• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Statistik Deskriptif

Dalam dokumen SKRIPSI. Oleh RESKI NUR AULIA (Halaman 61-83)

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian

1. Analisis Statistik Deskriptif

Analisis statistik deskriptif terdapat dua data yang akan dianalisis, yaitu kemampuan siswa menulis teks negosiasi sebelum dan sesudah diberi perlakuan menggunakan model pembelajaran Numbered Head Together(NHT). Penjabarannya sebagai berikut:

a. Kemampuan Menulis Teks Negosiasi Sebelum Menggunakan Model Pembelajaran Numbered Head Together (NHT) Siswa Kelas X.A SMA Saribuana Makassar.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti di SMA Saribuana Makassar dengan memperoleh data-data yang dikumpulkan melalui instrumen tes sehingga dapat diketahui kemampuan menulis siswa sebelum menggunakan model pembelajaran Numbered Head Together

(NHT).Berikut ini adalah nilai-nilainya.

Tabel 4.1 Perhitungan untuk Mencari Mean (rata-rata) Nilai Pre-test

N

Sumber : (Data Sekunder SMA Saribuana Makassar)

Berdasarkan hasil data di atas dapat diketahui bahwa nilai dari

∑ , sedangkan nilai dari N adalah 30. Untuk mengetahui nilai

rata-rata siswa menulis teks negosiasi sebelum menggunakan model pembelajaran Numbered Head Together (NHT) dapat dihitung dengan rumus berikut ini.

=

= 52,16

Jadi, nilai rata-rata kemampuan menulis teks negosiasi siswa sebelum menggunakan model pembelajaran Numbered Head Together adalah52,16. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, uraian berikut akan mengklasifikasikan kemampuan menulis teks negosiasi siswa kelas X.A SMA Saribuana Makassar (pre-test). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 4.2 berikut ini.

Tabel 4.2 Klasifikasi Nilai Kemampuan Menulis Teks Negosiasi Sebelum Menggunakan Model Pembelajaran Numbered Head Together Siswa kelas X.A SMA Saribuana Makassar.

No. Rentang

Nilai Frekuensi Persentase Kategori

1 0-59 13 43,33 % Sangat Rendah

Sumber : (Data Sekunder SMA Saribuana Makassar)

Berdasarkan Tabel 4.2 bahwa nilai yang diperoleh siswa bervariasi.Tidak ada siswa yang mendapat nilai 90-100, nilai 80-89, nilai 75-79. Nilai 60-74 pada kategori rendah diperoleh 17 siswa dengan

persentase 56,66 %.Nilai 0-59 pada kategori sangat rendah diperoleh 13 siswa dengan persentase43,33%.

Berdasarkan hasil perhitungan di atas dapat disimpulkan bahwa secara umum hasil belajar siswa kelas X.A SMA Saribuana Makassar sebelum menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together berada pada kategori sangat rendah dan rendah, hal ini dapat ditunjukkan dari kategori sangat rendah 56,66% dan kategori rendah 43,33% dari 30 siswa.

Tabel 4.3 Deskripsi Ketuntasan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Skor Kategorisasi Frekuensi Persentase

0≤ x ≤74 Tidak Tuntas 30 100 %

≥ 75 x ≥ 100 Tuntas - 0 %

Jumlah 30 100%

Sumber : (Data Sekunder SMA Saribuana Makassar)

Berdasarkan Tabel 4.3 dapat dikaitkan dengan indikator kriteria ketuntasan hasil belajar siswa yang ditentukan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud) siswa yang berada pada kategori tidak tuntas, yaitu 30 orang dan pada kategori tuntas tidak ada satupun siswa yang memperoleh kategori tersebut. Jadi, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa kelas X.A SMA Saribuana Makassar belum memenuhi kriteria ketuntasan hasil belajar.

Selain perhitungan di atas, adapun kemampuan menulis teks negosiasi sebelum menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe

Numbered Head Together ( NHT) setiap aspek dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 4.4 Frekuensi dan Persentase Nilai Setiap Aspek Menulis Teks Negosiasi Sebelum Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together (NHT) Siswa Kelas X.A SMA Saribuana Makassar.

