II. TINJAUAN PUSTAKA
2.3. Manfaat Tanaman Jambu Biji
Tidak hanya dari sisi ekonomi, jambu biji juga memiliki manfaat lainnya dari mulai buah hingga akar tanaman jambu biji. Berikut adalah beberapa manfaat jambu biji6:
1) Buah jambu biji sebagai makanan buah segar maupun olahan yang mempunyai gizi dan mengandung vitamin A dan vitamin C yang tinggi, dengan kadar gula 8persen. Buahnya mempunyai rasa dan aroma yang khas disebabkan oleh senyawa eugenol.
2) Jambu biji digunakan untuk mencegah penyakit dan menjaga kesehatan.
3) Daun dan akar jambu biji juga dapat digunakan sebagai obat tadisional.
4) Kayu jambu biji dapat dibuat berbagai alat dapur karena memilki kayu yang kuat dan keras.
5) Jambu biji sebagai pohon pembatas di pekarangan dan tanaman hias.
6 http://www.warintek.go.id/ diakses pada 28 Mei 2010
11 2.4. Sentra Penanaman Jambu Biji
Jambu biji dibudidayakan di negara-negara seperti Jepang, Malaysia, Brazilia dan lain-lain. Di Indonesia, Pulau Jawa merupakan sentra penanaman buah jambu terbesar antara lain di DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah DI Yogyakarta, dan Jawa Timur. Sentra produksi yang lain adalah Sumatera dan Kalimantan. Pada tahun-tahun terakhir ini jambu biji telah berkembang dan kemudian muncul jambu Bangkok yang dibudidayakan di kota Kleri, Kabupaten Karawang, Jawa Barat7.
2.5. Syarat Tumbuh
Tanaman jambu biji dapat tumbuh subur apabila didukung oleh keadaan tanah dan iklim yang cocok. Berikut adalah kriteria kondisi tanah dan iklim yang menjadi syarat tumbuh tanaman jambu biji.
2.5.1. Tanah
Terdapat beberapa kriteria kondisi tanah yang cocok untuk penanaman jambu biji agar tanaman jambu biji dapat tumbuh dengan baik8, diantaranya:
1) Kondisi tanah yang subur dan kaya akan unsur hara penting untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan pohon guava (jambu biji). Jenis tanah yang dapat ditanami guava, antara lain andosol, latosol, grumosol, dan tanah berpasir.
2) Tanaman jambu biji tumbuh baik pada ketinggian 1-1200 meter di atas permukaaan laut (mdpl). Ketinggian optimum untuk pohon ini adalah 30-1000 mdpl.
7 http://www.warintek.go.id/ diakses pada 28 Mei 2010
8 http://www.warintek.go.id/ diakses pada 28 Mei 2010
12 3) Kedalaman air tanah yang ideal tidak lebih dalam dari 50-150 cm dari permukaan tanah. Adapun ketinggian air tanah yang cocok sesuai daerah, yaitu ketinggian air tanah di daerah basah 100-200 cm, di daerah setengah basah 50-200 cm, dan di daerah kering 50-150 cm.
4) Pupuk organik merupakan dinamisator, aktivator dan regenerator dalam mempertahankan kualitas dan kesuburan tanah, sehingga kesesuaian unsur hara di dalam tanah seimbang.
5) Derajat keasaman tanah (pH) pada pohon guava yaitu antara 4,5-8,3. Jika pH kurang dari 4,5 perlu dilakukan pengapuran.
6) Tanah dengan kemiringan kurang dari 8 persen dapat ditanami guava dan kecil kemungkinan terjadi erosi. Tanah yang kemiringannya lebih dari 8 persen perlu dibentuk teras atau sengkedan.
2.5.2. Iklim
Selain kondisi tanah, iklim yang cocok juga berperan penting dalam mendukung pertumbuhan tanaman jambu biji. Beberapa kriteria kondisi iklim yang perlu diperhatikan dalam budidaya jambu biji adalah sebagai berikut9: 1) Budidaya tanaman jambu biji memanfaatkan angin dalam penyerbukan,
namun angin yang kencang dapat menyebabkan kerontokan pada bunga.
