KEEFEKTIFAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBEREDHEAD TOGETHER (NHT) DALAM PEMBELAJARAN KETERAMPILAN MENULIS TEKS NEGOSIASI KELAS X.A SMA
SARIBUANA MAKASSAR
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar
Oleh
RESKI NUR AULIA 10533809115
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 2020
ii
iii
iv
v
MOTO DAN PERSEMBAHAN
“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang
lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.”
QS. Al-Insyirah, ayat 6-8
“Jika hari ini semua bisa terselesaikan, Mengapa harus menunda untuk hari esok, Sebab hari esok belum tentu masih bisa kita jumpai”.
Penulis
Karya ini saya persembahkan untuk:
Kedua orang tua saya tercinta Bapak Sudirman dan Ibu Nursiah.
Bapak dan ibu adalah motivasi terbesar saya. Saya berharap karya ini dapat memberikan sedikitkebahagiaan.
Adik saya satu-satunya, Rajainal Nur Alim. Mudah-mudahan pencapaian ini dapat menjadi contoh yang positif dan yakinlah bahwa kamu bisa lebih baik dari saya.
.
vi
ABSTRAK
Reski Nur Aulia. 2019. Keefektifan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together (NHT) dalam Pembelajaran Keterampilan Menulis Teks Negosiasi Kelas X.A SMA Saribuana Makassar. Skripsi. Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar, dibimbing oleh M. Agus dan Mu’Aliyah Hi Asnawi.
Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan menggunakan desain penelitian The One Group Pretest-Posttestyang merupakan salah satu jenis dari Pre-eksperimental.Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X.A SMA Saribuana Makassar sebanyak 30 siswa. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas X.Aberjumlah 30 orang, dengan pengambilan sampel secara Total Sampling. Data penelitian ini adalah hasil tes kerja menulis teks negosiasi siswa kelas X.A SMA Saribuana Makassar sebelum dan sesudah menggunakan model pembelajaran Numbered Head Together.
Hasil penelitian ini adalah pertama, kemampuan menulis teks ngosiasi siswa kelas X.A SMA Saribuana Makassar sebelum menggunakan model pembelajaran NHT (pre-test), memperoleh nilai rata-rata 52,16, termasuk dalam kategori rendah. Kedua, kemampuan menulis teks negosiasi siswa kelas X.A SMA Saribuana Makassar sesudah menggunakan model pembelajaran NHT (post- test), memperoleh nilai rata-rata 74,33 termasuk dalam kategori tinggi.
Berdasarkan hasil uji-t, disimpulkan bahwa hipotesis (Ha) diterima pada taraf signifikan 0,05 dan dk= n-1 karena thitung> t tabel (13,19> 1,698), maka dapat disimpulkan bahwa model pemebelajaran NHT efektif dalam menulis teks negosiasi siswa kelas X.A SMA Saribuana Makassar.
Kata kunci: Model PembelajaranNHT, Kemampuan Menulis, Teks Negosiasi.
vii
KATA PENGANTAR Alhamdulillah
Sebagai makhluk ciptaan Allah SWT, sudah sepatutnyalah penulis memanjatkan puji syukur atas berkat rahmat, taufik, umur yang panjang, dan hidayah-Nya yang telah memberikan berbagai macam nikmat berupa nikmat iman yang sangat dipegang teguh bagi umat muslim. Nikmat kesehatan baik kesehatan jasmani maupun rohani. Sehingga skripsi dengan judul “Keefektifan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together (NHT) dalam Pembelajaran Keterampilan Menulis Teks Negosiasi Kelas X.A SMA Saribuana Makassar” dapat dirampungkan.
Selawat serta salam atas junjungan Nabi Besar Muhammad Shallallahu alaihi wasallam junjungan seluruh umat muslim serta kepada keluarga, sahabat, dan para pengikutnya yang senantiasa istiqomah dalam sunnahnya dan menjadi suritauladan bagi seluruh umat muslim. Beliaulah sebagai penutup para Rasul dan Nabi akhir zaman. Beliaulah yang telah membawa manusia dari zaman jahiliah ke zaman kepintaran dan dari zaman kegelapan ke zaman yang terang benderang seperti saat ini.
Penulis menyampaikan terimakasih kepada teristimewa dan tercinta, kedua orang Ibunda Nursiah dan Ayahanda Sudirman yang telah menjadi tempat berisitirahat dan melepaskan penat yang luar biasa. Mereka selalu memberikan senyum yang penuh bahagia. Selalu terucap doa di setiap sujudnya, tanpa pandang ruang dan waktu dan selalu mengingatkan untuk terus bersyukur dalam keadaan apapun. Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada Dr. M. Agus, M.Pd.,
viii
Sebagai pembimbing I, yang telah memberikan nasihat mengenai penulisan yang benar, telah sabar membimbing serta selalu memberikan motivasi dalam penyusunan skripsi ini. Mu’aliyah Hi Asnawi, S.S., S.Pd., M. Hum. Sebagai pembimbing II yang telah memberikan begitu banyak masukan dan arahan bahkan memotivasi penulis. Memberikan ilmu-ilmu baru dalam penulisan yang baikdanbenaryang belum diketahui penulis dalam penyempurnaan skripsi ini hingga akhir.
Terimakasih juga kepada Prof. Dr. H. Abdul Rahman Rahim, S.E., M.M.
Rektor Universitas Muhammdiyah Makassar karena telah memberikan wadah untuk mengenyam pendidikan tanpa memandang latar belakang mahasiswa dan membantu kesulitan yang mahasiswa alami. Erwin Akib, S.Pd., M.Pd., Ph.D.
Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, yang telah memberikan motivasi yang membangun, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini hingga akhir.
Dr. Munirah., M.Pd. Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Makassar, yang telah banyak membantu penulis dan memberikan masukan mengenai judul skripsi yang diteliti.
Penulis juga menyampaikan terima kasih kepada Bapak dan Ibu dosen jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar, yang telah mendidik dan menuntun penulis selama menjadi mahasiswa di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.
Buat sahabatku, sahabat sampai Surga (until jannah) Riski Fauziah Darwis, Nida Asma Amani, Reski Aulia Darman, Ulfatun Hasanah, Hafsah, Hairunnas,
ix
Sumarni, dan Yuliasni yang selalu setia dalam memberikan semangat, membantu mengarahkan penulis dalam bentuk penulisan skripsi. Selalu bersedia untuk menemani hingga larut malam. Sehingga membangkitkan semangat dan optimis penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa kritik dan saran yang membangun sangat diperlukan guna menyempurnakan skripsi ini. Karena sebuah kritik dapat membuat penulis lebih mengoptimalkan hasil kerjanya dan mengevaluasi kekurangan yang terdapat di skrispi ini. Begitupun dengan adanya saran bisa membuat penulis agar lebih cermat dan teliti dalam penulisan sampai hasil akhir skripsi. Semoga dengan adanya skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan menjadi sebuah referensi yang baik. Sehingga peneliti selanjutnya dapat mengembangkan skripsi ini dengan maksimal.
WassalamualaikumWarahmatullahiWabarakatuh
Makassar, November 2019
Penulis
x
xi
xii
xiii
xiv
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Indonesia merupakan salah satu Negara dengan pendidikan yang cukup dinamis dan sarat perkembangan.Perkembangan pendidikan di Indonesia sudah mulai mengalami perubahan dan terus melakukan perbaikan yang dapat terlihat dari kurikulum disertai dengan perkembangan teknologi yang semakin modern, baik terhadap sistem pembelajaran maupun terhadap fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan peserta didik di setiap sekolah.
Pengembangan IPTEK yang pesat memberikan tantangan tersendiri bagi masyarakat indonesia untuk dapat berkompetensi dengan bangsa lain di dunia. Peran pembelajaran dalam pendidikan dilaksanakan di sekolah dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik, baik dalam aspek sikap (afektif), pengetahuan (koginitif), keterampilan (psikomototik), dan berlangsung secara berkelanjutan sebagai upaya peningkatan kemampuan sumber daya manusia.
Tindakan utama yang dilakukan seorang pendidik dalam kegiatan pembelajaran yaitu berkomunikasi dengan siswa. Alat komunikasi manusia adalah bahasa, dengan bahasa manusia dapat menyampaikan ide, pikiran, pesan kepada orang lain sehingga terjadi komunikasi. Tarigan (2008:1) menyatakan keterampilan berbahasa dalam kurikulum di sekolah mencangkup empat segi, yaitu menyimak/mendengarkan (listening skills), berbicara (speaking skills), membaca (reading skills), menulis (writing skills).