No. Nilai Isi Struktur Kosa Kata Ejaan dengan nilai tertinggi 5 diperoleh 5 siswa (16,66%), nilai 4 diperoleh 6siswa (20%), nilai 3 diperoleh 5 siswa (16,66%), nilai 2 diperoleh 10 siswa (33,33%), dan nilai 1 diperoleh 4 siswa (13,33%). Jadi, nilai rata-rata siswa pada aspek struktur adalah 2,93. Aspek ketiga, yaitu kosa kata dengan nilai tertinggi 5 diperoleh 1 siswa (3,33%), nilai 4 diperoleh 3 siswa (10%), nilai

3 diperoleh 5 siswa (16,66%), nilai 2 diperoleh 12 siswa (40%), dan nilai 1 diperoleh 9 siswa (30%). Jadi, nilai rata-ratanya adalah 2,16. Aspek yang terakhir adalah aspek ejaan dengan nilai tertinggi 4 diperoleh 2 siswa (6,66%) dan nilai 3 diperoleh 5 siswa (16,66%), nilai 2 diperoleh 8 siswa (26,66%), dan nilai 1 diperoleh 15 siswa (50%). Jadi, nilai rata-ratanya tersebut adalah 1,8.

b. Kemampuan Menulis Teks Negosiasi Sesudah Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together (NHT) Siswa Kelas X.A SMA Saribuana Makassar.

Berdasarkan hasil dari prestest dapat dilihat bahwa kemampuan siswa menulis teks negosiasi masih sangat kurang dan hal ini perlu diberi suatu perlakuan (treatment), yaitu teknik pembelajaran yang merupakan siasat atau cara yang dilakukan dalam proses pembelajaran untuk dapat memeroleh hasil yang optimal. Setelah beberapa kali pertemuan dan diberi perlakuan berupa model pembelajaran kooperatif tipe numbered head together (NHT). Model tersebut memberi perubahan terhadap Siswa Kelas X SMA Saribuana Makassar.Perubahan tersebut dapat dilihat dengan data-data yang telah diperoleh setelah diberikan tes akhir (posttest). Data hasil belajar kemampuan menulis teks negosiasi siswa setelah diberikan perlakuan, model pembelajaran Numbered Head Together, untuk mencari mean (rata-rata) nilai posttest dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 4.5 Perhitungan untuk Mencari Mean (Rata-rata) Nilai Post- test

N

Sumber : (Data Sekunder SMA Saribuana Makassar)

Berdasarkan hasil data di atas dapat diketahui bahwa nilai dari

∑ , sedangkan nilai dari N adalah 30. Untuk mengetahui nilai rata-rata siswa menulis teks negosiasi sesudah menggunakan model pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together dapat dihitung dengan rumus berikut ini.

=

= 74,33

Jadi, nilai rata-rata kemampuan menulis teks negosiasi siswa sesudah menggunakan model pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Togetheradalah 74,33. Dari hasil analisis data tersebut, uraian berikut akan mengklasifikasikan kemampuan menulis teks negosiasi siswa kelas X.A SMA Saribuana Makassar (post-test). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 4.6 berikut ini.

Tabel 4.6 Klasifikasi Nilai Kemampuan Menulis Teks Negosiasi Sesudah Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together(NHT) Siswa Kelas X.A SMA Saribuana Makassar.

No. Rentang

Nilai Frekuensi Persentase Kategori

1 0-59 - 0 % Sangat Rendah

Sumber : (Data Sekunder SMA Saribuana Makassar)

Berdasarkan Tabel 4.6 bahwa nilai yang diperoleh siswa berbeda-beda. Tidak ada siswa yang mendapat nilai 90-100, nilai 80-89 kategori tinggi diperoleh 10 siswa dengan persentase 33,33%, nilai 75-79 kategori sedang diperoleh 10 siswa dengan persentase 33,33% dan nilai 60-74 kategori rendah diperoleh 10 siswa dengan persentase 33,33 %. Nilai 0-59pada kategori sangat rendah tidak ada siswa yang berada pada ketegori tersebut dengan persantase 0%.

