URAIAN TEORITIS
B. Komunikasi Dua arah
2.1.2. Komunikasi Antar Pribadi
2.1.2.3 Definisi berdasakan pengembangan
Dalam pendekatan pengembangan, komunikasi antarpribadi dilihat sebagai akhir dari perkembangan dari komunikasi yang bersifat tak-pribadi pada satu ekstrem menjadi komunikasi pribadi atau intim pada esktrem yang lain. Perkembangan ini mengisyaratkan atau mendefinisikan pengembangan komunikasi antarpribadi. Penulis disini mengikuti analisis pakar komunikasi Gerald Miller (1978). Komunikasi antarpribadi ditandai oleh, dan dibedakan dari, komunikasi tak-pribadi berdasarkan sedikitnya tiga faktor.
Komunikasi antarpribadi dapat terjadi dalam konteks satu komunikator dengan satu komunikan (komunikasi diadik: dua orang) atau satu komunikator dengan dua komunikan (komunikasi triadic: tiga orang). Lebih dari tiga biasanya dianggap komunikasi kelompok (Daryanto,2013: 35). Sedangkan menurut Kathleen S. Verderber et al. (2007), komunikasi antarpribadi merupakan proses melalui mana orang menciptakan dan mengelola hubungan mereka, melaksanakan tanggung jawab secara timbal balik dalam menciptakan makna (Budyatna, 2011: 14)
Komunikasi antarpribadi dapat berlangsung secara tatap muka atau menggunakan media komunikasi antarpribadi (non-media massa), seperti telepon. Dalam komunikasi antarpribadi, komunikator relatif cukup mengenal komunikan, dan sebaliknya. Pesan dikirim dan diterima dengan segera . dalam tataran antarpribadi, komunikasi berlangsung sirkuler, peran komunikasi dan komunikan terus dipertukarkan. Karena itu, dikatakan bahwa kedudukan kedudukan komunikator dan komunikan relatif setara. Proses ini lazim disebut dialog. Walaupun demikian, dalam konteks tertentu dapat juga terjadi monolog,hanya satu pihak yang mendominasi percakapan. Efek komunikasi antarpribadi paling kuat di antara tataran komunikasi lainnya. Dalam komunikasi antarpribadi, komunikator dapat mempengaruhi langsung tingkah laku (efek kognitif) dari komunikannya, memanfaatkan pesan verbal-non verbal, serta segera mengubah atau menyesuaikan pesan verbal dan nonverbal, serta segera mengubah atau
menyesuaikan pesan-pesannya apabila didapat umpan balik negatif ( Daryanto, 2013: 35).
Dalam buku Komunukasi antarpribadi Liliweri (1991:13), Menurut Josep A. Devito, ciri-ciri komunikasi antarpribadi yang efektif adalah keterbukaan (openness), empati (empathy), dukungan (supportiveness), rasa positif (positiveness), kesetaraan (equality).
1. Keterbukaan (openness)
Kualitas Keterbukaan mengacu pada sedikitnya tiga aspek dari komunikasi antarpribadi. Pertama, komunikator antarpribadi yang efektif harus terbuka kepada orang yang diajaknya berinteraksi. ini tidaklah berarti bahwa orang harus dengan segera membukakan semua riwayat hidupnya. Memang ini mungkin menarik, tetapi biasanya tidak membantu komunikasi. Sebaliknya, harus ada kesediaan untuk membuka diri-mengungkapkan informasi yang biasanya disembunyikan, asalkan pengungkapan-diri ini patut.
Aspek keterbukaan kedua mengacu pada kesediaan komunikator untuk bereaksi secara jujur terhadap stimulus yang datang. Orang yang diam, tidak kritis, dan tidak tanggap pada umumnya merupakan percakapan yang menjemukan. Kita ingin orang bereaksi secara terbuka terhadap apa yang kita ucapkan, dan kita berhak mengaharapkan hal ini. Tidak ada yang lebih buruk dari pada ketidakacuhan-bahkan ketidaksependapatan jauh lebih menyenangkan. Kita memperihatkan keterbukaan dengan cara bereaksi secara spontan terhadap orang lain.
Aspek ketiga menyangkut “kepemilikan” perasaan dan pikiran (bochner & Kelly, 1974). Terbuka dalam pengertian ini adalah mengakui bahwa perasaan yang anda lontarkan adalah memang “milik” anda dan anda bertanggung jawab atasnya (DeVito, 2011:286).
a. Empati (Empathy)
Henry Backrack (1976) mendefinisikan empati sebagai “kemampuan seseorang untuk “mengetahui” apa yang sedang dialami orang lain pada suatu tertentu, dari sudut pandang orang lain itu, melalui kacamata orang lain itu (DeVito, 2011:286).