1
Salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah yang sangat efektif yang berkaitan dengan keempat aspek keterampilan berbahasa yaitu mata pelajaran bahasa Indonesia.Aspek tersebut saling berkaitan satu sama lain, harus melibatkan berbagai kegiatan dan tindakan yang harus dilakukan untuk mendapat pemahaman dan hasil belajar yang lebih baik.
Keterampilan menulis merupakan aspek terakhir dalam keterampilan berbahasa dalam pelajaran bahasa Indonesia biasa kurang diminati peserta didik, banyak yang mengatakan bahwa menulis harus sesuai dengan kaidah bahasa, dan siswa sulit menemukan kalimat pertama untuk memulai tulisan. Peran seorang guru dibutuhkan dalam proses belajar mengajar untuk membantu kesulitan yang tengah dihadapi peserta didik.
Sejalan dengan pemerintah melalui kurikulum yang berlaku dalam sistem Pendidikan Indonesia menjadikan bahasa Indonesia sebagai salah satu mata pelajaran yang wajib diberikan kepada siswa pada semua jenjang.Bahasa Indonesia merupakan ilmu yang bersifat universal yang mendasari perkembangan teknologi modern.
Kementrian pendidikan dan kebudayaan (2013) disadari bahwa guru-guru perlu memperkuat kemampuannya dalam memfasilitasi siswa agar terlatih berpikir logis, sistematis dan ilmiah. Pada kurikulum 2013 ini mata pelajaran bahasa indonesia sebagai salah satu mata pelajaran yang cukup mempunyai banyak jam pelajaran setiap minggunya. Oleh sebab itu, dalam pemberian materi harus secara mendalam.
Berdasarkan observasi awal di SMA Saribuana Makassar, salah satu guru mengatakan bahwa dalam pembelajaran bahasa Indonesia sering kali ditemukan permasalahan-permasalahan yang terjadi. Permasalahan yang dimaksud biasanya berupa kesulitan-kesulitan siswa dalam kemampuan berkomunikasi, berinteraksi, dan menyampaikan pendapatdalam bentuk teks yang sesuai dengan kaidah bahasa (PEUBI).Contoh hasil penulisan teks dari salah satu siswayaitu,“Pak. Saya ingin berkunjung ketaman bermain, saya ingin masuk kedalam wahana yang berhantu”.Kalimat diatas jika dalam bentuk lisan terdengar tidak ada yang salah.Tetapi jika dalam bentuk penulisan maka kalimat itu salah.Ada kata masuk ke dalam, yang merupakan pemborosan kata dan tidak sesuai dengan kaidah bahasa. Seharusnya kata dalam tidak perlu lagi untuk di tulis, karena kata masuk sudah mengartikan bahwaakanke dalam.Siswa terkadang jugalupamemberikantandabaca dalampulisan mereka.Siswa sering menghadapi situasi tidak tahu apa yang akan ditulisnya karena takut salah, takut berbeda dengan apa yang diinstruksikan gurunya. Sehingga perasaan takut salah ini akan menghambat penulis pemula dalam menulis teks negosiasi.
Keterampilan menulis sangat diperlukan namun, siswa masih belum terampil untuk menulis karena pelajaran dalam bahasa Indonesia masih kurang sekali mengajarkan kemampuan menulis secara maksimal. Terutama pada materi teks negosiasi, masih banyak siswa yang belum paham tentang bagaimana bernegosiasi dengan ejaan yang benar.Padahal bernegosiasi merupakan salah satu aktivitas yang sering kita jumpai bahkan setiap kegiatan diperlukan negosisasi.
Hambatan lainnya yang ada dalam proses belajar mengajar di kelas, yaitusalah satu guru menerapkan model pembelajaran Discovery Learning (Pembelajaran Penemuan) dalam pembelajaran teks negosiasi. Selama proses pembelajaran berlangsung masih banyak siswa yang bingung dan kurang memahami mengenai materi yang di sampaikan guru dengan model yang terkait, dikarenakan siswa belum terbiasa. Kekurangan dalam model Discovery Learningini,yaitusangat menyita waktu karena guru dituntut mengubah kebiasaan mengajar pada umumnya sebagai pemberi informasi menjadi fasilitator, motivator, dan membimbing siswa.Sementara yang kita ketahui tidak semua peserta didik memiliki kemampuan berpikir rasional, masih banyak siswa yang kemampuan berpikirnya terbatas. Siswa masih saling mengharapkan satu sama lain dalam artian sebagian dari siswa masih melibatkan teman-temannya atau masih membutuhkan bantuan orang lain.
Guru yang profesional pada hakikatnya adalah mampu menyampaikan materi pembelajaran secara tepat sesuai dengan kebutuhan belajar siswa.
Namundemikian, untuk mencapai tujuan tersebut perlu berbagai latihan, penguasaan dan wawasan dalam pembelajaran, termasuk salah satunya menggunakan model pembelajaran yang tepat.
Sebagai calon pendidik, peneliti merasa prihatin dengan kondisi yang demikian. Peneliti akan mencoba untuk menerapkan model pembelajaran yang lain yaitu, Teknik belajar mengajar Kepala Bernomor (Numbered Head Together) dikembangkan oleh Spencer Kagan (1992). Teknik ini memberikan kesempatan padasiswa untuksaling membagikan ide-ide dan mempertimbangkan jawaban
yang paling tepat.Selain itu, teknik ini juga mendorong siswa untuk meningkatkan semangat kerjasama mereka. Teknik ini, bisa digunakan untuk semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik.
Numbered Head Together adalah suatu tipe dari pembelajaran kooperatif dengan sintaks, pengarahan, buat kelompok heterogen dan tiap peserta didik memiliki nomor tertentu, berikan persoalan materi bahan ajar (untuk tiap kelompok sama tapi untuk tiap peserta didik tidak sama sesuai dengan nomor peserta didik, tiap peserta didik dengan nomor sama mendapat tugas yang sama) kemudian bekerja kelompok, presentasi kelompok dengan nomor peserta didik yang sama sesuai tugas masing-masing sehingga terjadi diskusi kelas. Kuis individual dan buat skor perkembangan tiap peserta didik, umumkan hasil kuis dan beri reward (Thamrin P dan Rahman rahim 2012:43).
Model Numbered Heads Together adalah bagian dari model pembelajaran kooperatif struktural,yang menekankan pada struktur-struktur khusus yang dirancang untuk memengaruhi pola interaksi siswa.dengan model kooperatif tipe Numbered Heads Together, siswa dapat belajar berbagai tugas dengan kelompoknya, lebih berani, dan aktif untuk bertanya, dapat belajar untuk menghargai pendapat orang lain dan berani untuk menjelaskan ide atau pendapat.
Sehingga proses belajar mengajar menjadi sangat menyenangkan.
Penelitian akan dilakukan di SMA Saribuana Makassar, siswa kelas X.A alasan meneliti kelas X.A adalah adanya kurikulum 2013yang menambahkan teks negosiasi di kelas X dan guru selama ini belum pernah mengukur kemampuan menulis teks negosiasi. Apakahmodel pembelajaran Numbered Head Ttogether
efektif dalamkemampuan menulis teks negosiasi.Penelitian ini dilakukan untuk melihat pentingnya menentukan model pembelajaran yang tepat untuk keaktifan mencari, mengolah, dan mengontruksi pengetahuan yang diharapkan dimiliki siswa agar sesuai dengan pandangan dasar kurikulum 2013.
Berdasarkan latar belakang diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Kefektifan Model Pembelajaran Kooperatif TipeNumberedHead Together (NHT) dalam Pembelajaran Keterampilan Menulis Teks Negosiasi Kelas X.A SMA Saribuana Makassar”.
B. Rumusan Masalah
Dalam penelitian ini, maka yang menjadi rumusan masalah adalah
“Apakah model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together efektif digunakan dalam pembelajaran keterampilan menulis teks negosiasi kelas X.A SMA Saribuana Makassar.”
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikanefektif atau tidak efektifnya model pembelajaran koooperatif tipe Numbered Head Together digunakan dalam pembelajaran keterampilan menulis teks negosiasi kelas X.A SMA Saribuana Makassar.