Berdasarkan hasil perhitungan di atas disimpulkan bahwa secara umum hasil belajar siswa kelas X.A SMA Saribuana Makassar sesudah menggunakan model pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together (NHT) berada pada kategorirendah, sedang dan tinggi, hal ini dapat ditunjukkan dari kategori rendah 33,33%, kategori sedang 33,33%

dan kategori tinggi 33,33% dari 30 siswa.

Tabel 4.7 Deskripsi Ketuntasan Hasil Belajar Bahasa Indonesia

Skor Kategorisasi Frekuensi Persentase

0≤ x ≤74 Tidak Tuntas 10 33,33%

≥ 75 x ≥ 100 Tuntas 20 66,66%

Jumlah 30 100%

Sumber : (Data Sekunder SMA Saribuana Makassar)

Berdasarkan Tabel 4.7 dapat dikaitkan dengan indikator kriteria ketuntasan hasil belajar siswa yang ditentukan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud), siswa yang berada pada kategori tidak tuntas sebanyak 10 orang dan yang berada pada kategori tuntas sebanyak 20 orang, hal ini menunjukkan siswa yang mencapai atau melebihi nilai KKM (75), 20 siswa dan yang tidak tuntas sebanyak 10 siswa. Jadi, disimpulkan bahwa hasil belajar siswa kelas X.A SMA Saribuana Makassar telah memenuhi kriteria ketuntasan hasil belajar, yaitu 66,66%.

Selain perhitungan di atas, berikut tabel setiap aspek pada kemampuan menulis teks negosiasi sesudah menggunakan model pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered head Together (NHT) Siswa Kelas X.A SMA Saribuana Makassar.

Tabel 4.8 Frekuensi dan Persentase Nilai Setiap Aspek Menulis Teks Negosiasi Sesudah Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together Kelas X.A SMA

Keterangan:

F : Frekuensi

% : Persentase

Berdasarkan Tabel 4.8 dapat diketahui bahwa pada aspek pertama, yaitu aspek isi dengan nilai tertinggi 5 diperoleh 19 siswa (63,33%), nilai 4 diperoleh 10 siswa (33,33%), dan nilai 2 diperoleh 1 siswa (3,33%). Jadi,nilai rata-rata siswa pada aspek isi adalah 4,56. Aspek kedua, yaitu struktur dengan nilai tertinggi 5 diperoleh 14 siswa (46,66%), nilai 4 diperoleh 11 siswa (36,66%), dan nilai 3 diperoleh 5 siswa (16,66%). Jadi, nilai rata-rata siswa pada aspek struktur adalah 4,3.Aspek ketiga, kosa kata dengan nilai tertinggi 5 diperoleh 5 siswa (16,66%), nilai 4 diperoleh 8 siswa (26,66%), nilai 3 diperoleh 14 siswa (46,66%) dan nilai 2 diperoleh 3 siswa (10%). Jadi, nilai rata-ratanya adalah 3,5. Aspek yang terakhir adalah aspek ejaan dengan nilai tertinggi 4 diperoleh 3 siswa (10%), nilai 3 diperoleh 10 siswa (33,33%), nilai 2 diperoleh 12 siswa (40%), dan nilai 1 diperoleh 5 siswa (16,66%). Jadi, nilai rata-rata aspek tersebut adalah 2,36.

2. Analisis Statistik Inferensial

Berdasarkan dengan hipotesis penelitian yang telah ditentukan oleh peneliti, yaitu “Apakah model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together efektif digunakan dalam keterampilan menulis teks negosiasi kelas X.A SMA Saribuana Makassar?”.Adapun teknik yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah teknik Statistik Inferensial dengan menggunakan uji-t.

Tabel 4.9 Deskripsi Hasil Statistik Inferensial

Sumber : (Data Sekunder SMA Saribuana Makassar)

Adapun langkah-langkah dalam pengujian hipotesis adalah sebagai berikut.

