• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.4 Analisis Tabel Tunggal

Analisis tabel tunggal yang dimaksudkan untuk melihat distribusi jawaban responden dari setiap variabel yang diteliti. Hasil yang diperoleh setelah melakukan penelitian di lapangan adalah sebagai berikut:

Identitas Responden

Identitas responden dipaparkan untuk lebih mengetahui latar belakang responden. Adapun karakteristik jenis kelamin telah membantu peneliti untuk mengetahui sebaran responden. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel 4.1.

Jenis Kelamin Responden NO Jenis Kelamin F % 1 Laki-laki 27 44.26 2 Perempuan 34 55.74 Total 61 100 Sumber: ID/FC3

Berdasarkan tabel 4.1 diketahui jumlah responden perempuan lebih banyak dibandingkan responden laki-laki, dengan jumlah responden perempuan sebanyak 34 orang (55.74%), Sedangkan jumlah responden laki-laki sebanyak 27 orang (44.26%). Dalam penelitian ini dapat dijelaskan bahwa pada penarikan sampel secara acak jumlah responden perempuan lebih banyak dari pada laki-laki.

Variabel Persepsi Mahasiswa Komunikasi FISIP USU A.Seleksi

Tabel 4.3

Frekuensi Melakukan bimbingan skripsi.

No Pernyataan F %

1 Sangat tidak sering (Lebih dari satu bulan)

2 3

2 Tidak sering (Sebulan sekali) 3 4.

3 Biasa saja (Sekali dua minggu) 29 48

4 Sering (satu kali seminggu) 23 38

5 Sangat sering (dua kali dalam seminggu)

4 7

Total 61 100

Sumber: P1/FC4

Berdasarkan tabel 4.2, diketahui bahwa sebanyak 29 orang (48%) mahasiswa biasa saja dalam melakukan bimbingan skripsi, yaitu sekali dalam 2 minggu. Untuk responden yang sering melakukan bimbingan skripsi dengan dosen pembimbing berjumlah 23 orang (38%), yaitu sekali dalam seminggu. Selebihnya 4 orang (7%) menyatakan sangat sering, 3 orang (4%) menyatakan

tidak sering dan sebanyak 2 orang (3%) menyatakan sangat tidak sering dalam melakukan bimbingan skripsi dengan dosen pembimbing. Maka dapat disimpulkan mayoritas responden menyatakan biasa saja dalam melakukan bimbingan dengan pertemuan sekali dalam dua minggu.

Hal ini dikarenakan adanya berbagai hambatan seperti jadwal dosen pembimbing yang padat dan sebagian mahasiswa memerlukan waktu untuk mempersiapkan bahan skripsi sebelum melakukan bimbingan untuk meminimalisir kesalahan. Namun, dua orang (3%) menyatakan sangat tidak sering. Hal ini dikarenakan sulitnya untuk bertemu dengan dosen pembimbing yang kadang susah untuk dihubungi. Nomor handphone dosen pembimbing yang terlalu banyak bahkan sering tidak aktif ketika di telefon. Selain itu sms dan telefon dari mahasiswa sering tidak diangkat dan dibalas ketika ingin menyatakan maksud ingin berjumpa untuk bimbingan skripsi. Ada lagi penyebab mahasiswa sangat tidak sering melakukan bimbingan karena dosen pembimbingnya sering keluar kota/keluar negeri, sehingga membuat mahasiswa sering terabaikan.

B. Interprestasi

Tabel 4.4

Pentingnya arti bimbingan skripsi

No Pernyataan F %

1 Sangat tidak penting 0 0

2 Tidak penting 0 0 3 Biasa saja 1 1 4 Penting 40 66 5 Sangat penting 20 33 Total 61 100 Sumber: P2/FC5

Dari tabel 4.3 dapat diketahui bahwa 40 orang (66%) menyatakan pentingnya bimbingan skripsi. Untuk 20 orang (33%) menyatakan sangat penting bimbingan skripsi, 1 orang (1%) menyatakan biasa saja. Maka, dapat dianalisis bahwa mayoritas 40 orang (66%) responden merasa penting bimbingan skripsi

karena dapat membantu proses penyelesaian skripsi dengan baik dan memiliki kualitas dengan adanya masukan-masukan yang berguna.