2) Tanaman jambu biji merupakan tanaman daerah tropis dan dapat tumbuh di daerah sub-tropis dengan intensitas curah hujan yang diperlukan berkisar antara 1000-2000 mm/tahun dan merata sepanjang tahun.
3) Tanaman jambu biji dapat tumbuh berkembang serta berbuah dengan optimal pada suhu sekitar 23-28°C di siang hari. Kekurangan sinar matahari dapat
9 http://www.warintek.go.id/ diakses pada 28 Mei 2010
13 menyebabkan penurunan hasil atau kurang sempurna (kerdil), musim
berbunga yang ideal yaitu pada musim kemarau sekitar bulan Juli - September sedang musim berbuah terjadi bulan November - Februari
bersamaan musim penghujan.
4) Kelembapan udara sekeliling cenderung rendah karena kebanyakan tumbuh di dataran rendah dan sedang. Apabila udara mempunyai kelembapan yang rendah, berarti udara kering karena miskin uap air. Kondisi demikian cocok untuk pertumbuhan tanaman jambu bij.
2.6. Pemeliharaan Tanaman Jambu Biji
Soedaryana (2010) dalam bukunya “Agribisnis Guava (Jambu Batu)”
menuliskan tata cara pemeliharaan tanaman jambu biji yang meliputi pemupukan, penyiangan, penyiraman, pemangkasan, dan penyemprotan pestisida. Menurutnya, petani jambu biji harus mengetahui cara membudidayakan jambu biji secara baik dan benar agar hasil panen dapat meningkat secara kuantitatif maupun kualitatif.
Tata cara pemeliharaan tanaman jambu biji akan dijelaskan sebagai berikut:
1) Pemupukan
Pohon jambu biji memerlukan pupuk yang banyak, khususnya pupuk organik yang berupa pupuk kandang atau pupuk kompos. Pemupukan bertujuan untuk menyuburkan dan menjaga kelembapan tanah. Dosis pupuk yang diperlukan berbeda-beda, bergantung pada tingkat kesuburan dan jenis tanah.
Pemupukan dilakukan dua kali, yaitu pada awal musim hujan dan menjelang musim kemarau dengan dosis meningkat sesuai umur tanaman.
Pada umur 0-1 tahun, pupuk diberikan pada setiap pohon dengan campuran 40 kg pupuk kandang, 50 kg TSP, 100 gram urea. Pada umur 1-3 tahun,
14 pemupukan dilakukan dengan cara yang sama dengan penambahan dosis urea dan TSP menjadi 250 gram/pohon. Pemupukan tanaman jambu biji umur 3 tahun ke atas dilakukan cara yang sama dengan tambahan dosis pupuk kandang sebanyak 50 kg/pohon.
2) Penyiangan
Penyiangan dan pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) bertujuan untuk membersihkan lahan dari tanaman pengganggu atau gulma.
Penyiangan dilakukan sebulan sekali atau setahun 3 kali, sesuai dengan kondisi tanaman pengganggu yang tumbuh. Penyiangan dilakukan dengan cara mengored atau mencabut langsung gulma yang ada. Herbisida disemprotkan pada tanaman jambu biji sebanyak 1,5 liter yang dilarutkan dalam 400-500 liter air untuk tiap hektar.
3) Penyiraman
Penyiraman dilakukan pada saat tanaman guava baru ditanam sampai tanaman kuat mengambil air dari dalam tanah. Selama dua minggu pertama setelah bibit vegetatif ditanam, penyiraman dilakukan dua kali sehari pada pagi dan sore hari. Pada minggu-minggu berikutnya, penyiraman dapat dikurangi menjadi satu kali sehari. Apabila tanah telah cukup air, penyiraman dapat dihentikan beberapa hari hingga tanah memerlukan air lagi.
4) Pemangkasan
Pemangkasan bertujuan membentuk kanopi yang baik, sehingga akan meningkatkan produksi. Pemangkasan dilakukan pada permulaan musim hujan. Tunas yang dipelihara dibiarkan tumbuh selama setahun, kemudian dipangkas dan ditinggalkan 2-3 tunas. Setelah tanaman berumur 2 tahun,
15 ujung-ujung tanaman dipotong dengan tujuan menguatkan cabang yang akan dijadikan batang pokok. Selanjutnya tunas-tunas yang tumbuh tidak beraturan dan tumbuh ke dalam harus dibuang.