Langkah-langkah dalam pengujian hipotesis adalah sebagai berikut.

a. Mencari Nilai “Md” dengan menggunakan rumus:

Md =

=

= 22,16 Keterangan:

Md = Mean dari perbedaan pre-test dengan post-test

= Jumlah dari gain (post-test – pre-test) N = Subjek pada sampel.

c. Menentukan Nilai t Hitung dengan menggunakan rumus:

t =

N = Subjek pada sampel

d. Menentukan aturan pengambilan keputusan atau kriteria yang signifikan Kaidah pengujian signifikan :

Jika t Hitung> t Tabel maka Ho ditolak dan H1 diterima, berarti model pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together (NHT) efektif digunakan pada kemampuan menulis teks negosiasi kelas X.A SMA Saribuana Makassar.

Jika t Hitung < t Tabel maka Ho diterima dan H1 ditolak, berarti model pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together (NHT) tidak efektif digunakan pada kemampuan menulis teks negosiasi kelas X.A SMA Saribuana Makassar.

e. Menentukan nilai t Tabel

Untuk mencari t tabel penelitian menggunakan tabel distribusi t dengan taraf signifikan α = 0,05 dan d b = N-1, 30-1 =29 maka diperoleh t 0,05 = 1,698.

Setelah diperoleh t hitung = dan t tabel=1,698, maka diperoleh thitung> t tabel atau 13,19>1,698. Sehingga dapat disimpulkan bahwa H0

ditolak dan Ha diterima.Maka peneliti dapat menyimpulkan bahwa model pembelajaran Koooperatif Tipe Numbered Head Together (NHT) efektif digunakan terhadap kemampuan menulis teks negosiasi siswa kelas X.A SMA Saribuana Makassar.

Keterangan:

Mencari t Tabel dengan menggunakan tabel distribusi t dengan taraf signifikan .

Untuk keperluan pengujian hipotesis di atas maka digunakan uji pihak kanan. Kriteria pengujian adalah Ho diterima jika thitung ≤ ttabel dan Ho ditolak jika thitung ˃ ttabel dan Ha diterima

B. Pembahasan

Penelitian ini dilakukan di SMA Saribuana Makassar.Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X.A Sampel data penelitian ini adalah Kelas XAberjumlah 30 siswa. Penelitian ini hanya menggunakan satu kelas tanpa adanya kelas pembanding dengan cara memberikan tugas pre-test dan tugas post-test. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui keefektifan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) terhadap kemampuan menulis teks negosiasi pada siswa.

Hasil Penelitian ini berkaitan dengan pendapat Komalasari (2010: 62) mengemukakan bahwa NHT merupakan model pembelajaran di mana setiap siswa di beri nomor dan dibuat kelompok yang kemudian secara acak guru memanggil nomor dari siswa. Selain itu, pembelajaran kooperatif tipe NHT merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasan akademik.Dengan ciri-ciri khusus pembelajaran kelompok melalui penyelesaian tugas dengan saling membagi ide/gagasan.Setiap kelompok harus memastikan bahwa anggotanya memahami dan menguasai tugas, sehingga semua siswa memahami konsep secara seksama.Model pembelajaran ini mengakomodasikan peningkatan intensitas diskusi antar kelompok, kebersamaan, kolaborasi dan kualitas interaksi dalam kelompok, serta memudahkan penilaian.

Penelitian diawali dengan adanya prettest dan posttest. Pada prettest mendapat pembelajaran menulis teks negosiasi tanpa menggunakan model pembelajaran Numbered Head Together (NHT). Pembelajaran pada perlakuan prettest memiliki lima tahapan. Pertama, guru menyampaikan materi yang akan dipelajari. Kedua, guru memberikan gambaran pembelajaran yang akan dilakukan.

Ketiga, guru memberikan penjelasan mengenai pengertian negosiasi, struktur, dan ciri-ciri teks negosiasi. Keempat, siswa menulis teks negosiasi dengan tema bebas.

Pada tahapan menulis, siswa diperintahkan untuk langsung menulis teks negosiasi, tanpa ada perlakuan menggunakan model Numbered Head Together.

Kemudian kelima, siswa mengumpulkan tugas menulis kepada guru.

Setelah perlakuan pretest berlangsung, maka selanjutnya perakuan posttest, dalam perlakuan posttest mendapatkan pembelajaran menulis teks negosiasi menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together.

