IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.5. Analisis varians terhadap anggaran operasional dan realisasinya
Analisis varians yang dilakukan pada masing-masing pusat pertanggungjawaban pada Hotel Permata Krakatau bertujuan untuk mengetahui selisih anggaran yang paling dominan di antara pusat pertanggungjawaban dan untuk mengetahui kinerja dari masing-masing pusat pertanggungjawaban pada Hotel Permata Krakatau. Pusat pertanggungjawaban tersebut di antaranya : (1) Departemen Resident Manager, Maintenance, Food and Beverage, dan Room (2) Departemen Purchasing dan SDM dan (3) Departemen Marketing.
Berdasarkan hasil analisis varians (Tabel 22) dapat diketahui bahwa pada tahun 2006 terjadi selisih anggaran yang bersifat merugikan atau unfavorable sebesar -4,58% pada Departemen Resident Manager, Maintenance, Food and Beverage, dan Room. Hal ini karena terjadinya selisih anggaran yang signifikan pada komponen biaya tenaga kerja, biaya listrik dan air serta biaya asuransi, pajak dan sewa. Selisih anggaran tersebut
94
bersifat merugikan dan selisih anggaran paling signifikan terjadi pada biaya asuransi, pajak dan sewa.
Selanjutnya pada Departemen Purchasing dan SDM serta Departemen Marketing menghasilkan selisih anggaran yang menguntungkan (favorable) dan selisih anggaran yang signifikan terjadi pada Departemen Purchasing dan SDM. Hal ini disebabkan pada tahun 2006 ini penganggaran biaya- biaya ditetapkan oleh PT. KIEC sepenuhnya sehingga realisasi biayanya pun dibebankan pada PT. KIEC. Anggaran yang ditentukan oleh PT. KIEC hampir seluruh komponen biaya-biaya yang termasuk ke dalam biaya administrasi dan umum menghasilkan selisih anggaran yang signifikan.
Analisis varians terhadap masing-masing pusat pertanggungjawaban pada tahun 2007, Departemen Resident Manager, Maintenance, Food and Beverage, dan Room mempunyai selisih anggaran favorable sebesar 13,22% dan besar selisih Rp 638.013.501. Lain halnya dengan Departemen Purchasing dan SDM serta Departemen Marketing yaitu menghasilkan selisih anggaran yang bersifat merugikan (unfavorable) dan selisih anggaran dengan jumlah yang signifikan terjadi pada Departemen Purchasing dan SDM. Hal ini disebabkan pada saat pengganggaran hanya menggunakan realisasi dari data historis periode sebelumnya dan tidak diimbangi dengan program atau rencana perusahaan ke depan sehingga menyebabkan selisih anggaran yang signifikan dan bersifat merugikan.
Pada tahun 2008, terjadi selisih anggaran yang signifikan baik yang bersifat menguntungkan (favorable) maupun merugikan (unfavorable). Pada Departemen Resident Manager, Maintenance, Food and Beverage, dan Room mempunyai selisih anggaran yang bersifat unfavorable yaitu sebesar - 13,21% dan nilai selisih Rp 704.577.440. Hal ini disebabkan karena sebagian besar dari komponen biaya-biaya dalam departemen ini mempunyai selisih anggaran yang unfavorable.
Departemen Purchasing dan SDM mempunyai selisih anggaran favorable dengan persentase sebesar 66,52% dan besar selisih Rp 251.931.980. Selisih anggaran yang paling signifikan terjadi pada biaya tenaga kerja dan biaya training. Pada biaya training, biaya tersebut
pembebanan biayanya dibebankan pada service charge yaitu sebesar 2% namun biaya tersebut tetap dianggarkan untuk kebutuhan antisipasi atau berjaga-jaga jika suatu saat biaya training kurang dari yang ada pada service charge. Dalam hal ini, sebaiknya perusahaan tidak menganggarkan biaya training terlalu besar sehingga kelebihan dari biaya tersebut dapat dialokasikan pada kebutuhan biaya lain yang lebih penting. Sedangkan pada Departemen Marketing terjadi selisih anggaran yang signifikan dan bersifat unfavorable yaitu sebesar -79,47% dan selisih Rp 395.142.460. Sebagian besar dari pengganggaran biaya-biaya pada departemen tersebut mempunyai selisih anggaran yang merugikan dengan jumlah selisih yang signifikan pula. Secara lebih detail, mengenai hasil analisis varians terhadap masing- masing pusat pertanggungjawaban pada Hotel Permata Krakatau dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 22. Hasil Analisis Varians Anggaran Operasional dan Realisasinya berdasarkan Pusat Pertanggungjawaban Tahun Pusat
pertanggungjawaban Anggaran Realisasi
Analisis Varians Selisih Anggaran (%) F/U 2006 Dept. Resident Manager,
Maintenance, Food and Beverage, dan Room
3.921.092.000 4.100.785.759 -179.693.759 -4,58 unfavorable
Dept. Purchasing dan
SDM 249.872.000 63.052.861 186.819.139 74,77 favorable
Dept. Marketing 386.655.000 375.610.127 11.044.873 2,86 favorable
2007
Dept. Resident Manager,
Maintenance, Food and Beverage, dan Room
4.824.470.000 4.186.456.499 638.013.501 13,22 favorable
Dept. Purchasing dan
SDM 61.771.000 159.862.389 -98.091.389 -158,8 unfavorable
Dept. Marketing 519.565.000 523.543.431 -3.978.431 -0,77 unfavorable
2008
Dept. Resident Manager,
Maintenance, Food and Beverage, dan Room
5.333.927.000 6.038.504.440 -704.577.440 -13,21 unfavorable
Dept. Purchasing dan
SDM 378.733.000 126.801.020 251.931.980 66,52 favorable
Dept. Marketing 497.205.000 892.347.460 -395.142.460 -79,47 unfavorable
Berdasarkan analisis varians tesebut, maka dapat diketahui kinerja dari tiap-tiap pusat pertanggungjawaban (departemen) pada Hotel Permata Krakatau dalam penggunaan biaya-biayanya yang digunakan untuk kegiatan operasional maupun dari sisi pengganggaran yang sudah dijalankan selama
96
ini sudah layak atau tidak. Kinerja dari setiap pusat pertanggungjawaban tersebut dijabarkan sebagai berikut.
