepekaan tanah terhadap erosi termasuk dalam kategori agak peka dengan erosi. Curah hujan di daerah ini berkisar antara 3500-4000 mm/th hingga 4001-4500 mm/th.
5.3. Karakteristik Petani Responden
Penelitian ini dilakukan di dua desa di Kecamatan Tanah Sareal, yaitu Desa Sukaresmi dan Desa Kencana. Pemilihan desa berdasarkan pertimbangan bahwa Desa Sukaresmi dan Desa Kencana merupakan penghasil utama jambu biji di Kecamatan Tanah Sareal. Responden dalam penelitian ini adalah petani yang mengusahakan agribisnis jambu biji selama tahun 2009. Karakteristik responden diklasifikasikan menurut status kepemilikan lahan, luas lahan, usia, tingkat pendidikan, pengalaman bertani jambu biji. Karakteristik tersebut dianggap penting karena akan memengaruhi pelaksanaan usahatani jambu biji terutama dalam melakukan teknik budidaya jambu biji yang nantinya akan berpengaruh pada produksi yang dihasilkan petani tersebut. Karakteristik responden petani jambu biji dijelaskan pada Tabel 9.
61 Tabel 9. Karakteristik Responden Petani Jambu Biji di Kecamatan Tanah
61 Tabel 9. Karakteristik Responden Petani Jambu Biji di Kecamatan Tanah