• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.2 Pembahasan

4.2.1 Analisis Terhadap Ancaman Validitas Internal

Ancaman validitas internal penelitian telah diidentifikasi oleh Campbell dan Stanley (1963), Bracht dan Glass (1968) dan Lewis-Beck (1993). Terdapat 11 macam ancaman validitas internal penelitian seperti yang sudah dipaparkan pada bab III. Berikut adalah 11 ancaman validitas internal yang terjadi dalam penelitian dan cara pengendaliannya.

Tabel 4.33 Pengendalian Terhadap Ancaman Validitas Internal Penelitian

No. Ancaman Validitas

Internal Tingkat Ancaman Terkendali Keterangan Ya/Tidak

1. Sejarah (History) Rendah Ya

- Penelitian dilakukan dalam waktu singkat ± 2 minggu.

2.

Difusi treatment atau kontaminasi (Diffusion of treatment of contamination)

Rendah -

menengah Ya

- Kelompok kontrol dan eksperimen benar-benar dipisahkan dan waktu yang pelaksanaan penelitian tidak memiliki selang waktu yang jauh.

3. Perilaku Kompensatoris

Rendah -

menengah Tidak

- Kelompok kontrol, tidak diberi treatment model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match

sesudah penelitian selesai.

4. Maturasi (Maturation) Rendah Ya

- Penelitian dilaksanakan dalam waktu sungkat atau selama ± 2 minggu. - Menggunakan pretest dan

posttest yang sama untuk kelompok kontrol dan eksperimen.

5. Regresi Statistik

(Statistical regression) Rendah Ya

- Hasil uji korelasi pretest –

posttest I negatif dan tidak signifikan.

109

6. Mortalitas (Mortality) Rendah Ya

- Penelitian dilaksanakan dalam waktu singkat atau selama ± 2 minggu. - Selama pretest, posttest I

dan posttest 2 seluruh siswa hadir di dalam kelas.

7. Pengujian (Testing) Rendah Ya

- Kelompok kontrol dan eksperimen sama-sama diberi pretest. 8. Instrumentasi (Instrumentation) Rendah – menengah - tinggi Ya -Memeriksa kelayakan instrumen sebelum melakukan penelitian. -Menggunakan instrumen

yang sama pada saat pretest dan posttest I.

9. Lokasi (Location) Menengah -

tinggi Ya

-Lingkungan dan kondisi ruang kelas pada kelompok kontrol dan eksperimen kurang lebih sama. 10. Karakteristik Subjek (Subject characteristics) Menengah - tinggi Ya

- Kelompok kontrol dan kelompok eksperimen ditentukan berdasarkan hasil undian.

- Kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang sama berdasarkan hasil uji statistik.

- Kelompok kontrol dan eksperimen memiliki perbandingan jumlah siswa laki-laki dan perempuan hampir sama. 11. Implementasi

(Implementation) Tinggi Ya

-Pembelajaran pada kedua kelompok menggunakan guru yang sama.

Berdasarkan tabel 4.32 menunjukkan ancaman yang dapat dikendalikan pada penelitian ini adalah sejarah (history), difusi treatment atau kontaminasi (diffusion of treatment of contamination), maturasi (maturation), regresi statistik (statistical regression), mortalitas (mortality), pengujian (testing), instrumentasi (instrumentation), lokasi (location), karakteristik subjek (subject characteristics), dan implementasi (implementation). Ancaman validitas internal yang tidak dapat dikendalikan yaitu perilaku kompensatoris dengan tingkat ancaman rendah-menengah. Ancaman tersebut tidak memiliki dampak secara praktis terhadap kredibilitas kesimpulan penelitian yang diambil. Dengan demikian, 10 dari 11 ancaman validitas internal dapat dikendalikan dengan baik dan tidak ditemukan

110 data yang menunjukkan ancaman yang berdampak secara sistemik. Maka kredibilitas kesimpulan penelitian dapat dipercaya.

Berikut penjelasan ancaman terhadap validitas internal penelitian dan cara pengendaliannya. Selama dilakukannya penelitian dijumpai peristiwa yang dapat mengancam validitas internal penelitian. Setiap ancaman yang dijumpai dikendalikan dengan solusi yang ada. Penelitian ini dilaksanakan di lokasi yang sama yaitu di salah satu SD swasta di Yogyakarta. Selama dilakukannya penelitian, setiap kelompok menggunakan kelas seperti yang biasa digunakan ketika pembelajaran pada hari-hari biasanya yaitu VA ditempati kelompok kontrol dan kelas VB ditempati kelompok eksperimen. Meskipun kedua kelompok berada di ruangan berbeda namun kenyamanan ruang, fasilitas, sarana dan prasarana yang dimiliki sama. Dengan demikian, ancaman validitas internal penelitian berupa lokasi dapat dikendalikan dalam penelitian ini.

Sebelum memulai penelitian, kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dipilih dengan cara melakukan undian menggunakan kelas yang ada. Pengundian kelas dilakukan dengan disaksikan oleh kedua guru mitra dan diperoleh hasil bahwa kelas VA sebagai kelompok kontrol dan kelas VB sebagai kelompok eksperimen. selain itu secara kebetulan perbandingan siswa laki-laki dan perempuan pada kedua kelompok hampir sama. Dengan demikian, ancaman validitas internal penelitian berupa karakteristik subjek dapat dikendalikan.