Selain itu mahasiswa juga merasa dengan sering melakukan bimbingan, meraka jadi mengetahui apa yang harus diperbaiki dan teori apa yang harus bagus untuk digunakan. Dengan begitu mereka akan cepat melangkah ke sidang meja hijau. Namun satu orang (1%) menyatakan biasa saja dalam menganggap arti bimbingan. Responden tersebut mengatakan bahwa terkadang bimbingan itu penting untuk mendapatkan tanda tangan dari dosen pembimbing untuk lanjut ke bab berikutnya. Bahkan menurut responden arti bimbingan menjadi biasa saja, dikarenakan dosen pembimbing cenderung ingin cepat mengakhiri pembicaraan ketika melakukan bimbingan, dan sibuk dengan urusan diluar kampus. Hal inilah yang membuat responden terkadang menganggap bimbingan sebagai formalitas saja.

Tabel 4.5

Motivasi yang diberikan oleh dosen pembimbing bermanfaat dalam penyusunan skripsi.

No Pernyataan F %

1 Sangat tidak setuju 0 0

2 Tidak setuju 2 3.3 3 Biasa saja 11 18 4 Setuju 35 57.4 5 Sangat setuju 13 21.3 Total 61 100 Sumber: P3/FC6

Dari tabel 4.4 dapat diketahui bahwa 35 orang (57.4%) menyatakan setuju bahwa motivasi yang diberikan oleh dosen pembimbing bermanfaat dalam penyusunan skripsi. Sebanyak 13 orang (21.3%) menyatakan sangat setuju bahwa motivasi yang diberikan oleh dosen pembimbing bermanfaat dalam penyusunan skripsi. 11 orang (18%) menyatakan biasa saja, 2 orang (3.3%) menyatakan tidak setuju.

Dalam hal ini dapat simpulkan mayoritas responden menyatakan setuju bahwa motivasi yang diberikan oleh dosen pembimbing bermanfaat dalam penyusunan skripsi, dikarenakan sebagian besar dosen memotivasi mahasiswa bimbingannya untuk semangat dan terpacu dalam pengerjaan skripsinya. Bahkan responden juga diberi semangat agar mengejar sidang dan wisuda dengat cepat.

Selain itu responden yang diberi motivasi menjadi lebih serius dalam pengerjaan skripsinya. Namun, dua orang mengatakan tidak setuju, responden tersebut mengatakan bahwa selama bimbingan tidak pernah ada motivasi. Dosen pembimbing cenderung to do point dengan bimbingan skripsi saja. Bahkan terkadang pembicaraan ketika bimbingan tidak berlangsung lama dan cepat diakhiri tanpa ada motivasi-motivasi. Menurut responden hal ini dikarenakan dosen pembimbing yang sibuk dengan kerjaan sampinganya diluar kampus dari pada membimbing mahasiswanya.

Tabel 4.6

Pengetahuan yang diberikan oleh dosen pembimbing sangat berarti dalam penyusunan skripsi.

No Pernyataan F %

1 Sangat tidak setuju 0 0

2 Tidak setuju 1 1.6 3 Biasa saja 8 13.1 4 Setuju 39 63.9 5 Sangat setuju 13 21.3 Total 61 100 Sumber: P4/FC7

Dari tabel 4.5 dapat diketahui bahwa sebanyak 39 responden (63.9%) setuju mengenai pengetahuan yang diberikan oleh dosen pembimbing sangat berarti dalam penyusunan skripsi. Responden yang menyatakan sangat setuju bahwa pengetahuan yang diberikan oleh dosen pembimbing sangat berarti dalam penyusunan skripsi yaitu sebanyak 13 orang (21.3%). Kemudian sebanyak 8 orang (13.1%) menjawab biasa saja dan 1 orang (1.6%) menjawab tidak setuju

bahwa pengetahuan yang diberikan dosen pembimbing sangat berarti dalam penyusunan skripsi.

Peneliti menyimpulkan dari total 61 responden, mayoritas 39 orang (63.9%) responden menyatakan setuju bahwa pengetahuan yang diberikan dosen pembimbing sangat berarti dalam penyusunan. Hal ini dikarenakan mahasiswa merasa terbantu dan bertambah pengetahuan dalam proses pengerjaan skripsinya. Selain itu teori dan pengerjaan skripsi menjadi lebih mudah dengan adanya pengetahuan dan masukan dari dosen pembimbing. Dari yang awalnya tidak mengerti dengan pengerjaan skripsi perlahan-lahan mulai memahami dengan adanya pengetahuan yang diberikan oleh dosen.

