TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR A. Tinjauan Pustaka
3. Konsep Dasar Teks Negosiasi a. Pengertian Teks
Menurut Alex Sobur, (2004: 53) mendifinisikan teks sebagai seperangkat tanda yang di transmisikan dari seorang pengirim kepada seorang penerima melalui medium tertentu atau kode-kode tertentu.
Sedangkan menurut pandangan Eriyanto, (2001: 3), teks hampir sama dengan wacana, bedanya teks hanya bisa disampaikan dalam bentuk tulisan saja, sedangkan wacana bisa disampaikan dalam bentuk lisan maupun tertulis.
b. Pengertian Teks Negosiasi
Teks merupakan ungkapan pikiran manusia yang lengkap yang di dalamnya memiliki situasi dan konteks.Teks merupakan rangkaian kata-kata asli yang tersusun dari sebuah kata-kata kemudian menjadi kalimat dan berkembang menjadi paragraf yang utuh.
Tim Kementrian Pendidikan dalam kurikulum 2013 (2013: 134), mendefinisikan pengertian negosiasi sebagai berikut.
Negosiasi adalah bentuk interaksi social yang berfungsi untuk mencapai kesepakatan bersama antara pihak-pihak yang mempunyai perbedaan kepentingan. Pihak-pihak tersebut berusaha menyelesaikan perbedaan itu dengan cara yang baik tanpa merugikan salah satu pihak.
Negosiasi dilakukan karena pihak-pihak yang berkepentingan pelu membuat kesepakatan mengenai persoalan yang menuntut penyelesaian bersama.
Selain itu Tim Studi Edukasi (2013: 265), menjelaskan “negosiasi adalah proses tawar menawar dengan jalan berunding guna mencapai kesepakatan bersama antara satu pihak (kelompok atau organisasi) dan pihak (kelompok atau organisasi) yang lain”. Artinya, dalam negosiasi selalu diadakan proses perundingan. Hal ini dilakukan untuk mencari jalan terbaik dalam penyelesaian.
Berdasarkan uraian diatas, terdapat persamaan negosiasi, di antaranya 1) negosiasi terjadi antara kedua bela pihak; 2) negosiasi berisi perjanjian; 3) negosiasi terjadi secara baik-baik tidak merugikan pihak-pihak lain.
c. Ciri-ciri Teks Negosiasi
Menurut Kosasih (2013: 88) ciri-ciri atau karakteristik teks negosiasi, yaitu :
1) Negosiasi menghasilkan kesepakatan.
2) Negosiasi menghasilkan keputusan yang saling menguntungkan.
3) Negosiasi merupakan sarana untuk mencari penyelesaian.
4) Negosiasi mengarah kepada tujuan praktis.
5) Negosiasi memproritaskan kepentingan bersama.
Menurut Tim Edukasi (2013: 232), ciri dalam ragam bahasa lisan adalah sebagai berikut.
1) dalam ragam bahasa lisan kalimat yang digunakan cenderung pendek-pendek karena mengalami pelepasan pada beberapa bagiannya.
Contoh : Ya terimakasih!
Lalu, bagaimana?
2) Banyak menggunakan ragam bahasa tidak baku.
Contoh : gak, gimana, ngerti.
3) Banyak menggunakan ragam bahasa percakapan.
Contoh : wah, ya, kan.
4) Kalimat-kalimatnya dalma bentuk penuturan langsung.
Berdasarkan uraian diatas, ciri kebahasaan teks negosiasi pada umumnya menggunakan bahasa percakapan sehari-hari.Walaupun ciri kebahasaan teks negosiasi menggunakan ragam bahasa lisan, tetapi tidak mengurangi prinsip sopan santun yang ada di dalam percakapan teks negosiasi.
d. Struktur Teks Negosiasi
Sebuah teks terdapat struktur yang membangun teks tersebut, struktur merupakan susunan, tahapan, ataupun urutan yang terdapat dalam teks.Tujuannya agar teks tersebut tersusun secara sistematis dan utuh.Seperti yang diuraikan Tim Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan
dalam bahasa Indonesia Ekspresi Diri dan Akademik (2013: 141), struktur teks negosiasi sebagai berikut.
1) Orientasi
Orientasi sama saja dengan pembuka. dalam teks negosiasi tahap pertama adalah pembuka. Biasanya dalam pembuka baik kepada nagosiator 1 maupun nagosiator 2 menyampaikan pengenalan atau perbincangan awal untuk mengawali proses negosiasi.
2) Permintaan
Pihak yang ingin tahu menanyakan suatu barang atau permasalahan yang dihadapi.
3) Pemenuhan
Pihak yang terkait memberitahukan mengenai barang atau objek agar orang yang diajak interaksi oleh pihak tersebut lebih paham.
4) Penawaran
Suatu puncak dari negosiasi karena terjadi proses tawar menawar pihak satu dengan pihak yang lainnya untuk mendapat suatu kesepakatan yang menguntungkan satu sama lain.
5) Persetujuan
Kesepakatan atas hasil penawaran dari kedua belah pihak.