D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoretis
Melalui hasil penelitian ini, diharapkan guru dan calon guru memiliki pengetahuan tentang teori model pembelajaran kooperatif khususnya tipe Numbered Heads Together (NHT) yang merupakan salah satu bentukinovasi pembelajaran di sekolah menengah atas sehingga dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dan hasil belajar siswa.
2. Manfaat Praktis a) Bagi Siswa
Meningkatkan pemahaman dan hasil belajar siswa terhadap mata pelajaran bahasa Indonesia dalam materi teks negosiasi di kelas X.A SMA Saribuana Makassar. Selain itu, juga membantu siswa dalam melatih sikap berkakter untuk saling berinteraksi dengan teman sekelasnya, mempermudah penguasaan konsep, memberikan
pengalaman nyata, meningkatkan motivasi belajar dan meningkatkan hasil belajar siswa.
b) Bagi Guru
Agar guru lebih termotivasi untuk berpikir kreatif dan bervariasi dalam merancang suatu pembelajaran. Selain itu juga model pembelajaran yang telah diterapkan oleh peneliti dapat dijadikan sebagai suatu alternatif untuk membantu proses pembelajaran menjadi lebih baik dan dijadikan sebagai bahan pertimbangan para guru agar
dapat menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe NHT sebagai usaha memperbaiki dan menyempurnakan proses pembelajaran.
c) Bagi Sekolah
Hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat dalam memberikan solusi belajar mengajar bagi sekolah itu sendiri maupun sekolah lain pada umumnya. Selain itu hasil penelitian ini diharapkan mampu menambah informasi tentang model pembelajaran kooperatif tipe NHT pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelas X.A SMA Saribuana Makassar.
d) Bagi Peneliti
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan untuk melakukan penelitian selanjutnya. Selain itu juga dapat dijadikan sebagai referensi-referensi dalam membantu mencari solusi masalah - masalah terhadap proses pembelajaran yang dilakukan dalam penelitian dan dapat menambah pengetahuan dalam memahami pembelajaran bahasa indonesia dengan menggunakan model pembelajaran NHT.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR A. Tinjauan Pustaka
1. Penelitian yang Relevan
Beberapa penelitian terdahulu mengenai model pembelajaran numbered head together (NHT) dijadikan peneliti sebagai acuan dalam penelitian ini, antara lain jurnal Jusniati H. (2017), Khairina Wahyuni (2017), dan jurnal Nismarni (2014).
Jusniati, H (2017) dalam jurnalnya yang berjudul “Keefektifan Metode Numbered Head Together (NHT) dalam Menulis Teks Eksplanasi Siswa Kelas VII Smp Yp PGRI 3 Makassar.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efektifnya model pembelajaran NHT terhadap hasil belajar siswa dalam menulis teks ekplanasi, terbukti dengan perolehan nilai rata-rata siswa pada tes awal adalah 55.76. Hasil tes awal atau pretes pada kelas eksperimen diperoleh nilai tertinggi 70 diperoleh sebanyak 1 orang siswa dengan persentase (4%), dan nilai terendah44.5 dan 47.5 masing-masing diperoleh 1 orang siswa dengan persentase (4%), sedangkan nilai tes akhir setelah diberikan perlakuan dengan menggunakan metode Numbered Heads Together (NHT) diperoleh nilai tertinggi 91.50 yang diperoleh 1 orang siswa dengan persentase (4%), adapun nilai terendah 70 yang diperoleh sebanyak 1orang siswa dengan persentase (4%).
Adapun rata-rata nilai siswa pada tes akhir yaitu 79.06, sudah memuaskan dengan tingkat persentase (92%) pada hasil belajar nilai postes sebanyak 23 orang siswa dengan persentase (92%). Nilai rata-rata yang diperoleh siswa setelah diberikan perlakuan dengan menggunakan modelNumbered Heads Together (NHT) yaitu 79,06 dengan kategori tinggi.
Berdasarkan penelitian relevan diatas, persamaan antara penelitian tersebut adalah sama-sama menguji kemampuan menulis teks dan merupakan penelitian eksperimen.yang membedakan penelitian terdahulu dengan penelitian ini adalah terletak pada jenis teks yang diteliti, peneliti terdahulu menggunakan teks eksplanasi sedangkan pada penelitian ini menggunakan teks negosiasi.
Selanjutnya, Khairina Wahyuni (2017) juga menulis skripsi dengan judul “Pengaruh Model Pembelajaran Cooperatif Tipe Numbered Head Together (NHT) Terhadap Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Materi Puisi di Kelas V (MIS) Islamiyah Londut Kec. Kualuh Hulu”.Dengan simpulan penelitian yaitu terdapat pengaruh yang signifikan dengan menunjukkan nilai rata-rata kelas kontrol lebih kecil dari kelas eksperimen dengan nilai 43,5<81,5, kemudian dilihat dari hasil uji t yang menunjukkan thitung> ttabelyaitu t hitung(2,71) > t tabel (2,001) pada taraf signifikan 5%.
Penelitian yang dilakukan oleh Nismarni dalam jurnal skripsi (2014:
43) yang berjudul “PenerapanModel Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT) untuk Meningkatkan Hasil Belajar Bahasa
Indonesia Siswa” dengan hasil sebagai berikut. Perolehan nilai atau data awal siswa sebelum diterapkannya model pembelajaran NHT, siswa yang mencapai nilai ketuntasan berjumlah 10 orang dengan (28,57%), sedangkan siswa yang tidak tuntas berjumlah 25 (71,43%) orang dengan rata-rata hasil belajar sebesar 65,37%. Setelah diterapkannya model pembelajaran NHT sudah mulai mengalami peningkatan dari siklus I dengan jumlah siswa yang tuntas berjumlah 26 siswa (74,28%) dengan rata-rata hasil belajar sebesar 76,00 dan pada siklus II meningkatdengan jumlah siswa 32 siswa (91,42%) dengan rata-rata hasil belajar sebesar 86,86, meskipun masih ada beberapa kegiatan yang kurang.
Berdasarkan penelitian yang diatas, maka dapat di simpulkan bahwapeneliti terdahulu dan peneliti sekarang sama-sama menggunakan model pembelajaran Numbered Head Together (NHT) tapi memiliki perbedaan yaitu terletak pada desain penelitiannya. Penelitian yang terdahulu menggunakan desain penelitian Pretest Posttest Control Group, sedangkan penelitian ini menggunakan desain penelitian The One Group Pretest Posttest.
2. Keterampilan Menulis a. Pengertian Menulis
Menulis sebagai pusat pengaplikasian berbagai pengetahuan yang telah didapat dari aktivitas menyimak, membaca, dan berbicara kemudian mengalihkannya ke dalam rangkaian kata dan bahasa yang memiliki makna dan tujuan.Menulis adalah suatu kegiatan untuk menciptakan suatu
catatan atau informasi pada suatu media dengan menggunakan aksara.Menulis biasa dilakukan pada kertas dengan mengggunakan pensil atau pena. Pranoto (2004: 9) berpendapat bahwa menulis berarti menuangkan buah pikiran ke dalam bentuk tulisan atau menceritakan sesuatu kepada orang lain melalui tulisan. Menulis juga dapat diartikan sebagai ungkapan atau ekspresi perasaan yang dituangkan dalam bentuk tulisan. Orang yang gemar, pandai, dan telah menulis berarti ia telah mencoba mengaktifkan indera yang ada pada dirinya melalui apa yang ia lihat, dengar, rasakan, cium, dan raba kemudian teraplikasikan ke dalam rangkaian kata dan bahasa.
Menulis merupakan keterampilan mengomunikasikan pikiran, gagasan, dan informasi yang harus dilatihkan semejak dini.Semenjak disekolah dasar hendaknya dibiasakan untuk menulis, mengemukakan ide- idenya tanpa pembatasan-pembatasan yang dapat menjerat kreativitas mereka. Menulis dalam pembelajaran merupakan aktivitas yang menggunakan proses berpikir. Dalam dunia pendidikan, kegiatan menulis sangat penting dalam melatih seseorang (anak didik) menuangkan ke dalam bentuk tulisan. (Munirah, 2015 :2-3)
Berdasarkan beberapa definisi tentang menulis, dapat disimpulkan bahwa menulis adalah suatu keterampilan berbahasa yang dipergunakan sebagai kegiatan yang mempunyai beberapa komponen mulai dari hal yang sederhana, seperti memilih kata, merakit kalimat, sampai hal-hal
yang rumit, yaitu merakit paragraf sampai menjadi sebuah wacana yang utuh.
b. Manfaat Menulis
Percy (dalam Gie, 2002:21) mengemukakan sedikitnya ada enam manfaat kegiatan menulis atau mengarang, antara lain 1) sarana untuk pengungkapan diri, 2) sarana untuk pemahaman, 3) sarana untuk membantu mengembangkan kepuasan pribadi, 4) sarana untuk meningkatkan kesadaran dan pencerapan terhadap lingkungan sekeliling seseorang, 5) sarana untuk keterlibatan secara bersemangat dan bukannya penerimaan yang pasrah, dan 6) sarana untuk mengembangkan suatu pemahaman tentang dan kemampuan menggunakan bahasa.
