• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV AKIBAT HUKUM YANG TIMBUL DARI PUTUSAN

A. Analisis Terhadap Putusan Pengadilan Negeri Medan

Dalam perkara perceraian dengan register perkara No.257/Pdt.G/2018/PN.Mdn, telah dilakukan proses pemeriksaan perkara di persidangan pada Pengadilan Negeri Medan yang dianggap selesai karena telah menempuh tahapan pemeriksaan gugatan Penggugat dan dilanjutkan dengan tahapan proses pembuktian. Oleh karena itu, Majelis Hakim karena jabatannya melakukan musyawarah dan mengambil kesepakatan untuk amar putusan yang akan dijatuhkan dalam Putusan Pengadilan Negeri Medan Nomor 257/Pdt.G/2018/Pn.Mdn. Berikut amar putusan dalam Putusan Pengadilan Negeri Medan Nomor 257/Pdt.G/2018/Pn.Mdn :

1) Menyatakan Tergugat telah dipanggil dengan patut tetapi tidak hadir.

2) Mengabulkan gugatan Penggugat seluruhnya dengan verstek.

3) Menyatakan perkawinan antara penggugat dan tergugat yang telah dilangsungkan secara Agama Kristen di Gereja Reformasi Injili Santosa Asih Jemaat Maranatha, sebagaimana termaktub didalam Surat Keterangan Nikah tertanggal 12 Januari 2002, yang dikeluarkan oleh Gereja Reformasi Injili Santosa Asih Jemaat Maranatha Jalan Karya Jaya No. 4 Polonia- Medan adalah sah menurut hukum.

4) Menyatakan perkawinan antara Penggugat dan Tergugat yang telah dilangsungkan secara Agama Kristen di Gereja Reformasi Injili Santosa Asih Jemaat Maranatha, sebagaimana termaktub didalam Surat Keterangan Nikah

tertanggal 12 Januari 2002, yang dikeluarkan oleh Gereja Reformasi Injili Santosa Asih Jemaat Maranatha Jalan Karya Jaya No. 4 Polonia-Medan putus karena perceraian.

5) Menghukum Tergugat untuk membayar biaya yang timbul dalam perkara ini sejumlah sejumlah Rp. 561.000,- (Lima ratus enam puluh satu ribu rupiah.

Sesuai dengan ketentuan Pasal 178 HIR, Pasal 189 RBG, apabila pemeriksaan perkara selesai, Majelis Hakim karena jabatannya melakukan musyawarah untuk mengambil putusan yang akan dijatuhkan. Putusan yang akan dijatuhkan tersebut disebut sebagai putusan akhir. Putusan akhir merupakan tindakan atau perbuatan hakim sebagai penguasa atau pelaksana kekuasaan kehakiman (judicative power) untuk menyelesaikan dan mengakhiri sengketa yang terjadi di antara pihak yang berpekara.80 Didalam sebuah putusan akhir terdapat amar putusan. Amar putusan merupakan pernyataan (deklarasi) yang berkenaan dengan status dan hubungan hukum antara para pihak dengan barang objek yang disengketakan. Dan juga berisi perintah atau penghukuman atau condemnatoir yang ditimpakan kepada pihak yang berpekara.81

Proses pemeriksaan dan putusan verstek (default judgment) diatur dalam Pasal 125 ayat (1) HIR, yang memberi hak dan kewajiban bagi hakim untuk

Berikut beberapa bentuk analisis terhadap amar putusan dalam Putusan Pengadilan Negeri Medan Nomor 257/Pdt.G/2018/Pn.Mdn :

1) Analisis terhadap dikabulkannya gugatan Penggugat untuk seluruhnya dalam putusan akhir dengan verstek.

80 Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata Indonesia, (Yogyakarta: Liberty,1998), Hal. 168.

