BAB II: DASAR PERTIMBANGAN HAKIM DALAM
C. Analisis Terhadap Putusan Pengadilan Negeri
1. Berdasarkan hasil pemeriksaan Visum et Repertum No. 209/VH/LKK/ VER/2005 tanggal 11 Juli 2005 atas nama Johan Riki Fernando Simatupang yang dibuat dan ditandatangani Dr. Surjit Singh, SpF., DFM, dokter pada Rumah Sakit Pirngadi Medan, dalam kesimpulannya dari hasil pemeriksaan luar dan dalam, bahwa penyebab kematian korban karena perdarahan jaringan otak disertai patah tulang iga ke-5 (lima) kanan dan tulang iga ke-3 (tiga) kiri akibat ruda paksa, maka telah terpenuhilah unsur “menghilangkan nyawa orang lain”, yang berujung pada timbulnya suatu akibat hilangnya nyawa orang sebagai persyaratan mutlak.61
2. Korban Johan Riki Fernando Simatupang, yang dinyatakan dalam dakwaan dimasukkan ke comberan dalam keadaan sudah meninggal dunia, berdasarkan
60
Putusan No. 1616/Pid.B/2005/PN-LP
61
http://www.kpkku.co.cc/2009/11/analisa-terhadap-tindak-pidana_29.html, diakses tanggal 3 Agustus 2010, pukul: 11.37 Wib.
keterangan Dr. Surjit Singh, SpF., DFM, yang menerangkan bahwa korban meninggal diatas 24 jam dan kemudian dimasukkan ke comberan dalam keadaan sudah meninggal dunia, yakni dengan tidak dijumpainya cairan air comberan atau pasir atau lumpur di pernafasan atau di lambungnya, selain cairan darahnya, cairan kuning dari tubuhnya dan terdapat luka-luka di seluruh tubuhnya. Pendapat yang menyatakan bahwa korban meninggal diatas 24 jam, juga dikatakan oleh saksi Togar Simatupang, bahwa saksi selaku mantan Kanit Serse curiga bahwa korban setelah meninggal baru dimasukkan ke comberan. Demikian juga keterangan saksi Ruminta boru Sihombing yang menyatakan bahwa sore harinya pada hari Minggu, saksi ke belakang pukul 15.00 Wib di comberan tidak melihat apa-apa. Hal ini membuktikan bahwa korban tidak meninggal di dalam comberan tersebut melainkan telah lebih dahulu dibunuh di tempat lain kemudian setelah meninggal baru diletakkan di dalam comberan.
Uraian kesaksian diatas merupakan fakta hukum yang menunjukkan ketidaksesuaian dengan kronologis yang dituangkan dalam dakwaan JPU, dan berdasarkan keterangan saksi dari kepolisian, bahwa ketika akan dimasukkan ke comberan korban masih bergerak dan belum yakin korban meninggal, serta menyatakan bahwa Terdakwa menunjang korban, dan setelah korban lemas maka kepala korban dipukul dan kemudian dimasukkan ke comberan; yang dikatakan diakui oleh Terdakwa, dimana hal tersebut telah disangkal oleh Terdakwa di muka persidangan.
3. Penyebab kematian korban, dari hasil visum dokter ternyata diakibatkan perdarahan jaringan otak disertai patah tulang iga ke-5 (lima) kanan dan tulang iga ke-3 (tiga) kiri akibat ruda paksa, disertai luka-luka disekujur tubuh korban. Hal ini mengindikasikan bahwa pembunuhan dilakukan oleh lebih dari 1 (satu) orang dan dilakukan secara rapi di tempat yang lain dengan menyumbat mulut korban. Apabila pembunuhan dilakukan di lantai cucian yang hanya berjarak 3 hingga 5 meter dari dapur tempat masak saksi Runggu Anita Rosalina boru Simatupang, dimana diatas tungku memasak tersebut ada jendela kaca tembus pandang dua lobang dengan ukuran masing-masing 1.20 x 1 meter yang terbuka pada saat itu, maka akan terlihat dan terdengar apabila terjadi pertengkaran dan perkelahian seperti yang dinyatakan dalam surat dakwaan. Demikian hal nya dengan keterangan saksi Ridolf Sianturi, yang menyatakan bahwa korban sudah dapat sabuk coklat dalam latihan karate serta postur tubuh korban lebih tinggi dan kekar, normalnya jika berkelahi satu lawan satu yang kalah kemungkinan besar adalah Terdakwa yang memiliki keterlambatan berpikir, tubuhnya lebih kecil dan lemas. Berdasarkan uraian keterangan diatas, mengindikasikan bahwa pelaku pembunuhan tersebut bukanlah Terdakwa melainkan orang lain, yang telah merencanakan terlebih dahulu pembunuhan tersebut.