Menulis akan membuat seseorang mampu menyebarkan gagasan yang baik dan mencerahkan, serta membuat seseorang menjadi mandiri (Tabroni,2007 : 50). Lebih lanjut, Tabroni mengemukakan beberapa manfaat menulis, antara lain 1) menularkan ide yang bermanfaat kepada khalayak luas, 2) memicu semangat berwirausaha dan mendidik orang untuk mandiri, 3) sarana berbagi pengalaman, 4) mempunyai pengaruh yang abadi, serta 5) dapat menyalurkan aspirasi dan unek–unek kepada pemerintah.
Penjelasan beberapa ahli menyatakan bahwa menulis dapat mendatangkan banyak manfaat dan keuntungan.Manfaat itu tidak hanya bagi penulis itu tetapi juga bagi pembacanya.Inilah alasan mengapa
kegiatan menulis begitu digemari tidak hanya masyarakat awam maupun penulis sendiri.
c. Tujuan Menulis
Menulis digunakan oleh orang terpelajar untuk berbagai tujuan seperti mencatat, merekam, meyakinkan, memberitahu dan memengaruhi.
Hugo Hartig dalam buku Munirah (2015:6) merangkum tujuan penulisan, yaitu:
1) Tujuan penugasan, penulis menulis sesuatu karena ditugasi.
Misalnya ditugasi merangkum, membuat laporan dan lain sebagainnya.
2) Tujuan altruistik. Penulis bertujuan menyenangkan, menhindarkan kedukaan, ingin menolong para pembaca memahami, menghargai persaan, ingin membuat hidup para pembaca lebih mudah dan menyenangkan.
3) Tujuan persuasif. Penulis bertujuan menyakinkan para pembaca akan kebenaran yang diutarakan.
4) Tujuan penerangan. Penulis bertujuan memberikan informasi atau keterangan penerangan pada pembaca.
5) Tujuan pernyataan diri. penulis bertujuan memperkenalkan atau menyatakan diri kepada pembaca melalui tulisannya, pembaca dapat memahami sang penulis.
6) Tujuan kreatif. Penulis bertujuan agar para pembaca dapat memiliki nilai artistik atau nilai kesenian. Penulis tidak hanya memberikan informasi, tetapi pembaca terharu tentang hal yang dibacanya.
7) Tujuan pemecahan masalah. Penulis berusaha memecahkan suatu masalah yang dihadapi. Penulis berusaha memberikan kejelasan kepada para pembaca tentang cara pemecahan suatu masalah.
3. Konsep Dasar Teks Negosiasi a. Pengertian Teks
Menurut Alex Sobur, (2004: 53) mendifinisikan teks sebagai seperangkat tanda yang di transmisikan dari seorang pengirim kepada seorang penerima melalui medium tertentu atau kode-kode tertentu.
Sedangkan menurut pandangan Eriyanto, (2001: 3), teks hampir sama dengan wacana, bedanya teks hanya bisa disampaikan dalam bentuk tulisan saja, sedangkan wacana bisa disampaikan dalam bentuk lisan maupun tertulis.
b. Pengertian Teks Negosiasi
Teks merupakan ungkapan pikiran manusia yang lengkap yang di dalamnya memiliki situasi dan konteks.Teks merupakan rangkaian kata- kata asli yang tersusun dari sebuah kata kemudian menjadi kalimat dan berkembang menjadi paragraf yang utuh.
Tim Kementrian Pendidikan dalam kurikulum 2013 (2013: 134), mendefinisikan pengertian negosiasi sebagai berikut.
Negosiasi adalah bentuk interaksi social yang berfungsi untuk mencapai kesepakatan bersama antara pihak-pihak yang mempunyai perbedaan kepentingan. Pihak-pihak tersebut berusaha menyelesaikan perbedaan itu dengan cara yang baik tanpa merugikan salah satu pihak.
Negosiasi dilakukan karena pihak-pihak yang berkepentingan pelu membuat kesepakatan mengenai persoalan yang menuntut penyelesaian bersama.
Selain itu Tim Studi Edukasi (2013: 265), menjelaskan “negosiasi adalah proses tawar menawar dengan jalan berunding guna mencapai kesepakatan bersama antara satu pihak (kelompok atau organisasi) dan pihak (kelompok atau organisasi) yang lain”. Artinya, dalam negosiasi selalu diadakan proses perundingan. Hal ini dilakukan untuk mencari jalan terbaik dalam penyelesaian.
Berdasarkan uraian diatas, terdapat persamaan negosiasi, di antaranya 1) negosiasi terjadi antara kedua bela pihak; 2) negosiasi berisi perjanjian; 3) negosiasi terjadi secara baik-baik tidak merugikan pihak-pihak lain.
c. Ciri-ciri Teks Negosiasi
Menurut Kosasih (2013: 88) ciri-ciri atau karakteristik teks negosiasi, yaitu :
1) Negosiasi menghasilkan kesepakatan.
2) Negosiasi menghasilkan keputusan yang saling menguntungkan.
3) Negosiasi merupakan sarana untuk mencari penyelesaian.
4) Negosiasi mengarah kepada tujuan praktis.
5) Negosiasi memproritaskan kepentingan bersama.
Menurut Tim Edukasi (2013: 232), ciri dalam ragam bahasa lisan adalah sebagai berikut.
1) dalam ragam bahasa lisan kalimat yang digunakan cenderung pendek- pendek karena mengalami pelepasan pada beberapa bagiannya.
Contoh : Ya terimakasih!
Lalu, bagaimana?
2) Banyak menggunakan ragam bahasa tidak baku.
Contoh : gak, gimana, ngerti.
3) Banyak menggunakan ragam bahasa percakapan.
Contoh : wah, ya, kan.
4) Kalimat-kalimatnya dalma bentuk penuturan langsung.
Berdasarkan uraian diatas, ciri kebahasaan teks negosiasi pada umumnya menggunakan bahasa percakapan sehari-hari.Walaupun ciri kebahasaan teks negosiasi menggunakan ragam bahasa lisan, tetapi tidak mengurangi prinsip sopan santun yang ada di dalam percakapan teks negosiasi.
d. Struktur Teks Negosiasi
Sebuah teks terdapat struktur yang membangun teks tersebut, struktur merupakan susunan, tahapan, ataupun urutan yang terdapat dalam teks.Tujuannya agar teks tersebut tersusun secara sistematis dan utuh.Seperti yang diuraikan Tim Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan
dalam bahasa Indonesia Ekspresi Diri dan Akademik (2013: 141), struktur teks negosiasi sebagai berikut.
1) Orientasi
Orientasi sama saja dengan pembuka. dalam teks negosiasi tahap pertama adalah pembuka. Biasanya dalam pembuka baik kepada nagosiator 1 maupun nagosiator 2 menyampaikan pengenalan atau perbincangan awal untuk mengawali proses negosiasi.
2) Permintaan
Pihak yang ingin tahu menanyakan suatu barang atau permasalahan yang dihadapi.
3) Pemenuhan
Pihak yang terkait memberitahukan mengenai barang atau objek agar orang yang diajak interaksi oleh pihak tersebut lebih paham.
4) Penawaran
Suatu puncak dari negosiasi karena terjadi proses tawar menawar pihak satu dengan pihak yang lainnya untuk mendapat suatu kesepakatan yang menguntungkan satu sama lain.
5) Persetujuan
Kesepakatan atas hasil penawaran dari kedua belah pihak.
6) Penutup
Mengakhiri dari sebuah percakapan antara kedua pihak untuk menyelesaikan suatu proses interaksi dalam negosiasi.