81 Yahya Harahap, Op. cit., Hal. 811.

memeriksa dan menjatuhkan putusan di luar hadirnya tergugat serta syarat atas kebolehan verstek, apabila pada hari sidang tergugat tidak hadir tanpa alasan yang sah (unreasonable default), padahal tergugat telah dipanggil secara sah dan patut. Pada hari di mana tergugat tidak hadir dalam sidang, maka hakim yang menjatuhkan putusan verstek harus diucapkan pada hari itu juga. Putusan verstek tidak sah apabila diucapkan di luar hari sidang tersebut karena bertentangan dengan tata tertib beracara (undue process), yang berakibat putusan batal demi hukum (null and void). Namun, sekiranya hakim ragu-ragu atas kebenaran dalil gugatan, maka diperlukan pemeriksaan alat bukti dan hakim mengundurkan persidangan sekaligus memanggil kembali tergugat, sehingga dapat direalisasi proses dan pemeriksaan kontradiktor (op tegenspraak).82

Dalam perkara perceraian ini, pengucapan putusan verstek dalam putusan tidak langsung diucapkan oleh Majelis Hakim pada hari di mana tergugat tidak hadir dalam sidang melainkan diucapkan di luar hari sidang tersebut.

Dalam proses pemeriksaan di persidangan pada Pengadilan Negeri Medan atas perkara perceraian dengan register perkara No.257/Pdt.G/2018/PN.Mdn, Majelis Hakim telah menggunakan kewenangannya yaitu pada proses pemeriksaan Tergugat tetap tidak hadir meski telah dilakukan pemanggilan yang patut dan sah melalui surat pemanggilan yang disampaikan oleh juru sita Pengadilan Negeri Medan serta Tergugat tidak memberikan alasan yang sah atas ketidakhadirannya sehingga Majelis Hakim dalam perkara ini memutuskan untuk melanjutkan proses pemeriksaan dengan verstek.

82 Ibid, Hal. 396.

Putusan verstek tersebut tetap sah, hal ini dikarenakan Majelis Hakim dalam perkara ini ingin mempertimbangkan terlebih dahulu kebenaran dari dalil-dalil gugatan Penggugat sehingga Majelis Hakim mengundurkan sidang dan melakukan pemeriksaan alat bukti. Setelah agenda sidang pembuktian tersebut, Majelis Hakim bermusyawarah dan menyusun putusan akhir.

Pada dasarnya, bentuk dari suatu putusan akhir ada tiga yaitu menyatakan gugatan tidak dapat diterima, menolak gugatan penggugat dan mengabulkan gugatan penggugat. Bentuk putusan akhir yang mengabulkan gugatan penggugat merupakan putusan yang bersifat positif dan merupakan kebalikan dari amar menolak gugatan penggugat. Kalau dalam penolakan gugatan tidak terjadi perubahan hubungan hukum, sehingga apa yang disengketakan maupun objek sengketa, tetap seperti sediakala di tangan pihak tergugat maka dalam hal pengabulan gugatan, terjadi koreksi hubungan hukum ke arah yang menguntungkan pihak penggugat.83

Bentuk putusan akhir dari Putusan Pengadilan Negeri Medan Nomor 257/Pdt.G/2018/Pn.Mdn adalah bentuk putusan akhir yang mengabulkan gugatan Penggugat untuk seluruhnya. Pada prinsipnya, apabila hakim hendak menerapkan acara verstek, maka putusan yang harus dijatuhkan adalah mengabulkan gugatan penggugat. Bertitik tolak dari prinsip tersebut, tanggung jawab hakim dalam penerapan acara verstek adalah berat. Hal ini beralasan karena bertitik tolak dengan penegasan Pasal 125 ayat (1) HIR itu sendiri yang mengatakan bahwa gugatan dapat diterima dengan verstek. Jika demikian halnya, apabila perkara diputus melalui acara verstek, harus

83 Ibid, Hal. 893.

ditegakkan secara konsekuen ketentuan tersebut, yaitu mengabulkan gugatan seluruh gugatan persis seperti yang dirinci dalam petitum gugatan.84

Pembuktian dalam perkara perdata adalah penyajian alat-alat bukti yang sah menurut hukum kepada hakim yang memeriksa suatu perkara guna memberikan kepastian tentang kebenaran peristiwa yang dikemukakan.

