PENERAPAN UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK PADA PUTUSAN (Studi Putusan
C. Kasus Posisi
II. Analisis Yuridis Terhadap Putusan Hakim
Pada tingkat penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan perkara anak di Pengadilan Negeri wajib diupayakan diversi. Berdasarkan hal ini para penegak hukum (polisi, jaksa,dan hakim) wajib mengupayakan diversi dalam hal penanganan perkara. Sesuai dengan Pasal 7 ayat (2) UU No. 11 Tahun 2012 dapat diketahui bahwa perkara anak yang wajib diupayakan diversi pada waktu dilakukan penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan sidang di Pengadilan Negeri adalah perkara anak yang tindak pidananya150:
1. Diancam dengan pidana penjara di bawah 7 (tujuh) tahun 2. Bukan merupakan pengulangan tindak pidana.
Melihat bahwa dilanjutkannya proses peradilan pidana dalam perkara ini sampai pada tahap pemeriksaan di sidang Pengadilan Negeri, berarti bahwa diversi tidak dilakukan atau tidak berhasil pada tahap penyidikan maupun tahap penuntutan.
Pada Pemeriksaan di sidang Pengadilan Negeri Hakim tetap wajib mengupayakan diversi paling lama 7 (tujuh) hari setelah ditetapkan sebagai hakim
150
anak oleh Ketua Pengadilan Negeri, yang dilaksanakan paling lama 30 (tiga puluh) hari.
Berdasarkan ketentuan di atas, maka pada perkara ini yang mana ancaman pidana bagi pelaku tindak pidana pencabulan anak sebagaimana yang didakwa oleh penuntut umum dalam dakwaan tunggalnya diancam dengan pidana penjara paling singkat 5 tahun dan paling lama 15 tahun, yang mana ancaman pidana penjara yang dapat dikenakan bagi anak adalah ½ dari ancaman pidana maksimum bagi orang dewasa, yang berarti terdakwa anak diancam dengan pidana penjara paling lama 7 ½ tahun (1/2 dari 15 tahun) sehingga pada perkara ini tidak dapat dilakukan diversi, sehingga proses peradilan pidana anak dilanjutkan. Oleh karenanya putusan perkara ini telah menerapkan Pasal 7 ayat (2) UU No. 11 Tahun 2012.
Hakim yang memeriksa dan memutus perkara dalam putusan ini adalah Hakim Tunggal, sesuai dengan yang diatur dalam Pasal 44 ayat 1 UU SPPA, dengan demikian putusan ini telah menerapkan Pasal 44 tersebut.
Berdasarkan kasus tersebut di atas maka dapat dilihat bahwa Anak Lokman Anak Ampun di dakwa oleh Jaksa Penuntut Umum dengan dakwaan tunggal, yakni sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 76E jo Pasal 82 ayat (1) Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak jo Undang-undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.
Surat Dakwaan tunggal berarti terhadap terdakwa hanya didakwakan melakukan satu tindak pidana saja yang mana penuntut umum merasa yakin
bahwa terdakwa telah melakukan tindak pidana yang didakwakan tersebut, yakni penuntut umum merasa yakin bahwa terdakwa telah melakukan perbuatan cabul sebagaimana yang diatur dalam Pasal 76E jo Pasal 82 ayat (1) Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak jo Undang-undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.
Dakwaan yang dikenai kepada terdakwa anak sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 76E joPasal 82 UU Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 dikarenakan perbuatan cabul yang dilakukan merupakan perbuatan cabul yang korbannya adalah seorang anak, sehingga merujuk kepada UU Tentang Perlindungan Anak.
Berdasarkan kasus pada putusan perkara ini, dapat diketahui bahwa korban tindak pidana pencabulan adalah Eka Gegoh Tumagger (umur 9 tahun), Agapi Marcel Tumangger (umur 6 tahun), Jekly Andre (umur 9 tahun), Mesliani Anak Ampun (umur 11 tahun), Aldi Anak Ampun (umur 7 tahun), Fernando Malumtua Banurea (umur 10 tahun), dan Aliando Berutu (umur 9 tahun). Maka dengan memperhatikan Pasal 1 angka 1 UU No. 35 Tahun 2014 yang menentukan bahwa Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan, korban pada putusan perkara tindak pidana pencabulan ini adalah masih tergolong seorang Anak (Anak Korban).