Tim Studi Pustaka (2013: 214), menjelaskan bahwa struktur teks negosiasi sebagai berikut.
a) Tahap 1
Negosiator 1 menyampaikan mamksud bernegosiasi kepada negosiator 2.
b) Tahap 2
Negosiator 2 menyampaikan penolakan ataupun sanggahan dengan alasan-alasan tertentu.
c) Tahap 3
Negosiator 1 mengemukakan argumentasi yang disertai fakta-fakta yang memperkuat maksudnya itu agar disetujui oleh negosiator 2.
d) Tahap 4
Negosiator 2 kembali mengemukakan penolakan dengan sejumlah argumentasi dan fakta.
e) Tahap 5
Terjadinya kesepakatan atau ketidaksepakatam diantara kedua belah pihak.
Dari pendapat yang dikemukakan para ahli, terdapat persamaan dan perbedaan megenai struktur teks negosiasi. Permasaan yang terlihat bahwa struktur teks negosiasi diawali dengan orientasi atau pembuka, lalu berlanjut
pada pemenuhan atau isi baik pihak 1 maupun pihak 2 mengemukakan argumennya yang disertai dengan fakta, dan diakhiri dengan penutup baik terjadi kesepakatan maupun ketidaksepakatan. Sementara perbedaan yang mendasar adalah jika struktur yang dikemukakan Tim Kemendikbud terdiri dari 6 tahap, sedangkan yang dikemukakan oleh Tim Studi Edukasi terdiri dari 5 tahap.
Berdasarkan pendapat para ahli mengenai struktur teks negosiasi, dapat penulis simpulkan bahwa struktur teks negosiasi terdiri dari orientasi, permintaan, pemenuhan, penawaran yang disertai argument dengan fakta, persetujuan yang diakhiri dengan kesepakatan atau ketidaksepakatan, dan penutupan.Akan tetapi, penerapan struktur teks negosiasi memakai semua struktur.
e. Langkah –langkah Memroduksi Teks Negosiasi
Kegiatan memroduksi teks, terdapat langkah-langkah yang secara runtun harus dilakukan.Langkah-langkah diperlukan dalam menulis sebuah karya.Adapaun gunanya adalah untuk memudahkan siswa dalam menulis.dengan mengikuti langkah-langkah maka secara bertahap peserta didik akan menyelesaikan tulisan yang sesuai prosedur.
Kosasih (2014: 98) mengungkapkan bahwa perlunyamelakukan sejumlah persiapan agar proses negosiasi berlangsung dengan baik untuk mendapatkan hasil sesuai dengan harapan. Adapun langkah-langkah yang harus dipersiapkan, yaitu.
1) Menentukan tujuan negosiasi.
2) Menentukan pihak yang perlu dihubungi.
3) Memilih strategi yang efektif untuk menghadapi mitra atau lawan bicara.
4) Memikirkan alasan yang rasional agar dapa meyakinkan mitra bicara untuk kepentingan tersebut.
Langkah-langkah yang di ungkap oleh Kosasih dilakukan secasra bertahap.Tahapan mulai dari tujuan negosiasi hingga memikirkan alasan agar mitra bicara merasa yakin.oleh karena itu, point-point tersebut perlu dipersiapkan dengan matang untuk menghasilkan negosiasi yang baik.
f. Kaidah Kebahasaan Teks Negosiasi
Menurut Kosasih (2013: 93) menyatakan bahwa, kaidah kebahasaan teks negosiasi ditandai dengan hal-hal sebagai berikut.
(1) Keberadaan kalimat berita, Tanya dan perintah hampir berimbang. Hal tersebut terkait dengan bentuk negosiasi yang berupa percakapan sehari-hari sehingga ketiga jenis kalimat tersebut mungkin muncul secara bergantian.
(2) Menggunakan kalimat yang menyatakan keinginan atau harapan. Hal ini banyak terkait dengan fungsi negosiasi itu, yaitu untuk menyatakan kepentingan dan mengompromikannya dengan mitra bicara. Oleh karena itu, akan banyak kalimat yang menyatakan maksud tersebut yang ditandai dengan penggunaan kata-kata seperti minta, harap, mudah-mudahan.
(3) Banyak menggunakan kalimat bersyarat, yakni kalimat yang ditandai dengan kata-kata jika, bila, kalau, seandainya, apabila. Ini terkait dengan sejumlah syarat yang diajukan masing-masing pihak dalam rangkaian “adu tawar” kepentingan.
(4) Banyak menggunakan konjungsi penyebab (kausalitas). Hal ini terkait dengan sejumlah argument yang disampaikan masing-masing.untuk memperjelas alasan, mereka perlu menyampaikan sejumlah alasan yang disertai penggunaan konjungsi penyebab.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa kaidah kebahasaan teks negosiasi berupa kalimat berita, kalimat Tanya, kalimat perintah, dan menggunakan konjungsi atau kata penghubung.
4. Model Pembelajaran
a. Pengertian Model Pembelajaran
Pembelajaran yang diharapkan dalam setiap kegiatan adalah pembelajaran yang bermakna. Pembelajaran yang bermakna dapat diciptakan melalui berbagai cara, salah satunya dengan menggunakan model dan media pembelajaran. Menurut KBBI model merupakan acuan, bentuk, atau cara, sedangkan pembelajaran adalah perbuatan yang menjadikan orang atau mahluk hidup belajar.
Model pembelajaran dapat didefinisikan sebagai kerangka konseptual yang melukiskan prosedur sistimatis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar (Suprijono, 2013:
46).Masih terkait dengan model pembelajaran, Syaiful Sagala, (2009: 148)
menyatakan bahwa model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar peserta didik untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pembelajaran dan guru dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar-mengajar.
Model pembelajaran merupakan bagian dari struktur pembelajaran yang memilikicakupan yang luas.di dalamnya terdapat pendekatan, strategi, metode dan teknikpembelajaran. Salah satu aspek penting dari sebuah model pembelajaran adalah sintaks(syntax), yang merupakan langkah-langkah baku yang harus ditempuh dalam implementasimodel tersebut. Sintaks seharusnya tercermin dalam langkah-langkah pembelajaran khususnya yang dirinci dalam kegiatan inti pembelajaran.
b. Ciri- ciri Model Pembelajaran
Rusman (2012: 136) mrngemukakan bahwa model pembelajaran memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
1) Berdasarkan teori pendidikan dan teori belajar dari para ahli tertentu.
2) Mempunyai misi satu tujuan pendidikan tertentu.
3) Dapat dijadikan pedoman untuk perbaikan kegiatan belajar mengajar di kelas.
4) Memiliki bagian-bagian model yang dinamakan urutan langkah-langkah pembelajaran (syntax), adanya prinsip-prinsip reaksi, sistem sosial dan sistem pendukung.
5) Memiliki dampak sebagai akibat terapan model pembelajaran. (1) dampak pembelajaran, yaitu hasil belajar yang dapat diukur (2) dampak pengiring, yaitu hasil belajar jangka panjang.
6) Membuat persiapan mengajar (desain instruksional) dengan pedoman model pembelajaran yang dipilihnya.
Ciri-ciri model pembelajaran yang baik yaitu adanya keterlibatan intelektual dan emosional peserta didik melalui kegiatan mengalami, menganalisis, berbuat, dan pembentukan sikap, adanya keikutsertaan peserta didik secara aktif dan kreatif.
c. Pengertian Model Pembelajaran Cooperatif Learning
Lie (2010: 31) mengungkapkan bahwa untuk mencapai hasil yang maksimal dalam Cooperative Learning, ada lima unsur model pembelajaran gotong royong harus diterapkan yaitu: (a) saling ketergantungan positif, (b) tanggung jawab perseorangan, (c) tatap muka, (d) komunikasi antar anggota, dan (e) evaluasi proses kelompok. Model-model Cooperative Learning meliputi kepala bernomor (numbered heads together), tim siswa kelompok prestasi (student teams achievement divisions), berpikir berpasangan berbagi (think pair and share), jigsaw, melempar bola salju (snowball throwing), dan dua tinggal dua tamu (two stay two stray).