6) Penutup
Mengakhiri dari sebuah percakapan antara kedua pihak untuk menyelesaikan suatu proses interaksi dalam negosiasi.
Tim Studi Pustaka (2013: 214), menjelaskan bahwa struktur teks negosiasi sebagai berikut.
a) Tahap 1
Negosiator 1 menyampaikan mamksud bernegosiasi kepada negosiator 2.
b) Tahap 2
Negosiator 2 menyampaikan penolakan ataupun sanggahan dengan alasan-alasan tertentu.
c) Tahap 3
Negosiator 1 mengemukakan argumentasi yang disertai fakta-fakta yang memperkuat maksudnya itu agar disetujui oleh negosiator 2.
d) Tahap 4
Negosiator 2 kembali mengemukakan penolakan dengan sejumlah argumentasi dan fakta.
e) Tahap 5
Terjadinya kesepakatan atau ketidaksepakatam diantara kedua belah pihak.
Dari pendapat yang dikemukakan para ahli, terdapat persamaan dan perbedaan megenai struktur teks negosiasi. Permasaan yang terlihat bahwa struktur teks negosiasi diawali dengan orientasi atau pembuka, lalu berlanjut
pada pemenuhan atau isi baik pihak 1 maupun pihak 2 mengemukakan argumennya yang disertai dengan fakta, dan diakhiri dengan penutup baik terjadi kesepakatan maupun ketidaksepakatan. Sementara perbedaan yang mendasar adalah jika struktur yang dikemukakan Tim Kemendikbud terdiri dari 6 tahap, sedangkan yang dikemukakan oleh Tim Studi Edukasi terdiri dari 5 tahap.
Berdasarkan pendapat para ahli mengenai struktur teks negosiasi, dapat penulis simpulkan bahwa struktur teks negosiasi terdiri dari orientasi, permintaan, pemenuhan, penawaran yang disertai argument dengan fakta, persetujuan yang diakhiri dengan kesepakatan atau ketidaksepakatan, dan penutupan.Akan tetapi, penerapan struktur teks negosiasi memakai semua struktur.
e. Langkah –langkah Memroduksi Teks Negosiasi
Kegiatan memroduksi teks, terdapat langkah-langkah yang secara runtun harus dilakukan.Langkah-langkah diperlukan dalam menulis sebuah karya.Adapaun gunanya adalah untuk memudahkan siswa dalam menulis.dengan mengikuti langkah-langkah maka secara bertahap peserta didik akan menyelesaikan tulisan yang sesuai prosedur.
Kosasih (2014: 98) mengungkapkan bahwa perlunyamelakukan sejumlah persiapan agar proses negosiasi berlangsung dengan baik untuk mendapatkan hasil sesuai dengan harapan. Adapun langkah-langkah yang harus dipersiapkan, yaitu.
1) Menentukan tujuan negosiasi.
2) Menentukan pihak yang perlu dihubungi.
3) Memilih strategi yang efektif untuk menghadapi mitra atau lawan bicara.
4) Memikirkan alasan yang rasional agar dapa meyakinkan mitra bicara untuk kepentingan tersebut.
Langkah-langkah yang di ungkap oleh Kosasih dilakukan secasra bertahap.Tahapan mulai dari tujuan negosiasi hingga memikirkan alasan agar mitra bicara merasa yakin.oleh karena itu, point-point tersebut perlu dipersiapkan dengan matang untuk menghasilkan negosiasi yang baik.
f. Kaidah Kebahasaan Teks Negosiasi
Menurut Kosasih (2013: 93) menyatakan bahwa, kaidah kebahasaan teks negosiasi ditandai dengan hal-hal sebagai berikut.
(1) Keberadaan kalimat berita, Tanya dan perintah hampir berimbang. Hal tersebut terkait dengan bentuk negosiasi yang berupa percakapan sehari-hari sehingga ketiga jenis kalimat tersebut mungkin muncul secara bergantian.
(2) Menggunakan kalimat yang menyatakan keinginan atau harapan. Hal ini banyak terkait dengan fungsi negosiasi itu, yaitu untuk menyatakan kepentingan dan mengompromikannya dengan mitra bicara. Oleh karena itu, akan banyak kalimat yang menyatakan maksud tersebut yang ditandai dengan penggunaan kata-kata seperti minta, harap, mudah-mudahan.
(3) Banyak menggunakan kalimat bersyarat, yakni kalimat yang ditandai dengan kata-kata jika, bila, kalau, seandainya, apabila. Ini terkait dengan sejumlah syarat yang diajukan masing-masing pihak dalam rangkaian “adu tawar” kepentingan.
(4) Banyak menggunakan konjungsi penyebab (kausalitas). Hal ini terkait dengan sejumlah argument yang disampaikan masing-masing.untuk memperjelas alasan, mereka perlu menyampaikan sejumlah alasan yang disertai penggunaan konjungsi penyebab.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa kaidah kebahasaan teks negosiasi berupa kalimat berita, kalimat Tanya, kalimat perintah, dan menggunakan konjungsi atau kata penghubung.