Pasal 76E joPasal 82 UU Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 didakwakan terhadap anak karena terhadap perbuatan cabul yang dilakukan oleh anak pelaku diatur daan terumus
dalam pasal tersebut, dengan ancaman pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
Pasal 76E joPasal 82 UU Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 memiliki unsur-unsur, sebagai berikut :
1. Setiap Orang
Setiap Orang maksudnya adalah manusia yang merupakan subjek hukum yang menyandang hak dan kewajiban di dalam hukum dan dapat dipertanggungjawabkan atas perbuatannya. Dalam hal ini orang perseorangan adalah terdakwa yang berada dalam keadaan sehat rohani dan jasmani sehingga dapat dipertanggungjawabakan atas setiap perbuatannya dan dengan demikian unsur ini telah terbukti.
2. Dilarang melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, melakukan serangkaian kebohongan, atau membujuk Anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul.
Anak Lokman Anak Ampun terbukti sedang melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, melakukan serangkaian kebohongan, atau membujuk Anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul. Hal tersebut dibuktikan dalam kronologi kasus yang menjelaskan bahwa :
a. Anak mengajak saksi korban Eka Gegoh Tumangger untuk bermain acuk-acukan namun saksi korban Eka Gegoh Tumangger
menolaknya, kemudian Anak mendorong saksi korban Eka Gegoh Tumangger hingga terjatuh ke lantai dan pada saat itu Anak mengancam agar saksi korban Eka Gegoh Tumangger tidak memberitahukan kejadian tersebut kepada orang lain yang dilakukan Anak setiap kali selesai melakukan perbuatan cabul terhadap Anak korban Eka Gegoh Tumangger.
b. Anak berdiri dan mengancam saksi korban Agapi Marxel Tumangger agar tidak memberitahukan kejadian tersebut pada orang lain.
c. Anak bersama dengan saksi korban Jekly Andre Berutu akan mengambil tanah liat, kemudian tiba tiba Anak mendorong saksi korban Jekly Andre Berutu hingga saksi korban terjatuh dan pada saat terjatuh tersebut Anak langsung menindih tubuh saksi korban dan menggoyanggoyangkanbadannya sambil mencoba mencium saksi korban, kemudian Anak membuka celananya.
d. Anak bersama dengan saksi korban Mesliani Anak Ampun bermain di dekat gereja GKPPD,kemudian Anak menjanjikan akan memberi uang sebesar Rp.100,- (seratus rupiah)agar saksi korban mau melakukan hubungan intimdengan Anak, kemudian Anak membuka celananya dan saksi korban juga membuka celananya sendiri, lalu Anak menyuruh saksi korban untuk tidur di bawah kemudian Anak menimpa/menaiki tubuh saksi korban, kemudian Anak memainkan
alat kelaminnya kearah alat kelamin saksi korban sambil menggoyang-goyangkan pinggangnya.
e. Anak mengajak saksi korban Aldi Anak Ampun untuk mengambil jambu di kompleks Diklat Pemkab Pakpak Bharat, tetapi saksi korban menolaknya, namun Anak menarik tangan dan membawa saksi korban ke semak-semak,kemudian Anak membuka ceananya dan membuka celana saksi korban, kemudian Anak memainkan alat kelaminnya ke arah alat kelamin saksi korban.
f. Anak bersama dengan saksi korban Fernando Malumtua Banurea pergi ke Tangkahan Pasir di Dusun III Desa Cikaok untuk mencari sarang burung, kemudian tiba-tiba Anak menjatuhkan saksi korban ke pasir, lalu Anak menidurkan saksi korban di atas pasir, kemudian ketika Anak hendak membuka celananya saksi korban melakukan perlawanan dengan cara memukul perut Anak
g. Anak bertemu dengan saksi korban Aliando berutu yang hendak pergi ke ladang, kemudian Anak langsung menarik saksi korban Aliando Berutu ke parit pinggir jalan Desa Cikaok, kemudian Anak membuka celana saksi korban dengan paksa, namun saksi korban melawan dengan memukul punggung Anak. kemudian Anak mengancam saksi korban agar tidak memberitahukan kejadian tersebut pada orang lain.
Berdasarkan penjelasan di atas anak Lokman Anak Ampun didakwa melakukan perbuatan sebagaimana dalam unsur pasal ini.