Dalam hukum acara perdata, untuk memenangkan seseorang, tidak perlu adanya keyakinan hakim. Hal yang penting dalam hal ini adalah adanya alat-alat bukti yang sah. Berdasarkan alat-alat-alat-alat bukti yang sah tersebut, hakim akan

Majelis Hakim dalam Putusan Pengadilan Negeri Medan Nomor 257/Pdt.G/2018/Pn.Mdn mengabulkan gugatan Penggugat dengan memperhatikan dalil atau posita gugatan Penggugat memenuhi dasar hukum dan dasar fakta yang jelas terkait alasan perceraian yang merujuk kepada Pasal 19 huruf f PP No.9 Tahun 1975 serta gugatan Penggugat tidak mengandung cacat formil dalam segala bentuk seperti tidak mengandung cacat ne bis in idem, obscuur libel, prematur, daluwarsa, dan sebagainya.

Selain itu, seluruh dalil gugatan berhasil dibuktikan Penggugat dengan alat bukti surat dan 2 (dua) orang saksi yang dihadirkan oleh Penggugat. Hal lainnya yang diperhatikan Majelis Hakim dalam mengabulkan gugatan yakni terkait tidak terdapat pertentangan antara posita dengan petitum gugatan Penggugat serta apa yang dituntut penggugat dalam petitum masih dalam batas-batas kepatutan, peradaban, dan kemanusian atau tidak bertentangan dengan kepentingan umum maupun kesusilaan.

2) Analisis terhadap perkawinan para pihak yang tidak didaftarkan dikantor catatan sipil dinyatakan sah menurut hukum.

84 Ibid, Hal. 397.

mengambil keputusan siapa yang menang dan siapa yang kalah. Dalam artian lain dapat disimpulkan bahwa, dalam hukum acara perdata, cukup hanya dengan kebenaran formal.85

Hal ini sejalan dengan Bagir Manan dan Neng Djubaidah yang berpendapat sama, bahwa akta nikah dan pencatatan perkawinan bukanlah satu-satunya alat bukti mengenai adanya perkawinan atau keabsahan perkawinan, karena itu, akta nikah dan pencatatan perkawinan adalah sebagai Jika dianilisis, dalam agenda sidang pembuktian atas register perkara Nomor 257/Pdt.G/2018/Pn.Mdn meski tanpa adanya akta perkawinan yang sah dari negara yaitu yang dikeluarkan oleh kantor catatan sipil, bagi Majelis Hakim perkawinan tersebut tetap sah menurut hukum. Penggugat dan Tergugat belum dan tidak pernah mendaftarkan perkawinan mereka yang dilangsungkan di Gereja Reformasi Injili Santosa Asih Jemaat Maranatha Jalan Karya Jaya No. 4 Polonia-Medan ke kantor catatan sipil, sehingga dalam perkara ini Penggugat hanya dapat membuktikan perkawinan tersebut sah dengan menunjukan alat bukti berupa Surat Keterangan Nikah tertanggal 12 Januari 2002, yang dikeluarkan oleh Gereja Reformasi Injili Santosa Asih Jemaat Maranatha Jalan Karya Jaya No. 4 Polonia-Medan. Dengan alat bukti berupa surat keterangan nikah tersebut dan disertai dengan penjelasan 2 (dua) orang saksi bahwa perkawinan para pihak telah ada dan terkait pelaksanaannya didasari dengan hukum agama sehingga patut dikatakan bahwa perkawinan tersebut sah. Untuk itu, Majelis Hakim menegaskan dalam amar Putusan Pengadilan Negeri Medan Nomor 257/Pdt.G/2018/Pn.Mdn menyatakan bahwa perkawinan para pihak sah menurut hukum.