Pembelajaran pada perlakuan posttest memiliki tujuh tahapan. Pertama, guru menyampaikan materi yang akan dipelajari. Kedua, guru memberikan gambaran pembelajaran yang akan dilakukan. Ketiga, guru memberikan penjelasan mengenai pengertian, struktur, serta ciri-ciri teks negosiasi.Keempat, guru memberikan penjelasan mengenai model pembelajaran koooperatif tipe Numbered Head Together.Kelima, menerapkan model pembelajaran tersebut.Keenam, siswa menulis teks negosiasi menggunakan modelp pembelajaran Numbered Head Together. Kemudian tahap ketujuh, siswa mengumpulkan tugas menulis teks negosiasi kepada guru.

Tahapan menulis teks negosiasi dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) pada posttest dilakukan dengan enam langkah.Pertama guru membagikan kelompok kepada siswa yang terdiri dari 6 kelompok yang beranggotakan 5 orang. Kedua, Guru memberi nomor

kepada setiap siswa dalam kelompok dan nama kelompok yang berbeda dan memberkan lembar kerja setiap siswa untuk pertanyaan yang akan diberikan.

Pertanyaan dapat bervariasi, dari yang bersifat spesifik sampai yang bersifat umum. Ketiga,guru menyebut satu nomor dan para siswa dari tiap kelompok dengan nomor yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban kepada siswa di kelas. Keempat, siswa membacakan hasil dari pekerjaan kelompok, dan mendiskusikan apa yang salah dari lembar jawabannya bersama teman kelompok lainnya. Kelima, Guru bersama siswa menyimpulkan jawaban akhir dari semua pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang disajikan. Keenam, siswa mengumpulkan tugas kelompoknya pada guru.

Berdasarkan dari hasil analisis data pre-test dan post-test bahwa nilai rata-rata kemampuan menulis teks negosiasi siswa sebelum menggunakan model pembelajaran Cooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) adalah 52,16 sedangkan nilai rata-rata kemampuan menulis teks negosiasi siswa sesudah menggunakan model pembelajaran Cooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) adalah 74,33. Jadi, dapat dilihat hasil belajar menulis teks negosiasi siswa efektif sesudah menggunakan model pembelajaran Cooperatif tipe Numbered Head Together (NHT).

Persentase dari hasil pre-test tiap kategori, yaitu sangat rendah 43,33 % dari rentang nilai 0-59 dengan frekuensi 13, rendah 56,66 % dari rentang nilai 60-74 dengan frekuensi 17, sedang 0 %, tinggi 0 % dan sangat tinggi 0 % dari jumlah 30 siswa. Sedangkan, hasil post-test menunjukkan persentase tiap kategori, yaitu kategori sangat rendah 0%, rendah 33,33 %, sedang 33,33 %, tinggi 33,33 % dan sangat tinggi 0%.dari kategori yang sama-sama memiliki persentase 33,33%

dengan masing-masing frekuensi 10. Memiliki penilaian aspek menulis teks negosiasi yang berbeda, diantaranya dari 10 siswa dengan persentase 33,33% nilai 60-74 kategori rendah terbagi lagi menjadi beberapa penilaian, yaitu 5 siswa yang memiliki nilai kosa kata yang tingkatnya cukup dengan rentang skor 2 yaitu kosakata dengan tulisan terbatas dan kurang efektif, kurang menguasai, sedangkan 5 siswa lainnya memperoleh rentang skor 5 dengan tingkatan amat baik dalam aspek penilaian struktur, rapi teratur dan amat jelas pada penulisan teks negosiasi.

Contoh salah satu hasil penulisan teks negosiasi siswa, yaitu :

“Pembeli : Mas, Saya mau beli kue ulang tahun apakah disini ada?”

“Ilham : Ada, ini mas, ada beberapa pilihan rasa.”

“Pembeli : Berapa harganya untuk yang rasa coklat?”

“Ilham : Semua rasa harganya sama rp.70.000.”

“Pembeli : Harganya boleh kurang tidak mas?”

“Ilham : Boleh, paling pasnya rp.60.000.”

“Pembeli : Boleh dikurangi lagi mas?”

“Ilham : Harga segitu rasanya sudah cukup nak.”

“Pembeli : Baiklah. Saya beli.”