5) Penyemprotan Pestisida
Penyemprotan pestisida bertujuan untuk menghindari pertumbuhan penyakit atau hama yang ditimbulkan, baik karena kondisi cuaca atau hewan-hewan perusak, terutama setelah terlihat gejala serangan hama atau penyakit yang membahayakan. Penyemprotan pestisida dilakukan 15-20 hari sebelum pemanenan untuk menghindarkan dari serangan ulat jambu, tikus, atau semut.
2.7. Kebijakan Pemerintah terhadap Jambu Biji
Menghadapi perdagangan bebas antara ASEAN dan China (ACFTA), pemerintah melalukan beberapa upaya untuk meningkatkan daya saing produk pertanian Indonesia baik nasional maupun internasional, salah satunya adalah penerapan SNI untuk produk hortikultura. Rancangan Standar Nasional Indonesia (SNI) jambu biji (Psidium guajava) disusun dengan harapan produk buah jambu biji Indonesia memiliki standar yang dapat diterima pasar global yang pada gilirannya akan meningkatkan daya saing buah jambu biji. Standar ini telah dibahas dalam rapat-rapat teknis dan terakhir dirumuskan dalam rapat konsensus nasional di Bogor pada tanggal 20-21 September 2007 yang dihadiri oleh wakil-wakil dari produsen, konsumen, asosiasi, balai penelitian, perguruan tinggi, serta instansi pemerintah terkait (Road Map Komoditi Unggulan Kota Bogor, 2008).
Kriteria mengenai SNI jambu biji dapat dilihat pada Lampiran 17.
Rancangan penetapan standar kualitas jambu biji ini dibuat berdasarkan kerangka acuan normatif SK Menteri Pertanian No. 516/Kpts/PD.210/10/2003
16 mengenai pelepasan varietas jambu biji, masalah prosedur pengemasan dan kemasannya (CODEX STAN 1-1985 Rev. 2-1999), serta kehigienisan jambu biji (CAC/RCP 1-1969, Rev. 3-1997). Disamping itu pemerintah Kota Bogor merancang kegiatan untuk memfasilitasi program pengembangan usahatani jambu biji (Road Map Komoditi Unggulan Kota Bogor, 2008), yaitu:
1. Pengembangan industri hasil jambu biji skala kecil atau rumah tangga mulai dari pemilihan bahan baku, pengolahan, pengemasan sampai penyimpanan.
2. Proteksi dan promosi hasil produksi jambu biji 3. Pengembangan jaminan mutu hasil produksi 4. Advokasi dan kerja sama institusi
Program pendukung kegiatan pengembangan usahatani jambu biji ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan untuk mengatasi permasalahan pengembangan usahatani saat ini. Beberapa program pendukung adalah: (1) penguatan kelembagaan ekonomi petani (2) mekanisasi kegiatan pasca panen jambu biji untuk mengurangi kerusakan komoditi saat proses pemanenan, meningkatkan mutu, nilai tambah, dan daya saing (3) mengembangkan sarana dan sistem pemasaran diantaranya dengan mengembangkan grading dan packaging house (4) pengembangan pertanian organik dengan menghindari penggunaan pestisida yang berlebihan untuk meningkatkan keamanan pangan dan mempertahankan kesuburan tanah (Road Map Komoditi Unggulan Kota Bogor, 2008).
17 2.8. Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu merupakan penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya yang berkaitan dengan daya saing maupun usahatani jambu biji.
Penelitian terdahulu bertujuan untuk membedakan antara penelitian yang penulis lakukan dengan penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya.