85 Taufik Makarao, Pokok-pokok Hukum Acara Perdata, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2004), Hal.93.

alat bukti tetapi bukan alat bukti yang menentukan. Karena yang menentukan keabsahan suatu perkawinan adalah perkawinan menurut agama. Maka dengan demikian, alat bukti perkawinan juga harus tidak bertentangan dengan agama.86

Majelis Hakim dalam Putusan Pengadilan Negeri Medan Nomor 257/Pdt.G/2018/Pn.Mdn juga telah mempertahankan penemuan hukum hakim (rechtvinding) yang terdapat dalam Yurisprudensi Mahkamah Agung RI Nomor 1776K/PDT/2007 tanggal 28 Juli 2003. Dalam yurisprudensi tersebut, penemuan hukum hakim (rechtvinding) diutamakan daripada mengutamakan paham legisme untuk memberikan rasa keadilan yaitu makna dari penemuan hukum hakim (rechtvinding) itu sendiri ialah hakim diperbolehkan untuk keluar dari peraturan perundang-undangan dan menemukan suatu hukum baru. Penemuan hukum ini dikarenakan dalam perkara perdata, keadilan yang dikejar adalah keadilan objektif mengenai kedudukan suatu kejadian.

Alat bukti berupa Surat Keterangan Nikah tertanggal 12 Januari 2002, yang dikeluarkan oleh Gereja Reformasi Injili Santosa Asih Jemaat Maranatha Jalan Karya Jaya No. 4 Polonia-Medan merupakan alat bukti yang sah dan tidak bertentangan dengan agama.

87

Akibat dari mempertahankan yurisprudensi tersebut, maka sebuah pencatatan perkawinan jika tidak dilakukan sesuai dengan ketentuan Pasal 2 ayat (2) UUP hanya akan menjadi suatu kelalaian administrasi yang sanksinya berupa denda administratif. Namun, meskipun yurisprudensi tersebut tetap dipertahankan seharusnya Majelis Hakim juga menggunakan Putusan MK No. 46/PUU-VIII/2010 sebagai landasan memaknai ketentuan Pasal 2 ayat (2) UUP yang menyatakan pencatatan perkawinan sebagai

86 Neng Djubaidah, Op. cit., Hal. 159.

87 Sudikno Mertokusumo, Bab-Bab Tentang Penemuan Hukum, (Yogyakarta: Liberty, 1993), Hal. 4.

kewajiban administratif, tetap harus dimaknai sebagai sesuatu yang harus dipenuhi dan dilakukan oleh setiap warga negara yang akan melaksanakan perkawinan. Pencatatan perkawinan tetap merupakan syarat yang harus dipenuhi dalam rangka memperoleh kepastian hukum tentang adanya suatu perkawinan, penentuan status hukum (suami, istri, dan anak), serta untuk memperoleh perlindungan dan kepastian hukum tentang hak dan kewajiban yang timbul karena adanya perkawinan.88

Sebagai akibat perkawinan yang dilakukan sesuai dengan ketentuan agama dan kepercayaan serta tidak dicatatkan pada lembaga yang berwenang, akan menimbulkan berbagai masalah di kemudian hari. Perkawinan yang tidak tercatat atau yang lazim disebut dengan perkawina siri dalam masyarakat Indonesia adalah realita. Apabila diperhatikan berbagai akibat yang ditimbulkan dari perkawinan sirri ini, lebih banyak membawa kerugian bagi pihak perempuan. Kerugian ini mulai dari tidak diakuinya anak yang dilahirkan akibat perkawinan tersebut secara hukum. Hal ini akan membawa konsekuensi anak dan istri tidak berhak untuk menuntut nafkah kepada suami dan tidak berhak atas warisan serta konsekuensi lainnya.

89

Berdasarkan hal tersebut Majelis Hakim pada perkara ini lebih memprioritas untuk mengesahkan suatu perkawinan yang benar-benar telah terjadi meskipun tidak dicatatkan pada lembaga yang berwenang. Dalam artian lain, Majelis Hakim dalam Putusan Pengadilan Negeri Medan Nomor 257/Pdt.G/2018/Pn.Mdn ini lebih memilih untuk menggali nilai-nilai keadilan yang ada dalam masyarakat sehingga memutuskan untuk menyatakan perkawinan para pihak adalah sah menurut hukum.

88 Marwin, Op.cit.., Hal. 116.

89 Ibid, Hal.117.

3) Analisis terhadap pembebanan biaya perkara.