a. Departemen Resident Manager, Maintenance, Food and Beverage,
dan Room
Pada tahun 2006, departemen ini mengalami kekurangan anggaran. Hal ini terlihat dari selisih anggaran yang bersifat merugikan (unfavorable). Hal ini disebabkan pada saat penyusunan anggaran, hanya mengacu pada data historis tahun sebelumnya dan pada anggaran biaya training sebaiknya dianggarkan tidak terlalu besar jumlahnya karena sudah termasuk ke dalam dana service charge. Jika untuk keperluan antisipasi maka dianggarkan sesuai dengan kebutuhan training yang akan dilakukan, sehingga biaya training tersebut dapat dialokasikan untuk biaya-biaya lain yang lebih mendesak dan diperlukan. Selanjutnya pada tahun 2007, mengalami selisih anggaran yang bersifat favorable sebesar 13,22%. Hal ini disebabkan sebagian besar pengganggaran berpedoman pada data historis tahun sebelumnya dan tidak menyesuaikan dengan rencana program yang akan dijalankan sehingga tidak terjadi kelebihan penganggaran. Ketika tahun 2008, terjadi selisih anggaran yang bersifat merugikan dengan persentase sebesar -13,21%. Hal ini dikarenakan pada saat penganggaran, departemen kurang tepat dalam mengidentifikasi informasi-informasi yang berkaitan dalam proses penyusunan anggaran.
Kinerja pada departemen ini dikatakan sudah optimal dalam penggunaan biaya-biaya namun dari segi penganggaran masih sering terjadi kelebihan maupun kekurangan anggaran. Oleh sebab itu, sebaiknya perusahaan lebih memperhatikan rencana program ke depan sehingga akan diketahui biaya-biaya yang dibutuhkan untuk periode selanjutnya sehingga dapat ditekan penganggaran biaya yang terlalu berlebihan dan dianggarkan sesuai dengan kebutuhan berdasarkan rencana program yang telah ditentukan sebelumnya.
b. Departemen Purchasing dan SDM
Pada tahun 2006, terjadi selisih anggaran yang bersifat favorable dengan persentase sebesar 66,52%. Dalam hal ini departemen tersebut belum secara optimal dalam penggunaan biaya-biayanya sesuai dengan yang dianggarkan sebelumnya. Tahun 2007, departemen tersebut mengalami kekurangan biaya karena biaya yang dianggarkan sebelumnya hanya berdasarkan pada data historis mengenai realisasi dari biaya tersebut dan tidak memperhatikan kebutuhan biaya sesuai dengan rencana program yang akan dijalankan. Kemudian pada tahun 2008, departemen ini mengalami kelebihan anggaran. Hal ini disebabkan karena pada saat penganggaran tidak diperhatikan rencana program ke depan sehingga mempunyai selisih anggaran signifikan.
c. DepartemenMarketing
Tahun 2006, departemen ini belum optimal dalam penggunaan biaya-biayanya sehingga terjadi selisih anggaran yang menguntungkan (favorable) dan besar selisih yang signifikan. Pada tahun 2007, hampir seluruh komponen dari biaya tersebut menghasilkan selisih anggaran yang signifikan. Hal ini disebabkan kurangnya biaya yang dianggarkan akibat kurang memperhatikan informasi-informasi atau faktor-faktor yang terkait dalam penyusunan anggaran. Begitu pula pada tahun 2008 juga terjadi kekurangan biaya pemasaran. Hal ini dikarenakan penganggaran yang tidak disesuaikan dengan kebutuhan rencana program promosi maupun kegiatan pemasaran lainnya yang akan dilakukan di masa mendatang.
4.6. Kinerja pada Hotel Permata Krakatau dikaitkan dengan Selisih