2.8.1. Penelitian Daya Saing
Hidayat (2009) meneliti tentang analisis daya saing dan dampak kebijakan pemerintah terhadap susu kambing di Kabupaten Bogor. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa usahatani susu kambing perah dengan 2 skala usaha (80 ekor dan 400 ekor) di 5 desa di Kebupaten Bogor (Pamijahan, Cikampak, Cinagara, Darmaga, dan Cijeruk) menguntungkan secara finansial dan ekonomi. Secara ekonomi, usahatani susu kambing perah memiliki keunggulan komparatif, sedangkan untuk keunggulan kompetitif, usahatani susu kambing perah pada skala usaha 80 ekor lebih besar dibanding usahatani pada skala 400 ekor. Kebijakan pemerintah mengakibatkan keuntungan yang diterima produsen lebih rendah jika dibandingkan tanpa adanya kebijakan. Hasil analisis perubahan kebijakan menunjukkan bahwa terjadinya penurunan harga output, peningkatan biaya produksi dan penurunan produksi yang dilakukan baik secara parsial maupun gabungan menyebabkan tingkat keuntungan semakin kecil dan nilai PCR dan DRC yang semakin besar mendekati 1. Namun, perubahan tersebut tidak sampai mengubah keuntungan menjadi negatif (rugi) maupun mengubah keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif menjadi tidak berdaya saing.
Penelitian tentang Daya Saing Buah-buahan Tropis Indonesia di Pasar Dunia dilakukan oleh Siregar (2010) dengan analisis Revealed Comparative
18 Advantage (RCA), estimasi Export Product Dynamic (EPD) dan Constant Market Share Analysis (CMS). Berdasarkan hasil RCA, pisang, nanas, alpukat, jeruk, dan pepaya Indonesia selama periode 2001 – 2008 tidak memiliki keunggulan komparatif di pasar dunia. Sedangkan jambu biji, mangga dan manggis memiliki keunggulan komparatif pada tahun 2001 – 2005, namun nilai RCAnya menurun pada tahun 2006 – 2008 sehingga jambu biji, mangga dan manggis tidak lagi memiliki keunggulan komparatif di pasar dunia. Kemudian hasil dari estimasi EPD selama periode 2001 – 2008, pisang berada pada posisi daya saing “Falling Star”, nanas berada pada posisi “Lost Opportunity”, alpukat berada pada posisi daya saing “Rising Star” dan jambu biji, mangga, manggis, jeruk, dan pepaya berada pada posisi “Retreat”. Selanjutnya berdasarkan CMS, pertumbuhan pisang, alpukat, dan jambu biji, mangga, manggis paling banyak disebabkan oleh efek komposisi komoditi, sedangkan pertumbuhan nilai ekspor alpukat lebih banyak disebabkan oleh efek daya saing (competitiveness effect).
2.8.2. Penelitian Usahatani Jambu Biji
Ada beberapa penelitian tentang usahatani jambu biji yang dilakukan di beberapa daerah, diantaranya penelitian yang dilakukan oleh Hidayat (2010) mengenai Analisis Pendapatan Usahatani Jambu Biji Getas Merah di Kelurahan Sukaresmi dengan membedakan petani pemilik lahan dan petani penyewa lahan.
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa pendapatan atas biaya tunai per Ha per tahun yang diterima petani pemilik lahan lebih besar daripada pendapatan atas biaya tunai per Ha per tahun yang diterima petani penyewa lahan. Namun jika dilihat berdasarkan pendapatan atas biaya total maka pendapatan atas biaya total per Ha per tahun yang diterima petani pemilik lahan lebih kecil daripada
19 pendapatan atas biaya total per Ha per tahun yang diterima petani penyewa lahan.
Kemudian saluran tataniaga jambu getas merah di Kelurahan Sukaresmi yang dapat dikatakan efisien adalah saluran tataniaga III, yaitu dari pedagang pengumpul I dan pedagang grosir, karena memiliki total margin tataniaga yang terkecil, nilai farmer’s share terbesar. Alasan lainnya adalah karena penyebaran rasio pada setiap lembaga tataniaga yang terdapat pada saluran tataniaga III lebih merata dibandingkan dengan saluran tataniaga lainnya. Disamping itu saluran tataniaga III paling banyak digunakan oleh petani sehingga volume penditribusian jambu getas merah paling banyak dilakukan melalui saluran III.
Penelitian lain mengenai jambu biji dilakukan oleh Dhikawara (2009), yaitu Analisis Kelayakan Finansial Usahatani Jambu Biji Melalui Penerapan Irigasi Tetes di Desa Ragajaya Kecamatan Bojong Gede, Kabupaten Bogor.