Orang yang empatik mampu memahami motivasi dan pengalaman orang lain, perasaan dan sikap mereka, serta harapan dan keinginan mereka untuk masa mendatang. Pengertian yang empatik ini akan membuat seseorang lebih mampu
menyesuaikan komunikasinya. Anda dapat, misalnya menyesuaikan apa yang anda katakan atau bagaimana anda mengatakannya (DeVito, 2011:287).
b. Dukungan (Supportiveness)
Hubungan antarpribadi yang efektif adalah hubungan dimana terdapat sikap mendukung (Supportiveness) suatu konsep yang perumusannya dilakukan berdasarkan karya Jack Gibb. Komunikasi yang terbuka dan empatik tidak dapat berlangsung dalam suasana yang tidak mendukung (DeVito, 2011:288).
c. Sikap positif (Positiveness)
Sikap positif mengacu pada sedikitnya dua aspek dari komunikasi antarpribadi. Pertama, komunikasi antarpribadi terbina jika orang memiliki sikap positif terhadap diri mereka sendiri. Orang yang merasa negatif terhadap diri sendiri selalu mengkomunikasikan mengisyaratkan perasaan ini kepada orang lain, yang selanjutnya barangkali akan mengembangkan perasaan negatif yang sama. Sebaliknya, orang yang merasa positif terhadap diri sendiri mengisyaratkan perasaan ini kepada orang lain, yang selanjutnya juga akan merefleksikan perasaan positif ini.
Kedua, perasaan positif untuk situasi komunikasi pada umumnya sangat penting untuk interaksi yang efektif. Tidak ada yang lebih tidak menyenangkan dari pada berkomunikasi dengan orang yang tidak menikmati interaksi atau tidak bereaksi secara menyenangkan daripada berkomunikasi dengan orang yang tidak menikmati interaksi atau tidak beraksi secara menyenangkan terhadap situasi atau suasana interaksi. Reaksi negatif terhadap situasi ini (“saya tidak sabar lagi untuk enyah dari tempat ini”) membuat orang merasa mengganggu, dan komunikasi dengan segera akan terputus (DeVito, 2011:290).
d. Kesetaraan (Equality)
Komunikasi antarpribadi akan lebih efektif bila suasananya setara. Artinya ada pengakuan secara diam-diam bahwa kedua belah pihak menghargai, berguna, dan mempunyai sesuatu yang penting untuk disumbangkan. Kesetaraan meminta kita untuk memberikan penghargaan positif tak bersyarat kepada individu lain.
Dalam suatu hubungan antarpribadi yang ditandai oleh kesetaraan, ketidaksependapatan dan konflik lebih dilihat sebagai upaya untuk memahami perbedaan yang pasti ada daripada sebagai kesempatan untuk menjatuhkan pihak lain. Kesetaraan tidak mengharuskan kita menerima dan menyetujui begitu saja semua perilaku verbal dan non-verbal pihak lain. Kesetaraan berarti kita menerima pihak lain, atau, menurut istilah Carl Rogers, kesetaraan meminta kita untuk memberikan “penghargaan positif tak bersyarat” kepada orang lain (DeVito, 2011:291).
2.1.3 Bimbingan
Bimbingan dan konseling merupakan terjemahan dari “guidance” dan “counseling” dalam bahasa inggris. Secara harfiyah istilah “guidance” dari akar kata “guide” berarti: (1) mengarahkan (to direct), (2) memandu (to pilot), (3) mengelola (to manage), dan (4) menyetir (to steer). (Syamsu, 2005:5).
Shertzer dan Stone (1971:40) mengartikan bimbingan sebagai “…proses of helping and individual to understand himself and his world (proses pemberian bantuan kepada individu agar mampu memahami diri dan lingkungannya.” (Syamsu, 2005:5).
Menurut Sunaryo kartadinata (1998:3) mengartikan sebagai proses membantu individu untuk mencapai perkembangan optimal” (Syamsu, 2005: 6). Sementara Rochman Natawidjaja (1987:37) mengartikan bimbingan sebagai suatu proses pemberian bantuan kepada individu yang dilakukan secara berkesinambungan, supaya individu tersebut dapat memahami dirinya, sehingga dia sanggup mengarahkan dirinya dan dapat bertindak secara wajar, sesuai dengan tuntutan dan keadaan lingkungan sekolah, keluarga, masyarakat, dan menikmati kehidupan pada umumnya. Dengan demikian dia akan dapat menikmati kebahagiaan hidupnya, dan dapat memberi sumbangan yang berarti kepada kehidupan masyarakat pada umumnya. Bimbingan membantu individu mencapai perkembangan diri secara optimal sebagai makhluk sosial. (Syamsu, 2005:5).
2.1.4 Persepsi
Menurut pendapat Muhadjir, Ekspresi mengenal orang lain merupakan studi awal tentang persepsi. Darwin mendorong munculnya permasalahan persepsi dengan pertanyaan, “Apa ciri-ciri keputusan yang baik tentang orang lain?” (Sobur, 2003:445).