Selanjutnya 10 siswa dengan persentase 33,33% nilai 75-70 kategori sedang. Dari aspek penilaian struktur penulisan teks negosiasi, masing-masing siswa mendapatkan nilai baik dengan tulisan teratur.contoh pada teks diatas“Pembeli : Mas, Saya mau beli kue ulang tahun apakah disini ada?”. Mulai dari orientasi atau pembuka baik kepada negosiator menyampaikan pengenalan atau perbincangan awal untuk mengawali proses negosiasi, Kemudian permintaan, seperti “Harganya boleh kurang tidak mas?”.Pihak ingin tahu menanyakan sesuautu barang atau permasalahan yang dihadapi.Pemenuhan pada teks diatas, yaitu “Ilham : Semua rasa harganya sama rp.70.000.” dalam teks diatas pihak yang terkait memberitahukan mengenai barang atau objek agar orang yang diajak interaksi oleh pihak tersebut lebih paham. Selanjutnya jelas serta logis, sesuai dengan barang yang mau di beli atau ditawar dengan rentang skor 4. Sedangkan pada 10 siswa dengan persentase 33,33% nilai 80-89 kategori tinggi. Mendapat nilai amat baik dari rentang skor 5 dari masing-masing siswa.Aspek penilaian yang banyak mendapat nilai amat baik yaitu pada aspek isi dan tujuan, yaitu tulisan yang luas, dan lengkap, isi sangat terjabar, sesuai dengan kutipan. Salah satu contoh penulisan teks negosiasi siswa yaitu,

“Syawal : Mari mas, ada yang bisa dibantu ?”

“ Pembeli : Mau lihat-lihat dulu boleh mas ?”

“Syawal : oh iya, silakan.yang deretan ini celana, sebelah sana kemeja,sebelah situ kaos, di pojok sana ada jaket. Tapi, silakan liat-liat dulu mas, barang bagus semua.

“Pembeli : Iya mas, terima kasih, ke deratan kemeja saja mas.”

“Syawal : Masnya cari kemeja?”

“Pembeli : Iya mas, buat kerja.”

“Syawal : Oh, kalau buat kerja yang deretan itu bagus-bagus mas.

“Pembeli : Hahaha. Iya mas, maunya sih cari yang bagus tapi murah.”

“Syawal : Wah, kebetulan merek itu barangnya bagus-bagus dan diskon 30% mas lagi promo.”

“Pembeli : Coba saya lihat dulu mas. Bisa di coba kan ya?”

“Syawal : Bisa mas. Ruang ganti sebelah sana.”

“Pembeli : Kalau kemeja ini masih bisa kurang tidak ?”

“Syawal : Kalau itu sudah pas harganya mas, sudah promo juga itu.”

“Pembeli : Kirain masih bisa kuranglah.”

“Syawal :Masnya mau beli berapa ?”

“Pembeli : Kalau dikasih harga bagus, saya mau beli 3 warna.”

“Syawal : Oh.Ya sudah saya kasih promo 40%.”

“Pembeli : Oke. Saya pilih warna hitam, abu-abu dan merah.”

“Syawal : Baiklah. Silakan mas membayar di kasir.”

“Pembeli : Terima kasih bantuannya mas.”

“Syawal : Sama-sama. Selamat berbelanja”

Tulisan yang luas dan lengkap, teks negosiasi diatas tidak membatasi pembeli dan penjual untuk berinteraksi sehingga terjadi proses tawar menawar antara pihak satu dengan pihak lainnya untuk mendapat kesepakatan yang menguntungkan satu sama lain, begitupun dengan isi yang sangat terjabar, mulai

dari adanya pembuka, permintaan, pemenuhan, penawaran, persetujuan serta penutup sesuai dengan kutipanAspek penilaian yang paling berpengaruh, yaitu aspek isi, kemudian aspek struktur, selanjutnya aspek kosa kata, dan yang terakhir adalah aspek ejaan dan tanda baca.