4. Adanya ancaman dari Ramot lubis dengan kawan-kawannya yang mengancam Terdakwa “Kau harus mengaku bahwa Kau Pembunuhnya” dan Terdakwa dibawa ke samping Gereja Bethel, dan mengatakan bahwa Terdakwa akan dibunuh
apabila tidak mengakui sebagai pembunuhnya. Kejadian ini terjadi ketika Terdakwa keluar rumah pukul 20.00 Wib untuk menjumpai Ibunya dan berjumpa dengan Ramot Lubis. Berdasarkan keterangan saksi Ramot Lubis, bahwa ketika diberitahukan korban meninggal dari Ibu saksi yang mendengar dari masyarakat bahwa Riki dibunuh oleh abangnya, tidak menunjukkan sikap terkejut yang seharusnya didapati dari orang yang tidak mengetahui kejadian pembunuhan tersebut, akan tetapi reaksi saksi Ramot Lubis biasa saja. Kejanggalan juga terdapat dalam keterangan saksi Ramot Lubis, dimana hampir keterangan setiap saksi menyatakan bahwa korban dan terdakwa mempunyai anjing yang galak, sedangkan saksi Ramot Lubis menyatakan “kata orang anjingnya galak”. Keterangan tersebut juga menguatkan dugaan, bahwa saksi Ramot Lubis lah pelaku pembunuhan. Bahwa adanya keterangan dari saksi Yopi Zoro Dinata Simamora, Ranap Lubis, dan Ramot Lubis, tidak ada keterangan yang jelas dan tegas mengenai waktu keberangkatan dan pulang dari tempat Surianto Sitorus alias Maung. Saksi Yopi Simamora menyatakan bahwa mereka pergi pukul 11.00 Wib, dan pulang pukul 22.00 Wib; dan keterangan dari saksi Ramot Lubis menyatakan bahwa pukul 10.00 Wib berangkat dengan saksi Ranap Lubis ke rumah Yopi Simamora, kemudian berangkat bertiga ke rumah Surianto Sitorus hingga pukul 24.00 Wib baru pulang. Sedangkan saksi Surianto Sitorus sendiri menyatakan bahwa sekitar pukul 10.00 Wib didatangi Yopi Simamora, Ranap Lubis dan Ramot Lubis dirumahnya di Pasar VII Desa Wonosari. Kemudian saksi menyatakan bahwa Ramot Lubis datang dirumahnya pukul 10.30 Wib kemudian
menyusul Ranap Lubis dan Yopi Simamora pukul 11.00 Wib, pulang sekitar pukul 21.30 Wib, dan menyatakan bahwa mereka tidak kemana-mana dan main di rumah saksi dengan masak indomie. Akan tetapi pada pemeriksaan polisi tanggal 1 Agustus 2005 jam 10.30 Wib, Surianto Sitorus alias Maung ada mengakui pada jam 13.00 Wib para saksi berempat tersebut di atas pergi ke Sibiru-biru dan baru pulang ke rumah jam 18.00 Wib dan sesudah jam 23.00 Wib baru ketiga temannya yaitu Yopi Simamora, Ranap Lubis, serta Ramot Lubis pulang ke rumah masing-masing. Berdasarkan alibi dari keempat saksi tersebut, ditemukan kejanggalan bahwa diantara mereka ada niat untuk saling mengaburkan informasi keberadaan masing-masing atau saling menutupi kegiatannya pada hari itu. Terkesan ada rekayasa pada alur cerita perjalanan mereka, dengan mengkondisikan bahwa Ramot Lubis beserta temannya yang dituduh sebagai pelaku pembunuhan oleh si Terdakwa, tiba di rumah Surianto Sitorus pukul 10.30 Wib, yang bertepatan sekali dengan waktu terjadinya pembunuhan pukul 10.30 Wib berdasarkan keterangan dalam surat dakwaan, dan terdapatnya perbedaan pernyataan mereka mengenai waktu pulang dari kediaman saksi Surianto Sitorus.
Kesaksian yang diuraikan diatas mengindikasikan, bahwa kemungkinan Ramot Lubis terlibat tindakan pembunuhan, sehingga Majelis Hakim tingkat Pengadilan Negeri seharusnya memerintahkan Polisi dan JPU menangkap dan memeriksa Ramot Lubis sebagai tersangka.
5. Demikian juga dengan police line yang dipasang disekitar TKP hingga kini tidak pernah dilakukan pencabutannya, mengindikasikan bahwa Polisi ragu pada hasil pemeriksaannya.
6. Opini yang dibangun bahwa orang lain tidak dapat mendekati rumah korban dan terdakwa karena memiliki anjing yang galak, tampaknya sengaja dikembangkan untuk meyakinkan bahwa terdakwalah yang membunuh korban (adiknya) dan tidak mungkin orang lain, padahal keadaan disekitar tempat tinggal terdakwa dan korban, memungkinkan bagi orang lain dapat bebas masuk tanpa hambatan, terutama para konsumen yang hendak membeli bunga.