Berdasarkan uraian di atas dapatdisimpulkan bahwa Cooperative Learning adalah suatu model pembelajaran berkelompok yang terdiri dari 2- 5 orang untuk meyelesaikan masalah dalam tugas yang diberikan guru pada mereka. Untuk mencapai hasil yang maksimal dalam Cooperative Learning
harus menerapkan berbagai hal seperti, bertanggung jawab, tatap muka, komunikasi antar anggota, serta evaluasi proses kelompok. Model - model cooperative learning ada banyak dan salah satunya yang peneliti gunakan adalah model cooperative learning tipe numbered head together (NHT).
d. Model Pembelajaran Cooperatif Learning Tipe Number Head Together.
a. Pengertian Model Pembelajaran Cooperatif Learning Tipe Number Head Together
Komalasari (2010: 62) menjelaskan bahwa NHT merupakan model pembelajaran di mana setiap siswa di beri nomor dan dibuat kelompok yang kemudian secara acak guru memanggil nomor dari siswa.Selain itu, pembelajaran kooperatif tipe NHT merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasan akademik.Dengan ciri- ciri khusus pembelajaran kelompok melalui penyelesaian tugas dengan saling membagi ide/gagasan.Setiap kelompok harus memastikan bahwa anggotanya memahami dan menguasai tugas, sehingga semua siswa memahami konsep secara seksama.Model pembelajaran ini mengakomodasikan peningkatan intensitas diskusi antar kelompok, kebersamaan, kolaborasi dan kualitas interaksi dalam kelompok, serta memudahkan penilaian.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas peneliti menyimpulkan bahwa pengertian model pembelajaran kooperatif tipe NHT adalah
suatu model yang dapat merangsang siswa untuk berinteraksi dan bekerja sama dalam menyelesaikan tugas dengan saling berbagi ide dan gagasan dengan siswa yang lain sehingga siswa akan lebih aktif dan dapat memahami pembelajaran dengan lebih mudah.
b. Manfaat Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together Model pembelajaran kooperatif dalam pelaksanaanya di kelas manfaat sebagaimana dijelaskan oleh Ibrahim (Hamdayama, 2014:177) berikut ini.
1) Meningkatkan pencurahan waktu pada tugas.
2) Rasa harga diri menjadi lebih tinggi.
3) Penerimaan terhadap perbedaan individu menjadi lebih besar.
4) Memperbaiki kehadiran.
5) Perilaku mengganggu menjadi lebih kecil.
6) Konflik antar pribadi berkurang.
7) Sikap apatis berkurang.
8) Pemahaman yang lebih mendalam.
9) Motivasi lebih besar.
10) Hasil belajar lebih tinggi.
11) Meningkatkan kebaikan budi, kepekan, dan toleransi.
c. Struktur Model Pembelajaran Numbered Head Together
Teknik ini merupakan pengembangan dari teknik Numbered Head Together.
1) Memudahkan pembagian tugas.
2) Memudahkan siswa belajar melaksanakan tanggung jawab individunya sebagai anggota kelompok.
3) Dapat diterapkan untuk semua mata pelajarandan tingkatan kelas.
d. Tujuan Tipe Pembelajaran Kooperatif Numbered Head Together 1) Hasil belajar akademik stuktural, yaitu untuk meningkatkan
kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik.
2) Pengakuan adanya keragaman, yaitu agar siswa dapat menerima teman-temannya yang mempunyai berbagai latar belakang.
3) Pengembangan keterampilan sosial, untuk mengembangkan keterampilan social siswa. Keterampilan yang dimaksud antara lain berbagi tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain, mau menjelaskan ide atau pendapat, bekerja dalam kelompok dan sebagainya.
e. Langkah- langkah Model Pembelajaran Numbered Head Together Langkah-langkah tersebut kemudian dikembangkan oleh Ibrahim (2000: 29) menjadi enam langkah,yaitu :
1) Persiapan
Tahap ini guru mempersiapkan rancangan pelajaran dengan membuat perangkat pembelajaran, Lembar Kerja Siswa (LKS) yang sesuai dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT.
2) Pembentukan Kelompok
Pembentukan kelompok disesuaikan dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Guru membagi para siswa menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 3-5 orang siswa. Guru memberi nomor kepada setiap siswa dalam kelompok dan nama kelompok yang berbeda. Penomoran adalah hal yang utama di dalam NHT, dalam tahap ini guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok atau tim yang beranggotakan tiga sampai lima orang dan memberi siswa nomor sehingga setiap siswa dalam tim mempunyai nomor berbeda-beda, sesuai dengan jumlah siswa di dalam kelompok. Kelompok yang dibentuk merupakan percampuran yang ditinjau dari latar belakang sosial, ras, suku, jenis kelamin dan kemampuan belajar.Selain itu, dalam pembentukan kelompok digunakan nilai tes awal (pre-test) sebagai dasar dalam menentukan masing-masing kelompok.
3) Tiap kelompok harus memiliki buku paket atau buku panduan Pembentukan kelompok, tiap kelompok harus memiliki buku paket atau buku panduan agar memudahkan siswa dalam menyelesaikan LKS atau masalah yang diberikan oleh guru.
4) Diskusi masalah
Kerja kelompok, guru membagikan LKS kepada setiap siswa sebagai bahan yang akan dipelajari. Dalam kerja kelompok setiap siswa berpikir bersama untuk menggambarkan dan
meyakinkan bahwa tiap orang mengetahui jawaban dari pertanyaan yang telah ada dalam LKS atau pertanyaan yang telah diberikan oleh guru.Pertanyaan dapat bervariasi, dari yang bersifat spesifik sampai yang bersifat umum.
5) Memanggil nomor anggota atau pemberian jawaban
Tahap ini, guru menyebut satu nomor dan para siswa dari tiap kelompok dengan nomor yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban kepada siswa di kelas.
6) Kesimpulan
Guru bersama siswa menyimpulkan jawaban akhir dari semua pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang disajikan.
f. Kekurangan dan Kelebihan Numbered Head Together (NHT)
Penerapan model pembelajaran model NHT memiliki beberapa kelebihan dan juga kekurangan. Hal itu sesuai dengan pendapat Hamdayama (2014:177) yaitu:
1) Melatih siswa untuk dapat bekerja sama dan menghargai pendapatorang lain.
2) Melatih siswa untuk bisa menjadi tutor sebaya.
3) Memupuk rasa kebersamaan.
4) Membuat siswa terbiasa dengan perbedaan.
Selain kelebihan, NHT mempunyai beberapa kekurangan yang harus diwaspadai, hal ini dilakukakan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dalam pembelajaran, diantaranya:
1) Siswa yang terbiasa dengan cara konvensional akan sedikit kewalahan.
2) Guru harus bisa memfasilitasi siswa.
3) Tidak semua mendapat giliran B. Kerangka Pikir
Kurikulum merupakan suatu rencana yang memberi pedoman atau pegangan dalam proses kegiatan belajar mengajar (Nana Syaodih, 2009: 5). Pengertian tersebut juga sejalan dengan pendapat Nasution (2006: 5) yang menyatakan bahwa kurikulum dipandang sebagai suatu rencana yang disusun untuk melancarkan proses belajar mengajar di bawah bimbingan dan tanggung jawab sekolah atau lembaga pendidikan beserta staf pengajarnya.
Pada kurikulum 2013, pengembangan kurikulum mata pelajaran bahasa Indonesia menggunakan pendekatan pembelajaran bahasa berbasis teks. Pada pendekatan berbasis teks ini peserta didik diharapkan mampu memproduksi dan menggukan teks sesuai dengan tujuan dan fungsi sosialnya. Pada dasarnya bahasa Indonesia diajarkan bukan sekadar sebagai pengetahuan bahasa saja, melainkan sebagai teks yang mengembangkan fungsi untuk menjadi sumber aktualisasi diri penggunanya pada konteks sosial, budaya, dan akademis. Teks dimaknai sebagai satuan bahasa, baik lisan maupun tulisan, yang mengungkapkan makna secara kontekstual.
Pembelajaran bahasa Indonesia terdapat empat keterampilan berbahasa yang dipelajari oleh siswa.Salah satu keterampilanyang harus dikuasai oleh siswa, yaitu keterampilan menulis.Siswa kelas X.A SMA Saribuana Makassar memiliki kemampuan menulis tergolong masih rendah, termasuk dalam pembelajaran menulis teks negosiasi. Keterampilan menulis merupakan sebuah proses yang memerlukan ketekunan berlatih dan praktik terus–menerus. Keterampilan menulis adalah salah satu keterampilan berbahasa yang komplek dan tidak mudah.Oleh karena itu, keterampilan menulis terbilang masih lemah dikuasai oleh siswa apalagi untuk menumbuhkan kebiasaan menulis yang produktif.Agar bisa menunjang keberhasilan kegiatan pembelajaran menulis maka diperlukan berbagai macam teknik pembelajaran menulisteks negosiasi. Indikator penilaian keterampilan menulis teks negosiasi menurut buku “Bahasa Indonesia Ekspresi Diri dan Akademik (Buku Guru)” yang dikeluarkan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (2013:42) aspek-aspek yang dinilai yaitu(1) isi, (2) struktur teks, (3) kosakata, (4) mekanik. Kriteria isi, berkaitan dengan penguasaan dan penembangan topik tulisan.Kriteria penilaian struktur teks, berkaitan dengan gagasan pada struktur teks serta kalimat dan penggunaan bahasa.Kriteria penilaian kosakata, berkaitan dengan kata, keefektifan, dan diksi.Kriteria penilaian Mekanik, berkaitan dengan penguasaaan aturan penulisan, ejaan, tanda baca, dan penataan paragraf.