Namun, satu orang menyatakan tidak setuju, hal ini dikarenakan responden cenderung tidak begitu mendapat pengetahuan dari dosen pembimbing. Setiap melakukan bimbingan skripsi dosen hanya memberikan tanda tangan untuk melanjutkan ke bab berikutnya. Bahkan terkadang ketika mahasiswa bertanya ke dosen pembimbing, responden cenderung tidak mengerti dengan jawaban yang diberikan oleh dosen pembimbing yang kadang tidak jelas dan berbelit-belit. Tak jarang responden tersebut lebih banyak bertanya ke dosen pembimbing yang lain, atau berdiskusi dengan teman-temannya saja.

C. Reaksi

Dari tabel 4.6 dibawah dapat dilihat 50 responden (82%) menyatakan setuju dan 7 responden (11.4%) menyatakan sangat setuju sedangkan 4 responden lainnya masing-masing menyatakan biasa saja 2 responden (3.3%) dan tidak setuju 2 responden (3.3%) . ini artinya dalam proses bimbingan, mahasiswa dan mahasiswi lebih banyak mengikuti setiap arahan yang diberikan dosen pembimbing dalam pengerjaan skripsi. Dengan perbandingan, 93.4% banding 6.6%. Hal ini dikarenakan, banyak arahan yang diberikan dosen pembimbing jelas dan membantu peneliti di dalam proses pengerjaan skripsi.

Tabel 4.7

Mengikuti setiap arahan yang diberikan dosen pembimbing dalam pengerjaan skripsi.

No Pernyataan F %

1 Sangat tidak setuju 0 0

2 Tidak setuju 2 3.3 3 Biasa saja 2 3.3 4 Setuju 50 82 5 Sangat setuju 7 11.4 Total 61 100 Sumber: P5/FC8

Mayoritas responden yang mengatakan setuju dan sangat setuju mengikuti setiap arahan yang diberikan dosen pembimbing dalam pengerjaan skripsi dikarenakan beberapa hal yaitu: mahasiswa merasa arahan yang diberikan oleh dosen pembimbingnya jelas, tepat dan layak untuk diikuti. Yang kedua dengan mengikuti arahan, pengerjaan skripsi mereka jauh lebih baik dan terarah. kemudian ada juga alasan kebanyakan mahasiswa mengikuti setiap arahan agar diberi tanda tangan dan bisa lanjut ke proses bab berikutnya.

Selain itu ada juga mahasiswa yang mengikuti karena terpaksa, jika tidak sama persis seperti apa yang diperintahkan maka tidak akan di tanda tangan. Contohnya ada dosen yang tidak suka dengan penghitungan menggunakan SPSS, dan lebih mengarahkan agar mahasiswanya menghitung manual. Mau tidak mau mahasiswa tersebut mengikuti arahan yang diberikan. Namun ada dua orang responden yang menyatakan tidak setuju dengan mengikuti setiap arahan yang diberikan oleh dosen pembimbing. Hal ini terjadi dikarenakan perbedaan pandangan. Menurut responden arahan yang diberikan dosen terkadang tidak sesuai dengan pengerjaan skripsinya. Sehingga responden tersebut tidak mau mengikuti setiap arahan begitu saja. Responden tersebut selalu mendiskusikan setiap arahan dan tidak mau menerima arahan begitu saja. jika arahan memiliki landasan yang jelas, maka rmahasiswa tersebut baru mau mengikutinya.

Tabel 4.8

Melakukan semua perintah dosen pembimbing dalam pengerjaan skripsi

No Pernyataan F %

1 Sangat tidak setuju 0 0

2 Tidak setuju 2 3.3 3 Biasa saja 16 26.22 4 Setuju 38 62.29 5 Sangat setuju 5 8.19 Total 61 100 Sumber: P6/FC9

Dari tabel 4.7 dapat diketahui dari 61 jumlah responden terdapat 38 orang (62.29%) menjawab setuju, mereka melakukan semua perintah dosen pembimbing dalam pengerjaan skripsi, 16 orang (26.22%) menyatakan biasa saja dalam melakukan semua perintah dosen pembimbing dalam pengerjaan skripsi sedangkan 5 orang (8.19%) menyatakan sangat setuju dan 2 orang (3.3%) menyatakan tidak setuju dalam melakukan semua perintah dosen pembimbing saat pengerjaan skripsi.