Pada perkara perdata, hakim memikulkan biaya perkara kepada pihak yang kalah secara mutlak sebagaimana yang diamanatkan dalam ketentuan Pasal 181 ayat (1) HIR dan Pasal 192 ayat (1) RBG. Dalam putusan yang apabila dijatuhkan melalui proses verstek, prinsipnya dibebankan secara mutlak kepada tergugat. Pembebanan biaya ini melekat sebagai hukuman atas keingkarannya menghadiri panggilan sidang. Hal ini sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 181 ayat (3) HIR.90

B. Akibat Hukum Yang Timbul Dari Putusan Terhadap Para Pihak Dengan demikian, maka sangat wajar Tergugat sebagai pihak yang kalah dan verstek dikenakan hukuman secara mutlak terkait pembebanan biaya perkara sebagaimana yang ada dalam Putusan Pengadilan Negeri Medan Nomor 257/Pdt.G/2018/Pn.Mdn, bahwa Majelis Hakim mengabulkan gugatan Penggugat dengan verstek dan menghukum Tergugat untuk membayar biaya dan ongkos-ongkos yang timbul dalam perkara ini sejumlah sejumlah Rp. 561.000,- (Lima ratus enam puluh satu ribu rupiah).

Tujuan diadakannya suatu proses di muka pengadilan adalah untuk memperoleh putusan hakim.91

90 Yahya Harahap, Op.cit., Hal. 817.

91 M. Nur Rasaid, Hukum Acara Perdata, (Jakarta: Sinar Grafika, 2003), Hal.48.

Putusan hakim atau lazim disebut dengan istilah putusan pengadilan merupakan sesuatu yang sangat diinginkan atau dinanti-nantikan oleh pihak-pihak yang berpekara guna menyelesaikan sengketa diantara mereka dengan sebaik-baiknya. Sebab dengan putusan hakim tersebut pihak-pihak yang bersengketa mengharapkan adanya kepastian hukum dan keadilan dalam

perkara yang mereka hadapi.92

Abdulkadir Muhammad berpendapat bahwa putusan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap adalah putusan yang menurut ketentuan undang-undang tidak ada kesempatan lagi untuk menggunakan upaya hukum biasa untuk melawan putusan tersebut, sedang putusan yang belum mempunyai kekuatan hukum tetap adalah putusan yang menurut ketentuan undang-undang masih terbuka kesempatan untuk menggunakan upaya hukum untuk melawan putusan tersebut misalnya verzet, banding dan kasasi.

Pada hakekatnya hanya putusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum tetap yang dapat dijalankan.

93

92 Taufik Makarao, Op. cit., Hal.124.

93 Abdulkadir Muhammad, Hukum Acara Perdata Indonesia, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2000), Hal.87.

Pada prinsipnya, apabila

terhadap putusan masih ada pihak yang mengajukan upaya hukum berupa banding atau kasasi, putusan yang bersangkutan belum berkekuatan hukum tetap berdasarkan Pasal 1917 KUHPerdata. Setelah putusan akhir menjadi putusan yang berkekuatan hukum tetap baru timbulah akibat-akibat hukum dari putusan tersebut kepada para pihak.

Dikabulkannya gugatan perceraian atas perkawinan yang tidak didaftarkan di kantor catatan sipil dalam Putusan Pengadilan Negeri Medan Nomor 257/Pdt.G/2018/Pn.Mdn merupakan putusan hakim yang berkekuatan hukum tetap serta mengikat bagi para pihak. Selanjutnya, berdasarkan Pasal 18 PP No. 9 Tahun 1975 perceraian itu terjadi terhitung pada saat perceraian itu dinyatakan di depan sidang Pengadilan Negeri dan putusan yang berkekuatan hukum tetap tersebut mengenai gugatan perceraian diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum berdasarkan ketentuan Pasal 34 ayat (1) PP No. 9 Tahun 1975.

