II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Saluran Pemasaran
3. Total Cost (TC) merupakan hasil penjumlahan dari Total Fixed Cost dan
2.8 Kebaruan Penenlitian
Terdapat beberapa perbedaan dan kebaruan mengenai penelitian ini. Penelitian usaha garam rakyat yang dilakukan di Desa Padelegan, Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan jarang dilakukan bahkan dapat dikatakan belum pernah dilakukan. Penelitian ini menganalisis saluran pemasaran dan menganalisis pendapatan petani garam rakyat berdasarkan dua kelompok kepemilikan lahan garam, yakni :
a) petani lahan milik sendiri
b) petani lahan bukan milik sendiri 1) petani dengan lahan sewa 2) petani dengan lahan bagi hasil
Selain itu, penelitian ini juga melihat dan menganalisis saluran pemasaran mana yang paling efisien dan tipe kepemilikan lahan garam seperti apa yang mampu memberikan tingkat pendapatan yang optimal bagi petani garam rakyat. Selain itu, penelitian ini juga menganalisis perilaku tengkulak memalui fungsi lembaga pemasaran serta mengestimasi pendapatan yang diperoleh oleh tengkulak dalam saluran pemasaran garam rakyat di Desa Padelegan, Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan.
Selanjutnya, hasil-hasil estimasi dan analisis ini akan diajukan sebagai salah satu dasar dalam rekomendasi kebijakan kepada pihak terkait, terlebih kepada petani garam rakyat di Desa Padelegan, Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan dalam mengambil keputusan melakukan usaha garam rakyat.
Tabel 2.1 Matriks Penelitian Terdahulu
No. Penelitian dan Judul Tujuan Metode Hasil
1. Nida Nurdianti (2012)/Pola Kemitraan Usaha Garam Rakyat (Studi Kasus Kabupaten Sumenep, Madura-Jawa Timur).
1) Menganalisis pola kerjasama yang telah dilakukan oleh petani garam dengan berbagai pihak 2) Merumuskan dan memberikan rekomendasi pola kemitraan yang sesuai guna meningkatkan posisi tawar dan kesejahteraan petani garam di Kabupaten Sumenep
Analisis deskriptif, analisis pendapatan usahatani garam, dan analisis biaya transaksi dan biaya penyusutan
1) Beberapa bentuk kerjasama yang telah dilakukan dalam kegiatan usahatani garam rakyat di Kabupaten Sumenep adalah 1) Kerjasama antara PT Garam (Persero) dengan petani garam penyewaan lahan tambak garam, 2) Kerjasama antara penyewa lahan dengan penggarap, pola yang diterapkan sistem bagi hasil sebesar 4 : 6, yakni 4 bagian untuk petani penggarap dan 6 untuk penyewa lahan, 3) Kerjasama antara petani garam dengan pemilik lahan perorangan, sistem yang digunakan sama, yakni 4 : 6 dengan 4 bagian untuk petani penggarap dan 6 untuk pemilik lahan, dan 4) Kerjasama antara petani garam dengan pedagang pengumpul dengan sistem yang berlaku adalah sistem ijon.
2) Pola kemitraan petani garam yang dibangun
berdasarkan pada beberapa kriteria, yakni pendapatan usahatani, analisis B/C ratio, biaya transaksi, dan biaya penyusutan menunjukkan bahwa pola kemitraan yang diajukan adalah pola kemitraan antara petani garam dan Koperasi ASTAGINA dengan model kemitraan intermediary (perantara).
Tabel 2.1 Lanjutan
No. Penelitian dan Judul Tujuan Metode Hasil
2. Apriliana (2012)/Dampak Program Pemberdayaan Usaha Garam
Rakyat Terhadap Kesejahteraan
Rumahtangga Petani Garam di Kabupaten Karawang
1) Mengidentifikasi
karakteristik rumahtangga petani garam serta pelaksanaan PUGAR 2) Menganalisis faktor-faktor
yang mempengaruhi keputusan ekonomi rumahtangga dalam alokasi curahan kerja, produksi dan pengeluaran petani garam,
3) Menganalisis dampak program PUGAR terhadap kesejahteraan rumahtangga petani garam di Kabupaten Karawang
Model ekonomi rumahtangga (Konsep dan Stud Empiris) Model persamaan simultan dengan metode 2SLS
1) Rata-rata umur sampel rumahtangga yaitu suami dan isteri masih tergolong produktif. Curahan kerja rumahtangga petani garam untuk kegiatan usaha garam dan non usaha garam memiliki peranan yang sama pentingnya dalam perekonomian petani garam, karena dapat meningkatkan pendapatan rumahtangga. Pengeluaran rumahtangga paling besar dialokasikan untuk konsumsi pangan. Berdasarkan status penguasaan lahan, pemberian bantuan langsung masyarakat dapat meningkatkan pendapatan petani garam dan pendapatan yang paling besar didapatkan oleh petani pemilik penggarap.