Dhikawara menganalisis perbedaan kelayakan usahatani jambu biji yang menggunakan irigasi tetes dengan usahatani jambu biji yang menggunakan sistem irigasi tadah hujan. Dikatakan dalam penelitian ini bahwa usahatani jambu biji merah yang dilakukan petani dengan irigasi tetes sangat peka terhadap perubahan penurunan harga hingga 15 persen pada tingkat suku bunga diskonto 11 persen yaitu sebesar Rp 358.838.843 atau 165,72 persen dibandingkan nilai NPV pada kondisi yang sama dengan pengairan tadah hujan. Begitu pula dengan net B/C pada usahatani jambu biji irigasi tetes lebih besar 2,8 satuan atau 62,22persen dan IRR lebih besar 22,28 persen dibandingkan usahatani jambu biji dengan tadah hujan. Akibat dari pemanfaatan irigasi tetes, waktu pengembalian investasi lebih cepat 1 tahun 9 bulan. Dapat disimpulkan usahatani jambu biji dengan irigasi tetes lebih menguntungkan dibandingkan usahatani jambu biji dengan tadah hujan.
20 III. KERANGKA PEMIKIRAN
3.1. Kerangka Teoritis
Kerangka teoritis berisi teori-teori dan konsep yang berkaitan dengan penelitian analisis keunggulan komparatif dan kompetitif usahatani jambu biji.
kerangka teoritis terdiri dari konsep daya saing, keunggulan komparatif, keunggulan kompetitif, dampak kebijakan pemerintah, dan matriks analisis kebijakan.
3.1.1. Konsep Daya Saing
Daya saing merupakan suatu konsep yang menyatakan kemampuan suatu produsen untuk memproduksi suatu komoditi dengan mutu yang cukup baik dan biaya produksi yang cukup rendah, sehingga pada harga-harga yang terjadi di pasar internasional, komoditi tersebut diproduksi dan dipasarkan oleh produsen dengan memperoleh laba yang mencukupi, sehingga dapat mempertahankan kelanjutan biaya produksinya (Simanjuntak,1992). Konsep daya saing berawal dari pemikiran Adam Smith dengan teori keunggulan absolut. Teori tersebut menjelaskan bahwa apabila suatu negara memproduksi suatu komoditi lebih efisien dan kurang efisien dalam memproduksi komoditi kedua (alternatif) dari negara lainnya, maka keuntungan dapat diperoleh dengan melakukan spesialisasi dalam meproduksi komoditi unggulan tersebut. Teori Adam Smith tersebut diperluas oleh David Ricardo yang dipopulerkan melalui bukunya Principles of Political Economy and Taxation, yaitu teori keunggulan komparatif (Hadi, 2004).
3.1.2. Keunggulan Komparatif
David Ricardo pertama kali memperkenalkan konsep keunggulan komparatif pada awal abad ke 19 dengan hukum keunggulan komparatif yang
21 menyatakan bahwa setiap negara memiliki keunggulan komparatif dalam sesuatu dan memperoleh manfaat dengan memperdagangkannya untuk ditukar dengan barang lain (Lindert dan Kindleberger, 1995). Sementara Hadi (2004) mengemukakan bahwa menurut teori keunggulan komparatif berdasarkan faktor efisiensi tenaga kerja, suatu negara akan memperoleh manfaat perdagangan internasional jika melakukan spesialisasi produksi dan mengimpor barang di mana negara tersebut relatif kurang efisien dalam berproduksi. Heckscher-Ohlin kemudian mengembangkan teori keunggulan komparatif Ricardo dengan menyatakan bahwa negara-negara mengekspor barang-barang yang menggunakan faktor produksi yang melimpah secara intensif dan mengimpor barang-barang yang menggunakan faktor produksi yang langka secara intensif. Biaya untuk faktor-faktor produksi diterangkan dengan Teori Biaya Alternatif (Opportunity Cost Theory), bahwa biaya dari suatu komoditi adalah jumlah komoditi kedua yang harus dikorbankan agar diperoleh faktor-faktor produksi atau sumber produksi yang memadai untuk menghasilkan satu unit tambahan dari komoditi pertama. Suatu negara dikatakan mempunyai keunggulan komparatif dalam suatu komoditi bila biaya alternatif yang dikeluarkan lebih rendah dari biaya untuk komoditi lain. Menurut teori Heckscher-Ohlin, perbedaan opportunity cost suatu produk antara satu negara dengan negara lain dapat terjadi karena adanya perbedaan jumlah atau proporsi faktor produksi yang dimiliki masing-masing negara (Hadi, 2004).