Putusan tersebut menimbulkan akibat hukum bagi para pihak yakni kepada Penggugat, Tergugat maupun kepada anak-anak dari perkawinan mereka. Dalam hal suatu perkawinan sudah putus karena perceraian mengakibatkan perubahan hubungan hukum antara Penggugat dan Tergugat sebagaimana yang awalnya memiliki hubungan hukum sebagai suami isteri dan setelah adanya putusan memutuskan hubungan hukum diantara mereka. Terkait hubungan antara orang tua (suami dan isteri yang telah bercerai) dan anak-anak yang lahir dari perkawinan tersebut tidak ikut menjadi putus juga.

1. Suami

Akibat hukum yang timbul dari Putusan Pengadilan Negeri No.257/Pdt.G/2018/Pn.Mdn menyebabkan putusnya jalinan hubungan perkawinan sehingga tidak ada lagi hubungan suami isteri antara kedua belah pihak Penggugat dan Tergugat. Akibat hukum perceraian khusus terhadap Tergugat yang berinisial DK diantaranya yakni status Tergugat menjadi mantan suami yaitu hidup sendiri sebagai duda dan dapat bebas menikah lagi dengan wanita lain.94 Hal ini karena perceraian yang dilakukan telah sah menurut hukum. Terkait status Tergugat tersebut maka Tergugat tidak lagi diperbolehkan untuk tinggal dalam satu rumah dengan Penggugat dan persetubuhan antara mantan suami yakni Tergugat dengan mantan isteri yakni Penggugat dilarang, sebab mereka sudah tidak terikat lagi dalam pernikahan yang sah.95

Terkait harta kekayaan juga demikian, harta yang dimiliki tidak lagi dapat dikatakan harta bersama melainkan dibagi dua dan menjadi harta masing-masing

94 Sudarsono, Op. Cit., Hal.188.

95 Ibid, Hal.189.

pihak.96

96 Wahyu Ernaningsih dan Putu Samawati, Op. cit., Hal.124.

Dalam Putusan Pengadilan Negeri No.257/Pdt.G/2018/Pn.Mdn tidak disebutkan dan dipermasalahkan secara langsung terkait pembagian harta kekayaan. Namun, jika merujuk kepada ketentuan hukum yang ada mengenai harta kekayaan setelah putusnya perkawinan menurut Pasal 36 UUP disebutkan bahwa mengenai harta bersama suami atau istri dapat bertindak atas persetujuan kedua belah pihak serta mengenai harta bawaan masing-masing, suami dan istri mempunyai hak sepenuhnya untuk melakukan perbuatan hukum mengenai harta bendanya. Selanjutnya dijelaskan pula dalam ketentuan Pasal 37 UUP, bila perkawinan putus karena perceraian maka harta kekayaan milik bersama dibagi menurut hukum yang berlaku, yakni dalam perspektif hukum positif di Indonesia harta kekayaan milik bersama hasil dari perkawinan dibagi dua antara suami dan istri.

Selain itu, akibat hukum lainnya yang timbul dari Putusan Pengadilan Negeri No.257/Pdt.G/2018/Pn.Mdn terhadap Tergugat yang berinisial DK yaitu Tergugat tetap memiliki hak asuh anak menurut putusan tersebut yang mana Majelis Hakim mengabulkan permintaan Penggugat bahwa kedua orang anak yang lahir dari perkawinan mereka tetap memiliki hak asuh kepada Tergugat. Jika ditinjau akibat hukum dari suatu perceraian menurut Pasal 41 UUP, maka Tergugat meski telah menjadi duda atau menikah lagi dengan wanita lain, Tergugat tetap berstatus sebagai orang tua dari anak-anaknya hasil dari perkawinannya dengan Penggugat. Tergugat sebagai bapak dari anak-anaknya berkewajiban tetap memelihara dan mendidik anak-anaknya demi kepentingan sianak. Selanjutnya ditegaskan pula dalam Pasal 41 UUP bahwa Tergugat sebagai bapak dari anak-anaknya bertanggung jawab atas semua biaya pemeliharaan dan

pendidikan yang diperlukan anak itu . Hal ini juga merujuk kepada Putusan Pengadilan Negeri No.257/Pdt.G/2018/Pn.Mdn yang mana Majelis Hakim tidak ada menemukan kenyataan si bapak atau Tergugat tidak dapat memberi kewajiban tersebut, sehingga Majelis Hakim tidak menentukan si ibu atau Penggugat ikut memikul biaya.

