VI HASIL DAN PEMBAHASAN
3. Luas Lahan
6.4 Analisis Tingkat Pendapatan Petani Garam Rakyat
Pendapatan usaha garam rakyat di Desa Padelegan, Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan dihitung berdasarkan kepemilikan lahannya. Pendapatan dihitung dengan menghitung selisih struktur penerimaan dengan struktur biaya. Masing-masing kelompok petani memiliki struktur biaya dan struktur penerimaan yang berbeda.
Struktur biaya yang dihadapi oleh setiap kelompok petani terdiri atas total biaya tetap (TFC), total biaya variabel (TVC), pajak, dan faktor penyusutan. Nilai-nilai tersebut dijumlahkan dan dihitung rata-rata biaya yang dihadapi oleh kelompok petani garam. Faktor penyusutan yang dimaksud adalah penyusutan input produksi. Penyusutan input ini pada umumnya terjadi pada input yang memiliki umur ekonomi. Cara menghitung nilai penyusutan suatu input adalah dengan cara membagi nilai pembelian (harga beli) terhadap umur ekonomi input tersebut. Informasi yang diperoleh dari hasil wawancara mengenai nilai penyusutan input ditampilkan dalam Tabel 6.3 berikut ini.
Tabel 6.3 Faktor Penyusutan Setiap Input Produksi Garam Rakyat
No. Input Umur Ekonomi (Tahun) Harga Beli (Rp/Unit) Penyusutan (Rp) 1. Lahan Tambak - 100.000.000 - 2. Gudang Besar 30 20.000.000 666.700 Gudang Kecil 5 5.000.000 .1000.000 3. Kincir 8 1.000.000 125.000 4. Pompa Air 5 4.000.000 800.000 5. Slender 10 750.000 75.000 6. Sorkot 4 200.000 50.000 7. Pencacah 3 100.000 33.350 8. Sedong 2 100.000 50.000 9. Bambu 1 10.000 10.000 10. Baumeter 3 20.000 6.700 11. Keranjang 2 50.000 25.000 12. Tambang 3 25.000 8.350
Sumber : Data Primer Diolah (2015)
Struktur penerimaan merupakan total penerimaan yang diterima oleh setiap petani responden yang diwawancarai. Penerimaan ini berasal dari penjualan garam KP 1, KP 2, dan KP 3. Jumlah garam KP 1, KP 2, dan KP 3 yang terjual dihitung dari rata-rata jumlah penjualan masing-masing kelompok petani garam. Selanjutnya, rata-rata total penerimaan setiap kelompok petani garam diperoleh dengan mengalikan rata-rata jumlah penjualan garam yang dilakukan selama satu musim. Struktur biaya dan penerimaan masing-masing kelompok petani tersaji dalam Lampiran 3, Lampiran 4, dan Lampiran 5. Rata-rata pendapatan diperoleh dengan cara mengurangi rata-rata penerimaan dengan rata-rata pengeluaran dari setiap kelompok petani garam. Secara rinci, rata-rata pendapatan petani garam rakyat disajikan dalam Tabel 6.4.
Tabel 6.4 di bawah memberikan informasi mengenai rata-rata pendapatan yang diperoleh oleh setiap kelompok petani garam rakyat di Desa Padelegan, Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan. Petani garam terbagi menjadi dua kelompok berdasarkan kepemilikan lahan. Kelompok pertama adalah petani lahan MS. Kelompok petani garam yang kedua adalah petani lahan BMS yang terbagi lagi menjadi dua, yakni petani dengan lahan sewa (SW) dan petani dengan lahan bagi hasil (BH).
Struktur penerimaan pada petani lahan MS memiliki rincian sebagai berikut. Sebesar 28,09 % berasal dari penjualan garam KP 1, sebesar 40,45 % berasal dari penjualan garam KP 2, dan sebesar 31,46 % berasal dari penjualan garam KP 3. Rata-rata total pengeluaran dalam kelompok petani garam lahan MS adalah sebesar Rp 58.602.100.
Rata-rata pendapatan kelompok petani lahan MS musim 2014 adalah sebesar Rp 21.250.700 per orang. Artinya, petani garam rakyat yang termasuk dalam kelompok ini memiliki rata-rata pendapatan sebesar Rp 21.250.700 per orang dalam satu musim terakhir. Nilai tersebut dapat dikatakan sebagai keuntungan usaha tani garam yang diperoleh oleh petani garam kelompok lahan MS adalah sebesar Rp 21.250.700 per orang dalam satu musim terakhir.
Tabel 6.4 Rata-rata Pendapatan Petani Garam Rakyat
No. Komponen
Rata-rata Pendapatan (Rp) Milik Sendiri Bukan Milik Sendiri
Sewa Bagi Hasil
1. Penerimaan KP 1 22.430.550 14.625.000 9.166.700 KP 2 32.300.000 21.060.000 13.200.000 KP 3 25.122.250 16.380.000 10.266.700 Total Penerimaan 79.852.800 52.065.000 32.633.350 2. Pengeluaran TFC 12.277.800 11.000.000 0 TVC 39.350.000 24.345.450 18.981.400 Pajak 176.600 197.500 117.150 Penyusutan 4.205.900 3.807.100 1.730.200 Total Pengeluaran 58.602.100 39.350.550 20.828.750 3. Pendapatan 21.250.700 12.714.500 11.804.600 Sumber : Data Primer Diolah (2015)
Rata-rata pendapatan kelompok petani garam yang kedua terbagi menjadi dua. Petani dengan lahan sewa memperoleh rata-rata pendapatan sebesar Rp 12.714.500 per orang. Artinya, petani garam dengan lahan sewa memperoleh keuntungan dari usaha tani garam sebesar Rp 12.714.500 per orang dalam satu musim terakhir. Petani dengan lahan bagi hasil memiliki rata-rata pendapatan yang lebih kecil, yakni sebesar Rp 11.804.600 per orang. Artinya, keuntungan yang diperoleh oleh petani ini adalah sebesar Rp 11.804.600 per orang dalam satu musim terakhir.