Setelah itu dapat dianalisis bahwa mayoritas responden manyatakan setuju jika mereka melakukan semua perintah dosen pembimbing dalam pengerjaan skripsi. Dikarenakan mereka menilai perintah yang diberikan dosen sangat membantu merekan dalam mengerjakan skripsi yang baik dan benar. Ada juga mahasiswa yang mengikuti semua perintah karena ingin cepat diberi izin untuk melanjutkan pengerjaan ke bab berikutnya dan tidak ingin terlalu banyak perbaikan dan ingin sidangnya nanti berjalan lancar. Namun, ada dua orang mahasiswa yang tidak sepenuhnya setuju dengan mengikuti semua perintah dari dosen. Hal ini dikarenakan mahasiswa tersebut merasa perintah yang diberikan terkadang tidak tepat. Mahasiswa tersebut mempertimbangkan segala sesuatu terlebih dahulu sebelum mengikuti setiap perintah. Jika perintah dari dosen pembimbing tepat maka akan dilaksanakan dan jika kurang tepat akan di diskusikan kembali sampai bertemu dengan kesimpulan akhir.

Variabel Proses Komunikasi Dalam Bimbingan Skripsi 1. WHO

Tabel 4.9

Dosen pembimbing membuka pembicaraan dalam bimbingan

No Pernyataan F %

1 Sangat tidak setuju 0 0

2 Tidak setuju 4 7 3 Biasa saja 19 31 4 Setuju 30 49 5 Sangat setuju 8 13 Total 61 100 Sumber: P7/FC10

Pada Tabel 4.8 dapat diketahui bahwa responden yang merupakan mahasiswa dan mahasiswi menyatakan 30 orang (49%) setuju pada setiap proses bimbingan, dosen mereka yang membuka pembicaraan. Untuk 19 orang (31%) biasa saja dosen pembimbing membuka pembicaraan dalam bimbingaan. 8 orang (13%) menyatakan sangat setuju jika dosen pembimbing membuka pembicaraan dalam bimbingan dan 4 orang (7%) menyatakan tidak setuju jika dosen pembimbing yang membuka pembicaraan dalam setiap bimbingan.

Mayoritasnya responden yang menyatakan setuju jika dosen pembimbing mereka yang membuka pembicaraan dalam bimbingan disebabkan faktor-faktor seperti sikap dosen yang peduli dan suka bercerita. Ada juga responden yang mengatakan bahwa dosennya hobi bercerita panjang lebar karena merasa senang dengan mahasiswanya bimbingannya. Contohnya seperti: gimana? Udah sampai mana pengerjaannya? Apa ada masalah ketika penelitian? Dan lain sebagainnya. Namun ada juga empat orang mahasiswa menyatakan yang kurang setuju. Hal ini dikarenakan responden tersebut lebih aktif dalam membuka pembicaraan. Terkadang dosennya hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan mahasiswa saja. Contohnya: Pak/bu saya hari ini mau bimbingan mengenai bab 2, apakah yang saya buat ini sudah benar?, lalu dosen menjawab sesuai yang ditanya saja tanpa ada bertanya yang lain-lain seperti: kamu sudah sampai mana pengerjaannya? Apa kesulitan yang kamu hadapi? Dan lain sebagainya.

Mahasiswa tersebut merasa dosennya kurang peduli dan hanya menjawab sesuai dengan pertanyaan yang di ajukan saja tanpa ada pembicaraan lain.

Tabel 4.10

Saya membuka pembicaraan dalam memulai bimbingan skripsi

No Pernyataan F %

1 Sangat tidak setuju 1 2

2 Tidak setuju 3 5 3 Biasa saja 30 49 4 Setuju 25 40 5 Sangat setuju 2 4 Total 61 100 Sumber: P8/FC11

Dari tabel 4.9 dapat diketahui bahwa 30 orang (49%) biasa saja bahwa mereka yang membuka pembicaraan dalam memulai bimbingan skripsi. 25 orang (40%) setuju jika mereka yang membuka pembicaraan dalam memulai bimbingan skripsi. 3 Orang (5%) menyatakan tidak setuju membuka pembicaraan dalam memulai bimbingan skripsi. 2 orang (4%) menyatakan sangat setuju membuka pembicaraan dalam memulai bimbingan skripsi dan 1 orang (2%) sangat tidak setuju jika dia membuka pembicaraan untuk memulai bimbingan skripsi. Banyaknya responden yang biasa saja untuk membuka pembicaraan dalam bimbingan. Kadang tergantung situasi, kadang dosen yang membuka pembicaraan dan kadang mahasiswa yang membuka pembicaraan. Namun, ada juga mahasiwa yang menyatakan tidak setuju untuk membuka pembicaraan, hal ini dikarenakan mahasiswa terkadang ada rasa takut dan segan takut salah membuka pembicaraan untuk memulai pembicaraan ketika bimbingan. Jadi mahasiswa tersebut lebih memilih menunggu dosen untuk membuka pembicaraan ketika bimbingan.

Dokumen terkait