Schydlowsky (1984) dalam Aulinuriman (1998) menyebutkan beberapa faktor yang memengaruhi keunggulan komparatif, diantaranya:
22 1) Perubahan keadaan ekonomi dunia
Dilihat dari sisi keunggulan komparatif, tingkat harga yang terjadi adalah apabila suatu negara dapat membeli atau menjual pada pasaran dunia. Harga-harga ini akan berubah setiap waktu dan tempat selain pengaruh inflasi dunia.
Perubahan harga dunia merupakan unsur penting dalam perubahan keunggulan komparatif.
2) Lingkungan domestik
Salah satu unsur yang terpenting dari keunggulan komparatif adalah biaya faktor produksi. Biaya tidak mungkin tetap setiap waktu. Mulai dari perubahan sumberdaya yang ada, misalnya proses kenaikan penyimpanan modal fisik dan manusia, proses reproduksi yang mengubah persediaan tenaga kerja dan kemudian memengaruhi perhitungan harga bayangan. Harga bayangan merupakan bagian dari faktor domestik yang hakikatnya merupakan komponen yang dinamis dari keunggulan komparatif.
3) Perubahan teknologi dan efisiensi dalam transportasi
Perubahan teknologi setiap saat akan berpengaruh pada penggunaan input dalam usaha menghasilkan suatu output. Keadaan ini akan mengubah penggunaan biaya sumberdaya domestik dalam aktivitas tersebut. Teknologi yang lebih tinggi akan menghemat dalam penggunaan faktor domestik. Selain itu biaya transportasi yang efisien juga berpengaruh dalam biaya yang digunakan.
3.1.3. Keunggulan Kompetitif
Keunggulan kompetitif merupakan ukuran daya saing suatu komoditi pada kondisi harga aktualnya (harga pasar), yaitu tingkat harga yang dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah. Warr (1994) dalam Aulinuriman (1998) menerangkan
23 bahwa konsep keunggulan kompetitif bukan merupakan konsep yang sifatnya menggantikan konsep keunggulan komparatif, tetapi merupakan konsep yang sifatnya melengkapi. Keunggulan kompetitif dapat diartikan sebagai keunggulan komparatif dengan distorsi pasar yaitu adanya sistem pemasaran dan intervensi pemerintah. Apabila keunggulan komparatif merupakan ukuran daya saing yang relevan bagi suatu negara, maka keunggulan kompetitif merupakan ukuran daya saing untuk suatu perusahaan individu.
Teori keunggulam kompetitif dikembangkan pertama kali oleh Porter (1990) sebagai perluasan dari teori keunggulan komparatif. Menurut Porter keunggulan kompetitif tidak bergantung pada kondisi alam suatu negara, namun lebih ditekankan pada produktivitas. Porter menyebutkan bahwa peran pemerintah sangat penting dalan peningkatan daya saing selain faktor produksi (Lindert dan Kindleberger, 1995). Keunggulan dapat diciptakan antara lain melalui implementasi kebijakan pemerintah.
3.1.4. Kebijakan Pemerintah
Kebijakan pemerintah bertujuan meningkatkan ekspor ataupun sebagai usaha untuk melindungi produk dalam negeri agar dapat bersaing dengan produk luar negeri. Kebijakan tersebut biasanya diberlakukan terhadap input dan output yang menyebabkan terjadinya perbedaan antara harga input dan output yang diminta produsen (harga privat) dengan harga yang sebenarnya terjadi jika dalam keadaan perdagangan bebas (harga sosial) (Hidayat, 2009). Ada dua bentuk kebijakan pemerintah yang bisa diterapkan pada suatu komoditi, yaitu subsidi dan hambatan perdagangan. Kebijakan subsidi dibedakan menjadi dua, yaitu subsidi
24 positif dan subsidi negatif (pajak),sedangkan hambatan perdagangan berupa tarif dan kuota.