Selama ini proses pembelajaran yang digunakan, yaitu model Discovery Learning yang memiliki kekurangan salah satunya yaitu sangat menyita waktu karena guru dituntut mengubah kebiasaan mengajar pada umumnya sebagai
pemberi informasi menjadi fasilitator, motivator, dan membimbing siswa.
Sementara yang kita ketahui tidak semua peserta didik memiliki kemampuan berpikir rasional, masih banyak siswa yang kemampuan berpikirnya terbatas.
Siswa masih saling mengharapkan satu sama lain dalam artian sebagian dari siswa masih melibatkan teman-temannya atau masih membutuhkan bantuan orang lain.
Sehingga peneliti mencoba menggunakan model pembelajaran yang lain, yaitu penerapan model pembelajaran Cooperatif Learning tipe Numbered Head Together (NHT).
Melalui model pembelajaranCooperatif Learning tipe Numbered Head Together (NHT), siswa dapat lebih mandiri dan dapat berperan aktif dalam proses pembelajaran di kelas.Pelaksanaan pembelajaran menulis teks negosiasi tidak akan berhasil bila dilakukan hanya sekali saja. Menulis teks negosiasi hanya akan berhasil bila dilakukan melalui banyak latihan dan praktik. Jadi, perlu dilakukan pretestyaitu sebelum diberi perlakuan model Numbered Head Together, dan posttest yaitu setelah pemberian perlakuan model Numbered Head Together.
Kedua kegiatan itu dilakukan untuk mengetahui hasil menulis teks negosiasi siswa. Kemudian peneliti akan menganalisis data yang telah dikumpul dari hasil pretest dan posttest. Dan dari hasil analisis data tersebut akan diketahui keefektifan atau tidak setelah menggunakan model Numbered Head Together.
Berikut diuraikan kerangka pikir yang melandasi penelitian ini. Kerangka pikir penelitian dapat digambarkan dalam bagan berikut..
Kerangka pikir model pembelajaran Kooperatif Learning Tipe Numbered Head Together (NHT) dapat digambarkan dalam bagan berikut.
Gambar 1. Bagan Kerangka Pikir C. Hipotesis Penelitian
Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap penelitian.Berdasarkan landasan teori dan kerangka pikir, maka hipotesis dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut.
Menulis
Teks Negosiasi Pembelajaran Bahasa Indonesia
Pretest
Sebelum diterapkan model Numbered Head Together
Kurikulum 2013
Menyimak Membaca Berbicara
Posttest
Setelah diterapkan model Numbered Head Together
Analisis
Temuan
Treatment/
Perlakuan
1. Hipotesis alternatif (Ha): Model pembelajaran Koopratif Learning Tipe Numbered Head Together (NHT) efektif digunakan dalam pembelajaran keterampilan menulis teks negosiasi kelas X.A SMA Saribuana Makassar.
2. Hipotesis nihil (HO): Model pembelajaran Koopratif Learning Tipe Numbered Head Together (NHT) tidak efektif digunakan dalam pembelajaran keterampilan menulis teks negosiasi kelas X.ASMA Saribuana Makassar.
Langkah-langkah dalam pengujian hipotesis sebagai berikut.
a. Mencari Nilai “Md” dengan menggunakan rumus:
Md = ∑ Keterangan:
Md = Mean dari perbedaan pretest dengan posttest = Jumlah dari gain (posttest – pretest)
N = Subjek pada sampel.
b. Mencari Nilai “ ∑ ” dengan menggunakan rumus:
∑ = ∑ (∑ ) Keterangan :
∑ = Jumlah kuadrat deviasi
= Jumlah dari gain (post test – pre test) N = Subjek pada sampel.
c. Menentukan nilai t Hitung dengan menggunakan rumus:
t =
√ ∑
( )
Keterangan :
Md = Mean dari perbedaan pretest dan posttest
∑ = Jumlah kuadrat deviasi N = Subjek pada sampel
d. Menentukan aturan pengambilan keputusan atau kriteria yang signifikan Kaidah pengujian signifikan :
Jika t Hitung> t Tabel maka Ho ditolak dan H1 diterima, berarti penerapan model pembelajaran Kooperatif Learning tipe Numbered Head Together berpengaruh pada hasil belajar siswa dalam materi teks negosiasi kelas X.ASMA Saribuana Makassar.
e. Jika t Hitung< t Tabel maka Hoditerima dan H1ditolak, berarti penerapan model pembelajaran Kooperatif Learning tipe Numbered Head Together tidak berpengaruh pada hasil belajar siswa dalam materi teks negosiasi kelas X.ASMA Saribuana Makassar.
f. Menentukan Nilai t Tabel
Mencari t Tabel dengan menggunakan tabel distribusi t dengan taraf signifikan
Untuk keperluan pengujian hipotesis di atas maka digunakan uji pihak kanan. Kriteria pengujian adalah Ho diterima jika thitung ≤ ttabel dan Ho ditolak jika thitung ˃ ttabel dan H1 diterima.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Desain Penelitian
Jenis dari penelitian ini adalah penelitian eksperimen. Rancangan atau desain penelitian yang digunakan yaitu The One Group Pretest-Posttest Design yang merupakan salah satu jenis dari Pre-eksperimental dalam penelitian eksperimen. Menurut Noor (2011: 115) dalam rancangan The One Group Pretest- Posttest Design pada mulanya diberikan perlakuan (treatment).
Penelitian ini didesain dengan menggunakan pre-eksperimental dengan The One Group Pretest-Posttest. Desainnya dimulai dengan tahap awal (tahap pretest) tanpa diberikan perlakuan untuk mengetahui kemampuan awal siswa, kemudian siswa diberi perlakuan (treatment) dengan menggunakan model pembelajaran Kooperatif Learning Tipe Numbered Head Together (NHT).
Selanjutnya, akan diberi tugas akhir untuk mengetahui kemampuan siswa setelah adanya perlakuan (tahap posttest). Gambaran desain penelitian sebagai berikut.
Gambar 2. Tabel Rancangan Penelitian Keterangan:
O1 : Nilai pre-test X : Perlakuan /treatment
O1 – X – O2
36
O2 : Nilai post-test setelah diberi perlakuan
Pada penelitian ini terdapat dua jenis variabel yang digunakan pada proses penelitian yaitu:
Variabel bebas (X) : Model Cooperatif Learning Tipe Numbered Head Together (NHT).
Variabel terikat (Y) : Kemampuan menulis teks negosiasi.
B. Definisi Operasional Variabel
Pada setiap variabel dalam penelitian ini memiliki pengertian yang sama.
Untuk itu, agar tidak terjadi pemahaman yang berbeda terhadap istilah yang ada dalam penelitian ini maka berikut ini akan dijelaskan definisi operasional dari variabel bebas dan variabel terikat. Berikut ini definisi operasional variabel dalam penelitian ini.
1. Model pembelajaran Kooperatif Learning tipe Numbered Head Together (NHT) adalah salah satu model pembelajaran kolaboratif yang menggabungkan dua keterampilan berbahasa yaitu keterampilan menyimak dan menulis untuk digunakan dalam pembelajaran menulis teks negosiasi kelas X.
2. Menulis teks negosiasi merupakan keterampilan berbahasa yang kompleks untuk melatih siswa agar mampu menuangkan ide dan gagasan berdasarkan fakta untuk dapat disampaikan kepada orang lain.
C. Populasi dan Sampel 1. Populasi
Menurut Sugiyono (2010: 80) populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik
tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Berdasarkan penjelasan para ahli tersebut, maka ditetapkan populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X.A SMA Saribuana Makassar.