Untuk model pembelajaran yang akan digunakan ketika penelitian sudah ditentukan sebelumnya. Agar tidak terjadi bias, pembelajaran yang dilaksanakan pada kedua kelompok dilakukan oleh guru yang sama, yang membedakan adalah model dan metode pembelajaran yang digunakan. Hal tersebut dilakukan untuk mengendalikan ancaman validitas internal berupa implementasi. Masing-masing guru memiliki gaya mengajar yang berbeda sehingga bisa jadi mempengaruhi hasil posttest. Perbedaan gaya mengajar guru berkaitan dengan kepribadian dan pembawaan ketika menyampaikan materi.

Selain guru, instrumen atau karakteristik alat pengumpulan data yang digunakan pada kedua kelompok adalah sama. Instrumen yang digunakan berlaku dari pretest hingga posttest II. Sebelumdiberikan kepada siswa, instrumen diperiksa terlebih dahulu untuk menghindari kesalahan instrumen. Hal tersebut dilakukan

111 untuk mengendalikan ancaman validitas internal berupa instrumentasi (instumentation). Meskipun solusi tersebut sudah dilakukan, ternyata siswa mengalami kebosanan dalam mengerjakan soal yang sama terutama pada saat dilakukannya posttest II. Peneliti mengatasi hal tersebt dengan cara memberikan motivasi kepada siswa berupa apresiasi. Dalam penelitian ini pretest yang diberikan kepada kedua kelompok juga dapat mengurangi adanya ancaman validitas internal berupa pengujian (testing). Dalam hal ini, ancaman validitas internal berupa instumentasi (instrumentation) dapat dikendalikan.

Sebelum siswa diberikan treatment, terlebih dahulu siswa pada kedua kelompok mengerjakan pretest. Hasil pretest kemudian diuji dengan menggunakan program statistik IBM SPSS Statistics 22 for Windows untuk mengetahui apakah kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang sama. Dari uji statistik, diperoleh hasil bahwa kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang sama pada kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri. Dengan demikian, ancaman validitas berupa karakteristik subjek dapat dikendalikan. Selain itu, ketika pretest hingga posttest II seluruh siswa hadir di dalam kelas sehingga ancaman validitas internal berupa mortalitas dapat dikendalikan.

Penelitian ini dilaksanakan dalam jangka waktu yang singkat yaitu ± 2 minggu untuk mengendalikan ancaman validitas internal sejarah, maturasi, dan mortalitas. Tujuannya agar siswa tidak merasa bosan dalam belajar dan mengantisipasi adanya kegiatan yang kebetulan menggunakan materi yang sama dengan treatment. Selama pelaksanaan tidak dijumpai kegiatan yang berkaitan dengan materi penelitian, namun ada suatu hal yang terjadi ketika akan dilakukan posttest II pada kelompok eksperimen. Siswa pada kelompok eksperimen mengerjakan posttest II selisih 2 hari dengan pengerjaan posttest II pada kelompok kontrol. Hal tersebut karena adanya kelas tersebut sedang mengadakan remidial pekan ulangan.

Ancaman validitas internal berupa difusi treatment atau kontaminasi dapat terjadi dalam penelitian ini. Siswa bisa jadi di dalam maupun di luar sekolah melakukan komunikasi yang berkaitan dengan treatment penelitian tanpa sepengetahuan peneliti. Bentuk komunikasi tersebut dapat berupa saling mmepelajari model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match. Untuk mengatasi

112 hal tersebut, kelompok kontrol dan eksperimen belajar di dalam masing-masing kelas dan waktu yang pelaksanaan penelitian tidak memiliki selang waktu yang jauh sehingga mengurangi adanya komunikasi tersebut. Selain itu, peneliti juga memberikan pengertian kepada kedua kelompok usai kegiatan pembelajaran untuk tidak saling mempelajari treatment masing-masing kelompok. Dalam hal ini, ancaman validitas internal berupa difusi treatment dapat dikendalikan.

Pada penelitian ini peneliti tidak mengetahui bagaimana kondisi siswa pada kelompok kontrol yang mengalami demoralisasi seperti iri dan dikorbankan sehingga tidak kooperatif. Kondisi demoralisasi tersebut dapat mempengaruhi jalannya penelitian. Bisa jadi siswa paham bahwa kelompok eksperimen mendapatkan pembelajaran yang lebih bermanfaat dan menyenangkan sehingga membuat mereka belajar lebih giat ketika di rumah untuk menyaingi kelompok eksperimen. secara etika solusinya adalah memberikan pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match kepada kelompok kontrol setelah penelitian selesai namun karena adanya keterbatasan waktu guru mitra maka tidak memungkinkan untuk melaksanakan pembelajaran lagi. Dalam hal ini, ancaman validitas internal berupa perilaku kompensatoris tidak dapat dikendalikan.

4.2.2 Pembahasan Terhadap Hipotesis

Dokumen terkait