Secara Etimologis, persepsi atau dalam bahasa inggris perception berasal dari bahasa latin perceptio dari percipere yang artinya menerima atau mengambil. Persepsi (perception) dalam arti sempit ialah penglihatan, bagaimana cara seseorang melihat sesuatu; sedangkan dalam arti luas ialah pandangan atau pengertian, yaitu bagaimana seseorang memandang atau mengartikan sesuatu (Leavitt, 1978). Menurut Devito (1997:75), persepsi adalah proses ketika kita
menjadi sadar akan banyaknya stimulus yang mempengaruhi indra kita. Yusuf (1991: 108) menyebut persepsi sebagai “pemaknaan hasil pengamatan”. Gulo (1982:207) mendefinisikan persepsi sebagai proses seseorang menjadi sadar akan segala sesuatu dalam lingkungannya melalui indra-indra yang dimilikinya. Rakhmat (1994:51) menyatakan bahwa persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Bagi Atkinson, persepsi adalah proses saat kita mengorganisasikan dan menafsirkan pola stimulus dalam lingkungan. Menurut verbeek (1978), persepsi dapat dirumuskan sebagai suatu fungsi yang manusia secara langsung dapat mengenal dunia rill yang fisik. Brouwer (1983:21) menyatakan bahwa persepsi (pengamatan) ialah suatu replika dari benda diluar manusia yang intrapsikis, dibentuk berdasar ransangan-ransangan dari objek, pareek (1996:13) memberikan definisi yang lebih luas ihwal persepsi ini; dikatakan “persepsi dapat didefinisikan sebagai proses menerima, menyeleksi, mengorganisasikan, mengartikan, menguji, dan memberikan reaksi kepada ransangan pancaindra atau data.” (Sobur, 2003:445-446).
Persepsi adalah proses internal yang memungkinkan kita memilih, mengorganisasikan, dan menafsirkan rangsangan dari lingkungan kita, dan proses tersebut mempengaruhi prilaku kita (Mulyana, 2005:167). Persepsi merupakan proses dimana individu memlilih, mengorganisasi, dan menginterpretasikan apa yang dibayang tentang dunia di sekelilingnya. Jadi dengan mempersepsi setiap individu memandang dunia berkaitan dengan apa yang dia butuhkan, apa yang dia nilai, apakah sesuai dengan keyakinan dan budayanya. Semua kebutuhan yang ingin dipenuhi ini membuat persepsi individu menjalani suatu proses personal yang rumit, karena apa yang dia persepsikan itu sangat tergantung dari sejauh mana pengaruh beragam faktor pembentuk persepsi, antara lain masa lalu individu. Pengalaman masa lalu tersebut rupanya telah membekas lalu membentuknya untuk memandang sesuatu, memandang seseorang atau suatu peristiwa dengan cara-cara tertentu. Karena itu, setiap individu dapat melihat suatu objek yang sama namun dengan cara yang berbeda. (Liliweri, 2011: 153)
Persepsi setiap orang juga berbeda-beda sesuai dengan makna yang dia berikan kepada “sesuatu”, kepada seseorang atau kepada peristiwa. Disini penting
untuk dicatat bahwa semua manusia tidak dapat mengelak persepsi yang mempengaruhi komunikasi. Jika seorang pengirim membagi informasi dengan maksud tertentu kepada penerima, maka suka atau tidak suka penerima akan menerima informasi yang dimaksudkan pengirim. (Liliweri, 2011: 153)
Persepsi bersifat kompleks. Tidak ada hubungan satu lawan satu antara pesan yang terjadi “diluar sana” dengan pesan yang akhirnya memasuki otak kita. Apa yang terjadi di dunia luar dapat sangat berbeda dengan apa yang mencapai otak kita. Mempelajari bagaimana dan mengapa pesan-pesan ini berbeda, sangat penting untuk memahami komunikasi. (Daryanto, 2013: 211)
Dari uraian di atas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa persepsi merupakan suatu hal yang penting yang di alami oleh setiap orang. Setiap orang yang menerima informasi ataupun segala rangsangan tersebut kemudian akan diolah dan selanjutnya diproses. dijelaskan bahwa dalam persepsi terdapat 3 komponen utama, yaitu (Sobur, 2003:446):
1.Seleksi, adalah proses penyaringan indera terhadap rangsangan dari luar, intensitas dan jenisnya dapat banyak atau sedikit.
2.Interpretasi, yaitu proses mengorganisasikan informasi sehingga mempunyai arti bagi seseorang. Interpretasi di pengaruhi oleh beberapa faktor, seperti pengalaman masa lalu, sistem nilai yang di anut, motivasi kepribadian, dan kecerdasan. Interpretasi juga bergantung pada kemampuan seseorang untuk mengadakan pengkatagorian informasi yang di terimanya, yaitu proses mereduksi informasi yang kompleks menjadi sederhana.
3.Reaksi, Yaitu Interpretasi dan persepsi yang kemudian diterjemahkan dalam bentuk tingkah laku sebagai reaksi (Depdikbud, 1985, dalam soelaeman, 1987).