Berdasarkan hasil analisis dari setiap aspek penilaian yang telah diuraikan sebelumnya, dapat diketahui bahwa model pembelajaran Cooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) lebih efektif pada aspek isi. Hal itu dapat dilihat dari hasil pre-test, 9 siswa berada pada kategori sangat baik, yaitu tulisan teks negosiasi luas, dan lengkap, isi sangat terjabar, sesuai dengan kutipan, 6 siswa pada kategori baik dengan aspek peniliannya tujuan penulisan yang luas, dan lengkap serta isi sangat terjabar sesuai dengan teks negosiasi, meskipun kurang rinci. Serta 8 siswa pada kategori sedang pada tingkat ini aspek penilaiannya yaitu tujuan penulisan terbatas, isi kurang lengkap, kurang terjabar dan kurang rinci.6 siswa kategori kurang pada penulisan teks negosiasi pada kategori ini tidak ada tujuan tulisan, isi tidak mengena, dan 1 siswa kategori sangat kurang tidak ada tujuan dalam isi penulisan teks negosiasi. Sedangkan pada hasil post-test terdapat perbedaan yang signifikan, yaitu 19 siswa berada pada kategori sangat baik karena tujuan penulisan sudah lengkap, isi terjabar, sesuai dengan kutipan, 10 siswa pada kategori baik, isi pada penulisan teks negosiasi sudah lengkap, akan tetapi masih kurang terperinci dan untuk kategori kurang terdapat 1 siswa aspek penulisannya tidak memiliki tujuan dan tidak mengena. Sementara kategori sedang dan sangat kurang tidak ada siswa pada kategori tersebut.

Kegiatan pre-test atau kegiatan menulis teks negosiasi sebelum menggunakan model pembelajaran Cooperatif tipe Numbered Head Together (NHT), dapat dikatakan kemampuan menulis siswa masih kurang baik.Hal itu dikarenakan, terlalu banyak memberikan penjelasan dan menyuruh siswa mencatat materi di papan tulis sehingga, siswa merasa bosan dan tidak bersemangat mengikuti pembelajaran.Hal itu juga memberi pengaruh pada tulisan siswa.Dapat dilihat dari data yang telah dikumpulkan, ternyata masih ada beberapa siswa yang masih kurang sekali dalam penulisan teks negosiasi berdasarkan aspek penilaian yang telah ditentukan.

Kegiatan post-test, yaitu pembelajaran menulis teks negosiasi sesudah menggunakan model pembelajaran Cooperatif tipe Numbered Head Together (NHT), Suasana pembelajaran mengalami perubahan yang baik.Selama pengamatan peneliti sebelum menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT), siswa mempunyai kesulitan dalam menulis.Kesulitan yang dialami siswa adalah siswa masih kurang dalamkemampuan berkomunikasi, berinteraksi, dan menyampaikan pendapat dalam bentuk teks negosiasi yang sesuai dengan kaidah bahasa (PEUBI).Siswa terkadang juga lupa memberikantanda baca dalam pulisan mereka. Siswa sering menghadapi situasi tidak tahu apa yang akan ditulisnya karena takut salah, takut berbeda dengan apa yang diinstruksikan gurunya. Sehingga perasaan takut salah ini akan menghambat penulis pemula dalam menulis teks negosiasi.

Model pembelajaran Cooperatif tipe Numbered Head Together (NHT), merupakan suatu tipe dari pembelajaran kooperatif dengan sintaks, pengarahan,

buat kelompok heterogen dan tiap peserta didik memiliki nomor tertentu, berikan persoalan materi bahan ajar (untuk tiap kelompok sama tapi untuk tiap peserta didik tidak sama sesuai dengan nomor peserta didik, tiap peserta didik dengan nomor sama mendapat tugas yang sama) kemudian bekerja kelompok, presentasi kelompok dengan nomor peserta didik yang sama sesuai tugas masing-masing sehingga terjadi diskusi kelas. Sehingga dengan model Cooperatif tipeNumbered Heads Together, siswa dapat belajar berbagai tugas dengan kelompoknya, lebih berani, dan aktif untuk bertanya, dapat belajar untuk menghargai pendapat orang lain dan berani untuk menjelaskan ide atau pendapat. Sehingga proses belajar mengajar menjadi sangat menyenangkan dan kemampuan siswa dapat meningkat.

Model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together, siswa

Model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together, siswa

Dalam dokumen SKRIPSI. Oleh RESKI NUR AULIA (Halaman 61-83)

Dokumen terkait