Monke dan Pearson (1989) menjelaskan tentang kebijakan harga (price policies) dibagi menjadi tiga tipe kriteria, yaitu tipe instrumen (subsidi atau kebijakan perdagangan), penerimaan atau keuntungan yang akan diperoleh (produsen dan konsumen), dan tipe komoditi (impor atau ekspor).
Tabel 5. Klasifikasi Kebijakan Pemerintah terhadap Harga Komoditi
Instrumen Dampak pada
(mengubah harga pasar dalam negeri)
PE : Produsen barang orientasi ekspor PI : Produsen barang substitusi impor CE : Konsumen barang orientasi ekspor CI : Konsumen barang substitusi impor TCE : Hambatan barang ekspor
TPI : Hambatan barang impor Sumber : Monke dan Pearson, 1989
1) Tipe Instrumen
Pada kriteria ini terdapat perbedaan antara kebijakan subsidi dan kebijakan perdagangan. Menurut Salvatore (1997), subsidi adalah pembayaran dari atau untuk pemerintah. Kebijakan subsidi dibedakan menjadi subsidi positif dan subsidi negatif. Subsidi positif adalah subsidi yang dibayarkan oleh pemerintah, sedangkan subsidi negatif yaitu pembayaran kepada pemerintah yang biasanya
25 berbentuk pajak. Kebijakan subsidi bertujuan untuk melindungi konsumen dan produsen dengan menciptakan harga domestik agar berbeda dengan harga luar negeri.
Kebijakan perdagangan adalah pembatasan yang diterapkan pada impor atau ekspor komoditi (Monke dan Pearson, 1989). Kebijakan perdagangan bisa berbentuk pajak (tarif) atau pembatasan jumlah komoditi yang diperdagangkan (kuota). Tujuan diterapkan kebijakan perdagangan adalah untuk mengurangi jumlah komoditi impor komoditi yang diperdagangkan dan menciptakan perbedaan harga di dalam dan luar negeri sehingga dapat mempertahankan daya saing komoditi di dalam negeri. Kebijakan perdagangan umumnya untuk melindungi produsen domestik.
Monke dan Pearson (1989) menjelaskan perbedaan antara kebijakan perdagangan dengan kebijakan subsidi yang dibagi ke dalam beberapa aspek, yaitu:
A. Implikasi terhadap Anggaran Pemerintah
Monke dan Pearson (1989) menerangkan bahwa kebijakan perdagangan tidak akan berpengaruh pada anggaran pemerintah, sebaliknya kebijakan subsidi akan memengaruhi anggaran pemerintah. Subsidi negatif akan menambah anggaran pemerintah sedangkan subsidi positif justru akan mengurangi anggaran pemerintah.
B. Tipe Alternatif Kebijakan
Ada delapan tipe alternatif kebijakan perdagangan yang dilakukan pemerintah pada barang orientasi ekspor dan barang substitusi impor yang dapat dijelaskan dari Tabel 5, yaitu:
26 (a) Subsidi positif kepada produsen barang substitusi impor (S+PI)
(b) Subsidi positif kepada produsen barang orientasi ekspor (S+PE) (c) Subsidi negatif kepada produsen barang substitusi impor (S-PI) (d) Subsidi negatif kepada produsen barang orientasi ekspor (S-PE) (e) Subsidi positif kepada konsumen barang substitusi impor (S+CI) (f) Subsidi positif kepada konsumen barang orientasi ekspor (S+CE) (g) Subsidi negatif kepada konsumen barang substitusi impor (S-CI) (h) Subsidi negatif kepada konsumen barang orientasi ekspor (S-CE)
Subsidi positif yang dikenakan pada produsen maupun konsumen akan menyebabkan harga yang diterima produsen menjadi lebih tinggi dan lebih rendah bagi konsumen. Subsidi negatif seperti pajak akan menyebabkan harga yang diterima produsen lebih rendah dan membuat harga yang diterima oleh konsumen menjadi lebih tinggi.
Kebijakan perdagangan terdapat dua tipe, yaitu hambatan perdagangan
Kebijakan perdagangan terdapat dua tipe, yaitu hambatan perdagangan