Kelas Jumlah
X.A/1 30
Jumlah 30
(Sumber: Sekolah SMA Saribuana Makassar)
2. Sampel
Sugiyono (2010: 81) menyatakan bahwa sampel merupakan bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi dalam penelitian. dalam penelitian terdapat proses pengambilan sampel dari populasi yang ada.
Sampel dalam penelitian ini adalah total sampling atau biasa disebut juga sampling jenuh, yaitu teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasi relatif kecil, kurang dari 30 orang, atau penelitian yang ingin membuat generalisasi dengan kesalahan yang sangat kecil. (Sugiyono 2018: 85).
Berdasarkan penelitian ini karena jumlah populasi tidak lebih besar dari 100 orang responden, maka penulis mengambil 100% jumlah populasi yang ada pada sekolah SMA Saribuana Makassar yaitu sebanyak 30 orang.
D. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian merupakan alat yang digunakan untuk mengumpulkan data. Menurut Arikunto (2015: 203), instrumen penelitian adalah alat fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cepat lengkap, dan sistematis sehingga lebih mudah diolah. Peneliti menggunakan instrument yaitu pemberian tugas menulis teks negosiasi. Pada tahap awal penelitian, observasi dan siswa akan di berikan tugas menulis mengenai materi teks negosiasi, tahap berfungsi untuk mengukur kemampuan dan intelegensi siswa mengenai pembelajaran tersebut.
Tabel 3.1Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)
Standar Minimal Kriteria Ketuntasan Belajar
Tidak Tuntas
Tuntas
Membuat Daftar Skor
Skor yang ditetapkan berdasarkan kriteria menulis teks negosiasi, adapun empat aspek yang dinilai beserta bobotnya masing-masing tergambarkan dalam tabel berikut ini.
Tabel 3.2 Kriteria Penilaian Penulisan Teks Negosiasi
No Aspek Penilaian Tingkat
Rentang Skor 1. Isi dan tujuan
a. Tujuan tulisan yang luas dan lengkap, isi sangat terjabar, sesuai dengan kutipan.
b. Tujuan tulisan yang luas dan lengkap, isi sangat terjabar, sesuai dengan teks negosiasi, meskipun kurang rinci.
c. Tujuan tulisan terbatas, isi kurang lengkap, kurang terjabar, dan kurang rinci.
d. Tidak ada tujuan tulisan, isi tidak mengena.
e. Tidak ada tujuan dan isi
Amat Baik
Baik
Cukup
Kurang
Sangat Kurang
5
4
3
2
1
2. Struktur (Orientasi, pengajuan, penawaran, persetujuan, penutup)
a. Struktur tulisan teratur, rapi dan amat jelas. Struktur tulisan kaya akan gagasan, urutan amat logis, kohesi amat tinggi.
b. Stuktur tulisan teratur, rapi, amat jelas.
Banyak gagasan, logis kohesi tinggi.
c. Struktur tulisan kurang teratur, rapi, dan kurang jelas. Gagasan kurang, urutan
Amat Baik
Baik
Cukup
5
4
3
kurang logis, kohesi kurang tinggi.
d. Struktur tulisan tidak teratur, tidak jelas, dan kurang gagasan. Urutan tulisan tidak logis, dan tidak ada kohesi.
e. Struktur tulisan tidak ada.
Kurang
Sangat Kurang
2
1
3. Kosakata dan Diksi
a. Kosakata tulisan amat luas, penggunaan diksi sangat efektif, sangat menguasai pembentukan kata, pemilihan kata sangat tepat.
b. Kosakata tulisan luas, penggunaan diksi efektif, sangat menguasai pembentukan kata dan pemilihan kata yang tepat.
c. Kosakata tulisan terbatas dan kurang efektif. kurang menguasai
Amat Baik
Baik
Cukup
5
4
3
d. Pembentukan kata, dan pemilihan kata kurang tepat. Kosakata tulisan seperti terjemahan. Pembentukan kata sangat kurang dan tidak menguasai kata-kata.
e. Kosakata tulisan dan pemilihan kata sangat kurang.
Kurang
Sangat
Kurang 1
4. Bahasa (Tata Bahasa dan Struktur) dan Penulisan PUEBI
a. Tata bahasa tulisan sangat baik, sedikit kesalahan penggunaan, penyusunan kalimat dan kata-kata.
b. Penggunaan dan penyusunan kalimat sederhana, sedikit kesalahan tata bahasa, penulisan baik tanpa mengaburkan makna dan menguasai kaidah penulisan kata, ejaan dengan sedikit kesalahan.
c. Tulisan dalam penggunaan dan penyusunan kalimat sederhana.
Terdapat kesalahan kata bahasa yang
Amat Baik
Baik
Cukup
5
4
3 2
mengaburkan makna dan kurang menguasai kaidah penulisan kata, ejaan dan banyak kesalahan
d. Tulisan dalam penggunaan dan penyusunan kalimat kurang baik dan kurang komunikatif.
e. Tulisan dalam kaidah penulisan kata dan ejaan sangat kurang baik. Tulisan banyak terjadi kesalahan.
Kurang
Sangat Kurang
2
1
Nilai = Perolehan Skor x Skor 100 Skor maximun (100)
E. Teknik Pengumpulan Data
Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah obeservasi dan tes. Observasi merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan mengamati secara langsung keadaan atau situasi dari subjek penelitian. Tugas yang diberikan adalah menulis teks negosiasi. Tugas diberikan dua kali saat pretest dan posttest. Pada kegiatan pretest, siswa diberi tugas menulis teks negosiasi sesuai dengan model teks negosiasi yang diberikan tanpa menggunakan model pembelajaran Numbered Head Together (NHT) Sedangkan pada kegiatan posttest, siswa diberi tugas menulis teks negosiasi menggunakan Numbered Head Together ( NHT).
F. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan analisis statistik deskriptif dan inferensial. Adapun proses pengolahan data dari kedua teknik analisis tersebut sebagai berikut.
1. Analisis Statistik Deskriptif a. Menghitung nilai rata-rata
Nurgiyantoro (2012: 219), menjabarkan rumus untuk mencari skor rata-rata sebagai berikut:
∑ Keterangan:
= Mean (nilai rata-rata)
∑ x = Jumlah nilai siswa
N = Jumlah sampel penelitian
Untuk menghitung nilai rata-rata dapat dilakukan dengan cara jumlah seluruh nilai siswa dibagi jumlah sampel penelitian.
2. Analisis Statistik Inferensial
Teknik analisis inferensial digunakan dan ditujukan untuk menguji hipotesis penelitian yang telah ditetapkan. Pengujian hipotesis dimaksudkan untuk menjawab hipotesis yang telah diajukan. Apabila sampel berpasangan dengan membandingkan sebelum dan sesuadah perlakuan maka digunakan uji-t (t-test) dengan taraf signifikansi α = 0,05 bertaraf 5% . Berikut rumusnya: Sugiyono (2016: 273).
Pada penggunaan statistik inferensial ini peneliti menggunakan teknik statistik t (uji t) dengan tahapan sebagai berikut.
t =
√ ( )∑ Keterangan :
t = Uji t
Md = Mean dari perbedaan pretest dan posttest
∑ = Jumlah kuadrat deviasi N = Subjek pada sampel.
(Sumber : Sugiyono 2016: 273)
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan keterampilan menulis teks negosiasi tanpa adanya model pembelajaran Numbered Head Together dan setelah adanya perlakuan model pembelajaran Numbered Head Together. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui keefektifan model pembelajaran Numbered Head Together terhadap kemampuan menulis teks negosiasi di SMA Saribuana Makassar.
Penelitian terhadap kemampuan menulis teks negosiasi hanya menggunakan satu kelompok, yaitu kelas SMA X.A dengan jumlah siswa sebanyak 30 orang, yang diberikan tugas sebanyak 2 kali (pre-test dan post-test). Pre-test adalah tes kemampuan menulis teks negosiasi sebelum diberi perlakuan model pembelajaran Numbered Head Together (NHT) Sedangkan, post-test adalah tes kemampuan menulis teks negosiasi setelah diberi perlakuan berupa model pembelajaran Numbered Head Together (NHT).
Data yang telah diperoleh dari hasil menulis teks negosiasi siswa kelas X.A SMA Saribuana Makassar pada pre-test dan post-test akan dianalisis sesuai dengan teknik analisis data statistik deskriptif dan analisis statistik inferensial.
Berikut ini dapat dilihat penyajiannya:
46