Dakwaan yang dikenai kepada terdakwa anak sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 76E joPasal 82 UU Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 juncto UU No. 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak adalah sesuai dikarenakan pada kasus putusan perkara ini, yang menjadi terdakwa atau pelaku tindak pidana,adalah seorang Anak, yang mana dalam ketentuan UU No.11 Tahun 2012 disebut sebagai anak yang berkonflik dengan hukum yakni Lokman Anak Ampun yang lahir pada tahun 2000, sehingga masih berusia 16 tahun.
Merujuk pada ketentuan Pasal 1 angka 3 UU No. 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, Anak yang berkonflik dengan hukum yang selanjutnya disebut anak adalah anak yang berumur 12 (dua belas) tahun tetapi belum berumur 18 (delapan belas) tahun yang diduga melakukan tindak pidana, maka Terdakwa pada putusan perkara ini yakni Lokman Anak Ampun, yang masih berusia 16 tahun masih tergolong kategori Anak. Sehingga terhadap terdakwa anak berlaku ketentuan-ketentuan sistem peradilan pidana sebagaimana yang diatur dalam UU No.11 Tahun 2012 terkait proses peradilan pidana yang akan dijalani oleh Anak, untuk itulah Undang-Undang ini dijunctokan dengan UU Perlindungan Anak yang mengatur mengenai delik pencabulan.
Penuntut Umum dalam putusan perkara ini ada mengajukan beberapa orang saksi, yang terdiri dari saksi korban (Anak Korban) dan saksi fakta. Saksi korban yang dihadirkan untuk memberi keterangan tidak dibawah sumpah adalah Eka Gegoh Tumangger (9 tahun), Agapi Marxel Tumangger (6 tahun), Aliando
Berutu (9 tahun), Aldi Anak Ampun (7 tahun), Mesliani Anak Ampun(11 tahun), Fernando Malumtua Banurea (10 tahun), Jekkly Andre Berutu (9 tahun) .
Saksi adalah orang yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan, penuntutan, dan peradilan tentang suatu perkara pidana dan perdata yang ia dengar, lihat dan alami sendiri. 151.
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana juga mengatur para pihak yang tidak dapat didengar keterangannya sebagai saksi dan dapat mengundurkan diri sebagai saksi adalah152 :
a. keluarga sedarah atau semenda dalam garis lurus ke atas atau ke bawah sampai derajat ketiga dari terdakwa atau yang bersama-sama sebagai terdakwa.
b. saudara dan terdakwa atau yang bérsama-sama sebagal terdakwa, saudara ibu atau saudara bapak, juga mereka yang mempunyai hubungan karena perkawinan dari anak-anak saudara terdakwa sampal derajat ketiga
c. suami atau isteri terdakwa meskipun sudah bercerai atau yang bersama-sama sebagai terdakwa.
Dari ketentuan tersebut dapat kita lihat bahwa anak-anak tidak termasuk dalam kategori yang tidak dapat didengar keterangannya sebagai saksi. Lebih lanjut dalam Pasal 171 KUHAP dinyatakan bahwa anak yang umurnya belum mencapai 15 (lima belas) tahun dan belum pernah kawin boleh diperiksa untuk memberi keterangan tanpa sumpah. Dengan demikian, memang saksi anak tidak
151 Pasal 1 angka 26 KUHAP
dapat disumpah, namun tetap dapat memberikan keterangan tanpa sumpah.