7. Jika ditelusuri secara cermat putusan Majelis Hakim tingkat pertama, ditemukan kejanggalan yang sangat menarik, mengapa lebih mendengar, menerima dan mempertimbangkan keterangan para saksi yang hanya mendengar dari orang lain dan tidak ada melihat, mendengar sendiri perbuatan/kejadian, bahkan tidak ada menemui barang bukti yang dipergunakan untuk membunuh korban.62 Demikian juga tidak ada menemukan bukti lain seperti sidik jari terdakwa dan alat-alat bukti
62
Dalam menjatuhkan putusan seharusnya Majelis Hakim mempertimbangkan, yakni: (1) dalam pemidanaan wajib dipertimbangkan: a. kesalahan pembuat tindak pidana; b. motif dan tujuan melakukan tindak pidana; c.sikap batin pembuat tindak pidana; d. apakah tindak pidana dilakukan dengan berencana; e. cara melakukan tindak pidana; f. sikap dan tindakan pembuat sesudah melakukan tindak pidana; g. riwayat hidup dan keadaan sosial dan ekonomi pembuat tindak pidana; h. pengaruh pidana terhadap masa depan pembuat tindak pidana; i. pengaruh tindak pidana terhadap korban atau - keluarga korban; j. pemaafan dari korban dan/atau keluarganya; dan/atau k. pandangan masyarakat terhadap tindak pidana yang dilakukan; (2) Ringannya perbuatan, keadaan pribadi pembuat, atau kea- daan pada waktu dilakukan perbuatan atau yang terjadi kemudian, dapat dijadikan dasar pertimbangan untuk tidak menjatuhkan pidana atau mengenakan tindakan dengan mempertimbangkan segi keadilan dan kemanusiaan. (diatur dalam Pasal 55 RUU KUHP Tahun 2006).
lain, yang terkait dengan perbuatan kejahatan Terdakwa, tidak dapat ditemukan oleh Polisi sampai pemeriksaan di persidangan. Dimana terdakwa yang dituntut dan diadili tanpa didukung alat bukti yang sah sesuai dengan sistem pembuktian dan asas batas minimum pembuktian yang ditentukan dalam Pasal 183 KUHAP adalah merupakan penuntutan dan peradilan yang tidak sah menurut undang- undang. Demikian halnya dalam perkara pembunuhan ini, alat-alat bukti yang dipertimbangkan dalam putusan tingkat pertama, hanya mendasarkan kepada keterangan terdakwa dalam BAP dan alat bukti petunjuk yang diuraikan dalam surat tuntutan. Sedangkan yang dimaksud alat bukti keterangan terdakwa berdasarkan Pasal 189 KUHAP yaitu, apa yang terdakwa nyatakan di sidang tentang perbuatan yang ia lakukan atau yang ia ketahui sendiri atau alami sendiri, dan bukan keterangan terdakwa dalam BAP yang hanya dapat digunakan untuk membantu menemukan bukti di sidang, asalkan keterangan tersebut didukung oleh suatu alat bukti yang sah sepanjang mengenai hal yang didakwakan kepadanya (Pasal 189 ayat (2) KUHAP). Demikian halnya dengan yang dimaksud alat bukti petunjuk dalam Pasal 188 ayat (1) dan (2) KUHAP, bahwa petunjuk merupakan perbuatan, kejadian, atau keadaan, yang karena persesuaiannya, baik antara yang satu dengan yang lain, maupun dengan tindak pidana itu sendiri, menandakan bahwa telah terjadi suatu tindak pidana dan siapa pelakunya, yang hanya dapat diperoleh dari keterangan saksi, surat, dan keterangan terdakwa.
Penelusuran tersebut diatas membuahkan pertanyaan, apakah ada mafia peradilan?. Hal ini membutuhkan kecermatan untuk mendalaminya, dan masih terbuka untuk diteliti pada kesempatan berikutnya.
8. Berdasarkan alat-alat bukti di dalam persidangan, telah terbukti secara sah dan meyakinkan, bahwa Terdakwa Tua Anggiat Haris Maruli Simatupang bukanlah pelaku pembunuhan tersebut, disebabkan tidak adanya persesuaian antara keterangan saksi satu dengan yang lain, persesuaian keterangan antara keterangan saksi dengan alat bukti lain, alasan yang mungkin dipergunakan oleh saksi untuk memberi keterangan yang tertentu, cara hidup dan kesusilaan saksi, serta segala sesuatu yang pada umumnya dapat mempengaruhi dapat tidaknya keterangan itu dipercaya,63serta dengan tidak diadakannya rekonstruksi di TKP yang sebenarnya, yang dapat menunjukkan bahwa Terdakwa bukanlah pelaku pembunuhan tersebut.
9. Majelis Hakim seharusnya membebaskan Terdakwa secara murni dari segala dakwaan/tuntutan pidana Jaksa Penuntut Umum tersebut, dan memerintahkan kepada Polisi dan Jaksa untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap Ramot Lubis dan teman-temannya yang dituduh selaku pembunuh korban oleh Terdakwa, ataupun mencari pelaku pembunuh yang sebenarnya, serta diberikan ganti kerugian dan rehabilitasi, berdasarkan Pasal 9 ayat (1) UU No.4 Tahun 2004
63
tentang Kekuasaan Kehakiman,64 atas kekeliruan putusan mengenai pelaku dari pembunuhan.