Struktur penerimaan pada petani garam dengan lahan bukan milik sendiri ternyata sama dengan struktur penerimaan pada petani dengan lahan milik sendiri, yakni Sebesar 28,09 % berasal dari penjualan garam KP 1, sebesar 40,45 % berasal dari penjualan garam KP 2, dan sebesar 31,46 % berasal dari penjualan garam KP 3. Rata-rata total pengeluaran pada kelompok petani garam dengan
lahan sewa adalah sebesar Rp 39.350.550 dan Rata-rata total pengeluaran pada kelompok petani garam dengan lahan sewa adalah sebesar Rp 20.828.750.
Berdasarkan Tabel 6.4, kelompok petani yang memiliki rata-rata pendapatan tertinggi adalah kelompok petani lahan MS. Sedangkan dalam kelompok petani lahan BMS, petani dengan lahan sewa memiliki rata-rata pendapatan lebih tinggi daripada petani dengan lahan bagi hasil. Selisih rata-rata pendapatan kedua kelompok petani ini hanya sebesar Rp 909.900 per orang.
Adanya perbedaan rata-rata pendapatan yang diterima oleh setiap kelompok petani garam telah diuji dengan Uji Signifikansi Perbedaan Pendapatan dengan menggunakan program SPSS 22. Berdasarkan hasil uji signifikansi, perbedaan rata-rata pendapatan yang diterima oleh petani garam rakyat dinyatakan signifikan dengan taraf nyata (α) 5 %. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa memang terdapat hubungan antara kepemilikan lahan (Lahan Milik Sendiri dan Lahan Bukan Milik Sendiri) terhadap rata-rata pendapatan yang diterima oleh petani garam rakyat.
Kesimpulan yang dapat diambil dari analisis pendapatan petani garam rakyat ini adalah kelompok petani lahan milik sendiri lebih menguntungkan daripada kelompok petani bukan lahan milik sendiri. Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata pendapatan kedua kelompok petani garam rakyat seperti yang telah tersaji dalam Tabel 6.4. Penyebab lain perbedaan pendapatan tersebut adalah adanya dominasi peran tengkulak dalam sistem ‘Partelon’ Bagi Hasil.
Dominasi Peran Tengkulak dalam Sistem ‘Partelon’ Bagi Hasil
Sistem bagi hasil merupakan suatu sistem kontrak yang telah mengakar di kalangan petani garam dengan sistem bagi hasil (BH). Terdapat dua pemain utama dalam sistem ini, yakni pemilik lahan dan petani penggarap. Pemilik lahan adalah seseorang yang memiliki lahan garam dan modal produksi namun tidak memiliki waktu dan kesempatan untuk melakukan kegiatan usaha garam sendiri. Oleh karena alasan itu, pemilik lahan memilih untuk memperkerjakan orang lain, yang tidak lain adalah petani penggarap, untuk menggarap lahan gram miliknya. Pemilik lahan pada umumnya adalah Tengkulak. Pemilik lahan tidak hanya memberikan ‘pinjaman’ lahan garam, namun juga modal produksi. Modal produksi ini selanjutnya digunakan sebagai modal untuk melakukan kegiatan produksi garam oleh petani penggarap.
Petani penggarap adalah petani dengan sistem bagi hasil (BH), merupakan petani yang dipekerjakan oleh pemilik lahan. Petani penggarap memperoleh ‘pinjaman’ lahan garam. Lahan garam ini selanjutnya akan digarap selama satu tahun. Waktu garapan bisa saja diperpanjang oleh petani penggarap. Semua bergantung pada hasil kesepakatan kedua belah pihak. Bukan hanya memberikan ‘pinjaman’ lahan garam, petani penggarap juga diberikan ‘pinjaman’ modal produksi. Kedua ‘pinjaman’ ini tidak memiliki bunga. Bentuk ‘pinjaman’ ini seolah menjadi hak bagi petani penggarap sebagai pemain utama dalam sistem bagi hasil. Lantas, konsekunsi yang harus diterima oleh petani penggarap adalah adanya kewajiban menjual kepada pemilik lahan yang tidak lain adalah Tengkulak. Hak dan kewajiban ini merupakan konsekuensi yang harus diterima oleh masing-masing pemain.
Hal menarik lainnya dalam sistem bagi hasil adalah adanya sistem ‘partelon’. Partelon merupakan suatu istilah yang digunakan dalam sistem bagi 42
hasil yang berarti bagi tiga. Pembagian hasil usahatani ini dideskripsikan sebagai berikut : pemilik lahan memperoleh dua bagian, sedangkan petani penggarap hanya memperoleh satu bagian saja. Hasil usaha garam diperoleh dari pengurangan penerimaan hasil penjualan garam terhadap biaya yang dikeluarkan oleh petani penggarap, termasuk ‘pinjaman’ modal produksi. Selanjutnya, hasil usahatani tersebut dibagi menjadi tiga bagian dan diberikan sesuai dengan porsi dan kesepakatan kedua belah pihak. Berdasarkan analisis ini, petani penggarap diestemasi memperoleh pendapatan yang lebih kecil lagi.
Sistem ‘Partelon’ Bagi Hasil di Desa Padelegan, Kecamatan Pademawu,
kabupaten Pamekasan dirasa telah mengakar. Bahkan, sistem ini dapat dikatakan sebagai kearifan lokal. Petani penggarap dirasa akan kesulitan untuk meninggalkan sistem ini.
6.5 Analisis Saluran Pemasaran Garam Rakyat