Keterangan saksi yang tidak disumpah ini bukan merupakan alat bukti namun apabila keterangan itu sesuai dengan keterangan dari saksi yang disumpah dapat dipergunakan sebagai tambahan alat bukti sah yang lain.153
Pengaturan tentang Anak saksi dalam Undang-Undang No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak diatur secara khusus mengenai „anak saksi‟, yaitu dalam Pasal 1 angka 5 UU Sistem Peradilan Pidana Anak menentukan bahwa Anak yang Menjadi Saksi Tindak Pidana yang selanjutnya disebut Anak Saksi adalah anak yang belum berumur 18 (delapan belas) tahun yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan tentang suatu perkara pidana yang didengar, dilihat, dan/atau dialaminya sendiri.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka saksi yang memberikan keterangan tidak di bawah sumpah pada perkara ini, yakni Eka Gegoh Tumangger (9 tahun), Agapi Marxel Tumangger (6 tahun), Aliando Berutu (9 tahun), Aldi Anak Ampun (7 tahun), Mesliani Anak Ampun(11 tahun), Fernando Malumtua Banurea (10 tahun), Jekkly Andre Berutu (9 tahun) merupakan Anak saksi dikarenakan usianya masih dibawah 18 (delapan belas) tahun dan tidak termasuk pada apa yang diatur dalam ketentuan Pasal 168 KUHAP, sehingga anak dapat memberikan keterangan dan mengenai sumpah atau tidak disumpahnya anak merujuk pada ketentuan Pasal 171 KUHAP, dikarenakan tidak ada diatur secara khusus dalam UU No.11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak. Pasal 171 KUHAP dinyatakan
153 Pasal 185 ayat 7 KUHAP
bahwa anak yang umurnya belum mencapai 15 (lima belas) tahun dan belum pernah kawin boleh diperiksa untuk memberi keterangan tanpa sumpah dengan demikian tidak disumpahnya saksi korban dalam perkara ini merupakan hal yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Hakim dalam mengambil keputusan wajib mempertimbangkan Laporan Penelitian Kemasyarakatan sebelum menjatuhkan putusan perkara. Pertimbangan Hakim dalam putusan perkara ini ada mempertimbangkan Laporan Hasil Penelitian Kemayarakatan tanggal 24 April 2015 menyarankan agar Anak dipidana seringanringannya dan ditempatkan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) berdasarkan kesimpulan, pada pokoknya:
a. Anak LOKMAN ANAK AMPUN adalah anak bungsu dari 7 (tujuh) bersaudara,ketika kelas III SD pernah mengalami penyimpangan seksual dari teman sekolahnya, kejadian tersebut sangat mempengaruhi kelainan pada diri Anak.
b. Anak merasa bersalah dan menyesali perbuatannya dan tidak akan mengulanginya.
c. Pendidikan yang rendah dan usia yang masih muda membuat Anak tidak dapat memilah perbuatan mana yang bertentangan dengan hukum dan mana yang tidak.
d. Semua Anak korban melalui orangtuanya berharap agar Anak diproses secara hukum
Berdasarkan Laporan Hasil Penelitian Kemasyarakatan tersebut hakim mempertimbangkan bahwa berdasarkan jenis tindak pidana khusus yang telah
dilakukan Anak, Hasil Laporan Penelitian Kemasyarakatan dan dengan tujuan tetap menjadikan hukum sebagai Garda Depan dan Akhir pembangunan bangsa dan negara dimana Anak merupakan pilar penting bangsa dan negara di masa depan, dimana menurut penilaian Laporan Pemeriksaan Psikologi Nomor: Rik Psi Tersangka/01/VI/2015/BagPsi tanggal 10 Juni 2015 oleh Biro SDM POLDA SUMATERA UTARA pada pokoknya menerangkan
1. Anak tidak mengalami gangguan pada orientasi ruang dan waktu, daya ingat logika verbal;
2. Anak adalah individu normal dan tidak ada indikasi kelainan jiwa sehingga dapat dimintakan pertanggungjawaban secara umum;
3. Mekanisme psikologi yang mendorong Anak berprilaku demikian karena ketidakmampuan mengolah emosi untuk mewujudkan kepuasan pribadi, konsep diri yang lemah sehingga memunculkan perilaku cabul kepada temanteman sepermainan yang berada di bawah usianya;
4. Segala tindakan yang dilakukan Anak dalam kaitan dengan kasus tersebut adalah bersifat tiba-tiba/spontan yang tersusun secara sistematis meskipun dalam bentuk yang sederhana;
5. Rangkaian prilaku cabul yang dilakukan Anak merupakan akumulasi dari penanaman norma yang kurang dalam keluarga dan rangkaian konflik yang berkepanjangan akibat pernah menjadi korban cabul oleh seseorang yang lebih tua darinya serta pengelolaan emosi yang sangat minim yang dialami
Berdasarkan Laporan Hasil Penelitian Kemasyarakatan dan Laporan Psikologi di atas dengan demikian menurut penilaian Hakim Anak memerlukan penanganan khusus guna pemulihan penyimpangan seksual pada diri Anak, dimana Anak dalam keterangannya menyebutkan bahwa dorongan tersebut muncul ketika Anak tidak memiliki kegiatan yang berarti, Anak selama ini tidak mendalami ajaran agama yang dianutnya, sehingga sangat diperlukan pembinaan khusus terhadap Anak, namun dengan tetap menyadarkan Anak bahwa perbuatannya selama ini merupakan penyimpangan yang tidak wajar meskipun hal tersebut tentulah tidak diinginkan oleh Anak, melainkan akibat adanya fase dalam kehidupan Anak dimana Anak merjadi Anak korban (pada fase ini Anak sendirian, tidak ada tempat mengadu sementara pelaku melenggang tanpa mempertanggungjawabkan perbuatannya).