2) Pada petani garam penerima PUGAR, penurunan Bantuan Langsung Masyarakat dan peningkatan upah tenaga kerja luar keluarga yang dikompensasi dengan peningkatan harga garam masih dapat meningkatkan kesejahteraan rumahtangga. Pada petani garam yang tidak menerima PUGAR, pemberian Bantuan Langsung Masyarakat dan peningkatan upah tenaga kerja luar keluarga yang disertai peningkatan harga garam dapat meningkatkan kesejahteraan rumahtangga.
Tabel 2.1 Lanjutan
No. Penelitian dan Judul Tujuan Metode Hasil
3. Dewi Nuruliana Hidayati (2000)/Analisis Sistem Pemasaran Bawang Daun (Studi Kasus Desa Suka Mulya Kecamatan Cibadak Kabupaten Sukabumi)
1) Mengetahui sistem pemasaran bawang daun di lokasi penelitian dilihat dari lembaga dan saluran pemasaran, struktur pasar, perilaku pasar, analisis marjin pemasaran, dan keterpaduan pasar
Analisis Marjin Pemasaran dan Model Keterpaduan Pasar
1) Saluran pemasaran bawang daun dari Desa Suka Mulya, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi disalurkan ke Pasar Induk Keramat Jati (PIKJ) dan Pasar Ramayana Bogor (PRB) melelui lembaga-lembaga pemasaran yaitu Tengkulak I, Tengkulak II, Pedagang Grosir, Pedagang Pengecer, Konsumen.
2) Fungsi-fungsi pemasaran yang dilakukan oleh lembaga-lembaga pemasaran yang terlibat adalah fungsi
pertukaran, fungsi fisik, dan fungsi fasilitas.
3) Struktur pasar untuk petani, tengkulak, dan pengecer adalah pasar bersaing dan pedagang grosir adalah pasar oligopoli.
4) Penentu harga antara petani dan tengkulak adalah tengkulak namun tetap mengikuti harga pasar. Antara tengkulak dan grosir berdasarkan pada harga pasar, dan antara grosir dan pengecer ditentukan oleh grosir. 5) Saluran Tiga relatif lebih efisien dibandingkan tiga
saluran lainnya.
6) Hasil analisis regresi antara pasar produsen dan pasar acuan menunjukkan bahwa harga di pasar acuan berpengaruh nyata terhadap harga di pasar produsen. Tetapi tidak terjadi keterpaduan baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang di antara kedua pasar tersebut. Sehingga tidak mencapai efisiensi pemasaran. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya informasi yang memadai terlebih informais yang tidak transparan di tingkat petani, modal yang dimiliki petani tidak mencukupi untuk membiayai pemasaran hasil produksinya serta terlalu kuatnya peranan tengkulak.
Tabel 2.1 Lanjutan
No. Penelitian dan Judul Tujuan Metode Hasil
4. Riyanto (2005)/Analisis Pendapatan Cabang Usahatani dan Pemasaran Padi (Kasus : Tujuh Desa, Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah)
1) Menganalisis usahatani padi
2) Menganalisis efisiensi saluran pemasaran padi di Kecamatan Salem
Analisis pendapatan dan analisis efisiensi saluran pemasaran
1) Usahatani padi yang dikembangkan oleh petani di Tujuh Desa, Kecamatan Salem memberikan keuntungan karena nilai pendapatan atas biaya tunai dan biaya totalnya bernilai positif. Nilai R/C ratio atas biaya total dan nilai R/C ratio atas biaya tunai yang diperoleh lebih besar dari satu.
2) Hasil penelitian yang kedua adalah terdapat dua pola pemasaran padi di Kecamatan Salem, tetapi dari kedua seluran pemasaran tersebut yang paling banyak dipakai oleh petani adalah pola pemasaran II, yakni sebesar 63,33 persen dari total petani. Jika dilihat marjin dan efisiensi pemasaran I memiliki nilai yang lebih besar daripada pola pemasaran II. Hal ini dapat dikatakan bahwa pola pemasaran I lebih efisien daripada pola pemasaran II
III KERANGKA PEMIKIRAN