Berdasarkan Putusan Pengadilan Negeri No.257/Pdt.G/2018/Pn.Mdn telah menimbulkan akibat hukum kepada status Tergugat sebagai suami dari perkawinan yang sah menurut hukum sehingga perkawinan tersebut dapat dilakukan proses perceraiannya menurut hukum meski perkawinan tersebut belum pernah didaftarkan di kantor catatan sipil. Hal ini menerangkan bahwa dapat dikabulkannya gugatan perceraian atas perkawinan yang tidak didaftarkan di kantor catatan sipil. Namun, kasus ini tidak dapat dimaknai sama dengan kasus gugatan perceraian atas perkawinan yang dilarang menurut UUP, kasus ini berbeda dengan gugatan perceraian atas perkawinan yang dilarang menurut UUP, maka perceraian tidak dapat dilakukan atau dikabulkan karena perkawinan tersebut dianggap tidak pernah ada sehingga yang harusnya dilakukan adalah pembatalan perkawinan.

Terkait biaya perkara, sesuai dengan amar putusan Majelis Hakim bahwa yang menanggung biaya perkara adalah Tergugat sehingga Tergugat harus membayar biaya perkara sebsar yang ditentukan oleh Majelis Hakim dalam amar putusannya. Dari keseluruhan akibat-akibat hukum tersebut harus di terima dan di eksekusi Tergugat dikarenakan putusan telah berkekuatan hukum tetap, meski

Tergugat dalam proses pemeriksaan gugatan perceraian tersebut telah dipanggil dengan patut tetapi tidak hadir.97

2. Isteri

Akibat hukum yang timbul dari Putusan Pengadilan Negeri No.257/Pdt.G/2018/Pn.Mdn terhadap Penggugat yang berinisial WA diantaranya yakni status Penggugat menjadi mantan istri yaitu hidup sendiri sebagai janda dan dapat bebas menikah lagi dengan pria lain. Hal ini karena perceraian yang dilakukan telah sah menurut hukum. Terkait status Penggugat tersebut maka Penggugat tidak lagi merasa tidak wajar apabila tidak tinggal dalam satu rumah dengan Tergugat atau dengan kata lain tidak diperbolehkan untuk hidup bersama lagi sebab mereka sudah tidak terikat lagi dalam pernikahan yang sah.

Dikabulkannya gugatan perceraian yang diajukan oleh Penggugat menimbulkan akibat hukum yang menguntungkan bagi Penggugat, karena Majelis Hakim memenuhi seluruh tuntutan dari Penggugat sehingga Penggugat yang selama ini hidup dalam ketidak bahagiaan dikarenakan perselisihan rumah tangga dapat terbebas dari hal tersebut. Berdasarkan ketentuan Pasal 41 UUP, meski Penggugat telah berstatus mantan isteri bukan berarti Penggugat juga sebagai mantan ibu bagi anak-anaknya. Penggugat tetap berkewajiban memelihara dan mendidik anak-anaknya, semata-mata untuk kepentingan anak-anaknya. Jika ditinjau dalam salah satu tuntutan Penggugat yang dikabulkan oleh Majelis Hakim bahwa Tergugat yang memiliki hak asuh, bukan berarti Penggugat lepas tanggung jawab kepada anaknya dalam kewajiban memelihara dan mendidik anak-anaknya.98

97 Yahya Harahap, Op.cit., Hal. 892.

98 Sudarsono, Op.cit., Hal .126.

Terkait pembiayaan pemeliharaan anak dan pendidikan anak tidak menjadi tanggung jawab dari Penggugat melainkan menjadi kewajiban dari Tergugat dalam hal ini bila Tergugat tidak dapat melaksanakan putusan pengadilan tersebut

Terkait pembiayaan pemeliharaan anak dan pendidikan anak tidak menjadi tanggung jawab dari Penggugat melainkan menjadi kewajiban dari Tergugat dalam hal ini bila Tergugat tidak dapat melaksanakan putusan pengadilan tersebut

Dokumen terkait