Berdasarkan penjelasan di atas, dengan demikian putusan ini telah menerapkan ketentuan UU No.11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak yang termuat dalam Pasal 60 ayat (3), yakni Hakim wajib mempertimbangkan Laporan Hasil Penelitian Kemasyarakatan sebelum menjatuhkan putusan perkara.
Hakim Tunggal sebelum menjatuhkan pidana atas diri anak Lokman Anak Ampun terlebih dahulu mempertimbangkan hal-hal yang memberatkan dan meringankan anak, yaitu :
Hal-hal yang memberatkan;
- Belum ada perdamaian antara Anak dan keluarga Anak-anak korban
- Perbuatan Anak telah mengakibatkan seorang Anak korban memiliki penyimpangan seksual yang sama;
Hal-hal yang meringankan;
- Anak belum pernah dihukum;
- Anak bersikap sopan di persidangan;
- Anak pernah menjadi korban;
- Anak menyesali perbuatannya, berjanji tidak akan mengulangi dan berusaha memperbaiki penyimpangan pada dirinya.
Berdasarkan pertimbangan di atas maka penjatuhan pidana atas diri terdakwa sebagaimana tercantum dalam amar putusan yaitu Putusan Pengadilan menyatakan Terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana melakukan kekerasan, ancaman kekerasan, memaksa, melakukan serangkaian kebohongan untuk melakukan perbuatan cabul terhadap Anak korban Menjatuhkan pidana oleh karena itu kepada Anak dengan pidana penjara selama 4 (empat) tahun dan pelatihan kerja selama 3 (tiga) bulan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Sidikalang.
Penjatuhan Pidana Penjara bagi Anak atas pertimbangan bahwa untuk mencegah terjadinya kembali peristiwa tersebut dimana Anak korban menjadi Anak, Negara dalam hal ini Lembaga Penempatan Khusus Anak (LPKA) wajib menyediakan program yang intensif dan terarah dengan menggunakan pendekatan persuasif dan penuh empati sehingga mampu menyentuh batin Anak sehingga secara efektif dapat memperbaiki penyimpangan pada diri Anak agar Anak pada waktunya dapat diterima dan siap untuk kembali ke tengah-tengah masyarakat,
diusahakan tanpa mengesampingkan pendidikan formal Anak, maka penjatuhan pidana penjara terhadap Anak dalam perkara ini menurut penilaian Hakim merupakan yang paling tepat, namun mengenai lamanya pidana penjara yang akan dijatuhkan tidaklah sebagaimana penjatuhan pidana penjara bagi orang dewasa, sebagaimana diatur dalam Pasal 79 ayat (2), (3) jo Pasal 71 ayat (3) Undang-undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Anak;
Berdasarkan Pasal 76E jo Pasal 82 ayat (1) Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, selain diancam dengan pidana pokok berupa pidana penjara Anak juga diancam pidana pokok berupa denda, namun karena Pasal 71 ayat (1) Undangundang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak tidak mengenal denda sebagai pidana pokok, maka berdasarkan Pasal 71 ayat (3) Undang-undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, pidana denda diganti dengan pelatihan kerja, dimana menurut Pasal 78 ayat (2) Undang-undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak menyebutkan bahwa pidana pelatihan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenakan paling singkat 3 (tiga) bulan dan paling lama 1 (satu) tahun
Mengenai adanya standar pidana minimum penjara yang diancamkan kepada Anak dalam Pasal 76E jo Pasal 82 ayat (1) Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak telah ditiadakan secara tegas dalam Pasal 79 ayat (3) Undang-undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Anak, sehingga
tidak dibenarkan apabila terdapat penafsiran ganda mengenai standar pidana minimum terhadap Anak yang melakukan tindak pidana Perlindungan Anak;
Menurut penulis penjatuhan pidana penjara sebagai upaya terakhir merupakan yang paling tepat, dikarenakan perbuatan anak merupakan perbuatan yang sangat membahayakan bagi anak-anak lainnya, terbukti bahwa perbuatan anak menimbulkan seorang anak korban menjadi pelaku tindak pidana serupa.
Putusan pada perkara ini sudah menerapkan UU No.11 Tahun 2012 dengan cukup baik, yang tetap mempertimbangkan hal-hal sesuai dengan ketentuan dalam UU SPPA, yakni mengenai lamanya pidana penjara yang akan dijatuhkan tidaklah sebagaimana penjatuhan pidana penjara bagi orang dewasa, sebagaimana diatur dalam Pasal 79 ayat (2), (3) jo Pasal 71 ayat (3) Undang-undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Anak, mengenai jenis pidana yang dapat dijatuhkan bagi anak, putusan perkara ini pun menerapkan ketentuan Pasal 71 ayat (1) Undang-undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak yang tidak mengenal denda sebagai pidana pokok, maka berdasarkan Pasal 71 ayat (3) Undang-undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, pidana denda diganti dengan pelatihan kerja, mengenai standar pidana minimum penjara yang diancamkan dalam Pasal 76E jo Pasal 82 ayat (1) Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, putusan ini juga menerapkan ketentuan UU SPPA Pasal 79 ayat (3) yang mengatur bahwa standar pidana minimum penjara tidak berlaku bagi Anak sehingga tidak dibenarkan apabila terdapat
penafsiran ganda mengenai standar pidana minimum terhadap Anak yang melakukan tindak pidana Perlindungan Anak.
Putusan perkara ini telah menerapkan UU No.11 Tahun 2012 dalam pertimbangannya dengan baik, namun menurut penulis identitas dari terdakwa anak dan anak korban seharusnya dirahasiakan, sebagaimana yang diatur dalam Pasal 19 UU SPPA.
B. Putusan No.3/Pid.Sus.A/2016/PN.PSP I. Kasus Posisi
a. Kronologi Perkara
Pada hari minggu tanggal 28 Februari 2016 sekira pukul 20.00 WIB atau setidak-tidaknya pada suatu waktu pada tahun 2016 bertempat di dalam rumah Rahmansyah Harahap Als. Rahman di Jalan Alboin Hutabarat Gg. Dame II Kel. Wek VI Kecamatan Padangsidempuan Selatan Kota Padangsidempuan, Anak Rahmansyah Harahap Als. Rahman duduk diruangan tengah rumah saksi Abdul Muis (ayah saksi korban) menonton film porno di Handphone sehingga kemudian timbul hasrat dan nafsu birahi anak dan beberapa saat kemudian saksi korban Cantika Harahap datang dan duduk disamping anak, kemudian anak langsung memangku saksi korban lalu anak menurunkan celana dan celana dalam saksi korban hingga paha dan anak juga menurunkan celana dan celana dalam yang dipakainya hingga paha. Kemudian anak meraba-raba alat kelamin saksi korban dengan menggunakan tangan kanannya dan anak menyuruh saksi korban memang alat kelamin anak hingga alat kelamin anak mengeluarkan
cairan putih. Akibat perbuatan anak tersebut di atas saksi korban Cantika Harahap menjadi trauma.
b. Dakwaan
Terdakwa telah didakwa oleh Jaksa Penuntut Umum dengan dakwaan yang berbentuk tunggal, yakni : sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 76E jo Pasal 82 ayat (1) Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
c. Tuntutan
Tuntutan hukum Jaksa Penuntut Umum melakukan tuntutan hukum, yang pada pokoknya menuntut :
1. Menyatakan anak yang berkonflik dengan hukum Rahmansyah Harahap Als. Rahman terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “perbuatan cabul” sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 82 UU RI No.35 Tahun 2014
1. Menyatakan anak yang berkonflik dengan hukum Rahmansyah Harahap Als. Rahman terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “perbuatan cabul” sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 82 UU RI No.35 Tahun 2014